Pemulihkan Ekosistem Pantai, Petrokimia Gresik Tanam Ribuan Bibit Mangrove di Mengare

GRESIK,1minute.id – PT Petrokimia Gresik (Persero), perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero), melaksanakan penanaman sekitar 1.000 bibit mangrove secara bertahap di kawasan Pusat Restorasi dan Penanaman Mangrove (PRPM) Mengare, Desa Tanjungwidoro, Kecamatan Bungah.

Kegiatan ini sebagai komitmen dalam menjaga ekosistem pesisir dilakukan bertepatan peringatan Hari Mangrove Sedunia 2026. Penanaman Mangrove Serentak Seluruh Indonesia ini diinisiasi Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) pada Minggu, 26 Juli 2026. Kegiatan nasional dipusatkan di Pelabuhan Ekowisata Mangrove Batu Lumbang, Bali.

“Pelestarian ekosistem pesisir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari komitmen perusahaan dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Karena itu, setiap program lingkungan yang dijalankan perusahaan dirancang untuk memberikan manfaat ekologis sekaligus manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat,” kata Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob pada Senin, 27 Juli 2026.

Menurut Daconi, mangrove memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Selain menjadi habitat berbagai biota laut, mangrove juga mampu menyerap karbon dalam jumlah besar, mengurangi laju abrasi, serta melindungi kawasan pantai dari ancaman gelombang dan erosi.

“Mangrove merupakan benteng alami yang menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Kemampuannya menahan abrasi sekaligus menyerap karbon menjadikannya salah satu solusi alami dalam mendukung mitigasi perubahan iklim,” ujar Daconi.

Ia menambahkan bahwa filosofi mangrove sejalan dengan semangat Petrokimia Gresik dalam menjalankan bisnis. Sebagaimana akar mangrove yang kokoh menjaga pesisir, Petrokimia Gresik terus memperkuat perannya dalam menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus membangun perusahaan yang tangguh menghadapi dinamika industri global.

“Semangat mangrove mencerminkan nilai-nilai yang kami pegang. Kami ingin terus tumbuh dengan fondasi yang kuat, memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat, sekaligus menjaga keberlanjutan sektor pertanian Indonesia agar semakin tangguh menghadapi berbagai tantangan di masa depan,” tambah Daconi.

Partisipasi dalam Penanaman Mangrove Serentak Seluruh Indonesia melengkapi berbagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang telah dijalankan Petrokimia Gresik dalam mendukung pelestarian ekosistem pesisir. Salah satunya melalui pengembangan Ekowisata Kalam Mangrove di Desa Sukorejo yang berhasil mengubah kawasan sempadan Kali Lamong menjadi area bebas sampah, kawasan konservasi mangrove, sekaligus destinasi wisata berbasis lingkungan.

Selain itu, Petrokimia Gresik juga secara berkelanjutan mengembangkan Pusat Restorasi dan Penanaman Mangrove (PRPM) Mengare di Desa Tanjungwidoro. Program ini mengedepankan pemberdayaan masyarakat melalui konservasi ekosistem pesisir untuk mengurangi abrasi, meningkatkan produktivitas perikanan, serta menciptakan alternatif sumber penghasilan melalui pengembangan ekowisata pesisir terpadu.

Komitmen perusahaan terhadap pelestarian ekosistem mangrove juga diwujudkan melalui dukungan dalam pembangunan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Mangrove Ujungpangkah. Atas kontribusi tersebut, Petrokimia Gresik memperoleh apresiasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia sebagai Perusahaan Terbaik Kategori Private Sector.

Melalui penanaman bibit mangrove ini, Petrokimia Gresik berharap semangat menjaga ekosistem pesisir terus tumbuh di tengah masyarakat. Bagi Petrokimia Gresik, pelestarian lingkungan bukan sekadar memenuhi tanggung jawab perusahaan, tetapi juga merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan kehidupan. Oleh karena itu, perusahaan akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan untuk menghadirkan program-program yang memberikan manfaat nyata bagi lingkungan.

“Keberlanjutan bukan sekadar komitmen, tetapi menjadi bagian dari cara Petrokimia Gresik menjalankan bisnis. Kami percaya setiap pohon mangrove yang ditanam melalui program ini akan menjadi warisan berharga bagi lingkungan, masyarakat, dan masa depan Indonesia,” tutup Daconi. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Pemulihkan Ekosistem Pantai, Petrokimia Gresik Tanam Ribuan Bibit Mangrove di Mengare Selengkapnya

Menteri Lingkungan Hidup Apresiasi SMANSA Gresik, Program SIKAP Layak Jadi Contoh Nasional 

GRESIK,1minute.id – Menteri Lingkungan Hidup Moch Jumhur Hidayat melakukan kunjungan kerja ke Sekolah Adiwiyata SMA Negeri 1 Gresik pada Rabu, 15 Juli 2026.  Menteri Jumhur didampingi diantaranya Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif melihat dari dekat inovasi sekolah di Jalan Arif Rahman Hakim, Gresik dalam memanfaatkan lahan sempit yang bernilai ekonomis dan ramah lingkungan. Pengelolaan sampah dan penghijauan. 

Jumhur yang juga Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup menilai sekolah yang dipimpin oleh Irfan ini layak menjadi contoh nasional berkat inovasi pengelolaan sampah dan pengembangan ketahanan pangan di lingkungan sekolah.

SMAN 1 Gresik dipilih sebagai lokasi kunjungan karena mengembangkan program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP). Sekitar pukul 10.45 WIB, Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat tiba di SMA Negeri 1 Gresik. Menteri Jumhur didampingi Gubernur Khofifah Indar, Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif langsung menuju taman hidroponik yang berada di sisi utara gedung sekolah. 

Di lahan berukuran sekitar 20 meter persegi itu, penuh tanaman sawi organik. Tanaman tumbuh subur dan segar. Mereka pun menyempatkan memanen sayuran. Kunjungan dilanjutkan ke tanaman tomat dan dilanjutkan penanaman pohon di media pot di halaman sekolah. 

Pada kesempatan itu, Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidaya mengapresiasi inovasi pengelolaan sampah dan penghijauan yang diterapkan SMA Negeri 1 (Smansa) Gresik. 

Menurutnya, langkah yang dilakukan sekolah tersebut tidak hanya mampu mengurangi persoalan sampah, tetapi juga mendukung ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan. Ia mengatakan, program Adiwiyata tidak hanya memberikan penghargaan, tetapi juga menjadi sarana edukasi untuk menumbuhkan kepedulian lingkungan di kalangan peserta didik melalui penilaian bertahap hingga kategori tertinggi, yakni Adiwiyata Mandiri.

“Di SMAN 1 Gresik ini, dalam penilaian kami masuk kategori tertinggi, yaitu Adiwiyata Mandiri. Mereka mampu menumbuhkan kesadaran terhadap lingkungan dan menjadi contoh bagi institusi pendidikan di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Ia mengatakan kunjungannya ke Jawa Timur juga didasarkan pada capaian provinsi tersebut dalam pengelolaan lingkungan, khususnya penanganan sampah. Menurutnya, berdasarkan penilaian Kementerian Lingkungan Hidup, Jawa Timur menjadi provinsi dengan kinerja terbaik dalam pengelolaan lingkungan dan penanganan sampah sehingga layak menjadi rujukan bagi daerah lain.

“Saya memberikan apresiasi karena Jawa Timur mampu memberikan contoh terbaik. Ini bisa menjadi contoh bagi provinsi lain yang masih kurang serius dalam pengelolaan lingkungan, terutama sampah,” ujarnya.

Sementara itu,  Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan keberhasilan sekolah meraih predikat Adiwiyata Mandiri juga diiringi pengembangan program sekolah inovatif berbasis ketahanan pangan. Khofifah menjelaskan, lahan sekolah yang terbatas tidak menjadi kendala untuk mengembangkan pertanian, peternakan, maupun perikanan skala edukatif yang melibatkan para siswa.

“Kami ingin ini menjadi pilot project. Ketahanan pangan tidak harus dilakukan di lahan yang luas, tetapi bisa dimulai dari seluruh lahan yang tersedia di institusi pendidikan, kemudian hasilnya dapat diolah hingga memiliki nilai tambah,” katanya. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Menteri Lingkungan Hidup Apresiasi SMANSA Gresik, Program SIKAP Layak Jadi Contoh Nasional  Selengkapnya

Hari Lingkungan Hidup 2026, Freeport Perkuat Kolaborasi dengan Aksi Bersih Pantai hingga Penanaman Mangrove

GRESIK,1minute.id –  PT Freeport Indonesia (PTFI) menutup rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup 2026 dengan Aksi Bersih Pantai di Pantai Kemukem, Desa Kramat, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik. Aksi peduli lingkungan kolaboratif ini melibatkan sekitar 400 peserta.

Ratusan peserta itu berasal dari unsur pemerintah daerah, masyarakat, pelajar, komunitas lingkungan, serta karyawan dan mitra perusahaan untuk memperkuat pelestarian lingkungan. 

Mengangkat tema “Be the Solution, Not the Pollution: Recycle and Conserve”, rangkaian kegiatan menegaskan pentingnya kolaborasi lintas pemangku kepentingan dalam mendorong keberlanjutan lingkungan. Serta, mendukung pengelolaan sampah pesisir sekaligus memperkuat program berbasis masyarakat melalui inisiatif Waste for Waste.

Wakil Presiden Direktur PTFI Jenpino Ngabdi mengatakan keberhasilan operasional perusahaan harus berjalan seiring dengan tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat. “Bagi kami, komitmen terhadap lingkungan bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian integral dari keberlanjutan operasional serta tanggung jawab kepada pemerintah dan masyarakat,” kata Jenpino.

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani, mengatakan rangkaian kegiatan tersebut menjadi contoh kolaborasi yang menghasilkan dampak nyata. “Kegiatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi diwujudkan melalui aksi nyata dan komitmen berkelanjutan dalam menjaga lingkungan. Mulai dari Aksi Bersih Pantai hingga penanaman mangrove, langkah-langkah ini sangat menginspirasi Pemerintah Kabupaten Gresik untuk memulai dari hal-hal yang terdekat,” katanya.

Pantai Kemukem dipilih karena merupakan bagian dari ekosistem pesisir dan mangrove yang memiliki nilai ekologis tinggi, namun juga menjadi lokasi penumpukan sampah kiriman dari aliran sungai. Dalam kegiatan tersebut, sekitar 1,6 ton sampah berhasil dikumpulkan dari area seluas sekitar 500 meter persegi. Seluruh sampah dipilah berdasarkan jenisnya. Sampah anorganik disalurkan ke bank sampah untuk didaur ulang, sampah organik diolah menjadi kompos, sementara residu dikelola sesuai ketentuan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik.

Afandi, nelayan warga Desa Kramat, mengatakan program tersebut telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.  “Harapan kami program ini terus berlanjut dan memberi manfaat bagi lingkungan. Nilai manfaatnya banyak, warga diberdayakan dan lingkungan kami jadi bersih. Sekarang lingkungannya juga lebih enak dipandang, pasir-pasirnya mulai terlihat, dan insyaallah ikan-ikan datang,” katanya

Selain aksi bersih pantai, PTFI juga menggelar penanaman mangrove di Desa Karangrejo yang melibatkan sekitar 350 peserta dari berbagai kalangan. Penanaman dilakukan dengan pendekatan silvofishery yang mengintegrasikan konservasi mangrove dengan budidaya tambak sehingga memberikan manfaat ekologis sekaligus ekonomi bagi masyarakat. 

Kegiatan ini merupakan bagian dari target penanaman 50.000 bibit mangrove di kawasan konservasi yang dikelola PTFI. Rangkaian kegiatan Hari Lingkungan Hidup PTFI juga mencakup Environmental Awareness Workshop dan Student Exhibition yang mendorong edukasi serta partisipasi publik melalui pendekatan kolaboratif, termasuk konservasi sungai dan penguatan peran pelajar melalui karya berbasis Citizen Science.

Di lingkungan internal perusahaan, PTFI menyelenggarakan berbagai kegiatan yang melibatkan karyawan dan kontraktor, antara lain donor darah, program housekeeping dan pemilahan sampah, Environmental Smart Quiz, seminar Lunch & Learn, serta Monthly Contractor Meeting. Seluruh kegiatan tersebut bertujuan memperkuat budaya keselamatan, kepatuhan, dan keberlanjutan dalam operasional perusahaan.

Melalui rangkaian kegiatan Hari Lingkungan Hidup 2026, PTFI menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kolaborasi dan mendorong aksi nyata dalam menjaga lingkungan. Pendekatan yang terintegrasi, mulai dari konservasi hingga pengelolaan sampah, diharapkan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Hari Lingkungan Hidup 2026, Freeport Perkuat Kolaborasi dengan Aksi Bersih Pantai hingga Penanaman Mangrove Selengkapnya

Ratusan Kendaraan Bermotor Jalani Uji Emisi, Wabup Gresik : Kita Ingin Udara yang Kita Hirup Lebih Segar dan Baik

GRESIK,1minute.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik menggelar Uji Emisi Kendaraan Bermotor gratis di Halaman Kantor Bupati Gresik pada Rabu, 24 Juni 2026. Aksi nyata untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2026 ini  mengusung tema “Sayangi Bumi : Saatnya Bekerja untuk Iklim, Mulai dari Uji Emisi Kendaraanmu” di buka oleh Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif. 

Sebanyak seratus unit kendaraan roda empat dan lebih yang menjalani pemeriksaan uji emisi yang bekerjasama dengan Envilab dan PT Smelting ini. Ratusan unit kendaraan bermotor (ranmor) terdiri dari 50 unit kendaraan dinas ; kendaraan operasional kebersihan dan pertamanan, masing-masing 10 unit, eksternal atau umum 30 unit kendaraan. 

Dalam uji emisi gas buang ini, kendaraan dinas Wakil Bupati Gresik dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sri Subseti ikut menjalani uji emisi. Hasilnya? Kendaraan dinas sesuai standar dan ditempeli stiker berbentuk bulat dan warna dasar hijau dengan tulisan berbunyi “Lulus Uji Emisi Kendaraan” berwarna putih.

Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif mengatakan, uji emisi kendaraan dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup ini karena Pemkab Gresik berkomitmen untuk menjaga kualitas udara di Gresik baik. “Kita ingin udara yang kita hirup lebih baik,” ujar dokter Alif, sapaan akrab, Asluchul Alif dalam sambutannya pada Rabu, 24 Juni 2026.

RATUSAN Kendaraan Bermotor berjajar rapi untuk antri menjalani uji emisi kendaraan di halaman Kantor Bupati Gresik pada Rabu, 24 Juni 2026 ( Foto : Chusnul Cahyadi/1minute.id)

Kabupaten Gresik, imbuhnya, dikenal sebagai Kota Industri dengan jumlah penduduk sekitar 1,3 juta. Pada pagi dan sore jumlah penduduk diperkirakan bertambah kali lipat. Berkisar antara 3 juta sampai 4 juta jiwa. Sejumlah ruas jalan mengalami kemacetan. “Jadi banyak orang yang datang ke Kabupaten Gresik mungkin dari Surabaya di Lamongan dari Sidoarjo maupun dari kabupaten-kabupaten lainnya. Mereka tidak mungkin jalan. Merena pasti menbawa kendaraan bermotor. Berdasarkan aturan yang ada semua kendaraan harus lolos uji emisi,” tegas Asluchul Alif. 

Dinas LH Gresik, ia melanjutkan, bergerak melakukan uji emisi kendaraan, seluruh kendaraan bermotor yakni mobil, motor maupun kendaraan berat lolos uji emisi. Uji emisi kendaraan ini bukan tujuan utama. Pemkab Gresik ingin merubah kedisiplinan dari seluruh masyarakat yang masuk ke kabupaten Gresik. “Kalau kita tanam pohon yang bisa mengeluarkan oksigen itu sebagai pahala bagi kita. Sebaliknya kendaraan kita yang bikin tercemar udara yang ada di Kabupaten Gresik ini juga jika ada yang sakit gara-gara udara yang kita keluarkan punya risiko dan tanggung jawab. Apakah itu sebuah dosa atau kembali ke dirinya sendiri untuk sakit karena menghirup udara yang tidak itu. yang mungkin bisa kita sosialisasikan kepada masyarakat,” kata Wabup Alif bertamsil.

Kenapa kita harus peduli dengan lingkungan? “Semoga kegiatan dinilai sebagai ibadah untuk anak, cucu kita menjaga lingkungan Gresik lebih baik, lebih baik, lebih bersih dan lebih bersih lagi,” katanya. 

STIKER LULUS UJI EMIS KENDARAAN: Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif didampingi (kiri) Manajer Teknis Envilab Muhammad Suhar, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Gresik Sri Subaida dan External Affairs PT Smelting Gresik Erika Silva menempelkan stiker di kendaraan yang lulus uji emisi di halaman Kantor Bupati Gresik pada Rabu, 24 Juni 2026 ( Foto : Chusnul Cahyadi/1minute.id)

Selain Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif, kegiatan uji emisi kendaraan ini dihadiri oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setkab Gresik Misbahul Munir, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik Sri Subaida, VP Governmental/ External Affairs PT Smelting Gresik Erika Silva dan Manajer Teknis Envilab Muhammad Suhar dimulai pukul 08.30 WIB. Ratusan kendaraan yang akan mengikuti uji emisi berjajar rapi di bagi timur kantor Bupati Gresik. 

Kali pertama yang menjalani uji emisi adalah mobil dinas Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif yakni Toyota Zenix Hybrit kemudian Mobil Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sri Subaida. Kedua mobil dinas itu lulus uji emisi. 

Ditempat sama, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Gresik Sri Subaida mengatakan, ada tiga tujuan yang ingin capai dalam uji emisi kendaraan ini. Diantaranya, data hasil uji selanjutnya dijadikan sebagai data aktual tingkat emisi kendaraan di wilayah kabupaten sebagai bahan evaluasi dan perumusan kebijakan lingkungan kedepan.

Saat ini, kata Sri Subaida, kualitas udara di Kabupaten Gresik masih tergolong dibawah ambang batas baku mutu alias aman. Ia mengutip hasil Indeks Kualitas Lingkungan Hidup dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) masih dibawah target dari 90. “Kita masih di angka 89,8.  Gresik perlu berbenah, dengan melakukan penanaman pohon, uji kualitas udara baik yang bergerak maupun tidak bergerak seperti dari perusahaan,” tegas perempuan berhijab itu. 

Ia mengatakan, uji emisi kendaraan ini adalah program rutin tahunan. Untuk tahun 2026, katanya, di Kantor Bupati Gresik diikuti 100 unit kendaraan yakni kendaraan dinas Pemkab Gresik 50 unit, kendaraan operasional kebersihan dan pertamanan, masing-masing 10 unit dan eksternal atau umum 30 kendaraan. (adv/yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Ratusan Kendaraan Bermotor Jalani Uji Emisi, Wabup Gresik : Kita Ingin Udara yang Kita Hirup Lebih Segar dan Baik Selengkapnya

Menjembatani Pertumbuhan Industri dan Kelestarian Pesisir “Strategi Bisnis dan Ekologis Teknik Konstruksi Perkapalan UMG di Era Hilirisasi”

oleh : Ali Yusa 

KAWASAN pesisir Kabupaten Gresik yang saat ini berada pada fase transformasi ekonomi yang sangat penting. Sebagai salah satu pusat hilirisasi industri nasional di Jawa Timur, dan pintu gerbang Nusantara, Gresik menjadi magnet investasi di sektor manufaktur, pelabuhan, logistik, dan industri maritim. 

Kehadiran berbagai kawasan industri terpadu, termasuk Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), telah memperkuat posisi Gresik sebagai simpul ekonomi strategis yang mendukung visi Indonesia sebagai negara maritim dunia. Namun, di balik percepatan pertumbuhan tersebut, terdapat tantangan yang tidak dapat diabaikan. 

Dalam perspektif ekonomi lingkungan, ekspansi industri pesisir selalu membawa konsekuensi berupa tekanan terhadap ekosistem pantai, peningkatan risiko abrasi, degradasi habitat mangrove, serta perubahan dinamika hidrologi kawasan pesisir. Pertanyaan mendasar yang kemudian muncul adalah: bagaimana memastikan bahwa pembangunan ekonomi dapat berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan?

Pertanyaan tersebut menemukan jawaban menarik melalui kegiatan penanaman 2.000 bibit mangrove yang diselenggarakan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Cabang Gresik bersama berbagai pemangku kepentingan di kawasan Kalimireng, Desa Manyarsidomukti pada Sabtu, 13 Juni 2026 lalu. Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia tersebut menjadi lebih menarik karena diprakarsai dan didukung secara aktif oleh Akademisi Program Studi Teknik Konstruksi Perkapalan Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG).

Bagi sebagian kalangan, keterlibatan program studi yang identik dengan desain kapal, struktur baja, hidrodinamika, dan konstruksi maritim dalam kegiatan restorasi mangrove mungkin tampak tidak lazim. Namun jika ditelaah melalui perspektif rekayasa modern, manajemen risiko, dan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), langkah tersebut justru mencerminkan “strategi yang sangat visioner”.

Akademisi Teknik Kontruksi Perkapalan UMG, melihat bahwa inisiatif ini bukan sekadar kegiatan sosial atau agenda seremonial lingkungan. Sebaliknya, kegiatan tersebut merupakan bentuk rekayasa sinergi antara kepentingan akademik, industri, lingkungan, dan masyarakat yang patut dijadikan model pembangunan maritim berkelanjutan. 

Setidaknya ada 7 langkah yang dilakukan oleh Teknik Kontruksi Perkapalan dan PII Cabang Gresik yang mendukung pembangunan tersebut, yaitu:

Aktivis lingkungan memberikan briefing sebelum aksi penanaman mangrove di kawasan Kalimireng, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik yang diisiasi oleh mahasiswa UMG bersama Persatuan Insiyur Indonesia (PII) Cabang Kabupaten Gresik pada Sabtu, 13 Juni 2026 ( Foto : PII Cab Gresik untuk 1minute.id)

1. Mitigasi Risiko Aset Pesisir

Bagi dunia maritim, abrasi bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan ancaman ekonomi yang nyata. Infrastruktur pelabuhan, dermaga, kawasan industri pesisir, dan jalur pelayaran sangat bergantung pada stabilitas garis pantai. Aktivitas kapal yang semakin padat di wilayah perairan Manyar menghasilkan fenomena ship wake atau gelombang akibat lintasan kapal. 

Dalam jangka panjang, energi gelombang tersebut berkontribusi terhadap percepatan erosi pantai. Berbagai penelitian mengenai pesisir Gresik menunjukkan bahwa perubahan garis pantai terjadi secara dinamis akibat kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia.

Dalam konteks tersebut, mangrove berfungsi sebagai benteng alami yang mampu meredam energi gelombang, menangkap sedimen, dan memperkuat struktur pantai. Berbagai studi menunjukkan bahwa hutan mangrove dapat mengurangi tinggi gelombang secara signifikan sebelum mencapai garis pantai. Oleh karena itu, penanaman mangrove di Kalimireng sesungguhnya merupakan investasi mitigasi risiko yang melindungi aset-aset maritim bernilai tinggi di masa depan.

Dari perspektif bisnis, biaya rehabilitasi pantai dan perbaikan infrastruktur akibat abrasi jauh lebih mahal dibandingkan biaya pencegahan melalui restorasi ekosistem. Dengan kata lain, konservasi mangrove merupakan bentuk investasi defensif yang memberikan manfaat ekonomi jangka panjang.

2. Integrasi ESG ke dalam Kurikulum Teknik

Dalam satu dekade terakhir, konsep Environmental, Social, and Governance (ESG) telah berkembang dari sekadar tren menjadi standar global. Perusahaan-perusahaan multinasional kini menjadikan kepatuhan ESG sebagai indikator utama dalam investasi dan pengelolaan bisnis.

Perubahan ini turut memengaruhi dunia pendidikan teknik. Lembaga akreditasi internasional semakin menekankan pentingnya pendidikan keberlanjutan dalam kurikulum rekayasa.

Teknik Konstruksi Perkapalan UMG tampaknya memahami perubahan tersebut dengan sangat baik. Kegiatan di Kalimireng menjadi sarana pembelajaran nyata bagi mahasiswa untuk memahami hubungan antara teknologi maritim dan keberlanjutan lingkungan.

Mahasiswa tidak hanya mempelajari cara merancang kapal yang kuat dan efisien, tetapi juga memahami bagaimana aktivitas maritim memengaruhi ekosistem pesisir. Mereka belajar bahwa keberhasilan pembangunan maritim tidak hanya diukur dari kapasitas pelabuhan atau jumlah kapal yang dibangun, tetapi juga dari kemampuan menjaga keseimbangan ekologis. Melalui pendekatan ini, UMG sedang mempersiapkan lulusan yang mampu menjawab kebutuhan industri global yang semakin berorientasi pada prinsip ESG.

3. Kalimireng sebagai Living Laboratory kedua Teknik Kontruksi Perkapalan, setelah Pakelingan 

Salah satu tantangan terbesar perguruan tinggi adalah memastikan bahwa penelitian yang dilakukan memiliki relevansi terhadap persoalan nyata masyarakat.

Kawasan Kalimireng menawarkan peluang luar biasa sebagai laboratorium alam atau living laboratory. Berbeda dengan laboratorium tertutup yang memiliki kondisi terkendali, Kalimireng menyediakan data nyata yang sangat berharga untuk penelitian multidisiplin. Mahasiswa dan dosen dapat melakukan pengukuran mengenai pengaruh akar mangrove terhadap pola sedimentasi, karakteristik arus, distribusi gelombang, stabilitas garis pantai, hingga kapasitas penyimpanan karbon biru (blue carbon).

Penelitian mengenai ekosistem mangrove di wilayah Gresik menunjukkan adanya keragaman spesies yang cukup tinggi dengan karakteristik lingkungan yang kompleks. Kondisi ini memberikan peluang besar bagi pengembangan riset hidrodinamika, rekayasa pantai, konservasi pesisir, dan teknologi mitigasi perubahan iklim.

Data yang dihasilkan dari kawasan ini berpotensi menjadi sumber publikasi ilmiah bereputasi internasional, meningkatkan indeks sitasi universitas, serta membuka peluang memperoleh hibah penelitian nasional maupun internasional.

Dengan demikian, kegiatan penanaman mangrove bukan hanya menghasilkan manfaat ekologis, tetapi juga menciptakan nilai tambah akademik yang sangat besar.selain membangun beberapa *sarana bangunan apung*  yang menunjang masyarakat.

4. Efisiensi melalui Kolaborasi Pentahelix

Keberhasilan sebuah proyek pembangunan sering kali ditentukan oleh kemampuan mengelola sumber daya secara efisien. Dalam konteks ini, kegiatan Kalimireng menunjukkan implementasi nyata model kolaborasi pentahelix yang melibatkan akademisi, pemerintah, industri, komunitas, dan organisasi profesi.

“Teknik Kontruksi Perkapalan beserta PII Gresik” berperan sebagai penghubung berbagai pemangku kepentingan. Industri menyediakan dukungan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), pemerintah memberikan dukungan regulasi dan data teknis, masyarakat berkontribusi sebagai pelaksana lapangan, sedangkan perguruan tinggi menyediakan keahlian ilmiah dan teknis.

Model seperti ini memungkinkan distribusi biaya, risiko, dan manfaat secara lebih merata. Tidak ada satu pihak yang menanggung seluruh beban kegiatan, tetapi seluruh pihak memperoleh manfaat sesuai kepentingannya masing-masing.

Dalam perspektif manajemen proyek modern, pendekatan ini merupakan contoh nyata efisiensi sumber daya yang patut direplikasi di berbagai daerah pesisir Indonesia.

5. Rekayasa Ekologis untuk Menjamin ROI Lingkungan

Banyak program rehabilitasi mangrove di Indonesia gagal karena dilakukan tanpa pendekatan ilmiah yang memadai. Penanaman sering dilakukan pada lokasi yang tidak sesuai dengan karakteristik ekologis mangrove sehingga tingkat kematian bibit sangat tinggi.

Di sinilah keunggulan keterlibatan tenaga ahli teknik perkapalan dan kelautan. Pendekatan yang digunakan tidak sekadar menanam, tetapi menerapkan prinsip ecological engineering atau rekayasa ekologis.

Faktor-faktor seperti elevasi lahan, karakteristik sedimen, salinitas, pola pasang surut, dan kecepatan arus dianalisis sebelum penanaman dilakukan. Pendekatan berbasis data tersebut meningkatkan peluang keberhasilan rehabilitasi secara signifikan.

Dari sudut pandang ekonomi, keberhasilan hidup bibit mencerminkan Return on Investment (ROI) lingkungan yang tinggi. Setiap dana yang dikeluarkan menghasilkan manfaat nyata berupa perlindungan pantai, peningkatan biodiversitas, penyimpanan karbon, dan peningkatan produktivitas perikanan.

Penelitian mengenai karbon biru menunjukkan bahwa ekosistem mangrove mampu menyimpan karbon beberapa kali lebih besar dibandingkan hutan daratan. Oleh karena itu, keberhasilan rehabilitasi mangrove juga berkontribusi terhadap target mitigasi perubahan iklim nasional.

6. Menyiapkan Talenta Blue Economy

Dunia maritim sedang mengalami transformasi besar menuju ekonomi biru atau blue economy. Pelabuhan hijau (green port), galangan kapal hijau (green shipyard), dan teknologi maritim rendah emisi kini menjadi standar baru dalam industri global.

Perusahaan tidak lagi hanya mencari lulusan yang memiliki kemampuan teknis tinggi, tetapi juga individu yang memahami keberlanjutan dan tata kelola lingkungan.

Melalui keterlibatan langsung dalam rehabilitasi pesisir, mahasiswa Teknik Konstruksi Perkapalan UMG memperoleh pengalaman yang tidak dapat diperoleh hanya dari ruang kelas. 

Mereka memahami hubungan antara aktivitas pelayaran, kesehatan ekosistem pesisir, perubahan iklim, dan pembangunan ekonomi. Pengalaman tersebut membentuk generasi insinyur yang memiliki perspektif lebih luas dan siap memimpin transformasi industri maritim Indonesia menuju era ekonomi biru.

Dalam jangka panjang, langkah ini merupakan investasi sumber daya manusia yang sangat strategis bagi daerah maupun bangsa.

7. Penguatan Modal Reputasi Institusi

Dalam era ekonomi berbasis pengetahuan, reputasi merupakan aset yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi. Perguruan tinggi tidak lagi bersaing hanya melalui fasilitas pendidikan atau jumlah program studi, tetapi juga melalui kontribusinya terhadap penyelesaian masalah masyarakat.

Keterlibatan aktif Teknik Konstruksi Perkapalan UMG dalam rehabilitasi mangrove memberikan pesan kuat bahwa institusi ini tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menghadirkan solusi nyata terhadap tantangan pembangunan pesisir.

Reputasi sebagai kampus yang peduli lingkungan dan berorientasi pada keberlanjutan akan meningkatkan daya tarik bagi calon mahasiswa, mitra industri, investor, serta lembaga pendanaan penelitian. Bagi Teknik kontruksi Perkapalan UMG dan PII Gresik, keberhasilan menginisiasi kolaborasi ini juga memperkuat posisi organisasi sebagai katalisator pembangunan daerah yang mampu menjembatani kepentingan profesi, industri, dan masyarakat.

Melampaui Eksploitasi Menuju Simbiosis Maritim

Apa yang dilakukan oleh Teknik Konstruksi Perkapalan UMG bersama PII Gresik di Kalimireng sesungguhnya merupakan sebuah blueprint pembangunan maritim berkelanjutan yang layak dijadikan contoh nasional. Mereka berhasil membuktikan bahwa konservasi lingkungan tidak harus dipandang sebagai beban biaya atau cost center. 

Sebaliknya, konservasi dapat menjadi investasi strategis yang menghasilkan manfaat ekonomi, sosial, dan ekologis secara simultan. Di tengah derasnya arus hilirisasi industri, Gresik menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan tidak harus saling bertentangan. Dengan pendekatan rekayasa yang tepat, galangan kapal yang modern dapat berdiri berdampingan dengan hutan mangrove yang sehat. Pelabuhan yang produktif dapat berkembang tanpa mengorbankan keberlanjutan pesisir.

J⁶ika model sinergi seperti yang diterapkan di Kalimireng dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia, maka manfaat yang diperoleh tidak hanya berupa perlindungan garis pantai atau peningkatan tutupan mangrove. Lebih jauh lagi, Indonesia akan memiliki fondasi ekonomi maritim yang tangguh, berkelanjutan, dan mampu bersaing di tingkat global.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah bangsa maritim bukanlah seberapa besar kapal yang mampu dibangun atau seberapa luas pelabuhan yang dimiliki. Ukuran sejatinya adalah kemampuan menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kelestarian alam. Sinergi biru di Kalimireng telah menunjukkan bahwa insinyur Indonesia tidak hanya mampu membangun kapal untuk mengarungi samudra, tetapi juga mampu merancang masa depan pesisir yang lebih hijau, tangguh, dan berkelanjutan bagi generasi yang akan datang.

* Ali Yusa , Wakil Ketua PII Cab. Gresik – Dewan Pakar IKA ITS Jawa Timur

Menjembatani Pertumbuhan Industri dan Kelestarian Pesisir “Strategi Bisnis dan Ekologis Teknik Konstruksi Perkapalan UMG di Era Hilirisasi” Selengkapnya

Aktivis PMII Atas Langit Daruttaqwa, Ketua DPRD Gresik Bersihkan Enceng Gondok yang Sumbat Saluran Irigasi

GRESIK,1minute.id – Puluhan aktivitas mahasiswa dari Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Atas Langit (AL) Daruttaqwa Gresik melakukan aksi bersih-bersih enceng gondok saluran irigasi di Desa Tebalo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik pada Sabtu, 22 Mei 2026.

Aksi peduli lingkungan ini diikuti oleh Ketua DPRD Gresik Muhammad Syahrul Munir, Camat Manyar Hendriawan Susilo, perangkat desa dan masyarakat setempat. Serta, TNI dan peserta Pelatihan Kader Dasar (PKD) ke-5  PK PMII Atas Langit Daruttaqwa Gresik. Sejak pukul 06.00 WIB peserta bersih-bersih enceng gondok sudah berkumpul di lokasi. 

Saat itu permukaan air di saluran Irigasi hanya tampak enceng gondok. Menjelang Duhur saluran irigasi sudah bersih. Enceng gondok kemudian diangkut menggunakan truk milik Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik. 

Ketua Pengurus Komisariat (PK) PMII Atas Langit Daruttaqwa Gresik M. Hadi Khoirur Roziqin mengatakan, aksi bersih-bersih saluran irigasi ini bukan sekadar agenda kerja bakti biasa. Tetapi juga manifestasi dari teologi lingkungan yang menuntut kader tidak hanya cakap berwacana di ruang diskusi, namun juga peka dan hadir memberikan solusi nyata atas problem ekologis di akar rumput.

‎”Memegang teguh salah satu pilar nilai dasar pergerakan yakni menjaga hubungan harmonis dengan alam (hablum minal ‘alam), kami bersama puluhan kader PMII Atas Langit Daruttaqwa mengajak peserta Pelatihan Kader Dasar Ke-5 turun langsung ke masyarakat menggelar aksi bersih-bersih saluran irigasi pertanian di Desa Tebalo,” kata Hadi pada Sabtu, 22 Mei 2026.

Selain bertujuan untuk memastikan kelancaran distribusi air terutama saat musim penghujan. Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memberikan edukasi kepada warga tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah terjadinya bencana alam seperti banjir.

“Harapan kami aksi bersih-bersih saluran irigasi ini dapat menjadi edukasi bagi masyarakat untuk senantiasa menjaga lingkungan dan kebersihan. Agar kita semua bisa hidup sehat dan terhindar dari bencana alam,” jelasnya.

Sementara Ketua DPRD Gresik Muhammad Syahrul Munir menyampaikan apresiasi kepada kader-kader PMII Atas Langit Daruttaqwa yang telah menginisiasi gerakan peduli lingkungan khususnya aksi bersih-bersih eceng gondok di saluran irigasi Desa Tebalo, Kecamatan Manyar.

“Aksi bersih-bersih ini termasuk kritik yang membangun untuk pemerintahan di Kabupaten Gresik, saya berharap pandangan-pandangan terhadap kelestarian dan kebersihan lingkungan seperti ini tidak berhenti dan akan terus berlanjut,” ujar Syahrul.

Politisi muda itu menilai, kebersihan lingkungan merupakan tanggungjawab bersama. Tanpa perhatian dan peran aktif semua pihak, kelestarian lingkungan dan keberlangsungan ekosistem perairan sulit tercapai. “Kebersihan lingkungan bukan tanggung jawab petugas kebersihan, melainkan tanggung jawab kita sebagai makhluk produsen dan konsumen,” terangnya.

Sedangkan Camat Manyar Hendriawan Susilo menilai gerakan peduli lingkungan yang digagas kader-kader PMII Atas Langit ini merupakan solusi konkret untuk menyelesaikan sebuah permasalahan irigasi khususnya di Desa Tebalo, Kecamatan Manyar.

‎”Ini sebuah gerakan positif yang mendorong kita untuk peduli pada lingkungan, aksi ini bukan hanya sekedar kritikan biasa akan tetapi memberikan sebuah solusi konkret untuk menyelesaikan sebuah permasalahan irigasi di wilayah Kecamatan Manyar. Saya mendukung untuk kegiatan yang dilakukan oleh PK PMII Atas Langit Daruttaqwa pada kegiatan Pelatihan Kader Dasar ke-5 ini,” jelasnya.

Ketua Umum Pengurus Cabang PMII Gresik M. Dafa Abie Almadhani berharap gerakan peduli lingkungan ini menjadi budaya bersama, Sehingga ekosistem lingkungan termasuk kebersihan saluran irigasi tetap terjaga dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang.

“Kami gerakan peduli lingkungan ini menjadi budaya bersama, terutama di tengah meningkatnya persoalan ekologis di daerah industri seperti di Kabupaten Gresik,” pungkasnya. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Aktivis PMII Atas Langit Daruttaqwa, Ketua DPRD Gresik Bersihkan Enceng Gondok yang Sumbat Saluran Irigasi Selengkapnya

Rusa Bawean yang Terancam Punah Jadi Perhatian Internasional, Dua NGO Lakukan Kegiatan Kampanye Penyelamatan Rusa Bawean

YAYASAN Alam Biodiversitas Indonesia (ABI) bersama Association for Nature and Biodiversity (ANB) merupakan Non-Governmental Organization (NGO) yang berbasis di Jerman pada 30 Maret 2026 hingga 19 April 2026 hadir di Pulau Bawean untuk melakukan kampanye terkait sosialisai Rusa Bawean yang terancam punah. 

Berikut oleh-oleh wartawan 1minute.id GUSLAN GUMILANG yang ikut dalam misi sosialisasi penyelamatan Rusa Bawean  (Axis kuhlii) dari ancaman kepunahan.


RUSA Bawean (Axis kuhlii) merupakan spesies endemik yang hanya ditemukan di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Spesies ini dikategorikan dengan status terancam punah (Critically Endangered) oleh International Union for Conversation of Nature (IUCN) pada 2015 dan dilindungi oleh peraturan perundang-undangan Indonesia. 

Penelitian terbaru pada 2025 menggunakan kamera jebak menunjukan bahwa populasi Rusa Bawan yang tersisa diperkirakan kurang dari 250 individu dewasa, data tersebut diperbarui oleh peneliti Indonesia Agus Ariyanto yang merupakan bagian dari studi disertasi S3 di Kyungpook National Universtiy, Korea Selatan. 

Bahkan, tercatat spesies ini telah mengalami kepunahan lokal di bagian timur Pulau Bawean. Ancaman utama meliputi perburuan, gangguan anjing liar atau anjing peliharaan yang dilepasliarkan, serta tekanan dan degradasi habitat.

Dr. Frank Drygala, peneliti senior sekaligus Vice President dari Association for Nature and Biodiversity (ANB) Jerman ikut memberikan materi kepada ratusan siswa. (Foto : Guslan Gumilang/1minute.id)

Yayasan Alam Biodiversitas Indonesia (ABI) bersama Association for Nature and Biodiversity (ANB) merupakan NGO (Non-Governmental Organization) yang berbasis di Jerman pada 30 Maret 2026 hingga 19 April 2026 hadir di Pulau Bawean untuk melakukan kampanye terkait sosialisai Rusa Bawean yang terancam punah.

Selama 20 hari berada di Pulau Putri, sebutan lain, Pulau Bawean, dua NGO itu melakukan beberapa kegiatan sosialisasi. Diantaranya, memasang reklame berukuran 2×3 meter di sejumlah titik vital keramaian tempat berkumpulnya masyarakat, seperti Alun-alun Sangkapura, Pelabuhan Sangkapura, jalan utama serta beberapa desa yang masuk pada area konfilk satwa dan manusiannya sering terjadi. 

Publikasi melalui media reklame tersebut berlangsung selama satu tahun dimulai pada 1 April 2026 s.d 1 April 2027. Reklame ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga habitat serta mendukung upaya perlindungan Rusa Bawean sebagai satwa endemik yang dilindungi dan juga menjadi maskot kebanggaan warga Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik ini.

Selain reklame berukuran besar kegiatan ABI, ANB mendapat dukungan dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, diwakili oleh Resort Konservasi Wilayah (RKW) 10 Bawean yakni melakukan sosialisasi langsung ke pedalaman desa yang terlibat konflik satwa dengan manusianya tinggi. Diantaranya Desa Pudakit Barat, Pudakit Timur, Suwari, Kumalasa serta dusun-dusun kecilnya. Semuanya berada di Kecamatan Sangkapura. 

Pulau Bawean adalah pulau terluar di Kabupaten Gresik. Pulau seluas kurang lebih 200 kilometer persegi di Laut Jawa ini terbagi dua Kecamatan yakni Sangkapura dan Tambak. Perjalanan menuju Pulau Bawean ini bisa ditempuh dengan moda transportasi laut dan pesawat terbang. Moda laut menggunakan kapal cepat membutuhkan waktu 3-4 jam. Menggunakan kapal Roll on-Roll off (Ro-Ro) selama 9-11 jam. Sedangkan, perjalanan pesawat terbang waktu tempuh 45 menit dari Bandara International Juanda, Sidoarjo- Bandara Harun Thohir, Bawean.

Kegiatan mambagikan brosur dengan materi informasi terhadap penyelamatan rusa serta berbincang langsung dengan masyarakat dinilai lebih efktif. Adapula kegiatan sosialisasi tersebut dilakukan ke Sekolah Dasar. Antara lain, UPT SD Negeri 338 Gresik di Desa Kumalasa, Kecamatan Sangakapura menjadi sekolah yang disinggahi untuk sosialisai ini. 

Ketua Pengawas Yayasan ABI Guslan Gumilang menjadi salah satu narasumber yang didampingi oleh Nurhayyan Jahansyah, anggota BBKSDA Jawa Timur menjelaskan tentang populasi Rusa dan beberapa satwa endemik lainnya, serta yang tak kalah menarik menjadi perhatian khusus para murid adalah dengan hadirnya WNA Jerman Dr. Frank Drygala, peneliti senior sekaligus Vice President dari Association for Nature and Biodiversity (ANB) ikut memberikan materi kepada ratusan siswa.

Nurhayyan menyampaikan bahwa kegiatan kolaborasi ini tidak hanya mengingatkan terancamnya satwa endemik jenis rusa saja, masih banyak jenis lain yang endemik dan dilindungi. Banyak tugas yang harus dilakukan agar populasi satwa khususnya di Bawean harus lebih diperhatikan agar tidak punah. “Penanaman sejak dini tentang kepedulian terhadap satwa khususnya Rusa Bawean adalah hal penting mengingat semakin sedikitnya satwa endemik yang terus berkurang jika tidak diawasi,” kata Nurhayyan.

SOSIALISASI penyelamatan Rusa Bawean di UPT SD Negeri 338 Gresik, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik (FOTO : Guslan Gumilang/1minute.id)

Kepala UPT SD Negeri 338 Gresik Nur’ain mengaku senang dengan kegiatan terebut. “Keberadaan Rusa Bawean kita titipkan kepada generasi muda sebagai pertanggungjawaban bahwa satwa endemik kebanggan Pulau Bawean tidak boleh punah. Kegiatan seperti ini harus sering dilakukan di sekolah-sekolah yang ada di Bawean,” harap Nur’ain.

Kegiatan yang diinisiasi Yayasan Alam Biodiversitas Indonesia (ABI) masih merupakan langkah kecil yang bekelanjutan dan tidak berhenti pada kegiatan kampanye ini, masih ada program lainnya kedepan nanti. 

“Tahun ini kami fokus di Pulau Bawean untuk satwa rusa. Kondisi rusa Bawean menjadi perhatian internasional. Kami juga dibantu tim dari Jerman untuk melakukan kegiatan ini. Kita harus bergerak bersama demi keberlangsungan satwa kebanggan Indonesia ini khususnya Kabupaten Gresik Pulau Bawean,’ ucap Guslan.

Perlu diketahui bahwa Rusa Bawean pernah menjadi maskot even internasional olahraga Asian Games 2018 bersama dua satwa endemik Indionesia lainya yakni Burung Cendrawasih dan Badak Bercula Satu dan baru-baru ini, Rusa Bawean menjadi logo HUT ke-539 Kota Gresik yang diperingati setiap 9 Maret itu. (gus/yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Rusa Bawean yang Terancam Punah Jadi Perhatian Internasional, Dua NGO Lakukan Kegiatan Kampanye Penyelamatan Rusa Bawean Selengkapnya

Percepatan Zero Waste Energy 2026, Pemkab Gresik Siap Kolaborasi PSEL Aglomerasi Surabaya Raya

GRESIK,1minute.id – Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menerima kunjungan kerja Bupati Lamongan Yuhronur Efendi beserta rombongan untuk meninjau Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Ngipik pada Selasa, 7 April 2026.

Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya Pemkab Gresik Lamongan  untuk berkolaborasi dalam pengelolaan sampah berbasis Waste to Energy (WtE) atau sampah menjadi energi listrik.

Perlu diketahui, dua Kabupaten di Jawa Timur ini menjadi bagian dari 10 daerah yang ditunjuk Presiden RI Prabowo Subianto untuk berpartisipasi mensukseskan program Kementerian LH dalam mempercepat penanganan sampah dan mencapai Zero Waste Energy. Yakni melalui Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) aglomerasi Surabaya Raya pada 2026.

Bupati Lamongan Yuhronur Efendi didampingi Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani langsung njujug ke proses landfill mining, teknologi yang menjadi andalan TPA Ngipik dalam mereduksi sampah. Yuhronur Efendi memberikan apresiasi yang tinggi kepada Pemkab Gresik beserta seluruh jajaran Dinas Lingkungan Hidup terkait keberhasilannya dalam mengelola sampah secara modern dan efektif.

“Saya mengapresiasi Pemkab Gresik atas langkah-langkah dalam pengelolaan pemusnahan sampah yang dilakukan secara modern. Kami akan belajar banyak dari tempat ini terutama kelebihan dari landfill mining yang belum kita laksanakan,” ujarnya.

Ia menambahkan, selain itu ada juga pembakaran RDF serta ada produk-produk inovatif yang terbaru. Seperti sisa-sisa makanan MBG yang dibuat beberapa varian produk makanan ternak, makanan burung ataupun makanan ikan. Tentu ini menjadi inspirasi untuk bagi Pemkab Lamongan dalam pengembangan TPA.

“Untuk menyelesaikan problem masalah sampah baik di Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Gresik nanti kita akan membuat kerja sama atau MoU. Pengelolaan sampah merupakan gerakan bersama demi masa depan lingkungan yang lebih baik,” tandasnya.

Di tempat sama, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menyampaikan, bahwa Pemerintah Kabupaten Gresik siap berkolaborasi dalam upaya penanganan sampah secara berkelanjutan melalui pemanfaatan teknologi modern. Kerja sama PSEL di kawasan Surabaya Raya melibatkan Kota Surabaya, Kabupaten Gresik, Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Lamongan.

“Ke depan kolaborasi penanganan sampah atau TPST terintegrasi sesuai petunjuk Presiden yang ditujukan kepada Kabupaten Gresik dan Kabupaten Lamongan untuk mendukung program Kementerian LH yaitu pengolahan sampah menjadi energi listrik,” ujarnya.

Dikatakan, dalam skema kerja sama tersebut, sampah yang telah diolah menjadi energi listrik nantinya akan dibeli oleh PLN sebagai bagian dari program nasional pengembangan energi baru terbarukan. “Untuk Kabupaten Gresik, potensi sampah yang akan dikirim ke lokasi PSEL mencapai sekitar 250 ton per hari. Kemudian untuk Kabupaten Lamongan 100 ton per hari,” jelasnya.

Ia menambahkan, melalui kolaborasi lintas pemerintah ini, diharapkan pengelolaan sampah dapat berjalan lebih efektif sekaligus mendorong terwujudnya lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. “Setelah ini kami juga akan berkunjung ke Kabupaten Lamongan untuk mencari titik pertemuan TPST Kabupaten Gresik dan Lamongan. Mudah-mudahan langkah baik ini segera terealisasi,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik Sri Subaidah, menegaskan dukungan penuh terhadap pelaksanaan program nasional tersebut. Ia menilai kolaborasi antar daerah menjadi kunci terwujudnya sistem pengelolaan sampah yang modern dan terintegrasi.

Ia menjelaskan, capaian pengelolaan sampah di Provinsi Jawa Timur saat ini telah mencapai 52,7 persen, tertinggi secara nasional. Capaian tersebut menjadi motivasi bagi Kabupaten Gresik untuk terus meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungan.

“Melalui kolaborasi lintas pemerintah ini, diharapkan pengelolaan sampah dapat berjalan lebih efektif sekaligus mendorong terwujudnya lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan,” pungkasnya. (*)

Editor  : Chusnul Cahyadi 

Percepatan Zero Waste Energy 2026, Pemkab Gresik Siap Kolaborasi PSEL Aglomerasi Surabaya Raya Selengkapnya

Komitmen SIG dalam Konservasi Warisan Arkeologi Dunia Bulu Sipong 4, Indeks Keanekaragaman Hayati Meningkat

GRESIK,1minute.id – Leang (Gua) Bulu Sipong 4 di Bukit Bulu Sipong menjadi saksi peradaban, di mana terdapat seni cadas tertua di dunia berusia sekitar 44.000 tahun bergambar adegan perburuan binatang oleh manusia pada era prasejarah. Keberadaan Bulu Sipong 4 tersebut menjadi bukti komitmen PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) dan PT Semen Tonasa, dalam melindungi kelestarian warisan budaya dunia dan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan.

Cagar budaya Bulu Sipong 4 berada di lahan tambang tanah liat PT Semen Tonasa, tepatnya di Kelurahan Bontoa, Kecamatan Minasatene, Pangkep, Sulawesi Selatan. Dikutip dari buku Cultural Heritage Management Plan oleh PT Semen Tonasa, Bulu Sipong 4 merupakan salah satu gua prasejarah di Bukit Bulu Sipong yang pertama kali ditemukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Makassar pada 2016. 

Penemuan ini lalu dilanjutkan dengan penelitian berupa pengambilan sampel pertanggalan pada gambar cadas dan kemudian ditindaklanjuti dengan perjanjian kerja sama antara PT Semen Tonasa dan Dirjen Kebudayaan dalam rangka perlindungan gua prasejarah tersebut.

Atas rekomendasi SIG sebagai induk perusahaan, PT Semen Tonasa bergerak cepat menetapkan kawasan Bulu Sipong seluas 31,64 hektare atau 11,3% dari total lahan tambang seluas 280 hektare sebagai kawasan konservasi. Tepatnya pada 18 Mei 2018, PT Semen Tonasa meresmikan Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) dan Geopark Bulu Sipong guna melindungi keanekaragaman hayati di sekitar area tambang serta kawasan Geopark dan Purbakala. 

Bulu Sipong 4 sebagai salah satu geosite di Geopark Maros Pangkep kemudian resmi masuk dalam daftar UNESCO Global Geopark berdasarkan keputusan Sidang Dewan Eksekutif UNESCO ke-216 di Paris, Prancis pada 2023.

Corporate Secretary SIG Vita Mahreyni mengatakan, penetapan kawasan Bulu Sipong sebagai kawasan konservasi menjadi bukti komitmen SIG dan PT Semen Tonasa terhadap pembangunan berkelanjutan yang menyeimbangkan industri dengan lingkungan dan nilai budaya. Bulu Sipong diharapkan menjadi sarana edukasi dan membantu mempromosikan sejarah dan budaya peradaban kepada masyarakat luas.

”Perusahaan juga berkolaborasi dengan LPPM Universitas Hasanuddin dalam merilis Cultural Heritage Management Plan atas situs prasejarah Bulu Sipong 4. Dokumen tersebut berfungsi sebagai panduan pengelolaan warisan budaya yang dimiliki oleh Perusahaan, termasuk Bulu Sipong yang merupakan situs cagar budaya, sehingga dapat dikelola dengan baik secara berkelanjutan untuk mempertahankan nilai-nilai budaya yang ada,” kata Vita Mahreyni.

Selain itu, dalam pengelolaan Bulu Sipong, PT Semen Tonasa bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIX, antara lain untuk pemantauan getaran dan udara ambien secara berkala, pengecoran jalan sepanjang 1.800 meter dan penyiraman jalan tambang secara berkala untuk mengurangi debu.

Perusahaan juga mengedukasi karyawan dan masyarakat sekitar tentang pentingnya pelestarian situs prasejarah, memasang rambu dan pembatasan akses dengan pemasangan pagar sepanjang 1.900 meter, serta revegetasi di kawasan konservasi.

Habitat Alami Bagi Beragam Flora dan Fauna

Selain seni cadas purbakala, Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong juga menjadi habitat bagi beragam jenis flora dan fauna dengan Indeks Kehati yang terus meningkat. Hingga 2025, terdapat 25 jenis flora dengan total jumlah tanaman sebanyak 2.898 pohon, di antaranya eboni (diospyros celebica), kayu kuku (pericopsis mooniana), dan bitti (vitex cofassus) yang merupakan tanaman endemik lokal.

Selain flora, Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong juga menjadi habitat alami bagi 41 jenis satwa liar yang terdiri dari 37 jenis burung, 2 jenis primata, serta 1 unggas dan 1 reptil. Adapun total jumlah satwa yang berhasil terpantau hingga 2025 sebanyak 869 ekor, termasuk monyet dare (macaca maura) dan tarsius yang merupakan primata endemik lokal yang dilindungi.

Vita Mahreyni menambahkan, Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong menjadi pelindung bagi keanekaragaman hayati yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem alam. Pada 2025, Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong mencatatkan nilai Indeks Kehati Flora sebesar 1,54, atau naik dari periode 2020 sebesar 1,38. Indeks Kehati Fauna juga tercatat naik menjadi 2,85 dari sebelumnya 2,51 pada 2020.

”Kenaikan nilai Indeks Kehati Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong menunjukkan lingkungan kawasan Bulu Sipong yang semakin asri dan menjadi benteng pelindung bagi kelestarian keanekaragaman hayati dan warisan arkeologi di dalamnya. Atas inisiatif strategis ini, SIG dan PT Semen Tonasa mendapat apresiasi dan kehormatan sebagai narasumber pada forum internasional SPAFA International Conference on Southeast Asian Archaeology and Fine Arts (SPAFACON) 2024 dan Indonesia Geopark Leader Forum 2025 untuk memaparkan program perlindungan situs Bulu Sipong serta program perlindungan Kehati,” ujar Vita Mahreyni. (*)

Editor  : Chusnul Cahyadi 

Komitmen SIG dalam Konservasi Warisan Arkeologi Dunia Bulu Sipong 4, Indeks Keanekaragaman Hayati Meningkat Selengkapnya

Gresik Menuju Kabupaten Bersih di Indonesia, Bupati Gresik Berikan Apresiasi pada Petugas Kebersihan

GRESIK,1minute.id – Kabupaten Gresik kembali menorehkan prestasi dengan meraih Penghargaan Kinerja Pengelolaan Sampah – Sertifikat menuju Kabupaten Bersih 2025. Penghargaan itu diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.

Penghargaan Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih itu diterima langsung oleh Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani di Jakarta. Kepulangan orang nomor satu di Kota Santri, sebutan lain, Kabupaten Gresik disambut meriah pada Jumat, 27 Februari 2026.

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani bersama Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif serta Forkopimda diarak keliling kota dengan becak listrik, mobil listrik karya siswa SMK PGRI 1 Gresik serta kendaraan lainnya. 

Meriah : Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani (kiri) dan Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif (kanan) mendapatkan sambutan meriah dari masyarakat dan pelajar dalam Kirab Adipura, Penghargaan Kinerja Pengelolaan Sampah Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih pada Jumat, 27 Februari 2026 ( Foto: Chusnul Cahyadi/1minute.id)

Rute arak-arakan sepanjang 5 kilometer mulai dari Stadion Gelora Joko Samudro (G-JOS) jalan Veteran – Jalan Panglima Sudirman dan finish di Gedung Wahana Ekspresi Poesponegoro (WEP) Jalan Jaksa Agung Suprapto. Sepanjang rute tersebut ribu pasang mata berjajar di pinggir jalan menyambut Kirab Adipura. 

Penghargaan bidang lingkungan itu menjadi kado istimewa bagi masyarakat Gresik yang sedang merayakan HUT ke-52 Pemkab Gresik dan Hari Jadi ke-539 Kota Gresik. HUT Pemkab diperingati setiap 27 Februari sedangkan Hari Jadi Kota Gresik diperingati setiap 9 Maret. 

“Ini bukan sekadar penghargaan. Ini adalah pengingat bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari lingkungan masing-masing. TPA sudah kita benahi, formatnya sudah ada. Sekarang kita mulai dari sekolah, minimal 30 menit sebelum masuk kelas untuk bersih-bersih lingkungan,” ujar Gus Yani, sapaan akrab, Fandi Akhmad Yani pada Jumat, 27 Februari 2026.

Ia menegaskan, persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah daerah, melainkan semua elemen. Misalnya, lembaga pendidikan didorong menjadi pusat edukasi pengolahan sampah, masyarakat diminta aktif memilah sampah dari rumah, dan perusahaan diajak turut mendukung

Dalam sektor perizinan perumahan, ia melanjutkan, Pemkab Gresik juga akan mewajibkan penyediaan tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R).

Ia meminta kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik untuk mulai masuk ke pesantren. “Pengelolaan sampah di lingkungan pesantren mulai dianggarkan agar sampah dapat dipilah disana,” harap Magister Mitigasi Bencana Unair Surabaya ini. 

Ia mencontohkan Desa Randuboto, Kecamatan Sidayu yang dinilai berhasil dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat, termasuk gerakan satu rumah satu biopori. Desa tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi desa lain. Hal serupa juga dilakukan Kelurahan Sukorame, Kecamatan Gresik melalui program kampung proklim. 

“Kedua desa dan kelurahan itu jadi percontohan, dan hari ini kami beri kado dan mendapat bantuan motor pengangkut sampah roda tiga,” ungkapnya.

Kabupaten Gresik, satu dari 35 kabupaten/kota di Indonesia yang berhasil meraih Penghargaan Kinerja Pengelolaan Sampah Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih dari Kementerian Lingkungan Hidup. Capaian ini menempatkan Gresik dalam jajaran daerah yang dinilai berhasil membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

APRESIASI PETUGAS KEBERSIHAN: Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Gresik Sri Subaidah mendampingi seorang petugas kebersihan mengangkat Penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dalam Kirab Adipura di WEP Gresik pada Jumat, 27 Februari 2026 ( Foto: Chusnul Cahyadi/1minute.id)

Ia menjelaskan bahwa salah satu alasan utama Gresik memperoleh penghargaan adalah keberhasilan mengelola sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF), yakni energi terbarukan pengganti fosil batu bara yang disinergikan dengan PT Semen Indonesia sebagai off taker. Skema ini menjadikan sampah sebagai sumber daya sekaligus mendukung transisi energi yang lebih ramah lingkungan.

Selain itu, ia juga menegaskan bahwa penghargaan tersebut merupakan hasil kolaborasi seluruh elemen, terutama dedikasi para petugas kebersihan dan pertamanan yang ada lapangan. “Hari ini kita tidak sekadar membawa penghargaan. Kita membawa penghormatan untuk panjenengan semua yang setiap hari memastikan Gresik tetap bersih,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik, Sri Subaidah, menuturkan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat. “Ini bukan hanya keberhasilan DLH, tetapi hasil kolaborasi pemerintah dan masyarakat,” katanya.

Dia menjelaskan, penghargaan tahun ini diraih melalui proses penilaian ketat. Dari 420 kabupaten/kota se-Indonesia yang dinilai, tidak ada satu pun daerah yang meraih predikat Pengelolaan Sangat Bersih maupun Pengelolaan Bersih.

“Hanya 35 daerah secara nasional yang meraih predikat Kabupaten/Kota Bersertifikat atau Menuju Kabupaten/Kota Bersih, dan Kabupaten Gresik menjadi salah satunya,” jelas Sri. (*)

Editor  : Chusnul Cahyadi

Gresik Menuju Kabupaten Bersih di Indonesia, Bupati Gresik Berikan Apresiasi pada Petugas Kebersihan Selengkapnya