Kisah Anjun Sunarsih Bersama 3 Anak,  Salah Satu Anak Mengidap ODGJ, Wabup Gresik : Dinsos Gresik Berikan Bantuan Mesin Jahit 

GRESIK,1minute.id – Anjun Sunarsih, satu dari sekian perempuan tangguh asal Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik. Ia seorang single parent. Janda berusia 56 tahun itu menjadi tulang punggung bagi tiga anaknya. Tiga anak Anjun itu bernama Ika Arnita, 35 ; Muhammad Arif Budiono, 29 dan bungsu perempuan berinisial NA, 26. 

Anak pertama dan kedua telah lulus sekolah menengah atas. Namun, mereka belum bekerja. Sedangkan, bungsu berinisial NA, tidak sempat mengenyam pendidikan. Ia diduga kuat mengidap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari itu, Anjun Sunarsih bekerja sebagai buruh jahit konveksi. Penghasilan pun tidak menentu. Kadang mendapatkan upah Rp 12 ribu sehari

Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah yang mendengar kabar Anjun, salah satu warganya  berjuang sendiri untuk menghidupi tiga anaknya mendatangi rumah Anjun di Jalan Kapt. Darmo Sugondo, Kelurahan Indro, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik pada Rabu, 21 Desember 2022.

Sekitar pukul 16.00 WIB, Bu Min-sapaan karib-Aminatun Habibah tiba rumah Anjun yang sederhana itu. Ia didampingi Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Gresik Ummi Khoiroh, Camat Kebomas Moch Jusuf Ansyori dan Lurah Indro serta sejumlah relawan.

Bu Min dan Ummi Khoiroh disambut hangat oleh Anjun Sunarsih. Di rumah berlantai plesteran semen itu, Bu Min dan Ummi Khoiroh kemudian menuju salah satu kamar di rumah bercat pink tanpa plafon itu. Pintu kamar terbuka. Namun, Bu Min dan Ummi Khoiroh memilih tidak masuk kamar tersebut. Sebab, anak bungsu berinisial NA itu diduga kuat masuk kategori orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). 

Gadis berusia 25 tahun itu pernah dirawat di RSJ Menur Surabaya. Saat ini, NA menjalani rawat jalan di puskesmas setempat. Beberapa menit Bu Min dan Ummi Khoiroh mengamati anak bungsu Anjun yang tidur-tiduran di dalam kamar sendiri. Wabup perempuan pertama di Kabupaten Gresik itu beberapa kali mencoba menyapa anak bungsu Anjun tersebut. Gadis berinisial NA itu tidak meresponnya.

Kondisi tersebut membuat NA belum pernah mengenyam pendidikan formal hingga berusia 26 tahun. Bukan pekerjaan mudah bagi Anjun Sunarsih. Puluhan tahun Anjun Sunarsih, menjadi ibu sekaligus kepala keluarga. Anjun yang tidak lulus sekolah dasar (SD) hanya berprofesi sebagai buruh jahit baju konveksi yang penghasilan tidak menentu. 

DIALOG : Wabup Gresik Aminatun Habibah mendengarkan cerita Anjun Sunarsih dan dua dari 3 anaknya pada Rabu, 21 Desember 2022. ( Foto: Chusnul Cahyadi/1minute.id)

Meski, keluarga Anjun telah tercover bantuan dari pemerintah. Termasuk biaya perawatan si bungsu, NA. Hanya seorang ibu yang sabar, telaten dan memiliki jiwa kasih sayang yang luar biasa bisa.  Apalagi, ketika si bungsu kumat. Anjun yang menenangkan anaknya tersebut. 

Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah mengatakan, tujuan mengujungi ke rumah Anjun di Kelurahan Indro karena mendapat kabar ketiga anak mengalami ODGJ. Karena itulah, pihaknya mendatangi rumah untuk memastikan kondisi ketiga anak tersebut. Bu Min menyempatkan bercengkramah dengan Ika Arnita dan Muhammad Arif Budiono. Hanya si anak bungsu tidak diajak bicara. Karena masuk ODGJ.

“Ternyata sehat. Tapi, memang belum bekerja,” kata Bu Min. Saat ini, Ika, anak sulung sehari-hari bekerja membuat manik-manik di rumah.  “Tapi, honornya tidak seberapa,” terang Ketua Bu Nyai Nusantara Kabupaten Gresik itu. 

SERAHKAN BANTUAN : Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah menyerahkan bantuan uang dan sembako kepada Anjun Sunarsih, ibu tiga anak, salah satu mengidap ODGJ di Kelurahan Indro, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik pada Rabu, 21 Desember 2022 ( Foto : Chusnul Cahyadi/1minute.id)

Bu Min melanjutkan, Dinas Sosial (Dinsos) Gresik ingin mengirim ke tempat pelatihan supaya mereka bisa mandiri. Sehingga tidak bergantung kerja di perusahaan. Selain itu, kunjung Wabup Aminatun Habibah itu juga bagian dari peringatan Hari Ibu, yang diperingati setiap 22 Desember, besok itu. 

Bu Min memberikan apresiasi kepada Anjun Sunarsih yang dianggap seorang ibu pekerja keras. Membesarkan, merawat dan memberikan nafkah dan kasih sayang kepada ketiga buah hatinya. “Ibunya seorang pekerja keras, ikut konveksi meskipun mesin jahit masih pinjaman. Mudah-mudahan dinsos bisa memberikan bantuan alatnya (mesin jahit),” harapnya.

Sementara itu, Anjun Sunarsih mengaku sangat senang bisa bertemu dengan Wabup Gresik Aminatun Habibah. Apalagi kedatangan tersebut juga memberikan sejumlah bantuan. Selain uang tunai, Bu Min juga memberikan bantuan sembako dari Wilmar Gresik. “Alhamdulilah, senang bisa bertemu bu wabup,” katanya.  (yad)

Kisah Anjun Sunarsih Bersama 3 Anak,  Salah Satu Anak Mengidap ODGJ, Wabup Gresik : Dinsos Gresik Berikan Bantuan Mesin Jahit  Selengkapnya

Sewindu Alfi Arianto, Ahli Muda Dinsos Gresik “Taklukkan” ODGJ, Ditampar, Dilempari Batu, Diludahi Sarapan Setiap Hari

BANYAK orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang dijauhi, bahkan ’’dibuang’’. Namun, Alfi Arianto memilih mendekatinya. Dia juga berusaha menyembuhkan penderita gangguan jiwa. Alfi bergumul dengan “wong gendeng” lebih satu Windu. Tepatnya sejak 2014. 

CHUSNUL CAHYADI, 1minute.id

ALFI ARIANTO tampil beda. Pekerja sosial ahli muda di Dinas Sosial (Dinsos) Gresik memakai setelan jas. Penampilan tentu berbeda 180 derajat ketika ia harus berjibaku menaklukkan Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang berkeliaran di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik. 

Alfi tampil di depan para undangan upacara Detik-detik Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Kantor Bupati Gresik untuk menerima penghargaan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik. Piagam penghargaan diserahkan oleh Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani dan disaksikan oleh Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah. Alfi Arianto masuk kategori ASN di Dinas Sosial yang berjasa menangani orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kabupaten Gresik. 

Delapan tahun Alfi berurusan dengan ODGJ. “Wong gendeng”. Kesan yang muncul adalah dekil, ngamukan, dan bau. Orang-orang pun berusaha menghindarinya. Namun, Alfi Arianto menabrak stigma itu. Mantan Kasi Rehabilitasi Tuna Sosial di Dinsos Gresik-kini jabatan fungsionalmya-Pekerja Sosial Ahli Muda Dinsos Gresik itu malah ”memburunya’’. 

Sarjana administrasi publik (SAP) di Lembaga Administrasi Negara (LAN) Bandung 2010 itu mendapatkan julukan ’’Penakluk’’ ODGJ. ’’Saya menangani ODGJ sejak 2014,’’ kata Alfi Arianto melalui pesan WhatsApp pada Sabtu, 20 Agustus 2022.

Risiko berinteraksi dengan orang tidak waras menjadi makanan setiap hari Alfi. Diamuk atau diludahi,  dilempar batu atau kayu, digigit dan ditampar, misalnya. Bau tidak sedap sudah pasti. Sebab, mereka biasanya tidak mandi serta tidak gosok gigi sampai berhari-hari. ’’Itu risiko,’’ucap pria 48 tahun itu.

Selama satu windu atau delapan tahun ’’berkawan’’ dengan orang gila, Alfi mengatakan telah memahami psikologis mereka. Karena itu, dia tidak sulit menjinakkan ODGJ tanpa kekerasan. 

Apa tip menjinakkan orang gila? Dia menyebut membawa makan dan minuman (mamin). Sebab, ODGJ biasanya kurang makan. Ketika perutnya terisi, mereka bakal nurut. ’’Saya cekel manut. Saya pancing makanan dan minuman, lalu saya ajak naik mobil,’’ucapnya.

Alfi mendapatkan ODGJ tidak hanya dijalanan dan pasar. Bila dijalanan kondisi badannya tidak terawat. ’’Nek kondisinya awut-awutan kita mandikan di selter,”ujarnya. Selain ODGJ di jalanan dan di pasar. Alfi juga blusukan ke desa-desa. Biasanya ada laporan dari warga atau aparat kepolisian ada ODGJ ngamuk. Laporan itu tidak mengenal waktu. Biasa pagi, siang bahkan malam hari. Pria berkacamata itu pun budal ke lokasi. 

Setelah “jinak” Alfi lalu membawa ke rumah sakit jiwa (RSJ) Menur, Surabaya. Jika kondisinya sangat parah, perawatannya butuh waktu 4–5 bulan. Kalau ringan, paling banter tiga bulan. ’’Kalau sudah bisa berinteraksi dengan orang, pihak RSJ Menur mengontak saya lagi untuk menjemputnya,’’paparnya suatu kesempatan.

Saat itu Alfi mulai mengorek identitas ODGJ. Misalnya, nama dan alamat rumahnya. ’’Setelah sembuh, mereka ingat rumahnya. Kami kemudian memulangkan ke rumahnya,’’tuturnya. Kesempatan bertemu kembali dengan keluarga pun sangat mengharukan. Keluarga ODGJ selalu mengucapkan terima kasih. ’’Ada yang mendatangi kantor dan ada yang membawa satu tandan pisang,’’ujarnya.

Setelah sembuh dan bertemu keluarga, tugas Alfi belum selesai. Alfi bersama dengan petugas kesehatan jiwa (keswa) puskesmas setempat melakukan pendampingan. “Pendampingan ini untuk kontrol pemberian obat kepada pasien,”katanya. ODGJ tetap bisa disembuhkan bila pendampingan terutama pihak keluarga peduli. “Yang paling utama pendampingan keluarga secara lahiriah proses penyembuhannya cepat,”tegasnya. (*)

Sewindu Alfi Arianto, Ahli Muda Dinsos Gresik “Taklukkan” ODGJ, Ditampar, Dilempari Batu, Diludahi Sarapan Setiap Hari Selengkapnya