God’s Fingerprint, Karya Kaligrafi Riyanto Bikin Pencinta Seni Surabaya Terpukau di Pameran Sastra Rupa Gresik

GRESIK, 1minute.id – Puluhan seniman Gresik menggelar pameran bertajuk Sastra Rupa di Sualoka Hub, Loteng Kemasan, Jalan Nyai Ageng Arem-arem, Gresik.

Pameran digelar selama sebulan, 24 Oktober – 24 November 2026. Seniman yang ambil bagian di antaranya Aam Artbro, Aly Wafa, Ahmad Fery, Aris Daboel, Kak Komang, Joko Iwan, Sahlul Fahmi, Rachmad Bazuki, Rezzo Masduki, dan Muhammad Riyanto.

Setiap karya dilengkapi puisi bebas karya penyair Dewi Musdalifah. Seperti karya Joko Iwan, lukisan abstrak dengan pusaran ombak dan kapal yang seakan masuk pusaran. Karya berukuran 150 x 115 cm dengan media Acrylic on Canvas (AOC) ini dilengkapi puisi berjudul Tangkul. Bertaut mengarak ombak // Menyuar sinar bulan // Gemintang di pucuk laut //…

Sementara karya Muhammad Riyanto, kaligrafi berjudul God’s Fingerprint mendapat apresiasi dari Made Agus Sumantra, pegiat seni asal Surabaya yang membuka pameran dengan puisi berjudul PULANG. Aku pulang ke semesta, kembali ke danau hijau // tangan mawar, mata matahari // rambut melati, tubuh pohon jati //…

“Ada dua karya di ekshibisi Sastra dan Rupa ini. Judul karya saya, Alif City dan God’s Fingerprint,” kata Riyanto kepada 1minute.id pada Rabu, 28 Oktober 2026.

Kaligrafi God’s Fingerprint berbeda dari karya lainnya. Saat 1minute.id menyambangi lokasi pada Rabu malam, 28 Oktober 2026, suasana lengang. Semua karya tertempel rata di tembok. Namun, kaligrafi berukuran 130 x 130 cm ini tampil beda, seperti kertas lipat yang belum sempurna. Melengkung di empat sudut. Di bagian tengah mirip alat fingerprint dengan angka 99.

Makna God’s Fingerprint

Riyanto membagikan narasi karyanya:

Manusia menciptakan chip, Tuhan menciptakan manusia. Dari perbandingan itulah lahir karya berjudul God’s Fingerprint, sebuah perenungan visual tentang jejak Sang Pencipta dalam tatanan semesta.

Manusia yang sesungguhnya merupakan bagian kecil dari keseluruhan jejak penciptaan itu, divisualkan dalam bentuk sidik jari raksasa yang tersusun dari papan sirkuit dengan garis-garis berwarna.

Seperti sidik jari manusia, karya ini memiliki pola unik yang tidak pernah sama pada setiap individu, tapi tetap berada dalam satu sistem yang saling terhubung. Jika diamati lebih dalam, ini bukan sidik jari manusia biasa, melainkan sidik jari Ilahi.

Setiap lekuk dan alurnya diisi oleh chip-chip kecil bertuliskan prinsip-prinsip ketuhanan, menandakan bahwa dalam setiap kehidupan selalu berlaku hukum Ilahi yang bekerja.

Latar papan sirkuit menegaskan analogi bahwa semesta adalah sistem besar yang dirancang dengan kode, jalur, dan fungsi yang utuh. Warna-warni pada jalur itu melambangkan keberagaman manusia dan peristiwa.

“Ya, God’s Fingerprint adalah pengingat bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari desain besar,” ujar Riyanto.

Tentang Alif City

Kaligrafi Alif City : Pelukis kaligrafi Muhammad Riyanto (kanan) bersama Made Agus Sumantra, pegiat seni asal Surabaya saat pembukaan pameran Sastra Rupa di Sualoka Hub, Loteng Kemasan, Jalan Nyai Ageng Arem-arem, Gresik. (Foto : Riyanto untuk Chusnul Cahyadi/1minute.id )

Sedangkan kaligrafi Alif City, pelukis berusia 52 tahun ini menjelaskan tentang goresan tangannya.

Menurutnya, Alif City adalah gambaran kota kecil yang modern, dengan teknologi terkini, informasi yang mudah diakses, dan fasilitas yang memenuhi kebutuhan masyarakat. Sebuah kota yang menyatukan kehidupan individu dan sosial dalam kebersamaan, kerja sama, dan toleransi.

“Teknologi menjadi sarana untuk membangun kemajuan, menyebarkan informasi religi, dan memperkuat nilai-nilai keislaman. Media sosial tidak hanya menjadi ruang komunikasi, tetapi juga jalan untuk berbagi ilmu, kebaikan, dan kesadaran akan kehadiran Allah,” katanya.

Di Alif City, kemajuan berjalan berdampingan dengan iman. Perbedaan dihormati, kepedulian dijaga, dan setiap orang memiliki kesempatan untuk hidup tenang bersama keluarga.

“Alif City tentang Teknologi, Iman, dan Kehidupan,” pungkasnya.

Riyanto, pelukis kaligrafi aliran surealisme asal Kota Santri Gresik, Jawa Timur, tumbuh di keluarga pelukis. Ayahnya seorang pelukis kaligrafi kaca, pamannya juga pelukis. Ia mengikuti jejak keluarganya dan aktif berpameran sejak 1991. (yad)

Editor: Chusnul Cahyadi 

God’s Fingerprint, Karya Kaligrafi Riyanto Bikin Pencinta Seni Surabaya Terpukau di Pameran Sastra Rupa Gresik Selengkapnya