Peringatan Mualid Nabi Muhammad SAW di UPT SMP Negeri 2 Gresik Hadirkan Polwan untuk Meningkatkan Kesadaran dan Perlindungan terhadap Anak

GRESIK,1minute.id – Peringatan Mualid Nabi Muhammad SAW di UPT SMP Negeri 2 Gresik (Spendagres) terasa berbeda. Biasanya, perayaan peringatan kelahiran Rasulullah SAW mendatang kiai atau ustad. Tapi, sekolah berlokasi di Jalan KH Abdul Kholil, Gresik ini mendatangkan aparat kepolisian dari Satuan Binmas melalui Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Gresik. 

Dalam maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan pada Senin, 24 Agustus 2026 yang diikuti seluruh siswa dan tenaga pendidik ini mengusung tema “Meneledani Akhlak Rasulullah SAW” versi Gen Z, yakni 

Meningkatkan Kesadaran dan Perlindungan terhadap Anak. 

Menurut Kepala UPT SMP Negeri 2 Gresik Mohammad Salim, dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW itu, anggota 

Polisi Wanita (Polwan) Polres Gresik mengajak para siswa untuk memperbanyak kegiatan positif yang menguntungkan bagi masa depan. Selain itu, menghindari perbuatan yang merugikan diri sendiri seperti melakukan kekerasan fisik, narkoba, bullying dan kekerasan seksual dan lainnya. 

Kemudian, bagaimana cara menghindari masalah kekerasan ancaman bagi pelajar dari luar sekolah, berfikir sebelum bertindak,  menjauhi hal-hal buruk di media sosial (medsos) dan menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. “Jika mengetahui tindakan buruk segera lapor pada orang tua, guru, BK jika ada ancaman di dunia digital. Saring sebelum sharing informasi. Ceklis privasi data pribadi medsos, filter teman di medsos,” kata Mohammad Salim menirukan ucapan anggota Polwan Polres Gresik itu.

Mohammad Salim mengapresiasi kegiatan ini. “Kami sangat berterima kasih kepada Polres Gresik. Materi ini sangat relevan untuk membentuk karakter siswa yang berani, cerdas, dan saling menghargai,” katanya.

Melalui kegiatan ini, Polres Gresik dan UPT SMP Negeri 2 Gresik berkomitmen menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari kekerasan. Pihak sekolah juga akan memasang nomor layanan KBPA di aplikasi inovasi sekolah. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Peringatan Mualid Nabi Muhammad SAW di UPT SMP Negeri 2 Gresik Hadirkan Polwan untuk Meningkatkan Kesadaran dan Perlindungan terhadap Anak Selengkapnya

MUI Goes to School, Bekali Pelajar SMPN 2 Gresik Pentingnya Jaga Diri, Jaga Hati di Usia Remaja

GRESIK,1minute.id – Masa remaja menjadi fase penting dalam pembentukan karakter dan masa depan generasi muda. Karena itu, pelajar perlu dibekali pemahaman agama serta kesadaran untuk menjaga diri dari berbagai perilaku yang dapat merugikan masa depan.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI) Gresik Hj. Hajar Idris dalam kegiatan MUI Gresik Goes to School di UPT SMP Negeri 2 (Spenda) Gresik pada Senin, 10 Agustus 2026. Kegiatan yang diikuti seluruh siswa di halaman sekolah berada di Jalan KH Kholil, Gresik ini diinisiasi oleh Komisi Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga MUI Gresik.

Mengusung tema “Membina Karakter, Menginspirasi Generasi”, kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi bagi para pelajar untuk memahami pentingnya menjaga diri, menjaga pergaulan, serta membangun karakter sejak usia remaja. Ia pun mengingatkan para siswa agar menjadikan salat sebagai benteng utama dalam menjalani kehidupan

Ketua MUI Gresik Bidang Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga, Nyai Hj. Hajar Idris, mengingatkan para siswa agar menjadikan salat sebagai benteng utama dalam menjalani kehidupan. “Nasihat kami dari MUI yang pertama adalah mari jaga salatnya,” tuturnya.

Selain menjaga salat, Nyai Hajar juga menekankan pentingnya menghormati orang tua dan guru. Menurutnya, keduanya memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan mengarahkan anak-anak agar tidak salah dalam mengambil keputusan pada masa remaja.

Nyai Hajar juga mengingatkan para siswa, agar memahami risiko pergaulan bebas dan hubungan seksual sebelum menikah. Pesan tersebut disampaikan berdasarkan pengalaman MUI Gresik dalam memberikan Bimbingan Konseling kepada pemohon dispensasi nikah di Pengadilan Agama (PA) Gresik.

Ia mengungkapkan, dalam proses konseling tersebut, MUI banyak menemukan kasus anak-anak yang masih berusia belasan tahun sudah mengalami kehamilan sebelum menikah. “Kami melihat begitu tragisnya ketika MUI Gresik melakukan Bimbingan Konseling Pemohon Dispensasi Nikah di PA Gresik. Anak-anak yang masih berusia belasan tahun sudah hamil,” ungkapnya.

Karena itu, ia berharap para siswa SMP Negeri 2 Gresik tidak terjerumus dalam perilaku serupa. Menurutnya, masa remaja harus dijalani dengan menjaga kehormatan diri dan mempersiapkan masa depan. “Semoga para siswa-siswi SMP Negeri 2 Gresik jangan sampai melakukannya sebelum menikah,” pesannya.

Berdasarkan ketentuan hukum perkawinan di Indonesia, usia minimal perkawinan adalah 19 tahun bagi laki-laki maupun perempuan. “Kepada anak-anak, jangan terburu-buru mengambil keputusan untuk menikah pada usia anak, karena dapat membawa risiko terhadap kesiapan fisik maupun psikis. Kami juga berpesan untuk jaga diri dan jaga hati,” tegasnya.

Di sisi lain, Nyai Hajar mengapresiasi kebijakan UPT SMP Negeri 2 Gresik yang menerapkan pemisahan kelas antara siswa laki-laki dan perempuan. Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk menjaga pergaulan pelajar dan mendukung kemaslahatan mereka.

“Alhamdulillah SMP Negeri 2 Gresik kelasnya sudah pisah antara laki-laki dan perempuan. Ini luar biasa dan harus diapresiasi. Semoga ini bisa menjaga para siswa demi kemaslahatan kalian sendiri,” katanya.

Sementara itu, Kepala UPT SMP Negeri 2 Gresik Mohammad Salim, menyampaikan apresiasi kepada MUI Kabupaten Gresik, khususnya Komisi Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga, yang telah menghadirkan kegiatan edukatif tersebut di lingkungan sekolah.

“Kami selaku Kepala UPT SMPN 2 Gresik sangat berterima kasih kepada MUI Kabupaten Gresik, terutama Komisi Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga, yang telah memberikan kegiatan inspiratif dalam bentuk MUI Goes to School,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi para siswa, khususnya pelajar perempuan yang membutuhkan pengetahuan mengenai keputrian sebagai bekal menghadapi masa depan.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi anak-anak kami, terutama anak-anak perempuan yang butuh pengetahuan keputrian. Semoga anak-anak bisa memperoleh manfaat dari kegiatan ini, terutama bekal untuk masa depannya,” tutur pria yang juga merupakan Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Kabupaten Gresik tersebut. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

MUI Goes to School, Bekali Pelajar SMPN 2 Gresik Pentingnya Jaga Diri, Jaga Hati di Usia Remaja Selengkapnya

Mahasiswa UINSA Surabaya Lakukan PLP, Observasi Budaya Sekolah di UPT SMP Negeri 2 Gresik

GRESIK,1minute.id – Sebanyak sepuluh mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya melakukan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) ke UPT SMP Negeri 2 (Spenda) Gresik. 

Selama sepuluh hari, mulai Rabu, 29 Juli 2026, mahasiswa strata-1 itu, akan melaksanakan kegiatan observasi budaya sekolah, aspek pembelajaran dan pengelolaan pendidikan satuan pendidikan di sekolah yang dipimpin oleh Mohammad Salim itu. Puluhan mahasiswa PLP gelombang pertama didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan Dr. Suparto.

Pada kesempatan itu, Dosen Pembimbing Lapangan Dr. Suparto berpesan agar mahasiswa mampu memahami bahwa pengalaman tambahan lapangan ini akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan. “Jadikan UPT SMP Negeri 2 ini sebagai rumah kedua untuk menimba ilmu sebanyak mungkin karena sekokah ini sudah teruji sangat baik, sekolah luar biasa yang ada di Gresik,” ujar Suparto.

Kepala UPT SMP Negeri 2 Gresik Mohammad Salim mengatakan, Spenda Gresik sudah menjadi jujukan kemitraan dengan UINSA dikarenakan berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik bagi mahasiswa yang ingin menimba keilmuan lapangan sebagai bekal mereka dikemudian hari. 

“Mahasiswa S1 UINSA Surabaya melakukan PLP di Spenda selama 10 hari. Nanti akan ada PLP 2 lanjutan yang akan di laksanakan 3 bulan berupa praktik 10% , 50% dan 100%. Bahkan penelitian skripsinya pun disini,” ujar Mohammad Salim melalui pesan WhatsApp. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Mahasiswa UINSA Surabaya Lakukan PLP, Observasi Budaya Sekolah di UPT SMP Negeri 2 Gresik Selengkapnya

Dari Kelas, Tumbuh Indonesia Berkeadilan

Oleh : YUNITA RAHMAH *

BEL berbunyi menandai dimulainya pelajaran Bahasa Indonesia. Murid segera membuka buku, sementara saya menuliskan tujuan pembelajaran hari itu di papan tulis: menulis teks deskripsi. Hampir semua murid sudah siap mengikuti pembelajaran. Namun, pandangan saya berhenti pada seorang anak yang duduk di sudut kelas. Ia menatap buku dengan wajah kebingungan. Ketika teman-temannya mulai menyusun kalimat, ia masih berusaha mengurutkan dua kata agar memiliki makna. Momen seperti itu hampir selalu saya temui setiap tahun.

Saya mengajar di UPT SMP Negeri 2 Gresik, salah satu sekolah penyelenggara pendidikan inklusi. Berdasarkan pengalaman saya selama mengajar, hampir setiap tahun ajaran baru sekolah kami menerima murid berkebutuhan khusus dengan karakteristik, kemampuan, dan kebutuhan belajar yang beragam. Sebagai guru Bahasa Indonesia, saya hampir selalu mendapat amanah mendampingi mereka di kelas. Amanah itu tidak pernah ringan. Namun, justru di sanalah saya belajar bahwa ruang kelas bukan hanya tempat menyampaikan pengetahuan, melainkan juga tempat menghadirkan keadilan.

Selama ini, banyak orang memahami pendidikan inklusi sebatas menerima anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler. Padahal, menerima mereka hanyalah langkah awal. Tantangan sesungguhnya muncul ketika mereka sudah duduk di bangku yang sama dengan teman-temannya. Guru dihadapkan pada pertanyaan yang tidak selalu dijawab secara tuntas oleh buku ajar maupun kurikulum: bagaimana mengajarkan satu materi kepada murid yang memiliki kemampuan sangat beragam? Pertanyaan itu terus saya bawa setiap memasuki ruang kelas.

Belajar dengan Cara yang Berbeda

Beberapa tahun lalu, saya mendampingi seorang murid kelas VII yang mengalami hambatan belajar. Saat pelajaran Bahasa Indonesia dimulai, saya meminta seluruh murid mendeskripsikan suasana sekolah dalam satu paragraf. Hampir semua mulai menulis. Sementara itu, ia masih memegang pensil tanpa tahu harus memulai dari mana. Saya menghampirinya.

“Bagaimana kalau kita mulai dari satu kata saja?”

Ia mengangguk pelan.

Hari itu kami tidak berbicara tentang paragraf. Kami belum membahas struktur teks deskripsi. Kami memulai dari kata yang paling sederhana.

Sekolah.

Kemudian bertambah menjadi dua kata.

Sekolah bersih.

Lalu berkembang menjadi tiga kata.

Sekolah kami bersih.

Bagi murid lain, latihan itu mungkin terlalu mudah. Namun, baginya, menyusun tiga kata menjadi satu kalimat utuh merupakan perjuangan yang membutuhkan keberanian sekaligus kesabaran. Saya tidak ingin ia merasa sedang belajar sesuatu yang berbeda dari teman-temannya. Karena itu, setiap kata yang kami susun tetap berkaitan dengan materi teks deskripsi. Ia belajar menyusun kalimat sekaligus mengenal ciri-ciri objek yang sedang dideskripsikan. Dengan cara itu, ia tetap mempelajari materi yang sama, meskipun menempuh jalur belajar yang berbeda.

Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa kesetaraan tidak selalu berarti memberikan perlakuan yang sama. Justru dalam pendidikan, keadilan sering kali berarti memberikan dukungan yang berbeda agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Proses itu tidak berlangsung cepat. Ada hari-hari ketika saya merasa tidak ada perkembangan sama sekali. Kalimat yang kemarin berhasil ia susun, hari ini kembali terlupakan. Kami pun mengulang lagi dari awal. Sebagai guru, tentu pernah muncul rasa lelah. Saya juga sempat bertanya dalam hati, apakah cara yang saya lakukan sudah tepat? Namun, setiap kali keraguan datang, saya selalu mengingat satu hal: anak itu tidak pernah menyerah datang ke sekolah. Maka, saya pun tidak berhak menyerah mendampinginya.

Beberapa bulan kemudian, perubahan kecil mulai terlihat. Ia mampu menyusun beberapa kalimat sederhana. Pada akhir semester, ia berhasil menulis sebuah paragraf deskripsi pendek. Paragraf itu jauh dari sempurna. Tanda bacanya belum tepat. Pilihan katanya masih terbatas. Kalimatnya pun masih sederhana. Namun, bagi saya, paragraf itu jauh lebih berharga daripada tulisan paling indah yang pernah saya baca. Setiap kalimat di dalamnya lahir dari proses panjang yang dipenuhi usaha, pengulangan, kesabaran, dan keberanian untuk terus mencoba.

Pengalaman itu mengubah cara saya memandang keberhasilan belajar. Selama ini, dunia pendidikan terlalu sering mengukur keberhasilan melalui angka, nilai, atau peringkat. Padahal, bagi sebagian murid berkebutuhan khusus, keberhasilan mungkin berupa kemampuan menyusun satu kalimat setelah berbulan-bulan berlatih. Kemajuan yang tampak kecil di mata orang lain sesungguhnya merupakan lompatan besar bagi mereka.

Menyesuaikan Cara Belajar Murid

Pengalaman lain datang dari seorang murid yang hampir tidak pernah bisa duduk tenang selama pembelajaran berlangsung. Baru beberapa menit pelajaran dimulai, ia sudah berdiri, berjalan ke belakang kelas, melihat ke luar jendela, lalu kembali lagi. Jika dipaksa duduk, konsentrasinya justru semakin hilang. Pada awalnya, saya berusaha menyamakan perlakuannya dengan murid lain. Saya meminta ia tetap duduk, memperhatikan penjelasan, dan menyelesaikan tugas seperti teman-temannya. Hasilnya tidak sesuai harapan. Yang berubah justru suasana kelas menjadi tegang. Ia semakin sulit berkonsentrasi, sedangkan saya semakin sibuk mengingatkannya untuk duduk dan memperhatikan pelajaran.

Saya kemudian menyadari bahwa persoalannya bukan terletak pada kemauan belajar, melainkan pada cara belajarnya. Sejak saat itu, saya mulai menyesuaikan strategi pembelajaran. Saya memberikan aktivitas yang lebih singkat dan diselingi jeda. Saya membolehkan ia bergerak selama tidak mengganggu teman-temannya. Tugas yang semula diberikan sekaligus saya pecah menjadi beberapa bagian kecil agar lebih mudah dipahami dan diselesaikan.

Perubahannya memang tidak terjadi secara instan. Namun, perlahan ia mampu mengikuti pembelajaran lebih lama dibandingkan sebelumnya. Pengalaman-pengalaman tersebut membuat saya memahami bahwa pendidikan inklusi bukan tentang membuat semua anak belajar dengan cara yang sama. Pendidikan inklusi justru mengajarkan bahwa setiap anak memiliki kebutuhan, kemampuan, dan pintu masuk belajar yang berbeda.

Kolaborasi untuk Mewujudkan Pendidikan Inklusi

Di balik berbagai tantangan tersebut, saya melihat satu kenyataan yang sering luput dari perhatian. Pendidikan inklusi sesungguhnya tidak menuntut murid berkebutuhan khusus untuk menyesuaikan diri dengan sekolah. Pendidikan inklusi justru mengajak sekolah untuk terus belajar memahami kebutuhan setiap murid.

Guru dituntut lebih kreatif dalam merancang strategi pembelajaran. Sekolah perlu membangun budaya yang menerima perbedaan. Orang tua menjadi mitra penting dalam mendampingi perkembangan anak. Ketiganya tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Pengalaman saya menunjukkan bahwa ketika komunikasi antara guru dan orang tua terjalin dengan baik, perkembangan murid menjadi lebih nyata. Orang tua dapat menceritakan kebiasaan dan cara belajar anak di rumah. Sebaliknya, guru dapat menyampaikan perkembangan maupun kesulitan yang ditemui selama pembelajaran di kelas. Kolaborasi sederhana tersebut sering kali menghasilkan solusi yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Di sisi lain, teman-teman sekelas juga memiliki peran besar. Mereka bukan hanya menjadi teman belajar, tetapi juga menjadi lingkungan sosial pertama yang mengajarkan arti penerimaan. Ketika murid berkebutuhan khusus merasa dihargai, mereka akan lebih percaya diri untuk mencoba, bertanya, berinteraksi, dan menunjukkan kemampuan terbaiknya. Dari situlah saya semakin yakin bahwa keberhasilan pendidikan inklusi tidak hanya diukur melalui capaian akademik. Keberhasilan juga terlihat dari tumbuhnya rasa percaya diri, kemandirian, kemampuan bersosialisasi, serta keyakinan setiap murid bahwa sekolah adalah tempat yang menerima dan menghargai dirinya.

Namun, pelaksanaan pendidikan inklusi masih menghadapi berbagai keterbatasan. Tidak semua sekolah memiliki guru pendamping khusus. Sarana dan prasarana yang ramah disabilitas juga belum tersedia secara merata. Dalam kondisi seperti itu, guru sering menjadi pihak yang harus mencari berbagai strategi pembelajaran secara mandiri. Berbagai regulasi sebenarnya telah memberikan landasan yang kuat bagi pelaksanaan pendidikan inklusi. Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 menegaskan pentingnya layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan hak murid yang memiliki kelainan maupun potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Sementara itu, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas menegaskan hak penyandang disabilitas untuk memperoleh pendidikan yang bermutu tanpa diskriminasi. Artinya, pendidikan inklusi bukanlah bentuk belas kasihan, melainkan pemenuhan hak setiap warga negara.

Namun, regulasi tidak akan bermakna jika hanya berhenti sebagai dokumen. Semangat inklusi sesungguhnya hidup di ruang kelas ketika guru mulai bertanya, “Bagaimana agar murid ini dapat belajar?”, bukan “Mengapa murid ini tidak dapat belajar?” Pertanyaan pertama mendorong lahirnya solusi. Pertanyaan kedua berisiko berhenti pada penilaian.

Ruang Kelas yang Menumbuhkan Empati

Saya juga belajar bahwa pendidikan inklusi bukan hanya memberikan dampak bagi murid berkebutuhan khusus. Pendidikan inklusi juga membentuk karakter seluruh murid. Di kelas, saya sering melihat teman-temannya membantu membacakan soal, menemani berdiskusi, atau memberikan semangat ketika seorang murid berkebutuhan khusus mengalami kesulitan menyelesaikan tugas. Tidak ada yang saya minta secara khusus. Kebiasaan itu tumbuh karena mereka belajar hidup bersama dalam keberagaman. Tanpa disadari, mereka sedang mempraktikkan empati, toleransi, gotong royong, dan penghargaan terhadap perbedaan. Nilai-nilai yang selama ini diajarkan melalui teori justru mereka pelajari melalui pengalaman sehari-hari. Barangkali inilah pelajaran paling berharga dari pendidikan inklusi. Murid belajar bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda. Mereka belajar bahwa membantu teman bukan berarti merendahkan. Mereka belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk mengejek. Mereka juga belajar bahwa keberhasilan bersama jauh lebih bermakna daripada sekadar menjadi yang paling unggul. Bukankah bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur lahir dari warga yang mampu menghargai sesamanya?

Sebagai guru, saya tidak pernah berharap semua murid berkebutuhan khusus akan memperoleh nilai yang sama tinggi dengan murid lainnya. Saya juga tidak berharap seluruh keterbatasan mereka hilang begitu saja.

Harapan saya jauh lebih sederhana.

Saya ingin mereka merasa diterima.

Saya ingin mereka pulang dari sekolah dengan keyakinan bahwa dirinya mampu belajar.

Saya ingin mereka percaya bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Sebab pendidikan bukanlah perlombaan untuk menentukan siapa yang paling cepat mencapai garis akhir. Pendidikan adalah perjalanan untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal hanya karena memiliki cara belajar yang berbeda.

Selama bertahun-tahun mendampingi murid berkebutuhan khusus, saya menyadari bahwa sesungguhnya merekalah yang banyak mengajari saya. Mereka mengajarkan arti kesabaran, ketekunan, dan harapan. Mereka mengingatkan bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari langkah yang cepat, tetapi dari keberanian untuk terus melangkah. Kini, setiap kali memasuki ruang kelas, saya tidak lagi hanya melihat siapa yang paling pintar atau siapa yang paling lambat. Saya melihat anak-anak dengan potensi yang berbeda-beda. Setiap anak membawa cerita, kemampuan, tantangan, dan perjuangannya masing-masing.

Pada akhirnya, pendidikan inklusi mengajarkan saya bahwa ruang kelas bukan sekadar tempat menyampaikan materi pelajaran, melainkan ruang untuk memanusiakan manusia. Pendidikan inklusi bukan hanya memberikan tempat bagi murid berkebutuhan khusus untuk duduk bersama teman-temannya, tetapi juga menghadirkan ruang belajar yang benar-benar menerima setiap anak sebagai pribadi yang berharga.

Guru dituntut kreatif merancang pembelajaran yang berpihak pada keberagaman. Sekolah perlu membangun budaya yang menghargai perbedaan. Orang tua menjadi mitra yang saling menguatkan. Sementara itu, teman-teman sekelas menghadirkan lingkungan sosial yang mengajarkan empati, kepedulian, dan penerimaan.

Dari pengalaman mendampingi murid berkebutuhan khusus, saya menyaksikan bahwa kolaborasi sederhana di antara guru, sekolah, orang tua, dan teman sebaya mampu menumbuhkan rasa percaya diri, kemandirian, serta keberanian untuk terus belajar. Itulah keberhasilan pendidikan yang sesungguhnya. Keberhasilan tidak semata-mata tercermin dari nilai rapor atau capaian akademik, melainkan juga dari tumbuhnya keyakinan dalam diri setiap murid bahwa mereka diterima, dihargai, dan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan.

Saya percaya, Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur tidak hanya dibangun melalui kebijakan besar atau pembangunan fisik. Indonesia juga dibangun dari ruang-ruang kelas yang memberi kesempatan kepada setiap anak untuk tumbuh sesuai dengan potensi dan kebutuhannya.

Ketika seorang murid yang semula kesulitan menyusun kata akhirnya mampu menulis sebuah paragraf, di sanalah harapan sedang bertumbuh.

Ketika seorang murid yang sulit duduk tenang akhirnya dapat mengikuti pembelajaran dengan caranya sendiri, di sanalah pendidikan menjadi lebih manusiawi.

Ketika murid-murid belajar menerima perbedaan sebagai kekuatan, di sanalah nilai keadilan mulai berakar.

Sebab, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang hanya memberi ruang bagi mereka yang kuat, melainkan bangsa yang memastikan tidak ada satu pun anak tertinggal karena perbedaan yang dimilikinya. Setiap ruang kelas yang ramah dan inklusif adalah tempat menanam harapan bagi masa depan Indonesia. Ketika setiap anak diberi kesempatan untuk belajar, bertumbuh, bermimpi, dan hidup dengan martabat, sesungguhnya kita sedang menumbuhkan generasi yang akan mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur. (*/yad)

Guru Bahasa Indonesia UPT SMP NEGERI 2 Gresik

Dari Kelas, Tumbuh Indonesia Berkeadilan Selengkapnya

Jelang Akhir Libur Sekolah, UPT SMP Negeri 2 Gresik Gelar Workshop Pemanfaatan AI untuk Dunia Pendidikan 

GRESIK,1minute.id – Pembelajaran tahun ajaran baru 2026/2027 dimulai Senin, 13 Juli 2026. Sejumlah lembaga pendidikan di Kota Santri, sebutan lain, Kabupaten Gresik mulai bersiap diri. Diantaranya, UPT SMP Negeri 2 (Spenda) Gresik. 

Satuan pendidikan berlokasi Jalan KH Kholil, Gresik yang dipimpin oleh Mohammad Salim menggelar Workshop mengusung tema “Pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) dalam Dunia Edukasi”. Workshop dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Gresik S.Hariyanto ini diikuti oleh seluruh tenaga pendidik menghadirkan pembicara Wahyudi, dari Sidoarjo berlangsung selama 4 hari, mulai Rabu hingga Sabtu, 8-11 Juli 2026.

Menurut Kepala UPT SMP Negeri 2 Gresik Mohammad Salim mengatakan, workshop untuk penyegeran kembali para guru dan siswa menjelang akhir libur sekolah. “Fokus workshop pemanfaatan teknologi AI untuk meningkatkan kualitas pembelajaran,” kata Mohammad Salim pada Kamis, 9 Juli 2026.

Dalam workshop ini semua guru harus membawa komputer jinjing alias laptop. workshop menggunakan alat digital secara gratis dari Google. “Refreshment Pembelajaran Google Workspace for Education. Ini sangat membantu guru membuat tugas, berdiskusi jarak jauh, dan berkolaborasi dalam satu tempat,” imbuh Salim.

Workshop dihelat dua sesi. Sesi pertama, materi Guru yang Menggerakkan dengan narasumber S.Hariyanto, Kadispendik Gresik. Sesi kedua, tentang Pemanfaatan Teknologi AI untuk Mendukung Pembelajaran yang Menyenangkan oleh Kokapten KSRG (Kandidat Sekolah Rujukan Google) Wahyudi dari sidoarjo.

UPT SMP Negeri 2 Gresik, adalah pioner sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Industri, sebutan lain , Kabupaten Gresik yang masuk KSRG. Program ini dipimpin oleh tim inti dan fasilitator yang berkolaborasi untuk membangun ekosistem pendidikan adaptif menggunakan perangkat Google for Education. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Jelang Akhir Libur Sekolah, UPT SMP Negeri 2 Gresik Gelar Workshop Pemanfaatan AI untuk Dunia Pendidikan  Selengkapnya

Viral Anak Yatim Atlet Voli Gagal Masuk SPMB,  Dispendik Gresik Tegaskan Pelaksanaan SPMB 2026 Sesuai Juknis dan Prinsip Objektivitas

GRESIK,1minute.id – Pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 jenjang SMP Negeri di Gresik memasuki tahap III (Tes Potensi Akademik/TPA). Pendaftaran untuk jalur TPA dijadwalkan pada 15–17 Juni 2026, dengan pelaksanaan tes pada 24 Juni 2026. 

Dinas Pendidikan (Dispendik) Gresik mengklaim pelaksanaan SPMB tahap I dan II berlangsung lancar dan tertib. Dispendik menegaskan bahwa pelaksanaan SPMB 2026 dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku, mengacu pada Peraturan Bupati Gresik dan Petunjuk Teknis (Juknis) SPMB Tahun 2026.

Namun, riak-riak ketidakpuasan tetap mencuat. Bahkan viral di media sosial TikTok. Seorang anak asal Menganti bercerita gagal masuk UPT SMP Negeri 18 Gresik berlokasi di Desa Domas, Kecamatan Menganti. Anak berinisial Ar inj mendaftar lewat jalur prestasi non akademik. Anak yatim juara 1 voli Kabupaten. “Rata-rata nilai 82. Adik saya rata-rata nilai 86,” katanya di unggahan medsos yang telah ditonton 9.524, dibagikan 708 kali. 

Dinas Pendidikan Gresik akhirnya angkat bicara. Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Gresik S. Hariyanto, menyampaikan bahwa seluruh tahapan SPMB dilaksanakan dengan mengedepankan prinsip objektivitas, transparansi, akuntabilitas, dan keadilan bagi seluruh peserta didik.

“Seluruh tahapan SPMB telah dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku dan tidak ada perlakuan khusus terhadap peserta manapun,” ujar Hariyanto. Menurutnya, Dinas Pendidikan terus melakukan penyempurnaan pelaksanaan penerimaan murid baru dari tahun ke tahun guna meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat.

“Alhamdulillah pelaksanaan SPMB tahun ini berjalan lancar tanpa kendala server. Berbagai masukan dari masyarakat juga menjadi bahan evaluasi untuk penyempurnaan pelaksanaan di masa mendatang,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa dalam proses seleksi jalur prestasi akademik, nonakademik, maupun tahfidz, Dispendik melibatkan tim independen guna memastikan proses penilaian berlangsung secara objektif dan profesional. “Penilaian dilakukan oleh tim yang kompeten berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan,” tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Gresik Herawan Eka Kusuma, menjelaskan bahwa pada jalur Prestasi Non Akademik, mekanisme penilaian mengacu pada komposisi 60 persen nilai rapor dan 40 persen nilai prestasi yang dibuktikan melalui piagam atau sertifikat sesuai ketentuan dalam juknis.

Ia menambahkan bahwa setiap satuan pendidikan memiliki kuota penerimaan yang telah ditetapkan, sehingga proses seleksi dilakukan berdasarkan pemeringkatan nilai akhir seluruh peserta yang mendaftar pada jalur tersebut.

“Hasil seleksi ditentukan berdasarkan nilai dan peringkat peserta sesuai kuota yang tersedia. Seluruh data dan proses penilaian dapat ditelusuri serta diverifikasi,” jelas Herawan.

Pada kesempatan yang sama, Dandik Suwandi selaku Tim Penilai SPMB Jalur Prestasi menjelaskan bahwa proses verifikasi dan penilaian dilakukan berdasarkan dokumen yang diunggah peserta ke dalam sistem dan mengacu penuh pada petunjuk teknis yang berlaku.

“Tim penilai bekerja berdasarkan dokumen yang masuk ke sistem. Penilaian dilakukan berdasarkan bukti prestasi yang diunggah dan ketentuan yang tercantum dalam juknis,” ujarnya. Menurutnya, penilaian prestasi mempertimbangkan berbagai aspek, antara lain penyelenggara kegiatan, jenjang kompetisi, legalitas sertifikat, kategori prestasi, serta kesesuaiannya dengan ketentuan yang telah diatur dalam petunjuk teknis.

Terdapat perbedaan bobot nilai antara prestasi yang diselenggarakan oleh pemerintah dan prestasi yang diselenggarakan oleh pihak non-pemerintah. Nilai prestasi tersebut kemudian diakumulasikan dengan nilai rapor sesuai formula penilaian yang berlaku pada jalur Prestasi Non Akademik.

“Kami juga memperhatikan legalitas dokumen yang diunggah. Seluruh peserta dinilai menggunakan indikator yang sama sehingga proses seleksi berlangsung secara adil dan objektif,” jelasnya.

Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik menegaskan bahwa seluruh ketentuan terkait jalur Prestasi Non Akademik telah disosialisasikan kepada satuan pendidikan dan masyarakat sebelum pelaksanaan SPMB dimulai. Informasi tersebut dapat diakses melalui laman resmi SPMB Kabupaten Gresik dan telah dituangkan dalam regulasi serta petunjuk teknis yang menjadi dasar pelaksanaan seleksi.

Melalui pelaksanaan SPMB Tahun 2026, Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik berkomitmen untuk terus memberikan layanan pendidikan yang transparan, akuntabel, dan berkeadilan bagi seluruh calon peserta didik. “Seluruh proses SPMB dilaksanakan berdasarkan regulasi yang berlaku dengan mengedepankan prinsip objektivitas, transparansi, akuntabilitas, dan keadilan bagi seluruh peserta didik,” pungkas S. Hariyanto. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Viral Anak Yatim Atlet Voli Gagal Masuk SPMB,  Dispendik Gresik Tegaskan Pelaksanaan SPMB 2026 Sesuai Juknis dan Prinsip Objektivitas Selengkapnya

Deklarasi SPMB 2026/2027, Bupati Gresik Tegaskan Komitmen Penerimaan Murid Baru yang Bersih dan Transparan

GRESIK,1minute.id – Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) segera dibuka. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik mulai melakukan Sosialisasi dan Deklarasi SPMB Jenjang TK, SD, dan SMP Negeri Tahun Ajaran 2026/2027 di Aula Mandala Bhakti Praja Kantor Bupati Gresik pada Selasa, 5 Mei 2026.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan (Dispendik) Gresik ini dihadiri antara lain, Bupati Gresik Fandi Akhmad, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Gresik Achmad Washil Miftachul Rachman, perwakilan DPRD, kepala perangkat daerah terkait, pengawas sekolah, kepala sekolah negeri dan swasta, serta pemangku kepentingan pendidikan. 

Pada kesempatan itu, Pemkab Gresik meneguhkan komitmennya mewujudkanSPMB yang objektif, transparan, akuntabel, berkeadilan, dan tanpa diskriminasi ditandai dengan penandatanganan deklarasi bersama. 
Deklarasi ini merupakan bentuk komitmen seluruh pihak untuk mengawal pelaksanaan penerimaan murid baru yang bersih dari praktik suap, gratifikasi, maupun pungutan liar.

Dalam sambutannya, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menegaskan bahwa pelaksanaan SPMB bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan pintu awal dalam membangun kualitas pendidikan yang berintegritas di Kabupaten Gresik.

“Kalau kita ingin memperbaiki kualitas pendidikan di Kabupaten Gresik, maka perbaikannya harus dimulai dari pintu masuknya. Penerimaan murid baru harus berjalan fair, transparan, dan tidak boleh ada intervensi dalam bentuk apa pun,” tegas Gus Yani, sapaan akrab, Fandi Akhmad Yani. 

Ia juga mengingatkan pentingnya akuntabilitas dalam tata kelola pendidikan, termasuk pengelolaan anggaran sekolah.Menurutnya, seluruh kepala sekolah harus memahami bahwa administrasi yang tertib merupakan benteng utama agar tidak muncul persoalan hukum di kemudian hari.

“Saya ingin memastikan seluruh sistem pendidikan di Gresik berjalan dengan integritas. Jangan pernah menganggap remeh administrasi. Niat baik saja tidak cukup, semuanya harus tertib, tercatat, dan bisa dipertanggungjawabkan,” ujar mantan Ketua DPRD Gresik itu.

Ia pun secara khusus meminta seluruh jajaran pendidikan untuk tidak memberi ruang terhadap praktik titipan maupun intervensi dalam proses penerimaan murid baru. Mekanisme seleksi yang telah ditetapkan harus dijalankan secara konsisten demi menjaga kepercayaan masyarakat.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Gresik S.Hariyanto dalam laporannya menyampaikan bahwa pelaksanaan SPMB Tahun Ajaran 2026/2027 mengacu pada sejumlah regulasi terbaru, di antaranya Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 3 Tahun 2025, Peraturan Bupati Gresik Nomor 15 Tahun 2026, serta petunjuk teknis yang telah ditetapkan melalui Keputusan Bupati Gresik.

Hariyanto menjelaskan, evaluasi dan inovasi terus dilakukan guna menghadirkan sistem penerimaan murid baru yang semakin baik dari tahun ke tahun. “Tahun ini terdapat sejumlah pembaruan penting, salah satunya penerapan Personal Identification Number atau PIN bagi calon murid jenjang SMP negeri sebagai instrumen validasi data pendaftar,” jelasnya.

Selain itu, pelaksanaan SPMB tahun ini juga mulai memanfaatkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai salah satu komponen seleksi pada jalur prestasi. Adapun jalur penerimaan tetap terdiri atas domisili, afirmasi, mutasi, dan prestasi. 

Untuk jenjang SD, kuota penerimaan terdiri atas 75 persen jalur domisili, 20 persen afirmasi, dan 5 persen mutasi. Sedangkan jenjang SMP meliputi 40 persen domisili, 20 persen afirmasi, 5 persen mutasi, dan 35 persen jalur prestasi.
Khusus jalur prestasi SMP, kuota dibagi dalam kategori nilai TKA, Tes Potensi Akademik (TPA), prestasi akademik, non-akademik, serta tahfidz Al-Qur’an.

Seluruh proses pendaftaran dilaksanakan secara daring melalui laman resmi spmb-kabgresik.id, dengan tahapan verifikasi yang diperketat untuk memastikan validitas data calon murid. Dalam kesempatan tersebut, seluruh unsur yang hadir turut menandatangani deklarasi bersama pelaksanaan SPMB Kabupaten Gresik Tahun Ajaran 2026/2027.

Deklarasi tersebut memuat komitmen bersama untuk menjalankan sistem penerimaan murid baru secara objektif, transparan, akuntabel, berkeadilan, tanpa diskriminasi, serta menjunjung tinggi prinsip anti suap, anti gratifikasi, dan anti pungli. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Deklarasi SPMB 2026/2027, Bupati Gresik Tegaskan Komitmen Penerimaan Murid Baru yang Bersih dan Transparan Selengkapnya

Bupati Fandi Akhmad Yani Hidupkan Semangat Kompetisi Pelajar, Cerdas Cermat & Tahfidz se-Jatim

GRESIK,1minute.id – Ratusan pelajar jenjang TK hingga SMP se-Jatim memenuhi hall Gressmall Gresik pada Kamis, 9 April 2026. Mereka berkumpul untuk mengikuti ajang Gress of Champion Vol. II dan Gebyar Tahfidz Quran.

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani yang membuka gelar anak-anak berotak encer juga hafal alquran itu.  Kegiatan yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan (Dispendik) Gresik ini berlangsung hingga Jumat besok, 10 April 2026.

Dalam sambutannya, Bupati Fandi Akhmad Yani menegaskan pentingnya menghadirkan kembali ruang-ruang kompetisi intelektual seperti cerdas cermat di tengah perkembangan zaman.

“Kita rindu momentum seperti ini. Anak-anakku sekalian, terus belajar. Jangan takut mencoba. Kalian adalah calon pemimpin masa depan yang harus memiliki mental kuat dan semangat untuk terus berkembang,” ujar Gus Yani, sapaan akrab, Fandi Akhmad Yani. 

Ia juga menyinggung tantangan yang dihadapi pelajar saat ini, terutama di era digital. Menurutnya, penggunaan game online dan media sosial perlu mendapat perhatian agar tidak mengganggu proses belajar. “Kami sebagai orang tua tentu punya kekhawatiran. Saat ini juga sedang dibahas aturan terkait pembatasan game online dan media sosial. Harapannya, ini bisa membantu anak-anak tetap fokus belajar,” tambah Magister Mitigasi Bencana Unair Surabaya ini.

Mantan Ketua DPRD Gresik itu menjelaskan, pelaksanaan tahun ini terasa lebih meriah karena peserta tidak hanya berasal dari Gresik, tetapi juga dari berbagai daerah di Jawa Timur. Ia juga memastikan, pemerintah daerah akan terus mendampingi para peserta yang berprestasi agar bisa melangkah ke ajang yang lebih tinggi.

“Anak-anak yang juara nanti akan kita dampingi untuk ikut kompetisi lain. Ini bagian dari proses mereka untuk berkembang,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik S. Hariyanto, menjelaskan bahwa kegiatan ini memang dirancang untuk mendorong semangat belajar sekaligus membentuk karakter siswa. “Kami ingin kegiatan ini bisa memotivasi anak-anak untuk lebih semangat belajar, berpikir kritis, dan juga membangun karakter yang baik,” ujarnya.

Ia menambahkan, kompetisi ini tidak hanya soal menang atau kalah, tetapi juga melatih kepercayaan diri, kerja sama tim, serta kemampuan berpikir cepat dan tepat.

Antusiasme peserta pun terlihat sangat tinggi. Gress of Champion diikuti oleh 140 tim dari berbagai daerah seperti Lamongan, Surabaya, Mojokerto, Pamekasan, Malang, dan Sidoarjo. Sementara itu, Gebyar Tahfidz Quran diikuti oleh 228 peserta dari jenjang TK hingga SMP se-Jawa Timur. 

“Pesertanya sangat banyak, bahkan pendaftaran harus kami tutup lebih awal karena terus bertambah,” jelas Hariyanto.

Di sisi lain, General Manager Gressmall Gresik Eric Pramono Bangun, menyampaikan bahwa pihaknya senang bisa terus mendukung kegiatan positif seperti ini.

“Kami bangga bisa terus berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Gresik, khususnya Dinas Pendidikan. Harapannya, Gressmall tidak hanya menjadi pusat perbelanjaan, tetapi juga ruang tumbuh bagi generasi muda yang berprestasi,” ujarnya. (*)

Editor  : Chusnul Cahyadi 

Bupati Fandi Akhmad Yani Hidupkan Semangat Kompetisi Pelajar, Cerdas Cermat & Tahfidz se-Jatim Selengkapnya

Pertama di Gresik, UPT SMP Negeri 2 Gresik Raih SKK Paripurna Nasional 

GRESIK,1minute.id – UPT SMP Negeri 2 (Spenda) Gresik meraih predikat Sekolah Siaga Kependudukan (SKK) Paripurna. Sekolah yang berlokasi di Jalan KH Kholil, Gresik ini, menjadi pioner untuk satuan pendidikan jenjang SMP di Kota Santri, sebutan lain, Kabupaten Gresik yang mendapatkan predikat tertinggi yang disematkan oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), dulu bernama, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) itu.

Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) adalah satuan pendidikan yang mengintegrasikan pendidikan kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga ke dalam mata pelajaran atau kurikulum, ekstrakurikuler serta budaya sekolah. Program ini bertujuan membentuk generasi muda yang sadar isu kependudukan, berperilaku sehat dan berencana sejak dini.

Kepala UPT SMP Negeri 2 Gresik Mohammad Salim menceritakan, pihaknya bersama tim SKK sekolah melakukan studi tiru di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Gresik. Selanjutnya, melakukan workshop penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Terintegrasi SSK. 

“Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Anak (KBPPPA) Gresik, kami ikut asesmen monitoring dan evaluasi SSK. Alhamdulillah berkat kerja keras TIM sekolah kita meraih predikat paripurna,” ujar Salim melalui pesan WhatsApp pada Selasa, 3 Februari 2026.

Implementasi yang telah dilakukan oleh Spenda Gresik adalah mengintegrasikan isu kependudukan ke dalam materi pembelajaran. Di Spenda Gresik, kegiatan yang dilakukan, antara lain, pelatihan, seminar dan workshop tentang isu kependudukan bagi Guru, TU dan murid ; Kegiatan ekstrakurikuler, Duta Genre, Pusat Informasi Sahabat Anak (PISA) yakni sudut baca yang terkait dengan isu kependudukan dan proyek komunitas yang berfokus pada sekolah Aman Nyaman dan Menyenangkan.

“Dengan demikian, SSK dapat membantu murid menjadi warga negara yang peduli dan bertanggung jawab terhadap isu kependudukan,” ujar Salim. Data yang didapat wartawan  1minute.id ,  ada tiga satuan pendidikan di Kabupaten Gresik yang masuk kategori SKK Paripurna. Tiga sekolah itu, adalah SMA Negeri 1 Kedamean; MAN 1 Gresik dan UPT SMP Negeri 2 Gresik. “Insya Allah di Hari Kependudukan piagam akan diterimakan,” kata Salim. Hari Kependudukan Nasional biasanya diperingati bersamaan dengan Hari Populasi Sedunia yang diperingati setiap 11 Juli. (yad)

Pertama di Gresik, UPT SMP Negeri 2 Gresik Raih SKK Paripurna Nasional  Selengkapnya

Pemkab Gresik Ubah Skema Penyaluran BOSDA, Tak lagi Merata agar Tepat Sasaran 

GRESIK,1minute.id – Pemerintah Kabupaten Gresik akan melakukan evaluasi penyaluran Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA). Pada Senin, 17 November 2025,  Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani memimpin rapat koordinasi dan evaluasi BOSDA jenjang SMP Negeri dan Swasta di Aula UPT SMP Negeri 22 Gresik.

Rapat koordinasi ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaporan serta memperbaiki skema penyaluran BOSDA agar lebih tepat sasaran. Dalam arahannya, Bupati Fandi Akhmad Yani menyampaikan, perlunya pembaruan skema pembagian BOSDA yang selama ini diberikan secara merata kepada seluruh sekolah.

“Skema BOSDA yang merata selama ini perlu kita evaluasi kembali, karena setiap sekolah memiliki kebutuhan yang berbeda. Ada yang membutuhkan dukungan lebih besar, ada yang kebutuhannya sudah mencukupi. Kami ingin penyaluran dana ini benar-benar tepat sasaran,” ujar Gus Yani, sapaan akrab, Fandi Akhmad Yani dihadapan seluruh perwakilan SMP Negeri dan swasta se-Kabupaten Gresik, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Negeri dan Swasta, para komite sekolah, serta bendahara BOS dari seluruh SMP se-Kabupaten Gresik itu.

Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memperbaiki tata kelola BOSDA secara lebih efektif dan berkeadilan. Selain itu juga menyampaikan kondisi fiskal Kabupaten Gresik yang akan terpengaruh akibat pemangkasan dana dari pemerintah pusat.

“Pada tahun 2026, dana pusat untuk Kabupaten Gresik dipangkas setengah triliun. Namun kami pastikan, belanja yang bersifat langsung untuk masyarakat tetap berjalan dan tidak mengalami pengurangan,” tegasnya. 

Gus Yani juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas layanan pendidikan di tengah besarnya alokasi dana BOSDA yang dikelola daerah. “Harapan kami mutu kualitas pendidikan yang terus berkembang. Mengingat anggaran BOSDA yang begitu tinggi,” ungkapnya.

Rincian anggaran BOSDA disampaikan oleh Kabid Pengelolaan Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik M.Syifaul Qulub, sebagai berikut:

– SMP Swasta & MTs: Rp 20.661.400.000 (242 lembaga)

– SMP Negeri: Rp 14.597.490.000 (35 sekolah)

Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Gresik S. Hariyanto, menuturkan bahwa masukan dari sekolah dan komite akan menjadi dasar peninjauan ulang skema penyaluran agar tidak lagi bersifat merata, tetapi berbasis kebutuhan riil satuan pendidikan. (yad)

Pemkab Gresik Ubah Skema Penyaluran BOSDA, Tak lagi Merata agar Tepat Sasaran  Selengkapnya