Peserta Muscab Aklamasi Pilih Haji Samaun, Ketua HNSI Gresik : Siap Perjuangkan Hak-hak Nelayan 

GRESIK,1minute.id – Haji Samaun, kembali terpilih sebagai Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Kabupaten Gresik untuk kali keempat. Ia terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Cabang (Muscab) HSNI Gresik yang digelar di Graha KOPSIYAH Mitra Usaha Ideal (MUI) di Jalan Pahlawan, Desa Asempapak, Kecamatan Sidayu pada Selasa, 10 Oktober 2023.

Muscab yang dibuka oleh Kepala Dinas Perikanan Gresik Moh. Nadlelah ini diawali dengan laporan pertanggungjawabkan pengurus masa bakti 2018-2023 dan pemilihan  ketua HNSI Gresik periode 2023-2028. Dalam Muscab HNSI Gresik terasa lebih istimewa karena dihadiri oleh anggota Komisi VII (Bidang Energi dan Perindustrian) DPR RI Dyah Roro Esti, Sekretaris DPD HSNI Jawa Timur Suyoto Muslih, 35 Ketua Rukun Nelayan (RN) dari 7 Kecamatan di Kabupaten Gresik dan perwakilan dari PGN SAKA, Pertamina Bitumen Plant Gresik serta Forkopimcam Sidayu.

Kepala Dinas Perikanan Gresik Moh Nadlelah mengatakan, tantangan yang akan dihadapi nelayan Gresik saat diberlakukan sistem penangkapan berbasis zonasi. Serta menurunnya, pendapatan asli daerah (PAD) Gresik yang berdampak tertundanya realisasi usulan pembangunan sarana dan prasarana nelayan Gresik. Menyikapi hal itu, mantan Camat Manyar itu, merekomendasikan pemanfaatan dana Corporate Social Responsibility (CSR). “Pemanfaatan dana CSR untuk merealisasi pembangunan sarana dan prasarana nelayan yang dibutuhkan,” kata Nadlelah dalam siaran pers dari DPC HNSI Gresik yang diterima 1minute.id pada Selasa, 10 Oktober 2023.

MUSCAB HSNI GRESIK: (ki-ka) Ketua HSNI Gresik terpilih Samaun, Kepala Dinas Perikanan Gresik Moh Nadlelah, Sekretaris DPD HSNI Jawa Timur Suyoto Muslih dan anggota Komisi VII DPR RI Dyah Roro Esti dalam muscab HSNI Gresik di Desa Asempapak, Kecamatan Sidayu pada Selasa, 10 Oktober 2023 ( Foto : ist)

Untuk diketahui, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 11 tahun 2023 tentang Zona Penangkapan Ikan Terukur. Selain mengatur zona penangkapan ikan terukur, juga mengatur mengenai kuota penangkapan ikan pada zona penangkapan ikan terukur di mana kuota tersebut dihitung berdasarkan potensi sumber daya ikan yang tersedia dan jumlah tangkapan yang diperbolehkan dengan mempertimbangkan tingkat pemanfaatan sumber daya ikan.

Terbitnya peraturan anyar itu, diharapkan kelestarian sumber daya ikan tetap terjaga dan dapat memberikan kesejahteraan nelayan, menyediakan perluasan dan kesempatan kerja, meningkatkan nilai tambah dan daya saing hasil perikanan, kepastian berusaha, kontribusi bagi dunia usaha, serta bagi negara.

Samaun, Ketua HSNI Gresik terpilih menyatakan tekadnya untuk membawa HSNI DPC Kabupaten Gresik menjadi lebih baik. “Semoga HNSI DPC Kabupaten Gresik semakin lebih baik kedepannya, sehingga HNSI DPC Kabupaten Gresik mampu memperjuangkan hak-hak nelayan,” kata Samaun dalam sambutannya. “Kepengurusan HNSI DPC Kabupaten Gresik masih dibutuhkan dan perlu diperhatikan oleh kita semua, dalam rangka untuk kesejahteraan nelayan di Kabupaten Gresik,” tegasnya. 

Sementara itu, anggota Komisi VII DPR RI Dyah Roro Esti mengatakan, meski HNSI bukan kewenangan komisi VII. Akan tetapi, Dyah Roro berjanji akan tetap memperjuangkan masyarakat nelayan Gresik agar diperhatikan pemerintah pusat. Ia mencontohkan,  pengawalan program bantuan 1.000 unit mesin ketinting berbahan bakar gas (LPG). (yad)

Peserta Muscab Aklamasi Pilih Haji Samaun, Ketua HNSI Gresik : Siap Perjuangkan Hak-hak Nelayan  Selengkapnya

Hadapi Musim Barat, Bupati Gresik Gelontorkan Sembako untuk Nelayan 

GRESIK,1minute.id – Sebanyak seribu nelayan di Kabupaten Gresik mendapatkan bantuan sembako. Mereka berasal dari Kecamatan Panceng, Ujungpangkah, Sidayu, Bungah, Duduksampeyan, Manyar, Gresik, dan Kebomas. Seluruhnya merupakan nelayan yang masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

Kegiatan ini merupakan bentuk Bakti Peduli nelayan berdaulat, program Nawa Karsa Gresik Agropolitan, Bupati dan Wakil Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani-Aminatun Habibah. Sembako diserahkan secara simbolis oleh Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani dipusatkan di Desa Sukorejo, Kecamatan Kebomas. 

“Pembagian paket sembako ini diberikan untuk membantu kebutuhan nelayan. Utamanya saat memasuki musim angin barat dimana nelayan kesulitan untuk melaut dan hasil tangkapan menurun. Semoga ini bisa bermanfaat dan meringankan kebutuhan para nelayan sehari-hari,”ujar Fandi Akhmad Yani pada Jumat, 25 November 2022. 

Pemerintah Kabupaten Gresik dalam Nawa Karsa memiliki beberapa program peningkatan kesejahteraan nelayan, yang masuk dalam Gresik Agropolitan. Selain pemberian paket sembako. Terdapat beberapa fokus utama dalam mewujudkan kesejahteraan nelayan.

Pertama adalah, program Go Tani pada sektor perikanan dan program nelayan berdaulat dengan penyediaan permodalan lunak dan pembangunan beberapa titik Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN).

Pemberian paket sembako ini, nantinya akan diberikan sebanyak tiga kali hingga bulan Desember 2022. Momen ini bertepatan dengan berlangsungnya musim angin barat yang biasanya berlangsung di akhir tahun. Sehingga, total paket sembako yang diberikan sebanyak 3.000 paket sembako.

Terkait beberapa nelayan sudah masuk dalam DTKS tetapi belum menerima paket sembako, Kadis Perikanan Kabupaten Gresik mengutarakan agar tidak perlu risau.

“Bagi Nelayan yang tidak dapat paket sembako, akan kita usahakan untuk bisa menerima bantuan dari Provinsi Jawa Timur. Insya Allah jumlahnya nanti 2.667 paket, sehingga bisa menjangkau lebih luas kepada nelayan Kabupaten Gresik yang data terakhirnya tercatat sebanyak 11.167 jiwa,” ujar Kepala Dinas Perikanan  Gresik Moh. Nadlelah.

Ahmad Syafi’i, 61, salah satu nelayan asal Desa Sukorejo mengaku bersyukur atas bantuan yang diberikan Pemkab Gresik. Bantuan ini sangat berarti ditengah musim angin barat dimana banyak nelayan kesulitan untuk melaut.

“Saat musim angin barat seperti saat ini, bagi nelayan yang perahunya kurang memenuhi syarat akan sangat berbahaya untuk melaut. Jadi nanti kalau anginnya sudah agak teduh baru kita bisa melaut lagi,”ungkapnya.

Oleh karenanya, Ahmad Syafi’i dan rekan-rekan nelayan sangat mendukung adanya program dari Pemkab Gresik utamanya dalam masalah permodalan dan kemudahan mendapatkan BBM. 

“Sekali melaut saya biasanya rata-rata membawa pulang uang antara Rp 50 ribu sampai Rp 75 ribu atau kurang lebih 4-5 kilogram ikan. Jadi kalau ada bantuan permodalan bisa digunakan untuk memperbaiki perahu atau jaring.Kalau BBM jelas kita butuh,” pungkasnya. (yad)

Hadapi Musim Barat, Bupati Gresik Gelontorkan Sembako untuk Nelayan  Selengkapnya