Setigi itu Bikin Tangan Gatal untuk Cekrak-cekrik

Model memakai Gaun ala Drupadi, istri Pandawa dalam cerita Mahabarata ketika di destinasi Setigi pada Minggu 26 Juli 2020 ( foto : 1minute.id )

RELAKSASI mulai berdampak positif dalam dunia pariwisata. Wisata Selo Tirta Giri (Setigi), misalnya. Wisata alam memanfaatkan bekas bukit kapur itu ramai pengunjung , Minggu , 26 Juli 2020. Ratusan pengunjung memadati destinasi wisata berlokasi di Desa Sekapuk, Ujungpangkah itu.

Pengunjung wisata buatan yang memanfaatkan lahan bekas galian C seluas 2 hektare itu seakan terus mengalir. Datang dan pergi. Ditengah pandemi korona wisata ala mini menjadi jujugan masyarakat. Gresik, Surabaya, Lamongan dan sekitarnya.


Suasana wisata Setigi dengan jembatan peradaban yang ramai ( foto : 1minute.id)

Wisatawan tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk menikmati wisata yang dikelalo badan usaha milik desa (BUMDes) itu. Sebab, pengelola menarik harga tiket masuk Rp 15 ribu per pengunjung.  Di area wisata ini, ada beberapa spot yang bisa dinikmati pengunjung. Jembatan peradaban, misalnya. Jembatan  yang mengambarkan peralihan peradapan tradisional menuju era modern.

Panjang jembatan sekitar 200 meteran. Lebar 2 meteran. Dibagian ujung jemabtan bercat warna putih, terdapat tiga unit rumah adat Papua. Beratap serabut sapu warna hitam dan berdinding kayu. Instanable. Sedangkan, dibawah jembatan itu terdapat telaga dengan air warna hijau. Sejumlah anak-anak di dampingi orang tuanya sedang mengayuh berbentuk bebek dengan cara dikayuh itu.

”Baru sekali ini saya masuk sini. Spot fotonya sangat menarik,”ujar Surya Yetni, salah satu pengunjung Setigi. Minggu, 26 Juli 2020 destinasi itu juga dipenuhi sejumlah komunitas fotografi asal Gresik. Mereka sedang hunting bereng pemotretan model yang bertemakan Busana Drupadi. Perempuan tangguh, istri Pandawa  dalam cerita Mahabarata menggunakan gaun warna merah. Aktivitas para penggemar fotografi seakan menambah khazanah wisata Setigi.  ”Kami ingin menampilkan sosok Drupadi, karena dianggap perempuan tangguh,”ujar Ira, salah seorang make up artis (MUA) model berbusana Drupadi itu. (*)

Setigi itu Bikin Tangan Gatal untuk Cekrak-cekrik Selengkapnya

Wisata Buncob PG Semakin Menawan

Direktur Utama PG Rahmad Pribadi bersama jajaran manajemen ketika mengunjungi perluasan area uji aplikasi produk riset di Kebun Percobaan yang kini dilengkapi kafe dan resto tersebut. ( foto : humas Petrokimia Gresik)

GRESIK, 1minute.id—Eduwisata Kebun Percobaan PT Petrokimia Gresik semakin ciamik. Kebun seluas 7,5 hektare telah dilengkapi kafe dan restoran. Perluasan area uji aplikasi produk riset telah diresmikan oleh Direktur Utama (Dirut) PT Petrokimia Gresik beberapa waktu lalu. Akan tetapi, manajemen perusahaan solusi agroindustri anggota holding Pupuk Indonesia belum dibuka untuk umum.

Direktur Utama Petrokimia Gresik Rahmad Pribadi mengatakan, perluasan area uji aplikasi produk riset wujud implementasi semangat nasionalisme perusahaan. Dimana perluasan lahan riset ini menunjukkan arah pengembangan PG sebagai perusahaan berbasis riset untuk menghasilkan produk dan pelayanan solusi agroindustri untuk pertanian berkelanjutan.  ”Jika setiap tantangan atau permasalahan tersebut dapat kami hadirkan solusinya, tentu hal ini akan mendukung terwujudnya ketahanan pangan nasional, pertanian yang berkelanjutan, serta daya saing bangsa,”kata Rahmad.

Luas area riset dan kebun percobaan Petrokimia Gresik saat ini mencapai sekitar 7,5 hektar, yaitu terdiri dari 5 hektar kebun percobaan dan 2,5 hektar area perkantoran, delapan unit laboratorium, dan sejumlah mini plant produk pengembangan. ”Perluasan area riset ini juga sejalan dengan salah satu kunci keberhasilan Transformasi Bisnis Petrokimia Gresik, yaitu melahirkan ide atau gagasan baru untuk memperkaya diversifikasi produk agar mampu menjadi market leader dan dominant player di ranah agroindustri nasional,”katanya.

Fasilitas baru dalam area ini adalah rumah kaca, dua unit screen house, kolam ikan (hias dan konsumsi), pertanian hidroponik, area ternak (kelinci dan kalkun), area tanaman pangan (padi) yang terdiri dari tiga jenis (padi basmati, padi untuk lahan rawa, padi Japonica. Kemudian,  area tanaman hortikultura (tomat, terong, kol, bayam, sawi, dan selada), area tanaman buah (jambu, jeruk, pala, durian, srikaya, dan sebagainya).   ”Kami ingin meningkatkan kemampuan dan memperluas kapasitas kami dalam riset dan pengembangan teknologi budidaya pertanian,” ujarnya. 

Perluasan lahan riset ini juga dapat menjadi sarana agroekowisata bagi masyarakat sekitar. Dimana pengunjung dapat menikmati suasana kebun di tengah padatnya kota industri, sekaligus memperoleh edukasi mengenai budidaya pertanian. Selain itu, masyarakat juga dapat merasakan pengalaman baru, serta memperoleh pengetahuan secara langsung tentang beternak unggas, ruminansia (hewan pemamah biak), dan ikan. Pengunjung pun juga bisa merasakan sensasi memetik buah atau sayuran segar secara langsung.  ”Pada akhirnya program ini dapat meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap dunia pertanian yang merupakan jati diri bangsa sebagai negara agraris,”katanya.

Sekretaris Perusahaan PG Yusuf Wibisono menambahkan, semangat nasionalisme perusahaan dalam proyek ini juga diimplementasikan melalui pendirian  Mustikarasa Cafe dan Resto. Tempat ini merupakan bentuk penghargaan Petrokimia Gresik terhadap Sang Proklamator Kemeredekaan Republik Indonesia, dimana nama “Mustikarasa” sendiri diambil dari judul buku Presiden RI pertama Ir  Soekarno atau Bung Karno,”kata Yusuf pada Minggu, 23 Agustus 2020.

Yusuf menambahkan, fasilitas perluasan itu meski telah diresmikan akan tetapi belum dibuka secara umum.  ”Saat ini masih dimanfaatkan internal perusahaan. Nantinya, bila masa pendemi berangsur membaik tidak kemungkinan akan dibuka untuk umum. Agroeduwisata untuk masyarakat,”katanya. (*)

Wisata Buncob PG Semakin Menawan Selengkapnya

Peziarah ke Makam Putri Campa Mulai Mengalir

Gerbang masuk makam Putri Campa di bukit Petukangan, Desa Gending, Kecamatan Kebomas, Rabu 27 Juli 2020 ( foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

GRESIK, 1minute.id—Makam Putri Campa mulai ramai dikunjungi para peziarah. Meski akses masuk menuju makam putri asal Kamboja (kini bernama Vietnam) berada di Bukit Petukangan, Desa Gending, Kecamatan Kebomas itu masih cukup sulit di jangkau.

Akibat longsor yang diduga disebabkan banyaknya pembangunan kafe dengan menebangi pohon tidak menyurutkan niat masyarakat untuk ngalap berkah. Juri kunci Putri Campa Akhmad Syaifudin mengatakan, peziarah mulai ramai ke makam Putri Campa. Setiap hari, tambah lelaki 49 tahun, selalu ada rombongan peziarah yang datang untuk ngalap berkah. “Rombongan kecil. Biasanya naik mobil MPV,”kata Akhmad ditemui Rabu 27 Juli 2020.

Juru Kunci Makam Putri Campa Akhmad Saifudin di depan makam Putri Campa, Rabu 27 Juli 2020 ( foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

Pada malam Jumat, tambahnya, peziarah cukup banyak. Kondisi pandemi peziarah yang masuk secara bergiliran. “Mereka ada datang dari Jakarta, Surabaya bahkan luar Jawa,”jelas bapak empat anak itu. Akan tetapi, tambah Akhmad juri kunci Makam Putri Campa itu kunjungan peziarah turun drastis bila dibandingkan sebelum pandemi korona. Dalam pengamatan Jawa Pos, untuk menuju makam saudagar kaya dari Vietnam ini, peziarah melewati jalan setapak. Lebarnya sekitar 1 meter. Jalan alternatif berkonstruksi paving. Jalan tersebut dibangun masyarakat sekitar setelah jalan utama mengalami longsor.

Longsor bertahun-tahun dan belum diperbaiki. Kondisi saat ini, jalan longsor di Bukit Campa hanya ditutupi terpal plastik warna biru.  Makam Putri Campa memiliki arsitektur menarik. Cukup makam khas Campa dengan ornamen hias serta pewarnaan cerah. Pohon tumbuh rindang sehingga semilir angin semakin menyegarkan suasana. (*)

Peziarah ke Makam Putri Campa Mulai Mengalir Selengkapnya