GRESIK,1minute.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik memboyong lima penghargaan di peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Provinsi Jawa Timur di Pendapa Agung Kabupaten Malang pada Rabu, 29 Juli 2026.
Lima penghargaan itu, diantaranya, pembentukan TPA/TAMASYA (Tempat Penitipan Anak/Taman Asuh Sayang Anak) jalur pemerintah, capaian diatas 100% peserta KB, peta jalan pembangunan kependudukan serta inovasi dan program unggulan Ketua TP PKK Kabupaten.
TAMASYA, salah satu program unggulan bentukkan Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani yang mendukung keberhasilan program prioritas nasional bidang pembangunan keluarga. Selain Bupati Gresik, Harganas juga memberikan apresiasi kepada Ketua Tim Penggerak PKK Nurul Haromaini Ali.
Penghargaan tersebut diserahkan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elistianto Dardak didampingi Ketu TP PKK Arumi Bachsin kepada Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani dan Ketua TP PKK Kabupaten Gresik Nurul Haromaini Fandi Akhmad Yani. Dalam sambutannya Wagub Emil Elistianto Dardak menegaskan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam pembangunan bangsa.
Menurut Emil, seluruh elemen masyarakat harus terus memperkuat peran keluarga sebagai tempat pertama dalam membentuk karakter generasi penerus. “Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para kader dan Tim Pendamping Keluarga yang selama ini menjadi ujung tombak dalam mendampingi masyarakat,” ujar suami Arumi Bachsin ini.
Harganas yang mengusung tema “Ayah Wajib Hadir”, Emil juga menyoroti pentingnya kehadiran ayah dalam proses tumbuh kembang anak, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. “Hari ini sangat mungkin kita berada di rumah, tetapi masing masing sibuk dengan dunianya sendiri. Kehadiran Ayah harus benar benar dirasakan oleh anak anak,” pungkasnya.
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani usai menerima penghargaan menyampaikan terima kasih kepada seluruh stakeholder dan seluruh elemen masyarakat Kabupaten Gresik. Menurutnya, peringatan Harganas bukan sekadar agenda seremonial, melainkan harus diwujudkan dalam aksi nyata yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat.
“Apresiasi dan penghargaan dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN Perwakilan Provinsi Jawa Timur ini untuk masyarakat Kabupaten Gresik. Mudah mudahan inovasi dan program unggulan seperti TPA/TAMASYA Masmundari ini terus bisa memberi manfaat kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujar suami Nurul Haromaini Ali ini.
Bupati Yani menegaskan, tema utama Harganas 2026 “Ayah Wajib Hadir”, menjadi momentum penting untuk memperkuat fondasi ketahanan keluarga. Sekaligus mengakselerasi penanganan stunting melalui kolaborasi lintas sektor yang masif. Tema ini mengingatkan bahwa kehadiran ayah dalam pengasuhan memiliki peran penting dalam tumbuh kembang anak.
“Upaya percepatan penurunan stunting juga tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh elemen, mulai dari pemerintah, dunia usaha, hingga elemen masyarakat. Terima kasih juga kepada Tim Penggerak PKK yang sudah membantu pemerintah dalam memaksimalkan TPA/TAMASYA Masmundari dan pengawasan menu MBG untuk anak anak yang sudah berjalan baik di masing masing dapur SPPG di Kabupaten Gresik,” tandasnya. (yad)
GRESIK,1minute.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik melalui Dinas Cipta Karya, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DCKPKP) Gresik menggelar kegiatan Pembekalan dan Uji Kompetensi Sertifikasi Tenaga Kerja Konstruksi di Ruang Putri Cempo, Kantor Bupati Gresik pada Rabu, 29 Juli 2026.
Kegiatan ini sebagai komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik berupaya untuk meningkatkan kualitas dan daya saing sumber daya manusia (SDM), khususnya Pekerja Migran Indonesia (PMI) di sektor konstruksi dibuka oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman. Ia didampingi Kepala Dinas Cipta Karya, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DCKPKP) Gresik Ida Lailatussa’diyah.
Sebanyak 54 peserta mengikuti pembekalan dan uji kompetensi dengan antusias. Sertifikasi yang dilaksanakan mencakup tiga skema kompetensi, yakni Juru Las Pemula sebanyak 28 peserta, Tukang Pasang Bata Plester sebanyak 24 peserta, serta Kepala Tukang Bangunan Gedung sebanyak dua peserta.
Dalam sambutannya, Sekda Washil menyampaikan bahwa sertifikasi kompetensi merupakan kebutuhan yang tidak dapat diabaikan, terutama di tengah semakin tingginya persaingan tenaga kerja. Menurutnya, tenaga kerja yang memiliki sertifikat kompetensi akan lebih mudah memperoleh kepercayaan dari pengguna jasa sekaligus memiliki peluang kerja yang lebih luas.
Ia mengungkapkan, dari sekitar 10 ribu tenaga kerja konstruksi di Kabupaten Gresik, baru 3.654 orang atau kurang dari 25 persen yang telah memiliki sertifikat kompetensi. Sementara itu, dari 8.348 calon PMI sektor konstruksi yang terdata di Dinas Tenaga Kerja, baru 368 orang yang telah tersertifikasi.
“Angka ini menjadi tantangan bagi kita semua. Karena itu saya berharap seluruh peserta dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Sertifikat kompetensi bukan sekadar dokumen, tetapi menjadi bekal penting untuk meningkatkan profesionalisme dan daya saing di dunia kerja,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa seorang tenaga kerja profesional harus memiliki tiga aspek utama, yakni keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge), dan sikap (attitude). “Keterampilan harus terus diasah sesuai bidang pekerjaan, pengetahuan harus ditingkatkan melalui pemahaman terhadap standar operasional. Sedangkan sikap tercermin dari kedisiplinan, tanggung jawab, dan etika dalam bekerja,” jelasnya.
Selain kompetensi teknis, Washil juga mendorong para calon pekerja migran untuk terus meningkatkan kemampuan berbahasa asing. Menurutnya, kemampuan berkomunikasi akan sangat membantu saat bekerja di luar negeri, sekaligus meminimalkan risiko kesalahpahaman maupun persoalan hukum di negara tujuan.
Sementara itu, Kepala Dinas CKPKP Gresik
Ida Lailatussa’diyah dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Gresik untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang jasa konstruksi. Hal ini sekaligus mendukung visi pembangunan daerah melalui peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal.
Menurutnya, sertifikasi kompetensi diharapkan menjadi bekal bagi para pekerja migran yang ingin kembali berkarya di tanah air. Diharapkan tenaga kerja lokal mampu mengisi kebutuhan tenaga konstruksi di berbagai kawasan industri di Kabupaten Gresik.
“Kami ingin tenaga kerja asal Gresik menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai hanya menjadi penonton ketika peluang kerja terbuka lebar di kawasan industri. Dengan sertifikat kompetensi, para peserta memiliki bukti keahlian yang diakui sehingga lebih siap bersaing di dunia kerja,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan yang didanai melalui APBD Kabupaten Gresik Tahun Anggaran 2026 tersebut juga menjadi bentuk pelaksanaan amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi, yang mana mengisyaratkan kewenangan tugas pemerintah daerah dalam pembina jasa konstruksi di daerah untuk tingkat terampil.
Melalui pembekalan dari Lembaga Sertifikasi Profesi Tenaga Konstruksi Nasional (LSP-TKN) dan Lembaga Sertifikasi Profesi Perkumpulan Tenaga Kerja Ahli dan Terampil Indonesia (LSP-PETAKINDO), para peserta diharapkan memperoleh pengakuan kompetensi yang sesuai dengan standar nasional. (yad)
GRESIK,1minute.id – Puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Jawa Timur dipusatkan di Kawasan Wisata Pintu Langit, Prigen, Kabupaten Pasuruan pada Selasa, 28 Juli 2026. Acara itu dihadiri Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa hingga Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi.
Bupati Gresik Fandi Akhmad hadir langsung dalam acara itu untuk menerima dua penghargaan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik sukses menyabet dua penghargaan yakni peringkat 1 se-Jatim dan Peringkat 3 Nasional untuk Indeks Perlindungan Anak (IPA). Penghargaan tersebut diserahkan oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa kepada Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani.
Menteri PPPA Arifah Fauzi mengapresiasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam puncak HAN. Menurutnya, banyak yang diberikan kepada anak-anak dan perempuan di Jawa Timur, seperti pelayanan yang dilaunching yaitu Perisai Anak (Ekosistem Perlindungan Anak di Ruang Digital) dirancang sebagai langkah strategis menekan angka kekerasan pada anak.
“Pemprov Jatim benar-benar memberikan perlindungan kepada perempuan dan anak, bukti nyata telah memberikan layanan seperti Perisai Anak yang akan melindungi perempuan dan anak di Jawa Timur,” ungkap Arifah Fauzi.
Arifah mengingatkan para orang tua di Jawa Timur tentang besarnya ancaman digital, khususnya dari pengaruh negatif media sosial. Melalui program ini, orang tua didorong untuk mengambil peran kecil yang berdampak besar, seperti menjadi teman berbicara, teladan penggunaan gawai, serta pendengar pertama bagi anak tanpa langsung memberikan penghakiman sepihak.
“Masalah kekerasan dan tantangan yang dihadapi anak-anak di era modern tidak bisa diselesaikan oleh satu instansi saja. Untuk itu, saya mengajak seluruh pemangku kepentingan mulai dari aparat penegak hukum, pemerintah daerah, sekolah, hingga orang tua untuk berkolaborasi bersama,” tandasnya.
Puncak peringatan HAN 2026 semakin meriah karena sejumlah perform ratusan siswa. Merek unjuk bakat kreatif, mulai dari tarian daerah, pembacaan puisi, hingga atraksi baris-berbaris polisi cilik (Pocil) dari Sekolah Rakyat terintegrasi Kota Pasuruan.
Usai menerima penghargaan, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan, kegiatan ini menjadi momentum krusial bagi wilayah Jawa Timur untuk memperkuat komitmen perlindungan hak anak sekaligus implementasi ruang digital yang sehat, aman, dan bertanggung jawab bagi generasi masa depan.
“Penghargaan ini menjadi motivasi kami untuk terus berjuang memberikan perlindungan terhadap anak-anak di Gresik. Ini menjadi bukti komitmen Pemerintah Kabupaten Gresik dalam membangun lingkungan yang ramah anak sekaligus mendorong pemenuhan hak-hak anak melalui kebijakan dan program yang berkelanjutan,” tutur Gus Yani, sapaan akrab, Fandi Akhmad Yani.
Karena itu, Ia menegaskan seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap anak memperoleh hak untuk tumbuh, belajar, terlindungi, sehat, dan berkembang secara optimal sesuai potensi yang dimiliki. Sebagai bentuk komitmen tersebut, Pemkab Gresik terus menghadirkan berbagai program yang berpihak kepada anak melalui penguatan sektor pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, pemenuhan gizi, hingga penciptaan lingkungan yang aman dan ramah anak.
“Mari kita sayangi anak, lindungi mereka, karena anak-anak kita adalah calon pemimpin masa depan. Investasi terbaik yang dapat kita lakukan adalah memastikan mereka tumbuh sehat, memperoleh pendidikan yang berkualitas, mendapatkan perlindungan, serta memiliki ruang untuk mengembangkan karakter, kreativitas, dan prestasinya,” ungkap mantan Ketua DPRD Gresik ini.
Di tempat sama, Kepala Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Anak (KBPPPA) Gresik, dr. Titik Ernawati mengatakan, hari ini Kabupaten Gresik memperoleh indeks perlindungan anak tingkat provinsi Jawa timur melalui 5 kluster penilaian. Diantaranya, hak sipil dan kebebasan, lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif serta kesehatan dasar dan kesejahteraan.
“Ini akan menjadi pemicu semangat kami kedepan dalam meningkatkan nilai Indeks perlindungan dan pemenuhan hak hak anak di Gresik. Harapannya kedepan Kabupaten Gresik mempertahankan kembali tingkat pertama di Jawa Timur dan naik level di nasional,” ujarnya (yad)
GRESIK,1minute.id – Perlindungan anak pekerja migran Indonesia tidak boleh berhenti pada upaya memulangkan mereka ke tanah air. Lebih dari itu, anak-anak tersebut harus dipastikan memiliki identitas, memperoleh pendidikan, mendapatkan layanan kesehatan, serta memiliki kesempatan untuk tumbuh dan membangun masa depan.
Pesan tersebut disampaikan Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani saat menjadi salah satu narasumber utama dalam Diskusi Publik Nasional bertema “Anak Pekerja Migran Indonesia: Tantangan, Pelindungan, dan Masa Depan” di Aula K.H. Abdurrahman Wahid, Kantor Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), Jakarta pada Senin, 27 Juli 2026.
Dalam forum tersebut, Gus Yani, sapaan akrab, Fandi Akhmad Yani, juga menerima Piagam Penghargaan dari Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia/Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia sebagai Kepala Daerah Inspiratif dalam Gerakan Peduli Anak Pekerja Migran Indonesia.
Penghargaan tersebut diberikan atas dedikasi dan upaya Bupati Fandi Akhmad Yani dalam memberikan hak dan perlindungan, sekaligus menjamin masa depan anak-anak pekerja migran Indonesia.
Kegiatan tersebut dihadiri Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Mukhtarudin, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronika Tan, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Aris Adi Leksono, Direktur Jenderal Pemberdayaan KP2MI Muh. Fachri dan President IDN Global Nathalia Widjaja.
Kemudian, Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri Heni Hamidah, Duta Besar RI untuk Malaysia periode 2020–2025 Dato’ Indera Hermono, serta Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi. Forum juga
diikuti para rektor dan perwakilan rektor sejumlah universitas, para kepala sekolah Sanggar Belajar Malaysia, kepala dinas ketenagakerjaan kabupaten/kota, serta kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) secara daring melalui Zoom.
Dalam paparannya, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani membagikan pengalaman Kabupaten Gresik membangun model perlindungan anak pekerja migran Indonesia, khususnya anak-anak yang lahir dari pekerja migran asal Gresik di Malaysia. “Menyelamatkan satu anak, sama saja menyelamatkan satu generasi. Anak-anak tidak boleh menjadi korban jarak dan migrasi,” ujar Magister Mitigasi Bencana Unair Surabaya ini.
Berdasarkan data yang dimiliki Pemkab Gresik, terdapat 8.348 pekerja migran asal Gresik yang tersebar di 10 kecamatan. Sementara itu, sebanyak 1.520 PMI tercatat atau telah terintegrasi dengan Dinas Tenaga Kerja pada periode 2022–2025. Malaysia menjadi negara tujuan utama. Sebanyak 70,9 persen PMI asal Gresik yang tercatat memilih negara tersebut sebagai tujuan bekerja.
Menurutnya, kedekatan geografis dan budaya serta jejaring keluarga dan komunitas membuat Malaysia menjadi tujuan utama PMI asal Gresik. Namun, data tersebut kemungkinan belum menggambarkan kondisi sebenarnya karena masih terdapat pekerja migran yang berangkat tanpa dokumen resmi.
Karena itu, perhatian terhadap isu migrasi tidak boleh hanya berfokus pada jumlah pekerja, sektor pekerjaan, maupun remitansi. Anak-anak yang lahir dan tumbuh dalam keluarga pekerja migran juga harus menjadi bagian dari sistem perlindungan. Salah satu kerentanan paling mendasar adalah persoalan identitas hukum. Sebagian anak PMI lahir dari situasi keluarga yang kompleks, termasuk perkawinan yang tidak tercatat maupun hubungan tanpa status hukum yang jelas.
“Ketika identitas tidak ada, maka hak-hak lain juga menjadi jauh. Hak pendidikan, hak kesehatan, hak keamanan, dan hak-hak dasar lainnya,” ujar mantan Ketua DPRD Gresik ini.
Kerentanan tersebut semakin kompleks karena sebagian anak PMI juga menghadapi keterbatasan akses pendidikan. Berdasarkan hasil riset Pemkab Gresik, terdapat 76 sanggar belajar binaan KBRI di berbagai wilayah Malaysia yang menampung lebih dari 2.300 anak PMI.
Suami Nurul Haromaini Ali ini mengapresiasi peran KBRI Kuala Lumpur dalam menyediakan ruang pendidikan bagi anak-anak tersebut, termasuk melalui pelibatan universitas dalam program KKN internasional untuk mengatasi keterbatasan tenaga pengajar.
Namun, sebagian sanggar belum memiliki kurikulum resmi maupun guru tetap. Meski demikian, keberadaan sanggar belajar tetap menjadi upaya penting untuk memastikan anak-anak PMI memperoleh hak dasar pendidikan. Atas persoalan tersebut, Kabupaten Gresik membangun model perlindungan anak pekerja migran melalui tiga fase utama.
Fase pertama adalah pelacakan dan pemutakhiran data anak pekerja migran, sekaligus penjaminan identitas hukum. Pemkab Gresik berkoordinasi dengan KBRI Kuala Lumpur untuk memastikan asal-usul anak dan keterkaitannya dengan Kabupaten Gresik.
Proses tersebut dilanjutkan dengan validasi di tingkat desa dan pendekatan kepada keluarga yang berada di Gresik. Langkah ini dilakukan untuk memastikan data anak sekaligus kesiapan keluarga dalam menerima dan mendampingi anak ketika kembali ke Indonesia.
Dalam proses pemulangan, kolaborasi juga dilakukan bersama KBRI dan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, termasuk dalam fasilitasi dokumen perjalanan sementara bagi anak-anak yang akan kembali ke Indonesia.
Fase kedua adalah pemulangan anak-anak pekerja migran ke Kabupaten Gresik. “Setelah kami tracing semuanya, kesimpulannya adalah paling tepat mereka kita bawa pulang ke Indonesia, pulang ke Gresik, agar mereka mendapatkan hak identitas, hak pendidikan yang layak, dan hak-hak lainnya,” ujar bapak dua anak ini.
Fase ketiga adalah penjaminan layanan dasar setelah anak tiba di Gresik. Pemkab Gresik memastikan anak-anak tersebut memperoleh akses pendidikan, pemenuhan dokumen kependudukan, layanan kesehatan fisik dan mental, pendampingan psikososial, perlindungan sosial, serta dukungan pengembangan diri dan keterampilan. Seluruh layanan tersebut dilakukan melalui kolaborasi lintas perangkat daerah sesuai tugas dan kewenangannya.
Dalam salah satu kasus, Pemkab Gresik menyiapkan akses pendidikan bagi seorang anak PMI berusia sekitar delapan tahun melalui program Sekolah Rakyat. Anak tersebut kini telah berada di Gresik dan mendapatkan pendampingan bersama keluarga yang menerimanya.
Komitmen tersebut telah diwujudkan melalui dua gelombang pemulangan anak pekerja migran. Pada 8–9 Februari 2026, tiga anak PMI asal Gresik dipulangkan ke Indonesia. Selanjutnya, pada 9–10 Juli 2026, enam anak asal Gresik kembali difasilitasi untuk pulang bersama tiga anak pekerja migran dari daerah lain.
Dengan demikian, sebanyak sembilan anak asal Gresik telah difasilitasi pulang melalui dua gelombang pemulangan. Pada gelombang kedua, Pemkab Gresik juga turut memfasilitasi kepulangan tiga anak pekerja migran dari daerah lain.
Bupati Yani menegaskan, pemulangan bukanlah akhir dari proses perlindungan. Kepulangan justru menjadi awal untuk memastikan anak-anak tersebut memiliki identitas, memperoleh pendidikan, mendapatkan layanan kesehatan, dan memiliki kesempatan membangun masa depan. “Satu hal yang kami harapkan adalah anak-anak bisa diterima di Indonesia, memiliki identitas, dan bisa sekolah tanpa kesulitan administrasi. Ini yang menjadi konsentrasi kami di Kabupaten Gresik,” tuturnya.
BUPATI INSPIRATIF: Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Mukhtarudin menyerahkan piagam penghargaan kepada Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani sebagai Kepala Daerah Inspiratif dalam Gerakan Peduli Anak Pekerja Migran Indonesia di Jakarta pada Senin. 27 Juli 2026 ( Foto : Kominfo Gresik untuk 1minute.id)
Menurutmya, pengalaman Gresik menunjukkan bahwa perlindungan anak pekerja migran tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga atau satu daerah saja. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, perwakilan diplomatik, diaspora, organisasi masyarakat sipil, pemerintah desa, dan keluarga perlu bergerak dalam satu ekosistem perlindungan.
“Perlindungan anak pekerja migran bukan hanya soal memulangkan mereka. Ada proses panjang untuk memastikan mereka memiliki identitas, memperoleh hak pendidikan, mendapatkan layanan kesehatan, dan bisa kembali tumbuh bersama keluarga serta lingkungannya,” pungkas Bupati Yani.
Gagasan tersebut sejalan dengan agenda nasional yang disampaikan Direktur Jenderal Pemberdayaan KP2MI Muh. Fachri saat mewakili Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia dalam membuka forum. Ia mengatakan, perlindungan pekerja migran tidak boleh hanya berfokus pada aspek ketenagakerjaan, tetapi juga harus mencakup keluarga dan anak-anak pekerja migran.
“Keberhasilan migrasi bukan hanya diukur dari besarnya remitansi yang dikirimkan, tetapi juga dari kualitas kehidupan keluarga, termasuk anak-anak mereka,” ujarnya.
Fachri mengatakan, pada 2025 remitansi pekerja migran Indonesia mencapai sekitar Rp 28 triliun. Namun, manfaat ekonomi tersebut harus berjalan beriringan dengan pembangunan manusia. Migrasi, kata dia, harus menghasilkan kesejahteraan, bukan melahirkan persoalan antargenerasi. Ketika orang tua bekerja di luar negeri dalam waktu lama, anak dapat menghadapi tantangan pengasuhan, pendidikan, kesehatan mental, hingga risiko kekerasan dan eksploitasi.
Karena itu, perlindungan anak pekerja migran membutuhkan ekosistem yang bekerja dari tingkat desa hingga negara penempatan. Pemerintah memiliki kewenangan, kebijakan, dan data. Sementara diaspora memiliki jaringan, kedekatan dengan komunitas, serta kemampuan menjangkau wilayah yang tidak selalu dapat dijangkau negara.
“Ketika kedua kekuatan ini kita padukan, insyaallah akan menciptakan ekosistem perlindungan yang lebih efektif dan berkelanjutan,” kata Muh. Fachri.
Menurutnya, penguatan data anak pekerja migran juga menjadi bagian penting dari sistem perlindungan. Pendataan ke depan perlu dimulai dari tingkat desa untuk mengetahui warga yang bekerja di luar negeri, anak yang ditinggalkan, usia, akses pendidikan, kesehatan, serta kebutuhan perlindungan lainnya. “Data anak ini bukan hanya sekadar informasi, tetapi sesungguhnya adalah amanah yang harus diintervensi oleh negara,” ujarnya. (yad)
GRESIK,1minute.id – Pemerintah Kabupaten Gresik menyelenggarakan upacara peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 di halaman kantor Bupati Gresik pada Senin, 27 Juli 2026. Upacara dipimpin oleh Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif. HAN yang diperingati setiap 23 Juli.
Dalam upacara itu, Wakil Bupati Gresik dr. Asluchul Alif, membacakan pidato tertulis Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi. Peringatan HAN tahun ini mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi, dan Bangun Masa Depan”. Momen ini menegaskan kembali bahwa anak bukan sekadar objek, melainkan subjek pembangunan yang memiliki hak suara dan partisipasi sesuai tingkat kematangannya.
Wabup Alif menyatakan, investasi bangsa ini bukan semata-mata pada pembangunan infrastruktur, melainkan pada setiap anak Indonesia. “Ketika seluruh pihak bersatu melindungi anak dan memastikan hak-haknya terpenuhi, sesungguhnya kita sedang membangun fondasi masa depan bangsa yang lebih maju, adil, dan berkelanjutan,” ucap dokter Alif, sapaan akrab, Asluchul Alif.
Guna memperkuat upaya perlindungan anak, pemerintah telah meluncurkan Gerakan Nasional Ruang Aman Nyaman Anak (Gernas #RANA). Gerakan ini mengintegrasikan pencegahan kekerasan, penguatan keluarga, keamanan ruang digital, hingga respons cepat atas kasus yang terjadi pada anak.
Semangat tersebut kemudian diperluas melalui kampanye Berlian (Bersama Lindungi Anak) sebagai upaya mengajak seluruh elemen masyarakat berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan ramah bagi anak.
Sejalan dengan itu, ditetapkan pula tagline resmi “Sayang Anak Sayang Indonesia” dengan tagar pendukung #HariAnakNasional2026 dan #SayangAnakSayangIndonesia untuk menggemakan pesan perlindungan anak di ruang digital. Peringatan HAN 2026 mengedepankan 8 nilai utama, yakni berakhlak mulia, bahagia, peduli, berani, cerdas, solidaritas, aman, dan bertanggung jawab sebagai karakter yang diharapkan tertanam pada setiap anak Indonesia.
Dalam pelaksanaannya, peringatan Hari Anak Nasional berpedoman pada 5 prinsip, yaitu ramah anak, desentralisasi, apresiatif, partisipatif dan kolaboratif, serta berdampak, sehingga seluruh kegiatan benar-benar memberikan manfaat bagi tumbuh kembang anak.
Pada kesempatan itu, disampaikan pula ajakan kepada seluruh anak-anak di Indonesia agar tidak ragu bersuara jika menghadapi kekerasan. “Kalian berhak untuk aman dan bahagia di rumah, sekolah, ruang publik, maupun di dunia digital. Berbeda itu biasa, dan berteman itu luar biasa. Jika kalian merasa tidak nyaman atau mengalami kekerasan, jangan diam. Ceritakan kepada orang dewasa yang kalian percaya, atau hubungi layanan SAPA 129. Negara akan selalu hadir untuk kalian,” kata Asluchul Alif. (yad)
GRESIK,1minute.id – Pemerintah Kabupaten Gresik menggelar Senam dan Jalan Sehat di Wahana Ekspresi Poesponegoro (WEP) pada Minggu, 26 Juli 2026. Ribuan warga tumplek-blek di sepanjang Jalan Jaksa Agung Suprapto, Gresik untuk mengikuti puncak Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 berhadiah umrah itu. Acara dihadiri oleh Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif, Kepala Diskoperindag Gresik Darmawan, Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafbudpora) Gresik Saifudin Ghozali, serta undangan lainnya.
Harkopnas tahun ini mengusung tema “Koperasi Berdaya, Indonesia Berjaya”. Dalam sambutannya, Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif menegaskan bahwa Hari Koperasi Nasional bukan sekadar peringatan tahunan. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat peran koperasi sebagai penggerak ekonomi rakyat di tengah tantangan ekonomi global.
“Di tengah tantangan ekonomi global saat ini, koperasi harus semakin modern, profesional, transparan, serta mampu memanfaatkan teknologi digital agar memiliki daya saing yang tinggi,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Wabup Gresik Asluchul Alif juga mengajak masyarakat memahami secara utuh tujuan pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Menurutnya, gerai koperasi di desa dibentuk untuk memperluas akses masyarakat terhadap berbagai barang bersubsidi sekaligus menjadi sarana pemasaran hasil pertanian warga dengan harga yang layak.
Ia menegaskan, kehadiran Koperasi Desa Merah Putih bukan untuk menggantikan usaha toko kelontong milik warga, melainkan saling melengkapi dalam memperkuat perekonomian desa.
“Keberadaan gerai Koperasi Desa Merah Putih tidak akan mematikan toko-toko kelontong milik warga yang sudah ada di desa. Kehadirannya justru saling melengkapi. Karena itu, saya mengajak masyarakat agar tidak mudah percaya pada informasi yang tidak benar atau hoaks,” tegas dokter Alif, sapaan akrab, Asluchul Alif.
Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik akan terus mendorong pertumbuhan koperasi yang sehat, produktif, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. “Mari kita jadikan koperasi sebagai wadah gotong royong yang mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat UMKM, dan mendukung terwujudnya Gresik yang maju, mandiri, dan sejahtera,” katanya.
Ketua Dekopinda Kabupaten Gresik, Achwan Hariyanto, mengapresiasi tingginya partisipasi masyarakat dalam memeriahkan Harkopnas tahun ini. Menurutnya, antusiasme tersebut menjadi semangat bersama untuk terus memperkuat peran koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan ini. Semoga koperasi di Kabupaten Gresik semakin kuat, semakin memberi manfaat, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Senada dengan itu, perwakilan Dekopinwil Jawa Timur Maarif, mengaku terkesan dengan antusiasme masyarakat Gresik dalam merayakan Hari Koperasi Nasional. Menurutnya, semangat tersebut menunjukkan bahwa koperasi tetap menjadi kekuatan penting dalam membangun ekonomi kerakyatan.
“Hati saya bergetar melihat antusiasme masyarakat. Momentum ini menjadi ajang untuk memperkuat koperasi, mendukung UMKM, serta mendorong penguatan permodalan dan pemasaran digital,” tuturnya.
Selain menjadi ajang olahraga bersama, kegiatan ini juga menghadirkan puluhan stan UMKM yang memberikan ruang promosi bagi produk-produk lokal sekaligus memperkuat sinergi antara koperasi dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.
Sementara itu, hadiah utama berupa satu paket umrah persembahan KSPPS BMT Mandiri Amanah Sejahtera berhasil diraih Muhammad Salim, 44, warga Kecamatan Gresik. “Alhamdulillah saya bersyukur. Terima kasih atas hadiah satu paket umrah ini. Semoga ke depan kegiatan seperti ini dapat terus diselenggarakan dengan lebih baik,” ungkapnya. (yad)
GRESIK, 1minute.id – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Gresik menggelar razia warung kopi pada Sabtu hingga Minggu, 25-26 Juli 2026. Operasi Cipta Kondisi (Cipkon) melibatkan 100 personel sebagai upaya upaya menjaga ketenteraman dan ketertiban umum.
Razia gabungan yang melibatkan Pol PP ; Polres Gresik; Kodim 0817/Gresik ; Garnisun ; Subdenpom / CPM, BNNK Gresik dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Gresik ini dipimpin oleh Kepala Satpol PP Gresik Agustin Halomoan Sinaga. Puluhan pengelola kafe, warung kopi (warkop) dan warung pangku alias warung remang-remang yang terjaring razia langsung menjalani tes narkoba dan HIV.
Razia di mulai Sabtu, 25 Juli 2026 dan berakibat pada Minggu, 26 Juli 2026 pukul 01.30 WIB menyasar lima titik, yakni Jalan Noto Prayitno; Jalan Siti Fatimah binti Maimun ; Jalan. Karangkiring, Kecamatan Kebomas; Dusun Betiring, Desa Banjarsari, Kecamatan Cerme dan sepanjang Jalan nasional Jalan Raya Duduksampeyan, Kecamatan Duduksampeyan.
Hasilnya? Sebanyak 10 pemilik atau pengelola dan 40 pramusaji terjaring razia skala besar ini. “Dalam kegiatan ini, petugas melakukan pemeriksaan sekaligus pembinaan kepada para pengelola dan penjaga kafe agar senantiasa mematuhi ketentuan yang berlaku, termasuk jam operasional serta menjaga ketenteraman lingkungan sekitar,” ujar Kepala Satpol PP Gresik Agustin Halomoan Sinaga pada Minggu, 26 Juli 2026.
Ia mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari langkah preventif pemerintah daerah untuk menciptakan situasi yang aman, tertib, dan kondusif sekaligus meningkatkan kepatuhan terhadap peraturan daerah. Dalam kegiatan ini, tim gabungan menyasar lima titik yang menjadi lokasi aktivitas kafe, yakni di Jalan Noto Prayitno, Jalan Siti Fatimah Binti Maimun, Jalan Karangkiring, kawasan Betiring, dan Jalan Raya Duduksampeyan.
Selama operasi berlangsung, petugas melakukan tes narkoba dan tes HIV terhadap 10 pemilik warung serta 40 penjaga warung atau kafe. Pemeriksaan kesehatan tersebut merupakan bagian dari upaya deteksi dini sekaligus mendukung terciptanya lingkungan usaha yang sehat, aman, dan bebas dari penyalahgunaan narkotika.
Selain melakukan pemeriksaan, petugas juga mengedepankan pendekatan humanis dan persuasif. Para pengelola maupun penjaga kafe diberikan edukasi mengenai pentingnya menaati peraturan daerah, menjaga ketertiban umum, serta menghindari aktivitas yang berpotensi mengganggu keamanan dan kenyamanan masyarakat.
Apabila ditemukan adanya pelanggaran, petugas memberikan teguran sesuai prosedur dan melakukan tindakan penertiban berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Menurutnya, operasi cipta kondisi menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas keamanan wilayah, terutama pada malam hari. Sinergi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, dan instansi terkait diharapkan mampu meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap aturan sekaligus menciptakan iklim usaha yang tertib dan bertanggung jawab.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap terwujud lingkungan yang semakin aman, tertib, dan nyaman bagi masyarakat Kabupaten Gresik. Kami juga mengajak seluruh pelaku usaha untuk bersama-sama menjaga ketenteraman umum dengan mematuhi seluruh ketentuan yang berlaku,” tegasnya. (yad)
GRESIK,1minute.id – Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif menyerahkan bantuan stimulan berupa material bangunan kepada tiga penerima manfaat di Desa Mojowuku, Kecamatan Kedamean, Desa Lebanisuko, Kecamatan Wringinanom, dan Desa Pucung, Kecamatan Balongpanggang pada Selasa, 21 Juli 2026.
Bantuan stimulan material rumah tidak layak huni (RTLH) berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Gresik. Di Desa Mojowuku, nilai bantuan yang disalurkan sebesar Rp 9.870.000, sedangkan di Desa Lebanisuko sebesar Rp 8.475.000. Bantuan diberikan dalam bentuk material bangunan yang disesuaikan dengan kebutuhan perbaikan masing-masing rumah, meliputi pasir, semen, kayu, bata ringan, perekat bata, asbes, kloset, paku, bak mandi, dan material pendukung lainnya.
Bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik melalui Dinas Cipta Karya, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DCKPKP) untuk meningkatkan kualitas hunian masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) melalui Program RTLH. Program ini merupakan salah satu upaya pemerintah daerah untuk mendukung percepatan pengentasan kemiskinan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif menegaskan bahwa Program RTLH merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Gresik dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, khususnya penyediaan hunian yang layak.
“Pemerintah Kabupaten Gresik berkomitmen untuk terus mengentaskan kemiskinan melalui berbagai program yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, salah satunya bantuan stimulan Rumah Tidak Layak Huni. Kami ingin memastikan masyarakat memiliki tempat tinggal yang layak sehingga kualitas hidup mereka juga meningkat,” ujar dokter Alif, sapaan akrab, Asluchul Alif.
Ia juga mengimbau agar bantuan yang diterima dimanfaatkan secara optimal sesuai peruntukannya sehingga proses perbaikan rumah dapat berjalan dengan baik. “Kami berharap bantuan ini digunakan sebaik-baiknya untuk memperbaiki rumah sesuai kebutuhan. Mari kita manfaatkan dengan penuh tanggung jawab agar rumah menjadi lebih aman, nyaman, dan sehat untuk ditempati,” tambahnya.
Pemkab Gresik berkomitmen untuk terus memperluas cakupan Program RTLH agar semakin banyak masyarakat yang memperoleh manfaat. “Semoga program ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak warga yang membutuhkan. Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan, kita optimistis kesejahteraan masyarakat Gresik akan semakin meningkat,” tuturnya.
Salah satu penerima bantuan, Sarpi, warga Desa Mojowuku, Kecamatan Kedamean, menyampaikan rasa syukur atas bantuan yang diterimanya. Ia mengaku selama ini mengalami kesulitan memperbaiki rumah karena keterbatasan ekonomi. “Saya sangat senang dan bersyukur menerima bantuan ini. Selama ini saya memang kesulitan memperbaiki rumah karena keterbatasan biaya. Bantuan ini sangat berarti bagi saya,” ungkapnya. (yad)
GRESIK,1minute.id – Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani meresmikan Sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM) Logam Kabupaten Gresik di Desa Hulaan, Kecamatan Menganti pada Selasa, 21 Juli 2026.
Sentra ini menjadi fasilitas produksi bersama yang dapat dimanfaatkan para pelaku IKM untuk mengakses peralatan dan teknologi permesinan, sekaligus disiapkan sebagai tempat magang bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Peresmian sentra IKM logam pertama ini, Bupati Fandi Akhmad Yani didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman. Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Nasution, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Gresik Zam Zam Ikhwan, Wakil Ketua DPRD Gresik Mujid Riduan serta Wongso Negoro.
Bupati Fandi Akhmad Yani mengatakan, pembangunan Sentra IKM Logam merupakan bentuk perhatian terhadap potensi industri kecil dan menengah yang tumbuh di tengah masyarakat. “Alhamdulillah, pada 21 Juli 2026 ini Sentra IKM Logam di Kabupaten Gresik, Kecamatan Menganti, Desa Hulaan, resmi kita buka,” ujar Gus Yani, sapaan akrab, Bupati Fandi Akhmad Yani.
Ia menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, khususnya Kementerian Perindustrian, atas dukungan pembangunan Sentra IKM Logam di Kabupaten Gresik. Menurutnya, Kabupaten Gresik tidak hanya memiliki kawasan industri besar. Di sisi lain, terdapat kekuatan manufaktur skala mikro yang berkembang dari rumah-rumah warga, seperti di Desa Pelemwatu, dan Desa Laban Kecamatan Menganti.
“Di dua desa ini, masyarakatnya bergerak di home industry manufacturing. Masing-masing di rumah membuat karya yang berkaitan dengan manufaktur, khususnya logam,” kata mantan Ketua DPRD Gresik ini. Berbagai produk dihasilkan oleh pelaku IKM di dua desa tersebut, mulai dari alat-alat pertanian, peralatan konstruksi, hingga peralatan penunjang kebutuhan peternakan.
Bupati Yani mengatakan, salah satu kendala yang dihadapi pelaku IKM adalah keterbatasan mesin dan peralatan produksi. Sejumlah proses produksi membutuhkan mesin dengan spesifikasi tertentu yang belum mampu dimiliki secara mandiri oleh pelaku usaha. “Banyak mesin besar yang mungkin tidak terjangkau oleh para pelaku usaha IKM di dua desa tersebut. Sekarang, fasilitas itu bisa dimanfaatkan melalui Sentra IKM ini,” jelasnya.
Ia juga mendorong penguatan kolaborasi antara pelaku IKM dengan industri besar yang ada di Kabupaten Gresik. Ia menyebut kawasan industri seperti Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) dan Kawasan Industri Gresik (KIG) memiliki potensi untuk ikut memperkuat ekosistem IKM lokal. “Kami berupaya berkoordinasi dengan kawasan-kawasan industri yang ada di Kabupaten Gresik, khususnya JIIPE dan KIG, untuk ikut berperan serta dalam menyukseskan usaha mikro dan IKM di Kabupaten Gresik,” ujarnya.
Menurut Magister Mitigasi Bencana Unair Surabaya ini, kolaborasi tersebut dapat dibangun melalui berbagai bentuk. Mulai dari pemenuhan kebutuhan bahan baku, pemanfaatan material yang masih dapat digunakan, hingga pemasaran produk IKM.
“Bisa jadi ada bahan baku yang dibutuhkan oleh teman-teman IKM. Atau ada produk yang bisa dipasarkan. Banyak hal yang bisa dikolaborasikan,” katanya.
Produk yang dihasilkan pelaku IKM juga cukup beragam. Selain berbagai peralatan berbasis logam, terdapat produk untuk kebutuhan pertanian dan konstruksi, termasuk mesin molen manual. “Produk pertanian ada, produk pembangunan ada, mesin molen manual ada, dan macam-macam. Bisa langsung dilihat di Sentra IKM di Hulaan, Kecamatan Menganti,” ujarnya.
Selain untuk mendukung pelaku usaha, Sentra IKM Logam juga disiapkan sebagai tempat magang bagi siswa SMK. “Sentra IKM ini juga akan menjadi tempat magang bagi anak-anak SMK kita,” kata orang nomor satu di Pemerintah Kabupaten Gresik ini.
Menurutnya, kegiatan magang tersebut dapat mempertemukan dunia pendidikan dengan dunia industri secara lebih nyata. Siswa tidak hanya belajar teori di ruang kelas, tetapi juga dapat mengenal proses produksi, penggunaan peralatan, standar kerja, hingga proses menghasilkan produk manufaktur secara langsung.
“Mudah-mudahan Sentra IKM Logam ini memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi para pelaku usaha, masyarakat, dan anak-anak kita yang sedang menyiapkan diri memasuki dunia industri,” pungkasnya.
Sekretaris Daerah Kabupaten Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman mengatakan, pembangunan sentra ini dilatarbelakangi potensi IKM logam dan permesinan yang tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten Gresik, terutama Kecamatan Menganti dan sekitarnya.
Namun, potensi tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan sarana produksi, akses teknologi, mutu produk, hingga keterhubungan dengan industri besar. “Sentra IKM Logam ini diharapkan menjadi pusat layanan bersama, pusat produksi, sekaligus pusat pembinaan yang mampu meningkatkan daya saing IKM logam secara signifikan,” ujar Sekda Washil.
Pembangunan sentra tersebut dilaksanakan di Desa Hulaan dengan mempertimbangkan ketersediaan lahan, potensi IKM logam setempat dan wilayah sekitarnya, serta aksesibilitas yang mendukung pengembangan industri lokal.
Fasilitas yang dibangun mencakup ruang workshop atau permesinan, ruang maintenance, kamar mandi, instalasi listrik, CCTV, penerangan, drainase, sanitasi, akses jalan lingkungan, serta area parkir. Pembangunan berlangsung selama 150 hari sesuai kontrak dan jadwal DAK Tahun Anggaran 2025. Seluruh pekerjaan telah selesai 100 persen sesuai spesifikasi teknis.
Selain pembangunan fisik, dukungan DAK Perindustrian Tahun Anggaran 2025 juga digunakan untuk pengadaan peralatan sesuai alokasi anggaran yang ditetapkan Kementerian Perindustrian.
Peralatan tersebut dapat dimanfaatkan secara bersama oleh pelaku IKM untuk meningkatkan kemampuan produksi dan kualitas produk. Kehadiran fasilitas bersama juga diharapkan dapat menekan biaya produksi serta membuka akses teknologi bagi pelaku usaha yang sebelumnya belum memiliki peralatan modern.
Sentra IKM Logam juga diharapkan menjadi bagian dari ekosistem industri Kabupaten Gresik melalui kemitraan dengan industri besar, dunia pendidikan, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Bagi pelaku usaha, sentra ini membuka akses terhadap fasilitas produksi dan teknologi. Bagi siswa SMK, sentra ini menjadi ruang untuk memperoleh pengalaman kerja secara langsung.
Sementara bagi industri besar, keberadaan sentra ini membuka peluang kemitraan dengan IKM lokal sekaligus mendukung pengembangan sumber daya manusia yang lebih dekat dengan kebutuhan industri. (yad)
GRESIK,1minute.id – Bupati Gresik Cup 2026 resmi dibuka oleh Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani di Gedung Wahana Ekspresi Poesponegoro (WEP) Gresik pada Senin, 20 Juli 2026. Sebanyak 1.413 atlet dan official berpartisipasi dalam ajang pencarian talenta di bidang olahraga ini diinisiasi oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Gresik.
Ada lima cabang olahraga (cabor) yakni, Taekwondo, Bola voli, Futsal, Pencak Silat, dan Catur. Bagi atlet-atlet muda Gresik, Bupati Gresik Cup ini untuk menguji kemampuan, meraih prestasi, sekaligus membuka jalan menuju jenjang kompetisi yang lebih tinggi.
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan, Bupati Gresik Cup 2026 menjadi bagian dari upaya pembinaan atlet sekaligus persiapan menghadapi kompetisi olahraga tingkat Provinsi Jawa Timur. Kejuaraan ini juga menjadi ruang bagi para atlet untuk berlatih bersama, membangun pengalaman bertanding, dan memperkuat persaudaraan.
“Ini menjadi sebuah ajang silaturahmi dan memperkuat persaudaraan antaratlet. Kemudian berlatih bersama dalam rangka persiapan Porprov yang akan diselenggarakan di Surabaya,” ujar Bupati Yani. Menurutnya, pembinaan atlet terus dilakukan untuk membuka lebih banyak peluang bagi atlet Gresik meraih prestasi melalui jalur non-akademik. “Pembinaan atlet terus kita jalankan dan menjadi satu motivasi untuk atlet mengejar kesuksesan nonakademik,” tuturnya.
Ia mengatakan, atlet-atlet Gresik telah menunjukkan perkembangan prestasi dalam berbagai kompetisi. Karena itu, pembinaan secara berkelanjutan diperlukan agar prestasi tersebut dapat terus ditingkatkan, baik di tingkat Jawa Timur maupun nasional.
“Kita tahu atlet-atlet di Kabupaten Gresik banyak yang berprestasi. Prestasinya sudah bisa kita lihat. Kita terus naik dalam kejuaraan Porprov di tahun yang lalu,” ujar Gus Yani, sapaan akrab, Fandi Akhmad Yani.
Bupati Yani berharap capaian tersebut dapat terus meningkat pada ajang Porprov berikutnya. Ia juga menargetkan semakin banyak atlet Gresik yang mampu menembus kompetisi nasional hingga internasional. “Mudah-mudahan Porprov di tahun depan ini kita semakin mendapatkan peringkat di Jawa Timur, dan bahkan banyak atlet yang bisa ikut serta sampai PON, bahkan sampai SEA Games,” harap mantan Ketua DPRD Gresik ini.
Bupati Gresik Cup 2026 mempertandingkan 48 nomor pertandingan. Kejuaraan ini berlangsung dalam dua periode, yakni 21–26 Juli 2026 serta 2–7 Agustus 2026. Para atlet akan memperebutkan 948 medali yang terdiri atas 316 medali emas, 316 medali perak, dan 316 medali perunggu. Selain medali dan piagam penghargaan, para pemenang juga akan memperoleh uang pembinaan. Untuk kategori beregu, panitia juga menyiapkan piagam penghargaan bagi tim.
Ketua KONI Gresik Anis Ambiyo Putri mengatakan, penyelenggaraan Bupati Gresik Cup menjadi bagian dari upaya KONI Gresik untuk menjaring dan memetakan bibit-bibit atlet potensial di Kabupaten Gresik. “Bupati Gresik Cup ini menjadi salah satu ruang untuk mencari bibit-bibit atlet potensial di Kabupaten Gresik,” ujar Anis saat menyampaikan laporan panitia.
Tak hanya mengejar prestasi, aspek perlindungan atlet juga menjadi perhatian dalam Bupati Gresik Cup 2026. Seluruh atlet atau pemain yang mengikuti kejuaraan mendapatkan perlindungan melalui kerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan.
Perlindungan tersebut disiapkan sebagai bentuk antisipasi terhadap risiko kecelakaan atau kejadian yang tidak diinginkan selama para atlet mengikuti rangkaian pertandingan. Dengan adanya perlindungan ini, para atlet dapat berlaga secara maksimal tanpa rasa waswas dan lebih fokus memberikan kemampuan terbaiknya.
Bupati Gresik Cup 2026 diselenggarakan sebagai bagian dari upaya pengembangan olahraga daerah dan pencarian bibit atlet potensial. Pelaksanaannya berlandaskan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Keolahragaan, Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 12 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Keolahragaan, serta Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2021 tentang Desain Besar Olahraga Nasional. (yad)