Kemarau Panjang, Bupati Gresik Lakukan Dropping Air Bersih 20 Ribu Liter untuk Warga Tenggor

GRESIK,1minute.id – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau berakhir secara bertahap mulai akhir Oktober 2026. Puncak kemarau diprediksi terjadi mulai Agustus hingga September 2026. 

Di Kabupaten Gresik, dampak kemarau panjang telah mengakibatkan sejumlah desa berpotensi terdampak krisis air bersih. Berdasarkan pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)  Gresik, terdapat 62 desa di 11 kecamatan yang berpotensi mengalami kekurangan air bersih. Wilayah tersebut mencakup 136 dusun di seluruh Kabupaten Gresik.

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani turun langsung melakukan dropping air. Pada Rabu, 26 Agustus 2026, orang nomor satu di Kota Santri, sebutan lain, Kabupaten Gresik ini menyalurkan bantuan air bersih untuk warga Desa Tenggor, Kecamatan Balongpanggang. Sebanyak empat mobil tangki, masing-masing berkapasitas 5 ribu liter atau 20 ribu liter. 

Bupati Fandi Akhmad Yani mengatakan, kebutuhan air bersih berpotensi meningkat seiring berlangsungnya musim kemarau. Karena itu, Pemkab Gresik tidak hanya menyiapkan dukungan distribusi air, tetapi juga membuka akses pelaporan agar kebutuhan masyarakat dapat segera diketahui dan ditangani.

“Kami butuh informasi dari masyarakat Gresik, kecamatan atau desa mana yang membutuhkan air bersih. Bisa melalui 112, Lapor Gus di 0812-3225-4001, atau melalui pemerintah desa. Kepala desa bisa berkoordinasi dengan kecamatan untuk melaporkan kebutuhan air bersih di wilayahnya,” ujar Gus Yani, sapaan akrab, Fandi Akhmad Yani. 

Berdasarkan pemetaan BPBD Gresik, terdapat 62 desa di 11 kecamatan yang berpotensi mengalami kekurangan air bersih. Wilayah tersebut mencakup 136 dusun di seluruh Kabupaten Gresik.

Kecamatan Balongpanggang menjadi salah satu wilayah yang masuk dalam pemetaan tersebut. Terdapat enam desa yang berpotensi mengalami kekurangan air bersih, yakni Ganggang, Ngasin, Dapet, Tenggor, Dohoagung, dan Tanahlandean.

Khusus Desa Tenggor, BPBD menerima permintaan sebanyak 720 kepala keluarga atau 465 rumah yang mengalami kekurangan air bersih. Sebelum distribusi ke Desa Tenggor, BPBD Gresik telah menyalurkan bantuan air bersih ke lima desa. Dua desa berada di Kecamatan Sidayu, yakni Randuboto dan Srowo. Sementara tiga desa lainnya berada di Kecamatan Bungah, yakni Kemangi, Gumeng, dan Pegundan.

Untuk memperkuat respons di lapangan, BPBD Gresik telah menyiapkan lima armada tangki air. Masing-masing armada memiliki kapasitas 5.000 liter dan dapat digunakan untuk mendukung distribusi ke wilayah yang membutuhkan. “BPBD sudah memetakan 62 desa dari 11 kecamatan yang berpotensi kekurangan air bersih. Untuk mendukung penanganan, kami sudah menyiapkan lima armada tangki dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter,” ujar Kepala BPBD Gresik Sukardi.

Dari sisi dukungan distribusi, BPBD sebelumnya memiliki alokasi untuk sekitar 250 tangki air. Melalui perubahan anggaran, dukungan tersebut ditambah sekitar 200 tangki, sehingga total kesiapan dukungan distribusi mencapai sekitar 450 tangki untuk membackup kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah terdampak kekeringan.

Bupati Yani menegaskan, Pemkab Gresik juga telah menyiapkan dukungan anggaran untuk penanganan kebutuhan air bersih. Melalui perubahan anggaran, tersedia tambahan anggaran Rp 100 juta untuk mendukung penanganan kebutuhan air bersih.

Menurutnya, penanganan kekurangan air bersih membutuhkan kerja bersama. Karena itu, Pemkab Gresik akan memperkuat kolaborasi dengan sejumlah pihak, termasuk Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Palang Merah Indonesia (PMI) Gresik.

“Insya Allah tahun ini kita lebih siap, termasuk secara anggaran. Armada juga nanti bisa kita kolaborasikan. BPBD punya lima truk tangki, PMI Gresik juga punya anggaran dan infrastruktur truk operasional. Insya Allah dalam waktu dekat kita akan berkolaborasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menghadapi kemarau panjang ini,” ujar Magister Mitigasi Bencana Unair Surabaya ini. 

Selain respons jangka pendek melalui distribusi air bersih, Pemkab Gresik juga menyiapkan langkah mitigasi jangka panjang. Salah satunya melalui normalisasi waduk dan saluran air untuk meningkatkan kapasitas tampungan air saat musim penghujan tiba.

Sebanyak 12 alat telah diturunkan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Gresik untuk mengerjakan sejumlah titik, termasuk normalisasi anak Sungai Kali Lamong dan beberapa waduk di wilayah Gresik.

Bupati Yani mengatakan, pekerjaan normalisasi tersebut merupakan bagian dari upaya menyiapkan cadangan air untuk menghadapi musim berikutnya. Waduk yang mengalami pendangkalan dinormalisasi agar mampu menampung lebih banyak air ketika curah hujan kembali meningkat.

“Waduk juga sedang kita kerjakan. Seperti yang disampaikan Pak Kades, di Dohoagung, Kedungpring itu juga sedang kita kerjakan waduknya karena musim kemarau ini sudah dangkal. Kita normalisasi untuk persiapan ketika musim penghujan, supaya debit air yang tertampung cukup banyak,” ujar mantan Ketua DPRD Gresik ini.

Bupati Yani juga mengingatkan bahwa persoalan air bersih di masyarakat tidak selalu disebabkan oleh kekeringan. Di sejumlah wilayah, persoalan juga dapat terjadi karena kelancaran distribusi air perpipaan. Karena itu, masyarakat diminta tidak ragu menyampaikan informasi apabila menemukan persoalan air bersih di lingkungannya. Informasi dari masyarakat akan menjadi bagian penting bagi pemerintah untuk menentukan penanganan sesuai kondisi di lapangan.

“Kami butuh masukan, butuh informasi untuk disampaikan langsung. Desa mana, dusun mana, kecamatan mana. Tidak perlu khawatir, anggarannya juga kami siapkan sampai akhir tahun. Mudah-mudahan musim kemarau ini bisa kita lewati bersama,” tuturnya. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Kemarau Panjang, Bupati Gresik Lakukan Dropping Air Bersih 20 Ribu Liter untuk Warga Tenggor Selengkapnya

Prediksi Musim Kemarau Lebih Awal dan Panjang,Bupati Gresik : Jangan Tunggu Krisis, Gresik Harus Bergerak Sekarang

GRESIK,1minute.id – Kabupaten Gresik, satu dari sekian Kabupaten/Kota di Indonesia yang memiliki otensi bencana hidrometeorologi. Ancaman bencana kekeringan. Prakiraan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) musim kemarau lebih cepat dan bakal lebih lama.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik menyikapi ancaman kekeringan tahun 2026 tidak lagi bisa dipandang sebagai siklus tahunan biasa. Pemkab Gresik mulai menaikkan level kewaspadaan menyusul prediksi musim kemarau yang datang lebih awal, bahkan sejak akhir April.
Data menunjukkan, sedikitnya 6 kecamatan berpotensi terdampak di fase awal, dan bisa meluas hingga 12 dari 18 kecamatan saat puncak kemarau pada Juli–September 2026.

Situasi ini menuntut perubahan cara kerja pemerintah dari sekadar respons menjadi antisipasi yang terukur. Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani secara tegas mengingatkan seluruh jajaran agar tidak menunggu krisis terjadi. “Jangan tunggu masyarakat kesulitan air baru kita bergerak. Semua harus sudah siap dari sekarang. Kecamatan harus tahu titik rawan, desa harus tahu kondisinya. Tidak boleh ada yang terlambat,” ungkapnya pada Rapat One Week Program di Ruang Rapat Graita Eka Praja Kantor Bupati Gresik pada Senin lalu, 13 April 2026.

Pemkab Gresik melalui Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) telah menyiapkan skema intervensi berupa droping air. Sejumlah sarana disiagakan, mulai dari 5 unit truk tangki, puluhan tandon air, hingga ratusan jerigen. Namun di balik kesiapan itu, ada tantangan nyata yaitu keterbatasan armada untuk menjangkau seluruh wilayah terdampak.

“Dengan keterbatasan ini, kita tidak bisa kerja biasa. Harus berbasis data, harus tepat sasaran, dan harus cepat,” ujar Magister Mitigasi Bencana Unair Surabaya ini. Ia juga menegaskan bahwa solusi tidak bisa hanya bergantung pada dropping air. Pemanfaatan sumber air alternatif dan kerja sama lintas sektor menjadi kunci.

“Kita harus berani keluar dari pola lama. Sumber air yang ada harus dioptimalkan, termasuk kerja sama dengan pihak swasta. Ini soal strategi, bukan sekadar bantuan,” imbuh Gus Yani, sapaan akrab, Fandi Akhmad Yani. Ia pun mendorong kesiapsiagaan hingga tingkat rumah tangga, dengan memastikan masyarakat memiliki cadangan air secara mandiri.

“Minimal setiap rumah punya jerigen atau tandon. Kita harus membangun kesiapan dari bawah, bukan hanya mengandalkan pemerintah,” tambah mantan Ketua DPRD Gresik ini.

Sementara itu, Kepala Satuan Pelaksana (Satlak) BPBD Gresik Sukardi, menegaskan, bahwa pemetaan wilayah rawan telah dilakukan sebagai dasar intervensi. “Kami sudah siapkan distribusi air bersih secara bertahap sesuai kebutuhan di lapangan. Yang menjadi perhatian adalah dukungan operasional, khususnya BBM, karena distribusi ini akan berlangsung rutin selama musim kemarau,” jelasnya.

Selain itu, BPBD terus memperkuat koordinasi dengan kecamatan dan desa agar distribusi air tidak terlambat dan benar-benar menyasar wilayah yang paling membutuhkan. Di sisi lain, Pemkab Gresik juga mulai menggeser pendekatan dari sekadar penanganan darurat menuju pengelolaan sumber daya air yang lebih berkelanjutan, termasuk untuk mendukung sektor pertanian.

Dengan tekanan kemarau yang diprediksi lebih panjang dan luas, menjadi ujian serius bagi kesiapan daerah. Pesan bupati pun jelas, tidak ada ruang untuk lambat, dan tidak ada alasan untuk tidak siap. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Prediksi Musim Kemarau Lebih Awal dan Panjang,Bupati Gresik : Jangan Tunggu Krisis, Gresik Harus Bergerak Sekarang Selengkapnya

Bagikan Ribuan Paket Sembako, Berikutnya Normalisasi Kali Lamong

GRESIK,1minute.id – Banjir luapan Kali Lamong berangsur surut. Masyarakat terdampak banjir hanya berdoa Kali Lamong tidak meluap lagi untuk kali kelima di awal tahun ini.

Kondisi yang dialami masyarakat desa terdampak banjir tahunan menjadi perhatian pemerintah kabupaten (Pemkab) Gresik. Kini, giliran Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah turun mendatangi masyarakat.

Ada dua desa yang disambangi Bu Min-sapaan-Aminatun Habibah bersama Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gresik Tarso Sagito pada Senin, 22 Maret 202q.
Dua desa itu, adalah Bulurejo, Kecamatan Benjeng dan Iker-ikergeger, Kecamatan Cerme. Di dua desa itu, Bu Min membagikan sembako secara simbolis. 

“Paket bantuan kepada korban banjir ini kami bagikan simbolis agar tidak terjadi kerumunan,”ujar Bu Min. Untuk warga Desa Iker-ikergeger , pemkab mengalokasikan 350 paket sembako. Sedangkan, warga Desa Bulurejo mendapatkan 1.052 paket sembako.

Paket sembako itu, diharapkan bisa meringankan warga terdampak banjir Kali Lamong. Bu Min mengatakan, dirinya bersama Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani sedanv berupaya melakukan penanganan banjir tahunan itu.

“Saat ini kami tengah berupaya untuk membebaskan lahan di sekitar Kali Lamong. Upaya itu demi melakukan normalisasi sehingga warga Gresik bisa terbebas dari banjir tahunan akibat meluapnya Kali Lamong,”kata Bu Min. 

Seperti diberitakan, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani berencana melakukan normalisasi Kali Lamong pada musim kemarau tahun ini.

Diperkirakan mulai April 2021. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengalokasikan anggaran sekitar Rp 100 miliar. Sedangkan, pemkab Gresik menyediakan anggaran untuk pembebasan lahan. (*)

Bagikan Ribuan Paket Sembako, Berikutnya Normalisasi Kali Lamong Selengkapnya