Kolam Banyu Gentong, Wahana Baru untuk Anak di Destinasi Wisata Setigi


GRESIK,1minute.id – Destinasi wisata  Selo Tirto Giri ( Setigi) punya wahana baru. Yakni, Kolam Banyu Gentong. Wahana kolam renang untuk anak-anak resmi dilaunching pagi tadi, Jumat 1 Januari 2020.

Wahana baru di tahun anyar itu langsung diserbu wisatawan. Masa pagebluk corona, pengelola membatasi 50 persen. Maksimal 30 pengunjung, dan dibatasi 2 jam wahana dilengkapi air mancur dari bawah gentong raksasa sehingga menjadi spot foto yang apik. 

Protokol kesehatan diterapkan ketat oleh pengelola untuk mencegah penyebaran corona virus disease 2019. Pengunjung wisata bekas tambang kapur ini dibatasi hanya 50 persen. Biasanya, Weekend pengunjung maksimal 6 ribu, kini hanya dibatasi 3 ribu pengunjung saja.

Pengelola Wisata Setigi Abdul Halim mengatakan, pihaknya menambah satu wahana untuk menyambut tahun baru. Diharapkan bakal bisa menarik pengunjung, khususnya anak-anak.

“Pada Jumat Pahing, 1 Januari 2021, di wisata Setigi, dengan mengucapkan Bismillah, resmi dibuka Kolam Banyu Gentong,”kata Abdul Halim dalam rilisnya di terima 1minute.id.

Wahana baru ini, tambah Halim yang juga Kepala Desa Sekapuk, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik itu,  kado dari desa untuk Indonesia. “Semoga kolam ini bisa meningkatkan ekonomi kerakyatan dan bermanfaat, bisa menambahkan imun tubuh kita makin kuat, sebab bahagia,”ujarnya.  

Ditanya terkait nama Kolam Banyu Gentong, Halim menjlentrehkan filosofi gentong  adalah tempat air minum yang berbentuk seperti tempayan besar. Biasanya terbuat dari tanah liat.

“Dan air inilah merupakan sumber kehidupan. Semoga dengan sumber kehidupan ini, seluruh warganya sejahtera dan bahagia,”katanya. 

Kehadiran wahana baru ini, diharapkan Wisata Setigi semakin berkembang dan dapat terus menerus memberikan manfaat serta membangun ekonomi kerakyatan yang dimulai dari desa. (*)

Kolam Banyu Gentong, Wahana Baru untuk Anak di Destinasi Wisata Setigi Selengkapnya

Libur Panjang Sebentar Lagi. Ini Destinasi Bisa Anda Kunjungi

GRESIK, 1minute.id – Libur panjang segera tiba. Pemerintah memutuskan untuk tetap menjadikan 28 dan 30 Oktober 2020 sebagai cuti bersama Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dengan demikian, akan ada libur panjang selama lima hari, yaitu pada 28 Oktober hingga 1 November 2020. Liburan tahun ini berbeda. Sebab, pagebluk korona belum berakhir. Di tambah krisis ekonomi membuat daya beli masyarakat menurun.

Tapi, jangan khawatir. Hidup bahagia itu tidak mahal. Ada banyak destinasi di Kota Santri alias Kawasan Industri bisa Anda kunjungi sebagai destinasi alternatif.

1. Selo Tirto Giri ( Setigi) 

JEMBATAN PERADAPAN karena menghubungkan fonomena modern dan lama ( foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

Destinasi memanfaatkan bekas tambang kapur di Desa Sekapuk, Kecamatan Ujungpangkah. Area bukit kapur di sulap pemerintah desa sebagai wahana wisata instragramble

2. Wisata Gosari (Wagos)

SEGAR : Aneka warna tumbuhan membuat mata terasan segar ( foto : chusnul cahyadi/1minute.id )

Destinasi ini berjarak tidak lebih 3 kilometer dari Setigi. Lokasi tepatnya di Desa Gosari, Kecamatan Ujungpangkah ini memanjakan pengunjung dengan aneka tanaman bunga

3. Dolen Mburi Omah dan Jembatan Karangkiring

PESONA DAMARKURUNG ini bisa dinikmati wisatawan pada malam hari ketika berkunjung ke destinasi Dolen Mburi Omah di Kelurahan Lumpur, Gresik ( foto : chusnul cahyadi/1minute.id )
KARANGKIRING : Destinasi susur pantai di Desa Karangkiring, Kecamatan Kebomas, Gresik ( foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

Ketiga destinasi memiliki kesamaan yakni susur pantai. Wisatawan bisa naik perahu atau menikmati suasana pesisir lautan. 

4. Pulau Bawean

GILI NOKO : Salah satu destinasi andalan di Pulau Bawean. Untuk menuju pulau itu wisatawan harus naik perauh selama 30-45 menit ( foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

Di pulau terluar Kota Santri ini. Banyak destinasi bisa Anda kunjungi. Menghabiskan waktu lima hari liburan panjang bisa tidak cukup menikmati eksotis pulau berjarak 80 mil laut itu. Anda bisa naik kapal cepat dari pelabuhan Gresik dengan lama perjalanan 3 jam. Atau, pesawat perintis dar Bandara Juanda, Sidoarjo. (*)

Libur Panjang Sebentar Lagi. Ini Destinasi Bisa Anda Kunjungi Selengkapnya

Liburan ke Hendrosari, Menganti, Gresik, Wisatawan Bisa Nikmati Sensasi Segarnya Minum Legen Mudun Pagi atau Sore

Search

GRESIK, 1minute.id – Desa Hendrosari, Kecamatan Menganti, Gresik salah satu sentra penghasil legen. Minuman khas Gresik berasal dari pohon Siwalan. Ada ribuan pohon tumbuh subur di sana. 

Puluhan penderes setiap hari beraktivitas mengambil legen dari atas pohon siwalan diatas lahan seluas berkisar 9,5 hektare itu. Aktivitas langka bagi masyarakat perkotaan karena lahan sudah “ditumbuhi” apartemen, mal dan hotel. 

Aktivitas menderes siwalan ini menjadi salah satu magnet bagi masyarakat yang berkunjung di destinasi Lontar Sewu. Sejak eduwisata dibuka setahun lalu, sebagian pemilik lontar menuai rezeki. Mereka tidak perlu menjajakan siwalan dan legen keluar Gresik. 

“Sekarang cukup disini. Karena banyak pengunjung yang membeli,”ujar Keman, 38, petani siwalan di Desa Hendrosari, Kecamatan Menganti ditemui  1minute.id  akhir pekan lalu. Terutama hari Sabtu dan Minggu. “Hari tiket masuk terjual 5.700,”kata Keman.

Keman memiliki sejumlah pohon siwalan. Pohon itu warisan leluhurnya. “Ada pohon yang umurnya 75 tahun,”ujarnya. Setiap hari Keman harus naik dan turun pohon siwalan untuk mengambil legen. 

Pagi sekitar pukul 06.00 Leman memanjat pohon siwalan. Tanpa tali pengaman. Bagian pinggang terselip belatih. Bagian belakang sebua jerigen yang diikat tali tampar kebagian pinggang. Belatih berfungsi menderes pohon. Jerigen untuk menampung sari lontar. 

“Kalau pagi hasilnya lebih banyak. Karena wadah legen dipasang sore hari,”ujarnya. Sedangkan, memanjat sore mengambil wadah dipasang pagi hari,”imbuhnya. Aktivitas mengambil legen itu masyarakat menyebutnya, legen mudun (turun) pagi dan sore. “Hasilnya lumayan. Cukup,”kata Keman.

Sementara Liwon, senior Keman juga tidak kalah lincah. Lelaki bertubuh langsing bagai spiderman ketika memanjat pohon silawan yang ketinggian mencapai 6 meteran. Meski sudah parobaya, gerakan Liwon tidak kalah anak-anak muda lainnya di Desa Hendrosari. Setiap pohon, Liwon hanya butuh waktu sekitar 3 menit untuk memanjat.

“Kalau pakai tali tambah ribet naik dan turunnya,”dalih lelaki berkumis dengan kulit sawo matang itu. Kondisi cuaca kemarau membuat petani pohon siwalan ini. Mereka bisa mendapatkan puluhan liter dari puluhan pohon yang mereka miliki. Legen asli dengan wadah botol plastik berisi 1,5 liter mereka jual seharga Rp 25 ribu. Legen mudun isuk atau sore itu terasa nikmati di lokasi saat itu juga. “Kalau lebih sehari, legen bisa berubah menjadi tuak,”jelas Keman.

Dibukanya destinasi eduwisata Lontar Sewu ini menjadi berkah masyarakat setempat. Tidak hanya petani siwalan. Namun, multiplayer effect cukup besar. Rumah makan ayam bakar tumbuh bak jamur musim hujan. Desa Hendrosari yang sebelumnya termasuk desa tertinggal di Gresik telah menjadi desa mandiri. “Banyak orang yang investasi disini,”kata Keman. (*)

Liburan ke Hendrosari, Menganti, Gresik, Wisatawan Bisa Nikmati Sensasi Segarnya Minum Legen Mudun Pagi atau Sore Selengkapnya

Destinasi Dolen Mburi Omah, Meramaikan Khazanah Objek Wisata di Kota Santri

GRESIK, 1minute.id – Krisis ekonomi membuat pemuda desa dan kelurahan di Kota Giri semakin kreatif. Mereka mengexplorasi potensi desa menjadi pundi-pundi pendapatan melalui desa wisata.

Teranyar, wisata Dolen Mburi Omah. 
Objek wisata secara resmi dibuka ini memanfaatkan geladak nelayan bale Pesusukan di Kelurahan Lumpur, Kecamatan/Kabupaten Gresik. Kehadiran wisata ini semakin meramaikan khazanah objek wisata di Kota Industri ini. Masyarakat semakin banyak pilihan untuk rekreasi murah meriah. Harga tiket masuk hanya dua ribu rupiah.

“Tadi sore resmi dibuka,”kata Fahrudin, warga setempat kepada 1minute.id, Minggu 11 Oktober 2020. Destinasi Mburi Omah ini, mengandalkan kearifan lokal setempat. Damarkurung, diantaranya. “Sing apik waktu sunset kalau kesini,”imbuh Doni, pemuda lainnya.

Destinasi Dolen Mburi Omah memanfaatkan Geladak nelayan terbuar dari kayu. Panjangnya lebih 400 meter dengan lebar sekitar 3 meteran. “Geladak nelayan terpanjang di Gresik,”kata pemuda lainnya. 

Wisata yang digagas dan biayai urunan para pemuda dan masyarakat setempat ini lokasinya di sebelah timur Terminal Bus Wisata Religi Maulana Malik Ibrahim di Jalan RE Martadinata, Kelurahan Lumpur, Gresik.

Selain dihiasi dengan damarkurun. Wisata berhias aneka lampu warna warni bila malam hari. Penasaran! Begini suasananya ketika 1minute.id mengunjungi objek wisata Dolen Mburi Omah. (*)

Search
Destinasi Dolen Mburi Omah, Meramaikan Khazanah Objek Wisata di Kota Santri Selengkapnya

Lontar Sewu, Eduwisata Memadukan Alam dan Kuliner Khas Hendrosari

GRESIK,1minute.id – Pandemi korona belum berakhir. Krisis ekonomi di depan mata. UU Omnibus Law Cipta Kerja sudah digedok. Tapi, Kita tetap harus happy. 

Berwisata, salah satu cara untuk bisa menghilangkan penat. Wartawan  1minute.id, Jumat 9 Oktober 2020 berkunjung di Lontar Sewu. Eduwisata di Desa Hendrosari, Kecamatan Menganti, Gresik. Wisata memanfaatkan lahan aset desa seluas sekitar 9,5 hektare ini dikelola badan usaha milik desa (BUMDes).

Terbagi dua bagian yakni lahan waduk untuk wisata air. Lahan tanaman lontar untuk wisata alamnya. Top view adalah ribuan pohon siwalan yang tumbuh dan tertata apik. Cocok untuk swafoto di media sosial. Istagram, facebook maupun tik-tok an.

Eduwisata baru setahun di buka oleh pemerintah desa. Namun, pandemi korona merebak. “Baru bulan Juli atau awal Agustus 2020 dibuka kembali,”ujar Keman, 38, warga setempat ditemui Jumat 9 Oktober 2020.
Harga tiket masuk juga tidak merogoh kantong terlalu dalam. HTM Senin-Jumat Rp 3 ribu per orang. Sabtu-Minggu Rp 5 ribu per kepala. Ditambah uang parkir Rp 5 ribu bisa menikmati eduwisata sepuasnya. 

Bila lapar, wisatawan bisa menikmati ayam bakar dan minum lengen asli. Heemm. “Kalau kesini enak sore, karena bisa melihat aktivitas warga mengambil legen dari atas pohon siwalan,”ujarnya. Begini pemandangan eduwisata Lontar Sewu itu. (*)

Search
Lontar Sewu, Eduwisata Memadukan Alam dan Kuliner Khas Hendrosari Selengkapnya

Dikerjakan Ribuan Santri, Istimewanya, Sunan Giri Sediakan Satu Kendil untuk Makan. Musim Rendeng Air Tidak Pernah Meluber. (Bagian Kedua)

Ribuan santri tersebut kemudian dikerahkan untuk membuat telaga yang kini menjadi salah satu situs cagar budaya di Kota Giri. Menurut cerita masyarakat sekitar Giri, pembuatan telaga itu tidak lebih dari sebulan. Ukuran telaga ¾ lapangan sepak bola dengan kedalaman sekitar 2 meter.

Megaproyek itu benar-benar disebut padat karya karena mengerahkan ribuan santri. Mungkin, orang awam menganggap pembuatan Telaga Pegat sangat ribet lantaran harus mempersiapkan konsumsi untuk yang membangun. Namun, bagi Joko Samudro, sebutan lain Sunan Giri, tidak ada yang sulit.

BERENDAM : SUHU udara yang mencapai 36 derajat celcius, Selasa, 29 September 2020 membuat lelaki ini kegerahan. sehingga berendam di telaga Pegat untuk menyegarkan badan. ( foto : chusnul cahyadi / 1minute.id )

Sunan Giri hanya membutuhkan satu kendil (wadah dari tanah liat) untuk makan para santri yang terlibat dalam pembangunan Telaga Pegat. ’’Nasi satu kendil itu seakan tidak pernah habis diambil orang berapa pun,’’ ungkap Moh. Zuhri Siroj, 70, warga Desa Sidomukti, Kecamatan Kebomas. Ajaib.

Dalam sebuah prasasti di tembok pagar Telaga Pegat, terdapat tulisan yang menyebutkan bahwa telaga itu dibangun kali pertama oleh Sunan Giri pada 1473 Masehi. Pasca kemerdekaan RI, telaga tersebut direnovasi beberapa kali. Pertama, pada 17 Agustus 1955. Kedua, pada 1977. Setelah 1977, perbaikan tidak bisa terhitung. Sebab, tidak ada data yang mencatat renovasi Telaga Pegat.

POHON PISANG : Situs cagar budaya Telaga Pegat di bangun Sunan Giri, Maulana Ainul Yaqin cukup subur ( foto : chusnul cahyadi /1minute.id )

Berdasar pengamatan 1minute.id, warna air Telaga Pegat saat ini kehijau-hijauan. Terdapat tamanan kangkung di beberapa bagian. Telaga tersebut tidak memperlihatkan nilai histori yang tinggi. Namun, adat alias sopan santun harus dijaga setiap orang yang hendak mandi. Di antaranya, tidak boleh berkata-kata kotor atau berbuat tidak sopan lainnya. Menurut warga sekitar, kalau dilanggar, banyak kejadian di luar nalar yang akan menimpa si pelanggar. ’’Kalau mau coba, silakan. Tapi, risiko harus ditanggung sendiri lho,’’ kata Moh. Zuhri Siroj. 

Bila melihat historinya, sudah selayaknya pemerintah atau masyarakat Kota Giri menjaga kelestariannya. Misalnya, tidak melakukan vandalisme dengan mencoret-coret pagar tembok serta menjaga keasrian telaga legendaris tersebut. Dengan begitu, telaga itu akan menjadi daya tarik wisatawan. Sebab, selama ini para peziarah di makam Sunan Giri di Bukit Giri seakan melewatkan situs Telaga Pegat. (chusnul cahyadi/habis)

Dikerjakan Ribuan Santri, Istimewanya, Sunan Giri Sediakan Satu Kendil untuk Makan. Musim Rendeng Air Tidak Pernah Meluber. (Bagian Kedua) Selengkapnya

Selama 547 Tahun, Telaga Pegat Dibangun Sunan Giri. Musim Kemarau Air Tidak Pernah Surut

MUSIM kemarau diperkirakan masih akan berakhir antara Oktober hingga November 2020. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gresik mencatat ada empat desa mulai terdampak kemarau, Selasa 29 September 2020. Bagaimana kondisi Telaga Pegat yang dibangun Sunan Giri pada 1473 Masehi atau 547 tahun silam. 

SEGAR : Sejak Dibangun Sunan Giri 547 tahun silam. Air telaga ini musim kemarau tidak pernah surut ( foto : chusnul cahyadi / 1minute.id )

TELAGA Pegat (berarti pisah atau cerai) dikenal warga Kota Giri sebagai cagar budaya yang dibuat Sunan Giri. Berdasarkan prasasti di tembok telaga ini pembuatannya dilangsungkan pada 1473 Masehi.
Tempat penampungan air tersebut dibuat Kanjeng Sunan Giri lantaran enggan memisahkan dua gunung. Yakni, Gunung Patireman dan Gunung Mbah Agung (Bagong).

Tetenger : Pembangunan Telaga Pegat di pintu masuk tempat pemandian. ( foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

Kini telaga di Jalan Raya Sunan Giri, Kecamatan Kebomas, itu masih difungsikan untuk mandi dan mencuci pakaian. Menurut legenda, bila beruntung, Anda bisa mengintip bidadari Giri yang sedang mandi. Hehehe. Apalagi, tempat mandinya berupa bilik tanpa atap penutup.

Tidak ada literatur ilmiah bagaimana cara Maulana Ainul Yaqin atau Sunan Giri membuat Telaga Pegat. Sebab, saat itu belum ada alat berat. Yang unik, selama lebih dari lima abad air telaga dengan pagar tembok setinggi 2 meter dan membentuk huruf L tersebut tidak pernah kering. Meski musim panas.

Sejumlah sumber menyebutkan, Sunan Giri membuat Telaga Pegat untuk kebutuhan para santri yang mondok di Giri Kedaton. Jumlahnya ribuan. Asal mereka pun bukan hanya dari dalam negeri, tetapi sampai mancanegara. (bersambung/chusnul cahyadi /1minute.id)

Selama 547 Tahun, Telaga Pegat Dibangun Sunan Giri. Musim Kemarau Air Tidak Pernah Surut Selengkapnya

Melihat Situs Telaga Pegat. Tempat Penampungan Air Dibangun Sunan Giri pada 1473 Masehi

Search
Melihat Situs Telaga Pegat. Tempat Penampungan Air Dibangun Sunan Giri pada 1473 Masehi Selengkapnya

Berasa di Eropa Abad XVIII

Berkunjung The Heritage Palace berasa di Eropa abad XVIII. Bangunan bekas pabrik gula, lalu gudang tembakau,  konon sempat lokasi uji nyali. Bagaimana kondisi kini ?

Search
Berasa di Eropa Abad XVIII Selengkapnya

Jembatan Karangkiring Semakin Menawan

Sejumlah anak-anak riang berenang dari atas Jembatan Karangkiring, Desa Karangkaring, Kecamatan Kebomas yang semakin menawan, Minggu 30 Agustus 2020 (foto :chusnul cahyadi/1minute.id)

GRESIK, 1minute.id—Destinasi wisata alam kembali muncul di kota Pudak. Setelah sebelumnya, jembatan Balai Keling di Kelurahan Kroman, Gresik bersolek dan dilirik masyarakat. Kali ini, geladak atawa jembatan Karangkiring.

Jembatan berbentuk huruf L berada di Desa Karangkiring, Kebomas itu di make over sehingga lebih menarik.  Geladak sepanjang 250 meter ini di cat oleh karang taruna bekerjasama dengan komunitas Gresker, Gresik N Riders (GNR) serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Gresik selama dua hari yakni Sabtu dan Minggu. 

Sehingga geladak kayu yang semula kusam kini beraneka warna yang cukup enak di pandang mata. Wisatawan selain bisa menikmati spot pantai juga edukasi tentang mangrove yang tumbuh di kanan dan kiri geladak tersebut. Kepala Desa Karangkiring Dedik Hartono mengatakan,  pengecatan geladak Karangkiring ini diprakarsai oleh karang taruna.  ”Mereka menggandeng sejumlah komunitas. Semoga pengecatan ini menjadikan pantai Karangkiring ini semakin indah dan menjadi objek daya tarik wisata baru di Gresik,”kata Dedik .

JEMBATAN Kerangkiring, salah satu destinasi wisata di perkotaan Gresik ini berada di Desa Karangkiring, Kecamatan Kebomas, Minggu 30 Agustus 2020. (foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

Kepala Seksi (Kasi) Pengembangan Pariwisata dan Tata Kelola Destinas di Disbudpar Gresik M Fither Kuntaja mengapresiasi langkah karang taruna dan komunitas yang memiliki komitmen terhadap lingkungan.  ”Menunjukkan kesadaran pemuda Gresik atas keindahan lingkungan bisa berpotensi menjadi terciptanya sebuah obyek daya tarik wisata baru,”ujar Fither kemarin.

Fither mengatakan, geladak Karangkiring memiliki potensi menjadi objek daya tarik wisata (ODTW) baru di Gresik. Sebab, sepanjang jembatan Karangkiring telah ditanami pohon mangrove. Selain itu telah dilengkapai Kampung  Kuntul, Balai Selo Karang, dan Geladak Berwarna.  ”Ada juga pancalan ski lumpur. Wisatawan juga bisa jelajah eksplor sekitar Pulau Galang dengan naik perahu,”ungkapnya.

Pengecatan geladak Karangkiring, masyarakat Gresik perkotaan akan semakin banyak pilihan untuk berwisata di tengah perkotaan. Yakni, Geladak Balai Keling dengan spot laut dan nelayan. Wisatawan juga bisa berkeliling dengan menggunakan perahu nelayan. Ada juga, jembatan Mangrove Sukorejo, Kebomas. (*)

Jembatan Karangkiring Semakin Menawan Selengkapnya