Pegebluk Corona, Tradisi Dokaran Sepi

GRESIK, 1minute.id – Dokaran sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Kota Santri ketika merayakan Idul Fitri. Sayangnya, tradisi wisata menggunakan moda yang ditarik seekor kuda belum ada inovasi baru. 

Misalnya, keliling kawasan Gresik Kota Lama (GKL). Selama ini, bertahun-tahun dokaran, start Alun-alun Gresik kemudian menyusuri Jalan Pahlawan, Panglima Sudirman dan berhenti sebentar di Wisma A. Yani di Jalan Veteran, Kecamatan Kebomas kemudian melanjutkan perjalanan pulang lewati jalan sama. 

Jarak sekitar 5 kilometer. Ongkos dokaran Rp 100 ribu P.P. Penumpang maksimal 6 orang (dewasa dan anak-anak). Ahmad, salah satu kusir dokar mengatakan dalam sehari bisa sekali rit sangat baik. “Sejak pagi sampai sore baru sekali narik,”katanya pada Jumat sore, 14 Mei 2021.

Masa pandemi yang belum berakhir ditengarai penyebab masyarakat enggan dokaran. Perekonomian masyarakat belum pulih. Dokar ada menyebut Andong, salah satu moda transportasi yang eksis di Kota Santri-sebutan lain-Gresik. Sehari-hari moda ditarik seekor kuda ini hanya untuk transportasi di wisata religi Sunan Giri. Start terminal Sunan Giri di Jalan Mayjend Sungkono menuju depan gerbang makam Waliyullah di Bukit Giri. Jarak sekitar 2 kilometer. Angkos penumpang Rp 5 ribu per orang.

Sejak pagebluk kawasan wisata rohani itu di tutup untuk mencegah persebaran corona. Sebelum, wadah dari Wuhan, Tiongkok itu mengganas sekitar 1,2 juta orang berkunjung ke makam Sunan Giri bergelar Prabu Satmata atau berjuluk Joko Samudro itu. 

Lebaran Idul Fitri, momen diharapkan bisa mendapatkan pundi-pundi pendapatan agar dapur tetap ngebul setelah setahun “puasa” karena wabah COVID-19. Akan tetapi, daya beli masyarakat Gresik masih belum pulih. (chusnul cahyadi/1minute.id)

Pegebluk Corona, Tradisi Dokaran Sepi Selengkapnya

Lelang Bandeng Virtual, Pasar Bandeng Digelar Sepuluh Titik, Mulai 5-10 Mei

Tradisi Malam Likuran Ramadan di Kota Santri, Gresik pada masa Pandemi (bagian 3/habis)

Penulis : chusnul cahyadi/1minute.id
PASAR dan LELANG BANDENG
PEMERINTAH Kabupaten memutuskan menggelar pasar dan lelang bandeng pada 27 Ramadan (malam pitu likur) atau Jumat, 7 Mei 2021.Tahun lalu, tradisi ratusan tahun itu ditiadakan. Penyebabnya, corono virus disease 2019 (COVID-19) mengganas di Kota Santri, Gresik. 

Tahun ini, pagebluk berawal dari Wuhan, Tiongkok itu belum ada tanda-tanda berakhir. Pemerintah memutuskan menggelar tradisi itu beda. Pasar bandeng dan pernak-perniknya, lazimnya dipusatkan di depan Pasar Kota Gresik di Jalan H.Samanhudi, HOS Cokroaminoto, Jalan Raden Santri, Basuki Rahmat. 

Kondisi saat ini, pada masa pandemi tentu riskan adanya kerumunan massa yang berpotensi persebaran COVID-19. Pemerintah memutuskan menggelar tradisi digeber di sepuluh tempat. 

Yakni, Lapangan Sitarda Ujungpangkah ;  Alun-alun Sidayu ; Lapangan Gembos Bungah dan Lapangan Suci Manyar. Kemudian, Area Pasar Baru Gresik ; Lapangan Manunggal Kedamean serta Lapangan Klampok Benjeng. Selanjutnya, halaman Kecamatan Cerme, Lapangan Menganti dan Lapangan Duduksampeyan. 

KONTES BANDENG : Lima ekor ikan bandeng hasil budidaya petambak Gresik pada Pasar dan Lelang Bandeng Gresik ( foto : chusnul cahyadi)

Selain tersebar di sepuluh titik itu. Durasi Pasar Bandeng juga diperpanjang. Sebelum pandemi hanya 2 hari. Tahun ini, mulai 5 hingga 10 Mei 2021. Pasar Bsndeng menjadi momen bagi petambak untuk langsung bertemu dengan pembeli. Harga bandeng pun sesuai mekanisme pasar. Meski kecenderungan harga lebih tinggi dari biasa. 

Akan tetapi, masyarakat Gresik selama ini tidak begitu mempersoalkan. Apalagi, ungkapan seakan menjadi kepercayaan di masyarakat. “Lebaran durung mangan bandeng tidak lengkap,”kata Arif Budiman, pemuda asal Gresik.

Semua lapisan masyarakat bisa menikmati makan ikan bandeng dengan aneka menu masakan. Kotokan, Keropok, Bali , Semur semuanya bahan utama ikan bandeng. Aneka menu itu bisa ditemui di berbagai Langgar atau Musala badal salat Id. Suasana lebaran guyup rukun bikin kangen sehingga pekerja selalu kangen mudik. 

Pj Sekretaris Daerah (Sekda) Gresik Abimanyu Poncoatmojo saat memimpin rakor gelaran Pasar Bandeng mengatakan, untuk lelang bandeng dilakukan secara virtual yang akan dihadiri Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan bupati/wali kota se-Jatim.

BANDENG SEUKURAN BAYI : Pedagang ikan bandeng pada Pasar Bandeng Gresik pada 2018

Lelang dipusatkan di halaman Kantor Bupati Gresik di Jalan DR Wahidin Sudirohusodo, Kecamatan Kebomas. “Kami berharap bandeng peserta kontes ini adalah asli produksi petani Gresik. Kami minta pihak panitia terutama dinas perikanan mengecek betul hal ini. Kami bangga meskipun bandengnya tak terlalu besar tapi hasil petani Gresik asli,”ujar Pj Sekda  Abimanyu menyampaikan harapan Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani. 

Sementara itu, Camat Gresik Purnomo mengatakan, Pasar Bandeng tetap dibatasi jumlahnya. “Karena pasar bandeng identik di pasar Gresik. Kuota penjual lebih banyak dari 9 titik lainnya,”kata Purnomo dikonfirmasi pada Sabtu, 1 Mei 2021.

Terkait pusat Pasar Bandeng, Purnomo belum bisa memastikan lokasi. “Apakah di Jalan Gubernur Suryo, depan Pasar Gresik atau sepanjag Jalan H. Samanhudi ,”kata Purnomo.

Panitia terus mematangkan gelaran pasar dan lelang bandeng. Juga menghimbau masyarakat tetap patuhi prokes. Sehingga tujuan pemerintah mendongkrak pertumbuhan ekonomi terwujud tanpa muncul klaster baru. Corona cepat berakhir. (*)

Lelang Bandeng Virtual, Pasar Bandeng Digelar Sepuluh Titik, Mulai 5-10 Mei Selengkapnya

Dimeriahkan Kesenian Khas Gresik, Upacara Hari Jadi Gresik Lebih Fresh

GRESIK,1minute.id – Upacara Hari Jadi ke-535 Kota Gresik dan HUT ke-47 Pemkab Gresik terasa lebih fresh pada Selasa, 9 Maret 2021. 

Pasal, apel tahunan dengan inspektur upacara Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani ini diselingi dengan sejumlah performance kesenian khas Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik yang menjadi binaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Gresik. 

Sehingga peserta upacara yang memakai baju Khas Gresik. Peserta laki-laki memakai baju koko berkopyah. Sedangkan, peserta perempuan baju kurosi. Berkebaya, jarik dan kerudung itu betah menyaksikan atraksi kesenian khas Gresik itu.

TARI DAMARKURUNG : Damarkurung, seni lukis maestro Mbah Masmundari. Di Hari Jadi ke-534 Kota Gresik pada Selasa. 9 Maret 2021 ( foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

Sebelum upacara dimulai pukul 07.30 itu, ada empat kesenian yang menghibur. Yakni, Jaran Kepang ; Pencak Macan ; Rebana dan Terbang Jidor. Setelah upacara, ada Tari Masmundari, Damarkurung dan Kridaninglegis.

Tari Masmundari, baru kali pertama ditampilkan di depan publik. Ada sepuluh remaja memakai jarik memakai masker bergambar wajah perempuan lansia menari sambil membawa Damarkurung. Masmundari adalah maestro seniman lukis damarkurung. Masmundari adalah ikon Gresik.

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan, upacara Hari Jadi ke-534 Kota Gresik dan HUT ke-47 Pemkab Gresik mengatakan, Gresik kaya akan kesenian. “Kita tampilkan agar ASN lainnya ikut serta melestarikannya. Bukan, hanya tugas Disparbud,”ujar Gus Yani-sapaan-Fandi Akhmad Yani usai upacara di halaman Kantor Bupati Gresik.

PENCAK MACAN : Pencak Macan , kesenian khas Pesisir, Gresik. Kelurahan Lumpur, Gresik memeriahkan Hari Jadi ke-534 Kota Gresik pada Selasa, 9 Maret 2021 (foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

Gus Yani didampingi Wakil Bupati Aminatun Habibah, Asisten Umum dan Pemerintahan Tursilowanto Harijogi dan Kepala Disbudpar Gresik Agustin H. Sinaga.
“Tapi, penampilan mereka tetap mematuhi protokol kesehatan,”kata Gus Yani.

Terpisah, Kepala Disparbud Gresik Agustin H. Sinaga menambahkan, pagelaran kesenian ini untuk mengairahkan para pekerja seni di Gresik. “Supaya pekerja seni budaya dapat bangkit kembali,”kata Sinaga. (*)

Dimeriahkan Kesenian Khas Gresik, Upacara Hari Jadi Gresik Lebih Fresh Selengkapnya

Bersatu Melawan Pandemi, Karya Ariel , Remaja Disleksia Terpajang di RSUD Ibnu Sina Gresik


GRESIK,1minute.id – Koleksi lukisan RSUD Ibnu Sina Gresik bertambah pada Selasa, 2 Maret 2021. Lukisan terbaru itu karya Ariel Ramadhan. Lukisan berjudul “Bersatu Melawan Pandemi” itu dihadiahkan kepada rumah sakit rujukan Covid-19 milik Pemkab Gresik bertepatan 1 tahun Pagebluk Corona di Indonesia.

Lukisan berukuran 80 x 100 cm menggunakan cat air dan arklik diatas kanvas itu diterima oleh Wakil Direktur Medik RSUD Ibnu Sina Gresik Maftuhan dan Ketua Tim Pinere RSUD Ibnu Sina Gresik dr Wiwik Kurnia Ilahi. 

Ariel, penyandang disleksia itu terlihat semringah.  Disleksia adalah gangguan dalam proses belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, atau mengeja. Penderita disleksia akan kesulitan dalam mengidentifikasi kata-kata yang diucapkan, dan mengubahnya menjadi huruf atau kalimat.

Ariel yang didampingi ayahnya, Eko Sumargo dan kurator lukis,Arik S Wartono itu mengaku senang bisa berkontribusi dalam upaya memerangi pagebluk corona melalui karyanya. “Covid ini berdampak semua sektor, termasuk seniman lukis,”kata Ariel dengan nada lirih.

Pagebluk corona membuat sejumlah agenda pameran tertunda. Antara lain, keliling pantai utara Jawa, Singapura dan Australia. Namun, Ariel mengambil hikmah dari pandemi berawal dari Wuhan, Tiongkok itu bisa menyelesaikan sejumlah lukisan. “Lukisan Bersatu Melawan Pandemi bisa saya selesaikan dua bulan,”katanya.

Ariel mengungkapkan lukisan tentang sejumlah wajah dari berbagai profesi memakai masker menunjukkan covid menyerang semua lapisan masyarakat. “Semua warga harus bersatu untuk bisa melawan penyebaran pandemi ini,”ujarnya. Tentang kapal pinisi berbendera palang merah, mahasiswa ITS Surabaya mengaku dibesarkan di kawasan pesisir Kota Santri. 

Sementara itu, dr Wiwik Karunia Ilahi mengatakan rumah sakit sangat senang menerima lukisan Bersatu Melawan Pandemi ini. Lukisan ini, tambahnya,akan dipasang di depan lobi masuk rumah sakit untuk menginspirasi masyarakat yang berkunjung di RSUD Ibnu Sina Gresik. 

“Lukisan ini membuat kita, para nakes bangga. Memerangi Covid -19 bukan tugas nakes saja. Tapi, tugas kita semua dengan cara mematuhi protokol kesehatan,”ujar ketua Tim Pinere (Penyakit infeksi emerging dan remerging) RSUD Ibnu Sina Gresik ini.

Terkait kembangan Covid-19 di RSUD Ibnu Sina Gresik dalam dua pekan ini cenderung menurun. Di ruang ICU tersisa 3 pasien. Di dua ruang lainnya sekitar 10 pasien. Rumah sakit menyediakan 110 bad untuk pasien covid kategori sedang dan berat. “Dibandingkan bulan November dan Desember tahun lalu semua ruang nyaris penuh. Semoga Covid segera berakhir,”harapnya. (*)

Bersatu Melawan Pandemi, Karya Ariel , Remaja Disleksia Terpajang di RSUD Ibnu Sina Gresik Selengkapnya

Goresan Tangan Ariel, Bersatu Melawan Pandemi Menyita Perhatian Penggemar Seni di Gresik


GRESIK, 1minute.id – Lukisan Ariel Ramadhan menyita perhatian penggemar seni di Gresik. Lukisan itu berjudul Bersatu Melawan Pandemi. Mahasiswa Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya itu mengambarkan dengan kapal pinisi. Puluhan orang dari berbagai negara memakai masker. 

Ariel menganalogikan kapal kayu berbendera Indonesia dengan bagian layar terdapat logo red cross atawa palang merah Internasional itu bisa selamat berlayar. Mengarungi wilayah  Indonesia, dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Pulau Rote bila seluruh orang dalam kapal itu bersatu.

Awak dan penumpang kapal mematuhi protokol kesehatan. Diantaranya, memakai masker. “Saya mengamati, selama pandemi masih ada masyarakat abai dengan prokes itu,”kata Ariel ditemui di salah satu mal di Gresik, Minggu, 17 Januari 2021.

Ariel bersama 25 teman lainnya menggelar pameran lukisan, sketsa, batik, fotografi dan puisi. Ada 87 karya dalam pameran bertajuk Art Journey. Pameran seni untuk memperingati 17 tahun Sanggar Daun Gresik. Pendiri dan pembina utama Sanggar DAUN Arik S. Wartono mengatakan, Art Journey digelar hingga 6 Februari 2021. “Karya Ariel Ramadhan, nanti akan hibahkan ke RSUD Ibnu Sina Gresik,”kata Arik.

Arik S. Wartono

Namun,  Arik belum bisa memastikan apakah manajemen rumah sakit pemerintah itu mau menerima dan memasang karya siswa Sanggar Daun itu. “Kami sedang berkomunikasi dengan manajemen rumah sakit,”katanya.  
Menurut Arik,  Sanggar Daun berdirinya 2004. Ratusan karya siswa telah dipersembahkan untuk bangsa Indonesia. “Tidak kurang dari 900 penghargaan internasional,”kata Arik.  Siswa diundang dan menjadi peserta pameran dan festival seni rupa anak internasional. 

Penyelenggara lembaga PBB, sosial, perusahaan multinasional dan galeri di berbagai negara. Seperti, Australia, Jepang, Kanada, Mesir, Inggris, USA, Russia, Jerman, Prancis, Polandia, Belanda, Macedonia, Turki, India, Hongkong. “Termasuk berpameran di Museum Van Gogh Belanda, Look and Learn dan Saatchi Gallery UK, IE NO HIKARI dan Kanagawa Gallery Jepang,”katanya.

Raihan itu tercapai karena kreatifitas adalah kata kunci untuk anak-anak DAUN. Belajarnya pun, terangnya,  lebih banyak di luar ruangan, yakni di taman kota, stasiun kereta api, trotoar jalanan, alun-alun, pantai, gunung, sawah, hutan. 
“Untuk pelajaran teknis biasanya lokasi belajarnya bergantian di teras rumah siswa, atau di halaman belakang, bukan di dalam ruangan,”ujarnya. (*)

Goresan Tangan Ariel, Bersatu Melawan Pandemi Menyita Perhatian Penggemar Seni di Gresik Selengkapnya

Keren, Film Gemintang Produksi Gresik Movie Masuk Festif, Diputar Perdana di Jogjakarta

GRESIK,1minute.id – Keren. Film pendek produksi Gresik Movie masuk dalam fasilitas Ide Sinema Kreatif (Festif) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekaf) 2020.

Film pendek berjudul “Gemintang” itu diputar perdana dengan 20 film pendek berbahasa daerah lainnya di Jogjakarta,  Minggu 29 November 2020 malam. 

Pemutaran film berdurasi 12 menit itu sekaligus launching Festif kerjabareng dengan JAFF (Jogja-NETPAC Asian Film Festival). Mengusung tema ‘Isolasi–keterasingan fasilitasi- ini menjadi wadah yang berperan untuk meningkatkan daya saing komunitas melalui film berbahasa daerah.

“Para peserta Festif datang dengan ide yang khas dari daerahnya dan perspektifnya menarik,”tutur Litani Tesalonika manajer Program Festif dalam siaran pers dari Gresik Movie kepada 1minute.id, Minggu malam. 
Yurico Abi dari Indonesian Film Community Network menambahkan bahwa film-film Festif yang diproduksi tidak sekadar menjadi portofolio komunitas. 

“Harapannya komunitas bisa bergerak lagi di sub sektor ekonomi kreatif, dan mengantarkan tidak pada ranah kompetisi saja namun bisa dalam peningkatan SDM,”tandasnya.

Festif diluncurkan di 15th JAFF ‘Kinetic’ pada Jumat 27 November 2020 di Kedai Kebun Forum, Jogyakarta.  Festif diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekaf) bekerjasama dengan Salaka Credu dan didukung oleh Indonesian Film Community Network ( IFCN ) , ini memberikan ruang dan apresiasi kepada pelaku perfilman dalam mengekspresikan diri di tengah pandemi.

JAFF digelar sejak  25-29 November 2020, memutar 57 film panjang dan 72 film pendek dari 29 negara se-asia pasifik. Dalam rangkaian festival ini, film Gemintang (Gresik Movie) diputar bersama film “Rundag” dari Tegal (Sinema Pantura).

Usai pemutaran film berbahasa daerah itu, dilanjutkan diskusi bersama Litani Tesalonika (Manajer Program Festif), Jaka Romadon (Sutradara Film Rundag), dan Irfan Akbar Prawiro (Sutradara Film Gemintang). Diskusi cukup gayeng. 

Ketika ditanya tentang responnya terhadap film Gemintang, Reza Fahriansyah, Program Director JAFF, menyatakan bahwa dirinya sangat suka dengan konsep dan model penggarapannya. 

“Selain film ini membicarakan tentang kota, film ini (Gemintang) berhasil membuat perspektif anak-anak menjadi hal yang sangat penting. Kita bisa melihat kota Gresik menjadi sesuatu yang sangat berbeda. Real dan kontekstual,”ungkapnya.

Untuk diketahui, film Gemintang menceritakan tentang dua orang anak yang mendapat tugas dari gurunya untuk menggambar bintang. Namun kesulitan sebab ketika ingin melihat bentuknya, langit di Gresik sedang dirundung mendung saat malam. Film ini diperankan oleh M. Baidlowie Azhari (sebagai Budi) dan Qaireen Khansa P. (Sebagai Kejora). (*)

Keren, Film Gemintang Produksi Gresik Movie Masuk Festif, Diputar Perdana di Jogjakarta Selengkapnya

Angkat Cerita Putri Campa Sebagai Tugas Akhir

Sejumlah mahasiswa ketika membawakan tari Champa,  karya Ni’matus Sa’diah , sebagai tugas akhir di Fakultas Seni Tari STKW Surabaya di halaman makam Putri Campa pada 9 Agustus 2020

GRESIK,1minute.id—Perjuangan Putri Campa belajar agama Islam di Kota Pudak menarik perhatian Ni’matus Sa’diah. Mahasiswa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya itu menjadikan migrasi saudagar kaya dari Kamboja dalam sebuah karya seni tari yang elok.  Gadis 22 tahun itu mempersiapkan karya berjudul Tari Champa  selama 9 bulan sebagai syarat tugas akhir sarjana strata 1 di Fakultas Seni Tari STKW Surabaya. 

Semula ada rencana tari berdurasi 15 menit ini akan ditampilkan di Taman Budaya Jawa Timur Cak Durasim. Merebaknya corona virus disease (Covid-19) membuyarkan mimpi gadis yang tinggal di Jalan Awikoen Madya Dalam, Desa Gending, Kecamatan Kebomas itu.

Meski tanpa musik gerakan para penari Putri Champa begitu gemulai. Para penari ini adalah mahasiswa gabungan dari perguruan tinggi di Surabaya dan Gresik ( foto : 1minute.id)

Ni’mah-sapaan-Ni’matus Sa’diah kemudian menampilkan karya tarinya dimainkan lima perempuan dari berbagai pergurun tinggi di Surabaya dan Gresik secara indie.  ”Pandemi korona sehingga saya pentaskan secara terbatas di Gresik,”kata Ni’mah pada Minggu, 9 Agustus 2020.

Pekan lalu, Ni’mah mengajak lima pemainnya untuk latihan di halaman Makam Putri Campa di Bukit Petukangan, Desa Gending, Kebomas. Sebelum latihan, mereka kulo nuwun kepada juri kunci makam Akhmad Syaifudin. Gerakan lima penari yang semuanya mahasiswa itu terlihat gemulai meski menari tanpa musik. Menggunakan kostum perpaduan warna merah dan putih gerakan membuat penampilan mereka cukup memukai. Meski hanya berupa potongan-potongan gerakan tari.

Ni’mah mengatakan, selama ini masyarakat menganggap Putri Campa hanya ada di Mojokerto.  ”Loh di Gresik apa juga ada putri Campa,”kata Ni’mah kemarin.  Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, Putri Campa yang makamnkan di Bukit Petukangan, Desa Gending, Kebomas itu berasal dari Kamboja. Dia migrasi ke Gresik untuk mencari ilmu hingga meninggal di Gresik. Kehadiran Putri Campa ini membuat banyak migran dari Kamboja ikut datang ke Gresik. 

 ”Dan, perjuangan Putri Campa ini diharapkan bisa menginspirasi masyarakat. Dan sampai sekarang khususnya daerah Gending mengingatkan Putri Campa . Saya pingin ungkapkan dalam karya tari, harapannya nanti banyak orang Gresik yang mengetahui tentang sejarah Putri Campa,”katanya. (*)

Angkat Cerita Putri Campa Sebagai Tugas Akhir Selengkapnya