Air Telaga untuk MCK, Air Isi Ulang Buat Minum dan Nyuci Baju Warna Putih Gunakan Air Sumur. Warga Gresik Atasi Krisis Air Bersih

GRESIK, 1minute.id – Krisis air bersih mulai dirasakan masyarakat Gresik. Untuk mencukupi mandi, cuci dan kakus (MCK) masyarakat melakukan berbagai cara. Bagi masyarakat ekonomi menengah atas memilih beli air tangki. Sebaliknya, ekonomi kurang mampu memilih ngangsu di telaga desa.

Sumardi, diantaranya. Lelaki 60 tahun itu harus bolak-balik dari rumah ke telaga desa untuk mengambil air. Menggunakan sepeda angin, kakek dua cuci meletakkan dua jerigen di samping kiri dan kanannya. 
“Itu rumah saya terlihat dari sini,”kata lelaki yang tinggal di Dusun Terangbangi, Desa Kandangan, Kecamatan Cerme ditemui 1minute.id, Kamis 9 Oktober 2020.

AIR untuk MCK : Sumardi, 60, warga Dusun Terongbangi, Desa Kandangan, Kecamatan Cerme mengambil aie di telaga dusun, Jumat 9 Oktober 2020 ( foto : chusnul cahyadi /1minute.id )

Sumardi ambil air telaga berwarna kehijauan itu, sehari dua kali. Pagi dan sore hari. “Buat mandi saja,”kata pensiunan pekerja pabrik perlengkapan otomotif itu. Bagi Sumardi dan sebagian masyarakat Dusun Terongbangi aktivitas mengambil air bersih itu rutinitas tahunan di musim kemarau.

“Kalo beli air tangki dari sumur ukuran 5 ribu liter Rp 130-an ribu. Yo, sangat berat,”kata Sumardi yang juga buruh tani ini.
Air telaga dusun ini hanya bisa digunakan MCK. Tapi, Sumardi membahkan, untuk mencuci pakaian putih tidak menggunakan air telaga itu. “Klambi putih iso mangkak (warna memudar kekuningan),”katanya.

Bagaimana dengan minum? Dia mengaku menggunakan air isi ulang. Ada tiga jenis digunakan Sumardi dan sebagian masyarakat Dusun Terongbangi itu. Tiga jenis air adalah air minum menggunakan air isi ulang ; MCK menggunakan air telaga. Kemudian mencuci pakaian putih menggunakan air sumur.

Krisis Air Bersih : Warga Desa Kandangan, Kecamatan Cerme, Gresik mengambil air di telaga desa, Jumat 9 Oktober 2020 ( foto : chusnul cahyadi /1minute.id )

Dalam pengamatan 1minute.id, Desa Kandangan ini memiliki dua telaga. Setiap pagi dan sore hari, dua telaga terletak di pinggir jalan kabupaten menghubungkan Cerme dengan Benjeng itu hilir mudik masyarakat untuk mengambil air telaga. Ada menggunakan geledekan berisi delapan jerigebln ; menggunakan sepeda motor dan ngonthel. 

Camat Cerme Suyono dikonfirmasi mengaku belum menerima laporan dari desa-desa terkait krisis air bersih yang dialami warganya. “Sampai saat ini (Kamis malam), belum ada desa yang melaporkan krisis air bersih.

Seperti diberitakan 1minute.id sebelumnya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gresik memprediksi 71 desa tersebar di 13 kecamatan di Gresik mengalami krisis air bersih. Krisis air bersih terjadi karena musim kemarau panjang. (*)

Air Telaga untuk MCK, Air Isi Ulang Buat Minum dan Nyuci Baju Warna Putih Gunakan Air Sumur. Warga Gresik Atasi Krisis Air Bersih Selengkapnya

Ribuan Jiwa Tersebar di 13 Kecamatan di GresikTerancam Krisis Air Bersih

GRESIK, 1minute.id – Kemarau panjang mulai terdampak terhadap masyarakat Kota Santri. Berdasarkan perkiraan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Gresik sekitar 71 desa tersebar di 13 kecamatan mulai kesulitan air bersih. 

Menurut Kepala BPBD Gresik Tarso Sagito, saat ini baru empat desa di Kecamatan Bungah telah bersurat untuk meminta bantuan droping air bersih. “Kami masih belum memutuskan jadwal droping air bersih,”kata Tarso dikonfirmasi 1minute.id, Selasa, 29 September 2020.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPDB Gresik Mimi Erna menambahkan, selain empat desa di Kecamatan Bungah itu. Sejumlah desa lainnya di kecamatan Kedamean, Balongpanggang dan Benjeng telah meminta bantuan droping air. “Tapi, permintaan bantuan air bersih itu masih melalui WhatsApp. Surat resmi belum kami terima,”kata Erna.

Warga Dusun Terongbangi, Desa Kandangan, Kecamatan Cerme ketika mengambil air di telaga dusun, 27 September 2018. ( foto dokumen chusnul cahyadi/1minute.id )

Berdasarkan perkiraan badan meteorologi, geofisika dan klimatologi (BMKG) Surabaya musim kemarau diperikan masih terjadi antara Oktober hingga November 2020. Kemarau panjang ini membuat ribuan jiwa masyarakat di Kota Santri terancam krisis air bersih. 

BPBD Gresik memperkirakan, musim kemarau panjang berimbas terjadinya krisis air bersih ini akan berdampak pada ribuan jiwa warga Gresik. Perkiraan BPBD ada 13 dari 18 Kecamatan di Gresik yang bakal mengalami kesulitan air bersih. 

Puluhan kecamatan itu diantaranya di Kecamatan Balongpanggang, Benjeng dan Cerme. Kemudian, Duduksampeyan, Kedamean, dan Menganti. Selanjutnya,  Sidayu, Bungah, Manyar dan Panceng.
“Kami belum bergerak untuk melakukan droping air. Biasanya, kalau sudah lima (kecamatan) baru bergerak (droping air),”tegas Erna. (*)

Ribuan Jiwa Tersebar di 13 Kecamatan di GresikTerancam Krisis Air Bersih Selengkapnya