Menjadi Gresik, Membaca Sejarah Kota dari Ingatan Warganya

GRESIK,1minute.id— Lembar-lembar kain menggantung di sepanjang jalan Kampung Kemasan. Di atasnya tersimpan potongan ingatan warga tentang Gresik: cerita tentang kampung, makanan, keluarga, kebiasaan, dan hal-hal kecil yang selama ini hidup dalam keseharian.

Di antara bangunan-bangunan tua yang berdiri sejak ratusan tahun lalu, lembaran kain itu menjadi semacam arsip terbuka. Pengunjung berjalan menyusuri kampung, membaca cerita, memasuki bangunan lama yang kini diaktivasi menjadi ruang pamer, sekaligus berjumpa dengan warga dan aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitarnya.

Pengalaman itu menjadi salah satu cara Festival Menjadi Gresik mengajak publik membaca kembali sebuah kota. Selama ini, kerap ditemukan dalam arsip, bangunan bersejarah, catatan perdagangan, kisah kerajaan, tokoh-tokoh besar, atau peristiwa politik. Semua itu penting untuk memahami perjalanan sebuah daerah. Namun, ada bagian lain dari sejarah yang tidak selalu tersimpan dalam dokumen resmi. Ia hidup dalam ingatan warga.

Dalam makanan yang dimasak secara turun-temurun. Dalam pakaian yang dikenakan dalam keseharian. Dalam tradisi kampung, cerita keluarga, bahasa, kebiasaan, dan pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Gagasan itulah yang menjadi titik berangkat Festival Menjadi Gresik, program yang digagas Yayasan Gang Sebelah dan berlangsung pada 15–30 Agustus 2026 di Kampung Kemasan, Gresik.

Festival ini mencoba menghadirkan cara lain untuk membaca kota, dengan menempatkan pengalaman, ingatan, dan pengetahuan warga sebagai bagian penting dari sumber kebudayaan.

“Menjadi Gresik berangkat dari kegelisahan bahwa sejarah kota sering kali diceritakan melalui narasi besar, sementara pengetahuan yang hidup dalam keseharian warga justru luput dicatat. Padahal, dari dapur, pakaian, makanan, kampung, hingga cerita yang diwariskan antargenerasi, kita bisa melihat bagaimana sebuah masyarakat membentuk identitas kotanya,” ujar Hidayatun Nikmah, Direktur Festival Menjadi Gresik.

Membaca Kota dari Hal-Hal yang Dekat

Menjadi Gresik tidak berangkat dari upaya mencari satu definisi tunggal mengenai Gresik. Sebaliknya, festival ini mencoba membuka berbagai pintu untuk memahami kota melalui hal-hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Dapur, pasar, kampung, makanan, pakaian, ruang bersejarah, hingga ingatan personal menjadi medium untuk melihat hubungan antara sejarah, identitas, dan kehidupan sosial.

Salah satu pendekatan yang digunakan adalah gastronomi. Makanan tidak hanya dipahami sebagai hidangan atau produk kuliner, tetapi sebagai pengetahuan yang memiliki hubungan dengan lingkungan, ekonomi, keluarga, sejarah, dan kehidupan sosial masyarakat.

Melalui Seri Gastronomi, Yayasan Gang Sebelah melakukan riset dan dokumentasi terhadap sejumlah makanan khas Gresik, antara lain bandeng keropok, jubung, dan bubur roomo.

Proses tersebut tidak berhenti pada pencatatan resep. Penelusuran dilakukan terhadap bahan baku, teknik pengolahan, cara penyajian, pelaku yang mempertahankan tradisi, hingga cerita dan ingatan yang menyertai perjalanan makanan tersebut.

Hasil riset kemudian dikembangkan dalam berbagai bentuk, termasuk film dokumenter yang mempertemukan pengetahuan para pelaku dengan masyarakat yang mungkin selama ini mengenal makanan tersebut hanya sebagai bagian dari keseharian.

Dengan cara itu, makanan dapat dibaca lebih jauh: sebagai jejak hubungan manusia dengan lingkungan tempat tinggalnya, sebagai penanda perubahan ekonomi, sekaligus sebagai medium yang menyimpan ingatan keluarga dan masyarakat.

Pendekatan serupa digunakan untuk membaca pakaian. Sarung, kebaya, songkok, dan berbagai bentuk busana yang dikenakan masyarakat Gresik tidak hanya diperlakukan sebagai benda atau atribut identitas. Pakaian dibaca melalui hubungan antara tubuh, kebiasaan, ruang sosial, serta perubahan cara masyarakat membangun dan menampilkan identitasnya.

Irfan Akbar, Direktur Program mengaku bahwa Festival ini ditujukan untuk memperkaya narasi tentang ke-Gresik-an, “Kami tidak sedang mencari satu definisi tentang Gresik. Justru kami ingin membuka ruang agar warga dapat menceritakan Gresik dari pengalaman mereka sendiri. Festival ini adalah salah satu cara untuk mempertemukan kembali ingatan yang tersebar itu, mendokumentasikannya, lalu membawanya kembali kepada publik.”

Kampung sebagai Arsip

Kampung Kemasan, Kelurahan Pekelingan, Kecamatan/Kabupaten Gresik menjadi salah satu ruang penting dalam cara festival ini bekerja. Kawasan bersejarah tersebut tidak hanya digunakan sebagai latar penyelenggaraan acara. Jalan-jalan kampung, bangunan lama, rumah warga, hingga ruang-ruang yang sebelumnya kosong ikut menjadi bagian dari pengalaman festival.

Beberapa bangunan tua di sepanjang Kampung Kemasan diaktivasi sebagai ruang pamer dan presentasi. Jalan kampung menjadi ruang berjalan dan membaca. Warga terlibat dalam berbagai kegiatan, termasuk membuka usaha mikro dan kuliner selama festival berlangsung.

Dengan demikian, ruang bersejarah tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang beku dan hanya dapat dipandang dari kejauhan. Ia kembali digunakan sekaligus menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan kehidupan hari ini.

Di satu sisi, pengunjung dapat melihat jejak arsitektur dan sejarah kawasan. Di sisi lain, mereka berhadapan dengan cerita-cerita baru, hasil riset, makanan, aktivitas warga, dan berbagai bentuk ekspresi kebudayaan yang sedang berlangsung. Kampung dan gang, dalam konteks ini, tidak hanya menjadi lokasi, namun menjadi arsip yang masih hidup.

Belajar Membaca dari Warga

Festival Menjadi Gresik juga merupakan bagian dari proses yang lebih panjang, melalui Besali Studi Kultural, sebuah ruang belajar kolektif yang mendorong riset berbasis pengalaman, ingatan kolektif, tradisi lisan, dan praktik kehidupan warga.

Melalui proses panggilan terbuka dan kurasi, delapan kelompok dari berbagai latar belakang terpilih untuk melakukan pengamatan, wawancara, dokumentasi, pengarsipan, dan pengembangan pengetahuan kebudayaan.

Kelompok tersebut berasal dari berbagai komunitas dan institusi, antara lain DKV Universitas Internasional Semen Indonesia, CYG Team, Kronika SMAN 1 Gresik, Power Art SMAN 1 Gresik, Gresik Book Party, Universitas Muhammadiyah Gresik, Universitas Sunan Gresik, dan Niti Narasi.

Selama prosesnya, mereka mendapatkan fasilitasi kelas, pendampingan, hingga kesempatan mempresentasikan hasil riset kepada publik. Beragam objek menjadi pintu masuk penelitian, seperti pakaian adat, percampuran budaya masyarakat Tionghoa dan Arab, arsitektur Kampung Kemasan, Pasar Pahing, songkok dan tas besali, gulat okol, aksara Gresik, hingga laban di kawasan Pangkah.

Pilihan objek tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak hanya berada dalam bentuk kesenian yang telah dikenal secara luas. Ia juga dapat ditemukan dalam benda sehari-hari, ruang, bahasa, tubuh, permainan, pekerjaan, dan pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman masyarakat.

Bagi Yayasan Gang Sebelah, proses tersebut penting karena banyak pengetahuan lokal masih bertahan secara lisan dan bergantung pada orang-orang yang menguasainya. Ketika pengetahuan tidak dicatat atau diteruskan, ia berisiko hilang bersama perubahan generasi. Karena itu, riset dalam program ini tidak semata-mata ditujukan untuk menghasilkan karya.

Sejarah yang Belum Selesai

Pameran, film, E-Magazine, dokumentasi gastronomi, dan presentasi hasil riset dalam Festival Menjadi Gresik tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir. Seluruhnya merupakan bagian dari upaya membangun arsip pengetahuan yang dapat terus dikembangkan, dibaca kembali, diperdebatkan, bahkan dilengkapi oleh generasi berikutnya.

“Bagi kami, merawat kebudayaan bukan hanya menyelamatkan sesuatu dari masa lalu. Yang lebih penting adalah menjaga pengetahuan agar tetap bisa digunakan, dibicarakan, dan dimaknai oleh generasi hari ini. Karena itu, Menjadi Gresik bukan tentang mengulang masa lalu, melainkan tentang memahami apa yang membuat kita menjadi Gresik hari ini,” ujar Hidayatun Nikmah.

Menjadi Gresik mencoba memulai pembacaan dari tempat dan hal-hal yang sering kali tampak sederhana. Makanan yang dimasak di rumah, pakaian yang dikenakan, cerita yang disampaikan orang tua, tradisi yang dijalankan bersama, dan ingatan tentang tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari kehidupan. Melalui festival ini, warga tidak hanya ditempatkan sebagai penonton sejarah kotanya sendiri. Dan dalam ingatan yang mereka simpan, sebuah kota terus menemukan cara untuk menjadi dirinya sendiri. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Menjadi Gresik, Membaca Sejarah Kota dari Ingatan Warganya Selengkapnya

Pegiat UMKM dan Warga Kibarkan Bendera Merah Putih Raksasa Berkibar di Bukit Tanatuju

GRESIK,1minute.id – Puluhan pegiat UMKM, pemuda, dan warga Gresik mengibarkan Bendera Merah Putih berukuran 15 x 9 meter di kawasan Tanatuju, Jalan Dewi Sekardadu, Dusun Gunungsari, Desa Sidomoro, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik pada Sabtu sore, 15 Agustus 2026.

Bendera raksasa itu berkibar di kawasan perbukitan dengan ketinggian sekitar 150 meter di atas permukaan laut (mdpl) terlihat gagah. Pengibaran bendera tersebut dilakukan sebagai bentuk kecintaan terhadap Tanah Air sekaligus menyemarakkan peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia. 

Ketua Earth Hour (EH) Gresik M Zubaidi mengatakan pengibaran Bendera Merah Putih di kawasan perbukitan tersebut merupakan wujud kecintaan masyarakat terhadap Indonesia. “Kegiatan pengibaran bendera merah putih di salah satu bukit dengan ketinggian di Kabupaten Gresik ini merupakan wujud kecintaan kami sebagai warga negara Indonesia dalam momentum Hari Kemerdekaan,” ujarnya pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Menurut Zubaidi, pengibaran bendera raksasa di ketinggian sekitar 150 mdpl membutuhkan persiapan khusus. Hal itu dilakukan agar bendera berukuran 15 x 9 meter tersebut dapat berkibar dengan sempurna. “Pengibaran bendera ini semoga dapat memberikan motivasi kepada kami untuk terus mengisi kemerdekaan dengan kegiatan yang positif dan lebih mencintai Indonesia yang sudah merdeka selama 81 tahun,” katanya.

Ia menambahkan, persiapan matang diperlukan mengingat ukuran bendera yang cukup besar serta lokasi pengibaran berada di kawasan perbukitan.

Sementara itu, tokoh masyarakat Kelurahan Ngagrosari, Kecamatan Kebomas, Kabupateb Gresik Effendi, menilai kegiatan tersebut menjadi momentum positif untuk menumbuhkan kembali jiwa nasionalisme dan rasa cinta Tanah Air. “Pengibaran bendera raksasa ini bukan sekadar simbol, tetapi juga pesan bahwa semangat kemerdekaan harus terus hidup, terutama di kalangan generasi muda,” tegasnya. 

Ia berharap kegiatan serupa dapat menginspirasi masyarakat untuk menjaga persatuan, menghargai perjuangan para pahlawan, serta mengisi kemerdekaan dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat.

Diketahui Pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengimbau seluruh pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengibarkan Bendera Merah Putih secara serentak selama Bulan Kemerdekaan, mulai 1 hingga 31 Agustus 2026. Imbauan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Ketentuan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 400.10.1.1/5487/SJ tentang Sosialisasi Tema dan Logo HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang ditetapkan di Jakarta pada 27 Juli 2026 dan ditandatangani Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Pegiat UMKM dan Warga Kibarkan Bendera Merah Putih Raksasa Berkibar di Bukit Tanatuju Selengkapnya

Sanggar Lentera Gelar Pameran “Runcang Runcung”, Riyanto Pamerkan Karya Indonesiaku dan Bandar Grissee 

GRESIK,1minute.id – Sanggar Lentera menggelar pameran lukisan di Galeri Sawunggaling Taman Budaya Jawa Timur. Pameran yang mengusung tema “Runcang Runcung” ini diikuti tujuh pelukis digelar mulai 2-7 Desember 2025. Semuanya perupa Kota Santri, sebutan lain, Kabupaten Gresik.

Tujuh pelukis itu, yakni, Kris Adji A.W ; M. Syarifuddin ; Achmad Feri ; Achmad Syafi’i ; Erfi Sulistiyanto ; Achmad Huseaini dan Muhammad Riyanto. Mereka memiliki aliran masing-masing. Kris Adji misalnya, dengan lukisan realisme,  Achmad Feri, misalnya, pelukis abstrak. Kemudian, Muhammad Riyanto dikenal sebagai pelukis kaligrafi dan juga aliran surialisme. 

Pameran dalam rangkaian HUT ke-45 Sanggar Lentera (1980-2025) yang home base-nya diinisiasi oleh Kris Adji A.W, seniman Gresik ini menjadi khazanah baru bagi pencinta karya lukis di Indonesia wabil khusus bagi arek-arek Suroboyo. 

Lukisan berjudul “Indonesiaku” karya Riyanto, misalnya. Dalam lukisan tiga dimensi itu, terdapat nama-nama daerah, kota, kuliner, tari, budaya dan adat Khas Indonesia. Tulisan sangat kecil dengan background batik kombinasi corak Indonesia. Background batik corak Indonesia dengan frame corak tikar berwarna keemasan menjadi karya Riyanto ini menarik perhatian penggemar lukisan di Kota Pahlawan Surabaya itu.

“Lukisan Indonesiaku, yang berisi semua daerah, kota, makanan, tarian, budaya rumah adat khas Indonesia karya terbaru saya,” ujar Riyanto melalui pesan WhatsApp pada Jumat, 5 Desember 2025. Lukisan “Indonesiaku” ini berbeda dengan karya-karya pelukis lainnya. Lazimnya, pengunjung pameran dilarang untuk memegang karya pelukis. 

Pelukis alumnus Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Al-slamiyah asuhan KH. Muhammad Bashori Mansyur, Tambak Osowilangun, Surabaya ini memperbolehkan para penikmat untuk memegang bahkan memutar 360 derajat. ” Pemeran ini, Kulo bawa 5 karya. Ada 3 kaligrafi tasawuf dan 2 surealis gerak menggunakan AI,” tegasnya.

Riyanto yang tinggal di Gresik ini, juga menyoroti perkembangan di Kota Industri, sebutan lain, Kabupaten Gresik. Gresik yang dikenal sebagai salah satu kota pelabuhan tertua di Indonesia tidak luput dari goresan tangannya. Ia melukis karya instalasi dengan menggunakan jaring alias jala ikan. “Ini simbol Gresik sebagai kota dengan Pelabuhan yang terkenal dimasanya, Bandar Grissee,” terang pelukis pernah belajar kaligrafi di KH.M Faiz Abdur Razaq, Khattat International dari Bangil itu. (yad)

Sanggar Lentera Gelar Pameran “Runcang Runcung”, Riyanto Pamerkan Karya Indonesiaku dan Bandar Grissee  Selengkapnya

Dua Film Karya Sineas Gresik Movie Diputar di IWAFF Australia

GRESIK,1minute.id – Dua film karya Gresik Movie diputar di hadapan publik Australia Barat melalui rangkaian Indonesia – Western Australia Film Festival (IWAFF) 2025. Dua film pendek yang di sutradarai oleh Irvan Akbar itu berjudul “Gemintang” dan “Salah Melihat Jalan Surga”.

Dua film itu resmi diputar pada Sabtu, 27 September 2025 ini menjadi wadah penting untuk mempertemukan film pendek Jawa Timur dengan penonton internasional, sekaligus memperluas ruang apresiasi terhadap sinema Indonesia.

IWAFF merupakan agenda tahunan yang lahir pada 2024 atas kerja sama Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan mitra di Australia Barat. Tujuannya adalah mempromosikan budaya dan bahasa Indonesia lewat medium film pendek, sekaligus mempererat hubungan Sister State/Province antara Jawa Timur dan Australia Barat.

Pada 2025, IWAFF diselenggarakan di dua lokasi bergengsi: Luna on SX Fremantle (berkolaborasi dengan Totally Lit Fremantle Festival) pada 27 September – 1 Oktober 2025, serta The Backlot Perth pada 2 – 4 Oktober 2025. Sebanyak 33 film pendek karya sineas Jawa Timur ditayangkan, hasil kurasi Pemerintah Daerah serta Kabupaten/Kota di Jawa Timur.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata memfasilitasi keberangkatan lima komunitas film, yaitu Gresik Movie ; Raya Media Creative ; Boomcraft Production, Sinema Mbatu Adem ; dan Paringart Cinema.

Bagi Gresik Movie, kesempatan tampil di IWAFF bukan hanya tentang pemutaran film, tetapi juga tentang mengabarkan geliat perfilman Gresik ke dunia internasional. “Festival adalah titik temu antara film dan penonton. Melalui IWAFF 2025, publik Australia Barat, khususnya Perth, dapat melihat wajah Jawa Timur dalam kemasan sinema dengan beragam visual dan gagasan,” ungkap Irfan Akbar, sutradara Gemintang yang turut hadir di Perth.

Selain Gemintang dan Salah Melihat Jalan Surga, Film Gresik yang lain juga diputar dalam IWAFF 2025, seperti Cahaya produksi Nyala Jingga, serta Jelajah Senja, Aura, dan Pemuda Utara yang Merawat Cahaya dengan Cinta produksi Fonemik. Kehadiran karya-karya ini menegaskan bahwa Gresik menjadi salah satu simpul penting dalam ekosistem perfilman Jawa Timur.

Lebih dari sekadar tontonan, IWAFF adalah panggung diplomasi budaya. Film-film yang diputar tidak hanya memperkenalkan cerita lokal, tetapi juga membuka ruang dialog lintas negara tentang identitas, bahasa, dan tradisi. “Pendistribusian film pendek ke luar negeri bukan hanya mengenalkan potensi lokal, tetapi juga menjadi medium diplomasi. Semoga ke depan semakin banyak film dari Gresik yang menemukan penontonnya hingga ke mancanegara,” tutup Irfan Akbar.

Seperti diberitakan sebelumnya, film Gemintang berdurasi 12 menit pernah diputar perdana dengan 20 film pendek berbahasa daerah lainnya di Jogjakarta pada Minggu, 29 November 2020 malam. 

Pemutaran film berdurasi 12 menit itu sekaligus launching Festif kerjabareng dengan JAFF (Jogja-NETPAC Asian Film Festival). Film tersebut masuk dalam fasilitas Ide Sinema Kreatif (Festif) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekaf) 2020.

Film Gemintang menceritakan tentang dua orang anak yang mendapat tugas dari gurunya untuk menggambar bintang. Namun kesulitan sebab ketika ingin melihat bentuknya, langit di Gresik sedang dirundung mendung saat malam. Film ini diperankan oleh M. Baidlowie Azhari (sebagai Budi) dan Qaireen Khansa P. (Sebagai Kejora). (yad)

Dua Film Karya Sineas Gresik Movie Diputar di IWAFF Australia Selengkapnya

14 Tahun Gresik Movie Berkarya, Gelar Layar Berkembang di Kampung Heritage, Kemasan 

GRESIK,1minute.id – Gresik Movie menggelar pameran Layar Berkembang di Loteng Galeri, Sualoka.Hub, Kampung Kemasan, Kelurahan Pekelingan, Kecamatan/Kabupaten Gresik. Pameran berlangsung selama sebulan, 14 Juli sampai 14 Agustus 2025.

Kegiatan untuk merayakan 14 tahun, komunitas film, Gresik Movie ini berbeda dengan pameran yang ada selama ini. Menurut Ananda Shandy, salah satu pendiri Gresik Movie, Layar Berkembang, sebuah upaya untuk menelusuri kembali perjalanan kolektif Gresik Movie dari perkampungan, alat terbatas, dan layar seadanya. 

“Layar Berkembang bukan sekadar menghadirkan dokumentasi masa lalu. Ia menawarkan pengalaman membaca arsip sebagai sesuatu yang aktif, dalam menghidupkan ingatan, membuka ruang tafsir, dan menumbuhkan rasa memiliki,” kata Ananda Shandy dalam siaran pers yang diterima 1minute.id pada Selasa, 15 Juli 2025.

Ia melanjutkan, pameran ini tak hanya terbatas pada kebendaan, namun juga peristiwa, keterhubungan, proses berkarya, membangun jejaring dan membentuk ekosistem kultural. Di dalamnya terdapat poster film, foto-foto produksi, kumpulan skenario, kaos komunitas, catatan rapat, serta atribut-atribut lain yang pernah mengisi ruang kolektif. “Semuanya merekam semangat yang sama, yakni bagaimana film dipilih sebagai cara untuk mencintai kota ini,” katanya. 

Kurator dalam pameran ini adalah Raja Iqbal Islamy. “Ini juga menunjukkan bahwa kerja komunitas tak pernah selesai. Terus berlangsung, berpindah bentuk, dan menyesuaikan diri dengan ruang yang tersedia. Dari satu layar ke layar yang lain, dari satu pemutaran ke diskusi warga, Gresik Movie telah menyadari bahwa komunitas lebih dari sekadar pembuat film,” imbuhnya.

Dalam arsip Gresik Movie sejak dibentuk hingga sekarang, ditemukan setidaknya 150 kolaborator, 120 kegiatan terselenggara, 117 liputan media cetak maupun daring, jurnal, 48 Film yang diproduksi, didukung, maupun berkolaborasi, kemudian 135 video dokumentasi, 80 iklan layanan masyarakat.

Selama satu bulan penuh, pengunjung pameran Layar Berkembang tidak hanya diajak melihat, tapi juga terlibat. Akan ada beragam program yang membuka kemungkinan temu dan pertukaran gagasan, di antaranya adalah Workshop kuratorial, Pemutaran film di rooftop Sualoka, Lokakarya Memasak Ide Cerita, Tur dan talkshow bersama kurator, Pertunjukan monolog, Diskusi buku dan Layar tancap bersama warga Kampung Kemasan.

Semua program dirancang untuk mengajak publik, terutama warga Gresik, terlibat aktif dalam mengimajinasikan masa depan sebuah kota sebagai ruang tumbuh melalui arsip, film, dan komunitas. (yad)

14 Tahun Gresik Movie Berkarya, Gelar Layar Berkembang di Kampung Heritage, Kemasan  Selengkapnya

The Jumping City, Pameran Lukisan Damar Kurung sambut Ramadan di Galeri Loteng Kemasan

GRESIK,1minute.id – Dua seniman muda asal Gresik yakni Anhar dan Suef menggelar pameran bertajuk “The Jumping City” di di Galeri Loteng Kemasan Jalan Nyai Ageng Arem-Arem Gg. II No. 20, Kampung Kemasan Gresik.

Pameran seniman lintas generasi ini memilih medium lukisan Damar Kurung. The Jumping City yang dikuratori oleh Hidayatun Nikmah ini diselengarakan oleh Yayasan Gang Sebelah. Pameran ini dimulai 22 Februari sampai 22 Maret 2025.  

Bagi warga Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik, mendengar kata Damar Kurung tidak lepas dari sosok almarhumah Mbah Masmundari. Selain sosok sang maestro  itu, damar kurung kala itu identik menjelang datangnya bulan suci, Ramadan. 

Damar Kurung biasanya dipasang menjelang bulan Ramadan sebagai lentera yang menjadi penanda menuju ke jalan-jalan pemakaman. Lentera khas Gresik ini yang nantinya menjadi ”penerang” jalan bagi orang-orang yang mulai melakukan ritus padusan atau ziarah ke makam sanak keluarga sebagai pembuka babak Ramadan. 

Secara kultural damar kurung juga dipasang di depan rumah, maupun tempat penting lain, misalnya di jalan kampung yang dilalui warga. Di sekujur permukaan lentera itu cerita-cerita masyarakat Gresik seperti tradisi Pasar Bandeng, Perayaan Idul Fitri, suasana warung kopi hingga keramaian Alun-alun dinarasikan melalui lukisan. Damar Kurung menjadi semacam kanvas tradisional berisi ingatan-ingatan warga untuk dituturkan.

Menurut Hidayatun Nikmah, Damar Kurung bukan hanya sebagai lentera dengan lukisan dekoratif semata, tetapi merupakan media untuk menggambarkan dinamika kehidupan kota dan manusia yang berjumpalitan di dalamnya. “Setiap gambar pada Damar Kurung yang dibuat oleh Anhar dan Suef mengandung cerita dan pesan yang mengajak pengunjung untuk melihat Kota Gresik dari berbagai sudut pandang yang berbeda,” ujar Hidayatun Nikmah.

Terdapat delapan program pameran The Jumping City yang bisa diakses publik, seperti Ziarah Damar Kurung, Merangakai Damar Kurung, Workshop, Artist Talk, Screening Film, Curator Talk, Teater, dan Lomba Mewarnai. Tajuk The Jumping City dipilih karena karya-karya Anhar dan Suef banyak menyoal kehidupan kota yang dinamis—yang progresif sekaligus regresif dalam satuan waktu yang sama dalam perkembangan kota,” ujar Hidayatun Nikmah selaku Kurator.

”Harapan kami tidak muluk-muluk, semoga karya kami layak untuk dinikmati sekaligus memperkenalkan kepada masyarakat bahwa di Gresik masih ada seniman yang terus menjaga dan mengembangkan Damar Kurung sebagai bagian dari warisan budaya,” ujar Suef.

Sedangkan, Anhar juga menyatakan tentang harapannya agar masyarakat Gresik terus melestarikan lentera berbentuk kubus tersebut. ”Semoga para pengunjung pameran ini, bisa mendapatkan sesuatu dari karya yang kami sampaikan. Sekaligus sebagai ajakan untuk melestarikan budaya, dalam hal ini seni Damar Kurung.”

Sebagaimana tradisi padusan, pameran The Jumping City sengaja diselengarakan untuk menyambut bulan suci Ramadan. Pameran dibuka setiap hari, mulai pukul 16.00 – 22.00 WIB dan berlangsung selama satu bulan. (yad)

The Jumping City, Pameran Lukisan Damar Kurung sambut Ramadan di Galeri Loteng Kemasan Selengkapnya

Mbah Mat Kauli, Maestro Macapat itu Meninggal Diusia 94 Tahun, Budayawan Gresik Berduka

GRESIK,1minute.id – Budayawan di Kota Santri berduka. Mbah Mat Kauli, maestro macapat wafat di usia 94 tahun. Jenazah Mbah Mat Kauli di makamkan di pemakaman umum di dekat rumah di Jalan Awikoen Jaya, Kelurahan Gending, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik pada Jumat, Wage, 21 Februari 2025. 

Kabar wafatnya maestro Macapat yang memiliki 10 anak, dengan 31 cucu dan 35 cicit itu beredar melalui pesan WhatsApp Grup atau WAG. Di antaranya, dari Komunitas Gresik Heritage. Bunyi kabar duka itu : Inalillahi wa Inalilahi Rojiun, Warta Lelayu. “Sampun tinimbalan sowan ngarsanipun Gusti Ingkang Mahaasih inggih ….”

WARTA LELAYU : Mbah Mat Kauli, maestro Macapat asal Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik meninhgal dunia pada Jumat Wage, 21 Februari 2025 ( Foto : WAG Gresik Heritage / 1minute.id)

Sebagai Ketua Umum Gresik Heritage, Kami merasa kehilangan sosok panutan, seorang Guru yang telah banyak mengajarkan arti Kebudayaan, ketulusan, dan Perjuangan tanpa Pamrih. Mbah, perjalananmu telah usai, tetapi Inspirasimu akan terus menyala, menghidupkan semangat kami dalam menjaga sejarah dan Kebudayaan Gresik,” kata Ketua Gresik Heritage Sumarga Adhi Satria kepada 1minute.id pada Sabtu, 22 Februari 2025.

Menurut Sumarga, Mbah Mat Kauli bukan sekadar Budayawan. Beliau adalah pilar nafas sejarah dan ruh Kebudayaan Gresik. Setiap Tutur, gerak, dan karyanya adalah cerminan kecintaan mendalam terhadap warisan leluhur yang beliau jaga dengan penuh dedikasi. “Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadahmu, mengampuni segala khilaf, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Selamat jalan, Mbah Mat Kauli, warisanmu akan terus kami jaga,” imbuh Sumarga yang juga Kepala SMP Darul Islam atau Daris Gresik.

Pada 21 Agustus 2024 wartawan 1minute.id sempat silaturahmi ke rumah Mbah Mat Kauli di Jalan Awikoen Jaya no 31 Gemantar, Kelurahan Gending, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik. Saat itu, mbah Mat Kauli harus berbaring di tempat tidur di rumahnya yang sederhana. Sebab, kaki maestro macapat  itu tidak bisa lagi menahan berat tubuhnya.

“Sejak Idul Fitri lalu, bapak sakit,” kata Sumiyati, 70 tahun, anak sulung dari 10 bersaudara pasangan suami-istri, Mat Kauli dengan Suparti pada Rabu, 21 Agustus 2024 lalu. 

Wartawan 1minute.id secara bersamaan dengan dua siswa dan seorang guru pembimbing dari UPT SMP Negeri 4 Gresik mengunjungi rumah mbah Mat Mauli. Kedatangan siswa dan seorang pembimbing untuk melakukan pendalaman penelitian tentang macapat, kebudayaan khas di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik itu. 

Pendalaman penelitian setelah mereka lolos nasional ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia atau OPSI yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi atau Kemendubud Ristek 2024. Selama hampir 2 jam berbincang santai dengan maestro Macapat Mbah Mat Kauli di kamar tidurnya yang berukuran 3×4 meter persegi itu.

Di dalam kamar itu terdapat dua buah lemari. Satu lemari pakaian bagian rak atas digunakan sebagai tempat Mbah Mat Kauli menyimpan buku-bukunya. Buku macapat itu ada yang masih menggunakan aksara Jawa kuno atau hanacaraka, dan aksara Jawa latin. Buku aksara Jawa kuno dengan cover warna hitam dan kertas sudah berwarna kuning. 

Sedangkan, buku aksara Jawa latin hasil terjemahan itu ditulis tangan oleh Mbah Mat Kauli. Selama 14 bulan Mbah Mat Kauli menyalin. Buku-buku tertata rapi. 

“Tidak komplit, ada yang dipinjam anak-anak mahasiswa yang melakukan penelitian dan belum dikembalikan,” sela Sumiyati. 

Meski kaki tidak bisa menahan berat tubuhnya, daya ingatan Mbah Mat Kauli masih luar biasa. Di usia 93 tahun kebanyakan orang mengalami pikun, akan tetapi ingatan Mbah Mat Kauli yang mulai nembang macapat di usia 18 tahun itu masih sangat tajam. Selama 75 tahun mbah Mat Kauli nembang Macapat. 

Hanya pendengarannya mulai berkurang. Melihat ada tamu, Mbah Mat Kauli terlihat senang. Seakan menjadi “obat” bagi mbah Mat Kauli. “Matur suwun, sik diperhatikan,” katanya. Mbah Mat Kauli pun mengizinkan tamunya untuk merekam dan memotretnya.

Ia pun menceritakan tentang masa muda, hingga dinobatkan sebagai seorang maestro Macapat oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Ristek Republik Indonesia. Ia juga bercerita menjadi aktor film yang dibuat oleh Yayasan Gang Sebelah, yang berdiri sejak 2017.

Pada usia 22 tahun mbah Mat Kauli menikah dengan Supartin yang saat itu masih berusia 12 tahun. Dari pernikahan itu, Mbah Mat Kauli dikarunia 10 anak. Tiga di antara 10 anak meninggal dunia. Supartin adalah cinta pertama dan terakhir Mbah Mat Kauli. 

Kondisi kesehatan Mbah Mat Kauli yang lahir 1 Mei 1931 menurun sejak istrinya, Supartin wafat pada 16 Agustus 2021. “Sejak ibu meninggal itu, kondisi kesehatan bapak terus menurun,” cerita Sumiyati.

Sekitar 3 bulan terakhir ini, Mbah Mat Kauli tidak bisa berjalan. Bahkan, kakinya sudah tidak bisa menahan berat tubuhnya. Mbah Mat Kauli hanya bisa berbaring di tempat tidur. Akan tetapi, Mbah Mat Kauli sangat bersemangat ketika membang macapat. “Bagi bapak nembang macapat bagai obat yang mujarab. Bapak selalu bersemangat kalau ada yang minta nembang,” ujar Sumiyati. (yad)

Mbah Mat Kauli, Maestro Macapat itu Meninggal Diusia 94 Tahun, Budayawan Gresik Berduka Selengkapnya

Perpustakaan Lokalisier Resmi Dibuka di Sualoka Hub di Kampung Kemasan Gresik,  Ngafe sambil Literasi

GRESIK,1minute.id – Perpustakaan Lokalisier resmi dibuka di Sualoka Hub di Kampung Kemasan. Launching perpustakaan kawasan heritage, destinasi wisata minat khusus berupa arsituktur rumah warga pribumi yang memadukan diantaranya unsur Tiongkok, Jawa, dan Eropa terasa istimewa.

Sebab, peresmian perpustakaan yang mengkoleksi 1.200 buku berbagai genre yang diinisiasi oleh Yayasan Gang Sebelah ini jauh dari kesan seremonial. Ada beberapa kegiatan yang bisa diikuti oleh para undangan dari berbagai komunitas seperti Gresik Book Party, Gresik Movie, dan Ruang Sastra Gresik. Ada kegiatan bernama Nandur Mundur dan Nandur Tandur. Kegiatan berkolaborasi dengan Sualoka Hub.

Kegiatan Nandur Mundur kegiatan saling belajar bersama dilakukan di sudut-sudut ruangan, obrolan hangat berbaur dengan antusiasme para pecinta literasi. Mereka hadir dalam kegiatan bernama Nandur Mundur. Sebuah program yang dimaknai sebagai proses menanam, untuk di panen di masa depan. 

Sualoka Hub merupakan placemaking yang mengaktivasi bangunan tua berusia lebih dari 120 tahun, untuk ruang kreatif publik dan komunitas yang juga tersedia kafe bergaya vintage di Jalan Nyai Ageng Arem-arem, Kelurahan Pekelingan, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. 

Sualoka Hub yang diinisiasi oleh Yayasan Gang Sebelah, dirancang sebagai ruang multifungsi. “Menggabungkan kafe dan ruang bagi lintas komunitas,” kata Pembina Yayasan Gang Sebelah, Dewi Musdalifah pada Sabtu, 16 November 2024.

Di tempat itu, sambung dia, pengunjung dapat berinteraksi dan berkreativitas. Termasuk juga memperluas jaringan atau berpartisipasi dalam berbagai acara. “Seperti diskusi, pameran seni, workshop, pertunjukan, atau bahkan program semacam residensi dan walking tour di kota tua Gresik,” ujarnya.

Nandur Tandur diselenggarahkan untuk rangkaian peresmian Lokalisier, sebuah perpustakaan dan toko. Perpustakaan itu mengoleksi lebih dari 1200 buku berbagai genre yang tertata rapi di lemari dan juga terdapat produk-produk toko lokal Gresik.

Kolaborasi dari banyak pihak menjadikan perpustakaan Lokalisier bisa lebih dekat dengan masyarakat.

“Bisa menjadi alternatif yang mampu menarik siapapun untuk datang ke sini,” ungkap Dewi yang juga guru di SMA Muhammadiyah 1 Gresik itu. Selain itu, perpustakaan Lokalisier dirancang sebagai ruang interaksi yang ramah dan nyaman bagi pengunjung di segala usia.

Adapun produk-produk UMKM lokal, seperti karya rajut dari Buffo Stuf. Ada pula aneka Damar Kurung, hingga berbagai kaos identitas Gresik, dan lainnya. Rangkaian acara itu diawali dengan tur keliling Kota Lama Gresik, pada sore harinya. Kemudian diikuti pembacaan cerpen dari buku Tinutur. Hingga diskusi publik bersama Achmad Zainuri.

Pria yang juga seniman teater itu berbagi kisah melalui bukunya, Panggung Senyap Bengkel Muda Surabaya. “Semua ini bertujuan menghidupkan kembali semangat literasi yang kerap berjarak di tengah era digital,” ungkap Dewi.

Program Nandur Mundur itu mendapat apresiasi dari Budayawan Gresik, Kris Adji AW. Ia bersyukur ada perpustakaan yang hadir di tengah kawasan herritage Gresik. “Di sini kita menemukan tempat, selain kafe juga diresmikan perpustakaan,” kata dia.

Ia juga berterima kasih kepada Yayasan Gang Sebelah yang aktif bergerak untuk peningkatan minat baca dan literasi. Termasuk juga bagian dari upaya kreatif untuk pelestarian cagar budaya. “Saya berterima kasih karena ini upaya untuk peningkatan minat baca dan pengembang literasi,” pungkasnya. (yad)

Perpustakaan Lokalisier Resmi Dibuka di Sualoka Hub di Kampung Kemasan Gresik,  Ngafe sambil Literasi Selengkapnya

Memaksimalkan Ketrampilan Visual, Himpunan Humas Hotel dan PFI Surabaya Gelar Pelatihan Street Photography di Kota Lama Surabaya

SURABAYA,1minute.id – Himpunan Humas Hotel atau H3 Surabaya berkolaborasi dengan Pewarta Foto Indonesia Surabaya menyelenggarakan kegiatan pelatihan street photography pada Sabtu, 3 Agustus 2024. Nama programnya H3 Jalan-jalan. 

Pelatihan tersebut guna meningkatkan keterampilan visual para humas hotel di Surabaya.Acara seru ini dilaksanakan mulai pukul 14.00 hingga 17.00 WIB di Hotel Arcadia by Horison, salah satu bangunan bersejarah di Surabaya.

Menurut Ketua Pewarta Foto Indonesia Surabaya Suryanto Putramuji, pelatihan ini tidak hanya menawarkan teknik atau cara memaksimalkan penggunaan kamera handphone untuk street photography, tetapi juga membawa para peserta menjelajahi pesona bangunan Eropa di Kota Lama Surabaya.

Dimulai dari Hotel Arcadia, para humas hotel  dipandu menuju De Javache Bank, sebuah bangunan bersejarah yang dibangun pada era kolonial Belanda, dengan arsitektur yang memadukan gaya klasik Eropa dan sentuhan lokal.

Perjalanan dilanjutkan ke Plaza Internatio, yang dikenal sebagai Gedung Internatio. Gedung ini merupakan salah satu bangunan tertua di Surabaya yang didirikan pada akhir abad ke-19, dan dulu digunakan sebagai kantor perdagangan internasional. Dengan arsitektur megah dan detail ornamen yang menawan, gedung ini menawarkan sudut-sudut fotografi yang memukau.

Selanjutnya, para peserta diajak menuju Siropen, pabrik sirup legendaris yang didirikan pada tahun 1923. Siropen merupakan salah satu ikon kuliner Surabaya, di mana bangunan pabriknya mempertahankan desain asli era kolonial dengan mesin-mesin antik yang masih berfungsi. 

Lokasi ini memberikan kesempatan untuk menangkap momen-momen unik dari sejarah industri Surabaya. Sekaligus bisa menikmati segarnya minuman es sirup ala Siropen dengan rasa klasik framboz yang berwarna merah dan manis.

Perjalanan berlanjut ke PTPN 1, sebuah bangunan yang dulunya merupakan kantor pusat perusahaan perkebunan di masa kolonial. Gedung ini memiliki arsitektur yang elegan dengan kolom-kolom besar dan ruang interior yang luas.

Setelah kegiatan street photography para Humas Hotel Surabaya lanjut menikmati berbagai arsitektur bangunan Eropa kembali dengan menggunakan kendaraan tourwagen, menambah sentuhan eksklusif dan nyaman bagi para peserta, memungkinkan mereka untuk menikmati setiap detil keindahan Kota Lama Surabaya.

Dengan latar belakang sejarah yang kaya dan keindahan arsitektur klasik, kegiatan ini tidak hanya menjadi pelatihan fotografi, tetapi juga pengalaman mendalam mengenal warisan budaya Surabaya yang tak ternilai.

Melalui Suryanto Putramuji selaku ketua Pewarta Fotografi Indonesia – Surabaya memberikan panduan praktis tips dan trik untuk mengoptimalkan kamera ponsel bagi para peserta. 

Dengan latar belakang Kota Lama Surabaya yang memikat, para humas hotel diajak untuk menangkap momen-momen yang memadukan keindahan sejarah dan dinamika kehidupan kota.

“Kolaborasi ini diharapkan bisa menambah skill fotografi sebagai praktisi PR dan program H3 Jalan-Jalan ini adalah yang pertama untuk anggota bisa mendapatkan experience langsung yang nantinya bisa dijadikan media informasi mengenai destinasi kota Surabaya kepada tamu hotel, ” ujar Kus Andi, Ketua Himpunan Humas Hotel Surabaya.

H3 Jalan-Jalan merupakan program yang diwujudkan untuk mengangkat pariwisata kota Surabaya. Di mulai dengan mengenalkan kota lama Surabaya yang sedang hits, program ini ke depan akan secara rutin diselenggarakan untuk meninjau banyak wisata menarik lainnya di Surabaya.

“Acara hari ini seru banget dan mengedukasi ya, saya sendiri belum pernah ke kota lama Surabaya dan banyak dapat informasi yang ternyata sangat bermanfaat baik personal dan juga untuk pengetahuan kami sebagai humas hotel di Surabaya”, ujar Dida Bahalwan, Marketing Communication Manager Hotel Shangrila Surabaya.

Perlu diketahui, Himpunan Humas Hotel Surabaya adalah organisasi yang berkomitmen untuk meningkatkan profesionalisme dan keterampilan humas hotel di Surabaya melalui berbagai kegiatan dan pelatihan.

Sedangkan Pewarta Foto Indonesia adalah organisasi yang menaungi fotografer profesional di Indonesia, berfokus pada pengembangan kompetensi dan penyebaran karya fotografi yang berkualitas. (yad)

Memaksimalkan Ketrampilan Visual, Himpunan Humas Hotel dan PFI Surabaya Gelar Pelatihan Street Photography di Kota Lama Surabaya Selengkapnya

Gresik Movie, Kemendikbudristek dan LPDP Putar Film Pendek di Enam Titik di Gresik 

GRESIK,1minute.id – Warga Desa di empat kecamatan di Kabupaten Gresik bakal bisa menikmati film pendek. Film Mikro. Film itu diklaim menarik. Sebab, digarap sineas muda dari berbagai Kota di Indonesia yang telah lolos proses kurasi. 

Film berbagai genre mulai dari film fiksi, dokumenter, maupun animasi tersebut garapan sutradara muda berasal dari Jakarta, Jogjakarta, Semarang, Banjarnegara, Malang, Riau, Bandung, Bojonegoro dan lainnya.

Pemutaran film pendek yang digagas oleh Gresik Movie bernama Sapa Sinema. Gresik Movie menjadi peserta program Dana Abadi Kebudayaan 2022 atau disebut Dana Indonesiana, yang dikelola oleh Kemendikburistek dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dalam kategori Sinema Mikro.

Ketua Sapa Sinema Bambang Setiawan  mengatakan, 8 film yang dipilih merupakan hasil kurasi dari puluhan film sineas tanah air yang masuk ke Gresik Movie. Semua film akan diputar secara gratis. Sehingga semua orang dapat menikmatinya.

“Film yang dipilih ini mewakili semangat teman-teman dalam mengangkat lokalitas dari daerah masing-masing sineas. Harapannya menjadi gerakan kebudayaan,”kata Bambang di markas Gresik Movie pada Sabtu, 26 November 2022.

Sapa Sinema adalah program menonton dan mendiskusikan film yang diharapkan bisa menyentuh sekaligus melibatkan banyak pihak. “Kami berharap nantinya turut mendorong untuk mengembangkan ekonomi kerakyatan melalui bazar atau UKM ketika kegiatan layar tancap bernama Sapa Sinema ini dilaksanakan. Saat Sapa Sinema kami juga akan adakan workshop pembuatan film,”kata Bambang.

Gresik Movie telah melakukan survei lokasi rencana pemutaran film pendek. Diantaranya, Desa Kepuh Teluk ; Desa Daun. Keduanya di Kecamatan Tambak, Pulau Bawean. Kemudian di Alun-alun Sangkapura ; dan Kompleks sekolah Al Islamiya. Keduanya di Kecamatan Sangkapuran. 

Sedangkan di daratan Gresik,  pemutaran film akan diputar di Desa Doudo, Kecamatan Panceng dan Desa/Kecamatan Wringinanom. Lalu apa judul filmnya adalah Diponegoro sutradara Gata Mahardhika ; The Secret Club of Sinners sutradara Haris Yuliyanto ; Terciduk sutradara Alan D.W dan Di Sela Garis yang Tak Tertulis sutradara Alam Alghifari.

Berikutnya, May Be Someday Another Day but Today, sutradara Bihar ; Kiamat Sampah sutradara Enggar Asfinsani ; Ruwina sutradara Ayuning Tyas Muji Rahayu dan Gemintang sutradara Irfan Akbar Prawiro. Gemintang ini film buatan Gresik Movie. Delapan film ini akan  diputar mulai 14 Desember 2022 sampai 28 Januari 2023.  (yad)

Gresik Movie, Kemendikbudristek dan LPDP Putar Film Pendek di Enam Titik di Gresik  Selengkapnya