Menjadi Gresik, Membaca Sejarah Kota dari Ingatan Warganya

GRESIK,1minute.id— Lembar-lembar kain menggantung di sepanjang jalan Kampung Kemasan. Di atasnya tersimpan potongan ingatan warga tentang Gresik: cerita tentang kampung, makanan, keluarga, kebiasaan, dan hal-hal kecil yang selama ini hidup dalam keseharian.

Di antara bangunan-bangunan tua yang berdiri sejak ratusan tahun lalu, lembaran kain itu menjadi semacam arsip terbuka. Pengunjung berjalan menyusuri kampung, membaca cerita, memasuki bangunan lama yang kini diaktivasi menjadi ruang pamer, sekaligus berjumpa dengan warga dan aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitarnya.

Pengalaman itu menjadi salah satu cara Festival Menjadi Gresik mengajak publik membaca kembali sebuah kota. Selama ini, kerap ditemukan dalam arsip, bangunan bersejarah, catatan perdagangan, kisah kerajaan, tokoh-tokoh besar, atau peristiwa politik. Semua itu penting untuk memahami perjalanan sebuah daerah. Namun, ada bagian lain dari sejarah yang tidak selalu tersimpan dalam dokumen resmi. Ia hidup dalam ingatan warga.

Dalam makanan yang dimasak secara turun-temurun. Dalam pakaian yang dikenakan dalam keseharian. Dalam tradisi kampung, cerita keluarga, bahasa, kebiasaan, dan pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Gagasan itulah yang menjadi titik berangkat Festival Menjadi Gresik, program yang digagas Yayasan Gang Sebelah dan berlangsung pada 15–30 Agustus 2026 di Kampung Kemasan, Gresik.

Festival ini mencoba menghadirkan cara lain untuk membaca kota, dengan menempatkan pengalaman, ingatan, dan pengetahuan warga sebagai bagian penting dari sumber kebudayaan.

“Menjadi Gresik berangkat dari kegelisahan bahwa sejarah kota sering kali diceritakan melalui narasi besar, sementara pengetahuan yang hidup dalam keseharian warga justru luput dicatat. Padahal, dari dapur, pakaian, makanan, kampung, hingga cerita yang diwariskan antargenerasi, kita bisa melihat bagaimana sebuah masyarakat membentuk identitas kotanya,” ujar Hidayatun Nikmah, Direktur Festival Menjadi Gresik.

Membaca Kota dari Hal-Hal yang Dekat

Menjadi Gresik tidak berangkat dari upaya mencari satu definisi tunggal mengenai Gresik. Sebaliknya, festival ini mencoba membuka berbagai pintu untuk memahami kota melalui hal-hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Dapur, pasar, kampung, makanan, pakaian, ruang bersejarah, hingga ingatan personal menjadi medium untuk melihat hubungan antara sejarah, identitas, dan kehidupan sosial.

Salah satu pendekatan yang digunakan adalah gastronomi. Makanan tidak hanya dipahami sebagai hidangan atau produk kuliner, tetapi sebagai pengetahuan yang memiliki hubungan dengan lingkungan, ekonomi, keluarga, sejarah, dan kehidupan sosial masyarakat.

Melalui Seri Gastronomi, Yayasan Gang Sebelah melakukan riset dan dokumentasi terhadap sejumlah makanan khas Gresik, antara lain bandeng keropok, jubung, dan bubur roomo.

Proses tersebut tidak berhenti pada pencatatan resep. Penelusuran dilakukan terhadap bahan baku, teknik pengolahan, cara penyajian, pelaku yang mempertahankan tradisi, hingga cerita dan ingatan yang menyertai perjalanan makanan tersebut.

Hasil riset kemudian dikembangkan dalam berbagai bentuk, termasuk film dokumenter yang mempertemukan pengetahuan para pelaku dengan masyarakat yang mungkin selama ini mengenal makanan tersebut hanya sebagai bagian dari keseharian.

Dengan cara itu, makanan dapat dibaca lebih jauh: sebagai jejak hubungan manusia dengan lingkungan tempat tinggalnya, sebagai penanda perubahan ekonomi, sekaligus sebagai medium yang menyimpan ingatan keluarga dan masyarakat.

Pendekatan serupa digunakan untuk membaca pakaian. Sarung, kebaya, songkok, dan berbagai bentuk busana yang dikenakan masyarakat Gresik tidak hanya diperlakukan sebagai benda atau atribut identitas. Pakaian dibaca melalui hubungan antara tubuh, kebiasaan, ruang sosial, serta perubahan cara masyarakat membangun dan menampilkan identitasnya.

Irfan Akbar, Direktur Program mengaku bahwa Festival ini ditujukan untuk memperkaya narasi tentang ke-Gresik-an, “Kami tidak sedang mencari satu definisi tentang Gresik. Justru kami ingin membuka ruang agar warga dapat menceritakan Gresik dari pengalaman mereka sendiri. Festival ini adalah salah satu cara untuk mempertemukan kembali ingatan yang tersebar itu, mendokumentasikannya, lalu membawanya kembali kepada publik.”

Kampung sebagai Arsip

Kampung Kemasan, Kelurahan Pekelingan, Kecamatan/Kabupaten Gresik menjadi salah satu ruang penting dalam cara festival ini bekerja. Kawasan bersejarah tersebut tidak hanya digunakan sebagai latar penyelenggaraan acara. Jalan-jalan kampung, bangunan lama, rumah warga, hingga ruang-ruang yang sebelumnya kosong ikut menjadi bagian dari pengalaman festival.

Beberapa bangunan tua di sepanjang Kampung Kemasan diaktivasi sebagai ruang pamer dan presentasi. Jalan kampung menjadi ruang berjalan dan membaca. Warga terlibat dalam berbagai kegiatan, termasuk membuka usaha mikro dan kuliner selama festival berlangsung.

Dengan demikian, ruang bersejarah tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang beku dan hanya dapat dipandang dari kejauhan. Ia kembali digunakan sekaligus menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan kehidupan hari ini.

Di satu sisi, pengunjung dapat melihat jejak arsitektur dan sejarah kawasan. Di sisi lain, mereka berhadapan dengan cerita-cerita baru, hasil riset, makanan, aktivitas warga, dan berbagai bentuk ekspresi kebudayaan yang sedang berlangsung. Kampung dan gang, dalam konteks ini, tidak hanya menjadi lokasi, namun menjadi arsip yang masih hidup.

Belajar Membaca dari Warga

Festival Menjadi Gresik juga merupakan bagian dari proses yang lebih panjang, melalui Besali Studi Kultural, sebuah ruang belajar kolektif yang mendorong riset berbasis pengalaman, ingatan kolektif, tradisi lisan, dan praktik kehidupan warga.

Melalui proses panggilan terbuka dan kurasi, delapan kelompok dari berbagai latar belakang terpilih untuk melakukan pengamatan, wawancara, dokumentasi, pengarsipan, dan pengembangan pengetahuan kebudayaan.

Kelompok tersebut berasal dari berbagai komunitas dan institusi, antara lain DKV Universitas Internasional Semen Indonesia, CYG Team, Kronika SMAN 1 Gresik, Power Art SMAN 1 Gresik, Gresik Book Party, Universitas Muhammadiyah Gresik, Universitas Sunan Gresik, dan Niti Narasi.

Selama prosesnya, mereka mendapatkan fasilitasi kelas, pendampingan, hingga kesempatan mempresentasikan hasil riset kepada publik. Beragam objek menjadi pintu masuk penelitian, seperti pakaian adat, percampuran budaya masyarakat Tionghoa dan Arab, arsitektur Kampung Kemasan, Pasar Pahing, songkok dan tas besali, gulat okol, aksara Gresik, hingga laban di kawasan Pangkah.

Pilihan objek tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak hanya berada dalam bentuk kesenian yang telah dikenal secara luas. Ia juga dapat ditemukan dalam benda sehari-hari, ruang, bahasa, tubuh, permainan, pekerjaan, dan pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman masyarakat.

Bagi Yayasan Gang Sebelah, proses tersebut penting karena banyak pengetahuan lokal masih bertahan secara lisan dan bergantung pada orang-orang yang menguasainya. Ketika pengetahuan tidak dicatat atau diteruskan, ia berisiko hilang bersama perubahan generasi. Karena itu, riset dalam program ini tidak semata-mata ditujukan untuk menghasilkan karya.

Sejarah yang Belum Selesai

Pameran, film, E-Magazine, dokumentasi gastronomi, dan presentasi hasil riset dalam Festival Menjadi Gresik tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir. Seluruhnya merupakan bagian dari upaya membangun arsip pengetahuan yang dapat terus dikembangkan, dibaca kembali, diperdebatkan, bahkan dilengkapi oleh generasi berikutnya.

“Bagi kami, merawat kebudayaan bukan hanya menyelamatkan sesuatu dari masa lalu. Yang lebih penting adalah menjaga pengetahuan agar tetap bisa digunakan, dibicarakan, dan dimaknai oleh generasi hari ini. Karena itu, Menjadi Gresik bukan tentang mengulang masa lalu, melainkan tentang memahami apa yang membuat kita menjadi Gresik hari ini,” ujar Hidayatun Nikmah.

Menjadi Gresik mencoba memulai pembacaan dari tempat dan hal-hal yang sering kali tampak sederhana. Makanan yang dimasak di rumah, pakaian yang dikenakan, cerita yang disampaikan orang tua, tradisi yang dijalankan bersama, dan ingatan tentang tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari kehidupan. Melalui festival ini, warga tidak hanya ditempatkan sebagai penonton sejarah kotanya sendiri. Dan dalam ingatan yang mereka simpan, sebuah kota terus menemukan cara untuk menjadi dirinya sendiri. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Menjadi Gresik, Membaca Sejarah Kota dari Ingatan Warganya Selengkapnya

Bupati Gresik Buka Festival Menjadi Gresik, Nguri-uri Budaya hingga Kuliner

GRESIK,1minute.id – Gresik tidak hanya dibentuk oleh sejarah besar, bangunan tua, perkembangan industri, atau catatan resmi. Di balik semua itu, kehidupan sehari-hari warganya menyimpan pengetahuan yang tak kalah penting: ingatan, cerita, makanan, benda, kebiasaan, serta praktik sosial yang diwariskan dan terus berubah dari waktu ke waktu.

Gresik sebagai Kota memasuki usia 539 tahun dan sebagai Kabupaten “baru” berusia 52 tahun pada 2026 ini memiliki banyak cerita yang tumbuh dari perjalanan sejarah, budaya, hingga tradisi kulinernya. Nguri-uri tersebut kembali dihadirkan dalam Festival Menjadi Gresik yang digagas Yayasan Gang Sebelah di Kampung Kemasan Jalan Nyai Ageng Arem-arem, Kelurahan Pekelingan, Kecamatan/Kabupaten Gresik pada Sabtu malam, 15 Agustus 2026.

Festival yang berlangsung hingga 30 Agustus 2026 ini dibuka oleh Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani.  Rangkaian pembukaan diawali dengan fine dining bertajuk “Menjadi Gresik” melalui program Dapur Saji. Bupati Yani bersama tamu undangan diajak menikmati tiga kuliner yang memiliki keterkaitan dengan identitas dan sejarah Gresik, yakni bubur romoo, bandeng keropok, dan jenang jubung.

Ketiganya disajikan dengan pendekatan berbeda. Bubur romoo dipincuk menggunakan daun api-api atau mangrove. Bandeng keropok menggunakan bandeng tanpa duri yang di-grill dengan daun pisang. Sementara jenang jubung dihadirkan sebagai isian pia.

Penyajian tersebut menjadi cara untuk memperkenalkan kembali kekayaan kuliner Gresik melalui pendekatan yang lebih kreatif. Di balik setiap sajian, terdapat cerita mengenai tradisi, kebiasaan, dan perjalanan masyarakat Gresik yang terus diwariskan hingga hari ini.

Bupati Fandi Akhmad Yani mengapresiasi inisiatif Yayasan Gang Sebelah yang menghadirkan sejarah Gresik melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. “Alhamdulillah, malam ini kita bisa melihat langsung sejarah yang telah dikumpulkan oleh teman-teman komunitas seni dari Yayasan Gang Sebelah. Kita bisa bernostalgia melihat masa lalu Gresik, sejarah Gresik yang begitu luar biasa,” ujar Gus Yani, sapaan akrab, Fandi Akhmad Yani.

Menurutnya, memahami sejarah penting bagi generasi muda agar mereka tidak kehilangan akar dalam melihat perkembangan Gresik ke depan. Terlebih, perjalanan Gresik sebagai kota pelabuhan telah membentuk masyarakat dengan keragaman budaya, etnis, kuliner, dan tradisi.

“Sejarah adalah masa depan kita. Kita bisa melihat Gresik tempo dulu, Gresik yang begitu luar biasa. Gresik sebagai kota pelabuhan tentu memiliki perpaduan budaya, etnis, kuliner, dan macam-macam kekayaan yang bisa kita lihat,” katanya.

Ia menilai kuliner menjadi salah satu bagian penting dari kekayaan tersebut. Bubur roomo, bandeng keropok, dan jenang jubung bukan hanya makanan yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi juga memiliki nilai ekonomi karena hingga kini masih menjadi sumber penghidupan masyarakat.

“Makanan-makanan ini usianya mungkin sudah berpuluh tahun, bahkan bisa lebih tua daripada saya. Tetapi sampai hari ini masih bisa memberikan dampak dan manfaat. Masih banyak masyarakat Gresik yang hidup dari proses kuliner tadi,” ujar Bupati.

Karena itu, ia mendorong agar warisan budaya dan kuliner Gresik tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Pelestarian perlu dilakukan dengan cara yang membuatnya tetap dikenal, dinikmati, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kita semua terus melestarikan apa yang menjadi warisan budaya yang sampai hari ini bisa kita lihat, bisa kita rasakan, punya dampak, punya manfaat untuk kesejahteraan masyarakat Kabupaten Gresik,” tuturnya.

Usai mengikuti fine dining, Bupati Yani meninjau pameran seni yang menampilkan berbagai karya dan cerita mengenai Gresik.

Direktur Festival Menjadi Gresik Hidayatun Hikmah mengatakan, gagasan festival telah dibicarakan selama sekitar dua hingga tiga tahun sebelum akhirnya dapat terlaksana tahun ini.

Festival tersebut, katanya, lahir dari keinginan untuk mengajak masyarakat mencintai Gresik melalui berbagai cara dan perspektif. “Kami ingin mengajak teman-teman lebih mencintai Gresik melalui caranya masing-masing, melalui bidang keilmuannya masing-masing, melalui apa yang dirasakan masing-masing,” ujarnya.

Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah riset gastronomi. Makanan dipilih karena menjadi bagian yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. “Bagi kami, Gresik adalah dapur, tempat segalanya dimulai kemudian disajikan. Makanya kami memilih tema Dapur Saji,” katanya.

Tidak berhenti pada gastronomi, Festival Menjadi Gresik juga menghadirkan studi kultural yang melibatkan kelompok lintas disiplin. Sebanyak delapan kelompok dari kalangan seniman, sekolah, perguruan tinggi, hingga duta wisata akan mempresentasikan hasil riset dan karya mereka selama festival berlangsung.

Menurut Hidayatun, keterlibatan berbagai kelompok tersebut menunjukkan bahwa Gresik memiliki sejarah dan kebudayaan yang dapat dibaca dari banyak perspektif. 

“Literasi di sini tumbuh dengan baik. Kita punya banyak sejarah, kaya akan kebudayaan yang sangat beragam dan sangat bisa kita sajikan dengan berbagai macam cara,” ujarnya.

Melalui Festival Menjadi Gresik, Yayasan Gang Sebelah berharap berbagai cerita tentang Gresik dapat kembali hadir di tengah masyarakat. Bukan sekadar untuk mengenang masa lalu, tetapi untuk menemukan cara baru memahami dan mencintai Gresik. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Bupati Gresik Buka Festival Menjadi Gresik, Nguri-uri Budaya hingga Kuliner Selengkapnya