Keren, Film Gemintang Produksi Gresik Movie Masuk Festif, Diputar Perdana di Jogjakarta

GRESIK,1minute.id – Keren. Film pendek produksi Gresik Movie masuk dalam fasilitas Ide Sinema Kreatif (Festif) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekaf) 2020.

Film pendek berjudul “Gemintang” itu diputar perdana dengan 20 film pendek berbahasa daerah lainnya di Jogjakarta,  Minggu 29 November 2020 malam. 

Pemutaran film berdurasi 12 menit itu sekaligus launching Festif kerjabareng dengan JAFF (Jogja-NETPAC Asian Film Festival). Mengusung tema ‘Isolasi–keterasingan fasilitasi- ini menjadi wadah yang berperan untuk meningkatkan daya saing komunitas melalui film berbahasa daerah.

“Para peserta Festif datang dengan ide yang khas dari daerahnya dan perspektifnya menarik,”tutur Litani Tesalonika manajer Program Festif dalam siaran pers dari Gresik Movie kepada 1minute.id, Minggu malam. 
Yurico Abi dari Indonesian Film Community Network menambahkan bahwa film-film Festif yang diproduksi tidak sekadar menjadi portofolio komunitas. 

“Harapannya komunitas bisa bergerak lagi di sub sektor ekonomi kreatif, dan mengantarkan tidak pada ranah kompetisi saja namun bisa dalam peningkatan SDM,”tandasnya.

Festif diluncurkan di 15th JAFF ‘Kinetic’ pada Jumat 27 November 2020 di Kedai Kebun Forum, Jogyakarta.  Festif diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekaf) bekerjasama dengan Salaka Credu dan didukung oleh Indonesian Film Community Network ( IFCN ) , ini memberikan ruang dan apresiasi kepada pelaku perfilman dalam mengekspresikan diri di tengah pandemi.

JAFF digelar sejak  25-29 November 2020, memutar 57 film panjang dan 72 film pendek dari 29 negara se-asia pasifik. Dalam rangkaian festival ini, film Gemintang (Gresik Movie) diputar bersama film “Rundag” dari Tegal (Sinema Pantura).

Usai pemutaran film berbahasa daerah itu, dilanjutkan diskusi bersama Litani Tesalonika (Manajer Program Festif), Jaka Romadon (Sutradara Film Rundag), dan Irfan Akbar Prawiro (Sutradara Film Gemintang). Diskusi cukup gayeng. 

Ketika ditanya tentang responnya terhadap film Gemintang, Reza Fahriansyah, Program Director JAFF, menyatakan bahwa dirinya sangat suka dengan konsep dan model penggarapannya. 

“Selain film ini membicarakan tentang kota, film ini (Gemintang) berhasil membuat perspektif anak-anak menjadi hal yang sangat penting. Kita bisa melihat kota Gresik menjadi sesuatu yang sangat berbeda. Real dan kontekstual,”ungkapnya.

Untuk diketahui, film Gemintang menceritakan tentang dua orang anak yang mendapat tugas dari gurunya untuk menggambar bintang. Namun kesulitan sebab ketika ingin melihat bentuknya, langit di Gresik sedang dirundung mendung saat malam. Film ini diperankan oleh M. Baidlowie Azhari (sebagai Budi) dan Qaireen Khansa P. (Sebagai Kejora). (*)

Keren, Film Gemintang Produksi Gresik Movie Masuk Festif, Diputar Perdana di Jogjakarta Selengkapnya

Angkat Cerita Putri Campa Sebagai Tugas Akhir

Sejumlah mahasiswa ketika membawakan tari Champa,  karya Ni’matus Sa’diah , sebagai tugas akhir di Fakultas Seni Tari STKW Surabaya di halaman makam Putri Campa pada 9 Agustus 2020

GRESIK,1minute.id—Perjuangan Putri Campa belajar agama Islam di Kota Pudak menarik perhatian Ni’matus Sa’diah. Mahasiswa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya itu menjadikan migrasi saudagar kaya dari Kamboja dalam sebuah karya seni tari yang elok.  Gadis 22 tahun itu mempersiapkan karya berjudul Tari Champa  selama 9 bulan sebagai syarat tugas akhir sarjana strata 1 di Fakultas Seni Tari STKW Surabaya. 

Semula ada rencana tari berdurasi 15 menit ini akan ditampilkan di Taman Budaya Jawa Timur Cak Durasim. Merebaknya corona virus disease (Covid-19) membuyarkan mimpi gadis yang tinggal di Jalan Awikoen Madya Dalam, Desa Gending, Kecamatan Kebomas itu.

Meski tanpa musik gerakan para penari Putri Champa begitu gemulai. Para penari ini adalah mahasiswa gabungan dari perguruan tinggi di Surabaya dan Gresik ( foto : 1minute.id)

Ni’mah-sapaan-Ni’matus Sa’diah kemudian menampilkan karya tarinya dimainkan lima perempuan dari berbagai pergurun tinggi di Surabaya dan Gresik secara indie.  ”Pandemi korona sehingga saya pentaskan secara terbatas di Gresik,”kata Ni’mah pada Minggu, 9 Agustus 2020.

Pekan lalu, Ni’mah mengajak lima pemainnya untuk latihan di halaman Makam Putri Campa di Bukit Petukangan, Desa Gending, Kebomas. Sebelum latihan, mereka kulo nuwun kepada juri kunci makam Akhmad Syaifudin. Gerakan lima penari yang semuanya mahasiswa itu terlihat gemulai meski menari tanpa musik. Menggunakan kostum perpaduan warna merah dan putih gerakan membuat penampilan mereka cukup memukai. Meski hanya berupa potongan-potongan gerakan tari.

Ni’mah mengatakan, selama ini masyarakat menganggap Putri Campa hanya ada di Mojokerto.  ”Loh di Gresik apa juga ada putri Campa,”kata Ni’mah kemarin.  Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, Putri Campa yang makamnkan di Bukit Petukangan, Desa Gending, Kebomas itu berasal dari Kamboja. Dia migrasi ke Gresik untuk mencari ilmu hingga meninggal di Gresik. Kehadiran Putri Campa ini membuat banyak migran dari Kamboja ikut datang ke Gresik. 

 ”Dan, perjuangan Putri Campa ini diharapkan bisa menginspirasi masyarakat. Dan sampai sekarang khususnya daerah Gending mengingatkan Putri Campa . Saya pingin ungkapkan dalam karya tari, harapannya nanti banyak orang Gresik yang mengetahui tentang sejarah Putri Campa,”katanya. (*)

Angkat Cerita Putri Campa Sebagai Tugas Akhir Selengkapnya