Sanggar Lentera Gelar Pameran “Runcang Runcung”, Riyanto Pamerkan Karya Indonesiaku dan Bandar Grissee 

GRESIK,1minute.id – Sanggar Lentera menggelar pameran lukisan di Galeri Sawunggaling Taman Budaya Jawa Timur. Pameran yang mengusung tema “Runcang Runcung” ini diikuti tujuh pelukis digelar mulai 2-7 Desember 2025. Semuanya perupa Kota Santri, sebutan lain, Kabupaten Gresik.

Tujuh pelukis itu, yakni, Kris Adji A.W ; M. Syarifuddin ; Achmad Feri ; Achmad Syafi’i ; Erfi Sulistiyanto ; Achmad Huseaini dan Muhammad Riyanto. Mereka memiliki aliran masing-masing. Kris Adji misalnya, dengan lukisan realisme,  Achmad Feri, misalnya, pelukis abstrak. Kemudian, Muhammad Riyanto dikenal sebagai pelukis kaligrafi dan juga aliran surialisme. 

Pameran dalam rangkaian HUT ke-45 Sanggar Lentera (1980-2025) yang home base-nya diinisiasi oleh Kris Adji A.W, seniman Gresik ini menjadi khazanah baru bagi pencinta karya lukis di Indonesia wabil khusus bagi arek-arek Suroboyo. 

Lukisan berjudul “Indonesiaku” karya Riyanto, misalnya. Dalam lukisan tiga dimensi itu, terdapat nama-nama daerah, kota, kuliner, tari, budaya dan adat Khas Indonesia. Tulisan sangat kecil dengan background batik kombinasi corak Indonesia. Background batik corak Indonesia dengan frame corak tikar berwarna keemasan menjadi karya Riyanto ini menarik perhatian penggemar lukisan di Kota Pahlawan Surabaya itu.

“Lukisan Indonesiaku, yang berisi semua daerah, kota, makanan, tarian, budaya rumah adat khas Indonesia karya terbaru saya,” ujar Riyanto melalui pesan WhatsApp pada Jumat, 5 Desember 2025. Lukisan “Indonesiaku” ini berbeda dengan karya-karya pelukis lainnya. Lazimnya, pengunjung pameran dilarang untuk memegang karya pelukis. 

Pelukis alumnus Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Al-slamiyah asuhan KH. Muhammad Bashori Mansyur, Tambak Osowilangun, Surabaya ini memperbolehkan para penikmat untuk memegang bahkan memutar 360 derajat. ” Pemeran ini, Kulo bawa 5 karya. Ada 3 kaligrafi tasawuf dan 2 surealis gerak menggunakan AI,” tegasnya.

Riyanto yang tinggal di Gresik ini, juga menyoroti perkembangan di Kota Industri, sebutan lain, Kabupaten Gresik. Gresik yang dikenal sebagai salah satu kota pelabuhan tertua di Indonesia tidak luput dari goresan tangannya. Ia melukis karya instalasi dengan menggunakan jaring alias jala ikan. “Ini simbol Gresik sebagai kota dengan Pelabuhan yang terkenal dimasanya, Bandar Grissee,” terang pelukis pernah belajar kaligrafi di KH.M Faiz Abdur Razaq, Khattat International dari Bangil itu. (yad)

Sanggar Lentera Gelar Pameran “Runcang Runcung”, Riyanto Pamerkan Karya Indonesiaku dan Bandar Grissee  Selengkapnya

Kaligrafi Handphone Jalur Langit, 99-G, Muhammad Riyanto Jadi Magnet di Pameran Lukisan Kaligrafi Menggapai Ramadhan

SURABAYA,1minute.id – Imajinasi H. Muhammad Riyanto berbeda dengan pelukis kaligrafi lainnya di Indonesia. Karya pelukis kaligrafi tinggal di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik, Jawa Timur out of the box dan selalu menyertakan lafal-lafal alquran.

Riyanto, sapaan akrabnya pernah membuat kaligrafi berjudul “Hanya DiriMu Semata” yang mendapatkan apresiasi dari seniman muslim Indonesia yakni Al Khattat Pasuruan Ustadz Syamsul Huda, Sidogiri, Pasuruan dan Kiai juga penyair Clurit Emas, D. Zawawi Imron dari Madura. Lukisan berukuran diameter 120 centimeter itu, sangat elok. 

Di Art Jakarta di JIEXPO Kemayoran, Jakarta. Ada tiga karya lukisan kaligrafi lelaki berusia 49 tahun ini pajang. Judulnya, “Keinginan ; Hijaiyah dan Fa Asbahtum Bini’matihi Ikhawanaa”.

Di eksebisi pameran kaligrafi kontemporer pada 8-15 September 2024 lalu, Riyanto, salah satu wakil Indonesia yang mengikuti pameran bertajuk “The Prophet Muhammad International Islam Calligraphy Art Exhibition”. Pameran kaligrafi kontemporer terbesar itu diikuti 135 pelukis dari 35 negara ini rangkaian memeriahkan acara Musabaqah Tilawatil Quran Nasional atau MTQN ke-30 di Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia. 

Riyanto memamerkan lukisan berjudul “Nuur Muhammad” di atas kanvas ukuran 120×120 cm. Medianya campuran yakni Polypropylene, glass, PVC board, pipa, pines, resin, acrylic on canvas. “Judul karya Nuur Muhammad dalam berkonsep karya nama diberikan oleh KH.Chotib Hambari adalah putra KH.Muhammad Bashori Mansyur pengasuh Ponpes Roudlotit Tholibin keponakan Gus Mus (Mustofa Bisri),” terang pelukis kaligrafi kini pengurus Jamiyyatul Qurra’ wal Huffazh atau JQH Kota Surabaya, Jawa Timur ini. 

Sedangkan, karya-karya kaligrafi yang mengkritisi kondisi sosial masyarakat. Di antaranya, berjudul “Dream Noah Ship Future” pernah dipajang di Malaysia. Lukisan itu menggambarkan sebuah kapal pesiar yang mengangkut banyak penumpang. Beragam agama mereka. Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Di atas kapal pesiar itu, semuanya rukun. “Andai dunia bisa damai. Akan sangat menyenangkan,” kata Riyanto suatu hari.

Nah, pada pemeran lukisan Kaligrafi Menggapai Ramadhan di basement Alun-alun Kota Surabaya mulai 15-22 Februari 2025, Riyanto memamerkan lukisan Kaligrafi berbentuk handphone. Lukisan kaligrafi itu berjudul “God is the Only Source of Knowledges” yang artinya Tuhanlah satu-satunya sumber ilmu.

“Niki doa, ayat, hadist dan Alquran. Ada kode 99 G pun mboten 5G male,” kata Riyanto dalam melalui pesan WhatApps pada wartawan 1minute.id pada Kamis, 20 Februari 2025.

Ide unik karya Riyanto ini berupa kaligrafi berbentuk handphone tipe 7 (visualisasi surat Alfatihah) dari karya ini ada pesan religi yang kuat, di antaranya jaringan HP menggunakan 99 G (Asmaul Husna). “Jadi sudah tidak 5G apalagi 4G,” katanya. Jaringan 99 G dengan Asmaul Husna adalah komunikasi jalur langit.

Bluetooth dan Wifi menggunakan Jaringan HAKISFI (Pelaksana Pameran) ada titik lampu LED di tengah atas yang menyala yang bisa di aktifkan dengan sensor di bawahnya sebagai penanda waktu Salat tiba. Ada enam kotak di tengahnya adalah visualisasi rukun iman. Dengan lafadz ayat ayat AlQuran di antaranya, “Faabiayyialaa irobbikuma tukadziban” ; “Fadhulii fii ‘ibaadii wadhulii jannaty” ; “Inna Fatahna Laka Fatham Mubiina” dan ada juga dengan media acrylic mirror dengan lafadz “Lainsyakartu. Laaziidannakum” Dengan media kaca acrylic kita di arahkan untuk bercermin diri sudahkan kita menjalankan apa yang diperintahkan Allah ?

“Saya merasa pesan yang saya sampaikan melalui karya ini sudah tersampaikan dan semoga bermanfaat dengan narasi yang disampaikan,” ujar pelukis kaligrafi yang  alumnus Pondok Pesantren ini.

Pameran Kaligrafi Menggapai Ramadhan ini juga diikuti oleh KH.Misbahul Munir, Ketua Majelis Dewan Hakim MKQ Nasional Malang ; KH.Imron Fathoni, Dewan Hakim MKQ Jawa Timur, KH.Robert Nasrullah, Dewan Hakim MKQ Nasional Yogyakarta ; Syam Arif, Surabaya ; Suharno, Tangerang dan Abdul Syukur, Jakarta. 

Juga ada Ustad Badruzzaman, Jakarta ; Lukmanul Hakim, Jombang ; Camilhady Lamongan ; Anwar Sanusi, Pasuruan ; Armin Misbah, Sulawesi ; dan Ustad Miftahul Khoir, Bali. “Karyaku ruame mas tadi malam (Rabu) HP unik jarene,” ujar Riyanto menirukan ucapan pengunjung.

Selain pameran kaligrafi yang diikuti lebih dari 100 karya dari peserta seluruh Indonesia. “Hakisfi juga mengadakan lomba melukis, workshop kaligrafi dan OTS yang diadakan di arena pameran,” kata Syam Arif, Ketua Panitia yang sekaligus peserta pameran adalah putra pelukis legenda perjuangan M.Sochieb dari Surabaya yang terkenal itu. 

Siapa H. Muhammad Riyanto? Riyanto tergabung dalam pelukis Gasrug Gresik dan lulusan Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Al-slamiyah asuhan KH. Muhammad Bashori Mansyur, Tambak Osowilangun, Surabaya. Ia belajar kaligrafi di KH.M Faiz AbdurRazaq Khattat International dari Bangil. (yad)

Kaligrafi Handphone Jalur Langit, 99-G, Muhammad Riyanto Jadi Magnet di Pameran Lukisan Kaligrafi Menggapai Ramadhan Selengkapnya

Islamic Cultural Karya Riyanto Jadi Magnet Pencinta Seni Lukis di Malaysia

GRESIK,1minute.id – Lima karya lukis Muhammad Riyanto terpajang di Fahrenheit 88, Kuala Lumpur, Malaysia. Lima karya pelukis yang tinggal di Grand Sutomo, Jalan DR Soetomo, Gresik itu berjudul Allah Greatness ; Islamic Cultural ” Walisongo Religius Transportation ” ; Dream ” Noah Ship Future ” ; Kolaborasi dan Leader Ship In Politik ” Win or Lose “. Semua lukisan menggunakan cat akrilik.

“Semuanya beraliran Surialis,”kata Ryanto dikonfirmasi selulernya pada Sabtu, 13 November 2021. Riyanto tidak menyangka semua karyanya lolos kurasi. Sebab, ia baru kali pertama mengikuti ekshibisi bertaraf internasional bertajuk Art is Fair in /KL/ Fahrenheit 88 ini. Sebanyak 500 karya seniman dunia dipamerkan mulai 11-28 November 2021. 

Sejumlah seniman Indonesia seperti Eriantoartme ; Hanisantana ; Suwandi Waeng ;  Nurali dan lainnya. Tapi, Riyanto, salah satunya seniman lukis asal Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik, Jawa Timur yang bisa masuk even global tersebut. Ia mengirimkan lima karya dalam pameran tersebut. “Alhamdulillah semua lolos kurasi. Bahkan, karya Saya masuk opening call,”kata pelukis kelahiran 47 tahun itu. 

Setelah dari Malaysia, lukisan Riyanto akan dipamerkan ke Philipina, Thailand dan Singapura. “Seneng,” ungkapnya. Riyanto ada seniman lukis unik. Sebab, setiap lukisan Riyanto selalu diselipkan tulisan kaligrafi. Ini yang membedakan Riyanto dengan pelukis lainnya. Dalam ekshibisi di Malaysia, hasil goresan tangan lelaki yang selalu memakai kopyah itu menjadi salah magnet bagi penggemar seni lukis di negeri Mahatir Mohamad itu. 

Lukisan itu berjudul Islamic Cultural “Walisongo Religius Transportation”. Dalam lukisan media kanvas ukuran 120 X 155 cm itu, Pelukis anggota Komunitas Galeri Seni Rupa Gresik (Gasrug) ini menggambarkan semua tempat ziarah makam Wali Songo itu telah dilengkapi dengan sistem moda transportasi modern yang  terintegrasi menjadi satu kesatuan.

Selain moda transportasi bus, kapal juga moda transportasi massal berupa kereta bawah tanah yang menghubungkan sembilan penyebar agama Islam di Indonesia itu. 

JUSTICE : Riyanto dengan karyanya berjudul Leader Ship In Politik ” Win or Lose ” yang sedang dipajang di ekshibisi di Malaysia mulai 11-28 November 2021 (Foto: Riyanto for 1minute.id)

Siapa Riyanto? Riyanto, tumbuh di keluarga pelukis. Ayahnya seorang pelukis kaligrafi kaca. Pamannya juga berkecimpung di bidang melukis. Ia mengikuti jejak ayah dan pamannya menjadi seorang pelukis kaligrafi. Ia memulai pameran sejak 1991. Karya-karya kaligrafi yang mengkritisi kondisi sosial masyarakat. 

Diantaranya, berjudul Dream Noah Ship Future juga sedang dipajang di Malaysia. Lukisan itu menggambarkan sebuah kapal pesiar yang mengangkut banyak penumpang. Beragam agama mereka. Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Di atas kapal pesiar itu, semuanya rukun.  “Andai dunia bisa damai. Akan sangat menyenangkan,” kata Riyanto suatu hari. 

Lewat lukisan itu, dia ingin bercerita kehidupan di darat yang menggambarkan kesibukan manusia yang sebenarnya. Sementara itu, di bagian bawah menceritakan bagaimana sebuah fondasi kehidupan. Kemudian, di fase langit adalah kehidupan setelah meninggal.

Di dalam lukisan yang bercerita tentang kehidupan tersebut, Riyanto tetap menyisipkan ayat-ayat Alquran di dalamnya. “Bagi saya sebenarnya setiap seniman punya cara penyampaiannya sendiri-sendiri. Dan menyampaikan secara visual itu paling mudah. Hal itu nantinya juga bisa membuat orang-orang bertanya,”jelas Riyanto. Lukisan kali terakhir berjudul Ikan Bandeng menjadi koleksi Presiden Joko Widodo. Riyanto mengaku belajar kaligrafi dari Ustadz Faiz Abdur Rozzaq di Bangil, Pasuruan tersebut. (yad)

Islamic Cultural Karya Riyanto Jadi Magnet Pencinta Seni Lukis di Malaysia Selengkapnya