Menjadi Gresik, Membaca Sejarah Kota dari Ingatan Warganya

GRESIK,1minute.id— Lembar-lembar kain menggantung di sepanjang jalan Kampung Kemasan. Di atasnya tersimpan potongan ingatan warga tentang Gresik: cerita tentang kampung, makanan, keluarga, kebiasaan, dan hal-hal kecil yang selama ini hidup dalam keseharian.

Di antara bangunan-bangunan tua yang berdiri sejak ratusan tahun lalu, lembaran kain itu menjadi semacam arsip terbuka. Pengunjung berjalan menyusuri kampung, membaca cerita, memasuki bangunan lama yang kini diaktivasi menjadi ruang pamer, sekaligus berjumpa dengan warga dan aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitarnya.

Pengalaman itu menjadi salah satu cara Festival Menjadi Gresik mengajak publik membaca kembali sebuah kota. Selama ini, kerap ditemukan dalam arsip, bangunan bersejarah, catatan perdagangan, kisah kerajaan, tokoh-tokoh besar, atau peristiwa politik. Semua itu penting untuk memahami perjalanan sebuah daerah. Namun, ada bagian lain dari sejarah yang tidak selalu tersimpan dalam dokumen resmi. Ia hidup dalam ingatan warga.

Dalam makanan yang dimasak secara turun-temurun. Dalam pakaian yang dikenakan dalam keseharian. Dalam tradisi kampung, cerita keluarga, bahasa, kebiasaan, dan pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Gagasan itulah yang menjadi titik berangkat Festival Menjadi Gresik, program yang digagas Yayasan Gang Sebelah dan berlangsung pada 15–30 Agustus 2026 di Kampung Kemasan, Gresik.

Festival ini mencoba menghadirkan cara lain untuk membaca kota, dengan menempatkan pengalaman, ingatan, dan pengetahuan warga sebagai bagian penting dari sumber kebudayaan.

“Menjadi Gresik berangkat dari kegelisahan bahwa sejarah kota sering kali diceritakan melalui narasi besar, sementara pengetahuan yang hidup dalam keseharian warga justru luput dicatat. Padahal, dari dapur, pakaian, makanan, kampung, hingga cerita yang diwariskan antargenerasi, kita bisa melihat bagaimana sebuah masyarakat membentuk identitas kotanya,” ujar Hidayatun Nikmah, Direktur Festival Menjadi Gresik.

Membaca Kota dari Hal-Hal yang Dekat

Menjadi Gresik tidak berangkat dari upaya mencari satu definisi tunggal mengenai Gresik. Sebaliknya, festival ini mencoba membuka berbagai pintu untuk memahami kota melalui hal-hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Dapur, pasar, kampung, makanan, pakaian, ruang bersejarah, hingga ingatan personal menjadi medium untuk melihat hubungan antara sejarah, identitas, dan kehidupan sosial.

Salah satu pendekatan yang digunakan adalah gastronomi. Makanan tidak hanya dipahami sebagai hidangan atau produk kuliner, tetapi sebagai pengetahuan yang memiliki hubungan dengan lingkungan, ekonomi, keluarga, sejarah, dan kehidupan sosial masyarakat.

Melalui Seri Gastronomi, Yayasan Gang Sebelah melakukan riset dan dokumentasi terhadap sejumlah makanan khas Gresik, antara lain bandeng keropok, jubung, dan bubur roomo.

Proses tersebut tidak berhenti pada pencatatan resep. Penelusuran dilakukan terhadap bahan baku, teknik pengolahan, cara penyajian, pelaku yang mempertahankan tradisi, hingga cerita dan ingatan yang menyertai perjalanan makanan tersebut.

Hasil riset kemudian dikembangkan dalam berbagai bentuk, termasuk film dokumenter yang mempertemukan pengetahuan para pelaku dengan masyarakat yang mungkin selama ini mengenal makanan tersebut hanya sebagai bagian dari keseharian.

Dengan cara itu, makanan dapat dibaca lebih jauh: sebagai jejak hubungan manusia dengan lingkungan tempat tinggalnya, sebagai penanda perubahan ekonomi, sekaligus sebagai medium yang menyimpan ingatan keluarga dan masyarakat.

Pendekatan serupa digunakan untuk membaca pakaian. Sarung, kebaya, songkok, dan berbagai bentuk busana yang dikenakan masyarakat Gresik tidak hanya diperlakukan sebagai benda atau atribut identitas. Pakaian dibaca melalui hubungan antara tubuh, kebiasaan, ruang sosial, serta perubahan cara masyarakat membangun dan menampilkan identitasnya.

Irfan Akbar, Direktur Program mengaku bahwa Festival ini ditujukan untuk memperkaya narasi tentang ke-Gresik-an, “Kami tidak sedang mencari satu definisi tentang Gresik. Justru kami ingin membuka ruang agar warga dapat menceritakan Gresik dari pengalaman mereka sendiri. Festival ini adalah salah satu cara untuk mempertemukan kembali ingatan yang tersebar itu, mendokumentasikannya, lalu membawanya kembali kepada publik.”

Kampung sebagai Arsip

Kampung Kemasan, Kelurahan Pekelingan, Kecamatan/Kabupaten Gresik menjadi salah satu ruang penting dalam cara festival ini bekerja. Kawasan bersejarah tersebut tidak hanya digunakan sebagai latar penyelenggaraan acara. Jalan-jalan kampung, bangunan lama, rumah warga, hingga ruang-ruang yang sebelumnya kosong ikut menjadi bagian dari pengalaman festival.

Beberapa bangunan tua di sepanjang Kampung Kemasan diaktivasi sebagai ruang pamer dan presentasi. Jalan kampung menjadi ruang berjalan dan membaca. Warga terlibat dalam berbagai kegiatan, termasuk membuka usaha mikro dan kuliner selama festival berlangsung.

Dengan demikian, ruang bersejarah tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang beku dan hanya dapat dipandang dari kejauhan. Ia kembali digunakan sekaligus menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan kehidupan hari ini.

Di satu sisi, pengunjung dapat melihat jejak arsitektur dan sejarah kawasan. Di sisi lain, mereka berhadapan dengan cerita-cerita baru, hasil riset, makanan, aktivitas warga, dan berbagai bentuk ekspresi kebudayaan yang sedang berlangsung. Kampung dan gang, dalam konteks ini, tidak hanya menjadi lokasi, namun menjadi arsip yang masih hidup.

Belajar Membaca dari Warga

Festival Menjadi Gresik juga merupakan bagian dari proses yang lebih panjang, melalui Besali Studi Kultural, sebuah ruang belajar kolektif yang mendorong riset berbasis pengalaman, ingatan kolektif, tradisi lisan, dan praktik kehidupan warga.

Melalui proses panggilan terbuka dan kurasi, delapan kelompok dari berbagai latar belakang terpilih untuk melakukan pengamatan, wawancara, dokumentasi, pengarsipan, dan pengembangan pengetahuan kebudayaan.

Kelompok tersebut berasal dari berbagai komunitas dan institusi, antara lain DKV Universitas Internasional Semen Indonesia, CYG Team, Kronika SMAN 1 Gresik, Power Art SMAN 1 Gresik, Gresik Book Party, Universitas Muhammadiyah Gresik, Universitas Sunan Gresik, dan Niti Narasi.

Selama prosesnya, mereka mendapatkan fasilitasi kelas, pendampingan, hingga kesempatan mempresentasikan hasil riset kepada publik. Beragam objek menjadi pintu masuk penelitian, seperti pakaian adat, percampuran budaya masyarakat Tionghoa dan Arab, arsitektur Kampung Kemasan, Pasar Pahing, songkok dan tas besali, gulat okol, aksara Gresik, hingga laban di kawasan Pangkah.

Pilihan objek tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak hanya berada dalam bentuk kesenian yang telah dikenal secara luas. Ia juga dapat ditemukan dalam benda sehari-hari, ruang, bahasa, tubuh, permainan, pekerjaan, dan pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman masyarakat.

Bagi Yayasan Gang Sebelah, proses tersebut penting karena banyak pengetahuan lokal masih bertahan secara lisan dan bergantung pada orang-orang yang menguasainya. Ketika pengetahuan tidak dicatat atau diteruskan, ia berisiko hilang bersama perubahan generasi. Karena itu, riset dalam program ini tidak semata-mata ditujukan untuk menghasilkan karya.

Sejarah yang Belum Selesai

Pameran, film, E-Magazine, dokumentasi gastronomi, dan presentasi hasil riset dalam Festival Menjadi Gresik tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir. Seluruhnya merupakan bagian dari upaya membangun arsip pengetahuan yang dapat terus dikembangkan, dibaca kembali, diperdebatkan, bahkan dilengkapi oleh generasi berikutnya.

“Bagi kami, merawat kebudayaan bukan hanya menyelamatkan sesuatu dari masa lalu. Yang lebih penting adalah menjaga pengetahuan agar tetap bisa digunakan, dibicarakan, dan dimaknai oleh generasi hari ini. Karena itu, Menjadi Gresik bukan tentang mengulang masa lalu, melainkan tentang memahami apa yang membuat kita menjadi Gresik hari ini,” ujar Hidayatun Nikmah.

Menjadi Gresik mencoba memulai pembacaan dari tempat dan hal-hal yang sering kali tampak sederhana. Makanan yang dimasak di rumah, pakaian yang dikenakan, cerita yang disampaikan orang tua, tradisi yang dijalankan bersama, dan ingatan tentang tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari kehidupan. Melalui festival ini, warga tidak hanya ditempatkan sebagai penonton sejarah kotanya sendiri. Dan dalam ingatan yang mereka simpan, sebuah kota terus menemukan cara untuk menjadi dirinya sendiri. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Menjadi Gresik, Membaca Sejarah Kota dari Ingatan Warganya Selengkapnya

Pertama Pasca Covid-19, Gresik Merdeka Carnival Digelar Pemkab Gresik, Bupati-Wabup Naik Trailer Hias Naga Giri

GRESIK,1minute.id – Karnaval mobil hias kembali digelar oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik pada Sabtu, 29 Agustus 2026 setelah vakum sejak 2019. Karnaval memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia ini diikuti 24 mobil hias menjadi hiburan terbesar di sepanjang tahun ini bagi masyarakat Kota Industri, sebutan lain, Kabupaten Gresik. 

Sepanjang jalan yang dilalui deretan mobil hias dipenuhi masyarakat. Sejak badal Dhuhur, warga sudah berjajar di trotoar untuk menyaksikan hiburan gratis yang kali pertama pasca wabah corona virus disease (Covid) 2019. Karnaval dengan start di halaman Kantor Bupati Gresik Jalan DR Wahidin Sudirohusodo, Kecamatan Kebomas dan finish di Pendapa Bupati Gresik Jalan KH Wachid Hasyim, Kecamatan Gresik ini diberangkatkan oleh Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani didampingi Forkopimda Gresik. Mereka memakai baju khas Gresik. Sedangkan, para istri memakai busana muslim dengan kurosi. 

Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparekrafbudpora) Gresik Syaifudin Ghozali, menjelaskan, total terdapat 71 barisan yang meramaikan karnaval. Para peserta berasal dari 45 unsur, mulai dari komunitas masyarakat, Forkopimda, perusahaan swasta, hingga gabungan Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

“Yang pertama karena ini sudah agenda tahunan, dan sudah dinantikan masyarakat. Terus yang kedua akan diteruskan setiap tahun di setiap puncak HUT RI ke-81,” kata Ghozali dalam sambutannya. Tidak hanya mengandalkan kendaraan hias, panitia juga menggandeng berbagai komunitas untuk memeriahkan parade. Anggota Persatuan Sepatu Roda (PORSEROSI) Gresik, Paguyuban Sepeda Kebo Gresik (Pasekgres).

Selain komunitas, karnaval diikuti sejumlah perusahaan swasta, di antaranya, PT Wilmar Nabati Indonesia, Semen Gresik; Petrokimia Gresik ; Petro Oxo Nusantara (PON) ; PT Smelting dan PT Freeport Indonesia. Serta, mobil hias gabungan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Sekolah Menengah Pertama.

Bupati dan Wabup Gresik dan istri Naiki Kereta Naga

Keikutsertaan forum koordinasi pimpinan daerah (Forkopimda), di antaranya, Bupati Gresik Fandi Akhmad, Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif, Ketua DPRD Gresik Muhammad Syahrul Munir, Dandim 0817/Gresik Letkol Inf Fadly Subur Karamaha, Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Nasution, dan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Gresik Zam-zam Ikhwan beserta istri meningkatkan antusiasme masyarakat. 

Bupati Fandi Akhmad Yani beserta istri, Nurul Haromaini Ali dan Wabup Asluchul Alif beserta istri, Shinta Puspitasari didampingi Cak dan Yuk naik trailer yang di hiasi ornamen Naga Giri, replika ikonik dari gerbang masuk makam Sunan Giri. Sepanjang rute karnaval sejauh 5 kilometer terus menebar senyum dan menyapa warga. Sedangkan Forkopimda lainnya naik Jeep Willys. Kepala OPD atau Kepala Dinas, dan Badan naik becak motor alias bentor.(yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Pertama Pasca Covid-19, Gresik Merdeka Carnival Digelar Pemkab Gresik, Bupati-Wabup Naik Trailer Hias Naga Giri Selengkapnya

Wabup Gresik Dorong Pramuka Jadi Generasi Cerdas di Era Digital

GRESIK,1minute.id –  Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif mendorong anggota Gerakan Pramuka Kecamatan (Kwarcam) Balongpanggang menjadi generasi muda yang cerdas, berkarakter, dan mampu memanfaatkan perkembangan teknologi digital secara bijak.

Hal tersebut disampaikan Wabup Alif saat menghadiri Jambore Ranting Gerakan Pramuka Kecamatan Balongpanggang 2026 yang mengusung tema “Pramuka Digital, Generasi Emas” pada Jumat, 28 Agustus 2026.

Wabup Asluchul Alif mengapresiasi tema yang diangkat karena dinilai selaras dengan tantangan generasi muda di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat. Menurutnya, kemajuan teknologi harus diimbangi dengan penguatan karakter agar dapat memberikan manfaat positif bagi generasi muda.

“Di tengah perkembangan teknologi digital yang begitu pesat, generasi muda memiliki peluang besar untuk belajar, berkarya, dan berkembang. Namun, teknologi juga harus digunakan secara bijak agar tidak membawa dampak negatif,” ujar dokter Alif, sapaan akrab, Asluchul Alif. 

Ia menegaskan, Gerakan Pramuka memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai karakter.

“Saya berharap melalui kegiatan ini, adik-adik Pramuka tidak hanya menjadi generasi yang melek teknologi, tetapi juga menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, berakhlak mulia, kreatif, mandiri, disiplin, bertanggung jawab, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang positif,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ia juga menyebut Jambore Ranting bukan sekadar kegiatan berkemah dan berkumpul. Kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran untuk membangun persaudaraan, mengembangkan kreativitas, melatih kemandirian, sekaligus memperkuat jiwa kepemimpinan dan gotong royong.

“Jambore ini bukan sekadar kegiatan berkemah dan berkumpulnya anggota Pramuka. Ini adalah ruang untuk belajar, membangun persaudaraan, mengembangkan kreativitas, melatih kemandirian, dan membentuk karakter generasi muda,” tuturnya.

Selain penguatan karakter, Ia juga mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan. Ia berharap kegiatan Pramuka di alam terbuka dapat menjadi sarana menanamkan kesadaran menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

“Mari kita jaga kebersihan, kurangi sampah, dan tanamkan kesadaran bahwa menjaga kelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Wabup Asluchul Alif turut menyampaikan apresiasi kepada panitia dan para pembina yang telah mempersiapkan pelaksanaan Jambore Ranting Gerakan Pramuka Kecamatan Balongpanggang Tahun 2026.

Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung dengan lancar, aman, dan tertib serta memberikan pengalaman yang berharga bagi seluruh peserta.

Kepada para peserta, ia berpesan agar mengikuti seluruh kegiatan dengan penuh semangat dan menjunjung tinggi sportivitas. Ia juga mengingatkan peserta untuk menjaga kesehatan dan keselamatan serta nama baik sekolah, gugus depan, keluarga, dan Kecamatan Balongpanggang.

“Jaga kesehatan dan keselamatan selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Nikmati setiap prosesnya, belajar dari setiap pengalaman, dan jadikan Jambore ini sebagai kenangan indah sekaligus bekal untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” pesannya.

Wabup berharap kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya bersama dalam menyiapkan generasi muda yang unggul dan mampu menghadapi tantangan masa depan. “Mari kita jadikan Jambore ini bukan hanya sebagai kegiatan Pramuka, tetapi sebagai langkah nyata dalam mempersiapkan Generasi Emas Indonesia yang unggul, berkarakter, berdaya saing, berakhlak mulia, cinta lingkungan, dan mampu menghadapi tantangan zaman,” pungkasnya.

Dengan semangat “Satu Pramuka, Satu Indonesia, Satu Dunia!”, Jambore Ranting Gerakan Pramuka Kecamatan Balongpanggang 2026 diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang tangguh, kreatif, mandiri, dan siap berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan negara. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Wabup Gresik Dorong Pramuka Jadi Generasi Cerdas di Era Digital Selengkapnya

Cuaca Buruk, 8 Anggota Paskibraka Gresik asal Bawean Tertahan di Gresik, Silaturahmi ke DPRD Gresik 

GRESIK,1minute.id – Sebanyak delapan anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Gresik asal Pulau Bawean masih tertahan di Gresik daratan. 

Mereka belum bisa kembali karena moda transportasi laut ke pulau sejauh 180 mil laut terhenti. Transportasi laut lumpuh karena cuaca buruk. Para pelajar tersebut harus memperpanjang masa tinggal di Gresik hingga kondisi laut dinyatakan aman.

Untuk diketahui, delapan pelajar asal Pulau Putri, sebutan lain, Pulau Bawean tiba di Gresik sejak 2 Agustus 2026 atau 15 hari sebelum pelaksanaan pelaksanaan upacara HUT ke-81 Republik Indonesia di Kantor Bupati Gresik. Mereka bergabung dengan anggota Paskibraka lain untuk menjalani persiapan hingga karantina sebelum bertugas di halaman Kantor Bupati Gresik.

Pelaksanaan upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia berlangsung lancar dan sukses. Namun, setelah tugas pengibaran bendera selesai, anggota Paskibraka dari daerah lain telah kembali ke rumah masing-masing. Sementara delapan pelajar asal Bawean masih harus menunggu kepastian keberangkatan kapal.

Ketua DPRD Gresik Muhammad Syahrul Munir memastikan kebutuhan para pelajar tersebut tetap terpenuhi selama berada di Gresik. Penginapan mereka masih ditanggung oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakebangpol) Gresik sedangkan kebutuhan makan sehari-hari turut di fasilitasi.

“Untuk penginapan masih ditanggung Kesbangpol Gresik. Sementara kebutuhan makan sehari-hari kami bantu fasilitasi sampai mereka bisa kembali ke Bawean,” kata Syahrul usai bertemu dengan delapan anggota Paskibraka Gresik kepada wartawan pada Kamis, 27 Agustus 2026.

Menurutnya, pengalaman tersebut harus menjadi modal bagi para pelajar untuk terus berkembang dan mengejar prestasi di masa depan. “Kalian sudah menunjukkan prestasi dengan terpilih sebagai anggota Paskibraka. Jadikan pengalaman ini sebagai motivasi untuk terus belajar dan berprestasi. Selama menunggu kepulangan, tetap jaga kesehatan dan diri,” ujarnya.

Selain memberikan motivasi, Syahrul juga mengingatkan para pelajar agar bijak menyikapi derasnya informasi di media sosial. Mereka diminta tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

“Informasi di era digital bergerak sangat cepat. Karena itu, jangan mudah percaya atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Pastikan kebenarannya sebelum mempercayai maupun membagikannya,” jelasnya.

Sementara itu, anggota DPRD Gresik dari daerah pemilihan Bawean, Bustami Hazim, mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk memastikan kebutuhan delapan pelajar tersebut tetap terpenuhi selama berada di Gresik.

Pertemuan dengan Ketua DPRD Gresik juga dimanfaatkan para pelajar untuk menyampaikan sejumlah aspirasi, khususnya berkaitan dengan pendidikan dan kondisi generasi muda di Bawean. “Dalam pertemuan itu, mereka menyampaikan sejumlah aspirasi, terutama terkait pendidikan dan kondisi anak muda di Bawean. Aspirasi tersebut kami tampung untuk menjadi perhatian dan bahan tindak lanjut,” katanya. 

Bustami menjelaskan, selama menjalani karantina, kebutuhan para pelajar difasilitasi Kesbangpol Pemkab Gresik. Persoalan muncul setelah rangkaian tugas Paskibraka berakhir karena mereka harus menunggu kapal yang memungkinkan untuk menyeberangi Laut Jawa.

Pihaknya telah mencari verbagai alternatif untuk kepulangan mereka. Salah satunya melalui Pelabuhan Paciran, Lamongan. Para pelajar bahkan bersedia menggunakan jalur tersebut agar dapat lebih cepat kembali ke Bawean. Namun, upaya itu kembali terbentur kondisi cuaca. Kapal yang diharapkan membawa mereka pulang belum dapat berlayar dan masih tertahan di Bawean.

“Kami sempat mencari alternatif keberangkatan melalui Pelabuhan Paciran, Lamongan. Mereka juga bersedia menggunakan jalur tersebut agar bisa segera pulang. Namun, kapal belum dapat berlayar karena kondisi cuaca dan masih tertahan di Bawean,” tambahnya.

Kemudian mereka masih berada di Gresik dan menunggu Laut Jawa kembali bersahabat agar kapal dapat berlayar dan membawa mereka pulang. “Setelah menjalankan tugas sebagai Paskibraka dengan penuh kebanggaan, para pelajar itu masih harus bersabar menghadapi tantangan terakhir menunggu cuaca reda demi bisa kembali berkumpul bersama keluarga dan melanjutkan aktivitas di sekolah,” pungkasnya. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Cuaca Buruk, 8 Anggota Paskibraka Gresik asal Bawean Tertahan di Gresik, Silaturahmi ke DPRD Gresik  Selengkapnya

Giliran Warga Wringinanom Terima BLT dan Bantuan Pangan, Bupati Gresik Lakukan Jaring Asmara 

GRESIK,1minute.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik kembali menyalurkan Bantuan Langsung Tunai Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (BLT DBHCHT) dan bantuan pangan. Sebelumnya, di Kecamatan Dukun. Hari ini, Kamis, 27 Agustus 2026 untuk warga di Kecamatan Wringinanom.

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani turun langsung membagikan bantuan sosial itu, sambil menyerap atau menjaring aspirasi dari masyarakat (jaring asmara). Ia pun mengajak masyarakat untuk tidak ragu menyampaikan aspirasi maupun berbagai persoalan yang dihadapi di lingkungan masing-masing. 

Ia mengungkapkan kehadiran pemerintah di tengah masyarakat tidak hanya diwujudkan melalui pemberian bantuan. Lebih dari itu, pemerintah perlu membuka ruang komunikasi agar dapat mengetahui secara langsung kondisi dan kebutuhan warga. “Jangan ragu menyampaikan apa yang menjadi kebutuhan dan persoalan di lingkungan. Pemerintah perlu mendengar langsung dari masyarakat agar bisa mengetahui kondisi di lapangan,” ujar Gus Yani, sapaan akrab, Fandi Akhmad Yani didampingi di antaranya, Kepala Dinas Pertanian Gresik Eko Anindito Putro, dan Kepala Dinas Sosial Gresik Ummi Khoiroh.

Dalam kegiatan tersebut, bantuan yang disalurkan meliputi BLT DBHCHT dan bantuan pangan berupa beras dari Bulog. Bantuan diberikan kepada masyarakat yang telah memenuhi kriteria sebagai penerima manfaat sesuai ketentuan yang berlaku.

BLT DBHCHT merupakan salah satu bentuk pemanfaatan dana bagi hasil cukai yang diperuntukkan bagi kelompok masyarakat tertentu, di antaranya petani tembakau, buruh pabrik rokok, penyandang disabilitas, dan lanjut usia sesuai dengan ketentuan penerima. Masing-masing memperoleh bantuan sebesar Rp 300 ribu per bulan selama tiga bulan, sehingga total bantuan yang diterima mencapai Rp 900 ribu per penerima.

Bupati Yani berharap bantuan tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat sekaligus memberikan manfaat bagi keluarga penerima. “Bantuan ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Selain bantuan tunai, masyarakat juga mendapatkan bantuan pangan berupa beras dari Bulog,” ujar mantan Ketua DPRD Gresik ini. 

Kepala Dinas Sosial  Gresik Ummi Khoiroh menyampaikan, penerima bantuan telah ditetapkan berdasarkan kriteria program. Untuk memastikan proses penyaluran berjalan tertib dan tepat sasaran, Pemkab Gresik menggandeng PT Pos Indonesia. PT Pos Indonesia juga membantu proses penyaluran bagi penerima yang memiliki kondisi tertentu sehingga tidak dapat datang langsung ke lokasi.

Sementara itu, bantuan pangan dari Bulog diberikan untuk alokasi tiga bulan, yakni Juli, Agustus, dan September. Setiap penerima memperoleh 10 kilogram beras per bulan atau sebanyak 30 kilogram selama periode tersebut. Khusus di Kecamatan Wringinanom, bantuan pangan tersebut disalurkan kepada 9.239 penerima.

Secara keseluruhan, bantuan pangan Bulog di Kabupaten Gresik menyasar sekitar 156.121 penerima, dengan total alokasi bantuan sekitar 4.683.630 kilogram atau 4.683 ton beras untuk penyaluran selama tiga bulan. Melalui penyaluran bantuan sekaligus dialog langsung bersama masyarakat, Pemerintah Kabupaten Gresik menegaskan komitmennya untuk memastikan program perlindungan sosial tidak hanya tersalurkan secara tepat sasaran, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

Ia juga mendorong masyarakat agar aktif menyampaikan aspirasi dan persoalan di lingkungan masing-masing. Masukan tersebut menjadi bagian penting bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan dan tindak lanjut yang sesuai dengan kondisi masyarakat di lapangan. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Giliran Warga Wringinanom Terima BLT dan Bantuan Pangan, Bupati Gresik Lakukan Jaring Asmara  Selengkapnya

Ops Tumpas Narkoba berakhir, Polres Gresik Tangkap 17 Tersangka, Sabu-Sabu 36,071 gram

GRESIK,1minute.id – Operasi Tumpas Narkoba Semeru 2026 di Polres Gresik berakhir. Selama 12 hari, mulai 12-23 Agustus 2026, Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Gresik mengungkap 14 kasus dan mengamankan 17 tersangka.

Barang bukti narkotika jenis sabu dengan berat total sekitar 36,071 gram, ganja seberat 1,031 gram, serta 51.410 butir pil double L. Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Nasution didampingi Kasatresnarkoba Polres Gresik AKP Ahmad Yani mengatakan, pengungkapan tersebut merupakan bagian dari upaya kepolisian untuk menekan peredaran dan penyalahgunaan narkotika di Kabupaten Gresik.

Dari 14 kasus yang diungkap, polisi mengamankan barang bukti narkotika jenis sabu dengan berat total sekitar 36,071 gram, ganja seberat 1,031 gram, serta 51.410 butir pil double L. “Sehingga dari pengungkapan tersebut, kita bisa menyelamatkan lebih dari 10.000 jiwa/orang dari Bahaya penyalahgunaan Narkotika,” ujarnya dalam siaran pers di Mapolres Gresik pada Rabu, 26 Agustus 2026.

Selain mengamankan para tersangka, polisi juga masih melakukan pengembangan terhadap sejumlah jaringan peredaran narkotika. Beberapa pihak yang diduga terlibat dalam jaringan tersebut masih masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

Salah satu pengungkapan terbesar terjadi di Desa Mulung, Kecamatan Driyorejo pada 12 Agustus 2026 sekitar pukul 10.00 WIB. Petugas berhasil mengamankan satu plastik klip berisi sabu dengan berat netto sekitar 22,192 gram.

Dalam pengungkapan tersebut, polisi juga menemukan 48 botol berisi 48.000 butir pil double L. Sementara pelaku berinisial SS masih dalam pencarian dan telah masuk daftar pencarian orang. Polisi juga mengungkap kasus peredaran pil double L di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Kecamatan Gresik. Seorang tersangka berinisial RFR diamankan bersama 3.410 butir pil double L.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, tersangka mengaku memperoleh barang tersebut dari seseorang berinisial R yang kini masih DPO di wilayah Kecamatan Taman, Sidoarjo. Pil tersebut kemudian diedarkan di wilayah Gresik Kota. Pengungkapan lainnya dilakukan Polsek Driyorejo pada 21 Agustus 2026 sekitar pukul 21.00 WIB di Desa Cangkir. Polisi mengamankan seorang tersangka berinisial M beserta delapan paket sabu dengan berat total sekitar 5,074 gram.

Dari tangan tersangka, petugas juga menemukan ganja dengan berat netto sekitar 1,031 gram. Berdasarkan keterangan tersangka, sabu tersebut diperoleh dari seseorang berinisial UAF yang kini masih DPO. Selama Operasi Tumpas Narkoba Semeru 2026, pengungkapan kasus dilakukan di sejumlah wilayah, di antaranya Kecamatan Driyorejo, Wringinanom, Menganti, Cerme, Balongpanggang, Gresik, Manyar, hingga Panceng.

Para tersangka dijerat dengan ketentuan perundang-undangan tentang narkotika, di antaranya Pasal 114 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika sebagaimana disesuaikan dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.

Selain itu, tersangka juga dapat dijerat Pasal 609 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP juncto Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana. Secara keseluruhan, nilai barang bukti yang berhasil diamankan diperkirakan mencapai sekitar Rp130,5 juta. Rinciannya, sabu senilai sekitar Rp 54 juta dan pil double L sekitar Rp76,5 juta.

Polres Gresik mengajak peran aktif masyarakat dibutuhkan untuk memberikan informasi apabila mengetahui adanya dugaan penyalahgunaan maupun peredaran gelap narkotika. Masyarakat dapat melaporkan melalui Call Center 110 atau Hotline khusus Lapor Cak Rama di nomor 0811-8800-2006. (yad)

Editor  : Chusnul Cahyadi 

Ops Tumpas Narkoba berakhir, Polres Gresik Tangkap 17 Tersangka, Sabu-Sabu 36,071 gram Selengkapnya

Peringatan Mualid Nabi Muhammad SAW di UPT SMP Negeri 2 Gresik Hadirkan Polwan untuk Meningkatkan Kesadaran dan Perlindungan terhadap Anak

GRESIK,1minute.id – Peringatan Mualid Nabi Muhammad SAW di UPT SMP Negeri 2 Gresik (Spendagres) terasa berbeda. Biasanya, perayaan peringatan kelahiran Rasulullah SAW mendatang kiai atau ustad. Tapi, sekolah berlokasi di Jalan KH Abdul Kholil, Gresik ini mendatangkan aparat kepolisian dari Satuan Binmas melalui Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Gresik. 

Dalam maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan pada Senin, 24 Agustus 2026 yang diikuti seluruh siswa dan tenaga pendidik ini mengusung tema “Meneledani Akhlak Rasulullah SAW” versi Gen Z, yakni 

Meningkatkan Kesadaran dan Perlindungan terhadap Anak. 

Menurut Kepala UPT SMP Negeri 2 Gresik Mohammad Salim, dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW itu, anggota 

Polisi Wanita (Polwan) Polres Gresik mengajak para siswa untuk memperbanyak kegiatan positif yang menguntungkan bagi masa depan. Selain itu, menghindari perbuatan yang merugikan diri sendiri seperti melakukan kekerasan fisik, narkoba, bullying dan kekerasan seksual dan lainnya. 

Kemudian, bagaimana cara menghindari masalah kekerasan ancaman bagi pelajar dari luar sekolah, berfikir sebelum bertindak,  menjauhi hal-hal buruk di media sosial (medsos) dan menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. “Jika mengetahui tindakan buruk segera lapor pada orang tua, guru, BK jika ada ancaman di dunia digital. Saring sebelum sharing informasi. Ceklis privasi data pribadi medsos, filter teman di medsos,” kata Mohammad Salim menirukan ucapan anggota Polwan Polres Gresik itu.

Mohammad Salim mengapresiasi kegiatan ini. “Kami sangat berterima kasih kepada Polres Gresik. Materi ini sangat relevan untuk membentuk karakter siswa yang berani, cerdas, dan saling menghargai,” katanya.

Melalui kegiatan ini, Polres Gresik dan UPT SMP Negeri 2 Gresik berkomitmen menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari kekerasan. Pihak sekolah juga akan memasang nomor layanan KBPA di aplikasi inovasi sekolah. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Peringatan Mualid Nabi Muhammad SAW di UPT SMP Negeri 2 Gresik Hadirkan Polwan untuk Meningkatkan Kesadaran dan Perlindungan terhadap Anak Selengkapnya

Polres Gresik Cokok “Dukun” Cabul asal Ujungpangkah 

GRESIK,1minute.id – Seorang diduga “dukun” cabul berinisial NA, 48, diamankan Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Gresik. Pemuda asal Kecamatan Ujungpangkah itu, diamankan karena diduga melakukan tindakan kekerasan seksual kepada “pasien” di sebuah gubuk di area persawahan Kebon Jeruk, Desa Gosari, Kecamatan Ujung Pangkah.

Pelaku diduga memanfaatkan kondisi rentan korban yang mengalami depresi. “Tersangka saat ini sudah kami amankan,” tegas Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Nasution melalui Kasat Reskrim Polres Gresik AKP Arya Widjaya di Mapolres Gresik pada Jumat, 21 Agustus 2026.

Menurut polisi, kasus bermula saat korban berinisial HB, 30, warga Panceng, Gresik pernah menjalani pengobatan alternatif kepada tersangka sejak 2012 lalu sembuh. Korban kembali mengalami depresi dan menjalani pengobatan kembali pada akhir 2024 hingga 2025. Dalam proses pengobatan, tersangka melakukan meditasi, memberikan doa dan pijatan kepada korban. Pada pengobatan kali ini, tersangka juga menjanjikan korban akan sembuh dari depresi apabila bersedia menikah siri dengannya.

Pada akhir Mei 2025, tersangka mengajak korban keluar dengan alasan membeli makanan. Namun, korban justru dibawa ke sebuah gubuk di area persawahan Kebon Jeruk, Desa Gosari, Kecamatan Ujung Pangkah. “Di lokasi tersebut, tersangka diduga melakukan persetubuhan terhadap korban,” terang AKP Arya.

Atas kejadian tersebut, korban kemudian melaporkan kasus itu ke Polres Gresik. Dari hasil penyidikan, polisi juga menemukan adanya korban lain yang diduga mengalami tindakan serupa dengan modus tersangka memanfaatkan kondisi korban dan menjanjikan kesembuhan jika bersedia menikah siri.

Tersangka saat ini telah dilakukan penahanan. Polisi juga telah memeriksa sejumlah saksi, menyita barang bukti, melakukan gelar perkara serta melengkapi pemberkasan. “Tersangka dijerat Pasal 6C Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual, dengan ancaman pidana penjara paling lama 12 tahun,” pungkasnya.

Pihaknya mengimbau masyarakat yang mengetahui atau mengalami tindak kejahatan agar tidak ragu untuk segera melaporkannya ke kantor polisi terdekat. Masyarakat juga dapat memanfaatkan layanan Call Center 110 yang bebas pulsa atau Hotline Lapor Cak Rama di nomor 0811-8800-2006. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Polres Gresik Cokok “Dukun” Cabul asal Ujungpangkah  Selengkapnya

Wabup Gresik Lantik Pengurus DKG, Irfan Akbar Prawiro : Peneliti Temukan Fosil Homo Erectus di Perairan Gresik 

GRESIK,1minute.id – Irfan Akbar Prawiro, kembali terpilih sebagai ketua Dewan Kebudayaan Gresik (DKG). Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif melantik pengurus periode 2026-2029 ini di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Gresik pada Kamis malam, 21 Agustus 2026.

Peristiwa ini menjadi tonggak penting dalam merajut kembali benang-benang sejarah di tengah pesatnya modernisasi. Gresik kerap menyandang predikat sebagai kota industri yang padat dengan kepulan asap pabrik. Namun, wilayah ini menyimpan sisi spiritual dan kultural yang begitu kental. Fenomena tersebut sering kali memantik rasa kagum para investor asing yang kali pertama menginjakkan kaki di tanah para wali ini.

“Banyak hal unik di Gresik meskipun wilayah kita terkenal sebagai kota industri. Para investor yang datang kerap merasa heran. Di pusat kota, begitu warga keluar rumah, mereka mengenakan sarung. Hal ini membuktikan bahwa nuansa agamis masyarakat di sini sangat kuat,” ujar dokter Alif, sapaan akrab, Asluchul Alif saat menyampaikan sambutannya.

Sementara itu, Ketua DKG Irfan Akbar Prawiro membagikan refleksi mendalam mengenai pencarian jati diri Gresik pada periode sebelumnya. Hasil penelusuran timnya menunjukkan bahwa Gresik merupakan wilayah yang sangat beragam, baik dari segi bahasa, dialek lokal, maupun peninggalan prasejarah.

Keberagaman tersebut terbentang dari wilayah utara hingga selatan, termasuk keberadaan bahasa Jawa khas dan bahasa Bawean. Bahkan, di kawasan selatan Gresik terdapat jejak sejarah penting yang berkaitan dengan penemuan manusia purba Pithecanthropus mojokertensis.

“Peneliti menemukan fosil Homo erectus di wilayah perairan Gresik. Saat ini terdapat sekitar 6.000 spesimen yang sedang diteliti di Belanda. Penemuan ini berpotensi mengubah sejarah dunia karena jejak manusia purba tersebut ditemukan di dasar laut, padahal sebelumnya hanya pernah ditemukan di daerah dataran tinggi,” papar Irfan dengan penuh antusias.

Berangkat dari temuan-temuan mengagumkan tersebut, DKG berharap dapat memposisikan diri sebagai mitra riset kebudayaan yang strategis bagi Pemerintah Kabupaten Gresik. Irfan menyarankan agar fungsi perencanaan kota dapat memanfaatkan perspektif kebudayaan dalam membentuk tata ruang wilayah, seiring transformasi Bappeda menjadi Bapperida di berbagai daerah.

DKG juga menyoroti keberadaan serat-serat kuno dalam dunia kesenian yang berfungsi sebagai ensiklopedia kebudayaan Pulau Jawa. Naskah kuno tersebut memuat kisah pelarian putra-putri dari Giri Kedaton sekaligus menyimpan kearifan lokal dalam membaca alam dan lingkungan sekitar.

“Kebudayaan kami pandang sebagai sebuah metode. Melalui pembacaan serat kuno, kita dapat mengetahui bahwa keberadaan ikan capung menjadi indikator air bersih. Di wilayah selatan, masyarakat memahami banjir sebagai ingatan sejarah. Mereka membaca garis bekas banjir di tembok untuk menentukan seberapa tinggi fondasi batu rumah harus diangkat,” jelas Irfan.

Guna mewujudkan visi besar tersebut, susunan kepengurusan DKG periode 2026-2029 tidak hanya diisi oleh para seniman semata. DKG kini menghimpun berbagai elemen profesional seperti advokat, akademisi, ahli manuskrip, hingga periset multidisiplin.

“Harapan kami, kebudayaan dapat dipelajari secara utuh dan terpadu. Semoga kami dapat terus bermitra secara erat dengan seluruh komunitas, baik secara struktural maupun kultural,” pungkas Irfan menutup pemaparannya. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Wabup Gresik Lantik Pengurus DKG, Irfan Akbar Prawiro : Peneliti Temukan Fosil Homo Erectus di Perairan Gresik  Selengkapnya

Bupati Gresik Salurkan Bansos DBHCHT 263 KPM dan 9.932 Bantuan Pangan 

GRESIK,1minute.id – Hore…! Bantuan sosial cair. Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani yang menyalurkan bansos Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) 2026 kepada 263 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) masing-masing menerima Rp 900 ribu. Selain itu, juga menyalurkan bantuan pangan pemerintah alokasi bulan Juli–September 2026 kepada 9.932 warga di Kecamatan Dukun pada Kamis, 20 Agustus 2026.

“Langkah ini diambil sebagai upaya nyata pemerintah daerah berkolaborasi dengan PT Pos Indonesia dan PT Bulog Cabang Surabaya, untuk memperkuat jaring pengaman sosial dan menjaga stabilitas ketahanan pangan bagi masyarakat desil 1 sampai desil 4 di Kabupaten Gresik,” terang Gus Yani, sapaan akrab, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani. 

Hadir dalam penyaluran bansos ini, antara lain, Kepala Dinas Pertanian Gresik Eko Anindito Putro, Pimpinan Perum Bulog Kantor Cabang Surabaya Nur Fuad Indra Mitra, serta pimpinan PT Pos Indonesia Kantor Cabang Gresik Johan Riyadi beserta jajaran. 

Pemerintah Kabupaten Gresik terus berkomitmen untuk memastikan bahwa dana alokasi bagi hasil cukai yang diterima oleh daerah kembali dan dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat. Menurut mantan Ketua DPRD Gresik ini, DBHCHT bukan sekadar angka dalam APBD melainkan wujud keadilan ekonomi yang disalurkan secara terarah kepada masyarakat. 

“Hari ini, BLT DBHCHT sebesar Rp 900 ribu yang diserahkan sekaligus satu kali pencairan masing-masing akan diberikan kepada 263 KPM. Selain itu, bantuan pangan berupa beras 30 kilogram mudah- mudahan meringankan beban hidup warga, memperkuat ketahanan keluarga dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal khususnya di wilayah wilayah produktif seperti Kecamatan Dukun,” katanya.

Pihaknya menjelaskan, penyaluran BLT DBHCHT difokuskan secara presisi kepada kategori penerima utama yang memiliki peranan penting serta kerentanan ekonomi. Di antaranya, buruh pabrik rokok, buruh petani tembakau dan masyarakat rentan khususnya lansia maupun disabilitas.

“Bapak dan Ibu sekalian adalah bagian penting dari roda penggerak industri hasil tembakau yang turut menyumbang pendapatan negara. Bantuan ini merupakan bentuk apresiasi dan perlindungan pemerintah atas kerja keras saudara saudara sekalian dalam menopang perekonomian keluarga,” ungkapnya.

“Pemerintah daerah tidak melupakan warga kurang mampu, lansia, maupun penyandang disabilitas yang terdaftar dalam basis data Gresik Soya maupun desil namun belum terjangkau oleh bantuan sosial lainnya,” tambahnya. 

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Gresik Ummi Khoiroh, memaparkan laporan mengenai penyaluran dua jenis bantuan sosial kepada masyarakat. Ia menjelaskan, bantuan pertama bersumber dari DBHCHT yang menyasar 263 KPM untuk petani dan buruh tembakau kemudian penyandang disabilitas dan warga yang tercatat belum pernah menerima bantuan sosial apa pun dari pemerintah.

“Perlu diketahui di Kecamatan Dukun ada enam hektare lebih lahan tembakau yang dikelola. Selain DBHCHT, pemerintah juga menyalurkan bantuan kedua berupa bantuan pangan beras. Dalam program ini, sebanyak 9.932 warga masing-masing menerima alokasi bantuan beras seberat 30 kilogram (kg),” terang Ummi Khoiroh. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Bupati Gresik Salurkan Bansos DBHCHT 263 KPM dan 9.932 Bantuan Pangan  Selengkapnya