Satu Peta, Satu Data: Pemkab Gresik Ajak Perusahaan Perkuat Intervensi Air Bersih dan Sanitasi

GRESIK,1minute.id – Pemerintah Kabupaten Gresik mendorong penanganan akses air minum dan sanitasi dilakukan secara lebih terarah melalui kolaborasi pemerintah, perusahaan, komunitas, dan organisasi masyarakat sipil. 

Salah satu langkahnya adalah menyatukan data kebutuhan, memetakan wilayah prioritas, hingga memastikan intervensi berjalan sampai tahap pengawasan. Hal itu disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman saat menghadiri Stakeholder Forum dan Sharing Session 2 Program Peningkatan Akses Air Bersih dan Sanitasi Layak  oleh Cempaka Foundation di Hotel Aston Gresik pada Kamis, 10 September 2026.

Mengusung tema “Merangkai Kolaborasi, Menuju Kabupaten Gresik Layak Air Bersih dan Sanitasi”, forum tersebut mempertemukan pemerintah daerah dengan sejumlah perusahaan, forum CSR, serta organisasi yang selama ini bergerak dalam isu air, sanitasi, kesehatan, dan lingkungan.

Sekda Washil mengatakan, pemerintah daerah memiliki kewenangan, sumber daya manusia, serta anggaran untuk menangani persoalan infrastruktur dasar. Namun, kebutuhan di lapangan cukup besar sehingga penyelesaiannya membutuhkan keterlibatan banyak pihak. “Anggaran pemerintah daerah tidak mungkin menyelesaikan semuanya sendiri. Karena itu, kolaborasi menjadi penting, terutama dengan perusahaan melalui program CSR, untuk mempercepat penuntasan persoalan air bersih dan sanitasi,” ungkap Sekda Washil.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur air minum dan sanitasi tidak berhenti pada pembangunan fisik. Keberlanjutan layanan, kualitas air, distribusi, pengelolaan limbah, hingga perubahan perilaku masyarakat juga harus menjadi bagian dari intervensi.

Dampaknya pun tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan infrastruktur. Akses air minum dan sanitasi yang layak berhubungan langsung dengan kesehatan masyarakat, pencegahan stunting, pengurangan kemiskinan, kualitas lingkungan, serta produktivitas masyarakat. “Jangan sampai setelah infrastrukturnya dibangun kemudian selesai. Kita harus memastikan layanan, kualitas, distribusi, dan pengelolaannya berjalan dengan baik,” ujarnya.

Washil menyebut tantangan Gresik cukup kompleks karena karakter wilayahnya beragam. Kabupaten Gresik memiliki kawasan perkotaan, industri, pesisir, perdesaan, pertanian, perikanan, hingga kawasan yang berkembang pesat. Karena itu, pendekatan penanganan air minum dan sanitasi tidak bisa diseragamkan untuk seluruh wilayah.

Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Gresik, capaian akses sanitasi aman di Kabupaten Gresik pada 2025 baru mencapai 2,69 persen dari 11.787 rumah tangga, sementara target dalam RPJMD 2025-2029 mencapai 23,41 persen.

Pada sektor air minum, capaian akses disebut berada pada angka 45,07 persen dari target 78,81 persen. Kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat kesenjangan yang membutuhkan intervensi bersama. “Sanitasi aman ini penting untuk kita kolaborasikan bersama. Begitu juga dengan air minum. Masih ada deviasi yang harus kita maksimalkan,” tuturnya.

Karena itu, Pemkab Gresik mendorong dibangunnya pendekatan berbasis satu peta, satu data, dan satu intervensi. Data dari perangkat daerah diharapkan dapat dipadukan untuk mengetahui wilayah yang sudah terlayani, wilayah yang belum terlayani, serta kebutuhan intervensi di masing-masing kawasan.

Pemetaan tersebut nantinya juga dapat menjadi dasar bagi perusahaan dalam menentukan lokasi program CSR. Dengan begitu, dukungan perusahaan tidak berjalan sendiri, tetapi dapat diarahkan ke wilayah yang memiliki kebutuhan paling mendesak dan selaras dengan prioritas pembangunan daerah. “Harapannya ada data yang bisa disatukan, kemudian ada skala prioritas yang bisa kita tangani bersama, dan implementasinya bisa dikawal sampai pengawasan,” ujarnya.

Sekda Washil juga menekankan pentingnya aspek perubahan perilaku. Menurutnya, persoalan sanitasi tidak semata-mata berkaitan dengan pembangunan septic tank, jaringan perpipaan, atau instalasi pengolahan air limbah. Kesadaran masyarakat dalam mengelola limbah domestik dan menjaga lingkungan sehat juga menjadi bagian penting dari keberhasilan program.

Ia mencontohkan pengalaman pembangunan IPAL komunal di Gresik yang pada awalnya menghadapi penolakan masyarakat. Setelah masyarakat memahami risiko sanitasi yang tidak aman terhadap lingkungan dan kesehatan, penerimaan terhadap pembangunan IPAL komunal meningkat.

Pengalaman tersebut, kata Washil, menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan edukasi. Infrastruktur yang tersedia akan lebih berkelanjutan apabila masyarakat memahami manfaat sekaligus terlibat dalam pengelolaannya.

Sementara itu, Direktur Cempaka Foundation Sarifudin Lathif mengatakan forum tersebut merupakan kelanjutan dari kolaborasi yang telah dibangun sebelumnya. Cempaka Foundation sendiri telah menjalankan program terkait akses air bersih dan sanitasi di Gresik sejak 2021, termasuk bersama sejumlah mitra.

Menurut Sarifudin, hingga saat ini terdapat sejumlah desa di wilayah Manyar dan Bungah serta kawasan perkotaan Gresik yang menjadi lokasi intervensi program. Program tersebut antara lain mencakup dukungan sambungan rumah dan pengembangan model pengelolaan air berbasis masyarakat.

Salah satu yang dikembangkan adalah model master meter di Desa Banyuwangi, Kecamatan Manyar. Model tersebut memungkinkan masyarakat melalui kelompok pengelola air untuk mengelola layanan secara lebih mandiri dan berkelanjutan. “Masalah yang kita hadapi bukan hanya ketersediaan sumber air, tetapi juga infrastruktur jaringan pipanya. Itu yang perlu kita diskusikan bersama,” kata Sarifudin.

Ia menilai kolaborasi antara pemerintah daerah, perusahaan, forum CSR, dan organisasi masyarakat sipil diperlukan untuk memperluas penerima manfaat layanan air minum sekaligus memperkuat pengelolaan sanitasi.

Dalam forum tersebut, Cempaka Foundation juga menghadirkan sejumlah mitra dan pemangku kepentingan untuk berbagi pengalaman serta membuka peluang kolaborasi, termasuk dari sektor industri dan forum CSR.

Sarifudin berharap forum tersebut tidak berhenti sebagai ruang berbagi gagasan. Pemetaan kebutuhan yang lebih jelas diharapkan dapat menghasilkan kerja sama yang konkret sehingga semakin banyak masyarakat Gresik memperoleh akses air minum dan sanitasi yang layak. “Kolaborasi ini diharapkan bisa mempercepat dan memperkuat posisi penting Kabupaten Gresik untuk memenuhi kebutuhan dasar air dan sanitasi,” ujarnya. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Satu Peta, Satu Data: Pemkab Gresik Ajak Perusahaan Perkuat Intervensi Air Bersih dan Sanitasi Selengkapnya

Pemkab Gresik Siapkan Anggaran Percepatan Akses Air Bersih dan Sanitasi Aman

GRESIK,1minute.id – Pemerintah Kabupaten Gresik mempercepat upaya pemenuhan akses air bersih dan sanitasi aman bagi masyarakat. Program prioritas duet Bupati dan Wakil Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani-Asluchul Alif selain infrastruktur jalan. Komitmen tersebut ditegaskan Sekretaris Daerah Kabupaten Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman saat membuka kegiatan Stakeholder Forum & Sharing Session bertema “Kabupaten Gresik Menuju Pemenuhan Akses Air Bersih dan Sanitasi Layak Berkelanjutan Bagi Masyarakat” di Ruang Argo Lengis Kantor Bupati Gresik pada Kamis, 25 Juni 2026.

Dalam sambutannya, Sekda Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman  menyampaikan bahwa penyediaan air bersih dan sanitasi aman menjadi salah satu perhatian utama Bupati dan Wakil Bupati Gresik. Karena itu, berbagai langkah strategis terus disiapkan untuk mempercepat pemenuhan layanan dasar tersebut.

Salah satunya melalui pembangunan dua tandon air berkapasitas besar di Desa Sembayat dan Desa Manyar. Keduanya di Kecamatan Manyar. Infrastruktur tersebut nantinya akan mendukung distribusi air dari Bendung Gerak Sembayat (BGS) ke sejumlah desa yang masih membutuhkan akses air bersih.

“Anggarannya sudah kita susun. Mudah-mudahan proses pemenuhan akses air bersih ini berjalan lancar dan segera berdampak bagi desa-desa yang akan dialiri air dari Bendung Gerak Sembayat,” ujar Sekda Washil.

Selain akses air bersih, Pemkab Gresik juga memberikan perhatian serius terhadap peningkatan sanitasi aman. Sekda Washil mengungkapkan bahwa capaian sanitasi aman di Kabupaten Gresik saat ini masih berada pada angka 2,69 persen atau sekitar 11.787 rumah. Sementara itu, target yang ditetapkan dalam RPJMD 2025–2029 mencapai 23,41 persen.

“Artinya kita masih memiliki deviasi atau kesenjangan sekitar 20,72 persen. Ini angka yang sangat besar, sehingga proses pemenuhan sanitasi aman harus kita maksimalkan. Tidak bisa hanya mengandalkan dinas terkait, tetapi membutuhkan dukungan seluruh pihak, termasuk sektor swasta,” jelas mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Gresik ini.

Untuk mempercepat pencapaian target tersebut, Washil yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (Perkim) Kabupaten Gresik ini mendorong Kecamatan Manyar dan Kecamatan Bungah menjadi wilayah percontohan (pilot project) dalam penerapan sanitasi aman di Kabupaten Gresik.

Pada kesempatan itu, ia juga menyoroti fenomena yang disebut sebagai “sanitasi tersamar” di kawasan perkotaan dan permukiman padat. Menurutnya, masih banyak rumah yang terlihat memiliki fasilitas sanitasi yang baik, namun belum dilengkapi septic tank yang memenuhi standar atau bahkan masih membuang limbah langsung ke saluran terbuka.

Kondisi tersebut berpotensi mencemari air tanah oleh bakteri E. coli, terutama karena jarak antara sumur warga dan resapan tangki septik kerap berada di bawah batas aman 10 meter. Sebagai upaya penanganan, Pemkab Gresik berencana mengintegrasikan pembangunan sanitasi aman ke dalam program rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). 

Pada tahun 2026 hingga 2027, sebanyak 647 unit rumah warga pada kelompok desil 1 dan desil 2 ditargetkan direhabilitasi dan wajib dilengkapi fasilitas sanitasi aman berupa bio septic tank. Selain itu, melalui UPT Pengelolaan Limbah Cair Domestik (PLCD) pada Dinas Cipta Karya, Perumahan dan Kawasan Permukiman (CK-PKP) Gresik juga akan mengoptimalkan program Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (L2T2) serta aplikasi GO-PLONG. Hal ini guna memastikan pengelolaan limbah domestik dilakukan secara berkala setiap dua hingga tiga tahun.

Menutup sambutannya, Sekda Washil menyampaikan apresiasi kepada berbagai mitra pembangunan yang selama ini mendukung upaya peningkatan akses air bersih dan sanitasi di Kabupaten Gresik. Mitra tersebut di antaranya Yayasan Cempaka serta sejumlah perusahaan di kawasan industri seperti Freeport, yang ikut memfasilitasi dalam mendorong perubahan perilaku sanitasi masyarakat. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Pemkab Gresik Siapkan Anggaran Percepatan Akses Air Bersih dan Sanitasi Aman Selengkapnya

Pembangunan Sanitasi Aman dan Sehat Dikebut, Di Gresik baru Terbangun 15 Persen


GRESIK,1minute.id – Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani melakukan peletakan batu pertama pembangunan prasarana air limbah di Desa Ngargosari, Kecamatan Kebomas. Pembangunan sanitasi ini diinisiasi oleh Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Gresik. Tujuannya, menciptakan kawasan permukiman yang sehat dan aman dan tanpa pencemaran lingkungan.

“Semoga peletakan batu pertama sanitasi aman dan sehat diikuti di daerah yang lainnya. Sehingga, bisa tercipta lingkungan yang sehat,”kata Bupati Fandi Akhmad Yani. Sanitasi aman merupakan fasilitas sanitasi yang dimiliki rumah tangga yang terhubung dengan septictank dengan rutinitas penyedotan satu kali dalam kurun waktu 3-5 tahun dan dibuang ke instansi pengolahan tinja atau IPTL.

IPTL adalah Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja merupakan pengolahan air limbah yang dirancang hanya menerima dan mengolah lumpur tinja yang berasal dari sistem setempat (on site) yang diangkut melalui sarana pengangkut lumpur tinja.

Menurut Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman, upaya mendukung terwujudnya program pemerintah 100 – 0 – 100.  Program tersebut menuju pemenuhan target tiga sektor antara lain 100 persen akses layak air minum ; pengurangan  kawasan kumuh 0 persen dan  pemenuhan 100 persen akses  sanitasi layak.

MENGHADAP SALURAN : Konsep kawasan permukiman di Kelurahan Tlogopojok, Kecamatan Gresik yang menghadap saluran ini diyakini bisa meminalisir warga membuang limbah sembarangan. Saluran air dan kampung terlihat bersih pada Kamis, 17 Juni 2021 (foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

“Berdasarkan data UPT UPL DPUTR Gresik untuk pembangunan sanitasi aman dan sehat , tidak mencemari lingkungan baru 15 persen,”ujar Washil pada Kamis, 17 Juni 2021. Sedangkan, sanitasi akses telah terpenuhi semuanya. 

“Sanitasi akses sudah ada semuanya,”katanya. Akses sanitasi layak adalah fasilitas sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan yaitu fasilitas tersebut digunakan oleh rumah tangga sendiri atau bersama dengan rumah tangga lain tertentu, dilengkapi dengan kloset jenis leher angsa, serta tempat pembuangan akhir tinja berupa tangki septik atau Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

“Sanitasi akses d Gresik ini sesuai dengan MDGs,”tegas Washil.  Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (TPB/SDGs) adalah agenda 2030 yang merupakan kesepakatan pembangunan berkelanjutan berdasarkan hak asasi manusia dan kesetaraan. (yad)

Pembangunan Sanitasi Aman dan Sehat Dikebut, Di Gresik baru Terbangun 15 Persen Selengkapnya