Jadi Arus Utama Kaligrafi Islam di JMA Yogyakarta, Pencinta Karya Riyanto Kini Menikmati di Art Jakarta

GRESIK,1minute.id –  Sukses merebut hati pecinta kaligrafi di Taman Budaya Yogyakarta. Mulai hari ini, sejumlah lukisan kaligrafi karya Muhammad Riyanto akan terpajang di Art Jakarta di JIEXPO Kemayoran, Jakarta. Ada tiga karya lukisan kaligrafi lelaki berusia 49 tahun ini yang akan dipamerkan mulai 4-6 Oktober 2024 itu.

Tiga karya berjudul “Keinginan ; Hijaiyah dan Fa Asbahtum Bini’matihi Ikhawanaa”. Awalnya, pelukis kaligrafi yang sedang naik daun mengirimkan empat karya. Hasil kurasi tiga di antara empat karya lolos. “Lukisan saya diikutkan oleh Galeri.Telu dan Dinding Luar di Jakarta. Ini event pameran sangat luar biasa. Mohon doanya,” kata Riyanto pada Jumat, 3 Oktober 2024.

Riyanto, pelukis kaligrafi aliran surialis tinggal di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik, Jawa Timur ini berbeda dengan pelukis kaligrafi lainnya. Riyanto, tumbuh di keluarga pelukis. Ayahnya seorang pelukis kaligrafi kaca. Pamannya juga berkecimpung di bidang melukis. Ia mengikuti jejak ayah dan pamannya menjadi seorang pelukis kaligrafi. Ia memulai pameran sejak 1991. Karya-karya kaligrafi yang mengkritisi kondisi sosial masyarakat. 

Di antaranya, berjudul “Dream Noah Ship Future” pernah dipajang di Malaysia. Lukisan itu menggambarkan sebuah kapal pesiar yang mengangkut banyak penumpang. Beragam agama mereka. Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Di atas kapal pesiar itu, semuanya rukun. “Andai dunia bisa damai. Akan sangat menyenangkan,” kata Riyanto suatu hari. 

Di eksebisi pameran kaligrafi kontemporer pada 8-15 September 2024, Riyanto, salah satu wakil Indonesia yang mengikuti pameran bertajuk “The Prophet Muhammad International Islam Calligraphy Art Exhibition”. Pameran kaligrafi kontempore terbesar itu diikuti 135 pelukis dari 35 negara ini rangkaian memeriahkan acara Musabaqah Tilawatil Quran Nasional atau MTQN ke-30 di Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia. 

Riyanto memamerkan lukisan berjudul “Nuur Muhammad” di atas kanvas ukuran 120×120 cm. Medianya campuran yakni Polypropylene, glass, PVC board, pipa, pines, resin, acrylic on canvas. “Judul karya Nuur Muhammad dalam berkonsep karya nama diberikan oleh KH.Chotib Hambari adalah putra KH.Muhammad Bashori Mansyur pengasuh Ponpes Roudlotit Tholibin keponakan Gus Mus (Mustofa Bisri),” terang pelukis kaligrafi kini pengurus Jamiyyatul Qurra’ wal Huffazh atau JQH Kota Surabaya, Jawa Timur ini. 

Pada 28 September-1 Oktober 2024, Riyanto mengikuti pameran yang diselenggarakan oleh Tumpuk Undung, Likalaku Seasion, Jogja Move Art atau JMA 2024 di Taman Budaya Yogyakarta. Riyanto memamerkan lukisan berjudul “The Power of Ibrahim’s Prayer” (2023). Lukisan berdiameter 150 cm di media AOC. 

Dalam diskripsi lukisan berbentuk bundar itu, Riyanto sengaja visualisasikan semua bendera negara Islam di dunia dengan latar belakang menjalankan Tawaf yang merupakan salah satu rukun haji dan umrah orang Islam. Mereka datang membawa bendera negaranya dan kembali pun masih membawa benderanya. 

Dengan harapan nilai rohani yang dibawa dari pergi Haji atau umrah bisa menambah kebaikan untuk semua. Dan kotak-kotak yang polos visualisasikan sebagai berangkat dengan niat yang kurang ikhlas dan hanya niat urusan duniawi semata. 

Putaran tawaf yang divisualisasikan dengan tulisan kaidah tsulust adalah doa putaran pertama sampai putaran ketujuh atau terakhir. Dengan inti doanya Robbana atina fiddunya hasanah wafil akhiroti Hasanah waqina adzabannar… Sedangkan, Kakbah dengan petir adalah visualisasi kuatnya power dari Kakbah itu . 

Karena di sana seakan hanya ada Allah dan hambanya semata. Wallahu a’lam bisshowa. Karya Riyanto menjadi pusat perhatian para pengunjung di Taman Budaya Yogyakarta. Karya kaligrafi Islam karya Riyanto menjadi arus utama di event JMA. “Saya sangat bersyukur, banyak pengunjung yang tertarik dengan kaligrafi islam,” kata Riyanto yang juga pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran atau LPTQ Kota Surabaya juga Dewan hakim MTQ Cabang Khat Kota Surabaya. (yad)

Jadi Arus Utama Kaligrafi Islam di JMA Yogyakarta, Pencinta Karya Riyanto Kini Menikmati di Art Jakarta Selengkapnya

Nuur Muhammad, Karya Riyanto, Pelukis Kaligrafi asal Gresik Sabet Best Performance Ajang Pameran Internasional 

GRESIK,1minute.id – Ajang Musabaqah Tilawatil Quran Nasional atau MTQN ke-30 di Samarinda, Kalimantan Timur semakin gegap gempita. Selain diikuti ribuan kafilah se-Indonesia yang sedang berjuang mengharumkan provinsi yang diwakilinya. 

Di arena MTQN itu,  juga diadakan eksebisi pameran kaligrafi kontemporer.  Pameran yang berlangsung mulai 8-15 September 2024 itu bertajuk “The Prophet Muhammad International Islam Calligraphy Art Exhibition”. Pameran kaligrafi kontempore terbesar itu diikuti 135 pelukis dari 35 negara.  

Pulukis kaligrafi Indonesia diantaranya diwakili oleh Muhammad Riyanto.  Ia pelukis asal Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik, Jawa Timur. “Saya salah satunya wakil dari Jawa Timur,” kata Riyanto kepada 1minute.id pada Sabtu, 14 September 2024.

Riyanto memamerkan lukisan berjudul Nuur Muhammad di atas kanvas ukuran 120×120 cm. Medianya campuran yakni Polypropylene, glass, PVC board, pipa, pines, resin, acrylic on canvas.

“Judul karya Nuur Muhammad dalam berkonsep karya nama diberikan oleh KH.Chotib Hambari adalah putra KH.Muhammad Bashori Mansyur  pengasuh Ponpes Roudlotit Tholibin  keponakan Gus Mus (Musthofa Bisri),” terang pelukis kaligrafi yang santri ini. 

Lukisan Riyanto terlihat elok. Panitia menempatkan karya Riyanto di tempat paling strategis. Sehingga menyita perhatian semua orang yang berkunjung di arena pameran kaligrafi internasional. Penikmat karya adalah para kafilah, dan masyarakat Samarinda, Kalimantan Timur atau sekitar 2-3 jam dari Ibukota Nusantara alias IKN. 

“Dalam pameran panitia memilih satu yang terbaik. Karya Saya yang menjadi the best performance,” ujarnya. Riyanto menceritan, untuk membuat kaligrafi kontemporer “Nuur Muhammad” ini membutuhkan waktu 2 mingguan. “Seminggu cari ide, seminggu melukisnya,” katanya.  

Proses kreatif itu tergolong cukup lama. Selain ide, bahan-bahan yang masuk ke media kanvas berukuran 120×120 centimeter.  “Mixed media.  Polypropylene, glass, PVC board, pipa, pines, resin, acrylic on canvas),” kata bapak tiga anak itu. 

Filosofi apa yang tersirat dalam di lukisan berjudul “Nuur Muhammad” itu.  Nuur Muhammad atau Cahaya Muhammad S.A.W, yang lahir pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah atau 570 Mesehi di Makkah. “Cahaya Muhammad semoga selalu memberikan syafaatnya kelak,” ujar Riyanto. 

Pada tulisan Muhammad ada pipa dengan pines adalah 24 nabi dan Muhammad sebagai Rosul akhir zaman. Lalu kotak persegi empat adalah sifat-sifat rasul. Kemudian bulatan-bulatan kecil adalah visual umat beliau, Nabi Muhammad yang tersebar di seluruh dunia sampai sekarang.

Selanjutnya, lima kaca bulat cembung adalah visual dari lima waktu salat sebagai inti mi’rojul akan perintah-Nya. “Bisa juga digunakan untuk bercermin koreksi diri. Sudahkan kita Salat tepat waktu. Bisa juga divisualkan sebagai rukun Islam,” terang Riyanto. “Tulisan kaidah farisi sebelah kiri adalah sebutan Nabiyullah. Bentuk utama hati adalah wujud kecintaan kita ya habiby ya Rosulullah SAW,” ujarnya.

Riyanto, salah pelukis di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik yang fonomenal. Di dalam lukisan yang bercerita tentang kehidupan tersebut, Riyanto selalu menyisipkan ayat-ayat Alquran di dalamnya. 

“Bagi saya sebenarnya setiap seniman punya cara penyampaiannya sendiri-sendiri. Dan menyampaikan secara visual itu paling mudah. Hal itu nantinya juga bisa membuat orang-orang bertanya,”ujar Riyanto dalam suatu kesempatan. 

Sejumlah lukisan Riyanto telah dikoleksi sejumlah tokoh di Indonesia. Diantaranya, lukisan berjudul Ikan Bandeng menjadi koleksi Presiden Joko Widodo. Ada juga yang dikoleksi mantan ketua PBNU KH. Said Aqil Siradj, KH.Afofudin Dimyati putra KH.Dimyati Romli sekaligus pengasuh Ponpes Hidayatul Quran Peterongan Jombnag dan KH.Muammar ZA, qori International dari Indonesia.
Riyanto mengaku belajar kaligrafi dari Ustadz Faiz Abdur Rozzaq di Bangil, Pasuruan tersebut. (yad)

Nuur Muhammad, Karya Riyanto, Pelukis Kaligrafi asal Gresik Sabet Best Performance Ajang Pameran Internasional  Selengkapnya

Hanya DiriMu Semata, Karya Riyanto Menyita Pemerhati Seni Indonesia 

GRESIK,1minute.id – Puluhan Pelukis Jaw Timur menggelar Pameran Seni Lukis di TIC Kota Pasuruan. Pameran bertajuk Tadabur Rupa ini digelar mulai 30 September hingga Ahad, 8 Oktober 2023. Puluhan lukisan karya para “maestro” lukis di Jawa Timur dipamerkan. 

Salah satunya, H.M Riyanto. Pelukis kaligrafi asal Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik ini, banyak menyita perhatian pengunjung maupun para seniman. Karya lukis Riyanto berjudul “Hanya DiriMu Semata” yang mendapatkan apresiasi dari seniman muslim Indonesia yakni Al Khattat Pasuruan Ustadz Syamsul Huda, Sidogiri, Pasuruan dan Kiai juga penyair Clurit Emas, D. Zawawi Imron dari Madura. 

Lukisan berukuran diameter 120 centimeter itu, sangat elok. “Hanya satu bulan Saya membuatnya,” kata Riyanto dikonfirmasi melalui pesan WhatApps pada Sabtu, 7 Oktober 2023. Dalam diakripsinya,  menyebutkan bahwa huruf Wawu sebagai visualisasi personal akan sebuah karya dalam satu sesi kehidupan. Bermacam-macam keinginan manusia yang sudah bagian dari kodratnya. 

“Hanya diriMu semata adalah suatu keyakinan akan Tuhan semesta Alam yaitu Allah SWT yang telah memberikan nikmatNya kepada kita tanpa kita sadari”. 

Lafaldz dalam karya “Iyyaka na’budu waiyyaka nasta’iin, hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kamu memohon pertolongan”. Lafaldz iyyaka dalam Alfatihah ayat ke-5 ini menunjukkan adanya  perhatian dan pembatasan, maksudnya adalah setiap umat Muslim tidak diperkenankan untuk menyembah selain kepada Allah SWT sebagai bentuk ketaatan.

Lafadz Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in bermakna bahwa Allah SWT memerintahkan  kepada umat muslim untuk ikhlas dalam beribadah dan memohon pertolongan kepada Allah SWT. Bahwa kedudukan ibadah lebih tinggi di atas segalanya. Ayat Iyyaka nasta’in dan ihdina shiratal mustakim mengandung pengakuan tentang kelemahan manusia dan keharusan meminta pertolongan kepada Allah SWT. 

“Kita meminta pertolongan kepada Allah SWT dalam beribadah, dalam setiap doa yang diamalkan setelah sholat,” kata Riyanto dalam diakripsi karyanya. Sedangkan, visualisasi bulatan berjumlah 17 biji adalah jumlah rakaat dalam sholat wajib 5 waktu sholat dan lukisan dalam huruf wawu adalah rukun Islam yang menjadi tuntunan kita sebagai umat Islam.

Siapa Riyanto? Riyanto, tumbuh di keluarga pelukis. Ayahnya seorang pelukis kaligrafi kaca. Pamannya juga berkecimpung di bidang melukis. Ia mengikuti jejak ayah dan pamannya menjadi seorang pelukis kaligrafi. Ia memulai pameran sejak 1991. Karya-karya kaligrafi yang mengkritisi kondisi sosial masyarakat. 

Diantaranya, berjudul Dream Noah Ship Future juga sedang dipajang di Malaysia. Lukisan itu menggambarkan sebuah kapal pesiar yang mengangkut banyak penumpang. Beragam agama mereka. Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Di atas kapal pesiar itu, semuanya rukun. “Andai dunia bisa damai. Akan sangat menyenangkan,” kata Riyanto suatu hari. 

Lewat lukisan itu, dia ingin bercerita kehidupan di darat yang menggambarkan kesibukan manusia yang sebenarnya. Sementara itu, di bagian bawah menceritakan bagaimana sebuah fondasi kehidupan. Kemudian, di fase langit adalah kehidupan setelah meninggal.

Di dalam lukisan yang bercerita tentang kehidupan tersebut, Riyanto tetap menyisipkan ayat-ayat Alquran di dalamnya. “Bagi saya sebenarnya setiap seniman punya cara penyampaiannya sendiri-sendiri. Dan menyampaikan secara visual itu paling mudah. Hal itu nantinya juga bisa membuat orang-orang bertanya,”jelas Riyanto. Lukisan kali terakhir berjudul Ikan Bandeng menjadi koleksi Presiden Joko Widodo. Riyanto mengaku belajar kaligrafi dari Ustadz Faiz Abdur Rozzaq di Bangil, Pasuruan tersebut. (yad)

Hanya DiriMu Semata, Karya Riyanto Menyita Pemerhati Seni Indonesia  Selengkapnya

Alfatihah, Karya Riyanto, Ketua Dewan Hakim MTQ Khat, Dikoleksi Walikota Surabaya

GRESIK,1minute.id – Penutupan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-XXII Kota Surabaya dilakukan pada Sabtu, 22 Oktober 2022. MTQ yang digelar sebagai rangkaian menyambut Hari Santri Nasional 2022 itu diikuti 491 peserta. Semua pesertanya warga Kota Pahlawan. Ada empat kategori yang dilombakan. Yakni, 

Cabang Tilawah Al-Quran, Tafsir Al Quran, Khath Al Quran dan Hifzh Al Quran. Penutupan MTQ dilakukan di Balai Kota Surabaya bertepatan Hari Santri Nasional diperingati setiap 22 Oktober itu.

Penutupan MTQ terasa lebih spesial. Sebab, Walikota Surabaya Eri Cahyadi memilih kaligrafi Surat Al Fatihah sebagai koleksi di rumah dinasnya. Kaligrafi berukuran 90 cm x 90 cm menggunakan cat akrilik itu karya seniman Kaligrafi asal Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik. Ia bernama Muhammad Riyanto, 47 tahun. Pada MTQ ke-XXII Kota Surabaya ini, Riyanto adalah hakim Ketua kategori Cabang Khat. “Alhamdulillah  dikoleksi Pak Walikota Eri Cahyadi, mas,”kata Riyanto melalui pesan WhatsApp pada Sabtu malam, 22 Oktober 2022. 

Riyanto mengatakan, dirinya mendapat mandat sebagai ketua dewan hakim MTQ ke-XXII Kota Surabaya untuk Cabang Khat. Dewan juri berjumlah 3 orang dengan dua orang panitera. “Kulo waktu niku diserahi dados Ketua Dewan Hakim MTQ Cabang Khat. Alhamdulillah lancar,”katanya berulangkali mengucapkan rasa syukurnya. Siapa Muhammad Riyanto?

Riyanto adalah seniman Kaligrafi asal Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik. Ia tinggal di Grand Sutomo, Jalan DR Wahidin Sudirohusodo, Kecamatan/Kabupaten Gresik.  Karya sudah melanglang buana hingga mancanegara. Di Malaysia, misalnya. Sebanyak lima lukisan kaligrafi karya Riyanto masuk ekshibisi bertaraf internasional bertajuk Art is Fair in /KL/ Fahrenheit 88 ini. Sebanyak 500 karya seniman dunia dipamerkan mulai 11-28 November 2021. 

Lima karya Riyanto berjudul “Allah Greatness ; Islamic Cultural ” Walisongo Religius Transportation ” ; Dream ” Noah Ship Future ” ; Kolaborasi dan Leader Ship In Politik ” Win or Lose “. Semua lukisan menggunakan cat akrilik. “Semuanya beraliran Surialis,”kata Riyanto  dikonfirmasi selulernya pada Sabtu, 13 November 2021 lalu.

Saat itu, lukisan berjudul Islamic Cultural “Walisongo Religius Transportation” dengan media kanvas ukuran 120 X 155 cm itu menjadi magnet pengunjung di negari Mahatir Mohamad itu. Riyanto menggambarkan semua tempat ziarah makam Wali Songa itu telah dilengkapi dengan sistem moda transportasi modern yang terintegrasi menjadi satu kesatuan.

Selain moda transportasi bus, kapal juga moda transportasi massal berupa kereta bawah tanah yang menghubungkan sembilan penyebar agama Islam di Indonesia itu. 

JUSTICE : Muhammad Riyanto dan karya lukisnya. (Foto: Chusnul Cahyadi/1minute.id)

Riyanto, tumbuh di keluarga pelukis. Ayahnya seorang pelukis kaligrafi kaca. Pamannya juga berkecimpung di bidang melukis. Ia mengikuti jejak ayah dan pamannya menjadi seorang pelukis kaligrafi. Ia memulai pameran sejak 1991. Karya-karya kaligrafi yang mengkritisi kondisi sosial masyarakat. 

Diantaranya, berjudul Dream Noah Ship Future. Lukisan itu menggambarkan sebuah kapal pesiar yang mengangkut banyak penumpang. Beragam agama mereka. Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Di atas kapal pesiar itu, semuanya rukun. “Andai dunia bisa damai. Akan sangat menyenangkan,” kata Riyanto suatu hari. 

Lewat lukisan itu, dia ingin bercerita kehidupan di darat yang menggambarkan kesibukan manusia yang sebenarnya. Sementara itu, di bagian bawah menceritakan bagaimana sebuah fondasi kehidupan. Kemudian, di fase langit adalah kehidupan setelah meninggal.

Di dalam lukisan yang bercerita tentang kehidupan tersebut, Riyanto tetap menyisipkan ayat-ayat Alquran di dalamnya. “Bagi saya sebenarnya setiap seniman punya cara penyampaiannya sendiri-sendiri. Dan menyampaikan secara visual itu paling mudah. Hal itu nantinya juga bisa membuat orang-orang bertanya,”jelas Riyanto. Lukisan kali terakhir berjudul Ikan Bandeng menjadi koleksi Presiden Joko Widodo. Riyanto mengaku belajar kaligrafi dari Ustadz Faiz Abdur Rozzaq di Bangil, Pasuruan tersebut. (yad)

Alfatihah, Karya Riyanto, Ketua Dewan Hakim MTQ Khat, Dikoleksi Walikota Surabaya Selengkapnya