Tim Gress One U-13 dan U-15 Laga di Piala Soeratin, Bupati Gresik: Tidak ada Atlet Sukses secara Instan

GRESIK1minute.id – Dua tim sepak bola Kabupaten Gresik, Gress One U-13 dan U-15 bakal berlaga di Piala Soeratin di Kabupaten Jember. Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani melepas talenta-talenta muda hasil seleksi kompetisi antardesa maupun kelompok umur itu di kantor Bupati Gresik pada Selasa, 1 September 2026. Mereka akan mengawali laga perdana pada Rabu besok, 2 September 2026.

Bupati Fandi Akhmad Yani mengatakan keikutsertaan para pemain muda Gresik di Piala Soeratin merupakan capaian yang patut diapresiasi. Mereka tidak hanya mendapatkan kesempatan berkompetisi, tetapi juga pengalaman untuk membangun mental dan karakter sebagai atlet.

“Kalian sudah sangat membanggakan. Bisa mengikuti Piala Soeratin dan mewakili Kabupaten Gresik di tingkat Jawa Timur saja sudah merupakan sesuatu yang membanggakan,” ujar Gus Yani, sapaan akrab, Fandi Akhmad Yani. 

Dengan kompetisi yang berlangsung sekitar satu pekan dan jadwal pertandingan setiap dua hari sekali, mantan Ketua DPRD Gresik itu, meminta para pemain menjaga kondisi fisik dan disiplin selama berada di Jember. Istirahat yang cukup, asupan makanan yang terjaga, serta kepatuhan terhadap arahan pelatih dan manajemen menjadi bagian penting untuk menghadapi padatnya pertandingan.

Menurutnya, prestasi tidak lahir secara instan. Kemampuan seorang atlet dibentuk melalui kedisiplinan dan kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten. “Tidak ada atlet yang sukses secara instan. Atlet yang sukses itu karena kedisiplinan. Kedisiplinan yang panjang,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa sepak bola merupakan olahraga tim. Karena itu, kemampuan individu harus berjalan bersama dengan kerja sama dan strategi permainan yang telah disiapkan pelatih. “Kalian harus bisa bekerja sama, saling mendukung, dan menjalankan apa yang diarahkan pelatih,” ujarnya.

Bupati Yani juga berharap pengalaman di Piala Soeratin dapat menjadi bekal bagi para pemain untuk berkembang, baik sebagai atlet maupun sebagai pribadi.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Gresik, saya mengucapkan terima kasih karena kalian telah membawa nama Kabupaten Gresik ke tingkat Jawa Timur. Saya doakan U-13 dan U-15 sukses di Piala Soeratin 2026. Semoga diberikan kesehatan, kelancaran, dan hasil terbaik,” katanya.

Pembinaan talenta muda membutuhkan ruang yang memungkinkan anak-anak mengenal dan mengembangkan sepak bola sejak dini. Dalam konteks tersebut, keberadaan lapangan sepak bola di desa-desa menjadi salah satu bagian penting dari ekosistem olahraga di Kabupaten Gresik.

Lapangan yang tersedia di tingkat desa memberi ruang bagi anak-anak dan remaja untuk bermain dan berlatih. Dari sana, potensi mereka dapat berkembang melalui sekolah sepak bola, klub, kompetisi usia dini, hingga jenjang kompetisi yang lebih tinggi seperti Piala Soeratin.

Rantai pembinaan tersebut menjadi penting agar sepak bola tidak hanya menghasilkan prestasi dalam satu kompetisi, tetapi juga melahirkan regenerasi pemain secara berkelanjutan.

Manajer Gress One Khoriri, menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Kabupaten Gresik terhadap tim yang akan berlaga di Jember. Menurutnya, dukungan tersebut menjadi motivasi tambahan bagi pemain untuk memberikan kemampuan terbaik.

“Atas nama manajemen dan seluruh tim, kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati atas dukungan dan perhatian yang diberikan selama ini. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk berjuang membawa nama baik Kabupaten Gresik di tingkat Jawa Timur,” ujar Khoriri. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Tim Gress One U-13 dan U-15 Laga di Piala Soeratin, Bupati Gresik: Tidak ada Atlet Sukses secara Instan Selengkapnya

Kemenag Gresik Launching UPT SMP Negeri 2 Gresik jadi Duta SRC Gresik di Jawa Timur

GRESIK,1minute.id – UPT SMP Negeri 2 Gresik (Spendagres) ditetapkan oleh Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Gresik sebagai School Religious Culture (SRC). Sekolah yang dipimpin oleh Mohammad Salim ini menjadi sekolah menengah pertama negeri yang menjadi duta di Kota Santri, sebutan lain, Kabupaten Gresik menuju tingkat Provinsi Jawa Timur. 

Launching SRC dilakukan oleh Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Gresik M.Ali Faiq di halaman sekolah di Jalan KH. Kholil, Gresik pada Senin, 31 Agustus 2026.

Dalam launching itu, Kepala Kemenag Gresik didampingi Kepala Seksi (Kasi) Pendidikan Agama Islam (PAIS) Ahmad Yahya dan Kasi Pendidikan SMP Dinas Pendidikan (Dispendik) Gresik Budi Prasetyo.

Peserta launching SRC perwakilan pengurus kelas, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Kelompok Cinta Lingkungan (KCL), Pramuka Garuda, Duta Lingkungan, Duta Literasi, Duta Moderasi, Duta Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), Duta Sekolah Ramah Anak (SRA), Duta Sekolah Siaga Kependudukan (SSK), dan Suporter. Mereka ini yang nantinya  bertugas menjadi motor penggerak program SRC di Spenda.

School Religious Culture (Sekolah Religius Culture/SRC) adalah program pembiasaan nilai-nilai agama yang dijadikan bagian dari kebijakan, kurikulum, dan kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. Program ini diinisiasi untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang holistik demi membentuk karakter siswa yang berakhlak mulia.

Kepala Kemenag Gresik M.Ali Faiq memberikan apresiasi inisiatif UPT SMP Negeri 2 Gresik melaunching SRC. “Saya bangga kepada UPT SMPN 2 Gresik yang berinisiatif melaunching SRC semoga diberikan kelancaran dan kesuksesan dalam menciptakan sekolah Aman Nyaman dan religius dan semoga sukses mewakili Kabupaten Gresik di Tingkat Jawa Timur,” kata Kepala UPT SMP Negeri 2 Gresik menirukan ucapan dari Kepala Kemenag Gresik M.Ali Faiq.

Mohammad Salim mengatakan, SRC ini program yang terbaru dari sekian program sekolah yang penting untuk satu sama lain saling mendukung menciptakan lingkungan belajar yang unggul berdasarkan nilai agama. 

Sementara itu, Ketua OSIS UPT SMP Negeri 2 Gresik Nabila berharap program SRC mampu meningkatkan kualitas dan kesadaran semua murid untuk membiasakan hidup yang agamis di sekolah dan di rumah. 

Launching SRC ini, menambah panjang predikat yang diraih UPT SMP Negeri 2 Gresik. Sekolah yang menempati gedung heritage di Jalan KH Kholil, Gresik ini telah ditetapkan pioner sebagai Kandidat Sekolah Rujukan Google (SKRG) ; Sekolah Kantin Halal dari Kemenag ; Sekolah Zero Waste dan Februari 2026 UPT SMP Negeri 2 Gresik meraih predikat sebagai Sekolah Siaga Kependudukan atau SKK Klasifikasi Paripurna Nasional. Capaian itu, UPT SMP Negeri 2 Gresik menjadikannya sekolah pertama di Kabupaten Gresik yang mencapai prestasi tersebut. Pada 17 Agustus 2026, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani memberikan penghargaan kepada Mohammad Salim pada momen upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Kemenag Gresik Launching UPT SMP Negeri 2 Gresik jadi Duta SRC Gresik di Jawa Timur Selengkapnya

Menjadi Gresik, Membaca Sejarah Kota dari Ingatan Warganya

GRESIK,1minute.id— Lembar-lembar kain menggantung di sepanjang jalan Kampung Kemasan. Di atasnya tersimpan potongan ingatan warga tentang Gresik: cerita tentang kampung, makanan, keluarga, kebiasaan, dan hal-hal kecil yang selama ini hidup dalam keseharian.

Di antara bangunan-bangunan tua yang berdiri sejak ratusan tahun lalu, lembaran kain itu menjadi semacam arsip terbuka. Pengunjung berjalan menyusuri kampung, membaca cerita, memasuki bangunan lama yang kini diaktivasi menjadi ruang pamer, sekaligus berjumpa dengan warga dan aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitarnya.

Pengalaman itu menjadi salah satu cara Festival Menjadi Gresik mengajak publik membaca kembali sebuah kota. Selama ini, kerap ditemukan dalam arsip, bangunan bersejarah, catatan perdagangan, kisah kerajaan, tokoh-tokoh besar, atau peristiwa politik. Semua itu penting untuk memahami perjalanan sebuah daerah. Namun, ada bagian lain dari sejarah yang tidak selalu tersimpan dalam dokumen resmi. Ia hidup dalam ingatan warga.

Dalam makanan yang dimasak secara turun-temurun. Dalam pakaian yang dikenakan dalam keseharian. Dalam tradisi kampung, cerita keluarga, bahasa, kebiasaan, dan pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Gagasan itulah yang menjadi titik berangkat Festival Menjadi Gresik, program yang digagas Yayasan Gang Sebelah dan berlangsung pada 15–30 Agustus 2026 di Kampung Kemasan, Gresik.

Festival ini mencoba menghadirkan cara lain untuk membaca kota, dengan menempatkan pengalaman, ingatan, dan pengetahuan warga sebagai bagian penting dari sumber kebudayaan.

“Menjadi Gresik berangkat dari kegelisahan bahwa sejarah kota sering kali diceritakan melalui narasi besar, sementara pengetahuan yang hidup dalam keseharian warga justru luput dicatat. Padahal, dari dapur, pakaian, makanan, kampung, hingga cerita yang diwariskan antargenerasi, kita bisa melihat bagaimana sebuah masyarakat membentuk identitas kotanya,” ujar Hidayatun Nikmah, Direktur Festival Menjadi Gresik.

Membaca Kota dari Hal-Hal yang Dekat

Menjadi Gresik tidak berangkat dari upaya mencari satu definisi tunggal mengenai Gresik. Sebaliknya, festival ini mencoba membuka berbagai pintu untuk memahami kota melalui hal-hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Dapur, pasar, kampung, makanan, pakaian, ruang bersejarah, hingga ingatan personal menjadi medium untuk melihat hubungan antara sejarah, identitas, dan kehidupan sosial.

Salah satu pendekatan yang digunakan adalah gastronomi. Makanan tidak hanya dipahami sebagai hidangan atau produk kuliner, tetapi sebagai pengetahuan yang memiliki hubungan dengan lingkungan, ekonomi, keluarga, sejarah, dan kehidupan sosial masyarakat.

Melalui Seri Gastronomi, Yayasan Gang Sebelah melakukan riset dan dokumentasi terhadap sejumlah makanan khas Gresik, antara lain bandeng keropok, jubung, dan bubur roomo.

Proses tersebut tidak berhenti pada pencatatan resep. Penelusuran dilakukan terhadap bahan baku, teknik pengolahan, cara penyajian, pelaku yang mempertahankan tradisi, hingga cerita dan ingatan yang menyertai perjalanan makanan tersebut.

Hasil riset kemudian dikembangkan dalam berbagai bentuk, termasuk film dokumenter yang mempertemukan pengetahuan para pelaku dengan masyarakat yang mungkin selama ini mengenal makanan tersebut hanya sebagai bagian dari keseharian.

Dengan cara itu, makanan dapat dibaca lebih jauh: sebagai jejak hubungan manusia dengan lingkungan tempat tinggalnya, sebagai penanda perubahan ekonomi, sekaligus sebagai medium yang menyimpan ingatan keluarga dan masyarakat.

Pendekatan serupa digunakan untuk membaca pakaian. Sarung, kebaya, songkok, dan berbagai bentuk busana yang dikenakan masyarakat Gresik tidak hanya diperlakukan sebagai benda atau atribut identitas. Pakaian dibaca melalui hubungan antara tubuh, kebiasaan, ruang sosial, serta perubahan cara masyarakat membangun dan menampilkan identitasnya.

Irfan Akbar, Direktur Program mengaku bahwa Festival ini ditujukan untuk memperkaya narasi tentang ke-Gresik-an, “Kami tidak sedang mencari satu definisi tentang Gresik. Justru kami ingin membuka ruang agar warga dapat menceritakan Gresik dari pengalaman mereka sendiri. Festival ini adalah salah satu cara untuk mempertemukan kembali ingatan yang tersebar itu, mendokumentasikannya, lalu membawanya kembali kepada publik.”

Kampung sebagai Arsip

Kampung Kemasan, Kelurahan Pekelingan, Kecamatan/Kabupaten Gresik menjadi salah satu ruang penting dalam cara festival ini bekerja. Kawasan bersejarah tersebut tidak hanya digunakan sebagai latar penyelenggaraan acara. Jalan-jalan kampung, bangunan lama, rumah warga, hingga ruang-ruang yang sebelumnya kosong ikut menjadi bagian dari pengalaman festival.

Beberapa bangunan tua di sepanjang Kampung Kemasan diaktivasi sebagai ruang pamer dan presentasi. Jalan kampung menjadi ruang berjalan dan membaca. Warga terlibat dalam berbagai kegiatan, termasuk membuka usaha mikro dan kuliner selama festival berlangsung.

Dengan demikian, ruang bersejarah tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang beku dan hanya dapat dipandang dari kejauhan. Ia kembali digunakan sekaligus menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan kehidupan hari ini.

Di satu sisi, pengunjung dapat melihat jejak arsitektur dan sejarah kawasan. Di sisi lain, mereka berhadapan dengan cerita-cerita baru, hasil riset, makanan, aktivitas warga, dan berbagai bentuk ekspresi kebudayaan yang sedang berlangsung. Kampung dan gang, dalam konteks ini, tidak hanya menjadi lokasi, namun menjadi arsip yang masih hidup.

Belajar Membaca dari Warga

Festival Menjadi Gresik juga merupakan bagian dari proses yang lebih panjang, melalui Besali Studi Kultural, sebuah ruang belajar kolektif yang mendorong riset berbasis pengalaman, ingatan kolektif, tradisi lisan, dan praktik kehidupan warga.

Melalui proses panggilan terbuka dan kurasi, delapan kelompok dari berbagai latar belakang terpilih untuk melakukan pengamatan, wawancara, dokumentasi, pengarsipan, dan pengembangan pengetahuan kebudayaan.

Kelompok tersebut berasal dari berbagai komunitas dan institusi, antara lain DKV Universitas Internasional Semen Indonesia, CYG Team, Kronika SMAN 1 Gresik, Power Art SMAN 1 Gresik, Gresik Book Party, Universitas Muhammadiyah Gresik, Universitas Sunan Gresik, dan Niti Narasi.

Selama prosesnya, mereka mendapatkan fasilitasi kelas, pendampingan, hingga kesempatan mempresentasikan hasil riset kepada publik. Beragam objek menjadi pintu masuk penelitian, seperti pakaian adat, percampuran budaya masyarakat Tionghoa dan Arab, arsitektur Kampung Kemasan, Pasar Pahing, songkok dan tas besali, gulat okol, aksara Gresik, hingga laban di kawasan Pangkah.

Pilihan objek tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak hanya berada dalam bentuk kesenian yang telah dikenal secara luas. Ia juga dapat ditemukan dalam benda sehari-hari, ruang, bahasa, tubuh, permainan, pekerjaan, dan pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman masyarakat.

Bagi Yayasan Gang Sebelah, proses tersebut penting karena banyak pengetahuan lokal masih bertahan secara lisan dan bergantung pada orang-orang yang menguasainya. Ketika pengetahuan tidak dicatat atau diteruskan, ia berisiko hilang bersama perubahan generasi. Karena itu, riset dalam program ini tidak semata-mata ditujukan untuk menghasilkan karya.

Sejarah yang Belum Selesai

Pameran, film, E-Magazine, dokumentasi gastronomi, dan presentasi hasil riset dalam Festival Menjadi Gresik tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir. Seluruhnya merupakan bagian dari upaya membangun arsip pengetahuan yang dapat terus dikembangkan, dibaca kembali, diperdebatkan, bahkan dilengkapi oleh generasi berikutnya.

“Bagi kami, merawat kebudayaan bukan hanya menyelamatkan sesuatu dari masa lalu. Yang lebih penting adalah menjaga pengetahuan agar tetap bisa digunakan, dibicarakan, dan dimaknai oleh generasi hari ini. Karena itu, Menjadi Gresik bukan tentang mengulang masa lalu, melainkan tentang memahami apa yang membuat kita menjadi Gresik hari ini,” ujar Hidayatun Nikmah.

Menjadi Gresik mencoba memulai pembacaan dari tempat dan hal-hal yang sering kali tampak sederhana. Makanan yang dimasak di rumah, pakaian yang dikenakan, cerita yang disampaikan orang tua, tradisi yang dijalankan bersama, dan ingatan tentang tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari kehidupan. Melalui festival ini, warga tidak hanya ditempatkan sebagai penonton sejarah kotanya sendiri. Dan dalam ingatan yang mereka simpan, sebuah kota terus menemukan cara untuk menjadi dirinya sendiri. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Menjadi Gresik, Membaca Sejarah Kota dari Ingatan Warganya Selengkapnya

Cuaca Buruk, 8 Anggota Paskibraka Gresik asal Bawean Tertahan di Gresik, Silaturahmi ke DPRD Gresik 

GRESIK,1minute.id – Sebanyak delapan anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Gresik asal Pulau Bawean masih tertahan di Gresik daratan. 

Mereka belum bisa kembali karena moda transportasi laut ke pulau sejauh 180 mil laut terhenti. Transportasi laut lumpuh karena cuaca buruk. Para pelajar tersebut harus memperpanjang masa tinggal di Gresik hingga kondisi laut dinyatakan aman.

Untuk diketahui, delapan pelajar asal Pulau Putri, sebutan lain, Pulau Bawean tiba di Gresik sejak 2 Agustus 2026 atau 15 hari sebelum pelaksanaan pelaksanaan upacara HUT ke-81 Republik Indonesia di Kantor Bupati Gresik. Mereka bergabung dengan anggota Paskibraka lain untuk menjalani persiapan hingga karantina sebelum bertugas di halaman Kantor Bupati Gresik.

Pelaksanaan upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia berlangsung lancar dan sukses. Namun, setelah tugas pengibaran bendera selesai, anggota Paskibraka dari daerah lain telah kembali ke rumah masing-masing. Sementara delapan pelajar asal Bawean masih harus menunggu kepastian keberangkatan kapal.

Ketua DPRD Gresik Muhammad Syahrul Munir memastikan kebutuhan para pelajar tersebut tetap terpenuhi selama berada di Gresik. Penginapan mereka masih ditanggung oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakebangpol) Gresik sedangkan kebutuhan makan sehari-hari turut di fasilitasi.

“Untuk penginapan masih ditanggung Kesbangpol Gresik. Sementara kebutuhan makan sehari-hari kami bantu fasilitasi sampai mereka bisa kembali ke Bawean,” kata Syahrul usai bertemu dengan delapan anggota Paskibraka Gresik kepada wartawan pada Kamis, 27 Agustus 2026.

Menurutnya, pengalaman tersebut harus menjadi modal bagi para pelajar untuk terus berkembang dan mengejar prestasi di masa depan. “Kalian sudah menunjukkan prestasi dengan terpilih sebagai anggota Paskibraka. Jadikan pengalaman ini sebagai motivasi untuk terus belajar dan berprestasi. Selama menunggu kepulangan, tetap jaga kesehatan dan diri,” ujarnya.

Selain memberikan motivasi, Syahrul juga mengingatkan para pelajar agar bijak menyikapi derasnya informasi di media sosial. Mereka diminta tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

“Informasi di era digital bergerak sangat cepat. Karena itu, jangan mudah percaya atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Pastikan kebenarannya sebelum mempercayai maupun membagikannya,” jelasnya.

Sementara itu, anggota DPRD Gresik dari daerah pemilihan Bawean, Bustami Hazim, mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk memastikan kebutuhan delapan pelajar tersebut tetap terpenuhi selama berada di Gresik.

Pertemuan dengan Ketua DPRD Gresik juga dimanfaatkan para pelajar untuk menyampaikan sejumlah aspirasi, khususnya berkaitan dengan pendidikan dan kondisi generasi muda di Bawean. “Dalam pertemuan itu, mereka menyampaikan sejumlah aspirasi, terutama terkait pendidikan dan kondisi anak muda di Bawean. Aspirasi tersebut kami tampung untuk menjadi perhatian dan bahan tindak lanjut,” katanya. 

Bustami menjelaskan, selama menjalani karantina, kebutuhan para pelajar difasilitasi Kesbangpol Pemkab Gresik. Persoalan muncul setelah rangkaian tugas Paskibraka berakhir karena mereka harus menunggu kapal yang memungkinkan untuk menyeberangi Laut Jawa.

Pihaknya telah mencari verbagai alternatif untuk kepulangan mereka. Salah satunya melalui Pelabuhan Paciran, Lamongan. Para pelajar bahkan bersedia menggunakan jalur tersebut agar dapat lebih cepat kembali ke Bawean. Namun, upaya itu kembali terbentur kondisi cuaca. Kapal yang diharapkan membawa mereka pulang belum dapat berlayar dan masih tertahan di Bawean.

“Kami sempat mencari alternatif keberangkatan melalui Pelabuhan Paciran, Lamongan. Mereka juga bersedia menggunakan jalur tersebut agar bisa segera pulang. Namun, kapal belum dapat berlayar karena kondisi cuaca dan masih tertahan di Bawean,” tambahnya.

Kemudian mereka masih berada di Gresik dan menunggu Laut Jawa kembali bersahabat agar kapal dapat berlayar dan membawa mereka pulang. “Setelah menjalankan tugas sebagai Paskibraka dengan penuh kebanggaan, para pelajar itu masih harus bersabar menghadapi tantangan terakhir menunggu cuaca reda demi bisa kembali berkumpul bersama keluarga dan melanjutkan aktivitas di sekolah,” pungkasnya. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Cuaca Buruk, 8 Anggota Paskibraka Gresik asal Bawean Tertahan di Gresik, Silaturahmi ke DPRD Gresik  Selengkapnya

Peringatan Mualid Nabi Muhammad SAW di UPT SMP Negeri 2 Gresik Hadirkan Polwan untuk Meningkatkan Kesadaran dan Perlindungan terhadap Anak

GRESIK,1minute.id – Peringatan Mualid Nabi Muhammad SAW di UPT SMP Negeri 2 Gresik (Spendagres) terasa berbeda. Biasanya, perayaan peringatan kelahiran Rasulullah SAW mendatang kiai atau ustad. Tapi, sekolah berlokasi di Jalan KH Abdul Kholil, Gresik ini mendatangkan aparat kepolisian dari Satuan Binmas melalui Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Gresik. 

Dalam maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan pada Senin, 24 Agustus 2026 yang diikuti seluruh siswa dan tenaga pendidik ini mengusung tema “Meneledani Akhlak Rasulullah SAW” versi Gen Z, yakni 

Meningkatkan Kesadaran dan Perlindungan terhadap Anak. 

Menurut Kepala UPT SMP Negeri 2 Gresik Mohammad Salim, dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW itu, anggota 

Polisi Wanita (Polwan) Polres Gresik mengajak para siswa untuk memperbanyak kegiatan positif yang menguntungkan bagi masa depan. Selain itu, menghindari perbuatan yang merugikan diri sendiri seperti melakukan kekerasan fisik, narkoba, bullying dan kekerasan seksual dan lainnya. 

Kemudian, bagaimana cara menghindari masalah kekerasan ancaman bagi pelajar dari luar sekolah, berfikir sebelum bertindak,  menjauhi hal-hal buruk di media sosial (medsos) dan menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. “Jika mengetahui tindakan buruk segera lapor pada orang tua, guru, BK jika ada ancaman di dunia digital. Saring sebelum sharing informasi. Ceklis privasi data pribadi medsos, filter teman di medsos,” kata Mohammad Salim menirukan ucapan anggota Polwan Polres Gresik itu.

Mohammad Salim mengapresiasi kegiatan ini. “Kami sangat berterima kasih kepada Polres Gresik. Materi ini sangat relevan untuk membentuk karakter siswa yang berani, cerdas, dan saling menghargai,” katanya.

Melalui kegiatan ini, Polres Gresik dan UPT SMP Negeri 2 Gresik berkomitmen menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari kekerasan. Pihak sekolah juga akan memasang nomor layanan KBPA di aplikasi inovasi sekolah. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Peringatan Mualid Nabi Muhammad SAW di UPT SMP Negeri 2 Gresik Hadirkan Polwan untuk Meningkatkan Kesadaran dan Perlindungan terhadap Anak Selengkapnya

Wabup Gresik Lantik Pengurus DKG, Irfan Akbar Prawiro : Peneliti Temukan Fosil Homo Erectus di Perairan Gresik 

GRESIK,1minute.id – Irfan Akbar Prawiro, kembali terpilih sebagai ketua Dewan Kebudayaan Gresik (DKG). Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif melantik pengurus periode 2026-2029 ini di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Gresik pada Kamis malam, 21 Agustus 2026.

Peristiwa ini menjadi tonggak penting dalam merajut kembali benang-benang sejarah di tengah pesatnya modernisasi. Gresik kerap menyandang predikat sebagai kota industri yang padat dengan kepulan asap pabrik. Namun, wilayah ini menyimpan sisi spiritual dan kultural yang begitu kental. Fenomena tersebut sering kali memantik rasa kagum para investor asing yang kali pertama menginjakkan kaki di tanah para wali ini.

“Banyak hal unik di Gresik meskipun wilayah kita terkenal sebagai kota industri. Para investor yang datang kerap merasa heran. Di pusat kota, begitu warga keluar rumah, mereka mengenakan sarung. Hal ini membuktikan bahwa nuansa agamis masyarakat di sini sangat kuat,” ujar dokter Alif, sapaan akrab, Asluchul Alif saat menyampaikan sambutannya.

Sementara itu, Ketua DKG Irfan Akbar Prawiro membagikan refleksi mendalam mengenai pencarian jati diri Gresik pada periode sebelumnya. Hasil penelusuran timnya menunjukkan bahwa Gresik merupakan wilayah yang sangat beragam, baik dari segi bahasa, dialek lokal, maupun peninggalan prasejarah.

Keberagaman tersebut terbentang dari wilayah utara hingga selatan, termasuk keberadaan bahasa Jawa khas dan bahasa Bawean. Bahkan, di kawasan selatan Gresik terdapat jejak sejarah penting yang berkaitan dengan penemuan manusia purba Pithecanthropus mojokertensis.

“Peneliti menemukan fosil Homo erectus di wilayah perairan Gresik. Saat ini terdapat sekitar 6.000 spesimen yang sedang diteliti di Belanda. Penemuan ini berpotensi mengubah sejarah dunia karena jejak manusia purba tersebut ditemukan di dasar laut, padahal sebelumnya hanya pernah ditemukan di daerah dataran tinggi,” papar Irfan dengan penuh antusias.

Berangkat dari temuan-temuan mengagumkan tersebut, DKG berharap dapat memposisikan diri sebagai mitra riset kebudayaan yang strategis bagi Pemerintah Kabupaten Gresik. Irfan menyarankan agar fungsi perencanaan kota dapat memanfaatkan perspektif kebudayaan dalam membentuk tata ruang wilayah, seiring transformasi Bappeda menjadi Bapperida di berbagai daerah.

DKG juga menyoroti keberadaan serat-serat kuno dalam dunia kesenian yang berfungsi sebagai ensiklopedia kebudayaan Pulau Jawa. Naskah kuno tersebut memuat kisah pelarian putra-putri dari Giri Kedaton sekaligus menyimpan kearifan lokal dalam membaca alam dan lingkungan sekitar.

“Kebudayaan kami pandang sebagai sebuah metode. Melalui pembacaan serat kuno, kita dapat mengetahui bahwa keberadaan ikan capung menjadi indikator air bersih. Di wilayah selatan, masyarakat memahami banjir sebagai ingatan sejarah. Mereka membaca garis bekas banjir di tembok untuk menentukan seberapa tinggi fondasi batu rumah harus diangkat,” jelas Irfan.

Guna mewujudkan visi besar tersebut, susunan kepengurusan DKG periode 2026-2029 tidak hanya diisi oleh para seniman semata. DKG kini menghimpun berbagai elemen profesional seperti advokat, akademisi, ahli manuskrip, hingga periset multidisiplin.

“Harapan kami, kebudayaan dapat dipelajari secara utuh dan terpadu. Semoga kami dapat terus bermitra secara erat dengan seluruh komunitas, baik secara struktural maupun kultural,” pungkas Irfan menutup pemaparannya. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Wabup Gresik Lantik Pengurus DKG, Irfan Akbar Prawiro : Peneliti Temukan Fosil Homo Erectus di Perairan Gresik  Selengkapnya

3 Dalang Cilik Asli Gresik, Growing The Future : Bukti Nyata Petrokimia Gresik Tumbuhkan Generasi Penerus Seni Wayang 

GRESIK,1minute.id – Penampilan tiga dalang cilik asal Gresik menyita ribuan pasang mata pada pagelaran wayang di SOR Tridharma Petrokimia Gresik beberapa waktu lalu. Tiga dalang cilik, yakni ; Avito Bintang Pratama, siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Gresik; Nicolas Davino, siswa kelas IV SD Petrokimia Gresik; dan Kyano Renand H., siswa kelas IV Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Terate Putra Gresik.

Pagelaran wayang kulit yang diselenggarakan oleh PT Petrokimia Gresik (Persero), perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero) untuk mendorong regenerasi pelestari seni dan budaya Indonesia dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-54 Petrokimia Gresik dan HUT ke-81 Republik Indonesia. 

Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, mengatakan pelestarian budaya merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam menumbuhkan masa depan. Tema HUT ke-54 “Growing the Future”, tambahnya, tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan bisnis, tetapi juga tentang menyiapkan generasi yang mampu meneruskan nilai dan warisan budaya bangsa.

“Pagelaran wayang kulit menjadi agenda rutin tiap momen ulang tahun perusahaan. Kami ingin ikut memastikan seni wayang tetap memiliki ruang untuk tumbuh di tengah generasi muda,” ujar Daconi.

Pagelaran wayang kulit ini menghadirkan lakon pembuka “Sumantri Ngenger” yang dibawakan oleh dalang muda Ki Achmad Bagas Septyawan. Ia merupakan karyawan muda Petrokimia Gresik sekaligus binaan Sanggar Mahesa Kencana Petrokimia Gresik.

Penampilan tersebut semakin istimewa dengan hadirnya tiga dalang cilik berbakat dari Kabupaten Gresik. Mereka adalah Avito Bintang Pratama, siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Gresik; Nicolas Davino, siswa kelas IV SD Petrokimia Gresik; dan Kyano Renand H., siswa kelas IV Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Terate Putra, Gresik.

Kehadiran para dalang muda tersebut menjadi bukti bahwa seni wayang tetap memiliki ruang untuk tumbuh di tengah generasi saat ini. Bagi Petrokimia Gresik, regenerasi seniman menjadi bagian penting untuk memastikan wayang tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi terus hidup dan berkembang di masa depan.

“Ketika anak-anak muda mau belajar dan tampil membawakan wayang, di situlah kita melihat harapan bagi keberlanjutan budaya. Kami ingin memberikan ruang agar talenta-talenta muda ini terus berkembang dan semakin percaya diri dalam membawa seni tradisi ke generasi berikutnya,” jelas Daconi.

Dalam momen ini, Petrokimia Gresik juga menyerahkan uang pembinaan untuk para dalang cilik. Harapannya, bisa terus memotivasi dalang-dalang muda ini untuk terus melestarikan budaya wayang, sehingga bisa menginspirasi generasi muda lain di Gresik.

Lebih lanjut ia menambahkan, wayang bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga sarat tuntunan dan nilai kehidupan. Hal tersebut salah satunya tercermin dalam lakon “Sumantri Ngenger” yang mengajarkan kesetiaan, dedikasi, kerja nyata, serta keikhlasan untuk mendahulukan kepentingan yang lebih besar.

Sementara itu, lakon utama “Begawan Ciptaning” dibawakan oleh Ki Bayu Aji Pamungkas. Pagelaran semakin semarak dengan penampilan pelawak Cak Percil dan sinden Lintang Kairo. Lakon “Begawan Ciptaning” mengisahkan perjalanan Arjuna dalam membangun kemampuan diri, dengan membawa pesan tentang pentingnya ketekunan, fokus, dan pengendalian diri dalam mempersiapkan diri menghadapi tantangan yang lebih besar.

Nilai ketekunan dan pengembangan diri tersebut juga sejalan dengan semangat Petrokimia Gresik untuk terus meningkatkan kompetensi insan perusahaan dalam menghadapi perubahan industri. Perusahaan terus mendorong peningkatan kapasitas, pengembangan inovasi, serta penguatan kolaborasi untuk membangun masa depan perusahaan yang semakin kuat dan berkelanjutan.

“Wayang bukan hanya tontonan, tetapi juga memiliki banyak tuntunan. Nilai-nilai yang disampaikan melalui cerita dan tokohnya dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua, terutama generasi muda. Semangat untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan juga penting agar kita semakin siap menghadapi berbagai perubahan di masa depan,” tutur Daconi.

Pagelaran yang dimulai pukul 18.30 WIB tersebut terbuka gratis untuk masyarakat umum. Petrokimia Gresik juga menyiarkan pagelaran secara langsung melalui kanal YouTube Petrokimia Gresik sehingga dapat disaksikan oleh masyarakat secara lebih luas.

Terpisah, Pudji Seti, 65, salah satu penonton asal Kabupaten Lamongan jauh-jauh datang ke Gresik bersama rombongan untuk menonton pagelaran wayang kulit yang diselenggarakan Petrokimia Gresik. Ia mengaku menjadi penonton setia pagelaran wayang yang diselenggarakan tiap tahun.

“Di era modern ini tidak banyak perusahaan yang peduli dengan budaya wayang. Tapi Petrokimia Gresik menjadi perusahaan yang konsisten tiap tahun menyelenggarakan wayang. Petrokimia Gresik memiliki kepedulian yang tinggi untuk melestarikan wayang, terbukti saat ini menampilkan tiga dalang cilik yang statusnya masih pelajar SD dan SMP,” ujarnya.

Sementara itu, Daconi memberikan apresiasi kepada masyarakat yang tiap tahun antusias menyaksikan pagelaran wayang kulit Petrokimia Gresik. Ia mengungkapkan, antusiasme masyarakat terhadap pagelaran wayang yang diselenggarakan perusahaan terus meningkat, salah satunya terlihat dari jumlah penonton melalui kanal YouTube Petrokimia Gresik.

Antusiasme masyarakat terhadap pagelaran wayang kulit Petrokimia Gresik menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. 

Hal ini tercermin dari jumlah penonton melalui kanal YouTube Petrokimia Gresik yang meningkat dua kali lipat, dari 4.000 penonton pada HUT ke-50 menjadi 8.000 penonton pada HUT ke-53 dan bertahan di angka yang sama pada HUT ke-54. Sementara pada HUT ke-51 dan ke-52, jumlah penonton masing-masing tercatat sebanyak 5.000 dan 6.000 penonton.

Terakhir Daconi menambahkan bahwa pelestarian budaya merupakan bagian dari kontribusi perusahaan kepada masyarakat. Upaya tersebut diharapkan dapat berjalan beriringan dengan pengembangan talenta muda sehingga nilai budaya dan kreativitas dapat terus tumbuh dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Perusahaan yang terus tumbuh tentu harus memiliki masa depan yang kuat. Masa depan itu tidak hanya dibangun melalui teknologi dan bisnis, tetapi juga melalui manusia yang memiliki karakter serta menghargai akar budayanya,” pungkas Daconi. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

3 Dalang Cilik Asli Gresik, Growing The Future : Bukti Nyata Petrokimia Gresik Tumbuhkan Generasi Penerus Seni Wayang  Selengkapnya

Pegiat UMKM dan Warga Kibarkan Bendera Merah Putih Raksasa Berkibar di Bukit Tanatuju

GRESIK,1minute.id – Puluhan pegiat UMKM, pemuda, dan warga Gresik mengibarkan Bendera Merah Putih berukuran 15 x 9 meter di kawasan Tanatuju, Jalan Dewi Sekardadu, Dusun Gunungsari, Desa Sidomoro, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik pada Sabtu sore, 15 Agustus 2026.

Bendera raksasa itu berkibar di kawasan perbukitan dengan ketinggian sekitar 150 meter di atas permukaan laut (mdpl) terlihat gagah. Pengibaran bendera tersebut dilakukan sebagai bentuk kecintaan terhadap Tanah Air sekaligus menyemarakkan peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia. 

Ketua Earth Hour (EH) Gresik M Zubaidi mengatakan pengibaran Bendera Merah Putih di kawasan perbukitan tersebut merupakan wujud kecintaan masyarakat terhadap Indonesia. “Kegiatan pengibaran bendera merah putih di salah satu bukit dengan ketinggian di Kabupaten Gresik ini merupakan wujud kecintaan kami sebagai warga negara Indonesia dalam momentum Hari Kemerdekaan,” ujarnya pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Menurut Zubaidi, pengibaran bendera raksasa di ketinggian sekitar 150 mdpl membutuhkan persiapan khusus. Hal itu dilakukan agar bendera berukuran 15 x 9 meter tersebut dapat berkibar dengan sempurna. “Pengibaran bendera ini semoga dapat memberikan motivasi kepada kami untuk terus mengisi kemerdekaan dengan kegiatan yang positif dan lebih mencintai Indonesia yang sudah merdeka selama 81 tahun,” katanya.

Ia menambahkan, persiapan matang diperlukan mengingat ukuran bendera yang cukup besar serta lokasi pengibaran berada di kawasan perbukitan.

Sementara itu, tokoh masyarakat Kelurahan Ngagrosari, Kecamatan Kebomas, Kabupateb Gresik Effendi, menilai kegiatan tersebut menjadi momentum positif untuk menumbuhkan kembali jiwa nasionalisme dan rasa cinta Tanah Air. “Pengibaran bendera raksasa ini bukan sekadar simbol, tetapi juga pesan bahwa semangat kemerdekaan harus terus hidup, terutama di kalangan generasi muda,” tegasnya. 

Ia berharap kegiatan serupa dapat menginspirasi masyarakat untuk menjaga persatuan, menghargai perjuangan para pahlawan, serta mengisi kemerdekaan dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat.

Diketahui Pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengimbau seluruh pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengibarkan Bendera Merah Putih secara serentak selama Bulan Kemerdekaan, mulai 1 hingga 31 Agustus 2026. Imbauan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Ketentuan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 400.10.1.1/5487/SJ tentang Sosialisasi Tema dan Logo HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang ditetapkan di Jakarta pada 27 Juli 2026 dan ditandatangani Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Pegiat UMKM dan Warga Kibarkan Bendera Merah Putih Raksasa Berkibar di Bukit Tanatuju Selengkapnya

Khidmat, Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Gresik, Bupati Gresik Serahkan Penghargaan SSK Klasifikasi Paripurna kepada SMP Negeri 2 Gresik

GRESIK,1minute.id – Upacara HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Kantor Bupati Gresik berlangsung khidmat pada Senin, 17 Agustus 2026. Inspektur upacara Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani. 

Upacara diawali pembacaan naskah Proklamasi oleh Ketua DPRD Gresik Muhammad Syahrul Munir, kemudian dilanjutkan dengan prosesi pengibaran bendera Merah Putih oleh Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Gresik.

Usai upacara, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani didampingi Wakil Bupati Asluchul Alif menyerahkan Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya kepada sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian dan dedikasi mereka.

Selain tanda kehormatan,  Bupati Fandi Akhmad Yani juga menyerahkan penghargaan kepada Sekolah Lansia Tangguh (Selantang) 2025 terbanyak untuk Kecamatan Cerme, kemudian TPA inspiratif area permukiman tingkat nasional untuk TPA Taat, Desa Suci Kecamatan Manyar. 

Penghargaan juga turut diserahkan untuk pelayanan Keluarga Berencana Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (KB MKJP) metode operatif wanita terbanyak kepada Rumah Sakit Denisa serta penghargaan Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) Klasifikasi Paripurna kepada SMP Negeri 2 Gresik.

Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) klasifikasi paripurna adalah tingkat tertinggi bagi sekolah yang sukses memasukkan ilmu kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan keluarga ke dalam pelajaran, punya pojok kependudukan yang aktif, serta memenuhi semua syarat penilikan dari BKKBN.

Pemkab Gresik juga menyerahkan empat unit ambulans masing-masing kepada Puskesmas Bungah, Puskesmas Sangkapura, Puskesmas Wringinanom, dan Puskesmas Gending. Ambulans tersebut diharapkan memperkuat pelayanan dan penanganan kesehatan bagi masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Yani didampingi Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Banjarsari Kecamatan Cerme juga turut menyerahkan remisi kemerdekaan kepada dua warga binaan pemasyarakatan. Terakhir, Bupati Yani menyerahkan juara lomba Mini Soccer dan Padel antar-OPD dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Nonton Bareng (Nobar) siaran langsung peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI dari Istana Negara, Jakarta. Bupati Gresik bersama jajaran Forkopimda, pimpinan OPD, dan tamu undangan menyaksikan prosesi kenegaraan tersebut dalam suasana khidmat penuh kebersamaan. 

Sementara itu, Kepala UPT SMP Negeri 2 Gresik Mohammad Salim mengatakan, terimakasih atas apresiasi yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik. ” Kami sangat bangga dan terima kasih bapak Bupati ( Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani, Red). Tahun ini hanya SPENDA sekolah yang mendapatkan penghargaan di HUT ke-81 RI 2026,” kata Salim usai menerima penghargaan melalui pesan WhatsApp kepada 1minute.id pada Senin, 17 Agustus 2026.

Penghargaan ini, imbuhnya, akan menjadi motivasi bagi sekolah untuk terus berinovasi. “Untuk kedepannya sekolah akan berinovasi dengan penggunaan aplikasi poskadu ( pojok sekolah siaga kependudukan) yang di dalamnya terintegrasi kerjasama layanan konsultasi dengan Dispenduk, komisi pemberdayaan perempuan dan anak MUI Gresik, Bimbingan Remaja Usia Sekolah/Brus KUA Gresik, KBPPA dan GENRE Gresik,” katanya.  (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Khidmat, Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Gresik, Bupati Gresik Serahkan Penghargaan SSK Klasifikasi Paripurna kepada SMP Negeri 2 Gresik Selengkapnya

Bupati Gresik Buka Festival Menjadi Gresik, Nguri-uri Budaya hingga Kuliner

GRESIK,1minute.id – Gresik tidak hanya dibentuk oleh sejarah besar, bangunan tua, perkembangan industri, atau catatan resmi. Di balik semua itu, kehidupan sehari-hari warganya menyimpan pengetahuan yang tak kalah penting: ingatan, cerita, makanan, benda, kebiasaan, serta praktik sosial yang diwariskan dan terus berubah dari waktu ke waktu.

Gresik sebagai Kota memasuki usia 539 tahun dan sebagai Kabupaten “baru” berusia 52 tahun pada 2026 ini memiliki banyak cerita yang tumbuh dari perjalanan sejarah, budaya, hingga tradisi kulinernya. Nguri-uri tersebut kembali dihadirkan dalam Festival Menjadi Gresik yang digagas Yayasan Gang Sebelah di Kampung Kemasan Jalan Nyai Ageng Arem-arem, Kelurahan Pekelingan, Kecamatan/Kabupaten Gresik pada Sabtu malam, 15 Agustus 2026.

Festival yang berlangsung hingga 30 Agustus 2026 ini dibuka oleh Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani.  Rangkaian pembukaan diawali dengan fine dining bertajuk “Menjadi Gresik” melalui program Dapur Saji. Bupati Yani bersama tamu undangan diajak menikmati tiga kuliner yang memiliki keterkaitan dengan identitas dan sejarah Gresik, yakni bubur romoo, bandeng keropok, dan jenang jubung.

Ketiganya disajikan dengan pendekatan berbeda. Bubur romoo dipincuk menggunakan daun api-api atau mangrove. Bandeng keropok menggunakan bandeng tanpa duri yang di-grill dengan daun pisang. Sementara jenang jubung dihadirkan sebagai isian pia.

Penyajian tersebut menjadi cara untuk memperkenalkan kembali kekayaan kuliner Gresik melalui pendekatan yang lebih kreatif. Di balik setiap sajian, terdapat cerita mengenai tradisi, kebiasaan, dan perjalanan masyarakat Gresik yang terus diwariskan hingga hari ini.

Bupati Fandi Akhmad Yani mengapresiasi inisiatif Yayasan Gang Sebelah yang menghadirkan sejarah Gresik melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. “Alhamdulillah, malam ini kita bisa melihat langsung sejarah yang telah dikumpulkan oleh teman-teman komunitas seni dari Yayasan Gang Sebelah. Kita bisa bernostalgia melihat masa lalu Gresik, sejarah Gresik yang begitu luar biasa,” ujar Gus Yani, sapaan akrab, Fandi Akhmad Yani.

Menurutnya, memahami sejarah penting bagi generasi muda agar mereka tidak kehilangan akar dalam melihat perkembangan Gresik ke depan. Terlebih, perjalanan Gresik sebagai kota pelabuhan telah membentuk masyarakat dengan keragaman budaya, etnis, kuliner, dan tradisi.

“Sejarah adalah masa depan kita. Kita bisa melihat Gresik tempo dulu, Gresik yang begitu luar biasa. Gresik sebagai kota pelabuhan tentu memiliki perpaduan budaya, etnis, kuliner, dan macam-macam kekayaan yang bisa kita lihat,” katanya.

Ia menilai kuliner menjadi salah satu bagian penting dari kekayaan tersebut. Bubur roomo, bandeng keropok, dan jenang jubung bukan hanya makanan yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi juga memiliki nilai ekonomi karena hingga kini masih menjadi sumber penghidupan masyarakat.

“Makanan-makanan ini usianya mungkin sudah berpuluh tahun, bahkan bisa lebih tua daripada saya. Tetapi sampai hari ini masih bisa memberikan dampak dan manfaat. Masih banyak masyarakat Gresik yang hidup dari proses kuliner tadi,” ujar Bupati.

Karena itu, ia mendorong agar warisan budaya dan kuliner Gresik tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Pelestarian perlu dilakukan dengan cara yang membuatnya tetap dikenal, dinikmati, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kita semua terus melestarikan apa yang menjadi warisan budaya yang sampai hari ini bisa kita lihat, bisa kita rasakan, punya dampak, punya manfaat untuk kesejahteraan masyarakat Kabupaten Gresik,” tuturnya.

Usai mengikuti fine dining, Bupati Yani meninjau pameran seni yang menampilkan berbagai karya dan cerita mengenai Gresik.

Direktur Festival Menjadi Gresik Hidayatun Hikmah mengatakan, gagasan festival telah dibicarakan selama sekitar dua hingga tiga tahun sebelum akhirnya dapat terlaksana tahun ini.

Festival tersebut, katanya, lahir dari keinginan untuk mengajak masyarakat mencintai Gresik melalui berbagai cara dan perspektif. “Kami ingin mengajak teman-teman lebih mencintai Gresik melalui caranya masing-masing, melalui bidang keilmuannya masing-masing, melalui apa yang dirasakan masing-masing,” ujarnya.

Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah riset gastronomi. Makanan dipilih karena menjadi bagian yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. “Bagi kami, Gresik adalah dapur, tempat segalanya dimulai kemudian disajikan. Makanya kami memilih tema Dapur Saji,” katanya.

Tidak berhenti pada gastronomi, Festival Menjadi Gresik juga menghadirkan studi kultural yang melibatkan kelompok lintas disiplin. Sebanyak delapan kelompok dari kalangan seniman, sekolah, perguruan tinggi, hingga duta wisata akan mempresentasikan hasil riset dan karya mereka selama festival berlangsung.

Menurut Hidayatun, keterlibatan berbagai kelompok tersebut menunjukkan bahwa Gresik memiliki sejarah dan kebudayaan yang dapat dibaca dari banyak perspektif. 

“Literasi di sini tumbuh dengan baik. Kita punya banyak sejarah, kaya akan kebudayaan yang sangat beragam dan sangat bisa kita sajikan dengan berbagai macam cara,” ujarnya.

Melalui Festival Menjadi Gresik, Yayasan Gang Sebelah berharap berbagai cerita tentang Gresik dapat kembali hadir di tengah masyarakat. Bukan sekadar untuk mengenang masa lalu, tetapi untuk menemukan cara baru memahami dan mencintai Gresik. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Bupati Gresik Buka Festival Menjadi Gresik, Nguri-uri Budaya hingga Kuliner Selengkapnya