Boleh Berwisata, Tetapi Harus Patuhi Prokes

GRESIK,1minute.id – Kapolres Gresik AKBP Mochamad Nur Azis mengunjungi dua destinasi wisata di Gresik Utara pada Rabu, 4 Mei 2022. Dua destinasi yang dikunjungi oleh Kapolres Azis didampingi Waka Polres Gresik Kompol Ari Galang Saputro serta pejabat utama (PJU) Polres Gresik itu adalah Selo Tirta Giri (Setigi) di Desa Sekapuk, Kecamatan Ujungpangkah dan Pantai Delegan di Desa Delegan, Kecamatan Panceng. 

Kunjungan Kapolres Azis bukan untuk rekreasi. Tapi, kedatangannya untuk memastikan pengelola dan pengunjung di dua destinasi wisata itu tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes). Sebab, pagebluk coronavirus disease 2019 belum seratus persen sirna. “Hal ini kami lakukan untuk mencegah terjadinya klaster baru saat momen libur sekarang ini. Terlebih kondisi Kabupaten Gresik belum aman dari penyebaran COVID-19,”ujar Kapolres Gresik AKBP Mochamad Nur Azis pada Rabu, 4 Mei 2022.

Mantan Kapolres Ponorogo ini juga membagi masker kepada pengujung yang tidak memakai masker demi kesehatan bersama. Selain itu, Perwira dua melati di pundak ini, memastikan kondisi kamtibmas aman dan kondusif di setiap tempat wisata serta fasilitas umum lainnya selama liburan ini. 

Sementara itu, Kapolsek Panceng AKP Didik Hariyanto maupun Kapolsek Ujungpangkah AKP Mutlakin juga menerjunkan personel  berjaga di area pintu masuk lokasi wisata dibantu personil BKO Polres Gresik. “Anggota kami mengecek setiap pengunjung yang akan masuk. Supaya, bisa diketahui apabila ada yang tidak menggunakan masker,” kata Didik. 

Kapolsek Ujungpangkah AKP Mutlakin menambahkan bahwa bagi masyarakat yang tidak menggunakan masker, akan langsung ditegur. “Kami mengingatkan walau sudah di vaksin bukan berarti tidak bisa tertular virus covid19,semoga pademi ini segera berlalu,” tambah Mutlakin. (yad)

Boleh Berwisata, Tetapi Harus Patuhi Prokes Selengkapnya

Sediakan 530 Porsi Sanggring Kolak Ayam

GRESIK,1minute.id –  Panitia Sanggring Kolak Ayam mematangkan kegiatan tahunan. Kegiatan tahunan setiap 23 Ramadan. Tahun ini, Sanggring Kolak Ayam ke-497 akan digelar pada Ahad, 24 April 2022. Tradisi yang masuk Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WTBI) dipusatkan di Masjid Jamik Sunan Dalem di Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik ini diprediksi bakal lebih ramai dibandingkan dua tahun terakhir karena pandemi Covid-19.

Selama dua tahun pengunjung tradisi yang nyaris menyentuh 5 abad ini dibatasi bertujuan mencegah persebaran wabah berawal dari Wuhan, Tiongkok itu. Sehingga, Kolak Ayam hanya dibagikan kepada warga Desa setempat. “Tahun ini untuk umum. Tetapi, tetapi mematuhi protokol kesehatan,”kata Didik Wahyudi, salah satu panitia Sanggring Kolak Ayam ke-497 dikonfirmasi 1minute.id pada Ahad, 17 April 2022.

Tahun ini, panitia akan memasak 530 porsi Kolak Ayam. “Satu porsi bisa untuk 20 orang sampai 25 orang,”terang Didik.  Untuk memasak ratusan porsi Kolak Ayam itu, panitia membutuhkan ayam 250 ekor ; gula merah 750 kg ; kelapa 700 butir ; jinten bubuk 50 kg ; bawang daun 200 kg dan air 1.500 liter. “Kami sediakan lebih banyak dari tahun lalu,”katanya. Dua tahun belakangan panitia menyediakan 250 porsi sampai 350 porsi. Untuk diketahui, panitia Sanggring Kolak Ayam ini semua kaum adam. Mulai belanja, meracik bumbu, memasak hingga menyajikan kepada masyarakat semua kaum adam.  

Kolak Ayam ini  disajikan untuk berbuka bersama di masjid Jamik Sunan Dalem. Kolak ayam merupakan makanan takjil atau makanan pembuka untuk berbuka puasa yang sifatnya hanya sementara. Tradisi ini berasal dari suatu riwayat, di saat pelariannya di Desa Gumeno, Sunan Dalem jatuh sakit dan dapat disembuhkan dengan memakan Sanggring ini. 

KOLAK AYAM : Panitia Sanggring Kolak Ayam melayani warga menu Kolak Ayam sebelum mendapatkan kuah dengan wadah ember pada peringatan.( FOTO : Chusnul Cahyadi/1minute.id)

Menurut Babad Gresik, Sunan Dalem adalah putra dari Sunan Giri yang memerintah di Giri Kedaton. Sunan Giri meninggal pada 1506 M, kemudian kekuasaan Giri Kedaton digantikan oleh putranya yaitu Sunan Dalem.  Di tengah kebingungan penduduk tersebut, Sunan Dalem  mendapat petunjuk dari Allah SWT lewat mimpi agar membuat suatu masakan untuk obat. Esok harinya Sunan Dalem memerintahkan semua penduduk supaya membawa seekor ayam jago berumur sekitar satu tahun atau jago lancur ke Masjid.

Maka segera lah semua penduduk membawa seekor ayam jago untuk dimasak dengan santan kelapa, jinten, gula merah dan bawang daun. Setelah masakan selesai, Sunan Dalem memerintahkan kepada penduduk Gumeno agar membawa ketan yang sudah dimasak. Pada saat itu bertepatan dengan Bulan Ramadan sehingga ketika tiba waktu Maghrib (waktu berbuka puasa), Sunan Dalem dan semua penduduk berbuka bersama di masjid. Akhirnya Sunan Dalem mendapat Hidayah, Ma’unah serta Inayah dari Allah sehingga beliau sembuh dari sakit yang dideritanya setelah menyantap masakan tersebut. (yad)

Sediakan 530 Porsi Sanggring Kolak Ayam Selengkapnya

Rumah Adat Osing, Desa Kemiren, Sisa Masyarakat Blambangan

BANYUWANGI, 1minute.id- Rumah Adat Osing tertata rapi. Saling berhadap-hadapan. Rumah adat itu berbahan  dari kayu. Tembok dari anyaman bambu. Gebyok dan pagar rumah terbuat kayu. Bentuk bangunan nyaris sama satu sama lainnya. Jalannya resik. Suasana di kampung Rumah Adat Osing itu terasa nyaman. Ayem. Sanusi, 89 tahun salah satu penghuni rumah adat Osing itu. Kakek 6 cucu itu tinggal bersama istrinya yang terkena stroke.  Pasutri itu duduk di gang kecil di samping rumah pada Sabtu, 19 Maret 2022.

RAMBU : Arah petunjuk jalan menuju rumah adat Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi pada Sabtu, 19 Maret 2022 (FOTO: Chusnul Cahyadi/1minute.id)

Istri Sanusi mengunyah susur. Sanusi menikmati ngudut. Sanusi dengan ramah mempersiapkan wartawan  1minute.id  dan tujuh wartawan lainnya masuk ke dalam rumah. “Saya buka kan pintu depan dulu ya,”kata bapak 4 anak dan 6 cucu itu.  Namun, delapan wartawan, termasuk 1minute.id mengikuti Sanusi masuk lewat pintu samping rumah. Lewat dapur.

Dapur rumah Sanusi ukuran sekitar 4 meter persegi. Dinding dapur terbuat dari anyaman bambu (ghedek). Sinar matahari bisa menerobos masuk lewat lubang anyaman bambu.  Perkakas dapur alami. Kompor menggunakan kayu bakar. Lantai plesteran semen. Tapi, dapur terlihat bersih. Tidak ada perkakas berserakan. Apalagi belum di cuci. “Tadi Saya masak. Ayo makan,”ajak Sanusi.

PENDUDUK ASLI : Sanusi dan istrinya duduk santai di gang sempit samping rumahnya di kampung Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi pada Sabtu, 19 Maret 2022 (FOTO : Chusnul Cahyadi/1minute.id)

Sanusi masak sendiri karena istri belum pulih kesehatan akibat serangan stroke. Sehari-hari, Sanusi bertani. Selain tandur, merawat istri. Karena anak dan cucu tidak tinggal satu rumah dengan Sanusi. Setelah menunjukkan kondisi dapur, Sanusi masuk ruang utama. Di ruang utama itu, terdapat sekat kamar tidur dan meja tamu. Untuk menerangi ruang tamu, Sanusi membuka pintu depan rumah. “Kalau dinding kamar kayunya lama. Kayu jenis Tanjang. Kayu hutan,”jelasnya. 

BERSIH : Ini bagian dapur rumah Sanusi di kampung adat Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi pada Rabu, 19 Maret 2022 (FOTO : Chusnul Cahyadi/1minute.id)

Sanusi, penduduk asli  Dusun Kedaleman, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Untuk menuju kampung ini, wisatawan menyusuri kampung kemudian menyeberangi jembatan dan jalan menanjak. Suasana masih asri. Sehingga terasa nyaman karena rindang mesti terik matahari. 

Dalam prasasti yang ditulis di sebuah lembar papan kayu dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris ) disebutkan Kemiren dari kata Kemiri dan Duren. Dahulu banyak bumbu pohon Kemiri dan Durian. Desa Kemiren dihuni oleh masyarakat suku Osing-suku asli Banyuwangi. Atau sisa masyarakat Blambangan. 

SEJARAH SINGKAT: Prasasti tertulis di selembar kayu menceritakan tentang sejarah Desa Kemiren yang terdapat rumah Adat Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi pada Sabtu, 19 Maret 2022 ( FOTO: Chusnul Cahyadi/1minute.id)

Kepala Desa pertama bernama Walik menjabat pada 1657. Desa Kemiren milik banyak keunikan mulai dari Adat, tradisi, kesenian, kuliner hingga pola hidup masyarakat yang masih dijaga masyarakat setempat. 
Sanusi berpesan kepada anak-anak muda untuk menjaga tradisi dan tidak neko-neko.  “Hidup lah yang jujur. Jujur itu tidak ada masanya,”katanya dengan bahasa Osing. (yad)

Rumah Adat Osing, Desa Kemiren, Sisa Masyarakat Blambangan Selengkapnya

Kran Mudik Dibuka, Tempat Wisata Ini Layak Dikunjungi 

BANYUWANGI,1minute.id – Pemerintah membuka kran mudik lebaran Idul Fitri 1443 Hijriah/2022 Masehi. Kesempatan bagi pengelola wisata untuk menarik wisatawan setelah 2 tahun pemerintah melarang mudik lebaran karena pandemi.  Pengelola destinasi wisatawan berlomba menarik wisatawan. Kalau Anda belum  punya agenda mlaku-mlaku mengunjungidestinasi wisata di Banyuwangi, Jawa Timur bisa mengunjungi Kampung Osing dan Bangsring Underwater. Dua destinasi ini menawarkan sensasi dan cerita berbeda. 

1. Bangsring Underwater    

BERCENGKRAMAH : Wartawan 1minute.id ketika melakukan snorkeling di Bangsring Underwater, Banyuwangi pada Jumat, 18 Maret 2022 (Foto for 1minute.id)

Destinasi wisata ini lokasinya di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi.  Bangsring Underwater (Bunder) adalah wana wisata. Wisata buatan yang melestarikan biota laut sehingga menjadi tempat snorkeling yang menyajikan sensasi pberbeda. Pengunjung bisa bermain dan seakan bisa “bercengkrama” dengan biota laut.

Ikan-ikan berbagai jenis dan ukuran yang setia menyapa penyelam yang membawa makanan. Apa makanan Ikan di Bunder? Ikan dibawah Rumah terapung sekitar 300 meteran dari bibir pantai sangat menyukai roti. Sejenis roti tawar. Roti itu cukup di genggam ketika wisatawan melakukan snorkeling. Sedikit demi sedikit roti disebar ratusan bahkan ribuan jenis ikan mendatangi. Ikan-ikan itu seakan mengajak penyelam bercengkramah. Suatu sensasi menyenangkan.     

Penyelam bisa mengabadikan kegiatan di dalam pantai itu menggunakan kamera bawah laut atau menggunakan bantuan pemandu wisata. Destinasi Bunder Banyuwangi  menjadi tempat alternatif berkunjung kembali berada di Banyuwangi. Bagi wisatawan yang tidak bisa berenang bisa menikmati pemandangan bawah laut di Bunder ini. Tentu harus memakai pelampung dan pemandu wisata.      Ditempat ini wisatawan bisa juga memesan degan atau makan. Wisatawan merasa dimanjakan disini.

SPOTFOTO : Salah satu spotfoto di Bangsring Underwater pada Jumat, 18 Maret 2022 ( FOTO : Chusnul Cahyadi/1minute.id)

Wartawan 1minute.id telah mengunjungi  Bunder  sebelum Ramadan 1443 Hijriah, tepatnya. 18-19 Maret 2022. Tiba lokasi sekitar pukul 08.30. Pagi itu, Bunder masih lengang. Sinar matahari tidak terlalu menyengat. Air pantai sangat jernih. Setelah ganti sewa pelampung kemudian naik perahu 5 menit menuju rumah terapung tempat snorkeling. Potensi Bunder sebenarnya dimiliki di Kabupaten Gresik. Tepatnya, di Pulau Bawean. Biota laut juga elok.  Seperti Pantai Noko Selayar, tempat favorit bagi penggemar snorkeling. (bersambung/yad)

Kran Mudik Dibuka, Tempat Wisata Ini Layak Dikunjungi  Selengkapnya

Eduwisata KPI Tawarkan Aneka Buah, Cocok Untuk Bukber Puasa


GRESIK,1minute.id – Kebun Pak Inggih (KPI) menjadi jujugan masyarakat dan para pelajar. KPI yang lokasinya berdekatan dengan destinasi wisata Selo Tirta Giri (Setigi) di Desa Sekapuk, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik itu menawarkan sensasi berbeda.

Di destinasi anyar ini, pengunjung bisa menikmati aneka buah. Sangat cocok bagi pelajar sebagai eduwisata. Abdul Halim, pengelola KPI mengatakan, Agrowisata Kebun Pak Inggih berbeda dengan destinasi lainnya. Sebab, di KPI ini tumbuh aneka buah. “Bahkan tanaman buah yang nyaris punah di budidaya di Agrowisata KPI,”ujar Abdul Halim yang juga Pak Inggih-sebutan lain-kepala desa (Kades) Sekapuk itu pada Senin, 28 Maret 2022. 

Tanaman nyaris punah itu antara lain Juwet Putih, Trenggulun, Mojopahit, Mojolegi, Plum Manila dan Anggur Pohon. Selain tanaman buah langka, wisatawan juga bisa menikmati buah Manggis, Rambutan, Matoa, Matalada, Kelengkeng Merah,  Durian dan Belimbing. 
Kebun Pak Inggih memiliki luas lahan 2,5 hektar. Lokasi berdekatan dengan destinasi wisata Setigi yang sudah kesohor itu.

Dua destinasi itu, dikelola oleh Pemerintah desa (Pemdes) setempat melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Kades Abdul Halim adalah CEO-nya. Inisiator berdirinya dua destinasi wisata yang telah mengubah perekonomian warga desanya itu. 

Halim mengatakan, selain tanaman buah, KPI juga terdapat tanaman bunga. ” Banyak titik taman dan jenis bunga yang bisa buat latar foto dan video anda, belum lagi spotfoto instagramable sudah disiapkan untuk anda para pengunjung agrowisata yang sangat istimewa,”katanya. 

Selama bulan suci Ramadan,  agrowisata KPI buka mulai pukul 09.00 sampai 18.00 WIB. Sedangkan, Wisata Setigi  buka mulai pukul 09.00 sampai pukul 17.00 WIB. “Buka puasa bersama (bukber) di KPI akan semakin nikmat,”katanya. (yad)

Eduwisata KPI Tawarkan Aneka Buah, Cocok Untuk Bukber Puasa Selengkapnya

Wisata Heritage Kampung Pecinan Gresik, Klenteng Tertua di Jawa yang Kesohor Ciamsi

GRESIK,1minute.id – Pemerintah Kabupaten Gresik bakal menjadikan Kampung Pecinan menjadi destinasi wisata di Gresik. Kampung Pecinan berlokasi di Jalan Setiabudi, Desa Gapurasukolilo, Kecamatan Gresik telah dilakukan revitalisasi oleh Dinas Cipta Karya, Perumahan dan Kawasan Permukiman (CK PKP) Gresik. 

Revitalisasi dalam program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku), salah satu Program Nawa Karsa, Gresik Lestari akan dilanjutkan tahun ini. Ada tujuh ruas jalan yang bakal di sulap menjadi kawasan yang lebih ciamik. Tujuh ruas jalan itu adalah Jalan Basuki Rahmat ; AKS Tubun; Agus Salim ; KH Zubair ; Malik Ibrahim dan Setiabudi.

Mengapa Kampung Pecinan? Kampung ini terdapat bangunan rumah lawas peninggalan Kolonial Belanda. Di kampung itu juga terdapat tempat ibadat warga Tionghoa. Tempat Ibadat itu adalah Klenteng Kim Hin Kiong. Prasasti yang ditempel di klenteng alias Tempat Ibadat Tri Dharma (TITD) tertulis berdiri 1 Agustus 1153 Masehi. Kini, telah berumur 869 tahun. 

Artinya lebih tua dari lahirnya Kota Gresik. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 38/1974 , Hari Jadi Kota Gresik pada 9 Maret 1487 dan Hari Pemkab Gresik pada 27 Februari 1974. Tahun ini, Hari Jadi ke-535 Kota Gresik dan HUT ke-48 Pemkab Gresik. 

Infrastruktur jalan di kampung Pecinan sudah tertata lebih elok. Enak dipandang mata. Eksterior seperti penerangan jalan umum (PJU)-nya berornamen khas Tionghoa. Kabel listrik tidak semrawut karena di bawah tanah. 

Ketua TITD Kim Hin Kiong Budi Prasetyo Tedjo memberikan apresiasi langkah Pemkab Gresik melakukan revitalisasi Kampung Pecinan itu. “Kalau memang telah menjadi kebijakan Pemerintah, kami dari Klenteng Kim Hin Kiong sangat mendukung,”kata Budi Prasetyo Tedjo usai ritual Sembayang menyabut Tahun Baru Imlek pada Selasa dini hari, 1 Februari 2022.

Budi berharap, penetapan Klenteng Kim Hin Kiong sebagai kawasan heritage akan menjadikan Klenteng lebih ramai. Lebih banyak orang yang bersembayang di Klenteng ini. Meski selama umat Tionghoa yang melakukan ritual sembayang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka berasal dari Tangerang, Jakarta, Bekasi atau Semarang, Jawa Tengah dan lainnya. Warga Tionghoa dari luar Gresik kalau pergi ke Surabaya pasti mampir sembayang di Klenteng ini.

“Klenteng ini tertua di Jawa,”tegas Budi didampingi sejumlah orang pengurus TITD Kim Hin Kiong itu.
Selain Klenteng tertua di Jawa, lanjutnya, Klenteng Kim Hin Kiong ini juga sangat dikenal dengan memiliki obat paling mujarab alias Ciamsi bagi pemeluk Tri Dharma (Buddha, Taoisem, dan Konfusius). Masih menurut Budi,  ciamsi obat dan ciamsi mengenai nasib.

“(Ciamsi) sangat-sangat cocok,”tegasnya. Terkait revitalisasi yang telah dilakukan Dinas CK PKP Gresik,  Budi mengaku sangat senang. Sebab, revitalisasi yang dilakukan membuat suasana kampung Pecinan semakin bagus.”Penataan sangat senang, bagus sekali. Lebih rapih, lebih bersih dan lebih cerah, Terutama malam hari,”tegasnya. 

Klenteng Kim Hin Kiong juga menjadi saksi dari toleransi beragama yang ada di Gresik. Meski berada di daerah mayoritas pemeluk agama Islam, tapi umat Tionghoa  dan warga sekitar bisa saling menghormati. (yad)

Wisata Heritage Kampung Pecinan Gresik, Klenteng Tertua di Jawa yang Kesohor Ciamsi Selengkapnya

APBN Gelontorkan Anggaran, APBD Suppport Revitalisasi Kawasan Heritage di Gresik Kota Lama

GRESIK,1minute.id – Hujan baru saja reda sekitar pukul 18.35 pada Selasa, 18 Januari 2022. Paving jalan Kampung Pecinan di kawasan Kelenteng Kin Hin Kiong itu masih terlihat basah. Lampu penerangan jalan umum (PJU) di Kampung berlokasi di Jalan Setiabudi, Kecamatan Gresik itu sudah menyala. 

Kampung terlihat semakin ciamik. PJU itu nyala kali pertama pascarevitalisasi kawasan heritage di Gresik Kota Lama kelar medio Desember 2021. Malam itu Ida Lailatussa’adiyah, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Gresik terlihat di Kampung tersebut. Mantan Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Gresik itu didampingi salah satu kepala bidang datang untuk menyalahkan setrum listrik PJU itu. 

“Kami malam ini menyalahkan listriknya,”ujarnya. Kabel PJU di kawasan Kelenteng tidak lagi semrawut karena kabel listrik ditanam. Kampung Pecinan pun semakin elok. Mata tidak lagi sepet ketika berada di kawasan yang terdapat tempat peribadatan penganut tiga agama, Tempat Ibadat Tri Dharma (TITD) Kim Hin Kiong itu. “Untuk sementara ini, listrik masih menggunakan token,”imbuhnya. 

Warga Tionghoa yang bakal merayakan Tahun Baru Imlek tahun ini akan merasakan suasana berbeda. Revitalisasi kawasan Heritage di Gresik Kota Lama tahun ini dilanjutkan oleh DPKP. Ada 6 dari 7 ruas lainnya yang akan dikerjakan dengan anggaran dari APBN sebesar Rp 38 miliar. Enam ruas itu adalah kawasan Jalan Basuki Rahmat, AKS Tubun,  Kramatlangon,  KH Zubair, Agus Salim dan Malik Ibrahim. Satu ruas telah kelar dikerjakan adalah Kampung Pecinan itu. 

CIAMIK : Kepala DPKP Gresik Ida Lailatussa’adiyah di Kampung Pecinan Jalan Setiabudi, Kecamatan Gresik yang semakin ciamik usai revitalisasi kawasan Heritage di Gresik Kota Lama pada Selasa malam, 18 Januari 2022 (Foto: DPKP for 1minute.id)

Revitalisasi kawasan Heritage di Gresik Kota Lama yang digagas oleh DPKP ini, salah satu program Nawa Karsa, Gresik Lestari. APDB Gresik 2022 akan mensupport kawasan permukiman pribumi seperti Kampung Kemasan ; Kampung Bedilan dan Kampung Pulopancikan. Kampung Kemasan terdapat bangunan rumah tinggal milik warga yang dibangun mulai 1898. Arsitektur bangunannya memadukan konsep Jawa, Kolonial dan Tionghoa. Kawasan ini selama ini menjadi jujugan wisatawan minat khusus. 

Wisatawan tidak hanya dari dalam negeri, tapi manca negara. Sebagai besar adalah mahasiswa jurusan arsitektur. Antara lain , puluhan peserta Community and Technological (CommTECH) Camp Highlight 2019. Peserta program singkat musim panas yang digelar ITS itu berasal dari Tiongkok, Taiwan, Thailand, Bangladesh, Vietnam, Kamboja, Malaysia, Korea Selatan, Amerika Serikat, Polandia, Hungaria, dan Rusia.

Para mahasiswa tersebut dibagi dalam dua kelas. Yakni, kelas A mengusung tema  Exploring Indonesian Art and Culture dan kelas B berjudul Smart Living itu melakukan kunjungan pada 15 Juli 2019. Di kawasan Basuki Rahmat terdapat bangunan kuno era Kolonial Belanda. Ada kantor Pos Pelabuhan, Bangunan atau monumen gardu sauling (Garling) yang lokasi di simpang tiga Jalan Raden Santri, HOS Cokroaminoto dan Basuki Rahmat di Kelurahan Bedilan, Kecamatan Gresik. Ada juga bekas Wedana yang kini menjadi Rumah Dinas (Rumdin) Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah. 

Sedangkan di Pulopancikan terdapat Kampung Arab yang tertua di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik. Kampung ini muncul dan berkembang seiring penyebaran Islam yang dilakukan oleh Sunan Maulana Malik Ibrahim. Kampung Pulopancikan masih dapat mempertahankan eksistensinya. Berbagai peninggalan masa lampau masih dapat dijumpai di kampung ini.

Ida Lailatussa’adiyah mengatakan, konsep revitalisasinya nanti tematik. Disesuaikan dengan sejarah masa lampau. Revitalisasi nanti berupa pembangunan saluran air terdapat pedistrian, penerangan jalan, pavingisasi dan lainnya. “Untuk konsepnya kita sesuaikan dengan kawasan tersebut,”ujarnya. (yad)

APBN Gelontorkan Anggaran, APBD Suppport Revitalisasi Kawasan Heritage di Gresik Kota Lama Selengkapnya

Jelang Imlek, Kampung Pecinan Semakin Ciamik

GRESIK,1minute.id – Kampung Pecinan semakin elok. Warga Tionghoa yang bakal merayakan Tahun Baru Imlek di TITD Kim Hin Kiong akan merasakan suasana berbeda. 

Kampung Pecinan berlokasi di Jalan Setiabudi, Gresik itu lebih ciamik. Lantai paving tiga warna sehingga menimbulkan kesan 3D. Yakni, hitam, merah dan abu-abu mirip lantai kawasan kasino di Makau, Tiongkok. Lampu penerangan jalan juga bernuansa Tionghoa. Sayangnya, dalam pengamatan wartawan 1minute.id,  kabel penerangan jalan umum (PJU) masih semrawut. “Bagus, tapi kabel belum di tata. Kalau malam lampu belum menyala,”kata Rokimah, pengguna jalan tersebut. 

Dalam maket revitalisasi di kawasan Gresik Kota Lama, kabel PJU itu tertanam bawah tanah. Revitalisasi dilakukan oleh Dinas Perumahan dan KawasanPermukiman  (DPKP) Gresik

Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Biroaksi RI Nomor 963 Tahun 2021, Nomor 3 Tahun 2021, dan Nomor 4 Tahun 2021 Tentang Hari Libur dan Cuti Bersama Tahun 2022. 

Imlek tanggal berapa? merujuk pada surat keputusan tersebut muncul hasil bahwa Tahun Baru  Imlek 2022 jatuh pada 1 Februari 2022 dan bertepatan dengan hari Selasa. (yad)

Jelang Imlek, Kampung Pecinan Semakin Ciamik Selengkapnya

Gus Menteri Terpesona Keindahan Destinasi Wisata Setigi, KPI dan Wagos

GRESIK,1minute.id – Pesona desa wisata di Gresik Utara menarik perhatian Abdul Halim Iskandar, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT). Ada tiga destinasi wisata yang dikunjungi oleh Gus Menteri-sapaan akrab-Abdul Halim Iskandar pada Jumat, 15 Oktober 2021.

Tiga destinasi alam buatan itu ada Selo Tirta Giri (Setigi) dan Kebun Pak Inggih. Keduanya di Desa Sekapuk, Kecamatan Ujungpangkah. Satu lagi, Wisata Gosari (Wagos) di Desa Gosari, Kecamatan Ujungpangkah. 
Kali pertama yang dijujug oleh Gus Menteri bersama istri, Lilik Umi Nasriiyah destinasi wisata Setigi dan KPI.

Gus Menteri disambut Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah, Ketua DPRD Gresik Much Abdul Qodir, anggota DPRD Jatim Fauzan Fuadi dan Uviq Zuroidah, Ketua Fraksi PKB DPRD Gresik Syahrul Munir, Kepala Desa Sekapuk Abdul Halim dan pendamping desa se-Gresik.

Gus Menteri salut dengan keberadaan wisata Setigi dan KPI. Dua wisata ini murni dibangun oleh pemerintah desa (Pemdes) bersama berbagai elemen melalui swadaya masyarakat. Kemandirian ini, membawa keberhasilan Desa Sekapuk membangun megah dua wisata eksotis yaitu Setigi dan KPI. Bahkan, wisata Setigi dulunya merupakan tempat pembuangan sampah.

“Saat ini saya berada di wisata Setigi Desa Sekapuk, dimana dulunya ini adalah tempat pembuangan sampah, namun oleh Kepala Desa dan pemerintah desa bersama masyarakat bersama-sama membangun wisata yang sangat indah, sangat luar biasa sekali,”puji Gus Menteri.

Gus Menteri juga merespon positif keinginan Kades dan pengelola wisata untuk menghadirkan kapal yang akan diberi nama Bukan Kapal Nuh (BKN) dan diletakkan di Setigi sebagai simbol kebangkitan Gresik yang dulunya dikenal sebagai Kota Syahbandar.
“Saya akan berkoordinasi dengan Menteri Perhubungan terkait pengadaan kapal bekas sebagai simbol kebangkitan Gresik yang dulu dikenal dengan Kota Syahbandar,”tandasnya.

Gus Menteri melanjutkan kunjungan ke destinasi Wagos. Gus Menteri bahkan menyempatkan cuci muka di sebuah sendang yang usianya telah berabad-abad lamanya.

“Bagus sekali wisata Wagos di Desa Gosari ini, ada tamannya, ada kolamnya, dan menariknya ada sendang yang usianya sudah berabad-abad dan katanya bisa bikin awet muda, tadi saya sempat cuci muka disana,” ujar Gus Menteri sembari memperagakan saat cuci muka.

Dalam kunjungannya,  Mendes PDTT dan rombongan menikmati panorama dengan berselfi di sejumlah lokasi instagramable. Seperti di Jorongan Batu Kars (JBK), Tangga Derajat, dan di Jembatan Peradaban Danau Jamrud Setigi. Tak ketinggalan juga Monumen Ratu Agro di KPI dan Taman Cakradewi di Wagos Gosari. (yad)

Gus Menteri Terpesona Keindahan Destinasi Wisata Setigi, KPI dan Wagos Selengkapnya

Destinasi KPI Kini Dilengkapi Monumen Ratu Agro yang Penuh Filosofi, Penasaran ?

GRESIK,1minute.id – Satu lagi destinasi wisata hadir di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik. Destinasi itu bernama Kebun Pak Inggih (KPI). Lokasinya di samping destinasi wisata Selo Tirta Giri (Setigi).

Destinasi KPI dan Setigi ini milik pemerintah desa (Pemdes) Sekapuk, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik. 
Destinasi wisata anyar itu dilengkapi dengan Monumen Ratu Agro yang diresmikan pada Selasa, 12 Oktober 2021. “Dibangunnya Monumen Ratu Agro ini memiliki tujuan agar nantinya para pengunjung mudah mengingat agrowisata KPI (Kebun Pak Inggih),”ujar Kepala Desa (Kades) Sekapuk Abdul Halim saat meresmikan monumen bersama seluruh perangkat desa, BPD, Bumdes, PKK, RT/RW, Pokdarwis dan Karang Taruna itu. 

Ratu Agro, kata Abdul Halim, adalah Ratu yakni wanita yang memimpin atau istri pemimpin. Namun maksud di sini dengan harapan wisata ini bisa menyajikan kecantikan tata ruang, dan keanggunan taman yang tertata rapi agar pengunjung lebih santai. 

“Sedangkan, Agro memiliki arti tanah, dengan harapan agar semangat masyarakat dan pengunjung membuat tanah yang kami bangun ini bisa lebih produktif dan lebih bermanfaat dari sebelumnya,”ungkap AHA-julukan-Abdul Halim. Ia menjelaskan, makna detail bangunan dari Monumen Ratu Agro. Ada anak tangga yang berjumlah sebelas (sewelas), menggambarkan setiap menapaki langkah untuk naik harus dapat ‘welasan’ (izin/ dukungan) dari lingkungan dan dari yang Maha Berkehendak.

Sedangkan tiga titik surya di monumen Ratu Agro terdapat bergambar Trisula yang bermakna sebagai pengingat kita bersama. Trisula yakni sebuah tombak bermata tiga, yang maksudnya adalah bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu.Sekaligus tiga sifat penting yang harus diterapkan untuk menjalani proses, yaitu: benar, lurus, dan jujur.

Tugu utama dengan jumlah 9 tingkat/pilar untuk mengingatkan jika tlatah ini berada di kawasan dakwah 9 wali (wali songo).Tugu 4 yang mengelilingi dan satu tugu utama ( berjumlah 5 tugu ) menggambarkan 4 arah mata angin, sehingga kita bisa melangkah dengan tepat dan tidak lupa dengan kiblat.

“Jumlah lima tugu itu mengingatkan 5 waktu  dengan keutamaan salat subuh, bumi seisinya akan diserahkan untuk kita yang menunaikan,” jlentreh Kades yang berhasil mengubah Desa Tertinggal menjadi Desa Miliarder ini.

Sementara air mancur kelopak bunga dengan tujuh (pitu) tumpuk itu untuk mengingatkan sehebat apapun diri kita masih butuh pitulung, pitutur, pituduh, serta sumber itu adalah pemberian yang Kuasa, kapan pun bisa melimpah dan sebaliknya. Mengingat area KPI dulunya dikenal tidak ada sumber, bahkan dulunya ada perkampungan sampai pindah, sebab hilangnya sumber air.

Dari simbol tersebut, kita ingatkan kebesaran-Nya dan bersyukur kita punya 7 panutan dalam memahami kebenaran, yakni Rasul beserta empat sahabatnya Abubakar, Umar, Usman, Ali dan empat Mahzab Imam Syafii, Maliki, Hambali, dan Hanafi serta adanya waktu 7 hari, langit 7 lapis, bumi 7 lapis, dan air 7 warna. (yad)

Destinasi KPI Kini Dilengkapi Monumen Ratu Agro yang Penuh Filosofi, Penasaran ? Selengkapnya