Akhmad Khoiri, Dari Bisnis Batik Gajah Mungkur, Kini Merambah Bisnis Suvenir

GRESIK,1minute.id – Manajemen Batik Gajah Mungkur terus berinovasi. Selain menambah motif koleksi batik. Batik yang bercorak khas Grissee atau Gresik. Akhmad Khoiri mulai merambah usaha suvenir. Tshirt, diantaranya.

Ada tiga gadis mengenalkan bisnis rintisan suvenir itu. Semuanya bertemakan Gajah Mungkur. Misalnya, From Zero to Hero Gajah Mungkur Original 1898. “Saya mencoba terus mengeksplor. Ide-ide segar,”kata Akhmad Khoiri pada Minggu, 26 Juni 2022. 

Ada sekitar sepuluh item kaus suvenir yang siap merambah pasar. “Selain, kaus suvenir. Juga mengenalkan logo baru Batik Gajah Mungkur,”imbuhnya. 

Kaus From Zero to Hero Gajah Mungkur Orginal 1898 mengingatkan berdirinya bangunan rumah Gajah Mungkur. Rumah yang menjadi rujukan bagi mahasiswa arsitektur, masyarakat dan penggemar fotografi dari dalam negeri maupun mancanegara ini dibangun oleh almarhum Haji Djaelan. Ia pengusaha penyamakan kulit yang sukses.  

BISNIS SUVENIR: Akhmad Khoiri bersama tiga model yang sedang memakai karyanya, kaus dan kain batik di halaman rumah Gajah Mungkur pada Sabtu,25 Juni 2022 (Foto : Chusnul Cahyadi/1minute.id)

Rumah berada di Jalan Nyai Ageng Arem-arem Kelurahan Pakelingan, Kecamatan Gresik itu luasnya sekitar 2 ribu meter persegi (m²). Rumah berlantai dua dengan tembok berwarna dominasi putih tulang itu kini dihuni oleh Hj Nur Rahmah. Ia keturunan keempat pasangan almarhum Haji Djaelan dengan almarhumah Hj Romlah.

Hj Nur Rahmah adalah ibunda Akhmad Khoiri yang kini mengembangkan bisnis batik dan suvenir.  Di rumah Gajah Mungkur itu, Khoiri membuka gerai batik yang semuanya berciri khas Gresik atau kearifan lokal (local wisdom)

 Misalnya, motif Damarkurung. Damarkurung adalah sebuah karya seni yang dipopularkan oleh almarhumah Mbah Masmundari. Damarkurung, salah satu ikon Gresik. Lalu motif pudak dan jubung. Kedua adalah makanan khas Gresik. Kemudian, motif sisik bandeng. Gresik dikenal salah satu penghasil ikan bandeng terbesar di Jawa Timur. 

Dan, motif Gajah Mungkur. Dinamakan Gajah Mungkur karena patung gajah membelakangi jalan. Menurut cerita Oemar Zainuddin, kerabat Khoiri, memiliki cerita. Ia mengatakan, almarhum Haji Djaelan setiap pagi badal Subuh duduk di teras rumah. Ngopi, makan jagung rebus sambil membaca buku. 

Nah, berulang kali duduk di teras rumah dia melihat bokong patung Gajah. Gajah menghadap jalan Raya. “Almarhum kemudian meminta patung Gajah di putar. Bokong (pantat) menghadap jalan Raya,”ujar penulis buku Kota Gresik, 1896-1916 : Sejarah, Sosial Budaya dan Ekonomi itu. (yad)