Wabup Gresik Dorong BPD Jadi Mitra Strategis Perintah Desa untuk Bangun Desa 

GRESIK,1minute.id – Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif mendorong Badan Permusyawaratan Desa (BPD) memperkuat perannya sebagai mitra strategis pemerintah desa (Pemdes) dalam pembangunan. Sinergi antara BPD dan kepala desa dinilai penting agar penyelenggaraan pemerintahan desa berjalan harmonis dan kebijakan yang dihasilkan benar-benar berpihak kepada kepentingan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Wabup saat menghadiri Pelantikan Pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Asosiasi Badan Permusyawaratan Desa Nasional (Abpednas) Kabupaten Gresik Masa Bakti 2026–2032 di parkir timur Kantor Bupati Gresik pada Senin, 4 Agustus 2026.

“Pelantikan ini bukan hanya sekadar acara seremonial, tetapi merupakan awal sebuah tanggung jawab yang besar. BPD memiliki posisi yang sangat strategis sebagai representasi masyarakat desa,” ujar dokter Alif, sapaan akrab, Asluchul Alif.

Menurutnya, BPD tidak hanya menjalankan fungsi pengawasan, tetapi juga menjadi mitra pemerintah desa dalam melahirkan kebijakan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat. Karena itu, hubungan kepala desa dan BPD harus dibangun atas dasar saling menghormati, mengingatkan, dan menguatkan.

“Jangan sampai ada persaingan, apalagi konflik yang menghambat pembangunan. Yang harus kita bangun bersama adalah kolaborasi,” tegasnya.

Wabup Alif mengatakan, Pemerintah Kabupaten Gresik terus mendorong agar pembangunan dimulai dari desa. Karena itu, ia meminta BPD menjalankan peran strategis sebagai penyambung aspirasi masyarakat secara jujur dan objektif, sekaligus mengawal penggunaan dana desa agar berlangsung transparan dan akuntabel.

Selain itu, BPD didorong untuk ikut memacu inovasi desa, penguatan UMKM, ketahanan pangan, peningkatan kualitas pelayanan publik, pemberdayaan generasi muda dan perempuan, serta menjaga kondusivitas desa.“Teruslah belajar, beradaptasi dengan perkembangan regulasi, memantapkan teknologi informasi, dan memperkuat kompetensi agar BPD semakin profesional,” katanya.

Wabup Alif menambahkan, Kabupaten Gresik sebagai daerah industri sekaligus memiliki karakter pedesaan yang kuat memiliki potensi ekonomi yang perlu terus dikembangkan dari tingkat desa. Menurutnya, penguatan sumber daya manusia dan gotong royong juga menjadi modal penting dalam pembangunan.

“Saya yakin apabila pemerintah desa, BPD, masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah daerah berjalan seiring, cita-cita mewujudkan desa yang maju, mandiri, dan sejahtera akan semakin cepat terwujud,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPC Abpednas Kabupaten Gresik yang baru dilantik, HR. Hendry M mengatakan, kepengurusan yang baru dilantik akan menjalankan organisasi dengan mengedepankan program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat desa.

Ia menyebut sejumlah program telah dijalankan Abpednas Gresik, di antaranya program “Jaga Desa, Jaga Dapur”, pembangunan sumur bor di salah satu desa di Kecamatan Balongpanggang, serta pengusulan 52 anak didik jenjang SD hingga SMP untuk mengikuti Program Indonesia Pintar.

Wabup Alif menyampaikan selamat kepada jajaran pengurus DPC Abpednas Gresik yang baru dilantik. Ia berharap amanah tersebut menjadi ruang pengabdian untuk memperkuat peran BPD dalam pembangunan desa. “Ini semua adalah untuk memberikan manfaat kepada masyarakat,” ujar Hendry.

Ke depan, DPC Abpednas Gresik juga berkomitmen mengambil bagian dalam mendukung program Nawa Karsa Gresik Baru 2026–2030, khususnya melalui penguatan tata kelola pemerintahan desa yang transparan, akuntabel, dan partisipatif. Hendry mengatakan, pelaksanaan program tersebut akan dilakukan dengan membangun sinergi bersama kepala desa dan perangkat desa sesuai fungsi, tugas, dan kewenangan BPD.

Dukungan terhadap keberadaan Abpednas juga disampaikan Kepala Kejaksaan Negeri Gresik Zam Zam Ikhwan. Ia menilai BPD memiliki posisi penting dalam penyelenggaraan pemerintahan desa karena merupakan lembaga yang merepresentasikan masyarakat.

Menurutnya, BPD memiliki peran strategis dalam menyerap, mengelola, dan menyampaikan aspirasi masyarakat sekaligus menjadi penyeimbang dalam jalannya pemerintahan desa.

Ia menyebut terdapat lebih dari 1.400 anggota BPD yang tersebar di 330 desa di Kabupaten Gresik. Dengan jumlah tersebut, keberadaan wadah organisasi dinilai penting sebagai ruang untuk membangun kapasitas, komunikasi, dan kolaborasi antaranggota BPD.

Kajari Gresik menegaskan, Abpednas bukanlah tandingan kepala desa. Sebaliknya, organisasi tersebut harus menjadi mitra kerja pemerintah desa dalam membangun dan memajukan desa demi kesejahteraan masyarakat. 

“Asosiasi ini bukanlah tandingan bagi para kepala desa. Abpednas merupakan mitra kerja kepala desa dalam membangun desa dan memajukan desa demi kesejahteraan masyarakat,” tegasnya. Ia pun meminta jajaran pengurus dan anggota Abpednas membangun sinergi serta koordinasi dengan pemerintah desa dalam menjalankan fungsi BPD. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Wabup Gresik Dorong BPD Jadi Mitra Strategis Perintah Desa untuk Bangun Desa  Selengkapnya

Mahasiswa UINSA Surabaya Lakukan PLP, Observasi Budaya Sekolah di UPT SMP Negeri 2 Gresik

GRESIK,1minute.id – Sebanyak sepuluh mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya melakukan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) ke UPT SMP Negeri 2 (Spenda) Gresik. 

Selama sepuluh hari, mulai Rabu, 29 Juli 2026, mahasiswa strata-1 itu, akan melaksanakan kegiatan observasi budaya sekolah, aspek pembelajaran dan pengelolaan pendidikan satuan pendidikan di sekolah yang dipimpin oleh Mohammad Salim itu. Puluhan mahasiswa PLP gelombang pertama didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan Dr. Suparto.

Pada kesempatan itu, Dosen Pembimbing Lapangan Dr. Suparto berpesan agar mahasiswa mampu memahami bahwa pengalaman tambahan lapangan ini akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan. “Jadikan UPT SMP Negeri 2 ini sebagai rumah kedua untuk menimba ilmu sebanyak mungkin karena sekokah ini sudah teruji sangat baik, sekolah luar biasa yang ada di Gresik,” ujar Suparto.

Kepala UPT SMP Negeri 2 Gresik Mohammad Salim mengatakan, Spenda Gresik sudah menjadi jujukan kemitraan dengan UINSA dikarenakan berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik bagi mahasiswa yang ingin menimba keilmuan lapangan sebagai bekal mereka dikemudian hari. 

“Mahasiswa S1 UINSA Surabaya melakukan PLP di Spenda selama 10 hari. Nanti akan ada PLP 2 lanjutan yang akan di laksanakan 3 bulan berupa praktik 10% , 50% dan 100%. Bahkan penelitian skripsinya pun disini,” ujar Mohammad Salim melalui pesan WhatsApp. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Mahasiswa UINSA Surabaya Lakukan PLP, Observasi Budaya Sekolah di UPT SMP Negeri 2 Gresik Selengkapnya

Gubernur Khofifah bersama Sekda Gresik Sapa Siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Gresik

GRESIK,1minute.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengunjungi Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Gresik  pada Sabtu, 1 Agustus 2026. 

Dalam kunjungan di sekolah berlokasi di Desa Raci Tengah, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik itu, Gubernur Khofifah didampingi diantaranya, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman menyampaikan, bahwa Sekolah Rakyat merupakan wujud kehadiran negara dalam memberikan akses pendidikan berkualitas sekaligus menjadi upaya memutus mata rantai kemiskinan.

Gubernur Khofifah disambut para siswa yang membawa bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan di tengah lapangan sekolah. SRT 1 Gresik berdiri di atas lahan seluas 6,5 hektare. Sebanyak 405 peserta di didik yang belajar di sekolah berasrama jenjang SD, SMP dan SMA dan gratis itu. Rinciannya, setiap  sebanyak 90 siswa. Para peserta didik ini berasal dari 161 desa yang tersebar di 18 kecamatan se-Kabupaten Gresik, ditambah 60 siswa jenjang SMA titipan dari Kabupaten Lamongan dan siswa kelas XI sebanyak 75 siswa.

Fasilitas SRT 1 Gresik komplit. Mulai ruang kelas, laboratorium, perpustaan, kantin, masjid hingga lapangan sepak bola. Mereka yang belajar adalah anak-anak dari keluarga desil 1 dan 2, atau sangat miskin dan miskin.

Gubernur Khofifah menyampaikan rasa bahagianya dapat melihat secara langsung keseharian para siswa di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Gresik. Menurutnya, Sekolah Rakyat tidak hanya memberikan akses pendidikan, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kemandirian bagi anak-anak.

Dalam kunjungan tersebut, Khofifah meninjau sejumlah fasilitas pendukung sekolah, di antaranya kantin, masjid, dan aula sekolah. Ia juga menyapa para siswa serta memberikan bantuan kepada wali asrama dan para pekerja pendukung di lingkungan Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Gresik.

Khofifah menyampaikan bahwa penyelenggaraan Sekolah Rakyat terintegrasi membutuhkan persiapan yang matang, terutama dalam penyesuaian kurikulum karena mencakup beberapa jenjang pendidikan dalam satu lingkungan. Selain itu, ia menyoroti pentingnya pendampingan bagi siswa yang masih beradaptasi dengan sistem pendidikan berasrama.

“Meyakinkan orang tua agar anak kelas 1 SD berasrama itu tidak mudah. Ada anak yang sudah langsung merasa nyaman berada di asrama, tapi ada juga anak yang homesick. Nah, bagi yang homesick ini perlu ada pendampingan khusus supaya mereka tidak berontak minta pulang. Penguatan juga diberikan saat anggota keluarganya berkesempatan menengok,” ujar Khofifah.

Ia juga berpesan kepada pihak sekolah dan pengelola Sekolah Rakyat agar memberikan perhatian terhadap perlindungan anak, khususnya pencegahan perundungan di lingkungan sekolah.

“Pesan saya kepada para kepala sekolah, pastikan lingkungan sekolah benar-benar bebas dari perundungan. Anak-anak kelas 1 SD ini masih sangat rentan dan belum bisa membela diri. Di sinilah mereka sangat membutuhkan pendampingan dan perlindungan kita,” tuturnya 

Lebih lanjut, Khofifah meminta agar sebulan sekali menghadirkan psikolog untuk berdialog dengan anak-anak SD, untuk mengetahui kondisi dan perasaan siswa yang tentu apa yang mereka rasakan berbeda dengan anak SMP maupun SMA.

Menurutnya, program ini merupakan cara paling efektif untuk memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan. Sebelumnya, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani juga menyampaikan bahwa Sekolah Rakyat bukan sekadar program pemerintah, melainkan komitmen bersama untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam memperoleh pendidikan dan kesempatan meraih masa depan yang lebih baik.

Pemerintah Kabupaten Gresik berharap keberadaan Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Gresik dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta memberikan kesempatan pendidikan yang lebih luas bagi masyarakat. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Gubernur Khofifah bersama Sekda Gresik Sapa Siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Gresik Selengkapnya

Bupati Gresik dampingi Menko AHY Resmikan Kawasan Permukiman melalui DAK Tematik Pengentasan Permukiman Kumuh Terpadu Desa Campurejo 

GRESIK,1minute.id – Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Kabinet Merah Putih Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) resmikan program prioritas pengentasan kawasan kumuh di Dusun Karangtumpuk, Desa Campurejo Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik pada Sabtu, 1 Agustus 2026.

Menko AHY didampingi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani melihat langsung program pengentasan kawasan kumuh berbasis Dana Alokasi Khusus Tematik Pengentasan Permukiman Kumuh Terpadu (DAK PPKT) 2025 itu. 

Kunjungan ini mempertegas komitmen bersama dalam menghadirkan hunian layak bagi masyarakat prasejahtera.

Menko AHY melihat langsung perkembangan perbaikan infrastruktur mulai dari pemugaran rumah tidak layak huni (RTLH), pembangunan sistem drainase, hingga penyediaan akses air bersih di Dusun Karangtumpuk, Desa Campurejo Kecamatan Panceng tersebut.

Ia menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor melalui instrumen DAK TPPKT merupakan kunci utama untuk mempercepat transformasi kawasan kumuh menjadi permukiman yang sehat, aman, dan produktif.

Menko AHY menyampaikan, ada sebanyak 166 rumah masyarakat dibangun dan direnovasi di atas lahan sekitar tujuh hektare melalui program DAK TPPKT. Ini merupakan hasil kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, kementerian terkait, hingga dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

“Pembangunan ini merupakan kolaborasi pentahelix, baik Kementrian Pekerjaan Umum, Kementrian ATR/BPN terkait lahan, serta Kementrian Perumahan dan Kawasan Permukiman. Saya ucapkan terima kasih juga kepada, Pakuwon Group, dan juga Habitat Indonesia,” terang suami Annisa Pohan ini. 

Menko AHY, mengatakan, pembangunan tidak hanya menyasar rumah warga. Sejumlah fasilitas penunjang kualitas lingkungan juga dibangun dan diperbaiki. Kawasan baru yang dibangun dilengkapi dengan sarana pendukung seperti instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan akses air bersih, sanitasi, tandon air hingga perbaikan jalan lingkungan. 

Ia menilai, penyediaan hunian yang sehat dan aman merupakan kebutuhan mendasar masyarakat sebelum berbicara mengenai peningkatan produktivitas dan kualitas kehidupan. Terlebih, mayoritas masyarakat Desa Campurejo bekerja sebagai nelayan. Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap hunian yang sehat, aman, dan nyaman menjadi makin penting, terutama bagi keluarga yang memiliki anak-anak kecil.

“Ini menjadi sebuah hal yang sangat mendasar sebelum berbicara produktivitas dan kehidupan yang berkualitas, didahului dengan bagaimana rumah-rumah masyarakat kita Terutama yang ada di Desa Campurejo, memiliki ruang yang sehat, aman, dan nyaman,” ujarnya.

“Penataan ini menjadi wujud nyata kehadiran negara dan kolaborasi lintas sektor untuk mengentaskan kemiskinan dan membenahi sekitar 6.000 kawasan kumuh di seluruh Indonesia secara bertahap,” tutup Menko AHY. 

Di tempat sama, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menyampaikan, bahwa program Dana Alokasi Khusus Tematik Penuntasan Permukiman Kumuh Terintegrasi (DAK TPPKT) sukses diperluas. Desa Campurejo Kecamatan Panceng, kini resmi menjadi wilayah kedua yang menerima manfaat program tersebut, setelah sebelumnya berhasil diterapkan di Desa Randuboto, Kecamatan Sidayu. 

Program DAK TPPKT sendiri fokus pada perbaikan total kualitas lingkungan permukiman. Ruang lingkupnya meliputi pembangunan instalasi jaringan air bersih, penataan drainase, perbaikan jalan lingkungan, Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R), hingga pembenahan sanitasi warga. 

“Saya berharap penataan ini tidak hanya menghilangkan kesan kumuh. Tetapi juga langsung mendongkrak tingkat kesehatan serta roda perekonomian masyarakat setempat. Skema hunian ini juga dirancang ramah bagi keuangan masyarakat pesisir dengan opsi angsuran fleksibel hingga 8–10 tahun. Dan alhamdulillah sebagaian dari warga sudah membayar lunas,” jelas mantan Ketua DPRD Gresik ini.

Sementara, salah satu warga penerima program RTLH DAK TPPKT, Imam Bashori, 48,  yang bekerja sebagai nelayan mengucapkan terima kasih kepada pemerintah atas adanya program tersebut. Ia mengaku bersyukur dengan kondisi rumah yang ditempati sekarang menurutnya jauh lebih bersih, sehat dan nyaman dari sebelumnya yang sering bocor jika hujan. 

“Sebelumnya saya menempati rumah mertua bersama istri dan anak saya jika hujan kami sangat khawatir karena atap rumah banyak yang bocor. Sekarang rumah saya tidak bocor lagi kalau hujan. Kami sangat berterima kasih atas kepedulian nyata dari pemerintah melalui program ini.” ungkapnya. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Bupati Gresik dampingi Menko AHY Resmikan Kawasan Permukiman melalui DAK Tematik Pengentasan Permukiman Kumuh Terpadu Desa Campurejo  Selengkapnya

Dari Takut Kimia Menjadi Cinta Sains Transformasi Pembelajaran Berbasis AI di SMA Negeri 1 Gresik

Oleh : Lilik Suharnani, S.Pd., M.Pd.*

PERTEMUAN  pertama mata pelajaran Kimia di kelas X SMA Negeri 1 Gresik sungguh menggoda. Di wajah murid baru terlihat rasa penasaran sekaligus sedikit kekhawatiran. Baru menginjakkan kaki di kelas X, mereka juga baru mengenal mata pelajaran KIMIA, yang merupakan Cabang dari Ilmu Pengetahuan Alam. Sebagian dari mereka pernah mendengar bahwa KIMIA adalah mata pelajaran yang penuh rumus, sulit dipahami, dan identik dengan praktikum yang rumit. Ketika saya bertanya, “Apa yang terlintas di pikiran kalian saat mendengar kata kimia?” beragam jawaban unik dan menarikpun muncul.

“Bahan peledak, Bu.”

“Obat-obatan.”

“Asam-Basa.”

“Rumus yang susah.”

“Gak Bahaya ta Bu?”

Jawaban-jawaban itu mengingatkan saya bahwa sebagian besar murid masih memandang kimia sebagai kumpulan simbol dan persamaan reaksi dan sesuatu yang menakutkan. Padahal, hakikat kimia jauh lebih luas dan menarik untuk di ulas. Kimia adalah ilmu yang menjelaskan berbagai fenomena kehidupan, mulai dari udara yang kita hirup, makanan yang kita konsumsi, kosmetik yang kita gunakan, hingga teknologi baterai kendaraan listrik yang kini sedang berkembang pesat.

Beberapa tahun lalu, saya biasanya memulai materi Pengenalan Ilmu Kimia dengan menjelaskan ruang lingkup kimia, metode ilmiah, dan keselamatan kerja di laboratorium melalui presentasi, mengenalkan kimia dari lingkungan sekitar, diskusi dan pendampingan dengan sumber buku teks. Murid mencatat, menghafal, kemudian mengerjakan soal. Hasil ulangan mereka cukup baik, tetapi saya merasa masih ada yang kurang. Mereka mengetahui definisi kimia, tetapi belum benar-benar memahami mengapa ilmu ini sangat penting bagi kehidupan.

Perubahan mulai saya lakukan ketika dunia pendidikan memasuki era transformasi digital. Kehadiran kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) bukan saya anggap sebagai ancaman, melainkan peluang untuk menghadirkan pengalaman belajar baru yang lebih bermakna. Saya tidak ingin AI hanya digunakan untuk mencari jawaban secara instan. Saya ingin murid belajar dan berpikir seperti ilmuwan dengan mengamati, bertanya, mencoba, menganalisis, dan menyimpulkan, dengan AI sebagai mitra belajar yang cerdas.

Pada awal pembelajaran, saya mengajak murid melakukan aktivitas sederhana. Mereka diminta memotret lima benda yang ada di lingkungan sekolah menggunakan telepon genggam atau handphone, kemudian mengunggahnya ke platform pembelajaran berbasis AI. Benda yang mereka potret adalah botol minum, daun mangga, pagar besi, paving block, dan air kolam lele program SIKAP di sekolah. Benda ini menjadi objek pertama yang mereka amati.

AI kemudian membantu mengidentifikasi kemungkinan unsur atau senyawa penyusun benda-benda tersebut serta memberikan penjelasan awal mengenai sifat kimianya. Namun, saya segera mengingatkan bahwa informasi dari AI bukanlah kesimpulan akhir. Setiap kelompok harus memverifikasi jawaban tersebut melalui buku teks, sumber ilmiah, dan diskusi kelas. Dari kegiatan itu, murid mulai memahami bahwa ilmu pengetahuan dibangun melalui proses pembuktian, bukan sekadar menerima informasi.

Pembelajaran berlanjut di laboratorium kimia. Sebelum memegang alat praktikum, peserta didik menggunakan simulasi laboratorium virtual berbasis AI untuk mengenali fungsi gelas ukur, pipet tetes, pembakar spiritus, neraca digital, serta simbol-simbol keselamatan kerja. Mereka dapat mencoba prosedur praktikum secara virtual tanpa takut melakukan kesalahan yang membahayakan.

Ketika memasuki laboratorium nyata, suasana terasa berbeda. Murid lebih percaya diri menggunakan alat, memahami aturan keselamatan kerja, dan mengetahui alasan ilmiah di balik setiap prosedur. Saya menyadari bahwa AI tidak menggantikan pengalaman praktikum, tetapi mempersiapkan peserta didik agar pembelajaran di laboratorium berlangsung lebih efektif, aman, dan bermakna.

Transformasi pembelajaran semakin terasa ketika kami mengembangkan proyek STEAM bertema “Kimia di Sekitar Kita, Menjadi Saintis Muda di Era Kecerdasan Artifisial.” Proyek ini dirancang untuk memperkenalkan hakikat ilmu kimia melalui pengalaman belajar yang utuh. Murid tidak lagi belajar konsep secara terpisah, tetapi mengalami sendiri bagaimana ilmu kimia bekerja dalam kehidupan nyata.

Pembelajaran diawali dengan pendekatan Science. Saya mengajak murid berjalan mengelilingi lingkungan sekolah sambil membawa lembar observasi digital. Mereka mengamati berbagai fenomena yang sering dijumpai, seperti pagar besi yang mulai berkarat, lumut yang tumbuh pada tembok yang lembap, air kolam lele sekolah yang berubah warna, sampah plastik di sekitar kantin, hingga pupuk yang digunakan untuk tanaman sekolah. Setiap kelompok diminta mengidentifikasi pertanyaan ilmiah yang muncul dari hasil pengamatan tersebut. Mengapa besi dapat berkarat? Mengapa plastik sulit terurai? Mengapa pupuk dapat mempercepat pertumbuhan tanaman? Dari pertanyaan sederhana itu, murid mulai memahami bahwa kimia bukan sekadar kumpulan rumus, melainkan ilmu yang menjelaskan berbagai fenomena alam dan kehidupan sehari-hari.

Memasuki tahap Technology, peserta didik memanfaatkan kecerdasan artifisial sebagai mitra belajar. Mereka menggunakan AI untuk menyusun hipotesis awal, membuat peta konsep, mencari hubungan antar variabel, serta memperoleh visualisasi mengenai struktur atom, molekul, maupun proses reaksi kimia yang tidak dapat diamati secara langsung. Namun, saya selalu mengingatkan bahwa AI bukan sumber kebenaran mutlak. Setiap informasi yang diperoleh harus dibandingkan dengan buku teks, hasil eksperimen, jurnal ilmiah, dan penjelasan guru. Dengan cara tersebut, murid belajar membangun literasi digital sekaligus kemampuan berpikir kritis. Mereka tidak sekadar menerima jawaban AI, tetapi belajar memverifikasi, mengevaluasi, dan menyimpulkan berdasarkan bukti ilmiah.

Tahap berikutnya adalah Engineering, yaitu saat murid mengubah pengetahuan menjadi solusi nyata. Setiap kelompok diminta merancang sebuah produk atau solusi sederhana yang berkaitan dengan hasil pengamatan mereka. Ada kelompok yang merancang tempat pemilahan limbah laboratorium kimia berdasarkan karakteristik bahan, kelompok lain membuat desain penyaring air sederhana menggunakan arang aktif, pasir silika, dan kerikil, sementara kelompok lainnya menyusun rancangan prosedur keselamatan kerja laboratorium dalam bentuk papan informasi digital. Selama proses perancangan, AI digunakan untuk memberikan alternatif desain, memperkirakan efektivitas rancangan, hingga membantu menyusun langkah kerja yang sistematis. Namun, keputusan akhir tetap ditentukan berdasarkan hasil diskusi dan pertimbangan ilmiah murid.

Pada pendekatan Arts, murid belajar bahwa ilmu pengetahuan harus mampu dikomunikasikan kepada masyarakat. Mereka mengubah hasil proyek menjadi media edukasi yang menarik melalui poster digital, video pendek, infografik interaktif, podcast, maupun presentasi kreatif. Salah satu kelompok membuat kampanye bertajuk “Kimia Itu Dekat dengan Kehidupan” yang menjelaskan hubungan ilmu kimia dengan kesehatan, pangan, lingkungan, dan industri di Kabupaten Gresik. Kelompok lain membuat video simulasi penggunaan bahan kimia rumah tangga yang aman. Melalui kegiatan ini, murid menyadari bahwa keberhasilan seorang ilmuwan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan melakukan penelitian, tetapi juga kemampuan menyampaikan hasil temuannya kepada masyarakat secara sederhana dan menarik.

Selanjutnya pada pendekatan  Mathematics,  murid mengolah data hasil pengamatan dan eksperimen menggunakan perangkat digital. Mereka menghitung persentase penggunaan produk kimia rumah tangga berdasarkan hasil survei sederhana, membuat tabel frekuensi, menyusun grafik, menganalisis kecenderungan data, hingga menarik kesimpulan berdasarkan bukti kuantitatif. AI dimanfaatkan untuk membantu visualisasi data dan memberikan alternatif analisis statistik sederhana, tetapi interpretasi hasil tetap dilakukan oleh murid melalui diskusi kelompok. Dari kegiatan ini mereka belajar bahwa setiap kesimpulan ilmiah harus didasarkan pada data yang valid, bukan sekadar opini.

Keseluruhan rangkaian kegiatan tersebut dirancang mengikuti prinsip Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang saat ini menjadi arah transformasi pendidikan di Indonesia. Saya tidak lagi menempatkan murid sebagai penerima informasi, melainkan sebagai penemu pengetahuan. Pembelajaran dimulai dari pengalaman nyata, dilanjutkan dengan proses bertanya, menyelidiki, mencoba, berdiskusi, merefleksikan, kemudian menghasilkan solusi terhadap masalah yang mereka temukan sendiri.

Pada tahap belajar berkesadaran (mindful learning), peserta didik diajak menyadari bahwa hampir setiap aktivitas manusia berkaitan dengan ilmu kimia. Mereka mulai memahami alasan mengapa mempelajari kimia menjadi penting bagi kehidupan, bukan sekadar untuk memperoleh nilai ujian. Tahap berikutnya adalah belajar bermakna (meaningful learning). Murid menghubungkan konsep-konsep kimia dengan lingkungan sekitar, dunia industri di Gresik, isu pencemaran lingkungan, kesehatan, energi, dan perkembangan teknologi. Mereka menyadari bahwa konsep yang dipelajari di kelas memiliki manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya adalah belajar menggembirakan (joyful learning). Kegiatan observasi lapangan, eksplorasi laboratorium, simulasi digital, diskusi dengan AI, proyek kelompok, hingga presentasi kreatif membuat suasana belajar lebih hidup. Murid terlihat lebih berani bertanya, saling berdiskusi, dan tidak takut melakukan kesalahan karena setiap proses dipandang sebagai bagian dari pembelajaran.

Perubahan yang paling membahagiakan justru tampak pada cara murid mengajukan pertanyaan. Jika dahulu mereka sering bertanya, “Apakah materi ini keluar saat ujian?”, kini pertanyaan yang muncul jauh lebih mendalam.

“Bu, apakah semua plastik memiliki struktur kimia yang sama?”

“Mengapa pupuk yang diproduksi di Gresik memiliki jenis yang berbeda?”

“Bagaimana AI dapat membantu ilmuwan menemukan material baru yang lebih ramah lingkungan?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa rasa ingin tahu ilmiah mulai tumbuh. Bagi saya, itulah indikator keberhasilan pembelajaran yang sesungguhnya. Sebagai guru, saya juga belajar bahwa peran saya mengalami transformasi. Dahulu saya menjadi sumber utama informasi. Kini saya lebih banyak berperan sebagai fasilitator, pembimbing, dan pengarah proses berpikir. AI mampu menyajikan informasi dalam hitungan detik, tetapi AI tidak dapat menggantikan dialog, empati, maupun bimbingan yang membantu murid membangun karakter ilmiah.

Transformasi yang kami lakukan di SMA Negeri 1 Gresik selaras dengan arah kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang mendorong implementasi Pembelajaran Mendalam, penguatan literasi digital, serta pemanfaatan kecerdasan artifisial secara etis, kritis, aman, dan bertanggung jawab dalam pembelajaran. Teknologi diposisikan sebagai alat untuk memperkuat kualitas belajar, bukan menggantikan peran guru maupun proses ilmiah.

Di akhir proyek, setiap kelompok melakukan refleksi terhadap proses belajar yang telah mereka lalui. Mereka tidak hanya mempresentasikan produk yang dihasilkan, tetapi juga menjelaskan bagaimana AI membantu proses berpikir mereka, kesulitan yang dihadapi, cara mengatasinya, serta nilai-nilai karakter yang berkembang selama bekerja sama. Saya menyadari bahwa keberhasilan pembelajaran bukan hanya terlihat dari produk akhir atau nilai yang diperoleh, tetapi dari tumbuhnya rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, literasi digital, dan tanggung jawab ilmiah.

Saat melihat murid berdiskusi hangat mengenai fenomena kimia yang mereka temukan di lingkungan sekolah, saya semakin yakin bahwa transformasi pembelajaran bukanlah tentang mengganti laboratorium dengan kecerdasan artifisial. Transformasi yang sesungguhnya adalah menghadirkan pengalaman belajar yang membuat murid mampu berpikir seperti ilmuwan, bekerja seperti inovator, dan bertindak sebagai warga yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat. (*)

* Guru Kimia SMA Negeri 1 Gresik (Smansa)

Dari Takut Kimia Menjadi Cinta Sains Transformasi Pembelajaran Berbasis AI di SMA Negeri 1 Gresik Selengkapnya

Pemkab Gresik Salurkan Bantuan Stimulan Material Untuk Korban Kebakaran Sembayat

GRESIK, 1minute.id – Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani bersama Wakil Bupati Asluchul Alif menyalurkan bantuan stimulan material bangunan kepada warga korban kebakaran di Desa Sembayat, Kecamatan Manyar pada Jumat, 31 Juli 2026. Sebelumnya Pemerintah Kabupaten Gresik melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga memberikan bantuan logistik kepada korban. 

Kebakaran yang terjadi di Jalan Manunggal, Desa Sembayat Kecamatan Manyar,  Kabupaten Gresik pada Kamis, 23 Juli 2026 tersebut selain menghanguskan 4 rumah warga juga menghanguskan sebagian fasilitas umum yaitu Musala Darul Ikhsan. 

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani, menyampaikan rasa prihatin atas musibah yang dialami para warga, dan berharap bantuan yang diberikan dapat meringankan beban korban. Ia juga mengapresiasi kepedulian berbagai pihak, termasuk pemerintah desa, yang turut membantu penanganan para korban. 

“Kami sangat prihatin atas musibah kebakaran yang menimpa warga kita. Mudah-mudahan bantuan stimulan berupa material ini dapat sedikit meringankan beban para korban,” ujarnya.

Dalam kunjungan tersebut, Bupati Fandi Akhmad Yani didampingi Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif, Kepala Dinas Cipta Karya, Perumahan dan Kawasan Permukiman (CKPKP) Ida Lailatussa’diyah, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarla) Suyono, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukardi, Forkopimcam Manyar, serta Kepala Desa Sembayat, Amin beserta perangkat dan BPD menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Gresik untuk selalu hadir di tengah masyarakat yang tertimpa musibah. 

Menurutnya, kehadiran pemerintah tidak hanya sebatas menyalurkan bantuan, tetapi juga memastikan para korban mendapatkan pendampingan dan dukungan agar dapat segera bangkit serta melanjutkan kehidupan secara normal.

“Anggaran bantuan dari pemerintah daerah tidak hanya terbatas bagi korban musibah kebakaran, namun berlaku adil juga disalurkan untuk warga yang terdampak musibah angin puting beliung maupun banjir,” ungkapnya.

Selain menyerahkan bantuan secara simbolis kepada para penerima manfaat, Bupati dan Wakil Bupati Gresik juga menyempatkan diri berdialog dengan warga untuk mendengarkan secara langsung kondisi yang mereka alami pascabencana. Serta memberikan semangat agar tetap optimistis menjalani proses pemulihan.

Sementara itu, salah satu penerima bantuan, Sarwedi, 65, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian yang sudah diberikan Pemerintah Kabupaten Gresik. “Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Bupati dan Wakil Bupati yang sudah sudi datang dan berkunjung ke rumah kami yang kebakaran,” tururnya.

“Kami sekeluarga juga mengucapkan terima kasih atas bantuan berupa kasur, logistik, sembako, dan makanan dari BPBD dan Pemdes Sembayat, serta bantuan stimulan tanggap bencana dari Pemkab Gresik,” ungkapnya. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Pemkab Gresik Salurkan Bantuan Stimulan Material Untuk Korban Kebakaran Sembayat Selengkapnya

Beyond Investment, Bupati-Wabup Gresik Dorong Investasi Tumbuh Bersama Masyarakat

GRESIK,1minute.id –  Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani dan Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Gresik untuk membangun iklim investasi yang tidak hanya mengejar besarnya modal yang masuk, tetapi juga memastikan kehadirannya memberi manfaat bagi masyarakat.

Komitmen tersebut disampaikan dalam The 1st Gresik Business Forum bertema “Beyond Investment: Membangun Kemitraan Strategis untuk Masa Depan Gresik” yang digelar Pemerintah Kabupaten Gresik melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) pada Kamis, 30 Juli 2026.

Forum ini mempertemukan pemerintah dengan pelaku usaha, asosiasi dunia usaha, kawasan industri, perbankan, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya.

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan, investasi yang masuk ke Gresik harus dilihat lebih luas dari sekadar angka realisasi. Investasi diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat UMKM lokal, meningkatkan kompetensi tenaga kerja, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Investasi mungkin dimulai dengan angka, tetapi kemitraan dibangun melalui kepercayaan. Investasi menghadirkan proyek, tetapi kemitraan menciptakan masa depan,” ujar Fandi Akhmad Yani.

Hingga semester pertama 2026, realisasi investasi di Kabupaten Gresik telah mencapai sekitar Rp 11,4 triliun. Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya mengejar target investasi sebesar Rp 30 triliun pada tahun ini.

Ia mengatakan, capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak. Di tengah situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, menurutnya, Gresik harus mampu memberikan pelayanan dan kepastian terbaik agar tetap kompetitif sebagai tujuan investasi.

Gresik memiliki modal kuat untuk itu. Selain posisi geografis yang strategis, daerah ini ditopang kawasan industri, pelabuhan, ketersediaan energi, air dan gas, serta infrastruktur yang terus dikembangkan.

Namun, Bupati Yani menekankan bahwa kekuatan tersebut harus diikuti dengan kepastian tata ruang dan birokrasi yang responsif. Pemerintah daerah terus mendorong penyelesaian tata ruang agar investor memiliki kepastian mengenai kawasan yang dapat dikembangkan.

“Kita berangkat dari tata ruang karena dari tata ruang itu ada kepastian hukum dalam berinvestasi. Jelas, tidak tumpang tindih, tidak abu-abu,” katanya.

Komitmen yang sama berlaku dalam pelayanan perizinan. Bupati meminta seluruh perangkat daerah memberikan pelayanan yang cepat, terbuka, dan solutif kepada pelaku usaha. “Tidak ada lagi bahasa sulit mengurus perizinan di Kabupaten Gresik. Kalau ada yang kurang, dilengkapi, cepat selesai, keluar. Kalau ada yang lama, silakan ngomong ke saya,” tegas mantan Ketua DPRD Gresik ini.

Bupati Yani juga menekankan bahwa investasi harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Pemkab Gresik mendorong kemitraan antara industri dengan UMKM lokal, peningkatan kompetensi tenaga kerja, kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas, hingga kolaborasi dalam pengelolaan lingkungan dan sampah.

Salah satu gagasan yang didorong adalah pengembangan platform marketplace UMKM yang dapat menghubungkan produk pelaku usaha dari berbagai desa dengan kebutuhan perusahaan dan tenant kawasan industri. Transaksi kemitraan tersebut nantinya dapat tercatat dan diukur sehingga kontribusi industri terhadap masyarakat dapat terlihat secara nyata.

“Ini yang bisa kita sampaikan kepada masyarakat bahwa kehadiran industri yang ada di Kabupaten Gresik sudah memberikan manfaat untuk masyarakat Kabupaten Gresik,” ujarnya.

Bupati juga mendorong kawasan industri untuk terlibat dalam pengelolaan sampah bersama. Gresik diproyeksikan berkontribusi dalam program waste to energy kawasan aglomerasi Surabaya Raya dengan target sekitar 250 ton sampah per hari.

Selain itu, Pemkab Gresik membuka ruang kolaborasi dengan perusahaan untuk mendukung kesempatan kerja yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas melalui Unit Layanan Disabilitas (ULD).

“Lihatlah Gresik sebagai mitra strategis. Tempat pemerintah hadir sebagai fasilitator, masyarakat siap menjadi bagian dari pertumbuhan, dan dunia usaha memperoleh kepastian untuk berkembang,” tutur Bupati Yani.

Menurut Bupati Yani, ukuran keberhasilan investasi pada akhirnya bukan hanya besarnya modal yang masuk, tetapi seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. “Keberhasilan bukan hanya diukur dari besarnya investasi yang datang, tetapi dari besarnya manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.

Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif menambahkan, daya tarik investasi Gresik juga diperkuat dengan pembangunan infrastruktur. Pemerintah daerah terus mendorong peningkatan konektivitas menuju kawasan industri, termasuk pengembangan jaringan jalan yang menghubungkan kawasan industri dengan akses jalan nasional dan jalan tol.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan kesiapan sumber daya manusia. Investasi yang tumbuh di Gresik harus membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat lokal untuk bekerja dan meningkatkan kesejahteraannya. “Investasi yang ada di Kabupaten Gresik harus bisa menurunkan angka kemiskinan dan angka pengangguran,” ujarnya.

Karena itu, Pemkab Gresik terus memperkuat pelatihan kerja, pendidikan vokasi, dan akses magang bagi masyarakat. Pemerintah juga mendorong agar kebutuhan kompetensi industri dapat disampaikan lebih awal sehingga pelatihan tenaga kerja dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.

Wabup Alif juga mengingatkan pentingnya keberlanjutan lingkungan. Menurutnya, perusahaan yang ingin tumbuh dalam jangka panjang harus ikut menjaga lingkungan sosial dan lingkungan hidup di sekitar wilayah operasionalnya.

“Bapak Ibu semua tentu tidak hanya ingin berusaha lima atau sepuluh tahun. Pasti ingin usaha itu berjalan 20 sampai 50 tahun ke depan. Karena itu kami berharap lingkungan sosial, udara, tanah, dan air juga dijaga,” ujarnya.

Wabup juga mendorong sinergi pemerintah dan dunia usaha dalam memperkuat akses pembiayaan, pengembangan SDM, serta penguatan infrastruktur pendukung kawasan industri. “Investasi yang ada di Kabupaten Gresik harus bisa menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran. Karena itu, investasi harus berjalan bersama dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.

Setelah komitmen pemerintah daerah disampaikan, forum tersebut juga menawarkan sejumlah peluang investasi strategis kepada dunia usaha. Terdapat lima proyek yang telah disiapkan untuk dikembangkan bersama mitra strategis.

Peluang pertama adalah industri pengolahan logam tembaga dengan produk copper rod and wire serta copper tube. Proyek ini membutuhkan investasi sekitar Rp 17,19 triliun dan diarahkan untuk mendukung pengembangan industri kendaraan listrik, elektronik, serta energi terbarukan.

Kedua, industri alat dan mesin pertanian dengan produk utama traktor roda empat dan combine harvester. Proyek ini membutuhkan investasi sekitar Rp 784,83 miliar untuk memperkuat modernisasi pertanian dan ketahanan pangan nasional.

Ketiga, industri hilirisasi timah dengan produk tin solder, tin ribbon, dan tin chemical. Proyek bernilai sekitar Rp 1,17 triliun tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri elektronik, semikonduktor, dan kendaraan listrik.

Ketiga proyek tersebut direncanakan dikembangkan di kawasan ekonomi khusus Gresik yang didukung pelabuhan laut dalam, infrastruktur modern, dan ekosistem industri terintegrasi.

Peluang keempat adalah industri farmasi dengan nilai investasi sekitar Rp 707,95 miliar, yang akan memproduksi garam farmasi berkualitas tinggi sebagai bahan baku industri kesehatan.

Kelima, unit pengolahan ikan bernilai tambah dengan nilai investasi sekitar Rp514,75 miliar. Proyek ini akan mengolah hasil perikanan menjadi berbagai produk bernilai tambah untuk pasar domestik dan ekspor sekaligus memperkuat sektor perikanan dan UMKM Gresik.

Kepala DPMPTSP Gresik Reza Pahlevi mengatakan, The 1st Gresik Business Forum menjadi ruang untuk mempertemukan pemerintah dan dunia usaha dalam membangun kolaborasi yang lebih kuat. Menurut Reza, forum tersebut juga menjadi wadah untuk membahas berbagai isu yang berkaitan langsung dengan dunia usaha, mulai dari tata ruang, ketenagakerjaan, hingga penyesuaian kebijakan investasi.

“Kami ingin forum ini menjadi wadah strategis untuk menarik investasi sekaligus memperkuat brand image bahwa Gresik adalah salah satu daerah tujuan investasi yang menarik,” ujarnya. Reza mengatakan, forum tersebut diikuti sekitar 100 peserta, termasuk 50 pelaku usaha yang diundang, perwakilan perangkat daerah, asosiasi dunia usaha, kawasan industri, perbankan, serta pemangku kepentingan lainnya.

Selain membahas peluang investasi, forum juga menjadi momentum Pemkab Gresik memberikan apresiasi kepada perusahaan dan mitra usaha yang dinilai berkontribusi terhadap pembangunan daerah.

Penghargaan Investment Realization Contributor of Foreign Investment in 2025 diberikan kepada PT Freeport Indonesia dengan realisasi investasi sekitar Rp 2,5 triliun. The Largest Investment Realization Contributor of Domestic Investment in 2025 diberikan kepada PT Petrokimia Gresik dengan realisasi sekitar Rp 1,7 triliun.

Selanjutnya, The Largest Investment Realization Contributor of Industrial Estate in 2025 diberikan kepada PT Berkah Kawasan Sejahtera dengan realisasi sekitar Rp 81,1 miliar. The Largest Investment Realization Contributor SSMI in 2025 diberikan kepada PT Gajah Putera Antariaga dengan realisasi sekitar Rp 24,9 miliar.

Penghargaan juga diberikan kepada PT Garuda Unggul Putra Putri Jaya sebagai The Most Compliant Company in Submitting Investment Activity Report in 2025, PT Dharma Graha Utama sebagai perusahaan pertama yang melaksanakan kewajiban kemitraan sesuai Peraturan Bupati Gresik Nomor 62 Tahun 2026, serta CV Tiga Peruang Lampur sebagai The Most Contributive MSME Partnership in 2026.

PT Multimanao Indonesia memperoleh penghargaan The Best Participation Commitment upon Investment Facility 2026 to the Realization of Partnership Obligation, setelah merealisasikan komitmen kemitraan dengan UMKM dengan nilai kontrak sekitar Rp1,56 miliar.

Sementara itu, penghargaan The Highest Foreign Investment of Local Workforce in 2025 diberikan kepada PT Freeport Indonesia atas penyerapan tenaga kerja lokal sekitar 71 persen.

Penghargaan lainnya diberikan kepada PT Marco Prisma sebagai The Highest Domestic Investment of Local Workforce, PT BHST sebagai The Most Contributive GPMPTSP Partnership in 2025, Bank BPD Jawa Timur Cabang Gresik sebagai The Most Contributive Banking GPMPTSP Partnership in 2025, serta PT Himalaya Mitra Sukses sebagai The Most Participative GPMPTSP Partnership in 2025.

Melalui The 1st Gresik Business Forum, Pemkab Gresik ingin memastikan investasi tidak berhenti pada masuknya modal dan pembangunan proyek. Lebih jauh, investasi diharapkan berkembang menjadi kemitraan yang menghadirkan lapangan kerja, memperkuat UMKM, meningkatkan kompetensi masyarakat, menjaga lingkungan, serta menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Beyond Investment, Bupati-Wabup Gresik Dorong Investasi Tumbuh Bersama Masyarakat Selengkapnya

Pemkab Gresik Boyong 5 Penghargaan di Ajang “Ayah Wajib Hadir” Harganas Jatim 

GRESIK,1minute.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik memboyong lima penghargaan di peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Provinsi Jawa Timur di Pendapa Agung Kabupaten Malang pada Rabu, 29 Juli 2026.

Lima penghargaan itu, diantaranya,  pembentukan TPA/TAMASYA (Tempat Penitipan Anak/Taman Asuh Sayang Anak) jalur pemerintah, capaian diatas 100% peserta KB, peta jalan pembangunan kependudukan serta inovasi dan program unggulan Ketua TP PKK Kabupaten. 

TAMASYA, salah satu program unggulan bentukkan Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani yang mendukung keberhasilan program prioritas nasional bidang pembangunan keluarga. Selain Bupati Gresik, Harganas juga memberikan apresiasi kepada Ketua Tim Penggerak PKK Nurul Haromaini Ali.

Penghargaan tersebut diserahkan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elistianto Dardak didampingi Ketu TP PKK Arumi Bachsin kepada Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani dan Ketua TP PKK Kabupaten Gresik Nurul Haromaini Fandi Akhmad Yani. Dalam sambutannya Wagub Emil Elistianto Dardak menegaskan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam pembangunan bangsa. 

Menurut Emil, seluruh elemen masyarakat harus terus memperkuat peran keluarga sebagai tempat pertama dalam membentuk karakter generasi penerus. “Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para kader dan Tim Pendamping Keluarga yang selama ini menjadi ujung tombak dalam mendampingi masyarakat,” ujar suami Arumi Bachsin ini.

Harganas yang mengusung tema “Ayah Wajib Hadir”, Emil juga menyoroti pentingnya kehadiran ayah dalam proses tumbuh kembang anak, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. “Hari ini sangat mungkin kita berada di rumah, tetapi masing masing sibuk dengan dunianya sendiri. Kehadiran Ayah harus benar benar dirasakan oleh anak anak,” pungkasnya. 

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani usai menerima penghargaan menyampaikan terima kasih kepada seluruh stakeholder dan seluruh elemen masyarakat Kabupaten Gresik. Menurutnya, peringatan Harganas bukan sekadar agenda seremonial, melainkan harus diwujudkan dalam aksi nyata yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat.

“Apresiasi dan penghargaan dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN Perwakilan Provinsi Jawa Timur ini untuk masyarakat Kabupaten Gresik. Mudah mudahan inovasi dan program unggulan seperti TPA/TAMASYA Masmundari ini terus bisa memberi manfaat kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujar suami Nurul Haromaini Ali ini. 

Bupati Yani menegaskan, tema utama Harganas 2026 “Ayah Wajib Hadir”, menjadi momentum penting untuk memperkuat fondasi ketahanan keluarga. Sekaligus mengakselerasi penanganan stunting melalui kolaborasi lintas sektor yang masif. Tema ini mengingatkan bahwa kehadiran ayah dalam pengasuhan memiliki peran penting dalam tumbuh kembang anak. 

“Upaya percepatan penurunan stunting juga tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh elemen, mulai dari pemerintah, dunia usaha, hingga elemen masyarakat. Terima kasih juga kepada Tim Penggerak PKK yang sudah membantu pemerintah dalam memaksimalkan TPA/TAMASYA Masmundari dan pengawasan menu MBG untuk anak anak yang sudah berjalan baik di masing masing dapur SPPG di Kabupaten Gresik,” tandasnya. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Pemkab Gresik Boyong 5 Penghargaan di Ajang “Ayah Wajib Hadir” Harganas Jatim  Selengkapnya

Dari Kelas, Tumbuh Indonesia Berkeadilan

Oleh : YUNITA RAHMAH *

BEL berbunyi menandai dimulainya pelajaran Bahasa Indonesia. Murid segera membuka buku, sementara saya menuliskan tujuan pembelajaran hari itu di papan tulis: menulis teks deskripsi. Hampir semua murid sudah siap mengikuti pembelajaran. Namun, pandangan saya berhenti pada seorang anak yang duduk di sudut kelas. Ia menatap buku dengan wajah kebingungan. Ketika teman-temannya mulai menyusun kalimat, ia masih berusaha mengurutkan dua kata agar memiliki makna. Momen seperti itu hampir selalu saya temui setiap tahun.

Saya mengajar di UPT SMP Negeri 2 Gresik, salah satu sekolah penyelenggara pendidikan inklusi. Berdasarkan pengalaman saya selama mengajar, hampir setiap tahun ajaran baru sekolah kami menerima murid berkebutuhan khusus dengan karakteristik, kemampuan, dan kebutuhan belajar yang beragam. Sebagai guru Bahasa Indonesia, saya hampir selalu mendapat amanah mendampingi mereka di kelas. Amanah itu tidak pernah ringan. Namun, justru di sanalah saya belajar bahwa ruang kelas bukan hanya tempat menyampaikan pengetahuan, melainkan juga tempat menghadirkan keadilan.

Selama ini, banyak orang memahami pendidikan inklusi sebatas menerima anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler. Padahal, menerima mereka hanyalah langkah awal. Tantangan sesungguhnya muncul ketika mereka sudah duduk di bangku yang sama dengan teman-temannya. Guru dihadapkan pada pertanyaan yang tidak selalu dijawab secara tuntas oleh buku ajar maupun kurikulum: bagaimana mengajarkan satu materi kepada murid yang memiliki kemampuan sangat beragam? Pertanyaan itu terus saya bawa setiap memasuki ruang kelas.

Belajar dengan Cara yang Berbeda

Beberapa tahun lalu, saya mendampingi seorang murid kelas VII yang mengalami hambatan belajar. Saat pelajaran Bahasa Indonesia dimulai, saya meminta seluruh murid mendeskripsikan suasana sekolah dalam satu paragraf. Hampir semua mulai menulis. Sementara itu, ia masih memegang pensil tanpa tahu harus memulai dari mana. Saya menghampirinya.

“Bagaimana kalau kita mulai dari satu kata saja?”

Ia mengangguk pelan.

Hari itu kami tidak berbicara tentang paragraf. Kami belum membahas struktur teks deskripsi. Kami memulai dari kata yang paling sederhana.

Sekolah.

Kemudian bertambah menjadi dua kata.

Sekolah bersih.

Lalu berkembang menjadi tiga kata.

Sekolah kami bersih.

Bagi murid lain, latihan itu mungkin terlalu mudah. Namun, baginya, menyusun tiga kata menjadi satu kalimat utuh merupakan perjuangan yang membutuhkan keberanian sekaligus kesabaran. Saya tidak ingin ia merasa sedang belajar sesuatu yang berbeda dari teman-temannya. Karena itu, setiap kata yang kami susun tetap berkaitan dengan materi teks deskripsi. Ia belajar menyusun kalimat sekaligus mengenal ciri-ciri objek yang sedang dideskripsikan. Dengan cara itu, ia tetap mempelajari materi yang sama, meskipun menempuh jalur belajar yang berbeda.

Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa kesetaraan tidak selalu berarti memberikan perlakuan yang sama. Justru dalam pendidikan, keadilan sering kali berarti memberikan dukungan yang berbeda agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Proses itu tidak berlangsung cepat. Ada hari-hari ketika saya merasa tidak ada perkembangan sama sekali. Kalimat yang kemarin berhasil ia susun, hari ini kembali terlupakan. Kami pun mengulang lagi dari awal. Sebagai guru, tentu pernah muncul rasa lelah. Saya juga sempat bertanya dalam hati, apakah cara yang saya lakukan sudah tepat? Namun, setiap kali keraguan datang, saya selalu mengingat satu hal: anak itu tidak pernah menyerah datang ke sekolah. Maka, saya pun tidak berhak menyerah mendampinginya.

Beberapa bulan kemudian, perubahan kecil mulai terlihat. Ia mampu menyusun beberapa kalimat sederhana. Pada akhir semester, ia berhasil menulis sebuah paragraf deskripsi pendek. Paragraf itu jauh dari sempurna. Tanda bacanya belum tepat. Pilihan katanya masih terbatas. Kalimatnya pun masih sederhana. Namun, bagi saya, paragraf itu jauh lebih berharga daripada tulisan paling indah yang pernah saya baca. Setiap kalimat di dalamnya lahir dari proses panjang yang dipenuhi usaha, pengulangan, kesabaran, dan keberanian untuk terus mencoba.

Pengalaman itu mengubah cara saya memandang keberhasilan belajar. Selama ini, dunia pendidikan terlalu sering mengukur keberhasilan melalui angka, nilai, atau peringkat. Padahal, bagi sebagian murid berkebutuhan khusus, keberhasilan mungkin berupa kemampuan menyusun satu kalimat setelah berbulan-bulan berlatih. Kemajuan yang tampak kecil di mata orang lain sesungguhnya merupakan lompatan besar bagi mereka.

Menyesuaikan Cara Belajar Murid

Pengalaman lain datang dari seorang murid yang hampir tidak pernah bisa duduk tenang selama pembelajaran berlangsung. Baru beberapa menit pelajaran dimulai, ia sudah berdiri, berjalan ke belakang kelas, melihat ke luar jendela, lalu kembali lagi. Jika dipaksa duduk, konsentrasinya justru semakin hilang. Pada awalnya, saya berusaha menyamakan perlakuannya dengan murid lain. Saya meminta ia tetap duduk, memperhatikan penjelasan, dan menyelesaikan tugas seperti teman-temannya. Hasilnya tidak sesuai harapan. Yang berubah justru suasana kelas menjadi tegang. Ia semakin sulit berkonsentrasi, sedangkan saya semakin sibuk mengingatkannya untuk duduk dan memperhatikan pelajaran.

Saya kemudian menyadari bahwa persoalannya bukan terletak pada kemauan belajar, melainkan pada cara belajarnya. Sejak saat itu, saya mulai menyesuaikan strategi pembelajaran. Saya memberikan aktivitas yang lebih singkat dan diselingi jeda. Saya membolehkan ia bergerak selama tidak mengganggu teman-temannya. Tugas yang semula diberikan sekaligus saya pecah menjadi beberapa bagian kecil agar lebih mudah dipahami dan diselesaikan.

Perubahannya memang tidak terjadi secara instan. Namun, perlahan ia mampu mengikuti pembelajaran lebih lama dibandingkan sebelumnya. Pengalaman-pengalaman tersebut membuat saya memahami bahwa pendidikan inklusi bukan tentang membuat semua anak belajar dengan cara yang sama. Pendidikan inklusi justru mengajarkan bahwa setiap anak memiliki kebutuhan, kemampuan, dan pintu masuk belajar yang berbeda.

Kolaborasi untuk Mewujudkan Pendidikan Inklusi

Di balik berbagai tantangan tersebut, saya melihat satu kenyataan yang sering luput dari perhatian. Pendidikan inklusi sesungguhnya tidak menuntut murid berkebutuhan khusus untuk menyesuaikan diri dengan sekolah. Pendidikan inklusi justru mengajak sekolah untuk terus belajar memahami kebutuhan setiap murid.

Guru dituntut lebih kreatif dalam merancang strategi pembelajaran. Sekolah perlu membangun budaya yang menerima perbedaan. Orang tua menjadi mitra penting dalam mendampingi perkembangan anak. Ketiganya tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Pengalaman saya menunjukkan bahwa ketika komunikasi antara guru dan orang tua terjalin dengan baik, perkembangan murid menjadi lebih nyata. Orang tua dapat menceritakan kebiasaan dan cara belajar anak di rumah. Sebaliknya, guru dapat menyampaikan perkembangan maupun kesulitan yang ditemui selama pembelajaran di kelas. Kolaborasi sederhana tersebut sering kali menghasilkan solusi yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Di sisi lain, teman-teman sekelas juga memiliki peran besar. Mereka bukan hanya menjadi teman belajar, tetapi juga menjadi lingkungan sosial pertama yang mengajarkan arti penerimaan. Ketika murid berkebutuhan khusus merasa dihargai, mereka akan lebih percaya diri untuk mencoba, bertanya, berinteraksi, dan menunjukkan kemampuan terbaiknya. Dari situlah saya semakin yakin bahwa keberhasilan pendidikan inklusi tidak hanya diukur melalui capaian akademik. Keberhasilan juga terlihat dari tumbuhnya rasa percaya diri, kemandirian, kemampuan bersosialisasi, serta keyakinan setiap murid bahwa sekolah adalah tempat yang menerima dan menghargai dirinya.

Namun, pelaksanaan pendidikan inklusi masih menghadapi berbagai keterbatasan. Tidak semua sekolah memiliki guru pendamping khusus. Sarana dan prasarana yang ramah disabilitas juga belum tersedia secara merata. Dalam kondisi seperti itu, guru sering menjadi pihak yang harus mencari berbagai strategi pembelajaran secara mandiri. Berbagai regulasi sebenarnya telah memberikan landasan yang kuat bagi pelaksanaan pendidikan inklusi. Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 menegaskan pentingnya layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan hak murid yang memiliki kelainan maupun potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Sementara itu, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas menegaskan hak penyandang disabilitas untuk memperoleh pendidikan yang bermutu tanpa diskriminasi. Artinya, pendidikan inklusi bukanlah bentuk belas kasihan, melainkan pemenuhan hak setiap warga negara.

Namun, regulasi tidak akan bermakna jika hanya berhenti sebagai dokumen. Semangat inklusi sesungguhnya hidup di ruang kelas ketika guru mulai bertanya, “Bagaimana agar murid ini dapat belajar?”, bukan “Mengapa murid ini tidak dapat belajar?” Pertanyaan pertama mendorong lahirnya solusi. Pertanyaan kedua berisiko berhenti pada penilaian.

Ruang Kelas yang Menumbuhkan Empati

Saya juga belajar bahwa pendidikan inklusi bukan hanya memberikan dampak bagi murid berkebutuhan khusus. Pendidikan inklusi juga membentuk karakter seluruh murid. Di kelas, saya sering melihat teman-temannya membantu membacakan soal, menemani berdiskusi, atau memberikan semangat ketika seorang murid berkebutuhan khusus mengalami kesulitan menyelesaikan tugas. Tidak ada yang saya minta secara khusus. Kebiasaan itu tumbuh karena mereka belajar hidup bersama dalam keberagaman. Tanpa disadari, mereka sedang mempraktikkan empati, toleransi, gotong royong, dan penghargaan terhadap perbedaan. Nilai-nilai yang selama ini diajarkan melalui teori justru mereka pelajari melalui pengalaman sehari-hari. Barangkali inilah pelajaran paling berharga dari pendidikan inklusi. Murid belajar bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda. Mereka belajar bahwa membantu teman bukan berarti merendahkan. Mereka belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk mengejek. Mereka juga belajar bahwa keberhasilan bersama jauh lebih bermakna daripada sekadar menjadi yang paling unggul. Bukankah bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur lahir dari warga yang mampu menghargai sesamanya?

Sebagai guru, saya tidak pernah berharap semua murid berkebutuhan khusus akan memperoleh nilai yang sama tinggi dengan murid lainnya. Saya juga tidak berharap seluruh keterbatasan mereka hilang begitu saja.

Harapan saya jauh lebih sederhana.

Saya ingin mereka merasa diterima.

Saya ingin mereka pulang dari sekolah dengan keyakinan bahwa dirinya mampu belajar.

Saya ingin mereka percaya bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Sebab pendidikan bukanlah perlombaan untuk menentukan siapa yang paling cepat mencapai garis akhir. Pendidikan adalah perjalanan untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal hanya karena memiliki cara belajar yang berbeda.

Selama bertahun-tahun mendampingi murid berkebutuhan khusus, saya menyadari bahwa sesungguhnya merekalah yang banyak mengajari saya. Mereka mengajarkan arti kesabaran, ketekunan, dan harapan. Mereka mengingatkan bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari langkah yang cepat, tetapi dari keberanian untuk terus melangkah. Kini, setiap kali memasuki ruang kelas, saya tidak lagi hanya melihat siapa yang paling pintar atau siapa yang paling lambat. Saya melihat anak-anak dengan potensi yang berbeda-beda. Setiap anak membawa cerita, kemampuan, tantangan, dan perjuangannya masing-masing.

Pada akhirnya, pendidikan inklusi mengajarkan saya bahwa ruang kelas bukan sekadar tempat menyampaikan materi pelajaran, melainkan ruang untuk memanusiakan manusia. Pendidikan inklusi bukan hanya memberikan tempat bagi murid berkebutuhan khusus untuk duduk bersama teman-temannya, tetapi juga menghadirkan ruang belajar yang benar-benar menerima setiap anak sebagai pribadi yang berharga.

Guru dituntut kreatif merancang pembelajaran yang berpihak pada keberagaman. Sekolah perlu membangun budaya yang menghargai perbedaan. Orang tua menjadi mitra yang saling menguatkan. Sementara itu, teman-teman sekelas menghadirkan lingkungan sosial yang mengajarkan empati, kepedulian, dan penerimaan.

Dari pengalaman mendampingi murid berkebutuhan khusus, saya menyaksikan bahwa kolaborasi sederhana di antara guru, sekolah, orang tua, dan teman sebaya mampu menumbuhkan rasa percaya diri, kemandirian, serta keberanian untuk terus belajar. Itulah keberhasilan pendidikan yang sesungguhnya. Keberhasilan tidak semata-mata tercermin dari nilai rapor atau capaian akademik, melainkan juga dari tumbuhnya keyakinan dalam diri setiap murid bahwa mereka diterima, dihargai, dan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan.

Saya percaya, Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur tidak hanya dibangun melalui kebijakan besar atau pembangunan fisik. Indonesia juga dibangun dari ruang-ruang kelas yang memberi kesempatan kepada setiap anak untuk tumbuh sesuai dengan potensi dan kebutuhannya.

Ketika seorang murid yang semula kesulitan menyusun kata akhirnya mampu menulis sebuah paragraf, di sanalah harapan sedang bertumbuh.

Ketika seorang murid yang sulit duduk tenang akhirnya dapat mengikuti pembelajaran dengan caranya sendiri, di sanalah pendidikan menjadi lebih manusiawi.

Ketika murid-murid belajar menerima perbedaan sebagai kekuatan, di sanalah nilai keadilan mulai berakar.

Sebab, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang hanya memberi ruang bagi mereka yang kuat, melainkan bangsa yang memastikan tidak ada satu pun anak tertinggal karena perbedaan yang dimilikinya. Setiap ruang kelas yang ramah dan inklusif adalah tempat menanam harapan bagi masa depan Indonesia. Ketika setiap anak diberi kesempatan untuk belajar, bertumbuh, bermimpi, dan hidup dengan martabat, sesungguhnya kita sedang menumbuhkan generasi yang akan mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur. (*/yad)

* Guru Bahasa Indonesia UPT SMP NEGERI 2 Gresik

Dari Kelas, Tumbuh Indonesia Berkeadilan Selengkapnya

Ning Nila, Anggota Komisi VII DPR RI Dorong UMKM di Gresik Gunakan Fotografi dan Medsos untuk Gaet Gen Z

GRESIK,1minute.id – Anggota Komisi VII DPR RI Nila Yani Hardiyanti mendorong UMKM, wabil khusus pelaku usaha kuliner di Kabupaten Gresik, untuk memanfaatkan fotografi dan media sosial sebagai strategi pemasaran agar mampu menjangkau generasi muda, khususnya Gen Z.

Menurut Ning Nila, sapaan, Nila Yani Hardiyanti, banyak kuliner khas Gresik, memiliki cita rasa dan resep yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, tidak sedikit pelaku usaha yang masih kesulitan menarik perhatian pasar generasi muda karena belum mampu menyajikan tampilan visual yang menarik di media digital.

“Selama ini banyak kuliner yang rasanya luar biasa, tetapi belum mampu menyapa Gen Z. Padahal mereka sangat aktif menggunakan media sosial. Karena itu, foto makanan bukan sekadar gambar, tetapi harus mampu bercerita dan membangun ketertarikan calon pembeli,” kata Ning Nila ketika menjadi pembicara dalam workshop bertajuk “Through the Lens: Culinary Storytelling with Photography” di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Gresik pada Selasa, 28 Juli 2026. 

Selain Ning Nila, workshop yang diinisiasi oleh Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia juga menghadirkan fotografer dokumenter, pengajar foto jurnalistik, dan pendiri Matanesia asal Surabaya, Mamuk Ismuntoro ini diikuti seratus pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Mereka ada yang berbisnis makanan dan minuman, hingga event organizer. 

Ia menilai daya saing sebuah produk kuliner saat ini tidak hanya ditentukan oleh cita rasa, tetapi juga bagaimana produk tersebut dikemas secara visual.

“Sering kali pelaku usaha kalah bersaing bukan karena rasanya, tetapi karena visual produknya kurang menarik. Lewat storytelling dalam fotografi, makanan akan memiliki cerita yang mampu mengundang orang untuk membeli,” kata politisi perempuan dari daerah pemilihan (dapil) Gresik dan Lamongan ini. 

Nila menambahkan, penguatan sektor ekonomi kreatif, termasuk kuliner, diharapkan mampu berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, kegiatan workshop tidak sekadar menjadi acara seremonial, melainkan menjadi instrumen peningkatan kapasitas pelaku usaha.

“Kami ingin workshop ini benar-benar menjadi bekal bagi para pelaku bisnis kuliner agar mampu memanfaatkan kekuatan visual dalam memasarkan produknya,” harapnya. Ia menegaskan, workshop akan dilakukan secara berkelanjutan. 

Perwakilan Kementerian Ekonomi Kreatif, Iman Santoso, turut mengapresiasi penyelenggaraan workshop tersebut. Kemampuan pelaku UMKM dalam memanfaatkan fotografi dan storytelling menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan nilai tambah produk kuliner sekaligus memperluas jangkauan pemasaran di era digital.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafbudpora) Gresik, Ghozali, berharap kegiatan tersebut dapat dimanfaatkan pelaku UMKM untuk meningkatkan kualitas promosi produk.

Menurutnya, Kabupaten Gresik memiliki sejumlah warisan budaya tak benda (WBTB) seperti nasi krawu dan kupat ketek yang memiliki potensi besar untuk dipromosikan melalui konten visual yang menarik. “Kami berharap para pelaku usaha dapat memanfaatkan ilmu fotografi storytelling ini agar kuliner khas Gresik semakin dikenal luas dan memiliki daya saing yang lebih tinggi,” ujarnya. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Ning Nila, Anggota Komisi VII DPR RI Dorong UMKM di Gresik Gunakan Fotografi dan Medsos untuk Gaet Gen Z Selengkapnya