Dari Kelas, Tumbuh Indonesia Berkeadilan

Oleh : YUNITA RAHMAH *

BEL berbunyi menandai dimulainya pelajaran Bahasa Indonesia. Murid segera membuka buku, sementara saya menuliskan tujuan pembelajaran hari itu di papan tulis: menulis teks deskripsi. Hampir semua murid sudah siap mengikuti pembelajaran. Namun, pandangan saya berhenti pada seorang anak yang duduk di sudut kelas. Ia menatap buku dengan wajah kebingungan. Ketika teman-temannya mulai menyusun kalimat, ia masih berusaha mengurutkan dua kata agar memiliki makna. Momen seperti itu hampir selalu saya temui setiap tahun.

Saya mengajar di UPT SMP Negeri 2 Gresik, salah satu sekolah penyelenggara pendidikan inklusi. Berdasarkan pengalaman saya selama mengajar, hampir setiap tahun ajaran baru sekolah kami menerima murid berkebutuhan khusus dengan karakteristik, kemampuan, dan kebutuhan belajar yang beragam. Sebagai guru Bahasa Indonesia, saya hampir selalu mendapat amanah mendampingi mereka di kelas. Amanah itu tidak pernah ringan. Namun, justru di sanalah saya belajar bahwa ruang kelas bukan hanya tempat menyampaikan pengetahuan, melainkan juga tempat menghadirkan keadilan.

Selama ini, banyak orang memahami pendidikan inklusi sebatas menerima anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler. Padahal, menerima mereka hanyalah langkah awal. Tantangan sesungguhnya muncul ketika mereka sudah duduk di bangku yang sama dengan teman-temannya. Guru dihadapkan pada pertanyaan yang tidak selalu dijawab secara tuntas oleh buku ajar maupun kurikulum: bagaimana mengajarkan satu materi kepada murid yang memiliki kemampuan sangat beragam? Pertanyaan itu terus saya bawa setiap memasuki ruang kelas.

Belajar dengan Cara yang Berbeda

Beberapa tahun lalu, saya mendampingi seorang murid kelas VII yang mengalami hambatan belajar. Saat pelajaran Bahasa Indonesia dimulai, saya meminta seluruh murid mendeskripsikan suasana sekolah dalam satu paragraf. Hampir semua mulai menulis. Sementara itu, ia masih memegang pensil tanpa tahu harus memulai dari mana. Saya menghampirinya.

“Bagaimana kalau kita mulai dari satu kata saja?”

Ia mengangguk pelan.

Hari itu kami tidak berbicara tentang paragraf. Kami belum membahas struktur teks deskripsi. Kami memulai dari kata yang paling sederhana.

Sekolah.

Kemudian bertambah menjadi dua kata.

Sekolah bersih.

Lalu berkembang menjadi tiga kata.

Sekolah kami bersih.

Bagi murid lain, latihan itu mungkin terlalu mudah. Namun, baginya, menyusun tiga kata menjadi satu kalimat utuh merupakan perjuangan yang membutuhkan keberanian sekaligus kesabaran. Saya tidak ingin ia merasa sedang belajar sesuatu yang berbeda dari teman-temannya. Karena itu, setiap kata yang kami susun tetap berkaitan dengan materi teks deskripsi. Ia belajar menyusun kalimat sekaligus mengenal ciri-ciri objek yang sedang dideskripsikan. Dengan cara itu, ia tetap mempelajari materi yang sama, meskipun menempuh jalur belajar yang berbeda.

Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa kesetaraan tidak selalu berarti memberikan perlakuan yang sama. Justru dalam pendidikan, keadilan sering kali berarti memberikan dukungan yang berbeda agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Proses itu tidak berlangsung cepat. Ada hari-hari ketika saya merasa tidak ada perkembangan sama sekali. Kalimat yang kemarin berhasil ia susun, hari ini kembali terlupakan. Kami pun mengulang lagi dari awal. Sebagai guru, tentu pernah muncul rasa lelah. Saya juga sempat bertanya dalam hati, apakah cara yang saya lakukan sudah tepat? Namun, setiap kali keraguan datang, saya selalu mengingat satu hal: anak itu tidak pernah menyerah datang ke sekolah. Maka, saya pun tidak berhak menyerah mendampinginya.

Beberapa bulan kemudian, perubahan kecil mulai terlihat. Ia mampu menyusun beberapa kalimat sederhana. Pada akhir semester, ia berhasil menulis sebuah paragraf deskripsi pendek. Paragraf itu jauh dari sempurna. Tanda bacanya belum tepat. Pilihan katanya masih terbatas. Kalimatnya pun masih sederhana. Namun, bagi saya, paragraf itu jauh lebih berharga daripada tulisan paling indah yang pernah saya baca. Setiap kalimat di dalamnya lahir dari proses panjang yang dipenuhi usaha, pengulangan, kesabaran, dan keberanian untuk terus mencoba.

Pengalaman itu mengubah cara saya memandang keberhasilan belajar. Selama ini, dunia pendidikan terlalu sering mengukur keberhasilan melalui angka, nilai, atau peringkat. Padahal, bagi sebagian murid berkebutuhan khusus, keberhasilan mungkin berupa kemampuan menyusun satu kalimat setelah berbulan-bulan berlatih. Kemajuan yang tampak kecil di mata orang lain sesungguhnya merupakan lompatan besar bagi mereka.

Menyesuaikan Cara Belajar Murid

Pengalaman lain datang dari seorang murid yang hampir tidak pernah bisa duduk tenang selama pembelajaran berlangsung. Baru beberapa menit pelajaran dimulai, ia sudah berdiri, berjalan ke belakang kelas, melihat ke luar jendela, lalu kembali lagi. Jika dipaksa duduk, konsentrasinya justru semakin hilang. Pada awalnya, saya berusaha menyamakan perlakuannya dengan murid lain. Saya meminta ia tetap duduk, memperhatikan penjelasan, dan menyelesaikan tugas seperti teman-temannya. Hasilnya tidak sesuai harapan. Yang berubah justru suasana kelas menjadi tegang. Ia semakin sulit berkonsentrasi, sedangkan saya semakin sibuk mengingatkannya untuk duduk dan memperhatikan pelajaran.

Saya kemudian menyadari bahwa persoalannya bukan terletak pada kemauan belajar, melainkan pada cara belajarnya. Sejak saat itu, saya mulai menyesuaikan strategi pembelajaran. Saya memberikan aktivitas yang lebih singkat dan diselingi jeda. Saya membolehkan ia bergerak selama tidak mengganggu teman-temannya. Tugas yang semula diberikan sekaligus saya pecah menjadi beberapa bagian kecil agar lebih mudah dipahami dan diselesaikan.

Perubahannya memang tidak terjadi secara instan. Namun, perlahan ia mampu mengikuti pembelajaran lebih lama dibandingkan sebelumnya. Pengalaman-pengalaman tersebut membuat saya memahami bahwa pendidikan inklusi bukan tentang membuat semua anak belajar dengan cara yang sama. Pendidikan inklusi justru mengajarkan bahwa setiap anak memiliki kebutuhan, kemampuan, dan pintu masuk belajar yang berbeda.

Kolaborasi untuk Mewujudkan Pendidikan Inklusi

Di balik berbagai tantangan tersebut, saya melihat satu kenyataan yang sering luput dari perhatian. Pendidikan inklusi sesungguhnya tidak menuntut murid berkebutuhan khusus untuk menyesuaikan diri dengan sekolah. Pendidikan inklusi justru mengajak sekolah untuk terus belajar memahami kebutuhan setiap murid.

Guru dituntut lebih kreatif dalam merancang strategi pembelajaran. Sekolah perlu membangun budaya yang menerima perbedaan. Orang tua menjadi mitra penting dalam mendampingi perkembangan anak. Ketiganya tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Pengalaman saya menunjukkan bahwa ketika komunikasi antara guru dan orang tua terjalin dengan baik, perkembangan murid menjadi lebih nyata. Orang tua dapat menceritakan kebiasaan dan cara belajar anak di rumah. Sebaliknya, guru dapat menyampaikan perkembangan maupun kesulitan yang ditemui selama pembelajaran di kelas. Kolaborasi sederhana tersebut sering kali menghasilkan solusi yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Di sisi lain, teman-teman sekelas juga memiliki peran besar. Mereka bukan hanya menjadi teman belajar, tetapi juga menjadi lingkungan sosial pertama yang mengajarkan arti penerimaan. Ketika murid berkebutuhan khusus merasa dihargai, mereka akan lebih percaya diri untuk mencoba, bertanya, berinteraksi, dan menunjukkan kemampuan terbaiknya. Dari situlah saya semakin yakin bahwa keberhasilan pendidikan inklusi tidak hanya diukur melalui capaian akademik. Keberhasilan juga terlihat dari tumbuhnya rasa percaya diri, kemandirian, kemampuan bersosialisasi, serta keyakinan setiap murid bahwa sekolah adalah tempat yang menerima dan menghargai dirinya.

Namun, pelaksanaan pendidikan inklusi masih menghadapi berbagai keterbatasan. Tidak semua sekolah memiliki guru pendamping khusus. Sarana dan prasarana yang ramah disabilitas juga belum tersedia secara merata. Dalam kondisi seperti itu, guru sering menjadi pihak yang harus mencari berbagai strategi pembelajaran secara mandiri. Berbagai regulasi sebenarnya telah memberikan landasan yang kuat bagi pelaksanaan pendidikan inklusi. Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 menegaskan pentingnya layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan hak murid yang memiliki kelainan maupun potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Sementara itu, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas menegaskan hak penyandang disabilitas untuk memperoleh pendidikan yang bermutu tanpa diskriminasi. Artinya, pendidikan inklusi bukanlah bentuk belas kasihan, melainkan pemenuhan hak setiap warga negara.

Namun, regulasi tidak akan bermakna jika hanya berhenti sebagai dokumen. Semangat inklusi sesungguhnya hidup di ruang kelas ketika guru mulai bertanya, “Bagaimana agar murid ini dapat belajar?”, bukan “Mengapa murid ini tidak dapat belajar?” Pertanyaan pertama mendorong lahirnya solusi. Pertanyaan kedua berisiko berhenti pada penilaian.

Ruang Kelas yang Menumbuhkan Empati

Saya juga belajar bahwa pendidikan inklusi bukan hanya memberikan dampak bagi murid berkebutuhan khusus. Pendidikan inklusi juga membentuk karakter seluruh murid. Di kelas, saya sering melihat teman-temannya membantu membacakan soal, menemani berdiskusi, atau memberikan semangat ketika seorang murid berkebutuhan khusus mengalami kesulitan menyelesaikan tugas. Tidak ada yang saya minta secara khusus. Kebiasaan itu tumbuh karena mereka belajar hidup bersama dalam keberagaman. Tanpa disadari, mereka sedang mempraktikkan empati, toleransi, gotong royong, dan penghargaan terhadap perbedaan. Nilai-nilai yang selama ini diajarkan melalui teori justru mereka pelajari melalui pengalaman sehari-hari. Barangkali inilah pelajaran paling berharga dari pendidikan inklusi. Murid belajar bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda. Mereka belajar bahwa membantu teman bukan berarti merendahkan. Mereka belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk mengejek. Mereka juga belajar bahwa keberhasilan bersama jauh lebih bermakna daripada sekadar menjadi yang paling unggul. Bukankah bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur lahir dari warga yang mampu menghargai sesamanya?

Sebagai guru, saya tidak pernah berharap semua murid berkebutuhan khusus akan memperoleh nilai yang sama tinggi dengan murid lainnya. Saya juga tidak berharap seluruh keterbatasan mereka hilang begitu saja.

Harapan saya jauh lebih sederhana.

Saya ingin mereka merasa diterima.

Saya ingin mereka pulang dari sekolah dengan keyakinan bahwa dirinya mampu belajar.

Saya ingin mereka percaya bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Sebab pendidikan bukanlah perlombaan untuk menentukan siapa yang paling cepat mencapai garis akhir. Pendidikan adalah perjalanan untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal hanya karena memiliki cara belajar yang berbeda.

Selama bertahun-tahun mendampingi murid berkebutuhan khusus, saya menyadari bahwa sesungguhnya merekalah yang banyak mengajari saya. Mereka mengajarkan arti kesabaran, ketekunan, dan harapan. Mereka mengingatkan bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari langkah yang cepat, tetapi dari keberanian untuk terus melangkah. Kini, setiap kali memasuki ruang kelas, saya tidak lagi hanya melihat siapa yang paling pintar atau siapa yang paling lambat. Saya melihat anak-anak dengan potensi yang berbeda-beda. Setiap anak membawa cerita, kemampuan, tantangan, dan perjuangannya masing-masing.

Pada akhirnya, pendidikan inklusi mengajarkan saya bahwa ruang kelas bukan sekadar tempat menyampaikan materi pelajaran, melainkan ruang untuk memanusiakan manusia. Pendidikan inklusi bukan hanya memberikan tempat bagi murid berkebutuhan khusus untuk duduk bersama teman-temannya, tetapi juga menghadirkan ruang belajar yang benar-benar menerima setiap anak sebagai pribadi yang berharga.

Guru dituntut kreatif merancang pembelajaran yang berpihak pada keberagaman. Sekolah perlu membangun budaya yang menghargai perbedaan. Orang tua menjadi mitra yang saling menguatkan. Sementara itu, teman-teman sekelas menghadirkan lingkungan sosial yang mengajarkan empati, kepedulian, dan penerimaan.

Dari pengalaman mendampingi murid berkebutuhan khusus, saya menyaksikan bahwa kolaborasi sederhana di antara guru, sekolah, orang tua, dan teman sebaya mampu menumbuhkan rasa percaya diri, kemandirian, serta keberanian untuk terus belajar. Itulah keberhasilan pendidikan yang sesungguhnya. Keberhasilan tidak semata-mata tercermin dari nilai rapor atau capaian akademik, melainkan juga dari tumbuhnya keyakinan dalam diri setiap murid bahwa mereka diterima, dihargai, dan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan.

Saya percaya, Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur tidak hanya dibangun melalui kebijakan besar atau pembangunan fisik. Indonesia juga dibangun dari ruang-ruang kelas yang memberi kesempatan kepada setiap anak untuk tumbuh sesuai dengan potensi dan kebutuhannya.

Ketika seorang murid yang semula kesulitan menyusun kata akhirnya mampu menulis sebuah paragraf, di sanalah harapan sedang bertumbuh.

Ketika seorang murid yang sulit duduk tenang akhirnya dapat mengikuti pembelajaran dengan caranya sendiri, di sanalah pendidikan menjadi lebih manusiawi.

Ketika murid-murid belajar menerima perbedaan sebagai kekuatan, di sanalah nilai keadilan mulai berakar.

Sebab, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang hanya memberi ruang bagi mereka yang kuat, melainkan bangsa yang memastikan tidak ada satu pun anak tertinggal karena perbedaan yang dimilikinya. Setiap ruang kelas yang ramah dan inklusif adalah tempat menanam harapan bagi masa depan Indonesia. Ketika setiap anak diberi kesempatan untuk belajar, bertumbuh, bermimpi, dan hidup dengan martabat, sesungguhnya kita sedang menumbuhkan generasi yang akan mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur. (*/yad)

* Guru Bahasa Indonesia UPT SMP NEGERI 2 Gresik

Dari Kelas, Tumbuh Indonesia Berkeadilan Selengkapnya

PAE 2026 Petrokimia Gresik, Rasa Family Harvest Day, Momentum Orang Tua Edukasi Anak Petik Sayur dan Buah

GRESIK,1minute.id – Kebun Percobaan (Buncob) Departemen Riset PT Petrokimia Gresik riuh pada Minggu, 26 Juli 2026. Ratusan orang menyerbu Buncob berada di Jalan Noto Prayitno, Kecamatan Kebomas itu untuk memanen sayur dan memetik buah pada ajang Petro Agrifood Expo (PAE) 2026 rangkaian memeriahkan HUT Ke-54 Petrokimia Gresik ini di buka pukul 07.00 WIB.

Bagi warga Kota Industri, sebutan lain, Kabupaten Gresik bisa memetik buah dan memanen sayuran segar momen tahunan yang paling ditunggu. Banyak orang tua yang mengajak keluarga, anak bahkan nenek ikut panen buah dan sayuran di PAE 2026. Mereka seperti merayakan Family Harvest Day. 

Di ajang PAE 2026, orang tua melakukan edukasi kepada anak bagaimana cara memanen sayuran dan buah yang baik. “Saya ajak keluarga sekalian untuk edukasi anak-anak bagaimana cara panen yang baik,” kata Darmaji, warga Randuagung, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik. 

Sella, pengunjung Petik Buah PAE 2026 lainny menyebut petik sayur dan buah menjadi pengalaman tersendiri karena harus berebut memetik bersama ratusan warga yang lain. 

“Waktu datang ternyata banyak warga yang datang lebih dulu. Untungnya saya kebagian sayur dan buah yang langsung saya petik sendiri. Untuk kualitas sayur dan buahnya sangat bagus dan harganya relatif murah,” katanya. 

Ketua Panitia PAE 2026 Tri Utami menjelaskan, panen bersama ini merupakan bagian dari serangkaian kegiatan di hari ketiga, PAE 2026. Kegiatan ini dibuka untuk masyarakat umum yang ingin merasakan keseruan memetik buah dan sayur secara langsung di lahan buncob Petrokimia Gresik.

“Dari kegiatan panen bersama ini, harapan kami masyarakat yang datang mampu menularkan semangat pertanian. Sehingga nantinya akan menghasilkan penerus pertanian atau regenerasi petani di masa depan,” ujar Tri Utami di sela acara pada Minggu, 26 Juli 2026.

Ia menjelaskan, pada momen panen bersama ini menyediakan berbagai varian buah seperti melon golden, semangka, sayuran seperti sawi, terong, jagung dan aneka labu serta ikan gurame dan nila di kolam terpal yang siap panen.

Berdasarkan data yang didapat 1minute.id , PAE 2026 ada 20 item buah dan sayuran yang bisa di panen oleh masyarakat. Yakni, Melon Golden 3.400 buah ; Semangka (1000 buah); Jagung Pulut (1.200 buah/tongkol) ; Jagung Manis (2.100 buah/tongkol) ; Labuh Kabocha dan Labuh Butternut. Kemudian, Brokoli ; Bunga Kol ; Bawang Prei ; Pare ; Wortel dan Terong. 

Berikutnya, Bayam merah ; bayam hijau ; Kangkung ; Sawi Express ; Sawi Packchoy; Sawi Packchoy White ; Sawi Caisim dan Sawi Pagoda.  “Buah dan sayur yang kami tanam di lahan ini memiliki kualitas premium dan ada pula yang jarang ditemukan di pasaran seperti jagung pulut. Ada juga ikan nila dan gurame yang dibudidayakan dengan menggunakan aplikasi produk petrofish,” jelas Tri Utami. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

PAE 2026 Petrokimia Gresik, Rasa Family Harvest Day, Momentum Orang Tua Edukasi Anak Petik Sayur dan Buah Selengkapnya

SMA Negeri 1 Kebomas Gandeng LFNU Gresik Lakukan Kalibrasi Arah Kiblat Masjid Sekolah 

GRESIK,1minute.id – Civitas Akademika SMA Negeri 1 Kebomas (SMABOM) Kabupaten Gresik menggandeng Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Gresik melakukan kalibrasi arah Kiblat Masjid  Al Akbar SMA Negeri 1 Kebomas pada Kamis, 16 Juli 2026.

Kalibrasi menggunakan Metode Bayangan Matahari (Rashdul Qiblah) dipimpin oleh Ketua LFNU Gresik Muchyiddin Hasan. Tim LFNU Gresik berjumlah enam disambut oleh Kepala SMA Negeri 1 Kebomas Komari bin Jainuri, Ketua Komite SMA Negeri 1 Kebomas Achmad Effendi serta Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 1 Kebomas, Bagus Sasmito.

Sekitar pukul 16.00 WIB tim LFNU Gresik tiba di SMABOM yang berada di Kompleks Perumahan Alam Bukit (ABR) Desa Kembangan, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik. Mereka langsung menuju masjid dan melakukan persiapan kalibrasi menggunakan Metode Bayangan Matahari (Rashdul Qiblah). Sekitar pukul 16.27 WIB, Muchyiddin melakukan kalibrasi.

Rashdul Qiblah merupakan metode verifikasi arah kiblat menggunakan bayangan benda saat posisi Matahari berada tepat di atas Kakbah. Fenomena alam ini terjadi secara reguler setiap 15 dan 16 Juli. Pada kalibrasi kali ini, pengujian mencapai titik puncaknya tepat pukul 16.27 WIB dimana Matahari berada tepat di atas Kakbah.

Berdasarkan hasil pengukuran ilmiah tersebut, ditemukan adanya pergeseran minor pada arah kiblat Masjid Al Akbar. ” Sudah mendekati benar. Pergeserannya sekitar 0.5 derajat,” ujar Muchyiddin Hasan pada Kamis, 16 Juli 2026.

Masjid Al Akbar SMAN 1 Kebomas  dibangun pada 2007 dengan konsep awal menyerupai Pendapa Joglo untuk ruang pertemuan, sebelum akhirnya dialihfungsikan menjadi sarana ibadah dan diperluas pada 2012. Karena penyesuaian fungsi tersebut, orientasi awal bangunan masjid memang dibuat searah dan mengikuti tata letak gedung sekolah yang sudah ada.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMA Negeri 1 Kebomas Bagus Sasmito, menjelaskan bahwa pihak sekolah sengaja bersurat resmi ke LFNU karena besarnya keingintahuan serta komitmen sekolah untuk menyempurnakan syarat sah ibadah. Langkah pengujian ulang ini juga didasari oleh kekhawatiran adanya pergeseran lempeng bumi yang berpotensi mengubah akurasi arah kiblat dari pengukuran beberapa tahun silam.

“Besok pagi akan langsung kami tata ulang seluruh garis safnya. Kami tidak sekadar mencari keakurasian bangunan, tetapi berikhtiar menyesuaikan dengan ketentuan fiqih ibadah yang menganjurkan salat tepat menghadap kiblat,” ujar Bagus didampingi Kepala SMA Negeri 1 Kebomas Komari Bin Jainuri.

Keberadaan Masjid Al Akbar memiliki peran sangat vital bagi pembentukan karakter dan spiritualitas siswa. Selain digunakan untuk salat fardu berjamaah dan salat Jumat. Masjid Al Akbar, ia melanjutkan aktif dipakai untuk memfasilitasi salat Dhuha berjamaah yang diikuti oleh enam kelas setiap harinya dengan sistem imam bergilir.

Di samping itu, masjid sekolah ini menjadi pusat kegiatan program bulanan “Jumat Religi” yang diintegrasikan dengan program Jumat Sehat dan Jumat Bersih. Khusus pada agenda Jumat Religi, aktivitas siswa diisi dengan penyampaian kultum oleh guru agama, doa bersama, serta penyampaian informasi perkembangan sekolah. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

SMA Negeri 1 Kebomas Gandeng LFNU Gresik Lakukan Kalibrasi Arah Kiblat Masjid Sekolah  Selengkapnya

Menteri Lingkungan Hidup Apresiasi SMANSA Gresik, Program SIKAP Layak Jadi Contoh Nasional 

GRESIK,1minute.id – Menteri Lingkungan Hidup Moch Jumhur Hidayat melakukan kunjungan kerja ke Sekolah Adiwiyata SMA Negeri 1 Gresik pada Rabu, 15 Juli 2026.  Menteri Jumhur didampingi diantaranya Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif melihat dari dekat inovasi sekolah di Jalan Arif Rahman Hakim, Gresik dalam memanfaatkan lahan sempit yang bernilai ekonomis dan ramah lingkungan. Pengelolaan sampah dan penghijauan. 

Jumhur yang juga Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup menilai sekolah yang dipimpin oleh Irfan ini layak menjadi contoh nasional berkat inovasi pengelolaan sampah dan pengembangan ketahanan pangan di lingkungan sekolah.

SMAN 1 Gresik dipilih sebagai lokasi kunjungan karena mengembangkan program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP). Sekitar pukul 10.45 WIB, Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat tiba di SMA Negeri 1 Gresik. Menteri Jumhur didampingi Gubernur Khofifah Indar, Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif langsung menuju taman hidroponik yang berada di sisi utara gedung sekolah. 

Di lahan berukuran sekitar 20 meter persegi itu, penuh tanaman sawi organik. Tanaman tumbuh subur dan segar. Mereka pun menyempatkan memanen sayuran. Kunjungan dilanjutkan ke tanaman tomat dan dilanjutkan penanaman pohon di media pot di halaman sekolah. 

Pada kesempatan itu, Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidaya mengapresiasi inovasi pengelolaan sampah dan penghijauan yang diterapkan SMA Negeri 1 (Smansa) Gresik. 

Menurutnya, langkah yang dilakukan sekolah tersebut tidak hanya mampu mengurangi persoalan sampah, tetapi juga mendukung ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan. Ia mengatakan, program Adiwiyata tidak hanya memberikan penghargaan, tetapi juga menjadi sarana edukasi untuk menumbuhkan kepedulian lingkungan di kalangan peserta didik melalui penilaian bertahap hingga kategori tertinggi, yakni Adiwiyata Mandiri.

“Di SMAN 1 Gresik ini, dalam penilaian kami masuk kategori tertinggi, yaitu Adiwiyata Mandiri. Mereka mampu menumbuhkan kesadaran terhadap lingkungan dan menjadi contoh bagi institusi pendidikan di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Ia mengatakan kunjungannya ke Jawa Timur juga didasarkan pada capaian provinsi tersebut dalam pengelolaan lingkungan, khususnya penanganan sampah. Menurutnya, berdasarkan penilaian Kementerian Lingkungan Hidup, Jawa Timur menjadi provinsi dengan kinerja terbaik dalam pengelolaan lingkungan dan penanganan sampah sehingga layak menjadi rujukan bagi daerah lain.

“Saya memberikan apresiasi karena Jawa Timur mampu memberikan contoh terbaik. Ini bisa menjadi contoh bagi provinsi lain yang masih kurang serius dalam pengelolaan lingkungan, terutama sampah,” ujarnya.

Sementara itu,  Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan keberhasilan sekolah meraih predikat Adiwiyata Mandiri juga diiringi pengembangan program sekolah inovatif berbasis ketahanan pangan. Khofifah menjelaskan, lahan sekolah yang terbatas tidak menjadi kendala untuk mengembangkan pertanian, peternakan, maupun perikanan skala edukatif yang melibatkan para siswa.

“Kami ingin ini menjadi pilot project. Ketahanan pangan tidak harus dilakukan di lahan yang luas, tetapi bisa dimulai dari seluruh lahan yang tersedia di institusi pendidikan, kemudian hasilnya dapat diolah hingga memiliki nilai tambah,” katanya. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Menteri Lingkungan Hidup Apresiasi SMANSA Gresik, Program SIKAP Layak Jadi Contoh Nasional  Selengkapnya

Inspiration Day, 49 Insan Petrokimia Gresik Terjun Sekolah Menginspirasi 1.300 Pelajar

GRESIK,1minute.id – Petrokimia Gresik, perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding Pupuk Indonesia, (Persero), menggelar PG Inspiration Day bagi sekitar 1.300 pelajar di Kabupaten Gresik. Kegiatan itu dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-54 Petrokimia Gresik mengusung bertema Growing the Future.

Sebanyak 49 Insan Petrokimia Gresik turun langsung sebagai pemateri, pengajar, dan fasilitator untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, serta inspirasi agar para pelajar berani mengembangkan potensi, membangun kompetensi, dan mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.

PG Inspiration Day tahun ini digelar di dua sekolah, yaitu SMK Assa’adah pada Selasa, 14 Juli 2026 diikuti 580 siswa dan SMAN 1 Kedamean pada Rabu besok, 15 Juli 2026 akan diikuti 720 siswa SMAN 1 Kedamean melalui seminar umum dan sesi classroom yang terbagi dalam 18 kelas.

Puluhan Insan Petrokimia Gresik tersebut berasal dari berbagai fungsi perusahaan, mulai dari operasional pabrik, riset, laboratorium, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), pengembangan SDM, hingga fungsi korporat. Berbekal pengalaman profesional di bidangnya masing-masing, mereka berbagi wawasan mengenai dunia industri, budaya keselamatan, pengembangan diri, serta kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi dunia kerja. Keterlibatan para relawan ini menjadi wujud komitmen Petrokimia Gresik dalam menghadirkan pengalaman nyata dari dunia industri ke lingkungan sekolah.

Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, mengatakan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik. Yang dibutuhkan bukan hanya ilmu pengetahuan, tetapi juga keberanian untuk bermimpi, kemauan belajar, serta semangat untuk terus berkembang.

“Growing the Future bukan hanya tentang menumbuhkan sektor agroindustri, tetapi juga tentang menumbuhkan manusia. Masa depan Indonesia ditentukan oleh generasi muda yang memiliki kompetensi, karakter, dan keberanian untuk terus berkembang. Karena itu, kami ingin hadir mendampingi mereka sejak di bangku sekolah,” ujar Daconi.

Melalui seminar dan sesi classroom, para pelajar berdialog langsung dengan Insan Petrokimia Gresik mengenai pengembangan diri, budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), dunia kerja, hingga pentingnya membangun kompetensi sejak dini. Berbekal pengalaman nyata para narasumber di dunia industri, para pelajar memperoleh wawasan mengenai keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja sekaligus motivasi untuk terus belajar, beradaptasi, dan mempersiapkan masa depan sejak di bangku sekolah.

Menurut Daconi, pendidikan merupakan investasi jangka panjang dalam membangun Indonesia. Karena itu, dunia industri memiliki tanggung jawab untuk mendukung dunia pendidikan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, budaya keselamatan, kemampuan beradaptasi, serta kesiapan menghadapi perubahan.

“Kami tidak hanya datang untuk memberikan motivasi, tetapi juga berbagi pengalaman nyata dari dunia industri. Kami ingin para pelajar mengetahui kompetensi apa yang dibutuhkan, tantangan yang akan mereka hadapi, dan bagaimana mempersiapkan diri agar mampu bersaing di masa depan. Dengan kemauan belajar, disiplin, dan kerja keras, setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk mewujudkan cita-citanya,” tambah Daconi.

Komitmen Petrokimia Gresik dalam mendukung pendidikan juga diwujudkan melalui berbagai program berkelanjutan, salah satunya Beasiswa Petro (BESTRO) yang turut diperkenalkan kepada para pelajar dalam kegiatan ini. BESTRO memberikan kesempatan kepada pelajar berprestasi untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Selain bantuan biaya pendidikan, penerima beasiswa juga memperoleh pembinaan kepemimpinan, pengembangan soft skill, kewirausahaan, kesehatan mental, serta pembekalan untuk meningkatkan kompetensi dan kesiapan memasuki dunia kerja.

Sebagai bentuk dukungan terhadap dunia pendidikan, Petrokimia Gresik juga menyerahkan bantuan dana pendidikan kepada kedua sekolah. Kedua sekolah menerima total bantuan sebesar Rp 27 juta untuk mendukung peningkatan kualitas pembelajaran.

“Semangat Growing the Future kami wujudkan melalui berbagai program yang membuka akses pendidikan sekaligus memperkuat kapasitas generasi muda, termasuk melalui BESTRO. Kami ingin Petrokimia Gresik tidak hanya hadir memberikan inspirasi, tetapi juga membuka kesempatan agar semakin banyak generasi muda dapat berkembang dan meraih cita-citanya,” tutup Daconi.

Kepala SMK Assa’adah Bungah Ainur Rofiq menyampaikan terima kasih atas kepedulian Insan Petrokimia Gresik yang datang menginpirasi bagi para siswa di sekolahnya. Materi dan pengalaman yang disampaikan, tambahnya, memberikan wawasan lebih luas lagi bagi siswa SMK Assa’adah.

“Petrokimia Gresik banyak memberikan kontribusi bagi peserta didik SMK Assa’adah. Sinergi yang sekarang ini dibangun antara dunia industri dalam hal ini Petrokimia Gresik dengan lembaga pendidikan akan menumbuhkan motivasi bagi siswa untuk terus berkembang,” ujarnya.

PG Inspiration Day merupakan agenda tahunan dalam rangkaian HUT Petrokimia Gresik. Sejalan dengan tema HUT ke-54, Growing the Future, program ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menyiapkan generasi muda yang unggul, berkarakter, berbudaya keselamatan, dan siap menghadapi tantangan masa depan melalui kolaborasi antara dunia pendidikan dan dunia industri. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Inspiration Day, 49 Insan Petrokimia Gresik Terjun Sekolah Menginspirasi 1.300 Pelajar Selengkapnya

Buka MPLS Ramah Anak, Bupati Gresik Jadikan UPT SMP N 1 Gresik Pelopor Sekolah Moderasi Beragama

GRESIK,1minute.id – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi siswa baru tahun ajaran 2026/2027 di Kabupaten Gresik memasuki hari pertama pada Senin, 13 Juli 2026. Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani, menekankan pentingnya MPLS menciptakan suasana sekolah yang ramah, aman, nyaman, inklusif dan bermakna. 

Hal ini disampaikan Bupati Fandi Akhmad Yani saat menjadi pembina apel pembukaan MPLS Ramah sekaligus Launching Sekolah Moderasi Beragama UPT SMPN 1 Gresik. Menurut Bupati Fandi Akhmad Yani melalui berbagai penguatan kebijakan, materi yang lebih relevan, serta aturan yang lebih jelas, MPLS menjadi langkah awal bagi peserta didik untuk mengenal lingkungan sekolah tanpa adanya perundungan, kekerasan, maupun praktik yang tidak mendidik.

“Mari wujudkan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, inklusif, dan penuh semangat belajar. Sehingga setiap peserta didik dapat memulai perjalanan pendidikannya dengan percaya diri dan bahagia,” harap Gus Yani, sapaan akrab, Fandi Akhmad Yani. 

Gus Yani didampingi Kepala Dinas Pendidikan S. Hariyanto, Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SMP pada Dinas Pendidikan Syifaul Qulub, Kepala Kantor Kementrian Agama Gresik, Muhammad Ali Faiq, serta Kepala UPT SMPN 1 Gresik Beri Avita Prasetia,  Camat Gresik Jalesvie Triyatmoko, Lurah Sidokumpul Mukhlisun. 

Selain itu, Bupati Gresik mendorong adanya sekolah moderasi beragama yang menekankan pada cara pandang yang seimbang dan toleran dalam beragama. Hal ini untuk menghindari ekstremisme dan fanatisme, serta menjunjung tingi nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan.

“Sekolah moderasi beragama, mengajarkan pentingnya sikap tengah dalam beragama, yaitu cara beragama yang tidak berlebihan atau ekstrem. Hal ini mencakup pada toleransi, baik yang mayoritas maupun minoritas, serta menghargai nilai-nilai budaya dan tradisi,” jelas mantan Ketua DPRD Gresik ini.

Bupati Yani berpesan, MPLS dan Launching sekolah moderasi beragama adalah menjadikan sekolah sebagai rumah kedua yang aman, nyaman, dan inklusif serta menanamkan sikap toleransi, akhlak mulia, dan antikekerasan sejak dini. “Kegiatan MPLS dan peluncuran sekolah moderasi beragama merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang humanis dan berkarakter,” ungkapnya. 

Bupati berharap, seluruh satuan pendidikan di wilayahnya sebagai rujukan Sekolah Moderasi Beragama. Langkah strategis ini diambil sebagai implementasi regulasi terbaru guna mencetak generasi muda yang berkarakter, toleran, serta bebas dari segala bentuk perundungan dan kekerasan sejak hari pertama sekolah.

“Saya berharap sekolah-sekolah di Kabupaten Gresik menjadi rujukan sekolah moderasi beragama, di mana nilai-nilai toleransi dan kerukunan ditanamkan sejak dini kepada generasi muda,” tuturnya.

Guna memastikan program berjalan lancar, Bupati Gresik menyempatkan diri melihat langsung pendistribusian Makan Bergizi Gratis (MBG) di ruang kelas usai meresmikan pembukaan MPLS. Bupati menegaskan, bahwa MPLS dan pemenuhan gizi (MBG) merupakan langkah awal yang krusial untuk membangun generasi yang sehat dan cerdas.

Dikatakan, pemerintah daerah sangat mengapresiasi konsistensi pelaksanaan program MBG yang kini genap berjalan selama satu tahun. Pihaknya berharap, kualitas, porsi, dan kebersihan dari program MBG terus dipertahankan secara konsisten ke depannya.

“Sengaja saya langsung meninjau ke ruang kelas setelah membuka MPLS untuk melihat realisasi program MBG ini secara riil. Dari testimoni beberapa siswa siswi tadi berharap adanya tambahan susu dalam menu MBG. Saya sangat mengapresiasi kesiapan pihak sekolah dan penyedia menu di hari pertama masuk sekolah ini,” tandasnya. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Buka MPLS Ramah Anak, Bupati Gresik Jadikan UPT SMP N 1 Gresik Pelopor Sekolah Moderasi Beragama Selengkapnya

Hari Pertama Masuk Sekolah, Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Turun Langsung Pastikan Kelancaran Lalu Lintas

GRESIK,1minute.id – Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Nasution turun langsung membantu mengatur lalu lintas di hari pertama masuk sekolah pada Senin, 13 Juli 2026. Perwira dua melati di pundak itu terlihat ikut menyeberangkan siswa baru UPT SD Negeri 2 Gresik di Jalan Jaksa Agung Suprapto Gresik.

Di hari pertama tahun ajaran baru 2026/2027 ini puluhan polisi lalu lintas (Polantas) Polres Gresik diterjunkan untuk mengatur lalu lintas, bersama personel Polisi Pamong Praja (Pol PP) dan Dinas Perhubungan (Dishub) Gresik di sejumlah sekolah di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik ini. Lalu lintas pun lancar.

Kehadiran AKBP Ramadhan Nasution yang memakai seragam lengkap untuk memastikan arus lalu lintas tetap lancar dan aman ini menarik perhatian anak-anak. Apalagi Cak Rama -sapaan akrab – AKBP Ramadhan Nasution juga tidak segan menggandeng, memyapa bocah-bocah itu untuk menyeberangkan jalan. 

Di sela-sela kegiatan, AKBP Ramadhan Nasution berdialog dengan sejumlah wali murid untuk mendengarkan langsung situasi di lapangan pada hari pertama pembelajaran. “Kegiatan ini merupakan wujud nyata bahwa polisi hadir di tengah-tengah masyarakat. Kami ingin memberikan rasa aman dan nyaman, khususnya di hari pertama sekolah ini,” ujar Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Nasution.

“Saya berharap anak-anak sekolah bisa sampai dengan lancar dan tidak terlambat masuk kelas,” imbuhnya. Kapolres menegaskan bahwa pengaturan lalu lintas pada jam-jam sibuk akan terus menjadi perhatian jajaran Polres Gresik, terutama di sekitar kawasan pendidikan yang memiliki mobilitas tinggi.

Pada akhir kegiatan, Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Nasution memberikan apresiasi kepada personel kepolisian yang telah bersiaga sejak pagi hari di berbagai perempatan dan depan sekolah. Menurutnya, dedikasi para anggota sangat penting dalam menjaga kelancaran arus lalu lintas serta keselamatan para pengguna jalan.

Dengan pengamanan dan pengaturan lalu lintas yang dilakukan secara maksimal, aktivitas hari pertama masuk sekolah di wilayah hukum Polres Gresik dapat berlangsung tertib, aman, dan lancar. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Hari Pertama Masuk Sekolah, Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Turun Langsung Pastikan Kelancaran Lalu Lintas Selengkapnya

Jelang Akhir Libur Sekolah, UPT SMP Negeri 2 Gresik Gelar Workshop Pemanfaatan AI untuk Dunia Pendidikan 

GRESIK,1minute.id – Pembelajaran tahun ajaran baru 2026/2027 dimulai Senin, 13 Juli 2026. Sejumlah lembaga pendidikan di Kota Santri, sebutan lain, Kabupaten Gresik mulai bersiap diri. Diantaranya, UPT SMP Negeri 2 (Spenda) Gresik. 

Satuan pendidikan berlokasi Jalan KH Kholil, Gresik yang dipimpin oleh Mohammad Salim menggelar Workshop mengusung tema “Pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) dalam Dunia Edukasi”. Workshop dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Gresik S.Hariyanto ini diikuti oleh seluruh tenaga pendidik menghadirkan pembicara Wahyudi, dari Sidoarjo berlangsung selama 4 hari, mulai Rabu hingga Sabtu, 8-11 Juli 2026.

Menurut Kepala UPT SMP Negeri 2 Gresik Mohammad Salim mengatakan, workshop untuk penyegeran kembali para guru dan siswa menjelang akhir libur sekolah. “Fokus workshop pemanfaatan teknologi AI untuk meningkatkan kualitas pembelajaran,” kata Mohammad Salim pada Kamis, 9 Juli 2026.

Dalam workshop ini semua guru harus membawa komputer jinjing alias laptop. workshop menggunakan alat digital secara gratis dari Google. “Refreshment Pembelajaran Google Workspace for Education. Ini sangat membantu guru membuat tugas, berdiskusi jarak jauh, dan berkolaborasi dalam satu tempat,” imbuh Salim.

Workshop dihelat dua sesi. Sesi pertama, materi Guru yang Menggerakkan dengan narasumber S.Hariyanto, Kadispendik Gresik. Sesi kedua, tentang Pemanfaatan Teknologi AI untuk Mendukung Pembelajaran yang Menyenangkan oleh Kokapten KSRG (Kandidat Sekolah Rujukan Google) Wahyudi dari sidoarjo.

UPT SMP Negeri 2 Gresik, adalah pioner sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Industri, sebutan lain , Kabupaten Gresik yang masuk KSRG. Program ini dipimpin oleh tim inti dan fasilitator yang berkolaborasi untuk membangun ekosistem pendidikan adaptif menggunakan perangkat Google for Education. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Jelang Akhir Libur Sekolah, UPT SMP Negeri 2 Gresik Gelar Workshop Pemanfaatan AI untuk Dunia Pendidikan  Selengkapnya

Tanamankan Budaya Tertib Lalu Lintas Sejak Dini Satlantas Polres Gresik Gandeng Guru SD

GRESIK,1minute.id –  Keselamatan berlalu lintas tidak hanya dimulai saat seseorang memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM), tetapi dibentuk sejak usia dini melalui pendidikan, keteladanan, dan kebiasaan sehari-hari.  Berangkat dari pemikiran tersebut, Satlantas Polres Gresik terus mengedukasi masyarakat melalui program Polantas Menyapa, dengan melibatkan para guru sebagai agen perubahan dalam menanamkan budaya tertib berlalu lintas.

Pada Selasa, 7 Juli 2027, kegiatan edukasi digelar di Aula SD Muhammadiyah 1 GKB (Mugeb) Gresik. Puluhan guru dan tenaga kependidikan mengikuti sosialisasi yang dikemas secara interaktif oleh Unit Keamanan dan Keselamatan (Kamsel) Satlantas Polres Gresik. Kegiatan dipimpin Kanit Kamsel Satlantas Polres Gresik Ipda Andreas Dwi A.

Kasat Lantas Polres Gresik AKP Nur Arifin, menegaskan bahwa pendekatan preventif melalui edukasi merupakan langkah strategis dalam membangun budaya tertib berlalu lintas secara berkelanjutan. Menurutnya, guru memiliki peran penting sebagai teladan bagi para siswa. Perilaku sederhana seperti menggunakan helm dengan benar, mematuhi rambu, hingga disiplin saat berkendara akan menjadi contoh nyata yang mudah ditiru oleh anak-anak.

“Membangun budaya keselamatan tidak bisa dilakukan hanya melalui penegakan hukum. Dibutuhkan kolaborasi semua pihak, terutama para guru yang setiap hari berinteraksi dengan anak-anak. Mereka adalah agen perubahan yang mampu menanamkan karakter disiplin dan tertib sejak dini,” ungkap AKP Nur Arifin.

Melalui program Polantas Menyapa, Satlantas Polres Gresik berharap para guru mampu menjadi pelopor keselamatan berlalu lintas, sehingga pesan-pesan tentang pentingnya disiplin di jalan tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi juga terbawa ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Dengan demikian, budaya tertib berlalu lintas dapat tumbuh menjadi kebiasaan yang mengakar dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam kegiatan Polantas Menyapa yang dipimpin oleh Kanit Kamsel Satlantas Polres Gresik Ipda Andreas Dwi A. mengajak para peserta memahami bahwa keselamatan di jalan bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan, melainkan bentuk penghargaan terhadap nyawa diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya.

“Keselamatan di jalan bukan hanya soal menghindari tilang. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menjaga diri sendiri dan menghormati hak hidup orang lain dengan berkendara secara aman dan bertanggung jawab,” ujar Ipda Andreas.

Dalam sosialisasi tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai safety riding dan defensive driving. Berbagai aspek dibahas mulai dari pentingnya penggunaan helm berstandar yang benar, kepatuhan terhadap rambu lalu lintas, hingga kemampuan mengenali potensi bahaya (hazard awareness) saat berkendara.

Suasana berlangsung dinamis ketika para guru menyampaikan berbagai pertanyaan, pengalaman, hingga persoalan yang sering dijumpai di jalan raya. Diskusi dua arah itu menjadi ruang berbagi solusi untuk membangun budaya keselamatan berlalu lintas di lingkungan sekolah maupun masyarakat. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Tanamankan Budaya Tertib Lalu Lintas Sejak Dini Satlantas Polres Gresik Gandeng Guru SD Selengkapnya

Perluas Akses Pendidikan, Pemkab Gresik Gandeng LKSA Jaring Siswa Sekolah Rakyat Jenjang SD

GRESIK,1minute.id -Pemerintah Kabupaten Gresik terus memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu melalui program Sekolah Rakyat. Menjelang dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027 di mulai 15 Juli 2026, Pemkab Gresik menggandeng Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) se-Kabupaten Gresik untuk mempercepat penjaringan calon peserta didik jenjang Sekolah Dasar (SD) yang kuotanya masih belum terpenuhi.

Upaya tersebut dilakukan melalui sosialisasi penjaringan calon peserta didik yang dipimpin langsung oleh Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani di Ruang Graita Eka Praja, Kantor Bupati Gresik pada Rabu, 1 Juli 2026. Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Dinas Sosial (Kadinsos)Gresik Ummi Khoiroh serta para pengelola LKSA se-Kabupaten Gresik.

Pada proses penjaringan sebelumnya, kuota peserta didik jenjang SMP dan SMA telah terpenuhi. Sementara itu, kuota jenjang SD masih menyisakan 30 kursi yang menjadi fokus percepatan. Secara keseluruhan, Sekolah Rakyat di Kabupaten Gresik menyediakan 270 kuota peserta didik baru. Setiap jenjang sebanyak 90 anak atau 3 rombongan belajar (rombel). Seluruh jenjang mulai SD, SMP, dan SMA yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga desil 1 dan desil 2.

Untuk memastikan proses penjaringan berjalan tepat sasaran, Dinas Sosial Gresik membentuk tim verifikasi berlapis yang bertugas memvalidasi data calon peserta didik sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan, keterlibatan LKSA memiliki peran strategis karena bersentuhan langsung dengan anak-anak yang membutuhkan perlindungan dan pendampingan. Melalui kolaborasi tersebut, pemerintah berharap tidak ada anak yang memenuhi persyaratan namun terlewat dalam proses penjaringan.

“Kami berharap LKSA yang sudah terakreditasi dapat ikut aktif mengusulkan anak-anak asuh yang memenuhi persyaratan. Ini adalah ikhtiar bersama agar tidak ada kuota yang terlewat dan anak-anak kita segera mendapatkan kesempatan belajar,” ujarnya.

Menurutnya, Sekolah Rakyat merupakan salah satu bentuk komitmen pemerintah dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. Program ini diharapkan menjadi jalan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk memperoleh layanan pendidikan yang layak sekaligus membuka peluang meraih masa depan yang lebih baik.

“Karena itu, kami berharap kuota jenjang SD dapat segera terpenuhi sehingga seluruh peserta didik bisa memulai kegiatan belajar mengajar tepat waktu pada 15 Juli mendatang,” imbuhnya.

Selain memastikan kesiapan penerimaan peserta didik tahun ajaran baru, Pemerintah Kabupaten Gresik juga tengah mempersiapkan pengembangan Sekolah Rakyat permanen. Bupati Yani menjelaskan, sekolah permanen tersebut akan berlokasi di Desa Raci Tengah, Kecamatan Sidayu, dengan layanan pendidikan yang mencakup jenjang SD, SMP, hingga SMA. Kehadirannya akan melengkapi Sekolah Rakyat rintisan yang sebelumnya telah beroperasi untuk jenjang SMA di Desa Mriyunan, Kecamatan Sidayu.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Gresik Ummi Khoiroh mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan seluruh LKSA agar proses penjaringan calon peserta didik berlangsung cepat, tepat sasaran, dan sesuai ketentuan.

“Kami optimistis sinergi seluruh LKSA akan mempercepat terpenuhinya kuota peserta didik sebelum tahun ajaran baru dimulai, sehingga seluruh proses pembelajaran dapat berjalan sesuai jadwal,” ungkapnya.

Sebagai tindak lanjut, Bupati Yani bersama Kepala Dinas Sosial mengajak seluruh pendiri dan pengelola LKSA meninjau langsung lokasi Sekolah Rakyat permanen di Desa Raci Tengah, Kecamatan Sidayu. Peninjauan tersebut dilakukan untuk melihat kesiapan sarana dan prasarana sekaligus memberikan gambaran mengenai lingkungan belajar yang akan menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya para peserta didik Sekolah Rakyat di Kabupaten Gresik. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Perluas Akses Pendidikan, Pemkab Gresik Gandeng LKSA Jaring Siswa Sekolah Rakyat Jenjang SD Selengkapnya