90 Persen Puskesmas di Gresik Melayani Rawat Inap, Wabup Gresik: Punya KTP Gresik Kesehatan Terjamin

GRESIK,1minute.id – Layanan kesehatan di Kabupaten Gresik semakin merata. Kini, pasien rawat semakin tidak harus ke rumah sakit. Sebab, 29 dari 31 puskesmas atau 90 persen di Kota Industri, sebutan lain, Kabupaten Gresik bisa melayani rawat inap.

“Dulu masyarakat harus ke rumah sakit hanya untuk mendapatkan perawatan dasar. Sekarang 90 persen puskesmas sudah siap rawat inap. Target kita jelas, tinggal tiga puskesmas lagi dan kita targetkan 99% siap melayani rawat inap,” ujar Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif saat melaunching 8 puskesmas yang siap melayani rawat inap pada puncak Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61 di Gedung Wahana Ekspresi Poesponegoro (WEP) Gresik pada Selasa, 2 Desember 2025.

Sebelumnya, sudah ada 21 puskesmas yang melayani rawat inap. Kini, tersisa tiga puskesmas yang belum melayani rawat inap dikarenakan luas lahan sempit dan persoalan lainnya. Tiga puskesmas itu, yakni Puskesmas Nelayan berada di Jalan Gubernur Suryo, Gresik ; Puskesmas Industri berlokasi di Jalan Arif Rahman Hakim, Gresik ; dan Puskesmas Dadapkuning, Kecamatan Cerme.

Ia menambahkan, keberadaan layanan ini sangat krusial mengingat hampir seluruh masyarakat Gresik telah tercakup dalam kepesertaan BPJS. Dengan Universal Health Coverage (UHC) yang telah mencapai 100 persen, seluruh pembiayaan ditanggung BPJS sesuai regulasi.

“Bisa dikatakan, kalau punya KTP Gresik maka kesehatannya terjamin. Tidak semua orang mudah mendapatkan uang untuk berobat, apalagi tindakan medis besar. Karena itu pemerintah memastikan seluruh masyarakat memegang BPJS dan layanan kesehatan harus dekat, murah, dan mudah,” terang dokter Alif, sapaan akrab, Asluchul Alif. 

Capaian ini menjadi puncak dari berbagai program strategis sektor kesehatan selama 2025. Berdasarkan laporan resmi Dinas Kesehatan Gresik, selain telah melaksanakan integrasi layanan primer di seluruh 32 puskesmas, serta peningkatan 8 puskesmas menjadi rawat inap, Dinkes Gresik juga melakukan penguatan 1.512 posyandu.

Dinkes juga telah melaksanakan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk 244.118 sasaran, sistem e-rekam medis di seluruh puskesmas, penguatan Labkesmas, serta layanan ambulans dilengkapi GPS tracking. Layanan RSUD Gresik Sehati juga telah berjalan dan menjangkau masyarakat Gresik di wilayah selatan. Terkait TBC, Dinkes juga telah menemukan 2.935 kasus TBC dari 23.454 suspek sebagai bagian dari upaya pengendalian penyakit. (yad)

90 Persen Puskesmas di Gresik Melayani Rawat Inap, Wabup Gresik: Punya KTP Gresik Kesehatan Terjamin Selengkapnya

Pertama, Posyandu ILP Sedap Malam Duduksampeyan Berikan Layanan Semua Siklus Kehidupan

GRESIK,1minute.id – Angka stunting di Kabupaten Gresik menunjukkan tren menurun. Pemkab Gresik terus berupaya menurunkan angka stunting hingga satu digit. Sejumlah kegiatan dilaksanakan untuk mencapai target itu. Diantaranya, melakukan Pembinaan Posyandu dan Pelacakan Stunting di Balai Desa Samirplapan, Kecamatan Duduksampeyan, Kabupaten Gresik pada Kamis, 9 Oktober 2025.

Kegiatan itu dihadiri oleh Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Gresik yang juga Ketua Pembina Posyandu Nurul Haromaini Ali ; Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) dr. Shinta Puspitasari, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Gresik dr Mukhibatul Khusnah serta para istri Forkopimda Kabupaten Gresik. Rombongan kali pertama meninjau kegiatan Posyandu ILP (Integrasi Layanan Primer) Sedap Malam yang menerapkan sistem lima meja posyandu.

Mereka meninjau tempat pendaftaran, penimbangan dan pengukuran, pencatatan, pelayanan kesehatan, serta penyuluhan.  Di posyandu  ILP Sedap Malam ini memberikan layanan kesehatan terpadu bagi seluruh kelompok usia, mulai dari ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan balita, usia sekolah, remaja, hingga lansia.

Berikutnya, dilanjutkan dengan kunjungan ke rumah balita dengan diagnosis stunting. Dalam kunjungan tersebut dilakukan pemeriksaan kesehatan sekaligus penjemputan menuju posyandu untuk mendapatkan layanan lanjutan. Rangkaian kegiatan ini juga disertai dengan pemberian sembako dan makanan tambahan bagi keluarga sasaran.

Ketua Pembina Posyandu Kecamatan Duduksampeyan dr. Syifa menjelaskan, bahwa di wilayahnya terdapat 58 posyandu dengan 360 kader aktif. Sementara di Desa Samirplapan ada tiga posyandu dengan 20 kader. Ia juga menyampaikan posisi angka stunting Kecamatan Duduksampeyan di Kabupaten Gresik.

Sementara itu, Pembina Posyandu Kabupaten Gresik Nurul Haromaini Ali menegaskan bahwa Posyandu ILP merupakan wujud inovasi layanan yang menyentuh seluruh siklus kehidupan. “Posyandu ILP ini artinya posyandu digunakan untuk semua siklus kehidupan, tidak hanya untuk ibu dan bayi saja, tetapi semuanya terintegrasi mulai dari bayi, ibu hamil, balita, remaja hingga lansia,” jelas Nung Nurul, sapaan akrab, Nurul Haromaini Ali ini.

Lebih lanjut, ia menyampaikan rencana penguatan posyandu lintas sektor di tahun mendatang. “Tahun depan kita memiliki PR yang cukup besar. Pada tahun 2026, kita akan bergerak terkait Posyandu 6 SMP, yang artinya posyandu bukan milik teman-teman kesehatan saja, tetapi juga melibatkan enam bidang lainnya, yaitu Kesehatan, Sosial, Pendidikan, Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, serta Ketentraman, Ketertiban Umum, dan Perlindungan Masyarakat (Trantibum Linmas),” ungkap istri Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani itu.

Peran aktif masyarakat dan sinergi lintas sektor dapat semakin memperkuat Pemkab Gresik mewujudkan generasi bebas stunting, menuju Gresik yang lebih sehat dan sejahtera.

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SDGI), prevelensi stunting secara nasional turun. Pada 2023, angka 21,5 persen menjadi 19,8 persen pada 2024. Sedangkan, angka stunting di Jawa Timur juga menunjukkan tren menurun menjadi 14,7 persen pada 2024. Sementara di Kabupaten Gresik mengalami penurunan dari 15,4 persen pada 2023 menjadi 15,2 persen pada 2024. (yad)

Pertama, Posyandu ILP Sedap Malam Duduksampeyan Berikan Layanan Semua Siklus Kehidupan Selengkapnya

Pemkab Gresik Gelar Health Festival 2025, Kadinkes Gresik : 25 Persen Remaja Gresik Alami Anemia

GRESIK,1minute.id – Ribuan Industri beroperasi di Kabupaten Gresik sehingga mendapatkan julukan sebagai Gresik Kota Industri. Bagaimana kesehatan mental dan kesiapan generasi muda menghadapi tantangan dunia kerja.

Pada Rabu, 9 Juli 2025, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik bekerja sama dengan Jawa Pos menggelar Health Festival 2025 di Aula Sang Pencerah Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG). Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif.  

Festival kesehatan ini menyoroti isu kesehatan mental serta kesiapan generasi muda menghadapi tantangan dunia kerja. Berbagai kegiatan digelar, seperti pemeriksaan kesehatan gratis, layanan konseling psikologis, talkshow kesehatan, hingga edukasi gizi. Peserta diajak memahami bahwa kesehatan merupakan fondasi utama bagi produktivitas dan kesejahteraan jangka panjang.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif menekankan pentingnya membekali generasi muda dengan ketangguhan fisik dan mental. “Anak-anak muda Gresik harus sehat jasmani dan rohani. Selain upgrade ilmu, mereka juga harus kuat secara mental dan siap menghadapi tantangan dunia kerja. Melalui Health Festival ini, kita bangun budaya hidup sehat dan mental yang tangguh sejak dini,” tegas dokter Alif, sapaan Asluchul Alif. 

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gresik, dr. Mukhibatul Khusnah, menambahkan bahwa aspek kesehatan mental menjadi perhatian penting dalam festival ini. “Kami hadirkan layanan cek kesehatan fisik dan mental sebagai bentuk kepedulian kami kepada adik-adik agar siap menghadapi tantangan dunia kerja,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelentrehkan hasil analisis Dinas Kesehatan Gresik terkait kondisi kesehatan remaja di tahun 2024. “Tercatat 25 persen remaja putri mengalami anemia, 2,7 persen remaja mengalami obesitas, 0,3 persen remaja usia 15–18 tahun mengalami hipertensi, dan 0,6 persen dirujuk untuk konsultasi kesehatan jiwa. Data ini menunjukkan bahwa kegiatan seperti ini sangat penting untuk dilakukan,” kata dokter Khusnah.

Talkshow kesehatan pada acara kali ini menghadirkan tiga narasumber, di antaranya, Dosen Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Gresik Idha Rahayuningsih ; Sekretaris Apindo Gresik bidang PUU dan Advokasi Ngadi, dan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Gresik dr. Anik Lutfiyah.

Selain edukasi, festival ini memberi ruang bagi pelajar dan mahasiswa untuk memahami pentingnya occupational health, manajemen stres, serta menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari. Health Festival 2025, Pemkab Gresik berharap generasi muda makin peduli terhadap pentingnya menjaga kesehatan, karena kesehatan adalah bekal utama untuk menjadi pribadi yang kuat dan siap menghadapi masa depan. (yad)

Pemkab Gresik Gelar Health Festival 2025, Kadinkes Gresik : 25 Persen Remaja Gresik Alami Anemia Selengkapnya

DPRD Gresik dan PWI Gresik Gelar Diskusi Sinkronisasi Pelayanan Kesehatan, Syahrul Munir : DPRD Gresik berharap Tak Ada Penolakan saat Berobat

GRESIK,1minute.id – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah atau DPRD Gresik bersama Persatuan Wartawan Indonesia atau PWI Gresik menggelar diskusi Sinkronisasi Pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat atau Jamkesmas di Hotel Aston Gresik pada Kamis, 30 Januari 2025.

Diskusi yang berlangsung gayeng bersama stakeholder, yakni BPJS Kesehatan Cabang Gresik, Dinas Kesehatan, perwakilan Puskesmas, dan Rumah Sakit serta Asosiasi Kepala Desa atau AKD di Kabupaten Gresik berlangsung selama 2 jam.

Sebanyak empat narasumber yaitu, Ketua DPRD Gresik M Syshrul Munir, Kepala Dinas Kesehatan Gresik dr Mukhibatul Khusna ; Kabag Penjaminan Manfaat dan Utilisasi atau PMU BPJS Kesehatan Cabang Gresik dr. Dodyk Sukra Goutama yang mewakil Kepala BPJS Kesehatan Gresik serta Kepala BPJS Watch Jatim Arief Supriyono. 

Diskusi rangkaian memperingati Hari Pers Nasional atau HPN yang diperingati setiap 9 Februari ini juga dihadiri oleh dua orang Wakil Ketua DPRD Gresik Luthfi Dawam dan Mujid Riduan serta Ketua dan Wakil Ketua Komisi IV yang membidangi kesehatan yakni M. Zaifuddin dan Pondra Priyo Utomo.

Ketua DPRD Gresik M. Syahrul Munir yang menyampaikan, tujuan diskusi ini adalah menyinkronkan persepsi dari semua pihak dalam pelaksanaan alur layanan jaminan kesehatan bagi masyarakat. Ia menyebut, masalah-masalah dalam pelayanan kesehatan di Gresik terutama menyangkut skema rujukan dari pelayanan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama/ FKTP atau puskesmas ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut/FKTL rumah sakit.

“Sudah banyak keluhan, aduan masyarakat yang mengalami kesulitan dalam mengakses layanan kesehatan, ada yang langsung ke rumah sakit dengan biaya sendiri, walaupun memiliki atau tercover BPJS,” kata politisi muda dari Fraksi Kebangkitan Bangsa itu.

Beberapa waktu lalu, DPRD Gresik dan BPJS Kesehatan, dan Dinkes bersama Komisi IV telah membedah masalah ini. Terutama pelaksanaan layanan kesehatan di level puskesmas hingga rujukan ke rumah sakit.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28/2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional ada 144 jenis penyakit memang harus diselesaikan di FKTP atau Puskesmas, adapun bila diperlukan rujukan ke rumah sakit harus berdasarkan pada pemenuhan kegawatdaruratan.

“Nah kemarin ada progres, Dinkes, Rumah Sakit dan Puskesmas sudah bertemu untuk menyelaraskan aspek ketentuan kegawatdaruratan ini, karena kapasitas dan kemampuan puskesmas juga berbeda-beda,” katanya.

Syahrul berharap, antara pihak Dinas Kesehatan dan Faskes ada kesepakatan yang sama terkait pemahaman skema layanan kesehatan. Karena pemerintah Kabupaten Gresik telah menganggarkan lebih dari Rp100 miliar untuk Universal Health Coverage atau UHC

“Jadi semangat pemerintah, khususnya kami yang di DPRD Gresik berharap tidak sampai terjadi penolakan saat berobat. Sehingga penting dan perlu untuk duduk bersama menyamakan persepsi terkait pelayanan kesehatan di Kabupaten Gresik,” tandasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Gresik dr. Mukhibatul Khusnah menyampaikan, pihaknya memahami tentang aturan 144 penyakit yang harus selesai di puskesmas tersebut.

Namun ada beberapa penyakit yang memang belum mampu ditangani Puskesmas, seperti tetanus, bell’s palsy, refraksi. Khusnah juga mencontohkan, kasus demam berdarah, juga menjadi problem, karena tidak bisa serta merta dirujuk jika tidak memiliki komplikasi.

“Kalau tetanus kan harus ada ruang isolasi, nah itu meski masuk dalam 144 penyakit tersebut, di puskesmas belum bisa menangani maka harus dirujuk. Hasil kesepakatan dengan BPJS tentang penatalaksanaan kegawatdaruratan dan diagnostik non spesialistik, sudah kami share ke FKTP. Tapi di FKTP ada batasan rujukan. Kalau rujukan gawat darurat 24 jam di IGD, kalau rujukan poli harus di hari kerja,” beber Khusnah. Hari kerja FKTP mulai Senin hingga Sabtu. Hari Minggu libur. 

Sementara, dr. Dodyk Sukra Goutama menyampaikan, ketentuan aturan 144 penyakit yang harus dilakukan pelayanan di Puskesmas terlebih dahulu sebenarnya sudah berlangsung lama, bahkan sejak jaminan kesehatan BPJS mulai jalan.

Pun ketentuan rujukan dari FKTP ke Rumah Sakit juga sama seperti sebelumnya, yakni harus memenuhi aspek kegawatdaruratan yang ditentukan oleh dokter puskesmas atau FKTP. Namun, menurut Dodyk, ada penajaman proses verifikasi pengajuan klaim dari Rumah Sakit. (yad/gus)

foto : Guslan Gumilang/1minute.id

DPRD Gresik dan PWI Gresik Gelar Diskusi Sinkronisasi Pelayanan Kesehatan, Syahrul Munir : DPRD Gresik berharap Tak Ada Penolakan saat Berobat Selengkapnya

Profesi ini Rawan Gangguan Kesehatan Mental, Waspada !

GRESIK,1minute.id – Persatuan Wartawan Indonesia atau PWI  Gresik melakukan refleksi akhir tahun menggelar diskusi khusus berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan atau Dinkes Gresik pada Rabu, 11 Desember 2024.

Diskusi secara lesehan di Sekretariat PWI Gresik di Jalan A.I.S. Nasution, Gresik mengusung tema “Kesehatan Mental & Kerja Jurnalistik”.

Sholihul Huda, Ketua Seksi Wartawan Olahraga (Siwo) PWI Gresik,  mengungkapkan bahwa beberapa masalah kesehatan mental yang sering dialami wartawan mencakup stres, kecemasan, hingga depresi.

“Wartawan memiliki jam kerja yang sangat fleksibel, tidak mengenal waktu, hari, bahkan harus siap dalam kondisi apapun,” ujar Huda. Menurutnya, pola kerja yang tidak teratur tersebut membuat wartawan rentan mengalami gangguan kesehatan mental. 

Jika tidak dikelola dengan baik, masalah ini dapat berkembang menjadi lebih serius. Huda juga membagikan pengalaman pribadinya sebagai wartawan di salah satu media televisi berita terbesar. 

Ia menceritakan bagaimana rutinitas meliput peristiwa besar dan mendesak seperti breaking news kerap menimbulkan tekanan tinggi. “Kadang kita mudah stres hingga mengalami gangguan kesehatan mental akibat rutinitas yang menuntut kesiapan kapan saja,” tuturnya.

Sebagai upaya pencegahan, Huda memberikan beberapa tips untuk menjaga kesehatan mental. Di antaranya, olahraga teratur, tidur cukup, membatasi penggunaan media sosial.

Kemudian mencari dukungan sosial, serta mengembangkan keterampilan koping atau menghadapi situasi penuh tekanan. “Kesehatan mental yang baik sangat penting untuk menjaga motivasi, pola pikir konstruktif, dan menghasilkan berita berkualitas,” tegas Huda.

Diskusi ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran wartawan terhadap pentingnya kesehatan mental dalam menjalani profesi yang penuh tantangan. (gus/yad)

Profesi ini Rawan Gangguan Kesehatan Mental, Waspada ! Selengkapnya

Kolaborasi Dinkes dan PWI Gresik, Pengentasan Stunting Harus Libatkan Semua Stakeholder

GRESIK,1minute.id – Pengentasan stunting, masih menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kabupaten atau Pemkab Gresik. Saat ini, angka prevelensi stunting di Kota Industri-sebutan lain-Kabupaten Gresik masih di angka 15,7 persen pada semester I/2024.

Brrdasarkan Perda nomor 9/2023, ditargetkan penurunan angka stunting pada 2024 sebesar 10 persen di sisa 21 hari lagi. Dinas Kesehatan atau Dinkes Gresik dan Persatuan Wartawan Indonesia atau PWI Gresik menggelar diskusi kolaborasi dalam rangka menekan angka stunting di Gresik pada Selasa, 10 Desember 2024.

Diskusi di helat di Sekretariat PWI Gresik di Jalan A.I.S Nasution, Gresik dipimpin oleh Ketua PWI Gresik Deni Ali Setiono dan dihadiri puluhan anggota.

Deni menyebut, berdasarkan data bahwa prevalensi stunting di Gresik pada semester I/2024 masih di angka 15,7 persen. Dan ditargetkan turun hingg angka 10 persen sebagaimana Perda Nomor 9 Tahun 2023.

“Berdasarkan data masih ada 22 desa di 9 kecamatan dengan angka prevalensi stunting tinggi. Kerentanannya pada ibu miskin, ibu remaja, keluarga terisolasi hingga hambatan tradisi dan budaya,” ungkap Deni.

Ia melanjutkan, upaya penurunan angka stunting menghadapi tantangan yang kompleks. Mulai dari keterbatasan akses hingga kendala edukasi dan sosialisasi. 

“Dalam upaya penurunan stunting ini, kita sebagai jurnalis atau wartawan mempunyai peran yang penting. Salah satunya dalam hal edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat,” imbuhnya.

Edukasi dan sosialisasi ini dapat melalui informasi atau pemberitaan pencegahan stunting, angkat cerita keberhasilan penanganan stunting sebagai inspirasi dan mendorong lahirnya kebijakan pro stunting. 

“Yang perlu digarisbawahi bahwa, persoalan stunting ini adalah sesuatu yang kompleks. Tidak bisa hanya Dinas Kesehatan atau satu instansi saja, jadi kami mendorong kolaborasi seluruh stakeholder seperti Dinas Pendidikan, KBPPPA dan lainnya dalam rangka percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Gresik,” tutupnya.

Dalam diskusi ini juga disoroti terkait anomali data prevalensi stunting dengan kondisi di lapangan. Diperlukan data yang valid agar penanganan stunting berjalan secara optimal. Serta optimalisasi pencegahan stunting mulai dari anak remaja. Salah satunya pengawasan pemberian vitamin kepada remaja hingga pencegahan pernikahan dini. Permasalahan kompleks akan terurai dengan kolaborasi bersama-sama. (yad/gus)

Kolaborasi Dinkes dan PWI Gresik, Pengentasan Stunting Harus Libatkan Semua Stakeholder Selengkapnya

Bidan dan Ahli Gizi Puskesmas Dapet Berikan Konseling Ibu dan Balita Alami Gangguan Gizi

GRESIK,1minute.id – Bidan Ayu Septiarni dan ahl gizo Vitri Aprilia mengunjungi seorang warga di Dusun Landean, Desa Tanah Landean, Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik.

Kunjungan rutin bidan desa dan ahli gizi dari Puskesmas Dapet ini untuk memastikan pemenuhan gizi yang cukup kepada seorang ibu yang memiliki anak balita di dusun tersebut. Sebab, balita tersebut berpotensi mengalami gizi buruk.

Sehingga, bidan Ayu dan ahli gizi Aprilia memberikan perhatian khusus agar orang tua dan balitanya berkecupan asupan gizinya. Bila pencegahan yang dilakukan oleh bidan Ayu dan ahli gizi Aprilia itu berhasil di dusun Landean terbebas dari anak gizi buruk.  

Dalam kunjungan itu, bidan Ayu, dan Ahli Gizi Aprial memantau kondisi kesehatan balita; memberikan edukasi kepada orang tua untuk memastikan penanganan yang tepat bagi balita yang membutuhkan.

Pada kesempatan itu, dua perempuan tangguh itu, menjelaskan tentang pemanfaatan buku kesehatan ibu dan anak atau KIA kepada ibu balita terkait bagaimana pemantauan pertumbuhan dan perkembangan perawatan balita, pemberian ASI eksklusif, pentingnya gizi seimbang untuk balita, imunisasi balita, serta penanganan penyakit umum pada balita.

Kepala Dinas Kesehatan atau Dinkes Gresik dr Mukhibatul Khusnah mengatakan, kegiatan kunjungan rumah ini dilakukan untuk memberikan konseling kepada keluarga balita. Konseling terkait pemenuhan gizi balita. “Juga kunjungan rumah dilakukan untuk mengidentifikasi faktor risiko lingkungan dan keluarga yang berpotensi menyebabkan gangguan gizi,” kata dr Khusnah. (yad)

Bidan dan Ahli Gizi Puskesmas Dapet Berikan Konseling Ibu dan Balita Alami Gangguan Gizi Selengkapnya

Transformasi Pelayanan,  Dinkes Gresik Integrasikan Layanan Kesehatan di 32 Puskesmas 

GRESIK,1minute.id – Dinas Kesehatan atau Dinkes Gresik dan Persatuan Wartawan Indonesia atau PWI Gresik menggelar workshop di Gedung Nasional Indonesia atau GNI Gresik pada Rabu, 11 September 2024.

Workshop ini menghadirkan narasumber Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani, Ketua sementara DPRD Gresik Abdullah Hamdi, Kadinkes Gresik dr Mukhibatul Khusna dan Ketua PWI Gresik Deny Ali Setyono. Worshop mengusung tema “Integrasi Layanan Primer di Kabupaten Gresik Mengedepankan Pelayanan sesuai Siklus Hidup” gayeng

Integrasi layanan primer bertujuan untuk menyediakan layanan kesehatan yang terintegrasi dari tahap bayi dalam kandungan, anak, remaja, dewasa hingga usia lanjut.  

Dengan transformasi pelayanan anyar ini,  warga di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik dapat mengakses pelayanan kesehatan atau yankes yang sesuai dengan kebutuhan spesifik pada setiap tahap kehidupan. Yankes lebih efisien dan efektif. 

“Saat ini layanan kesehatan yang telah terintegrasi atau diujcobakan di 32 puskesmas di Kabupaten Gresik,” kata Kadinkes Gresik dr Mukhibatul Khusna pada Rabu, 11 September 2024. “Kedepannya, harapan semua yankes seperti pustu, ponkesdes hingga posyandu bisa teritegrasi,” imbuh dr Khusna. 

Ia megatakan, integrasi pelayanan primer merupakan trasformasi baru pelayanan kesehatan di Indonesia. Dengan integrasi layanan primer ini, para pasien akan mendapatkan kualitas layanan yang semakin baik. 

“Integrasi Layanan Kesehatan Primer adalah upaya untuk mengoordinasikan dan menyelaraskan berbagai layanan kesehatan primer. ILP merupakan salah satu pilar transformasi bidang kesehatan di Indonesia yang melayani mulai dari ibu hamil, bayinya, remaja, dewasa hingga lansia,” ungkapnya.

Layanan primer ini, transformasi pelayanan kesehatan di masyarakat paling bawah, yakni di desa atau kelurahan seperti posyandu,  puskesmas pembantu atau pustu,  pondok kesehatan desa atau ponkesdes hingga puskesmas.

“Ketika pelayanan kesehatan sudah terlayani di desa,  kunjungan ke puskesmas akan berkurang,” ujarnya. Pelayanan teritegrasi ini tidak semudah membalik telapak tangan. Sebab, banyak tantangannya,  mulai sumber daya manusia hingga anggaran. 

“Dengan adanya UHC tentu layanan ini akan sangat terintegrasi. Sehingga harapannya bisa bersinergi dengan legislatif, terutama soal pengawalan anggaran,” tuturnya.

Integrasi layanan ini memiliki beberapa fokus, yaitu menyelaraskan pelayanan kesehatan berdasarkan siklus hidup, Memperluas layanan kesehatan hingga ke tingkat kalurahan dan padukuhan, serta memperkuat pemantauan wilayah setempat.

“Semoga bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat,” harap dokter Khusna. 

Sementara itu, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menyampaikan masih banyak problem pelayanan kesehatan yang saat ini menjadi tantangan Pemerintah Kabupaten. Ia bersama jajaran sedang fokus menyelesaikan hal tersebut.

Seperti keadaan pustu yang memprihatinkan tapi tak bisa direhabilitasi sebab berada diatas lahan aset desa, gaji kader kesehatan yang masih kecil, dan lainnya.

Gus Yani-begitu biasa disapa-Fandi Akhmad Yani mencontohkan layanan kesehatan di Singapura yang dianggap baik. “Kehebatan negara maju dalam pelayanan kesehatan adalah dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi, layanan yang ramah dan cepat, peningkatan kapasitas SDM perawat. Ini yang perlu kita contoh dan benahi,” kata Ketua DPRD Gresik periode 2019-2020 itu. 

Ia pun meminta kepada Dinkes dan Kepala Puskesmas agar memikirkan layanan konsultasi kesehatan dengan jarak jauh berbasis teknologi. Hal ini dianggap sangat inovatif untuk mengurangi antrean di Puskesmas saat berobat.

“Mungkin bisa kita coba, nanti honor pelayanannya diambilkan dari dana kapitasi di BPJS. Mungkin bisa dicoba di kota dulu,” kata Gus Yani, orang nomor satu di Kota Santri ini. 

Ketua sementara, DPRD Gresik Abdullah Hamdi mengatakan, legislatif akan mendukung upaya perbaikan pelayanan kesehatan untuk semakin lebih baik. “Bahkan, mungkin nanti dana pokir dewan bisa dialokasikan untuk perbaikan infrastruktur pelayanan kesehatan,” tegasnya. (yad) 

Transformasi Pelayanan,  Dinkes Gresik Integrasikan Layanan Kesehatan di 32 Puskesmas  Selengkapnya

RJTDC RSUD Ibnu Sina Gresik Segera Beroperasi, dr Soni : Satu Lantai Satu Poli, Nyaman dan Privasi Pasien Terjamin

GRESIK,1minute.id – Gedung Rawat Jalan Terpadu dan Diagnostic Center (RJTDC) RSUD Ibnu Sina Gresik berdiri megah. Investasi yang gelontorkan untuk penbangunan gedung 8 lantai tahap pertama itu sebesar Rp 42 miliar. “Tahap kedua akan dilakukan tahun ini. Masih tahap lelang,” ujar Direktur Utama RSUD Ibnu Sina Gresik dr Soni dalam Konferensi Pers di lantai dasar Gedung Rawat Jalan Terpadu dan Diagnostic Center RSUD Ibnu Sina Gresik pada Rabu, 24 Januari 2024.

Mantan Direktur RSUD Umar Mas’ud, Pulau Bawean, itu didampingi oleh Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Gresik Nana Riana dan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Gresik dr Mukhibatul Khusnah. 

Tahap pertama pembangunan gedung RJTDC membutuhkan waktu 120 hari kerja dengan anggaran sebesar Rp 42 miliar dari pagu anggaran sebesar Rp 53 miliar.  Pembangunan tahap pertama ini, diantaranya, konstruksi bangunan gedung dengan delapan lantai, pemasangan dinding, pelapis lantai, pintu dan jendela. Kemudian, sebagai pekerjaan makanikal, instalasi listrik, instalasi air bersih dan air kotor atau pembuangan dan instalasi hidrant. 

Sedangkan, tahap kedua pagu anggaran sebesar Rp 21 miliar. “Saat tahap proses lelang. Semoga tahun ini bisa selesai dan beroperasi,” kata dokter murah senyum ini. Konsep pembangunan gedung RJTDC berbeda. Nanti, setiap lantai hanya digunakan untuk satu poli atau maksimal dua poli. “Sehingga, pasien akan nyaman dan privasi terjamin,” katanya. 

Ia mencontohkan poli kulit, privasi pasien yang akan terjamin karena tidak bersama pasien poli lainnya. Selain kenyamanan dan privasi, gedung RJTDC akan menggunakan sistem pelayanan digitalisasi. Mulai pendaftaran calon pasien mendapat barcode kemudian mendapatkan pelayanan. 

TAHAP PRATAMA: Gedung Rawat Jalan Terpadu dan Diagnostic Center (RJTDC) RSUD Ibnu Sina Gresik diestimasikan beroperasi tahun ini, 2024 ( Foto : Chusnul Cahyadi/1minute.id)

“Saya berharap nantinya semua pasien rawat jalan hanya cukup dilayani di dalam satu gedung ini,” ujarnya.  Saat ini, pelayanan poli dilakukan di gedung lama di lantai satu. Ada sejumlah poli pelayanan. Sehingga, semua pasien berjubel dalam satu tempat. Ketika pasien harus ambil obat atau jalani pemeriksaan lainnya dilakukan di ruang lainnya. Mereka harus jalan. Sehingga, menyulitkan pasien. 

“Nanti Saya inginkan semua layanan rawat jalan cukup di dalam gedung ini,” tegasnya. Sementara itu, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Gresik Nana Riana mengatakan, pembangunan Gedung Rawat Jalan Terpadu dan Diagnostic Center (RJTDC) RSUD Ibnu Sina Gresik, satu dari sepuluh proyek strategis daerah (PSD) Gresik.

“Karena masuk proyek strategis daerah sehingga Bupati Gresik ( Fandi Akhmad Yani, Red) meminta Kejaksaan Negeri melakukan pendampingan. Agar proyek berjalan sesuai dengan rencana,” kata Nana Riana usai melakukan pemantauan kondisi bangunan gedung RJTDC pada Rabu, 24 Januari 2024.

Nana Riana mengaku puas dengan pekerjaan pembangunan gedung tersebut. Sebab,  pembangunan gedung selesai sesuai dengan rencana. “Kami ( Seksi Intelijen) melakukan pengawasan nyaris setiap hari. Apalagi,  gedung ini juga lewat kami setiap harinya,” ujarnya. 

Apakah pembangunan tahap kedua mendapatkan pengawasan dari korp Adhyaksa yang berkantor di Jalan Permata, Kompleks Perumahan Bunder Asri, Kecamatan Kebomas itu. “Saya belum mengetahui.  Mudah-mudahan menjadi proyek strategis daerah (PSD). Kalau PSD pendampingan dilakukan oleh intelejen. Kalau bukan PSD pendampingan dilakukan oleh Datun (Perdata dan Tata Usaha),” katanya. (yad)

RJTDC RSUD Ibnu Sina Gresik Segera Beroperasi, dr Soni : Satu Lantai Satu Poli, Nyaman dan Privasi Pasien Terjamin Selengkapnya

Ikhtiar Gresik Bebas Stunting, Bupati dan Ketua TP PKK Gresik Berikan PMT hingga Lacak Bumil KEK

GRESIK,1minute.id – Pemerintah bertekad mewujudkan Gresik bebas stunting. Sejumlah program rencana dan aksi dilakukan. Antara lain, pemberian makanan tambahan (PMT), pelacakan anak berisiko stunting dan Ibu hamil berstatus kekurangan energi kronik (Bumil KEK) mulai dilakukan pada Rabu, 22 November 2023.

Kick off PMT, pelacakan anak berisiko stunting serta Bumi KEK diawali di Desa Peganden, Kecamatan Manyar dipimpin langsung oleh Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani dan Ketua TP PKK Gresik Nurul Haromaini Ali. Pelacakan stunting ini bertujuan untuk melihat lebih dekat penyebab balita stunting di masyarakat dan melaksanakan pendekatan yang tepat dalam penanggulanganya.

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan, stunting di Indonesia secara global di urutan ke-7 dan urutan ke-5 di Asia. Di Kabupaten Gresik angka stunting sudah turun di angka 10,7 persen. Dan, perlu terus didorong sampai angka 0% atau zero hingga menjadi kabupaten bebas stunting.

“Untuk itu, pencegahan stunting pada anak berusia di bawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan,” kata Gus Yani-sapaan akrab-Bupati Fandi Akhmad Yani pada Rabu, 22 November 2023.

Dikatakan, situasi penanggulangan stunting di Kabupaten Gresik cukup menggembirakan, karena berdasarkan data SSGI tahun 2022 angka prevalensi stunting sebesar 10,7 %. Dimana sudah melampaui target nasional yaitu 14%.

“Keberhasilan ini merupakan hasil kerja bersama terintegrasi antar OPD dan lintas sektor di Kabupaten Gresik dalam kerangka 8 aksi konvergensi untuk penanggulangan stunting, “ungkapnya.

Pihaknya mengapresiasi PKK, salah satu lembaga sosial kemasyarakatan yang turut mengambil peran besar dalam upaya percepatan penurunan stunting. Salah satunya melalui kegiatan pelacakan stunting seperti saat ini.

“Melalui pelacakan pemerintah mampu melihat lebih dekat penyebab balita stunting di masyarakat dan melaksanakan pendekatan yang tepat dalam penanggulannnya,” tuturnya. Ia berharap hasil dari pelacakan stunting dapat ditindaklanjuti oleh kepala desa, camat, tokoh dan seluruh lapisan masyarakat Desa Peganden dan Kecamatan Manyar. Dengan cara berbagi peran dan sumber daya disertai dukungan dari Pemerintah Kabupaten Gresik.

“Masih banyak cara kita untuk menangani stunting. Mulai dari pencegahan pernikahan dini, menjaga kebersihan lingkungan hidup sehat di dalam dan luar rumah, pola asuh yang tepat serta perbaikan gizi,” katanya. 

PMT bukan berarti makanan pokok, stunting bisa dicegah dan perbaiki. Apalagi Kecamatan Manyar dikelilingi industrisasi. Maka kondisi generasi di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik tidak boleh lemah, anak-anak harus berkompetisi, harus cerdas. Peran orang tua juga harus paham apa yang disukai oleh anak-anak. Ini semua untuk kecerdasan mereka.

“Perlu kolaborasi lintas sektor, masyarakat dan industri. Peran industri juga harus punya komitmen dalam pencegahan stunting di Kabupaten Gresik,” tegasnya. 

Di tempat sama, Ketua TP PKK Gresik Nurul Haromaini Ali menyampaikan, Pemkab Gresik berkomitmen mencegah dan menurunkan angka stunting. Permasalahan stunting saat ini sedang gencar diperangi oleh pemerintah harus mendapat perhatian oleh berbagai pihak.

Hal ini tidak terlepas dari betapa pentingnya pencegahan stunting guna mencetak generasi emas di masa mendatang. “Secara langsung stunting disebabkan asupan yang kurang dan penyakit infeksi yang keduanya saling mempengaruhi. Secara tidak langsung, ketahanan pangan hingga tingkat rumah tangga, pola asuh, serta akses terhadap kelayakan sanitasi utamanya air bersih harus ditingkatkan,” kata istri Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani ini.

Gerakan PMT dan pelacakan anak berisiko stunting, merupakan salah satu ikhtiar bersama-sama dalam mencegah stunting di Kabupaten Gresik ini menjadi tanggung jawab bagi bersama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan dan pentingnya makanan bergizi.

“Salah satunya dengan memberikan makanan tambahan bagi anak-anak dan Ibu hamil KEK. Sebagai upaya untuk meningkatkan kebutuhan gizi mereka, sehingga anak-anak usia dini yang kita miliki akan memperoleh masa tumbuh kembang yang baik,” harap Ning Nurul-sapaan-Nurul Haromaini Ali ini. (yad)

Ikhtiar Gresik Bebas Stunting, Bupati dan Ketua TP PKK Gresik Berikan PMT hingga Lacak Bumil KEK Selengkapnya