Bersatu Melawan Pandemi, Karya Ariel , Remaja Disleksia Terpajang di RSUD Ibnu Sina Gresik


GRESIK,1minute.id – Koleksi lukisan RSUD Ibnu Sina Gresik bertambah pada Selasa, 2 Maret 2021. Lukisan terbaru itu karya Ariel Ramadhan. Lukisan berjudul “Bersatu Melawan Pandemi” itu dihadiahkan kepada rumah sakit rujukan Covid-19 milik Pemkab Gresik bertepatan 1 tahun Pagebluk Corona di Indonesia.

Lukisan berukuran 80 x 100 cm menggunakan cat air dan arklik diatas kanvas itu diterima oleh Wakil Direktur Medik RSUD Ibnu Sina Gresik Maftuhan dan Ketua Tim Pinere RSUD Ibnu Sina Gresik dr Wiwik Kurnia Ilahi. 

Ariel, penyandang disleksia itu terlihat semringah.  Disleksia adalah gangguan dalam proses belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, atau mengeja. Penderita disleksia akan kesulitan dalam mengidentifikasi kata-kata yang diucapkan, dan mengubahnya menjadi huruf atau kalimat.

Ariel yang didampingi ayahnya, Eko Sumargo dan kurator lukis,Arik S Wartono itu mengaku senang bisa berkontribusi dalam upaya memerangi pagebluk corona melalui karyanya. “Covid ini berdampak semua sektor, termasuk seniman lukis,”kata Ariel dengan nada lirih.

Pagebluk corona membuat sejumlah agenda pameran tertunda. Antara lain, keliling pantai utara Jawa, Singapura dan Australia. Namun, Ariel mengambil hikmah dari pandemi berawal dari Wuhan, Tiongkok itu bisa menyelesaikan sejumlah lukisan. “Lukisan Bersatu Melawan Pandemi bisa saya selesaikan dua bulan,”katanya.

Ariel mengungkapkan lukisan tentang sejumlah wajah dari berbagai profesi memakai masker menunjukkan covid menyerang semua lapisan masyarakat. “Semua warga harus bersatu untuk bisa melawan penyebaran pandemi ini,”ujarnya. Tentang kapal pinisi berbendera palang merah, mahasiswa ITS Surabaya mengaku dibesarkan di kawasan pesisir Kota Santri. 

Sementara itu, dr Wiwik Karunia Ilahi mengatakan rumah sakit sangat senang menerima lukisan Bersatu Melawan Pandemi ini. Lukisan ini, tambahnya,akan dipasang di depan lobi masuk rumah sakit untuk menginspirasi masyarakat yang berkunjung di RSUD Ibnu Sina Gresik. 

“Lukisan ini membuat kita, para nakes bangga. Memerangi Covid -19 bukan tugas nakes saja. Tapi, tugas kita semua dengan cara mematuhi protokol kesehatan,”ujar ketua Tim Pinere (Penyakit infeksi emerging dan remerging) RSUD Ibnu Sina Gresik ini.

Terkait kembangan Covid-19 di RSUD Ibnu Sina Gresik dalam dua pekan ini cenderung menurun. Di ruang ICU tersisa 3 pasien. Di dua ruang lainnya sekitar 10 pasien. Rumah sakit menyediakan 110 bad untuk pasien covid kategori sedang dan berat. “Dibandingkan bulan November dan Desember tahun lalu semua ruang nyaris penuh. Semoga Covid segera berakhir,”harapnya. (*)

Bersatu Melawan Pandemi, Karya Ariel , Remaja Disleksia Terpajang di RSUD Ibnu Sina Gresik Selengkapnya

Goresan Tangan Ariel, Bersatu Melawan Pandemi Menyita Perhatian Penggemar Seni di Gresik


GRESIK, 1minute.id – Lukisan Ariel Ramadhan menyita perhatian penggemar seni di Gresik. Lukisan itu berjudul Bersatu Melawan Pandemi. Mahasiswa Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya itu mengambarkan dengan kapal pinisi. Puluhan orang dari berbagai negara memakai masker. 

Ariel menganalogikan kapal kayu berbendera Indonesia dengan bagian layar terdapat logo red cross atawa palang merah Internasional itu bisa selamat berlayar. Mengarungi wilayah  Indonesia, dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Pulau Rote bila seluruh orang dalam kapal itu bersatu.

Awak dan penumpang kapal mematuhi protokol kesehatan. Diantaranya, memakai masker. “Saya mengamati, selama pandemi masih ada masyarakat abai dengan prokes itu,”kata Ariel ditemui di salah satu mal di Gresik, Minggu, 17 Januari 2021.

Ariel bersama 25 teman lainnya menggelar pameran lukisan, sketsa, batik, fotografi dan puisi. Ada 87 karya dalam pameran bertajuk Art Journey. Pameran seni untuk memperingati 17 tahun Sanggar Daun Gresik. Pendiri dan pembina utama Sanggar DAUN Arik S. Wartono mengatakan, Art Journey digelar hingga 6 Februari 2021. “Karya Ariel Ramadhan, nanti akan hibahkan ke RSUD Ibnu Sina Gresik,”kata Arik.

Arik S. Wartono

Namun,  Arik belum bisa memastikan apakah manajemen rumah sakit pemerintah itu mau menerima dan memasang karya siswa Sanggar Daun itu. “Kami sedang berkomunikasi dengan manajemen rumah sakit,”katanya.  
Menurut Arik,  Sanggar Daun berdirinya 2004. Ratusan karya siswa telah dipersembahkan untuk bangsa Indonesia. “Tidak kurang dari 900 penghargaan internasional,”kata Arik.  Siswa diundang dan menjadi peserta pameran dan festival seni rupa anak internasional. 

Penyelenggara lembaga PBB, sosial, perusahaan multinasional dan galeri di berbagai negara. Seperti, Australia, Jepang, Kanada, Mesir, Inggris, USA, Russia, Jerman, Prancis, Polandia, Belanda, Macedonia, Turki, India, Hongkong. “Termasuk berpameran di Museum Van Gogh Belanda, Look and Learn dan Saatchi Gallery UK, IE NO HIKARI dan Kanagawa Gallery Jepang,”katanya.

Raihan itu tercapai karena kreatifitas adalah kata kunci untuk anak-anak DAUN. Belajarnya pun, terangnya,  lebih banyak di luar ruangan, yakni di taman kota, stasiun kereta api, trotoar jalanan, alun-alun, pantai, gunung, sawah, hutan. 
“Untuk pelajaran teknis biasanya lokasi belajarnya bergantian di teras rumah siswa, atau di halaman belakang, bukan di dalam ruangan,”ujarnya. (*)

Goresan Tangan Ariel, Bersatu Melawan Pandemi Menyita Perhatian Penggemar Seni di Gresik Selengkapnya

Keren, Film Gemintang Produksi Gresik Movie Masuk Festif, Diputar Perdana di Jogjakarta

GRESIK,1minute.id – Keren. Film pendek produksi Gresik Movie masuk dalam fasilitas Ide Sinema Kreatif (Festif) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekaf) 2020.

Film pendek berjudul “Gemintang” itu diputar perdana dengan 20 film pendek berbahasa daerah lainnya di Jogjakarta,  Minggu 29 November 2020 malam. 

Pemutaran film berdurasi 12 menit itu sekaligus launching Festif kerjabareng dengan JAFF (Jogja-NETPAC Asian Film Festival). Mengusung tema ‘Isolasi–keterasingan fasilitasi- ini menjadi wadah yang berperan untuk meningkatkan daya saing komunitas melalui film berbahasa daerah.

“Para peserta Festif datang dengan ide yang khas dari daerahnya dan perspektifnya menarik,”tutur Litani Tesalonika manajer Program Festif dalam siaran pers dari Gresik Movie kepada 1minute.id, Minggu malam. 
Yurico Abi dari Indonesian Film Community Network menambahkan bahwa film-film Festif yang diproduksi tidak sekadar menjadi portofolio komunitas. 

“Harapannya komunitas bisa bergerak lagi di sub sektor ekonomi kreatif, dan mengantarkan tidak pada ranah kompetisi saja namun bisa dalam peningkatan SDM,”tandasnya.

Festif diluncurkan di 15th JAFF ‘Kinetic’ pada Jumat 27 November 2020 di Kedai Kebun Forum, Jogyakarta.  Festif diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekaf) bekerjasama dengan Salaka Credu dan didukung oleh Indonesian Film Community Network ( IFCN ) , ini memberikan ruang dan apresiasi kepada pelaku perfilman dalam mengekspresikan diri di tengah pandemi.

JAFF digelar sejak  25-29 November 2020, memutar 57 film panjang dan 72 film pendek dari 29 negara se-asia pasifik. Dalam rangkaian festival ini, film Gemintang (Gresik Movie) diputar bersama film “Rundag” dari Tegal (Sinema Pantura).

Usai pemutaran film berbahasa daerah itu, dilanjutkan diskusi bersama Litani Tesalonika (Manajer Program Festif), Jaka Romadon (Sutradara Film Rundag), dan Irfan Akbar Prawiro (Sutradara Film Gemintang). Diskusi cukup gayeng. 

Ketika ditanya tentang responnya terhadap film Gemintang, Reza Fahriansyah, Program Director JAFF, menyatakan bahwa dirinya sangat suka dengan konsep dan model penggarapannya. 

“Selain film ini membicarakan tentang kota, film ini (Gemintang) berhasil membuat perspektif anak-anak menjadi hal yang sangat penting. Kita bisa melihat kota Gresik menjadi sesuatu yang sangat berbeda. Real dan kontekstual,”ungkapnya.

Untuk diketahui, film Gemintang menceritakan tentang dua orang anak yang mendapat tugas dari gurunya untuk menggambar bintang. Namun kesulitan sebab ketika ingin melihat bentuknya, langit di Gresik sedang dirundung mendung saat malam. Film ini diperankan oleh M. Baidlowie Azhari (sebagai Budi) dan Qaireen Khansa P. (Sebagai Kejora). (*)

Keren, Film Gemintang Produksi Gresik Movie Masuk Festif, Diputar Perdana di Jogjakarta Selengkapnya

Angkat Cerita Putri Campa Sebagai Tugas Akhir

Sejumlah mahasiswa ketika membawakan tari Champa,  karya Ni’matus Sa’diah , sebagai tugas akhir di Fakultas Seni Tari STKW Surabaya di halaman makam Putri Campa pada 9 Agustus 2020

GRESIK,1minute.id—Perjuangan Putri Campa belajar agama Islam di Kota Pudak menarik perhatian Ni’matus Sa’diah. Mahasiswa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya itu menjadikan migrasi saudagar kaya dari Kamboja dalam sebuah karya seni tari yang elok.  Gadis 22 tahun itu mempersiapkan karya berjudul Tari Champa  selama 9 bulan sebagai syarat tugas akhir sarjana strata 1 di Fakultas Seni Tari STKW Surabaya. 

Semula ada rencana tari berdurasi 15 menit ini akan ditampilkan di Taman Budaya Jawa Timur Cak Durasim. Merebaknya corona virus disease (Covid-19) membuyarkan mimpi gadis yang tinggal di Jalan Awikoen Madya Dalam, Desa Gending, Kecamatan Kebomas itu.

Meski tanpa musik gerakan para penari Putri Champa begitu gemulai. Para penari ini adalah mahasiswa gabungan dari perguruan tinggi di Surabaya dan Gresik ( foto : 1minute.id)

Ni’mah-sapaan-Ni’matus Sa’diah kemudian menampilkan karya tarinya dimainkan lima perempuan dari berbagai pergurun tinggi di Surabaya dan Gresik secara indie.  ”Pandemi korona sehingga saya pentaskan secara terbatas di Gresik,”kata Ni’mah pada Minggu, 9 Agustus 2020.

Pekan lalu, Ni’mah mengajak lima pemainnya untuk latihan di halaman Makam Putri Campa di Bukit Petukangan, Desa Gending, Kebomas. Sebelum latihan, mereka kulo nuwun kepada juri kunci makam Akhmad Syaifudin. Gerakan lima penari yang semuanya mahasiswa itu terlihat gemulai meski menari tanpa musik. Menggunakan kostum perpaduan warna merah dan putih gerakan membuat penampilan mereka cukup memukai. Meski hanya berupa potongan-potongan gerakan tari.

Ni’mah mengatakan, selama ini masyarakat menganggap Putri Campa hanya ada di Mojokerto.  ”Loh di Gresik apa juga ada putri Campa,”kata Ni’mah kemarin.  Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, Putri Campa yang makamnkan di Bukit Petukangan, Desa Gending, Kebomas itu berasal dari Kamboja. Dia migrasi ke Gresik untuk mencari ilmu hingga meninggal di Gresik. Kehadiran Putri Campa ini membuat banyak migran dari Kamboja ikut datang ke Gresik. 

 ”Dan, perjuangan Putri Campa ini diharapkan bisa menginspirasi masyarakat. Dan sampai sekarang khususnya daerah Gending mengingatkan Putri Campa . Saya pingin ungkapkan dalam karya tari, harapannya nanti banyak orang Gresik yang mengetahui tentang sejarah Putri Campa,”katanya. (*)

Angkat Cerita Putri Campa Sebagai Tugas Akhir Selengkapnya