Kemenag Gresik Launching UPT SMP Negeri 2 Gresik jadi Duta SRC Gresik di Jawa Timur

GRESIK,1minute.id – UPT SMP Negeri 2 Gresik (Spendagres) ditetapkan oleh Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Gresik sebagai School Religious Culture (SRC). Sekolah yang dipimpin oleh Mohammad Salim ini menjadi sekolah menengah pertama negeri yang menjadi duta di Kota Santri, sebutan lain, Kabupaten Gresik menuju tingkat Provinsi Jawa Timur. 

Launching SRC dilakukan oleh Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Gresik M.Ali Faiq di halaman sekolah di Jalan KH. Kholil, Gresik pada Senin, 31 Agustus 2026.

Dalam launching itu, Kepala Kemenag Gresik didampingi Kepala Seksi (Kasi) Pendidikan Agama Islam (PAIS) Ahmad Yahya dan Kasi Pendidikan SMP Dinas Pendidikan (Dispendik) Gresik Budi Prasetyo.

Peserta launching SRC perwakilan pengurus kelas, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Kelompok Cinta Lingkungan (KCL), Pramuka Garuda, Duta Lingkungan, Duta Literasi, Duta Moderasi, Duta Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), Duta Sekolah Ramah Anak (SRA), Duta Sekolah Siaga Kependudukan (SSK), dan Suporter. Mereka ini yang nantinya  bertugas menjadi motor penggerak program SRC di Spenda.

School Religious Culture (Sekolah Religius Culture/SRC) adalah program pembiasaan nilai-nilai agama yang dijadikan bagian dari kebijakan, kurikulum, dan kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. Program ini diinisiasi untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang holistik demi membentuk karakter siswa yang berakhlak mulia.

Kepala Kemenag Gresik M.Ali Faiq memberikan apresiasi inisiatif UPT SMP Negeri 2 Gresik melaunching SRC. “Saya bangga kepada UPT SMPN 2 Gresik yang berinisiatif melaunching SRC semoga diberikan kelancaran dan kesuksesan dalam menciptakan sekolah Aman Nyaman dan religius dan semoga sukses mewakili Kabupaten Gresik di Tingkat Jawa Timur,” kata Kepala UPT SMP Negeri 2 Gresik menirukan ucapan dari Kepala Kemenag Gresik M.Ali Faiq.

Mohammad Salim mengatakan, SRC ini program yang terbaru dari sekian program sekolah yang penting untuk satu sama lain saling mendukung menciptakan lingkungan belajar yang unggul berdasarkan nilai agama. 

Sementara itu, Ketua OSIS UPT SMP Negeri 2 Gresik Nabila berharap program SRC mampu meningkatkan kualitas dan kesadaran semua murid untuk membiasakan hidup yang agamis di sekolah dan di rumah. 

Launching SRC ini, menambah panjang predikat yang diraih UPT SMP Negeri 2 Gresik. Sekolah yang menempati gedung heritage di Jalan KH Kholil, Gresik ini telah ditetapkan pioner sebagai Kandidat Sekolah Rujukan Google (SKRG) ; Sekolah Kantin Halal dari Kemenag ; Sekolah Zero Waste dan Februari 2026 UPT SMP Negeri 2 Gresik meraih predikat sebagai Sekolah Siaga Kependudukan atau SKK Klasifikasi Paripurna Nasional. Capaian itu, UPT SMP Negeri 2 Gresik menjadikannya sekolah pertama di Kabupaten Gresik yang mencapai prestasi tersebut. Pada 17 Agustus 2026, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani memberikan penghargaan kepada Mohammad Salim pada momen upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Kemenag Gresik Launching UPT SMP Negeri 2 Gresik jadi Duta SRC Gresik di Jawa Timur Selengkapnya

Menjadi Gresik, Membaca Sejarah Kota dari Ingatan Warganya

GRESIK,1minute.id— Lembar-lembar kain menggantung di sepanjang jalan Kampung Kemasan. Di atasnya tersimpan potongan ingatan warga tentang Gresik: cerita tentang kampung, makanan, keluarga, kebiasaan, dan hal-hal kecil yang selama ini hidup dalam keseharian.

Di antara bangunan-bangunan tua yang berdiri sejak ratusan tahun lalu, lembaran kain itu menjadi semacam arsip terbuka. Pengunjung berjalan menyusuri kampung, membaca cerita, memasuki bangunan lama yang kini diaktivasi menjadi ruang pamer, sekaligus berjumpa dengan warga dan aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitarnya.

Pengalaman itu menjadi salah satu cara Festival Menjadi Gresik mengajak publik membaca kembali sebuah kota. Selama ini, kerap ditemukan dalam arsip, bangunan bersejarah, catatan perdagangan, kisah kerajaan, tokoh-tokoh besar, atau peristiwa politik. Semua itu penting untuk memahami perjalanan sebuah daerah. Namun, ada bagian lain dari sejarah yang tidak selalu tersimpan dalam dokumen resmi. Ia hidup dalam ingatan warga.

Dalam makanan yang dimasak secara turun-temurun. Dalam pakaian yang dikenakan dalam keseharian. Dalam tradisi kampung, cerita keluarga, bahasa, kebiasaan, dan pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Gagasan itulah yang menjadi titik berangkat Festival Menjadi Gresik, program yang digagas Yayasan Gang Sebelah dan berlangsung pada 15–30 Agustus 2026 di Kampung Kemasan, Gresik.

Festival ini mencoba menghadirkan cara lain untuk membaca kota, dengan menempatkan pengalaman, ingatan, dan pengetahuan warga sebagai bagian penting dari sumber kebudayaan.

“Menjadi Gresik berangkat dari kegelisahan bahwa sejarah kota sering kali diceritakan melalui narasi besar, sementara pengetahuan yang hidup dalam keseharian warga justru luput dicatat. Padahal, dari dapur, pakaian, makanan, kampung, hingga cerita yang diwariskan antargenerasi, kita bisa melihat bagaimana sebuah masyarakat membentuk identitas kotanya,” ujar Hidayatun Nikmah, Direktur Festival Menjadi Gresik.

Membaca Kota dari Hal-Hal yang Dekat

Menjadi Gresik tidak berangkat dari upaya mencari satu definisi tunggal mengenai Gresik. Sebaliknya, festival ini mencoba membuka berbagai pintu untuk memahami kota melalui hal-hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Dapur, pasar, kampung, makanan, pakaian, ruang bersejarah, hingga ingatan personal menjadi medium untuk melihat hubungan antara sejarah, identitas, dan kehidupan sosial.

Salah satu pendekatan yang digunakan adalah gastronomi. Makanan tidak hanya dipahami sebagai hidangan atau produk kuliner, tetapi sebagai pengetahuan yang memiliki hubungan dengan lingkungan, ekonomi, keluarga, sejarah, dan kehidupan sosial masyarakat.

Melalui Seri Gastronomi, Yayasan Gang Sebelah melakukan riset dan dokumentasi terhadap sejumlah makanan khas Gresik, antara lain bandeng keropok, jubung, dan bubur roomo.

Proses tersebut tidak berhenti pada pencatatan resep. Penelusuran dilakukan terhadap bahan baku, teknik pengolahan, cara penyajian, pelaku yang mempertahankan tradisi, hingga cerita dan ingatan yang menyertai perjalanan makanan tersebut.

Hasil riset kemudian dikembangkan dalam berbagai bentuk, termasuk film dokumenter yang mempertemukan pengetahuan para pelaku dengan masyarakat yang mungkin selama ini mengenal makanan tersebut hanya sebagai bagian dari keseharian.

Dengan cara itu, makanan dapat dibaca lebih jauh: sebagai jejak hubungan manusia dengan lingkungan tempat tinggalnya, sebagai penanda perubahan ekonomi, sekaligus sebagai medium yang menyimpan ingatan keluarga dan masyarakat.

Pendekatan serupa digunakan untuk membaca pakaian. Sarung, kebaya, songkok, dan berbagai bentuk busana yang dikenakan masyarakat Gresik tidak hanya diperlakukan sebagai benda atau atribut identitas. Pakaian dibaca melalui hubungan antara tubuh, kebiasaan, ruang sosial, serta perubahan cara masyarakat membangun dan menampilkan identitasnya.

Irfan Akbar, Direktur Program mengaku bahwa Festival ini ditujukan untuk memperkaya narasi tentang ke-Gresik-an, “Kami tidak sedang mencari satu definisi tentang Gresik. Justru kami ingin membuka ruang agar warga dapat menceritakan Gresik dari pengalaman mereka sendiri. Festival ini adalah salah satu cara untuk mempertemukan kembali ingatan yang tersebar itu, mendokumentasikannya, lalu membawanya kembali kepada publik.”

Kampung sebagai Arsip

Kampung Kemasan, Kelurahan Pekelingan, Kecamatan/Kabupaten Gresik menjadi salah satu ruang penting dalam cara festival ini bekerja. Kawasan bersejarah tersebut tidak hanya digunakan sebagai latar penyelenggaraan acara. Jalan-jalan kampung, bangunan lama, rumah warga, hingga ruang-ruang yang sebelumnya kosong ikut menjadi bagian dari pengalaman festival.

Beberapa bangunan tua di sepanjang Kampung Kemasan diaktivasi sebagai ruang pamer dan presentasi. Jalan kampung menjadi ruang berjalan dan membaca. Warga terlibat dalam berbagai kegiatan, termasuk membuka usaha mikro dan kuliner selama festival berlangsung.

Dengan demikian, ruang bersejarah tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang beku dan hanya dapat dipandang dari kejauhan. Ia kembali digunakan sekaligus menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan kehidupan hari ini.

Di satu sisi, pengunjung dapat melihat jejak arsitektur dan sejarah kawasan. Di sisi lain, mereka berhadapan dengan cerita-cerita baru, hasil riset, makanan, aktivitas warga, dan berbagai bentuk ekspresi kebudayaan yang sedang berlangsung. Kampung dan gang, dalam konteks ini, tidak hanya menjadi lokasi, namun menjadi arsip yang masih hidup.

Belajar Membaca dari Warga

Festival Menjadi Gresik juga merupakan bagian dari proses yang lebih panjang, melalui Besali Studi Kultural, sebuah ruang belajar kolektif yang mendorong riset berbasis pengalaman, ingatan kolektif, tradisi lisan, dan praktik kehidupan warga.

Melalui proses panggilan terbuka dan kurasi, delapan kelompok dari berbagai latar belakang terpilih untuk melakukan pengamatan, wawancara, dokumentasi, pengarsipan, dan pengembangan pengetahuan kebudayaan.

Kelompok tersebut berasal dari berbagai komunitas dan institusi, antara lain DKV Universitas Internasional Semen Indonesia, CYG Team, Kronika SMAN 1 Gresik, Power Art SMAN 1 Gresik, Gresik Book Party, Universitas Muhammadiyah Gresik, Universitas Sunan Gresik, dan Niti Narasi.

Selama prosesnya, mereka mendapatkan fasilitasi kelas, pendampingan, hingga kesempatan mempresentasikan hasil riset kepada publik. Beragam objek menjadi pintu masuk penelitian, seperti pakaian adat, percampuran budaya masyarakat Tionghoa dan Arab, arsitektur Kampung Kemasan, Pasar Pahing, songkok dan tas besali, gulat okol, aksara Gresik, hingga laban di kawasan Pangkah.

Pilihan objek tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak hanya berada dalam bentuk kesenian yang telah dikenal secara luas. Ia juga dapat ditemukan dalam benda sehari-hari, ruang, bahasa, tubuh, permainan, pekerjaan, dan pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman masyarakat.

Bagi Yayasan Gang Sebelah, proses tersebut penting karena banyak pengetahuan lokal masih bertahan secara lisan dan bergantung pada orang-orang yang menguasainya. Ketika pengetahuan tidak dicatat atau diteruskan, ia berisiko hilang bersama perubahan generasi. Karena itu, riset dalam program ini tidak semata-mata ditujukan untuk menghasilkan karya.

Sejarah yang Belum Selesai

Pameran, film, E-Magazine, dokumentasi gastronomi, dan presentasi hasil riset dalam Festival Menjadi Gresik tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir. Seluruhnya merupakan bagian dari upaya membangun arsip pengetahuan yang dapat terus dikembangkan, dibaca kembali, diperdebatkan, bahkan dilengkapi oleh generasi berikutnya.

“Bagi kami, merawat kebudayaan bukan hanya menyelamatkan sesuatu dari masa lalu. Yang lebih penting adalah menjaga pengetahuan agar tetap bisa digunakan, dibicarakan, dan dimaknai oleh generasi hari ini. Karena itu, Menjadi Gresik bukan tentang mengulang masa lalu, melainkan tentang memahami apa yang membuat kita menjadi Gresik hari ini,” ujar Hidayatun Nikmah.

Menjadi Gresik mencoba memulai pembacaan dari tempat dan hal-hal yang sering kali tampak sederhana. Makanan yang dimasak di rumah, pakaian yang dikenakan, cerita yang disampaikan orang tua, tradisi yang dijalankan bersama, dan ingatan tentang tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari kehidupan. Melalui festival ini, warga tidak hanya ditempatkan sebagai penonton sejarah kotanya sendiri. Dan dalam ingatan yang mereka simpan, sebuah kota terus menemukan cara untuk menjadi dirinya sendiri. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Menjadi Gresik, Membaca Sejarah Kota dari Ingatan Warganya Selengkapnya

Cuaca Buruk, 8 Anggota Paskibraka Gresik asal Bawean Tertahan di Gresik, Silaturahmi ke DPRD Gresik 

GRESIK,1minute.id – Sebanyak delapan anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Gresik asal Pulau Bawean masih tertahan di Gresik daratan. 

Mereka belum bisa kembali karena moda transportasi laut ke pulau sejauh 180 mil laut terhenti. Transportasi laut lumpuh karena cuaca buruk. Para pelajar tersebut harus memperpanjang masa tinggal di Gresik hingga kondisi laut dinyatakan aman.

Untuk diketahui, delapan pelajar asal Pulau Putri, sebutan lain, Pulau Bawean tiba di Gresik sejak 2 Agustus 2026 atau 15 hari sebelum pelaksanaan pelaksanaan upacara HUT ke-81 Republik Indonesia di Kantor Bupati Gresik. Mereka bergabung dengan anggota Paskibraka lain untuk menjalani persiapan hingga karantina sebelum bertugas di halaman Kantor Bupati Gresik.

Pelaksanaan upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia berlangsung lancar dan sukses. Namun, setelah tugas pengibaran bendera selesai, anggota Paskibraka dari daerah lain telah kembali ke rumah masing-masing. Sementara delapan pelajar asal Bawean masih harus menunggu kepastian keberangkatan kapal.

Ketua DPRD Gresik Muhammad Syahrul Munir memastikan kebutuhan para pelajar tersebut tetap terpenuhi selama berada di Gresik. Penginapan mereka masih ditanggung oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakebangpol) Gresik sedangkan kebutuhan makan sehari-hari turut di fasilitasi.

“Untuk penginapan masih ditanggung Kesbangpol Gresik. Sementara kebutuhan makan sehari-hari kami bantu fasilitasi sampai mereka bisa kembali ke Bawean,” kata Syahrul usai bertemu dengan delapan anggota Paskibraka Gresik kepada wartawan pada Kamis, 27 Agustus 2026.

Menurutnya, pengalaman tersebut harus menjadi modal bagi para pelajar untuk terus berkembang dan mengejar prestasi di masa depan. “Kalian sudah menunjukkan prestasi dengan terpilih sebagai anggota Paskibraka. Jadikan pengalaman ini sebagai motivasi untuk terus belajar dan berprestasi. Selama menunggu kepulangan, tetap jaga kesehatan dan diri,” ujarnya.

Selain memberikan motivasi, Syahrul juga mengingatkan para pelajar agar bijak menyikapi derasnya informasi di media sosial. Mereka diminta tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

“Informasi di era digital bergerak sangat cepat. Karena itu, jangan mudah percaya atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Pastikan kebenarannya sebelum mempercayai maupun membagikannya,” jelasnya.

Sementara itu, anggota DPRD Gresik dari daerah pemilihan Bawean, Bustami Hazim, mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk memastikan kebutuhan delapan pelajar tersebut tetap terpenuhi selama berada di Gresik.

Pertemuan dengan Ketua DPRD Gresik juga dimanfaatkan para pelajar untuk menyampaikan sejumlah aspirasi, khususnya berkaitan dengan pendidikan dan kondisi generasi muda di Bawean. “Dalam pertemuan itu, mereka menyampaikan sejumlah aspirasi, terutama terkait pendidikan dan kondisi anak muda di Bawean. Aspirasi tersebut kami tampung untuk menjadi perhatian dan bahan tindak lanjut,” katanya. 

Bustami menjelaskan, selama menjalani karantina, kebutuhan para pelajar difasilitasi Kesbangpol Pemkab Gresik. Persoalan muncul setelah rangkaian tugas Paskibraka berakhir karena mereka harus menunggu kapal yang memungkinkan untuk menyeberangi Laut Jawa.

Pihaknya telah mencari verbagai alternatif untuk kepulangan mereka. Salah satunya melalui Pelabuhan Paciran, Lamongan. Para pelajar bahkan bersedia menggunakan jalur tersebut agar dapat lebih cepat kembali ke Bawean. Namun, upaya itu kembali terbentur kondisi cuaca. Kapal yang diharapkan membawa mereka pulang belum dapat berlayar dan masih tertahan di Bawean.

“Kami sempat mencari alternatif keberangkatan melalui Pelabuhan Paciran, Lamongan. Mereka juga bersedia menggunakan jalur tersebut agar bisa segera pulang. Namun, kapal belum dapat berlayar karena kondisi cuaca dan masih tertahan di Bawean,” tambahnya.

Kemudian mereka masih berada di Gresik dan menunggu Laut Jawa kembali bersahabat agar kapal dapat berlayar dan membawa mereka pulang. “Setelah menjalankan tugas sebagai Paskibraka dengan penuh kebanggaan, para pelajar itu masih harus bersabar menghadapi tantangan terakhir menunggu cuaca reda demi bisa kembali berkumpul bersama keluarga dan melanjutkan aktivitas di sekolah,” pungkasnya. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Cuaca Buruk, 8 Anggota Paskibraka Gresik asal Bawean Tertahan di Gresik, Silaturahmi ke DPRD Gresik  Selengkapnya

Peringatan Mualid Nabi Muhammad SAW di UPT SMP Negeri 2 Gresik Hadirkan Polwan untuk Meningkatkan Kesadaran dan Perlindungan terhadap Anak

GRESIK,1minute.id – Peringatan Mualid Nabi Muhammad SAW di UPT SMP Negeri 2 Gresik (Spendagres) terasa berbeda. Biasanya, perayaan peringatan kelahiran Rasulullah SAW mendatang kiai atau ustad. Tapi, sekolah berlokasi di Jalan KH Abdul Kholil, Gresik ini mendatangkan aparat kepolisian dari Satuan Binmas melalui Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Gresik. 

Dalam maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan pada Senin, 24 Agustus 2026 yang diikuti seluruh siswa dan tenaga pendidik ini mengusung tema “Meneledani Akhlak Rasulullah SAW” versi Gen Z, yakni 

Meningkatkan Kesadaran dan Perlindungan terhadap Anak. 

Menurut Kepala UPT SMP Negeri 2 Gresik Mohammad Salim, dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW itu, anggota 

Polisi Wanita (Polwan) Polres Gresik mengajak para siswa untuk memperbanyak kegiatan positif yang menguntungkan bagi masa depan. Selain itu, menghindari perbuatan yang merugikan diri sendiri seperti melakukan kekerasan fisik, narkoba, bullying dan kekerasan seksual dan lainnya. 

Kemudian, bagaimana cara menghindari masalah kekerasan ancaman bagi pelajar dari luar sekolah, berfikir sebelum bertindak,  menjauhi hal-hal buruk di media sosial (medsos) dan menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. “Jika mengetahui tindakan buruk segera lapor pada orang tua, guru, BK jika ada ancaman di dunia digital. Saring sebelum sharing informasi. Ceklis privasi data pribadi medsos, filter teman di medsos,” kata Mohammad Salim menirukan ucapan anggota Polwan Polres Gresik itu.

Mohammad Salim mengapresiasi kegiatan ini. “Kami sangat berterima kasih kepada Polres Gresik. Materi ini sangat relevan untuk membentuk karakter siswa yang berani, cerdas, dan saling menghargai,” katanya.

Melalui kegiatan ini, Polres Gresik dan UPT SMP Negeri 2 Gresik berkomitmen menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari kekerasan. Pihak sekolah juga akan memasang nomor layanan KBPA di aplikasi inovasi sekolah. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Peringatan Mualid Nabi Muhammad SAW di UPT SMP Negeri 2 Gresik Hadirkan Polwan untuk Meningkatkan Kesadaran dan Perlindungan terhadap Anak Selengkapnya

Khidmat, Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Gresik, Bupati Gresik Serahkan Penghargaan SSK Klasifikasi Paripurna kepada SMP Negeri 2 Gresik

GRESIK,1minute.id – Upacara HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Kantor Bupati Gresik berlangsung khidmat pada Senin, 17 Agustus 2026. Inspektur upacara Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani. 

Upacara diawali pembacaan naskah Proklamasi oleh Ketua DPRD Gresik Muhammad Syahrul Munir, kemudian dilanjutkan dengan prosesi pengibaran bendera Merah Putih oleh Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Gresik.

Usai upacara, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani didampingi Wakil Bupati Asluchul Alif menyerahkan Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya kepada sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian dan dedikasi mereka.

Selain tanda kehormatan,  Bupati Fandi Akhmad Yani juga menyerahkan penghargaan kepada Sekolah Lansia Tangguh (Selantang) 2025 terbanyak untuk Kecamatan Cerme, kemudian TPA inspiratif area permukiman tingkat nasional untuk TPA Taat, Desa Suci Kecamatan Manyar. 

Penghargaan juga turut diserahkan untuk pelayanan Keluarga Berencana Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (KB MKJP) metode operatif wanita terbanyak kepada Rumah Sakit Denisa serta penghargaan Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) Klasifikasi Paripurna kepada SMP Negeri 2 Gresik.

Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) klasifikasi paripurna adalah tingkat tertinggi bagi sekolah yang sukses memasukkan ilmu kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan keluarga ke dalam pelajaran, punya pojok kependudukan yang aktif, serta memenuhi semua syarat penilikan dari BKKBN.

Pemkab Gresik juga menyerahkan empat unit ambulans masing-masing kepada Puskesmas Bungah, Puskesmas Sangkapura, Puskesmas Wringinanom, dan Puskesmas Gending. Ambulans tersebut diharapkan memperkuat pelayanan dan penanganan kesehatan bagi masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Yani didampingi Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Banjarsari Kecamatan Cerme juga turut menyerahkan remisi kemerdekaan kepada dua warga binaan pemasyarakatan. Terakhir, Bupati Yani menyerahkan juara lomba Mini Soccer dan Padel antar-OPD dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Nonton Bareng (Nobar) siaran langsung peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI dari Istana Negara, Jakarta. Bupati Gresik bersama jajaran Forkopimda, pimpinan OPD, dan tamu undangan menyaksikan prosesi kenegaraan tersebut dalam suasana khidmat penuh kebersamaan. 

Sementara itu, Kepala UPT SMP Negeri 2 Gresik Mohammad Salim mengatakan, terimakasih atas apresiasi yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik. ” Kami sangat bangga dan terima kasih bapak Bupati ( Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani, Red). Tahun ini hanya SPENDA sekolah yang mendapatkan penghargaan di HUT ke-81 RI 2026,” kata Salim usai menerima penghargaan melalui pesan WhatsApp kepada 1minute.id pada Senin, 17 Agustus 2026.

Penghargaan ini, imbuhnya, akan menjadi motivasi bagi sekolah untuk terus berinovasi. “Untuk kedepannya sekolah akan berinovasi dengan penggunaan aplikasi poskadu ( pojok sekolah siaga kependudukan) yang di dalamnya terintegrasi kerjasama layanan konsultasi dengan Dispenduk, komisi pemberdayaan perempuan dan anak MUI Gresik, Bimbingan Remaja Usia Sekolah/Brus KUA Gresik, KBPPA dan GENRE Gresik,” katanya.  (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Khidmat, Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Gresik, Bupati Gresik Serahkan Penghargaan SSK Klasifikasi Paripurna kepada SMP Negeri 2 Gresik Selengkapnya

MUI Goes to School, Bekali Pelajar SMPN 2 Gresik Pentingnya Jaga Diri, Jaga Hati di Usia Remaja

GRESIK,1minute.id – Masa remaja menjadi fase penting dalam pembentukan karakter dan masa depan generasi muda. Karena itu, pelajar perlu dibekali pemahaman agama serta kesadaran untuk menjaga diri dari berbagai perilaku yang dapat merugikan masa depan.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI) Gresik Hj. Hajar Idris dalam kegiatan MUI Gresik Goes to School di UPT SMP Negeri 2 (Spenda) Gresik pada Senin, 10 Agustus 2026. Kegiatan yang diikuti seluruh siswa di halaman sekolah berada di Jalan KH Kholil, Gresik ini diinisiasi oleh Komisi Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga MUI Gresik.

Mengusung tema “Membina Karakter, Menginspirasi Generasi”, kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi bagi para pelajar untuk memahami pentingnya menjaga diri, menjaga pergaulan, serta membangun karakter sejak usia remaja. Ia pun mengingatkan para siswa agar menjadikan salat sebagai benteng utama dalam menjalani kehidupan

Ketua MUI Gresik Bidang Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga, Nyai Hj. Hajar Idris, mengingatkan para siswa agar menjadikan salat sebagai benteng utama dalam menjalani kehidupan. “Nasihat kami dari MUI yang pertama adalah mari jaga salatnya,” tuturnya.

Selain menjaga salat, Nyai Hajar juga menekankan pentingnya menghormati orang tua dan guru. Menurutnya, keduanya memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan mengarahkan anak-anak agar tidak salah dalam mengambil keputusan pada masa remaja.

Nyai Hajar juga mengingatkan para siswa, agar memahami risiko pergaulan bebas dan hubungan seksual sebelum menikah. Pesan tersebut disampaikan berdasarkan pengalaman MUI Gresik dalam memberikan Bimbingan Konseling kepada pemohon dispensasi nikah di Pengadilan Agama (PA) Gresik.

Ia mengungkapkan, dalam proses konseling tersebut, MUI banyak menemukan kasus anak-anak yang masih berusia belasan tahun sudah mengalami kehamilan sebelum menikah. “Kami melihat begitu tragisnya ketika MUI Gresik melakukan Bimbingan Konseling Pemohon Dispensasi Nikah di PA Gresik. Anak-anak yang masih berusia belasan tahun sudah hamil,” ungkapnya.

Karena itu, ia berharap para siswa SMP Negeri 2 Gresik tidak terjerumus dalam perilaku serupa. Menurutnya, masa remaja harus dijalani dengan menjaga kehormatan diri dan mempersiapkan masa depan. “Semoga para siswa-siswi SMP Negeri 2 Gresik jangan sampai melakukannya sebelum menikah,” pesannya.

Berdasarkan ketentuan hukum perkawinan di Indonesia, usia minimal perkawinan adalah 19 tahun bagi laki-laki maupun perempuan. “Kepada anak-anak, jangan terburu-buru mengambil keputusan untuk menikah pada usia anak, karena dapat membawa risiko terhadap kesiapan fisik maupun psikis. Kami juga berpesan untuk jaga diri dan jaga hati,” tegasnya.

Di sisi lain, Nyai Hajar mengapresiasi kebijakan UPT SMP Negeri 2 Gresik yang menerapkan pemisahan kelas antara siswa laki-laki dan perempuan. Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk menjaga pergaulan pelajar dan mendukung kemaslahatan mereka.

“Alhamdulillah SMP Negeri 2 Gresik kelasnya sudah pisah antara laki-laki dan perempuan. Ini luar biasa dan harus diapresiasi. Semoga ini bisa menjaga para siswa demi kemaslahatan kalian sendiri,” katanya.

Sementara itu, Kepala UPT SMP Negeri 2 Gresik Mohammad Salim, menyampaikan apresiasi kepada MUI Kabupaten Gresik, khususnya Komisi Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga, yang telah menghadirkan kegiatan edukatif tersebut di lingkungan sekolah.

“Kami selaku Kepala UPT SMPN 2 Gresik sangat berterima kasih kepada MUI Kabupaten Gresik, terutama Komisi Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga, yang telah memberikan kegiatan inspiratif dalam bentuk MUI Goes to School,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi para siswa, khususnya pelajar perempuan yang membutuhkan pengetahuan mengenai keputrian sebagai bekal menghadapi masa depan.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi anak-anak kami, terutama anak-anak perempuan yang butuh pengetahuan keputrian. Semoga anak-anak bisa memperoleh manfaat dari kegiatan ini, terutama bekal untuk masa depannya,” tutur pria yang juga merupakan Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Kabupaten Gresik tersebut. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

MUI Goes to School, Bekali Pelajar SMPN 2 Gresik Pentingnya Jaga Diri, Jaga Hati di Usia Remaja Selengkapnya

Pemkab Gresik Perkuat Kompetensi Santri dan Siswa SMK berbasis Pesantren Kebutuhan Dunia Industri

GRESIK,1minute.id –  Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) A. Muhaimin Iskandar  mendorong pertumbuhan industri di Kabupaten Gresik berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat. Penguatan kualitas sumber daya manusia dinilai penting agar masyarakat lokal dapat mengambil peluang kerja dari perkembangan industri di daerah.

“Jangan sampai industri tumbuh besar, tetapi masyarakat di sekitarnya justru tertinggal. Ini yang harus kita koreksi. Pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya mengandalkan trickle down effect,” ujar Cak Imin, sapaan akrab, A. Muhaimin Iskandar saat mengunjungi Pondok Pesantren Ihyaul Ulum, Kecamatan Dukun, Kabupaten, Jawa Timur pada Sabtu, 8 Agustus 2026. 

Menurutnya, pesantren dapat menjadi salah satu pusat pemberdayaan masyarakat yang menghubungkan pendidikan, dunia kerja, UMKM, dan akses ekonomi. Karena itu, penguatan kompetensi santri dan siswa SMK berbasis pesantren perlu diselaraskan dengan kebutuhan dunia industri.

“Pesantren harus menjadi pusat pemberdayaan. Bukan hanya mencetak SDM unggul, tetapi juga membuka akses kerja dan kemudahan berusaha bagi masyarakat,” imbuhnya. 

Penguatan akses kerja tersebut dilakukan melalui link and match SMK berbasis pesantren dengan dunia industri. Dari 62 SMK di Kabupaten Gresik, sebanyak 35 di antaranya berbasis pesantren dengan sekitar 7.883 siswa. Kerja sama vokasi diarahkan untuk menyelaraskan kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri, memperkuat sertifikasi, serta membuka akses penempatan kerja.

“Anak-anak SMK berbasis pesantren harus memiliki akses yang sama ke dunia industri. Jangan sampai industri tumbuh besar, tetapi lulusan di sekitarnya tidak terserap karena kompetensinya tidak tersambung dengan kebutuhan industri,” tegas Cak Imin.

Cak Imin mengatakan Gresik memiliki modal sosial yang besar dengan 211 pesantren dan sekitar 10.857 santri. Potensi tersebut perlu dihubungkan dengan kekuatan industri dan peluang ekonomi agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton pertumbuhan ekonomi.

Menanggapi hal tersebut, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan Pemerintah Kabupaten Gresik terus memperkuat keterhubungan antara pendidikan vokasi dan kebutuhan industri melalui Tim Vokasi Daerah serta kolaborasi dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Gresik.

“Pengembangan konsep sosio-ekonomi pesantren ini kami implementasikan melalui kerja sama Tim Vokasi Daerah, yaitu diketuai oleh Pak Sekda. Kemudian MoU dengan Kadin Kabupaten Gresik untuk mendampingi pemberdayaan talenta, skill dan kompetensi yang sasarannya adalah SMK,” kata Gus Yani, sapaan karib, Fandi Akhmad Yani. 

Menurutnya, penguatan kompetensi tersebut menyasar SMK yang berada di lingkungan pesantren maupun SMK di luar pesantren. Pemkab Gresik tidak hanya mendorong peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan bahasa dan talenta siswa agar lebih siap menghadapi kebutuhan industri.

“Kami ingin ada pemberdayaan, peningkatan kapasitas, peningkatan skill, peningkatan bahasa, semuanya ditujukan kepada masyarakat Kabupaten Gresik agar tumbuh kembang bersama antara industri yang disampaikan oleh Pak Menko dengan kompetensi yang ada melalui anak-anak SMK,” ujarnya.

Gus Yani menilai kebutuhan peningkatan kompetensi semakin penting seiring berkembangnya investasi di Kabupaten Gresik. Masuknya investasi dari luar negeri, termasuk China, menurutnya harus diikuti dengan kesiapan tenaga kerja lokal agar masyarakat Gresik dapat mengambil peluang kerja yang tersedia.

Ia mencontohkan kemampuan bahasa asing sebagai salah satu kompetensi tambahan yang perlu dimiliki lulusan SMK untuk meningkatkan daya saing di tengah perkembangan industri. “Oh, ternyata teknologinya cukup tinggi. Investasinya China, minimal lulusan SMK itu bisa bahasa China, minimal lulusan SMK itu punya talenta-talenta terbaik,” pungkasnya

Untuk mendukung penguatan kompetensi tersebut, Pemkab Gresik menyiapkan dukungan anggaran melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker). Dukungan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas dan kesiapan tenaga kerja lokal agar sesuai dengan kebutuhan dunia industri.

Melalui penguatan pendidikan vokasi, kolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri, serta pemberdayaan pesantren, Pemkab Gresik berupaya memastikan perkembangan industri di daerah turut membuka peluang yang lebih besar bagi masyarakat lokal. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Pemkab Gresik Perkuat Kompetensi Santri dan Siswa SMK berbasis Pesantren Kebutuhan Dunia Industri Selengkapnya

Mensos Syaifullah Yusuf Apresiasi Pemkab Gresik dalam Penjangkauan Siswa Sekolah Rakyat bagi Keluarga Prasejahtera

GRESIK,1minute.id – Menteri Sosial Saifullah Yusuf memberikan apresiasi tinggi kepada Bupati Fandi Akhmad Yani atas keberhasilan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik dalam melakukan penjangkauan aktif untuk memenuhi kuota siswa-siswi Sekolah Rakyat. Hal ini disampaikan Mensos Saifullah Yusuf saat mengunjungi Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) I di Desa Raci Tengah, Kecamatan Sidayu pada Senin, 3 Agustus 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Mensos Saifullah Yusuf mengatakan, proses rekrutmen calon murid Sekolah Rakyat menggunakan pola penjangkauan terhadap keluarga miskin. Pihaknya menegaskan tidak ada praktik titip-titipan atau percaloan dalam proses rekrutmen calon murid Sekolah Rakyat. “Tidak ada titip-titipan dalam proses penjangkauan calon siswa Sekolah Rakyat. Tidak ada titipan gubernur, bupati, camat, atau kepala desa,” tegas Gus Ipul, sapaan akrab, Syaifullah Yusuf. 

Gus Ipul menjelaskan, untuk tahun ajaran baru di Kabupaten Gresik tercatat sebanyak 405 siswa resmi memulai aktivitas Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Permanen. Distribusi peserta didik terbagi secara merata ke dalam tiga jenjang pendidikan, yakni 90 siswa Sekolah Dasar (SD), 90 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan 90 siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), termasuk 75 SRMA dan 60 siswa titipan dari Lamongan.

“Terima kasih Bupati Gresik, meskipun pembangunan SRT belum rampung 100% namun sudah bisa ditempati dan memenuhi kuota di masing-masing jenjang. Sebelum memasuki kegiatan belajar-mengajar secara penuh, seluruh siswa diwajibkan mengikuti rangkaian MPLS untuk mengenal lingkungan sekolah, sistem pembelajaran, serta kehidupan di sekolah berasrama yang diterapkan di Sekolah Rakyat,” ungkapnya.

Selain itu, ia melanjutkan, untuk MPLS di Sekolah Rakyat  tahun ajaran 2026/2027 ini ada Program Taruna Bhakti Akademi Militer TNI dan Akademi Kepolisian yang ditempatkan di Sekolah Rakyat. Lebih dari 1.000 taruna dari Akademi TNI dan Akademi Kepolisian (Akpol) terpilih mengikuti program tersebut. Sebanyak lima taruna ditempatkan di setiap titik Sekolah Rakyat untuk melaksanakan pendampingan selama lima hari.

“Penempatan taruna Akademi TNI dan Akpol melalui Program Taruna Bhakti bertujuan membangun fondasi karakter, melatih kemandirian, serta menjadi teladan bagi siswa Sekolah Rakyat selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS),” tegasnya.

Ia menambahkan, konsep Sekolah Rakyat menjadi program prioritas Presiden Prabowo Subianto. Target sasaran Sekolah Rakyat adalah anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem agar mereka mendapatkan layanan pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan berkeadilan. Program ini bagian dari upaya pemerintah memutus mata rantai kemiskinan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Sekolah Rakyat dimulai sejak 2025 dengan beroperasinya sekolah rintisan di 166 lokasi dengan sekitar 15.000 siswa baik jenjang SD, SMP, dan SMA. Sekarang, anak-anak yang dahulu putus harapan kini Sekolah Rakyat menjawab mereka dalam meraih impian dan cita-citanya,” tutup Gus Ipul.

MPLS siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Gresik dimulai Jumat, 31 Juli 2026 hingga 21 Agustus 2026. Sekolah berasrama gratis menempati lahan seluas  6,5 hektare. Sebanyak 19 dari 26 gedung atau fasilitas telah berdiri. Fasilitas itu, antara lain, ruang kelas, gedung asrama, aula berkapasitas 1000 tempat duduk , laboratorium, perpustaan, masjid hingga lapangaa sepak bola. 

Di tempat sama, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani, menyampaikan jika keberadaan Sekolah Rakyat merupakan wujud nyata komitmen negara dalam memberikan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera, terutama yang termasuk dalam kategori miskin ekstrem.

“Sekolah Rakyat ini memberikan kesempatan kepada anak-anak dari keluarga yang belum beruntung. Termasuk mereka dari keluarga miskin ekstrem, untuk belajar dan berpeluang menjadi orang sukses di masa depan. Ini adalah mandat dari Bapak Presiden Prabowo Subianto,” ujar Gus Yani, sapaan akrab, Fandi Akhmad Yani. 

Ia menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas beroperasinya gedung permanen tersebut. Menurut Gus Yani, sapaan akrab bupati, Sekolah Rakyat Terintegrasi merupakan program prioritas hasil kolaborasi nyata dengan pemerintah pusat guna memutus mata rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan berkualitas.

“Alhamdulillah ada 405 siswa dengan rincian dari SD, SMP, SMA masing-masing 90 juga ada 75 siswa SRMA yang sudah berjalan satu tahun serta 60 anak dari Kabupaten Lamongan. Melalui sekolah berasrama gratis ini, kita ingin melahirkan generasi unggul yang berkarakter kuat. Kami memadukan kurikulum standar nasional dengan kearifan lokal yang religius agar para siswa siap menghadapi masa depan,” ujar Gus Yani di sela-sela peninjauan lokasi.

Dalam kunjungan tersebut, Gus Ipul didampingi Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani dan Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Gresik dr. Ummi Khoiroh. Selain meninjau fasilitas Sekolah Rakyat yang berdiri di atas lahan seluas 6,5 hektare, juga mengajak berdialog langsung dengan para siswa.

Turut mendampingi kunjungan kerja Mensos RI Saifullah Yusuf, Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur Restu Novi Widiani, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Gresik Ummi Khoiroh, Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi I Kabupaten Gresik Rangga Pratama, Pendamping Keluarga Harapan (PKH), serta TAGANA jajaran Dinas Sosial Kabupaten Gresik. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Mensos Syaifullah Yusuf Apresiasi Pemkab Gresik dalam Penjangkauan Siswa Sekolah Rakyat bagi Keluarga Prasejahtera Selengkapnya

Mahasiswa UINSA Surabaya Lakukan PLP, Observasi Budaya Sekolah di UPT SMP Negeri 2 Gresik

GRESIK,1minute.id – Sebanyak sepuluh mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya melakukan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) ke UPT SMP Negeri 2 (Spenda) Gresik. 

Selama sepuluh hari, mulai Rabu, 29 Juli 2026, mahasiswa strata-1 itu, akan melaksanakan kegiatan observasi budaya sekolah, aspek pembelajaran dan pengelolaan pendidikan satuan pendidikan di sekolah yang dipimpin oleh Mohammad Salim itu. Puluhan mahasiswa PLP gelombang pertama didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan Dr. Suparto.

Pada kesempatan itu, Dosen Pembimbing Lapangan Dr. Suparto berpesan agar mahasiswa mampu memahami bahwa pengalaman tambahan lapangan ini akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan. “Jadikan UPT SMP Negeri 2 ini sebagai rumah kedua untuk menimba ilmu sebanyak mungkin karena sekokah ini sudah teruji sangat baik, sekolah luar biasa yang ada di Gresik,” ujar Suparto.

Kepala UPT SMP Negeri 2 Gresik Mohammad Salim mengatakan, Spenda Gresik sudah menjadi jujukan kemitraan dengan UINSA dikarenakan berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik bagi mahasiswa yang ingin menimba keilmuan lapangan sebagai bekal mereka dikemudian hari. 

“Mahasiswa S1 UINSA Surabaya melakukan PLP di Spenda selama 10 hari. Nanti akan ada PLP 2 lanjutan yang akan di laksanakan 3 bulan berupa praktik 10% , 50% dan 100%. Bahkan penelitian skripsinya pun disini,” ujar Mohammad Salim melalui pesan WhatsApp. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Mahasiswa UINSA Surabaya Lakukan PLP, Observasi Budaya Sekolah di UPT SMP Negeri 2 Gresik Selengkapnya

Gubernur Khofifah bersama Sekda Gresik Sapa Siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Gresik

GRESIK,1minute.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengunjungi Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Gresik  pada Sabtu, 1 Agustus 2026. 

Dalam kunjungan di sekolah berlokasi di Desa Raci Tengah, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik itu, Gubernur Khofifah didampingi diantaranya, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman menyampaikan, bahwa Sekolah Rakyat merupakan wujud kehadiran negara dalam memberikan akses pendidikan berkualitas sekaligus menjadi upaya memutus mata rantai kemiskinan.

Gubernur Khofifah disambut para siswa yang membawa bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan di tengah lapangan sekolah. SRT 1 Gresik berdiri di atas lahan seluas 6,5 hektare. Sebanyak 405 peserta di didik yang belajar di sekolah berasrama jenjang SD, SMP dan SMA dan gratis itu. Rinciannya, setiap  sebanyak 90 siswa. Para peserta didik ini berasal dari 161 desa yang tersebar di 18 kecamatan se-Kabupaten Gresik, ditambah 60 siswa jenjang SMA titipan dari Kabupaten Lamongan dan siswa kelas XI sebanyak 75 siswa.

Fasilitas SRT 1 Gresik komplit. Mulai ruang kelas, laboratorium, perpustaan, kantin, masjid hingga lapangan sepak bola. Mereka yang belajar adalah anak-anak dari keluarga desil 1 dan 2, atau sangat miskin dan miskin.

Gubernur Khofifah menyampaikan rasa bahagianya dapat melihat secara langsung keseharian para siswa di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Gresik. Menurutnya, Sekolah Rakyat tidak hanya memberikan akses pendidikan, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kemandirian bagi anak-anak.

Dalam kunjungan tersebut, Khofifah meninjau sejumlah fasilitas pendukung sekolah, di antaranya kantin, masjid, dan aula sekolah. Ia juga menyapa para siswa serta memberikan bantuan kepada wali asrama dan para pekerja pendukung di lingkungan Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Gresik.

Khofifah menyampaikan bahwa penyelenggaraan Sekolah Rakyat terintegrasi membutuhkan persiapan yang matang, terutama dalam penyesuaian kurikulum karena mencakup beberapa jenjang pendidikan dalam satu lingkungan. Selain itu, ia menyoroti pentingnya pendampingan bagi siswa yang masih beradaptasi dengan sistem pendidikan berasrama.

“Meyakinkan orang tua agar anak kelas 1 SD berasrama itu tidak mudah. Ada anak yang sudah langsung merasa nyaman berada di asrama, tapi ada juga anak yang homesick. Nah, bagi yang homesick ini perlu ada pendampingan khusus supaya mereka tidak berontak minta pulang. Penguatan juga diberikan saat anggota keluarganya berkesempatan menengok,” ujar Khofifah.

Ia juga berpesan kepada pihak sekolah dan pengelola Sekolah Rakyat agar memberikan perhatian terhadap perlindungan anak, khususnya pencegahan perundungan di lingkungan sekolah.

“Pesan saya kepada para kepala sekolah, pastikan lingkungan sekolah benar-benar bebas dari perundungan. Anak-anak kelas 1 SD ini masih sangat rentan dan belum bisa membela diri. Di sinilah mereka sangat membutuhkan pendampingan dan perlindungan kita,” tuturnya 

Lebih lanjut, Khofifah meminta agar sebulan sekali menghadirkan psikolog untuk berdialog dengan anak-anak SD, untuk mengetahui kondisi dan perasaan siswa yang tentu apa yang mereka rasakan berbeda dengan anak SMP maupun SMA.

Menurutnya, program ini merupakan cara paling efektif untuk memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan. Sebelumnya, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani juga menyampaikan bahwa Sekolah Rakyat bukan sekadar program pemerintah, melainkan komitmen bersama untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam memperoleh pendidikan dan kesempatan meraih masa depan yang lebih baik.

Pemerintah Kabupaten Gresik berharap keberadaan Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Gresik dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta memberikan kesempatan pendidikan yang lebih luas bagi masyarakat. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Gubernur Khofifah bersama Sekda Gresik Sapa Siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Gresik Selengkapnya