GRESIK,1minute.id – Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif, mengajak para lulusan Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) untuk berani menjadi wirausahawan dan mengambil peran di tengah tantangan global yang semakin dinamis.
Ajakan itu disampaikan saat menghadiri Wisuda ke-48 UMG di Gedung Graha Kartini Gresik pada Rabu, 2 April 2026. Sebanyak 593 wisudawan dari jenjang Diploma 3 hingga Strata 2 atau magister resmi dikukuhkan.
Menurut Wabup Alif, momen ini bukan sekadar seremoni kelulusan, tetapi awal perjalanan baru bagi para lulusan untuk menentukan arah hidup dan memberi manfaat bagi sekitar. “Wisuda bukan garis akhir, tetapi awal untuk melangkah lebih berani dan berdampak,” ujar dokter Alif, sapaan akrab, Asluchul Alif.
Ia mengingatkan, dunia saat ini sedang menghadapi banyak tantangan mulai dari ketidakpastian ekonomi global hingga perubahan teknologi yang sangat cepat. Namun di balik itu, menurutnya selalu ada peluang bagi mereka yang mau melihat dan berani mengambil langkah.
Karena itu, ia mendorong para lulusan untuk tidak hanya berpikir mencari pekerjaan, tetapi juga menciptakan peluang. Ia menyebut Gresik memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan, mulai dari sektor industri, perikanan, UMKM, hingga usaha berbasis digital.
“Gresik ini bukan hanya tempat tinggal, tapi juga ladang peluang. Tinggal bagaimana kita mau melihat dan memanfaatkannya,” ungkapnya.
Selain peluang, ia juga menekankan pentingnya karakter dalam menjalani dunia usaha. Menurutnya, sikap pantang menyerah, disiplin, dan empati menjadi bekal utama agar bisa bertahan dan berkembang. Sebagai bentuk dukungan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik terus berupaya membuka ruang bagi tumbuhnya wirausaha muda. Bentuk dukungan tersebut mulai dari pelatihan, akses permodalan, hingga kemudahan perizinan usaha. “Kami ingin lulusan UMG bisa menjadi penggerak ekonomi di Gresik,” tegasnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik Khoirul Anwar, menyampaikan bahwa wisuda ke-48 ini merupakan momentum penting dalam menyiapkan lulusan yang tidak hanya siap kerja. Ia menambahkan, para lulusan juga diharapkan mampu berkontribusi dan beradaptasi di tengah perubahan zaman.
“UMG berkomitmen mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki daya saing dan kesiapan menghadapi tantangan dunia kerja maupun wirausaha,” ujarnya. (*)
GRESIK,1minute.id – Kepolisian Resor Gresik melakukan pengawasan sejumlah tempat wisata. Pengawasan dilakukan untuk memberikan perasaan aman dan nyaman warga yang sedang healing di liburan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Destinasi wisata yang menjadi pusat pengawasan antara lain, Pantai Delegan. Wisata pantai pasir putih di Desa Delegan, Kecamatan Panceng ini, salah satu destinasi favorit bagi keluarga di Kota Industri, sebutan lain, Kabupaten Gresik. Ratusan bahkan ribuan wisatawan berkunjung di pantai Delegan yang berada di pasisir pantai utara (pantura) Gresik ini.
Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Nasution mengikuti arahan Kapolri bersama jajaran Forkopimda dan pejabat utama Polres Gresik menyatakan, arahan dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menekankan pentingnya aspek keselamatan di seluruh destinasi wisata, khususnya wisata air, seiring meningkatnya mobilitas masyarakat saat libur Lebaran.
“Pengelola wisata wajib mengutamakan keselamatan pengunjung. Pastikan alat keselamatan tersedia, batasi kapasitas agar tidak terjadi penumpukan, dan lakukan pengawasan ketat di lokasi berisiko tinggi seperti bibir pantai,” tegas AKBP Ramadhan Nasution menirukan arahan Kapolri.
Kegiatan tersebut juga dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Gresik, perwakilan BPBD, Camat Panceng, serta unsur TNI dari Koramil Panceng. Sinergi lintas sektor ini menjadi bukti keseriusan pemerintah daerah dalam memberikan rasa aman bagi wisatawan dan pemudik yang berkunjung ke Gresik.
Kapolres Gresik Ramadhan Nasution menegaskan bahwa pengamanan tidak hanya difokuskan pada kelancaran arus lalu lintas, tetapi juga mencakup pengawasan intensif di kawasan wisata. “Kami mengimbau masyarakat untuk selalu waspada. Bagi pengunjung Pantai Dalegan, perhatikan keselamatan keluarga, terutama saat beraktivitas di air,” ujarnya pada Selasa, 24 Maret 2026.
Di lokasi wisata, personel kepolisian dari Polsek Panceng bersama Polres Gresik tampak aktif melakukan patroli dan memberikan edukasi langsung kepada pengunjung. Melalui pengeras suara, petugas mengingatkan para orang tua untuk mengawasi anak-anak saat bermain atau berenang di laut, menggunakan pelampung saat beraktivitas di air, serta mematuhi batas aman zona renang yang telah ditentukan.
Pengawasan yang dilakukan secara intensif ini diharapkan mampu menciptakan situasi yang aman dan kondusif selama libur Idul Fitri 1447 H, sehingga masyarakat dapat menikmati waktu bersama keluarga dengan nyaman.
Dengan langkah preventif dan humanis tersebut, Polres Gresik menargetkan terciptanya perayaan Lebaran yang aman dan minim risiko kecelakaan, khususnya di destinasi unggulan seperti Pantai Dalegan.
Hotline pengaduan Polres Gresik dan Kapolres Gresik dapat dihubungi 24 jam melalui Call Center 110 atau melalui layanan khusus “Lapor Cak Rama” di nomor WhatsApp/Telepon 0811-8800-2006. Warga dapat melaporkan gangguan kamtibmas, laka lantas, maupun tindakan kriminal lainnya. (*)
GRESIK,1minute.id – Kontes Bandeng Kawak berlangsung semarak pada Senin malam, 16 Maret 2026. Ada tiga ekor bandeng seukuran bayi yang ikut kontes yang dihelat di kawasan heritage Bandar Grissee di Jalan Basuki Rahmat, Gresik. Ikan bandeng itu, masing-masing milik Syaifullah Mahdi, petambak asal Pangkahwetan, Kecamatan Ujungpangkah kembali meraih besar. Bobotnya, 19 kilogram dengan panjang 114 sentimeter. Dalam lelang bandeng seukuran bayi itu laku seharga Rp 50 juta dibeli oleh PT Petrokimia Gresik.
Posisi runner up diraih Askin, petambak Desa Pangkahwetan, Kecamatan Ujungpangkah, dengan bandeng berbobot 14 kilogram dan panjang 100 sentimeter dan posisi ketiga diraih Zainul Abidin dari Desa Watuagung, Kecamatan Bungah, dengan bandeng berbobot 8 kilogram dan panjang 90 sentimeter.
Ketiga petambak ini adalah jawara kontes tahun sebelumnya. Tradisi Pasar dan Kontes Bandeng ini menegaskan diri sebagai perayaan budaya yang hidup dan dinanti oleh masyarakat. Pasar Bandeng masih berlangsung hari ini, Selasa, 17 Maret 2026.
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menegaskan bahwa Pasar Bandeng bukan sekadar tradisi tahunan menjelang Lebaran, melainkan bagian dari identitas budaya yang terus hidup dan dijaga masyarakat Gresik.
“Banyak budaya yang alhamdulillah satu per satu kami arsipkan dan juga kami lestarikan. Mulai dari Rebo Wekasan di Manyar, Malam Selawe di Kebomas, hingga Festival Bandeng Kawak yang hari ini kita rayakan melalui Pasar Bandeng. Ini adalah tradisi budaya yang terus kita jaga,” ujar Gus Yani, sapaan akrab, Fandi Akhmad Yani.
Menurutnya, tradisi seperti Pasar Bandeng tidak hanya penting sebagai warisan budaya, tetapi juga membawa dampak nyata bagi masyarakat. “Festival-festival budaya ini punya multiplier effect, baik secara ekonomi, sosial, maupun budaya. Mudah-mudahan identitas Kabupaten Gresik terus terjaga. Kalau ingat bandeng, ya pasti ingat Kabupaten Gresik,” tegasnya.
Ia juga menyoroti sektor perikanan sebagai salah satu penopang penting pertumbuhan ekonomi daerah. Karena itu, dukungan terhadap para petambak terus diperkuat, salah satunya melalui distribusi 9.825 ton pupuk bersubsidi untuk budidaya tambak di Kabupaten Gresik. Pupuk tersebut terdiri dari urea, SP-36, dan pupuk organik, dengan harga sekitar Rp1.800 per kilogram, jauh di bawah harga pasar yang hampir menyentuh Rp10.000 per kilogram.
KIRAB Bandeng Kawak sebelum Kontes dan Lelang Bandeng dalam tradisi Pasar dan Kontes Bandeng Kawak di depan Gedung Nasional Indonesia pada Senin, 16 Maret 2026. Pasar dan Kontes Bandeng telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan pada 2025 ( Foto: Chusnul Cahyadi/1minute.id)
“Selamat buat para petani tambak. Mudah-mudahan ini menjadi spirit dan motivasi agar terus membudidayakan bandeng yang ada di Kabupaten Gresik,” tandasnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman, dalam laporannya menegaskan bahwa Pasar Bandeng bukan hanya agenda budaya tahunan, tetapi juga ruang untuk menjaga kesinambungan tradisi lokal sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.
Sekda menyampaikan bahwa Pasar Bandeng telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTBI) pada tahun 2025. Penetapan ini mempertegas bahwa Pasar Bandeng bukan sekadar keramaian musiman, melainkan tradisi khas Gresik yang memiliki nilai sejarah, sosial, dan budaya yang terus diwariskan.
Tak hanya itu, pada tahun 2025 Kabupaten Gresik juga mencatat penetapan lima karya budaya sebagai WBTB, yakni Pasar Bandeng, Malam Selawe, Kupat Keteg, Pencak Macan, dan Rebo Wekasan Desa Suci. Deretan penetapan ini memperlihatkan bahwa Gresik tidak hanya merawat tradisi, tetapi juga serius meneguhkan warisan budayanya di tingkat nasional.
Dalam laporannya, Sekda Washil juga menekankan bahwa penyelenggaraan kontes dan lelang bandeng tahun ini diarahkan untuk melestarikan budaya asli Kabupaten Gresik, meningkatkan perekonomian masyarakat, memberi motivasi kepada petani tambak agar semakin giat berbudidaya, serta menghasilkan bandeng berkualitas super.
Sementara itu, Syaifullah Mahdi menuturkan, bandeng berukuran besar memang membutuhkan waktu pemeliharaan yang tidak sebentar. “Kalau melihat tahun-tahun yang lalu, berat bandeng yang kami budidayakan bisa besar. Masa budidayanya sekitar 17 sampai 18 tahun,” ujar Sandi, sapaan, Syaifullah Mahdi.
Kemeriahan Pasar Bandeng terasa sejak awal acara. Masyarakat memadati lokasi untuk menyaksikan hiburan pembuka, penyambutan tamu, santunan anak yatim, penampilan tari tradisi, hingga rangkaian seremoni budaya yang menghidupkan suasana malam.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan live cooking Chef Rudy Choiruddin dan makan bandeng gratis sebanyak 2.000 porsi untuk masyarakat. Pasar Bandeng 2026 kembali menunjukkan bahwa tradisi di Gresik bukan sekadar dipertahankan, tetapi terus dihidupkan.
Dari kirab WBTbI, kontes bandeng kawak, hingga lelang yang ramai disambut warga, seluruh rangkaian malam itu menjadi gambaran bagaimana budaya, kebersamaan, dan geliat ekonomi rakyat bertemu dalam satu perayaan khas Gresik. (*)
GRESIK, 1minute.id – Kirab wisata budaya tak benda Indonesia (WBTbI) Gresik berlangsung meriah pada Senin, 16 Maret 2026. Sebanyak lima WBTbI yaitu, Rabowekasan, Desa Suci, Kecamatan Manyar ; Malem Selawe Ramadan dan Kupat Ketheg, Desa Giri, Kecamatan Kebomas dan Pasar dan Lelang Bandeng Kawak, tradisi yang dipusatkan di pusat ekonomi di Gresik Kota Lama (GKL). Serta, Pencak Macan, Pesisir Kelurahan Lumpur, Kecamatan Gresik.
Kirab WBTbI kali pertama ini dilepas oleh Bupati Gresik Fandi Akhmad didampingi Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif ; Ketua DPRD Gresik Muhammad Syahrul Munir; Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Nasution, Perwakilan dari Kodim 0817/Gresik serta Sekretaris Daerah (Sekda) Gresik Achmad Washil Miftachul Rachman berlangsung meriah.
Start depan Gedung Nasional Indonesia (GNI) Jalan Panglima Sudirman, lima tradisi seni, budaya dan kuliner khas Kota Santri, sebutan lain, Kabupaten Gresik ini finish di Pendapa Rumah Dinas Bupati Gresik di Alun-Alun Gresik Jalan KH Wachid Hasyim, Gresik. Sepanjang rute kirab warga berjubel.
Kirab awalnya berlangsung tertib. Sejumlah penampilan tari Kupat Ketheg dan Pencak Macan menyita perhatian warga. Namun, perjalanan kirab berlangsung riuh ketika Kirab Bandeng Kawak yang berjumlah tiga ekor. Dalam kirab panitia mengklaim menyiapkan seribu ekor ikan bandeng.
Ribuan ekor bandeng dimasukkan dalam wadah. Bandeng itu rencananya digunakan untuk udik-udikan. Akan tetapi, antusiasme warga yang sangat tinggi, langsung “menyerbu” bandeng. Warga pun saling dorong. Untuk tidak ada yang terluka dalam udik-udikan ikan bandeng itu. (*)
GRESIK,1minute.id – Ribuan warga tumplek-blek ngalab berkah di malam selawe Ramadan 1447 hijiar. Jalan Sunan Giri mulai simpang lima Kebomas hingga makam Sunan Giri ditutup untuk semua kendaraan.
Masyarakat yang akan melaksanakan tradisi malam 25 Ramadan itu harus jalan kaki. Cuaca Kota Santri, sebutan lain, Kabupaten Gresik yang cerah menjadi tradisi yang konon sejak zaman Sunan Giri, Wali Sanga, penyebar agama Islam juga Kepala Pemerintahan di Bukit Giri Kedaton bergelar Prabu Satmata begitu riuh.
Di Jalan Sunan Giri bagaian lautan manusia. Sesak. Mereka ada berbelanja kuliner atau perlengkapan untuk kebutuhan Idul Fitri. Sedangkan, warga lainnya memadati Masjid Jamik dan makam Sunan Giri. Berikhtikaf, berzikir dan bersalawat. Serta Mahalul Qiyam.
Suasana religius semakin terasa saat ribuan jamaah secara serentak melantunkan Surat Al-Ikhlas hingga 1.000 kali. Tradisi tersebut menjadi bentuk munajat kepada Allah SWT dalam menjemput keberkahan malam Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani yang memimpin langsung tradisi itu didampingi Wakil Bupati Asluchul Alif, Ketua DPRD Muhammad Syahrul Munir, serta Waka Polres Gresik Kompol Shabda Purusha Putra, Kasdim 0817/Gresik Mayor Siari.
Dalam sambutannya, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menyampaikan rasa syukur atas terjaganya tradisi Malam Selawe yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
“Ini adalah tahun kedua kegiatan Malam Selawe kita selenggarakan secara lebih terorganisir. Dampaknya luar biasa, tidak hanya dari sisi spiritual, tetapi juga ekonomi. Pasar UMKM di Kebomas sangat ramai, membuktikan bahwa warisan para pendahulu membawa berkah nyata bagi masyarakat,” ujar Gus Yani, sapaan akrab, Fandi Akhmad Yani.
Momentum bersejarah juga ditandai dengan penyerahan Sertifikat Warisan Budaya Tak Benda Indonesia(WBTbI) dari kementerian Kebudayaan untuk kategori Malam Selawe Kupat Ketheg. Sebagai bentuk syukur, panitia menyediakan sekitar 2.000 porsi nasi kebuli dan 500 porsi kupat ketheg yang dibagikan kepada jamaah.
Untuk menjamin keamanan dan kenyamanan masyarakat, skema pengamanan terpadu diterapkan di bawah koordinasi Kabag Ops Polres Gresik Kompol Yusis Budi Krismanto. Sebanyak 123 personel gabungan diterjunkan yang terdiri dari unsur TNI–Polri, Satpol PP, Dinas Perhubungan, Damkar, tenaga medis dari Dinas Kesehatan, serta unsur organisasi kemasyarakatan seperti Banser dan Pemuda Pancasila.
Berkat koordinasi yang solid antara petugas dan kesadaran masyarakat, seluruh rangkaian kegiatan yang berakhir sekitar pukul 23.10 WIB berjalan aman, tertib, dan kondusif. Malam Selawe 2026 pun ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Ketua MUI Kabupaten Gresik KH Ainur Rofiq.
Sementara itu, Waka Polres Gresik Kompol Shabda Purusha Putra menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berperan menjaga situasi tetap kondusif selama kegiatan berlangsung.
“Kami mengapresiasi masyarakat yang turut membantu menjaga keamanan serta seluruh personel pengamanan yang telah menjalankan tugas dengan baik sehingga kegiatan Malam Selawe dapat berlangsung aman dan lancar,” pungkasnya. (*)
GRESIK,1minute.id – Petrokimia Gresik menjadi tuan rumah Safari Ramadan yang digelar PT Pupuk Indonesia (Persero). Dalam kegiatan ini, Pupuk Indonesia bersama Petrokimia Gresik menyalurkan santunan kepada ribuan masyarakat. Total bantuan yang diberikan Petrokimia Gresik sebagai perusahaan Solusi Agroindustri di bulan suci Ramadan tembus Rp 1,52 miliar.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menyampaikan terima kasih atas doa dan dukungan masyarakat Gresik sehingga Pupuk Indonesia dan Petrokimia Gresik mampu menjalankan amanah menyalurkan pupuk bersubsidi ke seluruh Indonesia dengan baik. Tugas ini menjadi bagian penting dalam upaya mewujudkan swasembada pangan nasional.
“Ini adalah Safari Ramadan yang ketiga Pupuk Indonesia. Dengan Safari Ramadan ini kita bisa membangun silaturahmi, membangun kekompakan, dan berbagi keberkahan. Banyak sekali keberkahan yang diberikan kepada masyarakat. Tolong Petrokimia Gresik dijaga dengan baik. Dengan gejolak dunia seperti saat ini, Indonesia bisa tetap menjaga ketahanan pangannya. Ini karena kita mempunyai industri (pupuk, Red) yang besar,” ujar Rahmad.
Adapun keberkahan yang disalurkan dalam Safari Ramadan kali ini antara lain santunan untuk 1.455 guru Taman Pendidikan Quran (TPQ) yang ada di Gresik dengan total Rp 218,3 juta; kemudian santunan untuk 73 Imam Rawatib masjid dan musala sebesar Rp 109,5 juta; santunan 80 anak yatim dan 15 anak didik dari Perkumpulan Istri Karyawan Petrokimia Gresik (PIKA-PG) sebesar Rp 23,8 juta.
Berikutnya, Petrokimia Gresik dan Pupuk Indonesia juga menyerahkan 500 paket sembako kepada abang becak dan masyarakat sekitar perusahaan. Setiap paket berisi 1 liter minyak goreng, 3 kilogram beras, dan 1 kilogram gula.
Selain itu, perusahaan juga memberikan 270 Alquran untuk 27 musala di sekitar perusahaan. Bantuan ini juga merupakan kolaborasi dengan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Baznas Petrokimia Gresik dan Serikat Karyawan Petrokimia Gresik (SKPG).
Senada dengan hal tersebut, Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob mengatakan bahwa bantuan ini merupakan bentuk rasa syukur dan terima kasih perusahaan kepada masyarakat Gresik. Petrokimia Gresik sebagai bagian dari Pupuk Indonesia menyadari bahwa keberadaan perusahaan tidak dapat dipisahkan dari masyarakat di sekitarnya.
“Karena itu, kami berkomitmen untuk terus menghadirkan manfaat yang nyata, sekaligus menjaga hubungan yang harmonis dengan lingkungan sekitar sebagai bagian dari keberlanjutan perusahaan,” katanya.
Daconi menambahkan, bantuan dalam Safari Ramadan ini melengkapi program kepedulian yang sebelumnya telah dijalankan Petrokimia Gresik selama bulan Ramadan.
Sebelumnya, Petrokimia Gresik telah menyalurkan bantuan kepada 16 masjid dan 77 musala di sekitar perusahaan, serta 23 pondok pesantren dan 27 panti asuhan di Kabupaten Gresik. Adapun total bantuan yang diberikan Petrokimia Gresik selama bulan puasa ini mencapai Rp1,52 miliar.
“Kami juga menggelar silaturahmi Safari Ramadan dengan buka bersama dan tarawih di masjid-masjid sekitar perusahaan. Kami hadir di tengah-tengah masyarakat dan memberikan bantuan operasional sehingga masjid-masjid tersebut semakin semarak di momen Ramadan,” tandas Daconi.
Terakhir, ia berharap masyarakat dapat terus memberikan doa dan dukungan kepada perusahaan sehingga Petrokimia Gresik dapat terus menjalankan amanah dalam memajukan pertanian Indonesia.
“Kami berharap setiap langkah kecil yang kita lakukan hari ini dapat menjadi benih kebaikan yang kelak tumbuh dan memberi manfaat bagi lingkungan serta generasi yang akan datang. Setiap kepedulian yang kita tanam hari ini akan tumbuh menjadi kebaikan yang menguatkan kebersamaan dan menghadirkan harapan,” tutupnya. (*)
GRESIK,1minute.id – Menyambut malam 25 Ramadan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik akan menggelar Pembacaan Seribu Surat Al Ikhlas di Masjid Besar Ainul Yaqin pada Sabtu malam, 14 Maret 2026.
Panitia telah menyiapkan 2.000 porsi Nasi Kebuli yang akan dibagikan gratis kepada para jemaah dan 500 Kupat Ketheg yaitu kuliner khas Giri yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTbI). “Pembagian Kupat Ketheg ini adalah bentuk apresiasi atas penetapan tradisi Malam Selawe dan Kupat Ketheg sebagai warisan budaya asli Gresik,” kata Camat Kebomas Tri Joko Efendi kepada wartawan.
Tradisi Malam Selawe
Malem Selawe atau malam 25 Ramadan adalah tradisi “berburu” Lailatul Qadar atawa malam seribu bulan. Tradisi ini dikatakan sebagai malam puncak Ramadan, banyak peziarah berdatangan baik dari dalam maupun luar kota Gresik. Selain beriktikaf dan ziarah ke makam, ibadah yang dilakukan dalam tradisi Malam Selawe diantaranya yakni melaksanakan Salat Sunnah, berzikir dan membaca Al-Quran di Masjid Besar Sunan Giri dengan tujuan untuk meningkatkan ketakwaan dan keimanan kepada Allah SWT.
Tradisi ini sudah ada sejak zaman Sunan Giri (Syekh Maulana Ainur Yaqin, Wali Sanga atau penyebar agama Islam yang juga Kepala Pemerintahan di Bukit Kedaton bergelar Prabu Satmata) mengajak para santrinya untuk beribadah Iktikaf di masjid Giri dengan harapan mendapatkan berkah malam Lailatulqadar.
Tradisi malam selawe ini masih dilestarikan oleh Masyarakat sekitar hingga sekarang. Ramainya peziarah yang datang, banyak juga pedagang yang datang untuk menawarkan dagangannya. Tidak sedikit masyarakat yang menyalahartikan dan beranggapan bahwa tradisi Malam Selawe hanya berupa pasar malam dan acara perlombaan saja, tanpa memahami makna inti diadakannya tradisi Malam Selawe sebenarnya.
Perlombaan yang pernah dilakukan diantaranya, Lomba Hadrah hingga Giri Expo, yang memamerkan berbagai produk warisan Budaya yang berasal dari kabupaten Gresik.
Tahun ini, malem Selawe ada nuansa berbeda. Pemerintah memfasilitasi puluhan stan UMKM yang khusus menyajikan jajanan tradisional Kota Santri, sebutan lain, Kabupaten Gresik. Jumlah 50 hingga 60 stan. Lokasinya di depan Kantor Kecamatan Kebomas.
Tri Joko Efendi menyatakan, tujuan kegiatan ini menurutnya bukan sekadar meramaikan, tapi kami ingin mengedukasi masyarakat tentang pentingnya konsumsi makanan sehat dan bergizi melalui jajanan tradisional dan harapannya, generasi masa depan kita tumbuh sehat. (*)
GRESIK,1minute.id – Ratusan insan pariwisata, budayawan serta jurnalis berkumpul di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Gresik pada Jumat, 13 Maret 2026. Mereka bersilaturahmi untuk mengikuti Apresiasi Pariwisata, Budaya, dan Media Bercerita yang diinisiasi oleh Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparekrafbudpora) Gresik.
Sebanyak 30 insan pariwisata dan budayawan yang dianggap memiliki peran positif dalam pemajuan pariwisata dan kebudayaan di Kota Santri, sebutan lain, Kabupaten Gresik mendapatkan apresiasi. Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif didampingi oleh Kepala Dinas Parekrafbudpora yang menyerahkan apresiasi tersebut. Penyerahan disaksikan antara lain Putri Indonesia Pendidikan dan Kebudayaan 2024 Melati Tedja.
Melati Tedja, perempuan asal Surabaya itu menceritakan perjalanan karir hingga terpilih sebagai Putri Indonesia Pendidikan dan Kebudayaan 2024 . Ia mengaku terpesona dengan keindahan alam di Pulau Bawean. “Kalau ada kesempatan lagi, Saya pasti akan mengunjungi Bawean,” kata Melati Teja.
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif, menyampaikan bahwa pengembangan pariwisata membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, stakeholder, dan media.
“Ini adalah wujud apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Gresik kepada insan pariwisata dan budayawan yang telah berkomitmen terhadap pengembangan kearifan lokal,” ujar Wabup Alif.
Ia menyoroti potensi besar Pulau Bawean yang kini semakin dikenal luas. Ia menyebut, berdasarkan testimoni beberapa penyelam internasional, titik selam di Bawean dinilai memiliki kualitas yang sangat baik, bahkan disebut sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia setelah Raja Ampat.
Selain keindahan bawah laut, kawasan mangrove dan potensi alam Bawean juga diharapkan dapat terus dipromosikan. Hal ini agar semakin dikenal oleh wisatawan. Pemerintah berharap dukungan dari berbagai pihak, termasuk tokoh publik seperti Melati Tedja, dapat membantu memperkenalkan potensi tersebut.
Wabup Alif juga menyinggung rencana pembangunan daerah dalam beberapa tahun ke depan. Pemerintah Kabupaten Gresik akan memprioritaskan anggaran daerah untuk perbaikan infrastruktur jalan, terutama jalan poros desa dan jalan kabupaten. “Konsentrasi kami di tahun 2026, 2027, dan 2028 adalah perbaikan jalan. Kami ingin masalah infrastruktur ini tuntas,” tegasnya.
Menurutnya, kondisi jalan yang baik akan sangat berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi serta mobilitas masyarakat di Kabupaten Gresik. (*)
GRESIK, 1minute.id – Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani meninjau langsung proses pengolahan Kolak Ayam (Sanggring) di area Masjid Jami’ Sunan Dalem di Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik pada Kamis, 12 Maret 2026.
Tradisi setiap malam 23 Ramadan, tahun ini memasuki ke 501 tahun. Kementerian Kebudayaan tradisi yang telah berlangsung lebih dari 5 abad ini sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI).
Menurut Bupati Fandi Akhmad Yani, tradisi ini bukan sekadar acara makan bersama, melainkan simbol kepatuhan spiritual dan penghormatan terhadap perjuangan dakwah Sunan Dalem, putra Sunan Giri.
Ia juga menegaskan bahwa Sanggring Kolak Ayam merupakan tradisi berusia ratusan tahun yang harus terus dilestarikan. Selain sebagai kuliner warisan leluhur, hidangan ini juga diyakini memiliki khasiat sebagai obat.
“Sejarah kolak ayam berawal dari kebiasaan Sunan Dalem yang membuat masakan ini sebagai obat untuk mengobati sakitnya saat membuat Masjid di Desa Gumeno dalam menyebarkan Islam. Resep tersebut ternyata mujarab karena bisa menyembuhkan sakitnya Sunan Dalem termasuk warga sekitar,” tutur Gus Yani, sapaan akrab, Fandi Akhmad Yani.
“Tradisi kolak ayam sebagai wujud apresiasi serta melestarikan budaya peninggalan Sunan Dalem. Salah satu tokoh penyebar agama islam di pesisir utara Gresik sekitar 1541 masehi,” terang mantan Ketua DPRD Gresik ini.
Orang nomor satu di Kota Santri, sebutan lain, Kabupaten Gresik ini mengajak generasi muda yang ada di Desa Gumeno untuk diberikan wawasan seputar tradisi kolak ayam. Sehingga menjadi suatu tradisi yang diharapkan bakal terus bertahan di tengah gerusan kemajuan Gresik sebagai kota industri.
“Tahun 2019 tradisi ini telah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak benda Indonesia (WBTbI) oleh pemerintah, yang memperkuat identitas sosial dan religi masyarakat Gresik,” tandas Magister Mitigasi Bencana Unair Surabaya ini.
Tradisi pembuatan Kolak Ayam tiap malam ke-23 di bulan Ramadan tahun ini menghabiskan 240 ekor ayam, 225 kg bawang daun, 525 butir kelapa, 650 kg gula merah, 50 kg jinten bubuk akan disajikan sebanyak 3000 untuk porsi tamu.
KOLAK AYAM atau Sanggring Kolak Ayam tradisi malam 23 Ramadan yang memasuki 501 tahun di Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik ( Foto Dokumen Chusnul Cahyadi/1minute.id)
Mengutip dari buku “Grissee Kota Bandar” Kolak ayam atau Sanggring, tradisi ratusan tahun ini telah tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2019. Kolak ayam Desa Gumeno rasanya gurih legit dengan isian ayam kampung di dalamnya. Makanan inilah yang menjadi ikon tradisi ini. Awalnya, kolak ayam berfungsi sebagai obat.
Menurut kisahnya, tradisi ini bermula ketika Sunan Dalem bernama lengkap Syekh Maulana Zaenal Abidin, berdakwah di Desa Gumeno pada 1540 Masehi. Putra pertama dari Sunan Giri (Sunan Maulana Ainul Yaqin) ini mendirikan sebuah masjid di desa tersebut. Tak lama usai membangun masjid, Sunan Dalem jatuh sakit.
Kabar sakitnya Sang Wali ini cukup membuat para santri dan penduduk terkejut sehingga mereka menandai peristiwa ini dengan sebutan Sanggring, berasal dari kata ‘Sang’ (raja, pemimpin) dan ‘Gering’ (sakit). Sakitnya Sang Wali selama beberapa waktu membuat para santri dan penduduk bingung mencari obat penyembuhnya. Hingga pada 22 Ramadan 946 Hijriah, sebuah mimpi menghampiri Sunan Dalem.
Dalam mimpi itu beliau mendapatkan petunjuk tentang obat penyakitnya, yakni harus memakan sebuah makanan dengan ayam jago berusia muda sebagai salah satu syarat utama bahan masakan. Sunan Dalem lantas mengutus para lelaki untuk mempersiapkan bumbu-bumbu masakannya, yakni daun bawang merah, gula jawa, jintan, dan santan. Sementara itu para santri mencarikan ayam jago muda.
Gelaran masak besar kolak ayam ini kemudian menjadi tradisi bagi warga Desa Gumeno sampai sekarang. Tradisi Kolak Ayam selalu dilaksanakan di Masjid Jami’ Sunan Dalem Desa Gumeno yang dimulai pukul 16.00 WIB. Berkat tradisi ini pula warga Desa Gumeno dan warga dari kampung lainnya menjadi semakin erat silaturahminya. (chusnul cahyadi/*)
GRESIK,1minute.id – Wen Chao, pekerja asal Tiongkok memutuskan untuk mualaf Pemuda 33 tahun itu mengucapkan ikrar masuk Islam di kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Gresik pada Rabu, 11 Maret 2026.
Ketua MUI Gresik KH Ainur Rofiq Thoyyib yang memimpin ikrar mualaf karyawan PT. Xinyi Glass Factory, Kompleks Kawasan Ekonomi Khusus Java Integrated Industrial and Ports Estate (KEK-JIIPE) Manyar, Gresik itu.
Wen Chao melakukan perjalanan spritual tentang Islam selama berbulan-bulan. Hidayah Allah datang tepat pada 21 Ramadan 1447 Hijriah. KH Ainur Rofiq Thoyyib menyampaikan sejumlah nasihat agar Wen Chao mulai belajar serta mempraktikkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, dan menekankan pentingnya memahami rukun Islam sebagai fondasi utama dalam menjalani kehidupan sebagai seorang muslim.
“Setelah mengucap dua kalimat syahadat, hendaknya mulai belajar dan mempraktikkan ajaran Islam terutama rukun Islam setelah syahadat, yaitu sholat lima waktu, puasa, zakat dan haji bila mampu,” ujar Kiai Rofiq, sapaan, KH Ainur Rofiq Toyyib usai memimpin Syahadat.
Saksi ikrar mualaf ini antara lain, Sekretaris Umum Makmun ; Ketua Bidang Dakwah Nur Fakih ; Sekretaris Komisi Fatwa KH. Fathoni Muhammad, Lc., serta anggota Komisi Seni Didik Hendriyono.
Ia melanjutkan, bahwa memeluk Islam tidak hanya sebatas pengakuan secara lahiriah, tetapi harus diiringi dengan keyakinan yang kuat dalam hati. “Islam itu bukan sekadar agama yang diyakini secara dhohir (tampak), namun juga secara batin, yaitu iman harus yakin bahwa Islam adalah agama yang benar menurut dirinya,” tambahnya.
Kiai Rofiq juga mengingatkan bahwa perbedaan keyakinan dengan keluarga merupakan hal yang mungkin terjadi bagi seorang mualaf. Meski demikian, Kiai Rofiq menekankan bahwa hal tersebut merupakan hak pribadi setiap orang dalam menentukan keyakinan, dan juga berpesan agar hubungan baik dengan keluarga tetap dijaga meskipun terdapat perbedaan keyakinan.
Sementara itu, Wen Chao melalui bantuan temannya sebagai penerjemah menceritakan awal mula ketertarikannya terhadap Islam. Ia mengaku sebelum datang ke Indonesia tidak pernah terpikir sedikit pun untuk memeluk agama Islam. “Sebelum ke Indonesia tidak ada pikiran sama sekali untuk memeluk agama Islam,” ungkap Wen Chao.
Ia menambahkan bahwa ketertarikannya muncul ketika melihat rekan-rekan kerjanya yang beragama Islam menjalankan keyakinannya dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. “Cerita ini bermula ketika akhir tahun 2025, saya melihat banyak teman yang beragama Islam dan menjalankan keyakinannya, sehingga saya mulai tertarik untuk belajar tentang Islam,” ujarnya.
Menurut Wen Chao, proses tersebut tidak terjadi secara instan. Ia mulai mempelajari Islam secara perlahan dari lingkungan sekitarnya serta melalui interaksi dengan teman-teman muslim. Setelah melalui proses pembelajaran selama beberapa bulan, ia akhirnya merasa yakin untuk memeluk agama Islam. (*)