Maleman Selawe, Pemkab Gresik Gelar Munajat 1000 Al Ikhlas 

Tradisi Ramadan di Bukit Giri dengan Kuliner Khas Ketupat Ketheg. 

GRESIK,1minute.id – Maleman Salawe.atau Malam 24 Ramadan di Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik. Tahun ini, Malam 25 Ramadan bertepatan pada 24 Maret 2025. Tradisi Maleman Ramadan yang juga ditunggu warga Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik.

Bila malem 23 Ramadan ada Sanggring Kolak Ayam di Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Tradisi Sanggring Kolak Ayam, kuliner langka sejak Kanjeng Sunan Dalem, anak Sunan Giri ini memasuki 5 abad. Sanggring Kolak Ayam, kuliner yang dimasak hanya setahun sekali. Kokinya semuanya laki-laki. 

Nah, malem Salawe Ramadan di puncak Bukit Giri ada kuliner khas yang patut dibawa pulang untuk oleh-oleh yakni Ketupat Ketheg. Ribuan jemaah tumplek-blek ke Sunan Giri. Sebab, memasuki fase sepuluh hari ketiga yakni 10 hari terakhir Ramadan ada banyak keutamaan dengan melakukan iktikaf, shalat malam, membaca Al Quran, zikir, dan bersedekah serta memperbanyak doa lainnya untuk meraih malam kemuliaan yakni Lailatul Qadar di Masjid dan Makam Sunan Giri, Waliyullah di Bukit Giri.

Jalan Sunan Giri mulai simpang empat Kebomas mulai Senin, 24 Maret 2025 pukul 16.00 WIB di tutup untuk semua kendaraan bermotor, roda 2 maupun roda 4. Jemaah harus jalan kaki sejauh lebih kurang 2 kilometer. Jalannya menanjak. Sepanjang jalan itu, ratusan pedagang membuka lapak untuk berjualan. 

Ada yang berjualan kuliner, mainan anak-anak hingga pakaian untuk persiapan Idul Fitri. Sepanjang jalan riuh, bagai pasar malam. Sesak lautan manusia. Sementara di kompleks masjid dan makam Sunan Giri juga nyaris sama. Ribuan orang silih berganti datang untuk ngalap berkah. Salat, berzikir dan berdoa.

Pemerintah kabupaten atau Pemkab Gresik menggelar live streaming Malam Salawe Munajat 1.000 Al Ikhlas. Acara dimulai salat Isya, tarawih lalu dilanjutkan bermunajat pembacaan 1.000 Surat Al Ikhlas di Masjid Ainul Yaqin Sunan Giri. Bupati dan Wakil Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani-Asluchul Alif dijadwalkan hadir langsung. 

Ketupat Ketheg 

Penjual Ketupat ketheg di perkirakan wisata religi Sunan Giri (FOTO: chusnul cahyadi/1minute.id)

Pada malem Selawe di Bukit Giri, memiliki kuliner khas yakni ketupat ketheg. Kurang afdal bila malam selawe tidak mencicipi atau membawa oleh-oleh kuliner khas Giri itu. Apalagi, jajanan khas itu, mudah ditemukan. Biasanya penjual kuliner khas Giri membuka lapak mereka mulai tangga menuju masjid Sunan Giri. Atau pusat kuliner yang berada di dekat masjid Sunan Giri dengan makam Sunan Giri. Harganya pun terjangkau. 

Ketupat ketheg ini, rasanya gurih, asin bila disantap parutan kelapa. Ada juga yang makan dengan diolesi gula aren. Heemmmm lezat. Bagi para penjual Ketupat ketheg malam selawe momentum yang paling ditunggu. Karena ribuan jemaah bagai air terus mengalir ke masjid dan makam Sunan Giri. Mulai sore hari hingga badal Subuh, keesokan harinya.  Sholihah, salah satu penjual Ketupat ketheg menceritakan setiap malem selawe jajanan laris manis. “Bagi kami dan.pedagang lainnya malam selawe momentum yang paling ditunggu karena puncak tamu yang datang ke Sunan Giri untuk ngalap berkah. Berharap malam seribu bulan,” katanya. 

Bahan Langka, Ketupat Ketheg Nyaris Punah

Seorang pedagang ketupat ketheg menceritakan, beberapa tahun terakhir pedagang kesulitan untuk mendapatkan bahan utama pembuatan ketupat ketheg. Bahan utama itu, adalah air endapan minyak mentah, masyarakat setempat menyebutnya, air lanthung. Sebelum tahun 2000-an, air lanthung mudah didapatkan. Karena sumur minyak tua peninggalan Belanda banyak ditemukan di halaman rumah atau lahan milik warga, antara lain, di Desa Sekarkurung, Kecamatan Kebomas. 

Seiring berjalan waktu, keberadaan sumur minyak tua peninggalan Belanda itu telah ditutup oleh pemerintah setempat, sehingga warga sekitar mengambil air ketheg di wilayah Gunung Anyar. Penjual Ketupat ketheg tetap memburu air lanthung adalah salah satu bahan utama dalam mengolah ketheg. “Air lanthung yang bisa memberikan rasa gurih dan asin di setiap irisan makanan ketupat ketheg itu,” kata seorang penjual Ketupat ketheg. 

Selain memberikan sensasi rasa gurih dan asin yang alami, air lanthung atau endapan minyak mentah yang berwarna kehijau kehitaman itu juga merubah warna bungkus ketupat dari bahan dasar daun gebang menjadi agak kuning keemasan dan mengkilat sehingga terlihat khas. “Bungkus ketupat ketheg ini berbeda dengan ketupat pada umumnya,” tegasnya. Solikhah, menjelaskan proses membuat ketupat ketheg sama seperti membuat ketupat pada umumnya, yakni perlu disiapkan anyaman berbentuk ketupat, kemudian direndam di dalam air sumur ketheg.

Isi dari kupat ketheg bukan berasal dari beras biasa, melainkan beras ketan yang dicuci menggunakan sumur ketheg hingga beberapa kali. Proses pencucian menggunakan air ketheg tidak bisa langsung dilakukan, karena air yang baru diambil dari sumur minyak tua kondisinya masih keruh sehingga perlu diendapkan selama tujuh hari, agar menjadi jernih dan terlihat bersih saat digunakan untuk memasak.

“Dari air inilah ada rasa khas makanan ini, dan yang membedakan dengan menu ketupat biasa yang disajikan dengan opor ayam. Dan menu ketupat ini mampu bertahan hingga lebih dari 15 hari lamanya meski tanpa bahan pengawet kimiawi,” ucapnya.Penasaran ayo ngalap berkah Maleman Salawe nang Sunan Giri. (chusnul cahyadi/1minute.id)

Maleman Selawe, Pemkab Gresik Gelar Munajat 1000 Al Ikhlas  Selengkapnya

5 Abad Sanggring Kolak Ayam Gumeno

Tradisi Maleman Ramadan di Gresik. Di Masak Hanya Sekali Setahun, Juru Masak Semua Lelaki, Dinyakini Bisa Menjadi Obat Segala Penyakit 

GRESIK,1minute.id – Bulan suci Ramadan telah memasuki sepuluh hari ketiga atau likuran atau maleman. Apa saja event maleman Ramadan itu? 

Malam telulikur atau 23 Ramadan ada tradisi Kolak Ayam, Sanggring di Desa Gumeno, Kecamatan Manyar. Seperti apa tradisi itu ?

BILA Anda belum pernah merasakan Kolak Ayam datang dan buka bersama di Masjid Jamik Sunan Dalem di Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik pada malam 23 Ramadan atau Sabtu, 22 Maret 2025. Tahun ini, tradisi turun temurun itu genap memasuki 500 tahun, mulai 946 hijriah sampai 1446 hijriah itu. Tahun Sanggring Kolak Ayam Gumeno diperkirakan lebih semarak. 

Panitia menyiapkan berbagai kegiatan untuk menyemarakkan 5 Abad tradisi Sanggring Kolak Ayam dengan tagline 500 tahun #Bersama Kita Lestarikan. Antara lain, ziarah ke makam Waliyullah yakni Syekh Maulana Malik Ibrahim ; Sunan Giri ; Sunan Drajat dab Sunan Dalem. Ada juga Festival Albanjari. 

Pada puncaknya, pada malam 23 Ramadan atau 22 Maret 2025 mulai pukul 15.30 WIB hingga selesai ada pengajian Akbar dengan qorik internasional, Sayyid Zulfikar Asy Syaibani, dengan KH Anwar Zahid dari Bojonegoro. 

Serangkaian acara itu, diperkirakan akan menyedot perhatian masyarakat sehingga panitia menyediakan menu Sanggring untuk takjil yang lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurut Ketua Panitia Semarak Sanggring 500 Tahun Didik Wahyudi, panitia memotong 260 ekor ayam ;  740 kg gula merah ;; 600 butir kelapa ; 250 kg bawang daun ; 60 kg jinten bubuk dan 1.400 liter air.

“Kami menyediakan takjil gratis 3.500 bungkus Sanggring,” kata Didik Wahyudi, Ketua panitia Semarak Sanggring 500 Tahun pada Jumat, 21 Maret 2025.

Sebagi ilustrasi tahun lalu, panitia memotong lebih dari 250 ekor ayam. Ratusan ekor ayam kampung pilihan untuk takjil sekitar 2.500 bungkus. Ratusan ekor ayam kampung ini di masak oleh “koki-koki” hebat dan semuanya berjenis kelamin laki-laki nantinya distribusi kepada masyarakat desa setempat juga sebagaian untuk berbuka puasa bersama bagi warga luar desa. 

Pada 2019, Sanggring Kolak Ayam Gumeno ini, tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda atau WBTb Indonesia.  

Sanggring Kolak Ayam? Sanggring adalah masakan berkuah yang berbahan utama daging ayam yang dimasak dengan cara khusus. Cara khusus yakni kolak dengan campuran rempah-rempah disuguhkan untuk menu berbuka puasa. Semua jamaah. Dan, masyarakat setempat. 

Bagi masyarakat setempat menyakini mengonsumsi kolak ayam yang dimasak oleh juru masak semuannya laki-laki ini bisa mengobati segala jenis penyakit. Uniknya lagi, wadah kolak ini bukan baskom. Tapi, masyarakat desa setempat membawa wadah ember. Untuk kuah dan ramuan rempah atau Sanggring.

Mengutip dari buku “Grissee Kota Bandar” Kolak ayam atau Sanggring, tradisi ratusan tahun ini telah tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2019. Kolak ayam Desa Gumeno rasanya gurih legit dengan isian ayam kampung di dalamnya. Makanan inilah yang menjadi ikon tradisi ini. Awalnya, kolak ayam berfungsi sebagai obat. 

Menurut kisahnya, tradisi ini bermula ketika Sunan Dalem bernama lengkap Syekh Maulana Zaenal Abidin, berdakwah di Desa Gumeno pada 1540 Masehi. Putra pertama dari Sunan Giri (Sunan Maulana Ainul Yaqin) ini mendirikan sebuah masjid di desa tersebut. Tak lama usai membangun masjid, Sunan Dalem jatuh sakit.

Kabar sakitnya Sang Wali ini cukup membuat para santri dan penduduk terkejut sehingga mereka menandai peristiwa ini dengan sebutan Sanggring, berasal dari kata ‘Sang’ (raja, pemimpin) dan ‘Gering’ (sakit). Sakitnya Sang Wali selama beberapa waktu membuat para santri dan penduduk bingung mencari obat penyembuhnya. Hingga pada 22 Ramadan 946 Hijriah, sebuah mimpi menghampiri Sunan Dalem. 

Dalam mimpi itu beliau mendapatkan petunjuk tentang obat penyakitnya, yakni harus memakan sebuah makanan dengan ayam jago berusia muda sebagai salah satu syarat utama bahan masakan. Sunan Dalem lantas mengutus para lelaki untuk mempersiapkan bumbu-bumbu masakannya, yakni daun bawang merah, gula jawa, jintan, dan santan. Sementara itu para santri mencarikan ayam jago muda.

Gelaran masak besar kolak ayam ini kemudian menjadi tradisi bagi warga Desa Gumeno sampai sekarang. Tradisi Kolak Ayam selalu dilaksanakan di Masjid Jami’ Sunan Dalem Desa Gumeno yang dimulai pukul 16.00 WIB. Berkat tradisi ini pula warga Desa Gumeno dan warga dari kampung lainnya menjadi semakin erat silaturahminya. (chusnul cahyadi/*)

5 Abad Sanggring Kolak Ayam Gumeno Selengkapnya

Tradisi di Gresik Kota Santri, Rayakan Harjagres, Wabup Aluschul Alif bersama OPD Ziarah ke Makam Waliyullah

GRESIK,1minute.id – Hari ini, Pemerintah Kabupaten Gresik genap berusia 51 tahun pada Kamis, 27 Februari 2025. Sebagai rangkaian memperingati Hari Jadi Gresik atau Harjagres 2025 yakni HUT ke-51 Pemkab Gresik dan Hari Jadi ke-538 Kota Gresik, Wakil Bupati Gresik dr Asluchul Alif bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah atau Forkopimda serta pimpinan Organisasi Perangkat Daerah atau OPD melakukan ziarah ke makam Waliyullah.

Syekh Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ainul Yaqin atau Sunan Giri ; Sunan Prapen dan makam Bupati Gresik yang pertama KRT Poesponegoro. Ziarah dilakukan usai acara pengukuhan pengurus Majelis Ulama Indonesia atau MUI Gresik. 

Kali pertama melakukan ziarah ke makam Sunan Giri. Kedatangan rombongan disambut oleh Forkopimcam Kebomas dan pengurus Yayasan Sunan Giri. Acara kemudian dilanjutkan dengan tahlil serta doa bersama yang dipimpin oleh seorang kiai setempat.

Setelah berziarah ke Makam Sunan Giri atau Raden Paku, rombongan Wabup melanjutkan perjalanan ke Makam Sunan Prapen, putra dari Syekh Maulana Zainal Abidin atau Sunan Dalem, sekaligus cucu dari Syekh Maulana Ainul Yaqin atau Sunan Giri. Di lokasi ini, Wabup Alif beserta rombongan tampak khusyuk memanjatkan doa.

Di Makam Sunan Giri, suami dari dr. Shinta Puspitasari ini berkesempatan memegang keris serta mencium sajadah, dua benda peninggalan Sunan Giri. Ziarah dilanjutkan ke Makam Sunan Prapen, putra dari Syekh Maulana Zainal Abidin atau Sunan Dalem, sekaligus cucu dari Syekh Maulana Ainul Yaqin atau Sunan Giri. Di lokasi ini, Wabup Alif beserta rombongan tampak khusyuk memanjatkan doa.

Dokter Alif, begitu sapaan melanjutkan ziarah ke Makam Sunan Maulana Malik Ibrahim di Desa Gapurosukolilo, Kecamatan Gresik. Mereka juga berziarah ke Makam Bupati Gresik pertama, KRT Poesponegoro, yang berlokasi tidak jauh dari Makam Maulana Malik Ibrahim.

Selain berziarah, Wabup juga menyempatkan diri menyapa warga dan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM di sepanjang jalan menuju makam. Prosesi tabur bunga di makam para wali pun turut dilakukan dalam rangkaian kegiatan ini. 

Sebelum kembali, Wabup yang juga menjabat sebagai Ketua DPC Partai Gerindra Gresik ini menunaikan salat Duhur berjemaah serta menjadi imam salat di Aula Maulana Malik Ibrahim. Ziarah ke makam Waliyullah ini menjadi tradisi bagi Pemkab Gresik saat merayakan HUT Pemkab Gresik diperingati setiap 27 Februari dan Hari Jadi Gresik diperingati setiap 9 Maret.

Ziarah tahun ini, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani tidak bisa ikut karena sedang mengikuti Retret di Akmil Magelang pasca pelantikan pada 20 Februari 2025. Sehingga, ziarah ke makam Wali Sanga dipimpin oleh Wabup dr Asluchul Alif. Tampak hadir, Sekretaris Daerah atau Sekda Gresik Achmad Washil Miftachul Rachaman, Wakil Ketua DPRD Gresik Luthfi Dawam, Kabag Logistik Polres Gresik Kompol Moh Nur Amin serta para kepala OPD di lingkungan Pemkab Gresik.

Wabup Alif menyampaikan bahwa ziarah ini dilakukan dalam rangka HUT Pemkab Gresik dan Hari Jadi Kota Gresik sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur.

“Gresik dikenal sebagai Kota Wali dan Kota Santri. Mari kita jadikan peringatan HUT Pemkab Gresik dan Hari Jadi Kota Gresik ini sebagai momentum untuk selalu mengingat para pendahulu kita,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk meneladani nilai-nilai perjuangan para leluhur, terutama bagi generasi muda dan para pemangku kebijakan dalam mengabdikan diri kepada masyarakat.

“Mari kita teladani perjuangan para pendahulu. Selain menjadi inspirasi bagi generasi muda, hal ini juga dapat memupuk semangat para pemangku kebijakan dalam menjalankan tugasnya untuk masyarakat,” pungkasnya. (yad)

Tradisi di Gresik Kota Santri, Rayakan Harjagres, Wabup Aluschul Alif bersama OPD Ziarah ke Makam Waliyullah Selengkapnya

Pemeran Lukisan Kaligrafi Menggapai Ramadhan Diperpanjang, Yanto Bedor : Melukis sambil Berdakwah

SURABAYA,1minute.id – Ekspektasi warga Metropolis, Surabaya dalam mengapresia Kaligrafi Art Exibition bertajuk “Menggapai Ramadhan” patut diacungi jempol. Ratusan warga dan pecinta kaligrafi datang silih berganti ke basement Alun-alun Kota Surabaya.

Melihat antusiasme warga membuat Panitia Kaligrafi Art Exibition “Menggapai Ramadhan” memperpanjang pameran lukisan kaligrafi terbesar di awal 2025 ini memperpanjang gelaran pameran  yang diikuti 70 pelukis se-Indonesia dengan ratusan karya hingga bulan suci Ramadan. 

Menurut Syam Arif, Ketua Panitia Panitia Kaligrafi Art Exibition “Menggapai Ramadhan”, pameran yang dibuka oleh Staf Ahli Walikota Surabaya Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan Tomi Ardiyanto mulai 15-22 Februari 2025. “Karena animo warga sangat baik, pameran kami perpanjang sampai Ramadan (2 Maret 2025, Red),” kata Syam Arif melalui WhatsApp pada Sabtu, 22 Februari 2025. Di pameran ini, Syam Arif memamerkan beberapa karyanya. Di antara kaligrafi Surat Al A’raf ukuran 90×90 cm dan Ayat Kursi 150×100 cm. 

Syam Arif menjlentrehkan event Kaligrafi Art Exibition “Inspirasi Ramadhan” diikuti sebanyak 70 pelukis kaligrafi di nusantara. Selain Syam Arif, ada juga H.Muhammad Riyanto, pelukis Kaligrafi yang ditinggal di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik. Riyanto memamerka karya berjudul “God is the Only Source of Knowledges” yang artinya Tuhanlah satu-satunya sumber ilmu.

“Niki doa, ayat, hadist dan Alquran. Ada kode 99 G pun mboten 5G male,” kata Riyanto dalam melalui pesan WhatApps pada wartawan 1minute.id pada Kamis, 20 Februari 2025. 

Pelukis kaligrafi lainnya antara lain  KH.Misbahul Munir, Ketua Majelis Dewan Hakim MKQ Nasional Malang ; KH.Imron Fathoni, Dewan Hakim MKQ Jawa Timur, KH.Robert Nasrullah, Dewan Hakim MKQ Nasional Yogyakarta ; Syam Arif Surabaya ; Suharno, Tangerang dan Abdul Syukur, Jakarta. 

Juga ada Ustad Badruzzaman, Jakarta ; Lukmanul Hakim, Jombang ; Camilhady Lamongan ; Anwar Sanusi, Pasuruan ; Armin Misbah, Sulawesi ; Ustad Miftahul Khoir, Bali ; M.Assyri, Kudus ; Supriyanto alias Yanto Dedor, Riau serta pelukis kaligrafi Nasional lainnya.

MENGGAPAI RAMADHAN : Supriyanto, biasa disapa, Yanto Bendor, Riau salah satu pelukis kaligrafi yang berpatisipasi di pameran lukis kaligrafi Menggapai Ramadhan di Basement Alun-alun Kota Surabaya. ( Foto : Dok Yanto Bedor untuk 1minute.id)

Pelukis Supriyanto alias Yanto Bedor, Medan, misalnya. Ia mulai menekuni seni lukis ketika tinggal di Simpassari Art Gallery Medan. Kecintaan Yanto Bedor dalam seni lukis kemudian merauntau ke Jakarta untuk menambah wawasan seni rupanya. “Saya sempat menjadi pelukis jalanan di Monas, Gambir,” katanya pada Sabtu, 22 Februari. 

Ibukota Indonesia, Yanto Bedor bertemu pelukis yang bernama Dirot Kadirah. “Kami berdua berangkat ke Bali sebagai episentrum seni lukis nusantara,” ujarnya. Di Kota Dewata itu, Yanto Bedor tinggal di Jaka Galeri yang bersebelahan dengan Galeri RUDANA di Jalan Peliatan, Ubud,  Bali untuk menggali ilmu pada maestro lukis Sudarso yang seangkatan dengan maestro lukis Afandi dan Sujoyono. 

“Kini, saya bergabung dengan Ikatan Pelukis Indonesia di Sumatra, Riau,” jelas Yanto Bedor. Di pameran kaligrafi Menggapai Ramadhan ini, Yanto Bedor bertemu dengan banyak seniman kaligrafi nasional yang beraliran kontemporer, realis dan idealis. “Saya sendiri biasa melukis dengzn aliran realis natural dengan mengikuti lameran kaligrafi walaupun belum bisa meninggalkan realis naturalisnya yang masih ikut terbawa dalam lukisan kaligrafinya. Kini di rasa semakin sejuk dalam menyampaikan inspirasi alam pikirnya dengan menambahkan kaligrafi,” tutur Yanto Bedor.

Ia mengakui dengan melukis kaligrafi bisa sebagai pengingat untuk diri dan sesama berkesenian sambil berdakwah. Apalagi pada momen yang tepat di hari menjelang Ramadan. Bulan yang  sangat di tunggu-tunggu oleh masyarakat muslim sedunia sebagai bulan yang mulia. “Dengan hadirnya pameran kaligrafi Menggapai Ramadhan berharap kemuliaan kita sebagai makhluk Allah yang sangat dimuliakan tentunya,” pungkasnya. (yad)

Pemeran Lukisan Kaligrafi Menggapai Ramadhan Diperpanjang, Yanto Bedor : Melukis sambil Berdakwah Selengkapnya

Kaligrafi Handphone Jalur Langit, 99-G, Muhammad Riyanto Jadi Magnet di Pameran Lukisan Kaligrafi Menggapai Ramadhan

SURABAYA,1minute.id – Imajinasi H. Muhammad Riyanto berbeda dengan pelukis kaligrafi lainnya di Indonesia. Karya pelukis kaligrafi tinggal di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik, Jawa Timur out of the box dan selalu menyertakan lafal-lafal alquran.

Riyanto, sapaan akrabnya pernah membuat kaligrafi berjudul “Hanya DiriMu Semata” yang mendapatkan apresiasi dari seniman muslim Indonesia yakni Al Khattat Pasuruan Ustadz Syamsul Huda, Sidogiri, Pasuruan dan Kiai juga penyair Clurit Emas, D. Zawawi Imron dari Madura. Lukisan berukuran diameter 120 centimeter itu, sangat elok. 

Di Art Jakarta di JIEXPO Kemayoran, Jakarta. Ada tiga karya lukisan kaligrafi lelaki berusia 49 tahun ini pajang. Judulnya, “Keinginan ; Hijaiyah dan Fa Asbahtum Bini’matihi Ikhawanaa”.

Di eksebisi pameran kaligrafi kontemporer pada 8-15 September 2024 lalu, Riyanto, salah satu wakil Indonesia yang mengikuti pameran bertajuk “The Prophet Muhammad International Islam Calligraphy Art Exhibition”. Pameran kaligrafi kontemporer terbesar itu diikuti 135 pelukis dari 35 negara ini rangkaian memeriahkan acara Musabaqah Tilawatil Quran Nasional atau MTQN ke-30 di Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia. 

Riyanto memamerkan lukisan berjudul “Nuur Muhammad” di atas kanvas ukuran 120×120 cm. Medianya campuran yakni Polypropylene, glass, PVC board, pipa, pines, resin, acrylic on canvas. “Judul karya Nuur Muhammad dalam berkonsep karya nama diberikan oleh KH.Chotib Hambari adalah putra KH.Muhammad Bashori Mansyur pengasuh Ponpes Roudlotit Tholibin keponakan Gus Mus (Mustofa Bisri),” terang pelukis kaligrafi kini pengurus Jamiyyatul Qurra’ wal Huffazh atau JQH Kota Surabaya, Jawa Timur ini. 

Sedangkan, karya-karya kaligrafi yang mengkritisi kondisi sosial masyarakat. Di antaranya, berjudul “Dream Noah Ship Future” pernah dipajang di Malaysia. Lukisan itu menggambarkan sebuah kapal pesiar yang mengangkut banyak penumpang. Beragam agama mereka. Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Di atas kapal pesiar itu, semuanya rukun. “Andai dunia bisa damai. Akan sangat menyenangkan,” kata Riyanto suatu hari.

Nah, pada pemeran lukisan Kaligrafi Menggapai Ramadhan di basement Alun-alun Kota Surabaya mulai 15-22 Februari 2025, Riyanto memamerkan lukisan Kaligrafi berbentuk handphone. Lukisan kaligrafi itu berjudul “God is the Only Source of Knowledges” yang artinya Tuhanlah satu-satunya sumber ilmu.

“Niki doa, ayat, hadist dan Alquran. Ada kode 99 G pun mboten 5G male,” kata Riyanto dalam melalui pesan WhatApps pada wartawan 1minute.id pada Kamis, 20 Februari 2025.

Ide unik karya Riyanto ini berupa kaligrafi berbentuk handphone tipe 7 (visualisasi surat Alfatihah) dari karya ini ada pesan religi yang kuat, di antaranya jaringan HP menggunakan 99 G (Asmaul Husna). “Jadi sudah tidak 5G apalagi 4G,” katanya. Jaringan 99 G dengan Asmaul Husna adalah komunikasi jalur langit.

Bluetooth dan Wifi menggunakan Jaringan HAKISFI (Pelaksana Pameran) ada titik lampu LED di tengah atas yang menyala yang bisa di aktifkan dengan sensor di bawahnya sebagai penanda waktu Salat tiba. Ada enam kotak di tengahnya adalah visualisasi rukun iman. Dengan lafadz ayat ayat AlQuran di antaranya, “Faabiayyialaa irobbikuma tukadziban” ; “Fadhulii fii ‘ibaadii wadhulii jannaty” ; “Inna Fatahna Laka Fatham Mubiina” dan ada juga dengan media acrylic mirror dengan lafadz “Lainsyakartu. Laaziidannakum” Dengan media kaca acrylic kita di arahkan untuk bercermin diri sudahkan kita menjalankan apa yang diperintahkan Allah ?

“Saya merasa pesan yang saya sampaikan melalui karya ini sudah tersampaikan dan semoga bermanfaat dengan narasi yang disampaikan,” ujar pelukis kaligrafi yang  alumnus Pondok Pesantren ini.

Pameran Kaligrafi Menggapai Ramadhan ini juga diikuti oleh KH.Misbahul Munir, Ketua Majelis Dewan Hakim MKQ Nasional Malang ; KH.Imron Fathoni, Dewan Hakim MKQ Jawa Timur, KH.Robert Nasrullah, Dewan Hakim MKQ Nasional Yogyakarta ; Syam Arif, Surabaya ; Suharno, Tangerang dan Abdul Syukur, Jakarta. 

Juga ada Ustad Badruzzaman, Jakarta ; Lukmanul Hakim, Jombang ; Camilhady Lamongan ; Anwar Sanusi, Pasuruan ; Armin Misbah, Sulawesi ; dan Ustad Miftahul Khoir, Bali. “Karyaku ruame mas tadi malam (Rabu) HP unik jarene,” ujar Riyanto menirukan ucapan pengunjung.

Selain pameran kaligrafi yang diikuti lebih dari 100 karya dari peserta seluruh Indonesia. “Hakisfi juga mengadakan lomba melukis, workshop kaligrafi dan OTS yang diadakan di arena pameran,” kata Syam Arif, Ketua Panitia yang sekaligus peserta pameran adalah putra pelukis legenda perjuangan M.Sochieb dari Surabaya yang terkenal itu. 

Siapa H. Muhammad Riyanto? Riyanto tergabung dalam pelukis Gasrug Gresik dan lulusan Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Al-slamiyah asuhan KH. Muhammad Bashori Mansyur, Tambak Osowilangun, Surabaya. Ia belajar kaligrafi di KH.M Faiz AbdurRazaq Khattat International dari Bangil. (yad)

Kaligrafi Handphone Jalur Langit, 99-G, Muhammad Riyanto Jadi Magnet di Pameran Lukisan Kaligrafi Menggapai Ramadhan Selengkapnya

Perayaan Imlek 2576 Kongzili di Gresik Aman dan Khidmat

GRESIK1minute.id – Perayaan Tahun Baru Imlek 2576 Kongzili di Gresik, Jawa Timur aman dan kondusif. Tidak ada pesta kembang api, kesenian Barongsai dan Wayang Potehi dalam menyambut pergantian tahun menuju Shio Ular Kayu tersebut. 

Ratusan warga Tionghoa merayakan Imlek dengan sembayang bersama di Tempat Ibadat Tri Dharma atau TITD Kim Hin Kiong berada di Kampung Pecinan, Desa Pulopancikan, Kecamatan/ Kabupaten Gresik itu. Sembayang dan doa bersama berlangsung khidmat mulai Selasa hingga Rabu dini hari, 28-29 Januari 2025.

Aparat kepolisian Polres Gresik dan sejumlah organasasi kemasyarakat di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik ikut melakukan penjagaan. Pengamanan imlek di kelenteng yang diklaim berdiri sejak 1 Agustus 1153 atau 872 tahun lalu itu dipimpin langsung Kapolres Gresik AKBP Rovan Richard Mahenu.

AKBP Rovan Richard Mahenu menyatakan, kehadiran aparat kepolisian dalam pengamanan Imlek 2576 Kongzili untuk memberikan perasaan aman dan nyaman kepada warga.

“Kita hadir di sini untuk memastikan bahwa saudara-saudara kita yang merayakan Imlek dapat melaksanakan kegiatan mereka dengan aman, nyaman,” ujar alumnus Akpol 2006 itu. Mantan Kasubdit 4/Jatanras Polda Metro Jaya itu juga mengapresiasi warga masyarakat yang membantu pengamanan Imlek di Kelenteng, termasuk Banser demi menjaga toleransi dan kelancaran ibadah.

AKBP Rovan juga menyempatkan berdialog dengan pengurus kelenteng, Kapolres juga melaksanakan ngopi kamtibmas sebagai bentuk sinergi dengan komunitas Tionghoa di Gresik. 

Sementara ketua TITD Kim Hin Kiong Tan Sutanto  mengapresisi kehadiran kepolisian dalam mengamankan perayaan tahun ini. “Kehadiran Kepolisian membuat kami merasa aman dan nyaman dalam menjalankan ibadah,” ungkap Tan Sutanto. (yad)

Perayaan Imlek 2576 Kongzili di Gresik Aman dan Khidmat Selengkapnya

Suci Rupang, Bersihkan Kelenteng Kim Hin Kiong, Warga Tionghoa Gresik Siap Rayakan Imlek

GRESIK,1minute.id – Ratusan rupang di kelenteng Kim Hin Kiong di Gresik elah di sucikan pada Jumat, 24 Januari 2025. Warga Tionghoa di Gresik siap menyambut Tahun Baru Imlek 2576 Kongzili. 

Untuk mensucikan ratusan rupang atau patung para dewa membutuhkan lebih dari 12 jam. Meski, lelah namun umat Tri Dharma yang biasa sembayang di Tempat Ibadat Tri Darma atau TITD alias kelenteng berada di kampung Pecinan Jalan Setia Budi, Kecamatan/Kabupaten Gresik, Jawa Timur semringah. Sebab, mereka memiliki keyakinan bisa mensucikan rupang bakal mendapatkan keberkahan. 

“Lancar rezekinya,  kebahagian rumah tangga bahagia dan panjang umur,” kata Ketua TITD Kim Hin Kiong, Tan Sutanto. Di tempat ibadat yang masuk Cagar Budaya itu terdapat beberapa rupang yang paling dihormati. Diantaranya, Mak Co Thian Sang Sing Bo atau Dewi Laut dan Dewi Kwan in. Rupang Dewa Mak Co Thian Sang Sing Bo diletakkan di bagian tengah altar kelenteng yang dibangun pada 1 Agustus 1153 itu. 

Dalam pantauan wartawan 1minute.id pada Sabtu, 25 Januari 2025, prosesi mensucikan para dewa telah selesai. Namun, bersih-bersih tetap dilakukan olehnpengerus kelenteng. Antara lain, membersihkan wadah abu yang terbuat dari kuningan. Petugas membersihkan wadah kuningan ini dengan cairan semprot. “Nanti sembayang akan dilakukan pada 28 Januari 2025 malam,” katanya. (yad) 

Suci Rupang, Bersihkan Kelenteng Kim Hin Kiong, Warga Tionghoa Gresik Siap Rayakan Imlek Selengkapnya

Tembok Pembatas Kompleks Makam Bupati Gresik Pertama K.R.T Poesponegoro dengan Makam Pahlawan Ambruk

GRESIK,1minute.id – Tembok pembatas antara kompleks Makan K.R.T Poesponegoro dengan Makan Pahlawan roboh. Tembok yang ambruk itu berada di bagian barat makam Bupati Gresik pertama itu.

Panjang tembok yang roboh itu berada di sisi selatan dari gerbang masuk makam kompleks Bupati Gresik pertama dari Makam Pahlawan. Panjangnya sekitar 7-8 meter dan tinggi sekitar 2 meter.  Sedangkan, tembok pembatas di sisi utara masih berdiri kokoh. Tembok pembatas yang berada di Desa Gapurasukolilo, Kecamatan/ Kabupaten Gresik, Jawa Timur itu roboh pada Kamis malam, 26 Desember 2024. 

“Roboh malam Jumat lalu,” kata Ana, salah seorang petugas kebersihan di Makam Bupati Gresik pertama ditemui wartawan  1minute.id  pada Rabu, 1 Januari 2025.  Dalam pantauan di lapangan hampir sepekan roboh puing-puing tembok yang ambruk belum dibersihkan. “Pembangunannya tanpa pondasi tiang cor,” duga perempuan berusia 45 tahun itu. 

Dari luar  tidak terlihat tembok pembatas antara Kompleks Makam Bupati Gresik pertama dengan makam Pahlawan ambruk. Sebab, lokasi tidak terlihat dari Jalan Pahlawan, Gresik. Apalagi, gerbang masuk dari makam Pahlawan digembok pada Rabu, 1 Januari 2024. Untuk bisa masuk lokasi kejadian harus melalui kompleks Makam Syekh Maulana Malik Ibrahim.

MAKAM BUPATI GRESIK PERTAMA : Peziarah sedang berdoa di makam K.R.T Poesponegoro, Bupati Gresik Pertama (Foto dok : Chusnul Cahyadi/1minute.id)

Berdasarkan prasasti yang ditulis oleh Yayasan Keluarga Besar K.T.Poesponegoro yaitu Kanjeng Raden Temenggung atau KRT Poesponegoro lahir di Gresik (Tandes) pada 1651 M atau 1062 Hijriah dari pasangan Ki Kemis (Kyai Ageng Setra II) Lurah Gresik dengan Nyimas Ajoe (Kakak kandung Umbul Gresik, K.T. Naladika).

Beliau keturunan ke-10 dari Prabhoe Kertawidjaja Widjajaparakrama Wardhana (Bhre Toemapel- Prabhoe Brawidjaja V, Maharaja Madjapahit, 1448-1451).

Setelah dewasa diangkat menjadi Lurah Gresik menggantikan ayahnya, beliau menikah dengan Raden Rara Teleng Putri Umbul Gresik, K.T. Naladika (1660-1675). Selanjutnya diangkat menjadi Mantri Nayaka Gresik (1675- 1688).

Kemudian diangkat Sunan Amangkurat II Mataram menjadi Bupati Gresik (Tandhes) pertama dengan gelar Kyai Tumenggung Poesponegoro (1688-1696/1100-1108 Н.). Wilayah Gresik (Tandhes) yang rusak dan hancur akibat peperangan secara fisik dapat dibangun kembali, dipulihkan keamanan, ekonomi, sosial, budaya, dan keagamaan. 

Masjid Jamik Gresik didirikan kali pertama dan setiap desa di Gresik wajib didirikan masjid jamik. Selain umara beliau juga ulama dalam dakwah dan tercatat sebagai mursyid Thoriqoh Syattariyah ke-29 dari jalur Sunan Giri.

K.T. Posponegoro mengamalkan dan mengajarkan thoriqoh Syattariyah tentang hakikat Allah, Muhammad, Adam, Tauhid, Makrifat, Dzat, Sifat dan Asma’. Beliau menulis kitab Serat Jati Murni, Palintangan, Palalindon, Serat Jati Murti. 

Diamalkan dan diajarkan zikir Thawaf, Nafi Itsbat, Isbats Faqad, Ismu Dzat, Tarraqi, Tanazzul, Ism Ghoib, dan ajaran moral-spiritual Islam. Beliau wafat usia 70 tahun tepatnya Selasa Pon, 11 November 1721 (20 Muharram 1132 H./20 Suro 1644) dimakamkan di Pusoro Asmarantaka Gapuro Sukolilo Gresik atau Pusoro Katumenggungan Gresik. (yad)

Tembok Pembatas Kompleks Makam Bupati Gresik Pertama K.R.T Poesponegoro dengan Makam Pahlawan Ambruk Selengkapnya

Ada Pemilihan Pegawai Teladan di Masjid Akbar Moed’har Arifin yang Didirikan Saudagar Dermawan itu 

GRESIK,1minute.id – Masjid Akbar Moed’har Arifin begitu megah. Masjid berlokasi di Jalan Deandles Km 31, Desa Sekapuk, Sidayu, Gresik itu dibangun oleh almarhum Chairman PT Polowijo Gosari Grup H. Achmad Djauhar Arifin itu menjadi ikon baru di Gresik Utara.

Masih tergiang di telinga Saya waktu Haji Arifin, saudagar dermawan itu menceritakan H Achmad Moed’harsyah sakit di Singapura, keluarga berjanji akan membangun surga.

“Karena hidup bukan dunia saja, tapi yang utama adalah untuk akhirat. Karena kami pengusaha, kami belanjakan untuk akhirat,” kata Arifin, adik Moed’har waktu itu. Kini masjid telah berdiri megah. Dan, ikon di Gresik Utara. Saudagar dermawan itu menyusul kakaknya pada 27 Juli 2020. Masjid yang didirikan saudagar dermawan di pantai utara atau Pantura Gresik menjadi jujugan masyarakat. 

Pada 17 Desember 2024, wartawan  1minute.id  mengunjungi masjid ikonik itu untuk salat duhur. Suasana masjid agak lenggang. Pengunjung atau jemaah mengalir bagai air ; masuk dan keluar seakan terus berganti. Sehingga nyaris tidak pernah sepi jemaah. Jemaah nyaman menjalan salat karena suasana masjid sangat bersih, rapi dan nyaman. Karpet harum seperti wewangian diMasjidil Haram, Mekkah. 

Suasana masjid yang bersih dan nyaman itu dikarenakan takmir menggelar pemilihan pegawai teladan setiap bulan. Untuk karyawan teladan bulan November 2024, ada tiga orang yakni Achmad Febi Irawan (cleaning service) ; Muhammad Isnaini (juru parkir) dan Sholikhun Akhwan (tukang kebun). 

Data yang didapatkan 1minute.id, Masjid Akbar Moed’har Arifin ini di bangun atas prakarsa dua bersaudara yakni pendiri PT Polowijo Gosari yaitu Ahmad Moed’har Syah dan Ahmad Djauhar Arifin. Masjid dibangun mulai 11 Mei 2018 dan diresmikan 29 Maret 2020. Nama masjid diambil dari gabungan dua nama pemprakarsa yakni Ahmad Moed’har Syah dan Ahmad Djauhar Arifin. (yad)

Ada Pemilihan Pegawai Teladan di Masjid Akbar Moed’har Arifin yang Didirikan Saudagar Dermawan itu  Selengkapnya

Misa Malam Natal Aman dan Khidmat, Fandi Akhmad Yani : Gresik Rumah yang Aman bagi Umat

GRESIK,1minute.id – Ribuan umat kristiani mengikuti Misa Natal di Gresik dengan damai dan aman. Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani, Kapolres Gresik AKBP Arief Kurniawan dan Pgs Kasdim 0817/Gresik Kapt Inf Siari memantau langsung Misa Natal di sejumlah gereja pada Selasa malam, 24 Desember 2024.

Kali pertama forkopimda mengunjungi Gereja Kristen Indonesia atau GKI di Jalan DR Wahidin Sudirohusodo, Kecamatan Kebomas. Kunjungan kedua ke Gereja St Maria Perawan. Sekitar pukul 20.10 WIB, mereka tiba di gereja katolik berada Jalan Aried Rahman Hakim, Kecamatan/ Kabupaten Gresik. Misa memasuki gelombang kedua. Gelombang pertama diikuti seribuan jemaat. Gelombang kedua sekitar 500-an jemaat. 

Kedatangan Gus Yani-sapaan-Bupati Fandi Akhmad Yank, AKBP Arief Kurniawan dan Mayor Inf Siari disambut langsung oleh Pastor Kepala Paroki Santa Perawan Maria, Gresik Romo Gregorius Sasar Harapan, SVD. Mereka kemudian berjalan menuju altar.

Ratusan jemaat sudah duduk di bangku tempat ibadat. Begitu Gus Yani, Arief Kurniawan dan Siara masuk umat kristiani menyambut dengan hangat. Oang nomor satu di Kota Santri-sebutan lain- Kabupaten Gresik menyapa dengan ramah dan menyalami satu per satu.

Fandi Akhmad Yani menyatakan  kedatangannya untuk memantau Misa Natal 2024 berjalan aman, nyaman , khidmat di malam Natal ini. Ia mengatakan, umat beragama di Gresik beragam, yakni ada Islam, Kristen, Hindu, Buddha. “Gresik bisa menjadi rumah yang aman bagi semua umat dalam menjalankan ibadah,” katanya.

Karena toleransi antarumat beragama sangat baik. Mereka saling menghormati, saling menjaga sehingga Gresik aman, rukun dan nyaman. “Selamat Natal,” ujarnya. 

Sementara itu, Romo Gregorius Sasar Harapan, SVD menyatakan umat katolik senantiasi mendukung program pemerintah kabupaten Gresik. “Semoga Gresik kedepan lebih maju dan makmur,” kata Romo Gregorius. (yad)

Misa Malam Natal Aman dan Khidmat, Fandi Akhmad Yani : Gresik Rumah yang Aman bagi Umat Selengkapnya