Gang Sebelah Rilis Film Dokumenter Penutur Terakhir, Mbah Mat Kauli, Maestro Macapat Gagrak Gresik 

GRESIK,1minute.id – Yayasan Gang Sebelah merilis film dokumenter tentang Maestro Macapat Gagrak, Mbah Mat Kauli pada Sabtu malam, 24 Agustus 2024. Film dokumenter hasil riset selama 6 bulan yang dilakukan oleh anggota yayasan yang berdiri sejak 2017 itu diputar di Kampung Kemasan, Kelurahan Pekelingan, Kecamatan/Kabupaten Gresik.

Kampung Kemasan adalah salah satu perkampungan heritage yang ada di Gresik Kota Lama atau GKL Sedangkan, Yayasan Gang Sebelah yaitu yayasan berfokus pada kerja riset, arsip dan pengembangan kebudayaan menaungi berbagai komunitas. Antara lain, Gresik Movie (komunitas film) ; Sanggar Intra (Komunitas Teater) ; Onomastika (Komunitas Musikalisasi.Puisi) ; Ruang Sastra (Komunitas Sastra).dan Rubamerah (Perpustakaan).

Anggota komunitas ini mayoritas kaum milenial dan generasi Z atau Gen-Z. Film dokumenter iu berjudul “Penutur Terakhir” Mbah Mat Kauli, Maestro Macapat Gagrak Gresik” disaksikan ratusan pasang mata. Puluhan seniman, budayawan dan pencinta kebudayaan di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik memenuhi pemutaran perdana film dokumenter yang berdurasi 33 menit itu. 

Terlihat hadir antara lain, Uman Iswahyudi, anak nomor 5 dari 10 saudara pasangan Mat Kauli dengan Supartin (almarhumah). Uman Iswahyudi terlihat berkaca-kaca menonton film yang menceritakan keseharian ayahandanya, Mat Kauli ketika masih sehat hingga kesehatan berkurang itu. 

Ketika masih sehat, sang Maestro Macapat Gagrak yang betah melek itu masih sering nembang meski menggunakan kursi roda. Memakai blankon dan baju batik. Tampak gagah. “Saya sangat terharu. Sangat tersanjung adanya film dokumenter yang dibuat oleh Gang Sebelah ini,” kata Uman Iswahyudi dengan suara lirih.

Kondisi kesehatan Mbah Mat Kauli semakin menurun setelah Supartin, belahan hati yang juga cinta pertama dan terakhir ini wafat di usia 70 tahun pada 16 Agustus 2021 lalu. Mbah Mat Kauli merasa kehilangan belahan jiwa. “Waktu masih sehat, Saya hampir setiap Jumat nyekar ke makam istri. Sekarang saya tidak bisa,” tutur mbah Mat Kauli dalam film dokumenter itu. 

Mbah Mat Kauli lahir pada 1 Mei 1931. Saat meminang Supartin, ia masih berusia 22 tahun. Saat itu, Supartin yang lahir pada 10 Mei 1942, masih berusia 12 tahun. Diceritakan dalam film dokumenter itu, Supartin jatuh cinta kepada Mat Kauli karena suara merdu. “Saat itu, ibu belum pernah bertemu dengan bapak. Jatuh cinta karena mendengar suara bapak saja,” cerita anak-anak Mbah Mat Kauli di film itu.

Pernikahan Mbah Mat Kauli dengan Suparti dikarunia 10 anak, 31 cucu dan 35 cicit. Di film dokumenter itu juga anak dan cucunya menceritakan kecintaan Mbah Mat Kauli dengan Supartin seperti cerita film layar lebar Habibie dan Ainun. B.J. Habibie adalah Presiden kelima Indonesia. Sedangkan, Hasri Ainun Besari adalah ibu negara. 

APRESIASI: Camat Gresik Jalesvie Triyatmoko didampingi Pembina Yayasan Gang Sebelah Dewi Musdalifah dan Ketua Tim pembuatan film dokumenter Qonita menyerahkan apresiasi diterima oleh
Uman Iswahyudi, anak Mbah Mat Kauli dalam acara perilisan Film dokumenter Penutur Terakhir di Kampung Kemasan, Kelurahan Pekelingan, Kecamatan/Kabupaten Gresik pada Sabtu malam, 24 Agustus 2024 ( FOTO: chusnul cahyadi/1minute.id)

Selama pernikahan mereka hidup rukun meski ekonomi keluarga tergolong pas-pasan. Untuk menafkahi keluarga, Mbah Mat Kauli bekerja di galangan kapal, PT PAL Surabaya. Mbah Mat Kauli berangkat dan pulang kerja dengan ngontel. Rumah Mbah Mat Kauli di Jalan Awikoen Jaya, Kampung Gemantar, Kelurahan Gending, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik dan tempat kerjanya di kawasan Tanjung Perak, Surabaya.yang jaraknya sekitar 12- 15 kilometeran. Waktu itu infrastruktur jalan raya tidak sebagus sekarang.

Pagi sampai sore hari kerja di pabrik. Malam hari, nembang macapat hingga dini hari. Mat Kauli mulai macapat di usia 18 tahun hingga sekarang atau 75 tahun. Kecintaan kepada seni dan budaya itu, Mbah Mat Kauli akhirnya mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi atau Kemendikbud Ristek sebagai seorang Maestro. 

Ketika menerima penghargaan itu, Supartin telah tiada. Mbah Mat Kauli merasa sangat sedih karena belahan jiwa tidak bisa menikmati jerih payah Mat Kauli mendapatkan uang tali asih hingga seumur hidupnya. Sejak tiga bulan terakhir atau tepatnya saat Idul Fitri kesehatan semakin menurun. Bahkan, kaki tidak lagi kuat menahan berat tubuhnya. Mbah Mat Kauli kini hanya bisa berbaring di tempat tidur di kamar rumah yang sederhana. 

Perilisan film dokumenter tentang Mbah Mat Kauli berjudul “Penutur Terakhir”, Maestro Macapat Gagrak, Gresik ini tidak bisa hadir. Mbah Mat Kauli diwakili anak nomor 5 bernama Uman Iswahyudi, yang pensiunan Aparatur Sipil Negara di Pemerintah Kabupaten atau Pemkab Gresik.

Ketua tim riset Film Dokumenter Penutur Terakhir, Qonita Tri mengatakan, Mbah Mat Kauli adalah pelestari Macapat Gagrak Gresik ini. “Mumpung Mbah Mat Kauli masih sehat , kita buatkan film dokumenter dengan harapan anak-anak muda bisa belajar melalui film dokumenter dan audiobooknya,” kata Qonita yang didampingi Ketua Yayasan Gang Sebelah Hidayutul Nikmah dan Bendahara perilisan film dokumenter Dewi Nastitiya Anindya usai acara kepada wartawan pada Sabtu malam, 24 Agustus 2024.

Pembuatan film dokumenter ini, kata Qonita, difasilirasi oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi atau Kemendikbud Ristek. Selama 6 bulan tim mendokumentasikan keseharian Mbah Mat Kauli, melakukan wawancara dan kerap melakukan kunjungan ke rumah mbah Mat Mauli.  “Isi dalam film ini, lebih banyak tentang Bagaimana kemaestroannya mbah Mat Kauli, kehidupan sehari-hari, mulai baca macapat sejak usia berapa hingga di usia 93 tahun ini,” katanya. “Selama 75 tahun melestarikan macapat, apa saja yang telah di terima oleh Mbah Mat Kauli,” tambahnya. 

Pesan yang ingin disampaikan dalam film dokumenter ini? Ia menyebut Macapat yang dibacakan oleh Mbah Mat Kauli berasal dari cerita serat, ada dari Babad Sindujoyo, yang menceritakan tentang fase kehidupan mulai dari kandungan sampai menuju kematian.

“Jadi ada pesan kehidupan sehari-hari bagaimana laku bagi manusia itu sendiri,” terang perempuan berhijab itu.

Rencana kedepan? Tujuan membuat film dokumenter ini selain untuk mendokumentasi juga menyebarkan ilmunya. “Kami pingin menyebarkan filmnya, audiobook ke sekolah, memutar film ke kampung dan desa-desa untuk memperkenalkan macapat kepada yang lebih luas lagi,” tegasnya. 

Selain pemutaran film,  perilisan film dokumenter dilakukan talkshow serta pemberian apresiasi Yayasan Gang Sebelah kepada Mbah Mat Kauli yang diterima oleh Uman Iswahyudi, anak kelima Mbah Mat Kauli. Acara kelar sekitar pukul 22.30 WIB. (yad)

Gang Sebelah Rilis Film Dokumenter Penutur Terakhir, Mbah Mat Kauli, Maestro Macapat Gagrak Gresik  Selengkapnya

Sosok Mat Kauli : Penggiat Macapat Asli Gresik, Diusia 92 Tahun Tetap Energik 

GRESIK,1minute.id – Tembang berjudul Wirangrong seakan menghipnotis puluhan pasang mata. Pelantun syair Jawa itu adalah Mat Kauli. Seniman Macapat asli Wong Gresik. Rumahnya di Jl Awikoen Jaya, Desa Gending, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Usia Mat Kauli kini lebih dari 91 tahun. Ia lahir 1 Mei 1931. Namun, Mat Kauli “ngidung” bahasa Jawa tanpa kacamata. 

Sambil memengang dua buku. Mat Kauli mencari salah satu bait syair. Syair itu telah ditandai dengan lingkaran menggunakan pensil. “Syair ini, cerita  tentang ciri-ciri orang yang kecanduan narkoba,”kata Mat Kauli di acara Pelantikan Pengurus Gerakan Nasional Antinarkotika (Granat) Gresik pada Selasa, 28 Juni 2022. Bunyi syair itu , begini!

… //yen leren nyeret adhidhis//Netrane pan merem karo//yen wus ndadi awake akuru//cahya biru putih//Njelambut wedi toya//Lambe biru untu pethak//…

Artinya kurang lebih begini. 

…//ketika berhenti mencari kutu (tumo) // dua matanya tertutup//kalau sudah ketagihan badannya kurus//badannya membiru//Jorok  takut air//mulutnya membiru gigi putih//…

Mat Kauli membacakan syair Jawa dengan bernada. Cengkoknya panjang. Sehingga terasa enak di telinga meski tanpa iringan musik. Suasana gedung eks kantor Bank Gresik di Jalan Pahlawan, Gresik,  tempat pelantikan Pengurus Granat Gresik itu hening. Mereka seakan terhipnotis oleh suara Mat Kauli. Tamu istimewa dalam acara tersebut adalah Sekretaris Daerah (Sekda) Gresik Achmad Washil Miftachul Rachman dan Ketua DPD Granat Jawa Timur Kanjeng Mas Ayu Tumenggung (KMAT) Arie Soeripan.

Sejak 1949, Mat Kauli sinau Macapat. Usianya sangat muda. Masih 18 tahun. Mat Kauli lahir 1 Mei 1931. Mat Kauli belajar macapat langsung dari ayahnya, almarhum Niti Sastro Samardi. Mat Kauli dalam membacakan karya sastra Jawa tidak kalah dengan penyair lainnya. Di Indonesia. Bisa menghipnotis penonton.

Meski Mat Kauli tidak tamat sekolah dasar. Ia hanya mengenyam bangku sekolah dasar-dulu sekolah rakyat (SR) selama 3 tahun. “Separoh (18 bulan) sekolah zaman Perang Dunia kedua. Separoh lagi, sekolah zaman penjajah Jepang,” terang kakek 26 cucu itu sambil tersenyum. 

Mat Kauli sempat terhenti belajar Macapat karena desanya di bombardir serdadu Belanda. Puluhan bahkan ratusan pejuang gugur. Mereka dimakamkan di Gunung atau Bukit Lengis. “Saiki dadi G-JOS (Stadion Gelora Joko Samudro),”kenang kakek 23 cicit itu. 

Kini dia mahir menembang macapat. Ada puluhan tembang yang populer. Antara lain, Durma, Mijil, Kinanthi, Gambuh, Pucung, dan Megatruh. Kemudian, Pangkur, Maskumambang, Sinom, Asmaradana, Dhangdhanggula, dan Wirangrong. Masing-masing mengandung cengkok dan cerita yang berbeda-beda.

Mat Kauli sangat ingin tradisi macapatan, khususnya macapat Gresik, tetap lestari. Tidak punah. Karena itulah dia risau. Maklum, di era modern, kata suami Supartin itu, tradisi macapat semakin jarang ditampilkan di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik. Padahal, macapatan merupakan tradisi Gresik sejak zaman Sunan Giri dan generasi sesudahnya. ’’Ini harus dilestarikan,”imbuhnya sambil menoleh Suwarmo, 62, rekan duet macapatnya.

Dalam catatan wartawan 1minute.id kurun waktu empat bulan, Mat Kauli hanya tampil dua kali. Pada 5 Maret 2022, penggiat macapat ini tampil di acara Launching komunitas Gresik Heritage dan Komunitas Pecinta Sejarah Budaya Kota Lama Gresik (KLG) di halaman SMP Darul Islam (Daris) Gresik. Kedua, tampil di pelantikan pengurus Granat Gresik pada 28 Juni 2022.

“Kalau bisa tradisi macapatan ini ditampilkan ketika banyak orang,”katanya. Harapannya  tradisi nguri-uri budaya macapatan bisa lestari. Demi tekadnya itu, lelaki yang selalu memakai kopyah hitam ketika tampil itu selalu hadir setiap ada undangan macapatan. Tidak peduli apakah dapat sangu atau tidak. Dijemput atau tidak jemput oleh panitia. “Dijemput di rumah saja sudah cukup senang,”katanya. 

Semangat Mat Kauli  agar tradisi macapat tetap lestari memang sangat besar. Selain mengajar tanpa pamrih, dia rela menulis ulang buku peninggalan almarhum ayahnya, Niti Sastro Samardi. Mat Kauli mengalihaksarakan huruf Jawa ke tulisan Latin. Tujuannya, semua orang bisa membaca bunyi tulisan meskipun tidak tahu artinya.

Mat Kauli membutuhkan waktu selama 14 bulan untuk mengalihaksarakan huruf Jawa ke tulisan Latin. Ada juga buku yang semula ditulis dalam aksara Arab pegon dialihaksarakan huruf latin. Alihaksara dilakukan oleh almarhum Hadisoedarto, kerabat Mat Kauli yang tinggal di Kelurahan Pekelingan, Gresik. 

Lalu apa resep Mat Kauli bisa tetap energik? Mat Kauli memiliki prinsip bahwa rezeki itu tidak bisa dikejar. Bekerja tidak perlu ngoyo. “Ora at labora (berdoa dan berusaha),”katanya. Selain itu, imbuhnya, gaya hidup tidak neka-neka. “Obat panjang umur dan sehat ojo ngonsumsi narkoba,”tegasnya. (yad)

Sosok Mat Kauli : Penggiat Macapat Asli Gresik, Diusia 92 Tahun Tetap Energik  Selengkapnya