Sanggar Lentera Gelar Pameran “Runcang Runcung”, Riyanto Pamerkan Karya Indonesiaku dan Bandar Grissee 

GRESIK,1minute.id – Sanggar Lentera menggelar pameran lukisan di Galeri Sawunggaling Taman Budaya Jawa Timur. Pameran yang mengusung tema “Runcang Runcung” ini diikuti tujuh pelukis digelar mulai 2-7 Desember 2025. Semuanya perupa Kota Santri, sebutan lain, Kabupaten Gresik.

Tujuh pelukis itu, yakni, Kris Adji A.W ; M. Syarifuddin ; Achmad Feri ; Achmad Syafi’i ; Erfi Sulistiyanto ; Achmad Huseaini dan Muhammad Riyanto. Mereka memiliki aliran masing-masing. Kris Adji misalnya, dengan lukisan realisme,  Achmad Feri, misalnya, pelukis abstrak. Kemudian, Muhammad Riyanto dikenal sebagai pelukis kaligrafi dan juga aliran surialisme. 

Pameran dalam rangkaian HUT ke-45 Sanggar Lentera (1980-2025) yang home base-nya diinisiasi oleh Kris Adji A.W, seniman Gresik ini menjadi khazanah baru bagi pencinta karya lukis di Indonesia wabil khusus bagi arek-arek Suroboyo. 

Lukisan berjudul “Indonesiaku” karya Riyanto, misalnya. Dalam lukisan tiga dimensi itu, terdapat nama-nama daerah, kota, kuliner, tari, budaya dan adat Khas Indonesia. Tulisan sangat kecil dengan background batik kombinasi corak Indonesia. Background batik corak Indonesia dengan frame corak tikar berwarna keemasan menjadi karya Riyanto ini menarik perhatian penggemar lukisan di Kota Pahlawan Surabaya itu.

“Lukisan Indonesiaku, yang berisi semua daerah, kota, makanan, tarian, budaya rumah adat khas Indonesia karya terbaru saya,” ujar Riyanto melalui pesan WhatsApp pada Jumat, 5 Desember 2025. Lukisan “Indonesiaku” ini berbeda dengan karya-karya pelukis lainnya. Lazimnya, pengunjung pameran dilarang untuk memegang karya pelukis. 

Pelukis alumnus Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Al-slamiyah asuhan KH. Muhammad Bashori Mansyur, Tambak Osowilangun, Surabaya ini memperbolehkan para penikmat untuk memegang bahkan memutar 360 derajat. ” Pemeran ini, Kulo bawa 5 karya. Ada 3 kaligrafi tasawuf dan 2 surealis gerak menggunakan AI,” tegasnya.

Riyanto yang tinggal di Gresik ini, juga menyoroti perkembangan di Kota Industri, sebutan lain, Kabupaten Gresik. Gresik yang dikenal sebagai salah satu kota pelabuhan tertua di Indonesia tidak luput dari goresan tangannya. Ia melukis karya instalasi dengan menggunakan jaring alias jala ikan. “Ini simbol Gresik sebagai kota dengan Pelabuhan yang terkenal dimasanya, Bandar Grissee,” terang pelukis pernah belajar kaligrafi di KH.M Faiz Abdur Razaq, Khattat International dari Bangil itu. (yad)

Sanggar Lentera Gelar Pameran “Runcang Runcung”, Riyanto Pamerkan Karya Indonesiaku dan Bandar Grissee  Selengkapnya

Institut Français Indonesia Jakarta Apresiasi “France in The World” Karya M. Riyanto

GRESIK,1minute.id – Institut Français Indonesia (IFI) Wijaya Jakarta menggelar pameran lukisan bertemakan “La Vie En Rose” di Jakarta. Puluhan pelukis nasional ambil bagian dalam pameran dibuka oleh Bozra Yohanes owner Dame Hauma & Art Collector ini.

Pemeran La Vie En Rose ini berlangsung pada 13 hingga 31 Oktober 2025 ini. Para pelukis yang ikut menyemarakan pameran ini, antara lain, Syis Paindow, Ghanyleo, dan Jono Sugihartono. Kemudian, Qurnila Hvrmas, Firmina Mikael, Natasha Laksmana, Wita Wilkes, Daniel Simson ES, Emje,  Fayyas dan H.M. Riyanto.

Haji Muhammad Riyanto adalah satu-satunya pelukis yang tinggal di Kota Santri, sebutan lain, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Pada pameran ini, Riyanto yang alumnus Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Al-slamiyah asuhan KH. Muhammad Bashori Mansyur, Tambak Osowilangun, Surabaya ini memamerkan dua adikaryanya. Riyanto mengusung karya ciri khasnya yang selalu baru, “France In the world”.

“Karya ini mengcover semua yang ada di Prancis, kota-kota peninggalannya , seniman komposer, semua jenis makanan,minuman yang ada di sana. Dengan khasnya karya itu bisa berputar 360 derajat sehingga interaksi dengan penikmat seni bisa maksimal,” kata Riyanto melalui pesan WhatsApp pada Ahad, 26 Oktober 2025.

Karya H.M Riyanto, satunya selalu unik dengan membuat karya sebuah konser musik komposer Maurice Ravel dari Prancis bersama pemusik dari Indonesia dengan alat musik asli Indonesia.

“Dan dengan bantuan AI karya lukisan ini bisa bergerak cukup dengan indah dan mengagumkan, scan barcode langsung play,” terang pelukis pernah belajar kaligrafi di KH.M Faiz Abdur Razaq, Khattat International dari Bangil itu. Syarah H. Andriani, Kepala Cabang IFI Wijaya Jakarta pun terpukau dengan karya seniman asal Gresik ini. (yad)

Institut Français Indonesia Jakarta Apresiasi “France in The World” Karya M. Riyanto Selengkapnya

Riyanto, Pameran Aksara di Perpusnas Jakarta, Pajang Kaligrafi Walisongo Transportation Padukan AI

GRESIK,1minute.id – Muhammad Riyanto mengikuti pameran di Gedung Perpustakaan Nasional di Jalan Medan Merdeka Selatan No.11 Jakarta Pusat. Pameran yang diikuti pelukis kaligrafi tinggal di Kota Santri, sebutan lain, Kabupaten Gresik ini untuk memperingati Hari Aksara International. 

Karya Riyanto terpajang di pameran  bertemakan “AKSARA Contemporary Art Exhibition by Jakarta Illustration Visual Art” ini, setelah lolos kurasi. Tidak banyak pelukis yang bisa memamerkan karya ajang yang berlangsung mulai digelar 15 sampai Selasa, 30 September 2025 ini. Selain Riyanto yang alumnus Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Al-slamiyah asuhan KH. Muhammad Bashori Mansyur, Tambak Osowilangun, Surabaya ini. Ada sejumlah pelukis lainnya. Antara lain, Ghanyleo; Jono Sugiartono; Syais Paindow ; Firmina Mikael; dan Natasha Laksmana.

“Ini pameran skala Nasional Saya, mas!” kata Riyanto melalui pesan WhatsApp pada Selasa, 30 September 2025. Dalam pmeran ini, pernah belajar kaligrafi di KH.M Faiz Abdur Razaq, Khattat International dari Bangil itu memamerkan karya berjudul “Walisongo Transportation”.  Karya Riyanto pun menjadi magnet bagi penggemar kaligrafi nasional maupun pengunjung lainnya. 

Sebab, karya Riyanto, selain memadukan teknik kaligrafi dengan imajinasi Out of the Box, yakni mengintegrasikan moda transportasi darat dan laut penyebar Agama Islam di Indonesia dengan teknologi kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI). Dalam video yang diterima 1minute.id berdurasi 1 menit, 3 detik itu, terlihat ada kapal pesiar, kereta api bawah tanah, mobil dan perahu serta para peziarah yang selalu bergerak ke makam-makam Waliyullah itu. 

“Masih menggunakan AI, mas! Jadi bisa gerak lukisannya,” ujar Riyanto yang pernah menjadi dewan juri cabang Khat di Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Jawa Timur di Jember 2025 ini.  Riyanto, seniman lukis kaligrafi yang sedang naik daun.

Beberapa karyanya pernah dipamerkan di beberapa negara. Sejumlah lukisan Riyanto telah dikoleksi sejumlah tokoh di Indonesia. Diantaranya, lukisan berjudul Ikan Bandeng menjadi koleksi Presiden Joko Widodo. Ada juga yang dikoleksi mantan ketua PBNU KH. Said Aqil Siradj, KH.Afifudin Dimyati, putra KH.Dimyati Romli sekaligus pengasuh Ponpes Hidayatul Quran Peterongan Jombang dan KH. Muammar ZA, qori International dari Indonesia. Riyanto mengaku belajar kaligrafi dari Ustadz Faiz Abdur Rozzaq di Bangil, Pasuruan tersebut. (yad)

Riyanto, Pameran Aksara di Perpusnas Jakarta, Pajang Kaligrafi Walisongo Transportation Padukan AI Selengkapnya

Ini Karya Riyanto Pelukis Kaligrafi Kontemporer asal Gresik di Art Exhibition Merdeka Berkarya di Balai Budaya Jakarta 

GRESIK,1minute.id – Art Exhibition Merdeka Berkarya di Balai Budaya Jakarta  berakhir pada 7 Agustus 2025. Para perupa dari Padang ; Gresik ; Banyuwangi; Lampung ; Jakarta dan Jogjakarta telah kembali ke rumahnya masing-masing.

Para perupa pun memiliki kesan mendalam dalam Art Exhibition Merdeka Berkarya yang diinisiasi kelompok EXPLORA dengan dikuratori oleh Sentot Dimas Setyawan itu. Pameran itu juga mendapatkan dukungan musikus Usman Blackstone. “Explora ini awal kelompok kami,” kata Muhammad Riyanto, perupa asa Kota Santri, sebutan lain, Kabupaten Gresik pada Sabtu, 23 Agustus 2025.

Riyanto, satu-satu pelukis kaligrafi yang sedang naik nge-hit. Karena sejumlah karyanya telah di koleksi tokoh di Indonesia. Antara lain, Presiden ketujuh Indonesia Joko Widodo ; mantan Ketua PBNU KH. Said Aqil Siradj ; KH.Afifudin Dimyati, putra KH.Dimyati Romli sekaligus pengasuh Ponpes Hidayatul Quran Peterongan Jombang dan KH. Muammar ZA, qori International dari Indonesia. 

“Karya sempat diapresiasi Jan Praba (komika). Dan dikoleksi oleh Ketua Umum OK OCE Pusat (Iim Rusyamsi,Red),” ujar alumnus  Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Al-Islamiyah asuhan KH. Muhammad Bashori Mansyur, Tambak Osowilangun, Surabaya ini.  

Lukisan karya Riyanto yang dikoleksi Iim Rusyamsi, ini sebuah karya kaligrafi yang didalam terdapat ayat-ayat dalam kitab Suci Alquran, yakni, IInnaftahna laka fatham mubiina (Surah Al-Fath) ; lain syakartum laaziidannakum (Surah Ibrahim) ; Innallaha laghoniyun ‘anil ‘aalamin (Surah Al-‘Ankabut) dan Fabiayyi alaa irobbikuma tukadzzibaan (Surah Arrahman).

“Ada tentang rasa syukur, salah satunya QS Arrahman : Nikmat Tuhan mu manakah yang kamu dustakan,” terang Riyanto. Riyanto, perupa kaligrafi kontemporer tinggal di Gresik ini belajar kaligrafi di KH.M Faiz Abdur Razaq Khattat International dari Bangil. Setiap karyanya memiliki filosofi yang mendalam. 

Diantaranya, lukisan berjudul Introspeksi (Who I am) yang dipamerkan Art Exhebition Merdeka Berkarya di Balai Budaya Jakarta pada 1-7 Agustus 2025 lalu. “Di kotak-kotaknya ada cerminnya untuk kita koreksi diri apakah sudah melakukan itu mas?,” terangnya.  

Dalam katalognya, judul “Introspeksi” ukuran 120 x 120 cm dengan media mix media pada Panel, Riyanto memaparkan, Introspeksi bisa juga disebut refleksi diri adalah proses pengamatan diri sendiri dan pengungkapan pemikiran pikiran dan perasaannya. Dalam prosesnya hal ini bisa menakutkan dan juga menyenangkan. Visualisasi dari karya seni yang saya buat ini mencoba memasukkan kejadian keseharian dalam kehidupan kita. Sebagai contoh kita sering melihat ada orang yang merasa sudah paling pintar, pandai berfikir dan diilhami keilmuan yang lebih dari yang lain sehingga tingkah lakunya seakan akan dia paling berilmu dan yang lain sangat rendah di bawahnya.

Visual dari karya saya berikutnya adalah cermin-cermin bulat kecil adalah tertulis sifat-sifat Allah yang berjumlah 99 dan ditempatkan pada sebuah wadah besar cekung yang seakan dua tangan kita saat memohon berdoa kepada-Nya. Ada 6 bidang masing masing ada yang terisi 17 cermin sebagai visual dari 17 rakaat waktu salat kita. Bentuk wadah seperti piring besar itu sengaja saya buat bisa berputar untuk supaya penikmat seni bisa langsung berinteraksi dengan karya ini.

Di karya lain, tentang Toleransi dengan teknologi IA barcode ini mendapatkan apresiasi dari Jan Purba, komika Indonesia.  Ia pun menjlentrehkan karyanya aebagai berikut ; Di zaman serba elektronik segala cara diwujudkan melalui untuk bisa menyambung tali silaturrahim. Bisa dengan chatting, WhatsApp atus video call tapii bagaimana pun juga dengan face to face menjadi sesuatu hal yang lebih berarti. Saling sapa, saling memberi, silaturrahim dengan tetap menghormati masing-masing agama dalam menjalankan kewajiban beribadah. Berkumpulnya semua agama dan suku dalam satu kota kecil dengan toleransi yang tinggi merupakan harapan nyata yang perlu kita dapatkan. 

Hal ini mengingat kan kita besarnya suku agama dan budaya di negara kita yang berbineka tunggal eka, warisan nenek moyang yang patut kita jaga dan kita lestarikan. Dalam lukisan ini saya visual kan betapa pentingnya toleransi antar umat beragama , disitu ada tokoh bapak pluralis sekaligus presiden RI ke empat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Ada momen ketika imam besar masjid Istiqlal KH Nazaruddin Umar mencium kepala Paus Fransiskus saat kunjungan ke masjid Istiqlal. Bangunan-bangunan didalam lukisan ini menunjukkan betapa tingginya rasa saling menghormati Antarumat beragama. Kota Toleransi Beragama ini menjadi contoh bagi kota-kota lain di seluruh dunia. Mari kita belajar dari kota ini untuk hidup berdampingan dalam harmoni, menghargai perbedaan, dan membangun masyarakat yang damai dan sejahtera. “Karya lukisan digerakkan menggunakan AI,” katanya. (yad)

Ini Karya Riyanto Pelukis Kaligrafi Kontemporer asal Gresik di Art Exhibition Merdeka Berkarya di Balai Budaya Jakarta  Selengkapnya

My Favorite, Seni Kontemporer Karya Muhammad Riyanto Raih The Best Exhibition Amuya Painting Competition di Jakarta 

GRESIK,1minute.id – My Favorite, Seni Instalasi kontemporer karya Muhammad Riyanto dinobatkan sebagai karya terbaik (The Best) dalam “Exhibition Amuya Painting Competition” di Amuya Galery, Graha Kana Lt 3 Gn.Sahari Selatan, Kemayoran, Jakarta Pusat. Kurator dalam kompetisi mengusung tema Hidden GEM “Paradise of Food, Drink & Music” adalah Dimas Ajisaka yang juga manajer Amuya Gallery. 

Pameran yang dibuka oleh ketua OKOCE Indonesia Pusat Iim Rusyamsi ini berlangsung mulai 21 Juni sampai 3 Juli 2025. Seni Instalasi karya Riyanto yang berbentuk smartphone ini berukuran 75 x150 cm serta menggunakan bahan acrylic, mirror circle 25 mm dan 200 mm, PVC Board,  plastik, wood, stiker cutting, acrylic cutting, lamp LED, dan melamine plate sepintas sama dengan gawai yang ada di pasaran. 

Akan tetapi, seni instalasi telepon pintar itu memiliki filosofi yang sangat dalam. Seperti karya-karya Riyanto sebelumnya yang selalu menyisipkan ayat-ayat Alquran. Pun, di lukisan “My Favorite” yang berbentuk visual smartphone, 17.00, 7G dan Walkman ini. 

Apa arti filosofinya? Menurut Riyanto, Smartphone D.F.M alias Drink, Food, dan Music (Minuman, Makanan dan Musik) menjadi kebutuhan setiap manusia. Di era digital, setiap orang bisa dengan mudah pesan makanan, minuman dan mendengarkan musik. 

“Visual karya berupa handphone adalah bentuk dari mudahnya era digital dalam genggaman tinggal order langsung datang,” kata Riyanto pada Jumat malam, 27 Juni 2025.  Sedangkan, visual jam 17.00 adalah dari 17 rakaat Salat Fardu dan  jaringan 7G adalah surat Alfatihah. Riyanto juga memvisualkan visual WiFi dan Bluetooth serta keadaan baterai di sebelah kanan atas. 

Berikutnya, visual berbentuk walkman, alat ukuran besar adalah arti dari Ya Sami’ yaitu Maha Mendengar. “Kita diberikan dua telinga untuk mendengar yang di ridhoi Allah dan visual bola mata yang berputar adalah arti dari Ya Basyiir yaitu Maha Melihat, untuk melihat apa yang diciptakan Allah yang tentunya dalam ridhoNya, dan menjauhi yang dilarangNya,” jelas pelukis kaligrafi alumnus Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Al-islamiyah asuhan KH. Muhammad Bashori Mansyur, Tambak Osowilangun, Surabaya ini.

Begitu juga dengan musik yang di pilih sambil menikmati makanan dan minuman akan meningkatkan rasa syukur kepada pencipta Allah SWT( As-Syakuur). “Semuanya pasti tidak melupakan kewajiban kita Atas perintah-Nya yang harus kita utamakan,” ujarnya. 

Kesimpulan karya, terangnya, ada di kaca bulat dengan tulisan DFM (Drink , Food , Music) hendaknya sebelum makan, minum dan mendengarkan musik diawali dengan bacaan Basmalah (visual dengan 7 kaca bulat adalah 7 ayat surat alfatihah) dan minum dahulu sebelum makan.

Air yang bersih dibagian atas karya adalah cerminan, seberapa pentingnya air untuk menetralisir dan membantu pencernaan kita. di bawah macam-macam makanan, minuman dan stasiun radio ada gambar peta pulau-pulau di Indonesia. 

Filosofi memutar pada bagian bola mata adalah dari visual kehidupan kita yang selalu berputar siang dan malam,lapar dan kenyang,gelap dan terang,sehat dan sakit,hidup dan mati.Penikmat seni bisa langsung dengan memutar untuk berinteraksi dengan karya ini.

Siapa H. Muhammad Riyanto? Riyanto tergabung dalam pelukis Gasrug Gresik dan lulusan Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Al-slamiyah asuhan KH. Muhammad Bashori Mansyur, Tambak Osowilangun, Surabaya. Ia belajar kaligrafi di KH.M Faiz Abdur Razaq Khattat International dari Bangil.

Sejumlah lukisan Riyanto telah dikoleksi sejumlah tokoh di Indonesia. Diantaranya, lukisan berjudul Ikan Bandeng menjadi koleksi Presiden Joko Widodo. Ada juga yang dikoleksi mantan ketua PBNU KH. Said Aqil Siradj, KH.Afifudin Dimyati, putra KH.Dimyati Romli sekaligus pengasuh Ponpes Hidayatul Quran Peterongan Jombang dan KH. Muammar ZA, qori International dari Indonesia. Riyanto mengaku belajar kaligrafi dari Ustadz Faiz Abdur Rozzaq di Bangil, Pasuruan tersebut. (yad)

My Favorite, Seni Kontemporer Karya Muhammad Riyanto Raih The Best Exhibition Amuya Painting Competition di Jakarta  Selengkapnya

Pelukis Kaligrafi asal Gresik M. Riyanto, Pameran Kaligrafi 2in1, Indonesia dan Malaysia selama Ramadan

GRESIK,1minute.id – Kesibukan pelukis kaligrafi Muhammad Riyanto semakin bejibun di bulan suci Ramadan 1446 hijriah. Sebab, pelukis kaligrafi tinggal di Gresik sedang berpameran dua di negara, Yakni Indonesia dan Malaysia. 

Di Indonesia, Riyanto menggelar pameran di Museum Nasional Sepuluh Nopember Tugu Pahlawan Surabaya. Sedangkan, di Malaysia event Segaris Gallery Kuala Lumpur Malaysia. 

“Di Malaysia ini kali kedua. Tahun lalu di event Pameran Nasional Malaysia Hotel Artfair by Sheraton Kuala Lumpur, City Center,” kata Riyanto kepada 1minute.id melalui pesan WhatsApp pada Selasa, 25 Maret 2025.

Pameran Segaris Gallery Kuala Lumpur Malaysia mengusung tema “IMAN” ini diikuti beberapa pelukis senior Malaysia, antara lain,  lbrahim Mohd Don ; Mohd Noor Mahmud ; Rashid Nor dan Zaharuddin Sarbini. Kemudian, Amsyar Ramli ; Alias Yusof ; Azaikmal Rasyid; Amirul Aiman ; Dato Moch Yusof Ahmad ; Hirzaq Harris ; Arman Rizaudin pematung kaligrafi Burhanuddin Bakri dan pelukis Indonesia Agus Baqul Purnomo.

“Pameran berlangsung sampai akhir Ramadan. Pemeran tahun lalu, Kaligrafi Asmaul Husna karyanya dikoleksi kolektor negeri Jiran,” ucap pelukis kaligrafi alumni pondok pesantren itu. Tahun ini, Riyanto menampilkan beberapa karya, diantaranya, QS.Ar-Rahman dan QS.Ibrahim ayat 7 dengan goresan kaidah Farisi.

Sementara itu, d Museum Nasional Sepuluh Nopember Tugu Pahlawan Surabaya, Jawa Timur yang menyambut Nuzulul Quran yang diprakarsai UKHISI Ukhuwah Kaligrafi Indonesia dan Dinas Kebudayaan Pemuda dan Olah Raga (Disbudporapar) Surabaya, Riyanto menampilkan 2 karya uniknya Asmaul Husna dan Nuur Muhammad. Karya itu sempat viral di media sosial tahun lalu di event MTQ Nasional pada Pameran bersama 50 negara di Samarinda.

Karya unik Asmaul Husna menjadi target pengamat  dan penikmat seni untuk berinteraksi langsung dengan Riyanto.  

“Karya ini memang beda dengan karya kaligrafi lain, kalau yang lain tidak boleh (don’t touch) dipegang, karya ini justru dipersilahkan karena langsung bisa memutar dan meneliti keunikan karya ini (please touch),” kata santri KH.M.Faiz Abd Razzaq. KH. Syamsul Huda, KH.Musbahul Munir legend Kaligrafi Indonesia ini.

Agus M.T, staf ahli Disbudporapar Kota Surabaya mengatakan karya Riyanto ini bukan hanya sekedar karya seni tapi mempunyai manfaat secara experien yang interaktif untuk masyarakat. “Bagaimana mengenal Asmaul Husna dengan cara bermain kotak kotak segitiga 3 sisi, masing- masing berisi 33 (tasbih, tahmid, takbir) bila dijumlahkan menjadi 99 Asmaul Husna (Nama-nama Indah sebutan Allah) yang tiap sisinya berkaidah berbeda, Tsulust, Diwani, Koufi. Dengan tinggi karya 0,17 m visual dari 17 rakaat sholat. “Bagusnya lagi bisa diputar 360 derajat untuk bisa membacanya,” kata Riyanto menirukan ucapan Agus M.T., yang juga kurator itu. (yad) 

Pelukis Kaligrafi asal Gresik M. Riyanto, Pameran Kaligrafi 2in1, Indonesia dan Malaysia selama Ramadan Selengkapnya

Kaligrafi Handphone Jalur Langit, 99-G, Muhammad Riyanto Jadi Magnet di Pameran Lukisan Kaligrafi Menggapai Ramadhan

SURABAYA,1minute.id – Imajinasi H. Muhammad Riyanto berbeda dengan pelukis kaligrafi lainnya di Indonesia. Karya pelukis kaligrafi tinggal di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik, Jawa Timur out of the box dan selalu menyertakan lafal-lafal alquran.

Riyanto, sapaan akrabnya pernah membuat kaligrafi berjudul “Hanya DiriMu Semata” yang mendapatkan apresiasi dari seniman muslim Indonesia yakni Al Khattat Pasuruan Ustadz Syamsul Huda, Sidogiri, Pasuruan dan Kiai juga penyair Clurit Emas, D. Zawawi Imron dari Madura. Lukisan berukuran diameter 120 centimeter itu, sangat elok. 

Di Art Jakarta di JIEXPO Kemayoran, Jakarta. Ada tiga karya lukisan kaligrafi lelaki berusia 49 tahun ini pajang. Judulnya, “Keinginan ; Hijaiyah dan Fa Asbahtum Bini’matihi Ikhawanaa”.

Di eksebisi pameran kaligrafi kontemporer pada 8-15 September 2024 lalu, Riyanto, salah satu wakil Indonesia yang mengikuti pameran bertajuk “The Prophet Muhammad International Islam Calligraphy Art Exhibition”. Pameran kaligrafi kontemporer terbesar itu diikuti 135 pelukis dari 35 negara ini rangkaian memeriahkan acara Musabaqah Tilawatil Quran Nasional atau MTQN ke-30 di Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia. 

Riyanto memamerkan lukisan berjudul “Nuur Muhammad” di atas kanvas ukuran 120×120 cm. Medianya campuran yakni Polypropylene, glass, PVC board, pipa, pines, resin, acrylic on canvas. “Judul karya Nuur Muhammad dalam berkonsep karya nama diberikan oleh KH.Chotib Hambari adalah putra KH.Muhammad Bashori Mansyur pengasuh Ponpes Roudlotit Tholibin keponakan Gus Mus (Mustofa Bisri),” terang pelukis kaligrafi kini pengurus Jamiyyatul Qurra’ wal Huffazh atau JQH Kota Surabaya, Jawa Timur ini. 

Sedangkan, karya-karya kaligrafi yang mengkritisi kondisi sosial masyarakat. Di antaranya, berjudul “Dream Noah Ship Future” pernah dipajang di Malaysia. Lukisan itu menggambarkan sebuah kapal pesiar yang mengangkut banyak penumpang. Beragam agama mereka. Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Di atas kapal pesiar itu, semuanya rukun. “Andai dunia bisa damai. Akan sangat menyenangkan,” kata Riyanto suatu hari.

Nah, pada pemeran lukisan Kaligrafi Menggapai Ramadhan di basement Alun-alun Kota Surabaya mulai 15-22 Februari 2025, Riyanto memamerkan lukisan Kaligrafi berbentuk handphone. Lukisan kaligrafi itu berjudul “God is the Only Source of Knowledges” yang artinya Tuhanlah satu-satunya sumber ilmu.

“Niki doa, ayat, hadist dan Alquran. Ada kode 99 G pun mboten 5G male,” kata Riyanto dalam melalui pesan WhatApps pada wartawan 1minute.id pada Kamis, 20 Februari 2025.

Ide unik karya Riyanto ini berupa kaligrafi berbentuk handphone tipe 7 (visualisasi surat Alfatihah) dari karya ini ada pesan religi yang kuat, di antaranya jaringan HP menggunakan 99 G (Asmaul Husna). “Jadi sudah tidak 5G apalagi 4G,” katanya. Jaringan 99 G dengan Asmaul Husna adalah komunikasi jalur langit.

Bluetooth dan Wifi menggunakan Jaringan HAKISFI (Pelaksana Pameran) ada titik lampu LED di tengah atas yang menyala yang bisa di aktifkan dengan sensor di bawahnya sebagai penanda waktu Salat tiba. Ada enam kotak di tengahnya adalah visualisasi rukun iman. Dengan lafadz ayat ayat AlQuran di antaranya, “Faabiayyialaa irobbikuma tukadziban” ; “Fadhulii fii ‘ibaadii wadhulii jannaty” ; “Inna Fatahna Laka Fatham Mubiina” dan ada juga dengan media acrylic mirror dengan lafadz “Lainsyakartu. Laaziidannakum” Dengan media kaca acrylic kita di arahkan untuk bercermin diri sudahkan kita menjalankan apa yang diperintahkan Allah ?

“Saya merasa pesan yang saya sampaikan melalui karya ini sudah tersampaikan dan semoga bermanfaat dengan narasi yang disampaikan,” ujar pelukis kaligrafi yang  alumnus Pondok Pesantren ini.

Pameran Kaligrafi Menggapai Ramadhan ini juga diikuti oleh KH.Misbahul Munir, Ketua Majelis Dewan Hakim MKQ Nasional Malang ; KH.Imron Fathoni, Dewan Hakim MKQ Jawa Timur, KH.Robert Nasrullah, Dewan Hakim MKQ Nasional Yogyakarta ; Syam Arif, Surabaya ; Suharno, Tangerang dan Abdul Syukur, Jakarta. 

Juga ada Ustad Badruzzaman, Jakarta ; Lukmanul Hakim, Jombang ; Camilhady Lamongan ; Anwar Sanusi, Pasuruan ; Armin Misbah, Sulawesi ; dan Ustad Miftahul Khoir, Bali. “Karyaku ruame mas tadi malam (Rabu) HP unik jarene,” ujar Riyanto menirukan ucapan pengunjung.

Selain pameran kaligrafi yang diikuti lebih dari 100 karya dari peserta seluruh Indonesia. “Hakisfi juga mengadakan lomba melukis, workshop kaligrafi dan OTS yang diadakan di arena pameran,” kata Syam Arif, Ketua Panitia yang sekaligus peserta pameran adalah putra pelukis legenda perjuangan M.Sochieb dari Surabaya yang terkenal itu. 

Siapa H. Muhammad Riyanto? Riyanto tergabung dalam pelukis Gasrug Gresik dan lulusan Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Al-slamiyah asuhan KH. Muhammad Bashori Mansyur, Tambak Osowilangun, Surabaya. Ia belajar kaligrafi di KH.M Faiz AbdurRazaq Khattat International dari Bangil. (yad)

Kaligrafi Handphone Jalur Langit, 99-G, Muhammad Riyanto Jadi Magnet di Pameran Lukisan Kaligrafi Menggapai Ramadhan Selengkapnya

Syeikh Belaid Hamidi dari Maroko Apresiasi Karya Kaligrafi 3D Muhammad Riyanto

GRESIK,1minute.id – Seminar Internasional  Marosim Ijazah Khat mengusung tema “Transformasi Khat di Era Digital” di gelar oleh Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya di Gedung Stundent Center UINSA Surabaya terasa lebih semarak. 

Seminar yang diinisiasi oleh Ikatan Qori’ Qori’ah Mahasiswa (IQMA) UINSA Surabaya ini semarak karena menghadirkan dua pembicara, yaitu,  Abdur Rouf Hasbullah, Penggagas Metode Abajadun Hamidiyah dari Indonesia dan Syeikh Belaid Hamidi, International Master of Calligraphy dari Maroko.

Selain seminar internasional itu, panitia IQMA UINSA Surabaya juga menggelar pameran Kaligrafi Klasik. Ada puluhan kaligrafi yang dipamerkan. Diantaranya, kaligrafi berjudul “Hanya Dirimu Semata” dan “Nur Muhammad”. Dua kaligrafi itu karya Muhammad Riyanto. Riyanto adalah pelukis Kaligrafi yang tinggal di Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Dua goresan tangan lelaki berusia 49 tahun ini lah semakin menambah semarak dan menjadi daya tarik mahasiswa dan  beberapa masyarakat yang mengikuti acara seminar internasional itu. Riyanto adalah pelukis Kaligrafi yang sedang naik daun. Sejumlah karyanya menjadi koleksi tokoh nasional dan dari Kuala Lumpur, Malaysia beberapa waktu yang lalu.

Riyanto, pelukis kaligrafi aliran surealisme  tinggal di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik, Jawa Timur ini berbeda dengan pelukis kaligrafi lainnya. Riyanto, tumbuh di keluarga pelukis. Ayahnya seorang pelukis kaligrafi kaca. Pamannya juga berkecimpung di bidang melukis. Ia mengikuti jejak ayah dan pamannya menjadi seorang pelukis kaligrafi. Ia memulai pameran sejak 1991. Karya-karya kaligrafi yang mengkritisi kondisi sosial masyarakat. 

Syeikh Belaid Hamidi dari Maroko itu memuji karya Riyanto. Syeikh Belaid Hamidih, melihat dua karya Riyanto di hari pertama pameran pada Jumat, 25 Oktober 2024. Acara berlangsung sampai hari ini, Sabtu, 26 Oktober 2024.

‘Kaligrafi berjudul Nur Muhammad, mixed media ini pernah Saya ikutkan di Pameran Kaligrafi Nasional di MTQ Nasional 2024 di Samarinda beberapa waktu lalu,” ujar Riyanto pada Sabtu, 26 Oktober 2024. Riyanto merasa bangga karena karya kaligrafi mendapatkan apresiasi dari maestro kaligrafi Internasional Syeikh Belaid Hamidy di Student Center UIN Sunan Ampel Surabaya . 

Menurut Riyanto, “Kolaborasi pameran kaligrafi klasik naskah dan  kaligrafi  kontemporer modern 3-D kali ini adalah kali pertama di Indonesia, semoga kedepan lebih bagus lagi,” ujar bapak 3 anak ini.

Untuk diketahui Seminar Internasional Marosim Ijazah Khat mengusung tema “Transformasi Khat di Era Digital” digelar dua hari, Jumat-Sabtu, 25-26 Oktober 2024 hari ini masih berlangsung tashih koreksi dan penilaian. Hari pertama, ada dua pembicara, yaitu Abdur Rouf Hasbullah Mpd.I, Penggagas Metode Abajadun Hamidiyah dari Indonesia dan Syeikh Belaid Hamidy Internasional Master of Calligraphy dari Maroko.

Moderator seminar itu adalah Ustad Athoilah  Mpd.I Khattat yang fasih bahasa Arab, pernah belajar langsung dan mendapat sanad (ijazah) langsung dari Syeikh Belaid Hamidy Maroko.  Athoilah adalah pendiri sekolah kaligrafi atau Sakal Jombang. Tempat belajar kaligrafi Khat yang bersanad di Jombang. “Ustad Athoilah, ini pendiri Sakal Jombang bersanad di Jombang dan Dewan Hakim Provinsi Jatim di bidang Khat,” terang Muhammad Riyanto yang juga pengurus Jamiyyatul Qurra’ wal Huffazh atau JQH  dan LPTQ Kota Surabaya, Jawa Timur ini. (yad)

Syeikh Belaid Hamidi dari Maroko Apresiasi Karya Kaligrafi 3D Muhammad Riyanto Selengkapnya

Jadi Arus Utama Kaligrafi Islam di JMA Yogyakarta, Pencinta Karya Riyanto Kini Menikmati di Art Jakarta

GRESIK,1minute.id –  Sukses merebut hati pecinta kaligrafi di Taman Budaya Yogyakarta. Mulai hari ini, sejumlah lukisan kaligrafi karya Muhammad Riyanto akan terpajang di Art Jakarta di JIEXPO Kemayoran, Jakarta. Ada tiga karya lukisan kaligrafi lelaki berusia 49 tahun ini yang akan dipamerkan mulai 4-6 Oktober 2024 itu.

Tiga karya berjudul “Keinginan ; Hijaiyah dan Fa Asbahtum Bini’matihi Ikhawanaa”. Awalnya, pelukis kaligrafi yang sedang naik daun mengirimkan empat karya. Hasil kurasi tiga di antara empat karya lolos. “Lukisan saya diikutkan oleh Galeri.Telu dan Dinding Luar di Jakarta. Ini event pameran sangat luar biasa. Mohon doanya,” kata Riyanto pada Jumat, 3 Oktober 2024.

Riyanto, pelukis kaligrafi aliran surialis tinggal di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik, Jawa Timur ini berbeda dengan pelukis kaligrafi lainnya. Riyanto, tumbuh di keluarga pelukis. Ayahnya seorang pelukis kaligrafi kaca. Pamannya juga berkecimpung di bidang melukis. Ia mengikuti jejak ayah dan pamannya menjadi seorang pelukis kaligrafi. Ia memulai pameran sejak 1991. Karya-karya kaligrafi yang mengkritisi kondisi sosial masyarakat. 

Di antaranya, berjudul “Dream Noah Ship Future” pernah dipajang di Malaysia. Lukisan itu menggambarkan sebuah kapal pesiar yang mengangkut banyak penumpang. Beragam agama mereka. Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Di atas kapal pesiar itu, semuanya rukun. “Andai dunia bisa damai. Akan sangat menyenangkan,” kata Riyanto suatu hari. 

Di eksebisi pameran kaligrafi kontemporer pada 8-15 September 2024, Riyanto, salah satu wakil Indonesia yang mengikuti pameran bertajuk “The Prophet Muhammad International Islam Calligraphy Art Exhibition”. Pameran kaligrafi kontempore terbesar itu diikuti 135 pelukis dari 35 negara ini rangkaian memeriahkan acara Musabaqah Tilawatil Quran Nasional atau MTQN ke-30 di Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia. 

Riyanto memamerkan lukisan berjudul “Nuur Muhammad” di atas kanvas ukuran 120×120 cm. Medianya campuran yakni Polypropylene, glass, PVC board, pipa, pines, resin, acrylic on canvas. “Judul karya Nuur Muhammad dalam berkonsep karya nama diberikan oleh KH.Chotib Hambari adalah putra KH.Muhammad Bashori Mansyur pengasuh Ponpes Roudlotit Tholibin keponakan Gus Mus (Mustofa Bisri),” terang pelukis kaligrafi kini pengurus Jamiyyatul Qurra’ wal Huffazh atau JQH Kota Surabaya, Jawa Timur ini. 

Pada 28 September-1 Oktober 2024, Riyanto mengikuti pameran yang diselenggarakan oleh Tumpuk Undung, Likalaku Seasion, Jogja Move Art atau JMA 2024 di Taman Budaya Yogyakarta. Riyanto memamerkan lukisan berjudul “The Power of Ibrahim’s Prayer” (2023). Lukisan berdiameter 150 cm di media AOC. 

Dalam diskripsi lukisan berbentuk bundar itu, Riyanto sengaja visualisasikan semua bendera negara Islam di dunia dengan latar belakang menjalankan Tawaf yang merupakan salah satu rukun haji dan umrah orang Islam. Mereka datang membawa bendera negaranya dan kembali pun masih membawa benderanya. 

Dengan harapan nilai rohani yang dibawa dari pergi Haji atau umrah bisa menambah kebaikan untuk semua. Dan kotak-kotak yang polos visualisasikan sebagai berangkat dengan niat yang kurang ikhlas dan hanya niat urusan duniawi semata. 

Putaran tawaf yang divisualisasikan dengan tulisan kaidah tsulust adalah doa putaran pertama sampai putaran ketujuh atau terakhir. Dengan inti doanya Robbana atina fiddunya hasanah wafil akhiroti Hasanah waqina adzabannar… Sedangkan, Kakbah dengan petir adalah visualisasi kuatnya power dari Kakbah itu . 

Karena di sana seakan hanya ada Allah dan hambanya semata. Wallahu a’lam bisshowa. Karya Riyanto menjadi pusat perhatian para pengunjung di Taman Budaya Yogyakarta. Karya kaligrafi Islam karya Riyanto menjadi arus utama di event JMA. “Saya sangat bersyukur, banyak pengunjung yang tertarik dengan kaligrafi islam,” kata Riyanto yang juga pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran atau LPTQ Kota Surabaya juga Dewan hakim MTQ Cabang Khat Kota Surabaya. (yad)

Jadi Arus Utama Kaligrafi Islam di JMA Yogyakarta, Pencinta Karya Riyanto Kini Menikmati di Art Jakarta Selengkapnya

Nuur Muhammad, Karya Riyanto, Pelukis Kaligrafi asal Gresik Sabet Best Performance Ajang Pameran Internasional 

GRESIK,1minute.id – Ajang Musabaqah Tilawatil Quran Nasional atau MTQN ke-30 di Samarinda, Kalimantan Timur semakin gegap gempita. Selain diikuti ribuan kafilah se-Indonesia yang sedang berjuang mengharumkan provinsi yang diwakilinya. 

Di arena MTQN itu,  juga diadakan eksebisi pameran kaligrafi kontemporer.  Pameran yang berlangsung mulai 8-15 September 2024 itu bertajuk “The Prophet Muhammad International Islam Calligraphy Art Exhibition”. Pameran kaligrafi kontempore terbesar itu diikuti 135 pelukis dari 35 negara.  

Pulukis kaligrafi Indonesia diantaranya diwakili oleh Muhammad Riyanto.  Ia pelukis asal Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik, Jawa Timur. “Saya salah satunya wakil dari Jawa Timur,” kata Riyanto kepada 1minute.id pada Sabtu, 14 September 2024.

Riyanto memamerkan lukisan berjudul Nuur Muhammad di atas kanvas ukuran 120×120 cm. Medianya campuran yakni Polypropylene, glass, PVC board, pipa, pines, resin, acrylic on canvas.

“Judul karya Nuur Muhammad dalam berkonsep karya nama diberikan oleh KH.Chotib Hambari adalah putra KH.Muhammad Bashori Mansyur  pengasuh Ponpes Roudlotit Tholibin  keponakan Gus Mus (Musthofa Bisri),” terang pelukis kaligrafi yang santri ini. 

Lukisan Riyanto terlihat elok. Panitia menempatkan karya Riyanto di tempat paling strategis. Sehingga menyita perhatian semua orang yang berkunjung di arena pameran kaligrafi internasional. Penikmat karya adalah para kafilah, dan masyarakat Samarinda, Kalimantan Timur atau sekitar 2-3 jam dari Ibukota Nusantara alias IKN. 

“Dalam pameran panitia memilih satu yang terbaik. Karya Saya yang menjadi the best performance,” ujarnya. Riyanto menceritan, untuk membuat kaligrafi kontemporer “Nuur Muhammad” ini membutuhkan waktu 2 mingguan. “Seminggu cari ide, seminggu melukisnya,” katanya.  

Proses kreatif itu tergolong cukup lama. Selain ide, bahan-bahan yang masuk ke media kanvas berukuran 120×120 centimeter.  “Mixed media.  Polypropylene, glass, PVC board, pipa, pines, resin, acrylic on canvas),” kata bapak tiga anak itu. 

Filosofi apa yang tersirat dalam di lukisan berjudul “Nuur Muhammad” itu.  Nuur Muhammad atau Cahaya Muhammad S.A.W, yang lahir pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah atau 570 Mesehi di Makkah. “Cahaya Muhammad semoga selalu memberikan syafaatnya kelak,” ujar Riyanto. 

Pada tulisan Muhammad ada pipa dengan pines adalah 24 nabi dan Muhammad sebagai Rosul akhir zaman. Lalu kotak persegi empat adalah sifat-sifat rasul. Kemudian bulatan-bulatan kecil adalah visual umat beliau, Nabi Muhammad yang tersebar di seluruh dunia sampai sekarang.

Selanjutnya, lima kaca bulat cembung adalah visual dari lima waktu salat sebagai inti mi’rojul akan perintah-Nya. “Bisa juga digunakan untuk bercermin koreksi diri. Sudahkan kita Salat tepat waktu. Bisa juga divisualkan sebagai rukun Islam,” terang Riyanto. “Tulisan kaidah farisi sebelah kiri adalah sebutan Nabiyullah. Bentuk utama hati adalah wujud kecintaan kita ya habiby ya Rosulullah SAW,” ujarnya.

Riyanto, salah pelukis di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik yang fonomenal. Di dalam lukisan yang bercerita tentang kehidupan tersebut, Riyanto selalu menyisipkan ayat-ayat Alquran di dalamnya. 

“Bagi saya sebenarnya setiap seniman punya cara penyampaiannya sendiri-sendiri. Dan menyampaikan secara visual itu paling mudah. Hal itu nantinya juga bisa membuat orang-orang bertanya,”ujar Riyanto dalam suatu kesempatan. 

Sejumlah lukisan Riyanto telah dikoleksi sejumlah tokoh di Indonesia. Diantaranya, lukisan berjudul Ikan Bandeng menjadi koleksi Presiden Joko Widodo. Ada juga yang dikoleksi mantan ketua PBNU KH. Said Aqil Siradj, KH.Afofudin Dimyati putra KH.Dimyati Romli sekaligus pengasuh Ponpes Hidayatul Quran Peterongan Jombnag dan KH.Muammar ZA, qori International dari Indonesia.
Riyanto mengaku belajar kaligrafi dari Ustadz Faiz Abdur Rozzaq di Bangil, Pasuruan tersebut. (yad)

Nuur Muhammad, Karya Riyanto, Pelukis Kaligrafi asal Gresik Sabet Best Performance Ajang Pameran Internasional  Selengkapnya