Gresik Tuan Rumah Jatim Art Forum 2024, Simak Agenda dan Lokasinya

GRESIK,1minute.id – Jatim Art Forum atau JAF 2024 bakal dihelat mulai 4-7 Desember 2024. Dewan Kesenian Jawa Timur menunjuk Gresik sebagai tuan rumah. JAF 2024 yang mengusung tema “Damar Kurung Eksplore”, dan akan bertempat di tiga titik venue, yakni, di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Gresik, di Wahana Ekspresi Poesponegoro (WEP), dan di Pendopo Makam Poesponegoro.

JAF merupakan program unggulan Dewan Kesenian Provinsi Jawa Timur (DKJT) di bidang seni, yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun. Pada kesempatan ini, Dewan Kesenian Provinsi Jawa Timur bekerjasama partnership dengan Dewan Kebudayaan Kabupaten Gresik (DKG) adalah sebagai upaya turut memajukan kebudayaan daerah sebagaimana tertuang dalam undang-undang No.5 tahun 2017 dan peraturan daerah atau perda Gresik nomor 19/2019.  

Ketua Presidium Dewan Kesenian Provinsi Jawa Timur Taufik Hidayat menyampaikan, bahwa keterlibatan Dewan Kebudayaan Kabupaten Gresik dalam Jatim Art Forum ini sangat diharapkan, agar segala potensi budaya khas Kabupaten Gresik dapat terangkat.

“ya, kita ingin mengangkat potensi-potensi budaya dari daerah ini (Gresik). Semuanya, apapun itu kita kenalkan kepada masyarakat di Jawa Timur,” katanya.

Kabupaten Gresik memiliki banyak potensi budaya. “Kita melihat, Gresik ini sangat kaya, ya. Kaya budaya. Luar biasa,” pungkasnya.

Jatim Art Forum (JAF) 2024 rencananya dilaksanakan pada 4 – 7 Desember 2024. Sampai sekarang, sekurang-kurangnya ada 15 kelompok kesenian dan lembaga kebudayaan asal daerah Kabupaten Gresik turut menjadi pengisi acara sebagai penyaji inspiratif di dalamnya. Kelompok-kelompok tersebut berdasarkan hasil kurasi dari Pengurus Dewan Kebudayaan Gresik (DKG) di masing-masing bidang.

Ketua Umum DKG Irfan Akbar Prawiro menyampaikan DKG telah mengkurasi setidaknya ada 15 rekomendasi untuk mengisi rangkaian acara JAF selama empat hari. 

Kelompok-kelompok tersebut di antaranya adalah Sanggar Seni Mustika Giri, Sanggar Tari Bening Irsani Gresik, Komunitas PowerArt dari SMA Muhammadiyah 1 Gresik, kelompok Pencak Macan dari Paguyuban Seni Tradisi Lumpur Gresik, dan Komunitas Pegiat Aksara Gresik (KOMPAG). 

Berikutnya, Sanggar Ya’ STAI Ihyaul Ulum Dukun feat Lesbumi PCNU Gresik, Musikalisasi Puisi Teater Extra dari SMA Muhammadiyah 1 Gresik, Teater Pendopo dari MAN 1 Gresik, Gresik Movie, Yayasan Gang Sebelah, serta Ludruk Sinar Pesisir. Selanjutnya, kelompok seni tari dari SD Muhammadiyah Manyar, TK Muslimat NU 254 Nurul Ishlah, dan TK Aisiyah Bustanul Athfal 36, serta beberapa pengisi stan Bazaar Produk Budaya.

Sedangkan, beberapa figur dan komunitas asal Gresik juga menjadi pengisi acara atau penyaji unggulan JAF 2024 hasil kurasi Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) di antaranya ada Amir Syarifuddin sebagai pembaca manuskrip, Eko Jarwanto, Sri Wahyuni atau Uyun Machalli sebagai penyaji musikalisasi puisi, Komunitas Kotaseger Indonesia sebagai penyaji teater, dan Sanggar KSB Nyai Ageng Pinatih sebagai penyaji seni tari.

Lebih lanjut, Ketua Umum Dewan Kebudayaan Kabupaten Gresik itu berharap adanya Jatim Art Forum di Kabupaten Gresik inil dapat melihat Gresik lebih jauh lagi, lebih dalam, lebih kompleks. “Dan pada kesempatan ini kami benar-benar ingin mengenalkan segala potensi budaya yang dimiliki Gresik,” katanya. 

Ia juga mengajak segenap masyarakat, untuk memeriahkan rangkaian kegiatan Jatim Art Forum ini, “Mari bersama-sama kita hadir, kita meriahkan, dan perluas jaringan dengan para seniman dari seluruh kota/kabupaten di Jawa Timur, bersama-sama kita saling dukung untuk pemajuan kebudayaan di Kabupaten Gresik.” pungkasnya. (yad)

Gresik Tuan Rumah Jatim Art Forum 2024, Simak Agenda dan Lokasinya Selengkapnya

Syeikh Belaid Hamidi dari Maroko Apresiasi Karya Kaligrafi 3D Muhammad Riyanto

GRESIK,1minute.id – Seminar Internasional  Marosim Ijazah Khat mengusung tema “Transformasi Khat di Era Digital” di gelar oleh Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya di Gedung Stundent Center UINSA Surabaya terasa lebih semarak. 

Seminar yang diinisiasi oleh Ikatan Qori’ Qori’ah Mahasiswa (IQMA) UINSA Surabaya ini semarak karena menghadirkan dua pembicara, yaitu,  Abdur Rouf Hasbullah, Penggagas Metode Abajadun Hamidiyah dari Indonesia dan Syeikh Belaid Hamidi, International Master of Calligraphy dari Maroko.

Selain seminar internasional itu, panitia IQMA UINSA Surabaya juga menggelar pameran Kaligrafi Klasik. Ada puluhan kaligrafi yang dipamerkan. Diantaranya, kaligrafi berjudul “Hanya Dirimu Semata” dan “Nur Muhammad”. Dua kaligrafi itu karya Muhammad Riyanto. Riyanto adalah pelukis Kaligrafi yang tinggal di Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Dua goresan tangan lelaki berusia 49 tahun ini lah semakin menambah semarak dan menjadi daya tarik mahasiswa dan  beberapa masyarakat yang mengikuti acara seminar internasional itu. Riyanto adalah pelukis Kaligrafi yang sedang naik daun. Sejumlah karyanya menjadi koleksi tokoh nasional dan dari Kuala Lumpur, Malaysia beberapa waktu yang lalu.

Riyanto, pelukis kaligrafi aliran surealisme  tinggal di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik, Jawa Timur ini berbeda dengan pelukis kaligrafi lainnya. Riyanto, tumbuh di keluarga pelukis. Ayahnya seorang pelukis kaligrafi kaca. Pamannya juga berkecimpung di bidang melukis. Ia mengikuti jejak ayah dan pamannya menjadi seorang pelukis kaligrafi. Ia memulai pameran sejak 1991. Karya-karya kaligrafi yang mengkritisi kondisi sosial masyarakat. 

Syeikh Belaid Hamidi dari Maroko itu memuji karya Riyanto. Syeikh Belaid Hamidih, melihat dua karya Riyanto di hari pertama pameran pada Jumat, 25 Oktober 2024. Acara berlangsung sampai hari ini, Sabtu, 26 Oktober 2024.

‘Kaligrafi berjudul Nur Muhammad, mixed media ini pernah Saya ikutkan di Pameran Kaligrafi Nasional di MTQ Nasional 2024 di Samarinda beberapa waktu lalu,” ujar Riyanto pada Sabtu, 26 Oktober 2024. Riyanto merasa bangga karena karya kaligrafi mendapatkan apresiasi dari maestro kaligrafi Internasional Syeikh Belaid Hamidy di Student Center UIN Sunan Ampel Surabaya . 

Menurut Riyanto, “Kolaborasi pameran kaligrafi klasik naskah dan  kaligrafi  kontemporer modern 3-D kali ini adalah kali pertama di Indonesia, semoga kedepan lebih bagus lagi,” ujar bapak 3 anak ini.

Untuk diketahui Seminar Internasional Marosim Ijazah Khat mengusung tema “Transformasi Khat di Era Digital” digelar dua hari, Jumat-Sabtu, 25-26 Oktober 2024 hari ini masih berlangsung tashih koreksi dan penilaian. Hari pertama, ada dua pembicara, yaitu Abdur Rouf Hasbullah Mpd.I, Penggagas Metode Abajadun Hamidiyah dari Indonesia dan Syeikh Belaid Hamidy Internasional Master of Calligraphy dari Maroko.

Moderator seminar itu adalah Ustad Athoilah  Mpd.I Khattat yang fasih bahasa Arab, pernah belajar langsung dan mendapat sanad (ijazah) langsung dari Syeikh Belaid Hamidy Maroko.  Athoilah adalah pendiri sekolah kaligrafi atau Sakal Jombang. Tempat belajar kaligrafi Khat yang bersanad di Jombang. “Ustad Athoilah, ini pendiri Sakal Jombang bersanad di Jombang dan Dewan Hakim Provinsi Jatim di bidang Khat,” terang Muhammad Riyanto yang juga pengurus Jamiyyatul Qurra’ wal Huffazh atau JQH  dan LPTQ Kota Surabaya, Jawa Timur ini. (yad)

Syeikh Belaid Hamidi dari Maroko Apresiasi Karya Kaligrafi 3D Muhammad Riyanto Selengkapnya

Jadi Arus Utama Kaligrafi Islam di JMA Yogyakarta, Pencinta Karya Riyanto Kini Menikmati di Art Jakarta

GRESIK,1minute.id –  Sukses merebut hati pecinta kaligrafi di Taman Budaya Yogyakarta. Mulai hari ini, sejumlah lukisan kaligrafi karya Muhammad Riyanto akan terpajang di Art Jakarta di JIEXPO Kemayoran, Jakarta. Ada tiga karya lukisan kaligrafi lelaki berusia 49 tahun ini yang akan dipamerkan mulai 4-6 Oktober 2024 itu.

Tiga karya berjudul “Keinginan ; Hijaiyah dan Fa Asbahtum Bini’matihi Ikhawanaa”. Awalnya, pelukis kaligrafi yang sedang naik daun mengirimkan empat karya. Hasil kurasi tiga di antara empat karya lolos. “Lukisan saya diikutkan oleh Galeri.Telu dan Dinding Luar di Jakarta. Ini event pameran sangat luar biasa. Mohon doanya,” kata Riyanto pada Jumat, 3 Oktober 2024.

Riyanto, pelukis kaligrafi aliran surialis tinggal di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik, Jawa Timur ini berbeda dengan pelukis kaligrafi lainnya. Riyanto, tumbuh di keluarga pelukis. Ayahnya seorang pelukis kaligrafi kaca. Pamannya juga berkecimpung di bidang melukis. Ia mengikuti jejak ayah dan pamannya menjadi seorang pelukis kaligrafi. Ia memulai pameran sejak 1991. Karya-karya kaligrafi yang mengkritisi kondisi sosial masyarakat. 

Di antaranya, berjudul “Dream Noah Ship Future” pernah dipajang di Malaysia. Lukisan itu menggambarkan sebuah kapal pesiar yang mengangkut banyak penumpang. Beragam agama mereka. Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Di atas kapal pesiar itu, semuanya rukun. “Andai dunia bisa damai. Akan sangat menyenangkan,” kata Riyanto suatu hari. 

Di eksebisi pameran kaligrafi kontemporer pada 8-15 September 2024, Riyanto, salah satu wakil Indonesia yang mengikuti pameran bertajuk “The Prophet Muhammad International Islam Calligraphy Art Exhibition”. Pameran kaligrafi kontempore terbesar itu diikuti 135 pelukis dari 35 negara ini rangkaian memeriahkan acara Musabaqah Tilawatil Quran Nasional atau MTQN ke-30 di Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia. 

Riyanto memamerkan lukisan berjudul “Nuur Muhammad” di atas kanvas ukuran 120×120 cm. Medianya campuran yakni Polypropylene, glass, PVC board, pipa, pines, resin, acrylic on canvas. “Judul karya Nuur Muhammad dalam berkonsep karya nama diberikan oleh KH.Chotib Hambari adalah putra KH.Muhammad Bashori Mansyur pengasuh Ponpes Roudlotit Tholibin keponakan Gus Mus (Mustofa Bisri),” terang pelukis kaligrafi kini pengurus Jamiyyatul Qurra’ wal Huffazh atau JQH Kota Surabaya, Jawa Timur ini. 

Pada 28 September-1 Oktober 2024, Riyanto mengikuti pameran yang diselenggarakan oleh Tumpuk Undung, Likalaku Seasion, Jogja Move Art atau JMA 2024 di Taman Budaya Yogyakarta. Riyanto memamerkan lukisan berjudul “The Power of Ibrahim’s Prayer” (2023). Lukisan berdiameter 150 cm di media AOC. 

Dalam diskripsi lukisan berbentuk bundar itu, Riyanto sengaja visualisasikan semua bendera negara Islam di dunia dengan latar belakang menjalankan Tawaf yang merupakan salah satu rukun haji dan umrah orang Islam. Mereka datang membawa bendera negaranya dan kembali pun masih membawa benderanya. 

Dengan harapan nilai rohani yang dibawa dari pergi Haji atau umrah bisa menambah kebaikan untuk semua. Dan kotak-kotak yang polos visualisasikan sebagai berangkat dengan niat yang kurang ikhlas dan hanya niat urusan duniawi semata. 

Putaran tawaf yang divisualisasikan dengan tulisan kaidah tsulust adalah doa putaran pertama sampai putaran ketujuh atau terakhir. Dengan inti doanya Robbana atina fiddunya hasanah wafil akhiroti Hasanah waqina adzabannar… Sedangkan, Kakbah dengan petir adalah visualisasi kuatnya power dari Kakbah itu . 

Karena di sana seakan hanya ada Allah dan hambanya semata. Wallahu a’lam bisshowa. Karya Riyanto menjadi pusat perhatian para pengunjung di Taman Budaya Yogyakarta. Karya kaligrafi Islam karya Riyanto menjadi arus utama di event JMA. “Saya sangat bersyukur, banyak pengunjung yang tertarik dengan kaligrafi islam,” kata Riyanto yang juga pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran atau LPTQ Kota Surabaya juga Dewan hakim MTQ Cabang Khat Kota Surabaya. (yad)

Jadi Arus Utama Kaligrafi Islam di JMA Yogyakarta, Pencinta Karya Riyanto Kini Menikmati di Art Jakarta Selengkapnya

Husna, Siswa SDN 4 Petrokimia Gresik Gelar Pameran Tunggal di Galery Merah Putih di Surabaya 

GRESIK,1minute.id – Husna Sabila Jannati Kusuma masih berusia 7 tahun. Talenta bocah kelas I SD Negeri 4 Petrokimia Gresik ini luar biasa untuk anak seumurannya. Husna penuh percaya diri menggelar pameran tunggal goresan tangannya alias melukis di Galery Merah Putih, Balai Pemuda di Jalan Gubernur Suryo, Surabaya. 

Sebanyak 14 karya anak kedua dari pasangan Cahyo Kusumo dan Anita Hidayati ini dipamerkan di Kompleks Alun-alun Surabaya mulai 21-27 September 2024. Tema lukisan seputar tentang dunia Husna yakni dunia kesehariannya mulai dari kehidupan dalam rumahnya di Gresik, lingkungan sekolahnya, tempat kerja ayahnya, sekolah tempat Ibunya mengajar, juga suasana tempat tinggal neneknya di Dieng Wonosobo, Jawa Tengah. 

Semua goresan tangan dilakukan di media cat akrilik dan gouache di atas kanvas. Tentu ukurannya bervariasi. Terbesar ukuran 100 x100 Cm dan yang terkecil 50×50 Cm. Semua karya Husna itu telah lolos kurasi, seorang kurator bernama Arik S. Wartono, pendiri dan pembina Sanggar Lukis DAUN Gresik,  tempat Husna belajar melukis.

Pameran tunggal Husna ini, rangkaian perayaan 20 tahun Sanggar DAUN (2004-2024). Menurut Arik S. Wartono, karya lukis Husna ini berdasarkan pengalaman pribadi sang pelukis. Ia mencontohkan Husna melakukan studi wisata ke Gunung Bromo bersama teman-temannya ketika masih di TK Insanuz Ziyan, Kebomas, Kabupaten Gresik. Selain itu, goresan tangan mungil Husna adalah imajinasi tentang dunia satwa misalnya Singa, Jerapah, Cumi-cumi, Kerang dan lain-lain oleh Kusuma Husna ditampilkan dalam gaya kanak-kanak yang naif sekaligus unik. Semua karya dikerjakan selama 2024. “Pameran ini dipersiapkan selama 1 tahun terakhir,” terang Arik S. Wartono pada 1minute.id pada Sabtu, 21 September 2024.

Dalam visualisasi setiap ide dan gagasannya ke dalam kanvas, terang Arik S. Wartono, Husna sebenarnya tidak melukis apa yang ia lihat. “Justru ia melukis tentang apa yang ia ketahui,” imbuhnya sambil mencontohkan karya lukis tentang singa. Dalam itu, detail anatomi satwa singa tidak penting baginya, bahkan bentuk singa bisa bercampur dengan imajinasi yang berkembang dalam pikiran Husna.

Juga ketika Husna melukis tentang dunia tempat kerja ayahnya yang bekerja di Rumah Sakit Petrokimia Gresik, gedung rumah sakit dan mobil ambulans yang tervisual dalam karyanya bisa jadi samabsekali tidak mirip dengan apa yang ia lihat hampir setiap hari. Husna tidak perduli dengan bentuk fisiknya, bahkan sekalipun ia melihat fotonya. Karena Husna memang melukis semua itu berdasarkan apa yang ia tahu tentang objek yang dilukisnya, yang tentu saja lekat bercampur dengan imajinasi yang berkembang dalam pikirannya.

Bahkan ketika Husna menggambarkan tentang suasana bermain bersama teman-teman barunya di Sekolah Dasar (SD) atau teman lamanya saat masih Taman Kanan-kanak (TK), ia lebih berpijak pada ingatannya sekaligus semua yang ia rasakan dalam persahabatan, detail fisik teman-temannya menjadi tidak penting, sebab yang lebih penting baginya adalah suasana batin yang ia rasakan dan lekat dalam ingatannya.

Metode melukis seperti ini, katanya, khas anak-anak yang sudah mulai keluar dari periode “coreng-moreng yang diberi nama”.

Dan yang paling menarik dari karya-karya Kusuma Husna selain bentuk (form) aneka objek yang unik, ekplorasi teknik melukis yang ia kembangkan juga cukup beragam. Mulai dari teknik aquarel dengan media akrilik dan qouache yang encer dicampur banyak air sapuan-sapuan warna tipis sehingga menghasilkan warna yang transparan.

Teknik opaque terutama dengan media cat akrilik yang tidak banyak dicampur dengan air atau bahkan cat langsung dari tubenya, dengan goresan tebal sehingga menghasilkan warna yang pekat dan padat.

Beberapa bagian dalam karya Husna juga cukup beragam dalam teknik visualisasi objek, antara goresan tebal-tipis langsung menggunakan kuas, bervasiasi dengan goresan outline tebal warna hitam menggunakan kuas maupun spidol. 

Eksplorasi teknik ini tentu bisa terus dikembangkan dengan banyak variasi lainnya misalnya teknik kolase, eksplorasi teksture, cat semprot dan banyak ragam teknik melukis yang bisa dicoba untuk eksplorasi keragakan teknik melukis. (yad) 

Husna, Siswa SDN 4 Petrokimia Gresik Gelar Pameran Tunggal di Galery Merah Putih di Surabaya  Selengkapnya

Nuur Muhammad, Karya Riyanto, Pelukis Kaligrafi asal Gresik Sabet Best Performance Ajang Pameran Internasional 

GRESIK,1minute.id – Ajang Musabaqah Tilawatil Quran Nasional atau MTQN ke-30 di Samarinda, Kalimantan Timur semakin gegap gempita. Selain diikuti ribuan kafilah se-Indonesia yang sedang berjuang mengharumkan provinsi yang diwakilinya. 

Di arena MTQN itu,  juga diadakan eksebisi pameran kaligrafi kontemporer.  Pameran yang berlangsung mulai 8-15 September 2024 itu bertajuk “The Prophet Muhammad International Islam Calligraphy Art Exhibition”. Pameran kaligrafi kontempore terbesar itu diikuti 135 pelukis dari 35 negara.  

Pulukis kaligrafi Indonesia diantaranya diwakili oleh Muhammad Riyanto.  Ia pelukis asal Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik, Jawa Timur. “Saya salah satunya wakil dari Jawa Timur,” kata Riyanto kepada 1minute.id pada Sabtu, 14 September 2024.

Riyanto memamerkan lukisan berjudul Nuur Muhammad di atas kanvas ukuran 120×120 cm. Medianya campuran yakni Polypropylene, glass, PVC board, pipa, pines, resin, acrylic on canvas.

“Judul karya Nuur Muhammad dalam berkonsep karya nama diberikan oleh KH.Chotib Hambari adalah putra KH.Muhammad Bashori Mansyur  pengasuh Ponpes Roudlotit Tholibin  keponakan Gus Mus (Musthofa Bisri),” terang pelukis kaligrafi yang santri ini. 

Lukisan Riyanto terlihat elok. Panitia menempatkan karya Riyanto di tempat paling strategis. Sehingga menyita perhatian semua orang yang berkunjung di arena pameran kaligrafi internasional. Penikmat karya adalah para kafilah, dan masyarakat Samarinda, Kalimantan Timur atau sekitar 2-3 jam dari Ibukota Nusantara alias IKN. 

“Dalam pameran panitia memilih satu yang terbaik. Karya Saya yang menjadi the best performance,” ujarnya. Riyanto menceritan, untuk membuat kaligrafi kontemporer “Nuur Muhammad” ini membutuhkan waktu 2 mingguan. “Seminggu cari ide, seminggu melukisnya,” katanya.  

Proses kreatif itu tergolong cukup lama. Selain ide, bahan-bahan yang masuk ke media kanvas berukuran 120×120 centimeter.  “Mixed media.  Polypropylene, glass, PVC board, pipa, pines, resin, acrylic on canvas),” kata bapak tiga anak itu. 

Filosofi apa yang tersirat dalam di lukisan berjudul “Nuur Muhammad” itu.  Nuur Muhammad atau Cahaya Muhammad S.A.W, yang lahir pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah atau 570 Mesehi di Makkah. “Cahaya Muhammad semoga selalu memberikan syafaatnya kelak,” ujar Riyanto. 

Pada tulisan Muhammad ada pipa dengan pines adalah 24 nabi dan Muhammad sebagai Rosul akhir zaman. Lalu kotak persegi empat adalah sifat-sifat rasul. Kemudian bulatan-bulatan kecil adalah visual umat beliau, Nabi Muhammad yang tersebar di seluruh dunia sampai sekarang.

Selanjutnya, lima kaca bulat cembung adalah visual dari lima waktu salat sebagai inti mi’rojul akan perintah-Nya. “Bisa juga digunakan untuk bercermin koreksi diri. Sudahkan kita Salat tepat waktu. Bisa juga divisualkan sebagai rukun Islam,” terang Riyanto. “Tulisan kaidah farisi sebelah kiri adalah sebutan Nabiyullah. Bentuk utama hati adalah wujud kecintaan kita ya habiby ya Rosulullah SAW,” ujarnya.

Riyanto, salah pelukis di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik yang fonomenal. Di dalam lukisan yang bercerita tentang kehidupan tersebut, Riyanto selalu menyisipkan ayat-ayat Alquran di dalamnya. 

“Bagi saya sebenarnya setiap seniman punya cara penyampaiannya sendiri-sendiri. Dan menyampaikan secara visual itu paling mudah. Hal itu nantinya juga bisa membuat orang-orang bertanya,”ujar Riyanto dalam suatu kesempatan. 

Sejumlah lukisan Riyanto telah dikoleksi sejumlah tokoh di Indonesia. Diantaranya, lukisan berjudul Ikan Bandeng menjadi koleksi Presiden Joko Widodo. Ada juga yang dikoleksi mantan ketua PBNU KH. Said Aqil Siradj, KH.Afofudin Dimyati putra KH.Dimyati Romli sekaligus pengasuh Ponpes Hidayatul Quran Peterongan Jombnag dan KH.Muammar ZA, qori International dari Indonesia.
Riyanto mengaku belajar kaligrafi dari Ustadz Faiz Abdur Rozzaq di Bangil, Pasuruan tersebut. (yad)

Nuur Muhammad, Karya Riyanto, Pelukis Kaligrafi asal Gresik Sabet Best Performance Ajang Pameran Internasional  Selengkapnya

Isabell Roses, 13 Tahun, Siswa Sanggar Daun Gelar Pameran Lukis Tunggal Di Alun-alun Surabaya 

GRESIK,1minute.id – Isabell Roses baru berumur 13 tahun. Bagi anak seusia Isabell yang generasi z alias Gen-Z itu, mayoritas lebih menyukai main gedget. Tapi, bocah kelahiran 31 Juli 2011 ini berbeda. Isabell lebih memilih untuk corat-coret alias melukis di atas kanvas.

Lukisan Isabell yang memiliki teknik realis bukan gedung yang menjulang ke angkasa yang banyak tersebar di Kota Metropolis, Surabaya. Isabell memilih melukis budaya lawas nusantara. Orang memasak menggunakan kompor kayu, kerapan sapi,  main egrang dan lainnya. Selain kerapan sapi, kebudayaan lawas nusantara itu nyaris punah. 

Penasaran akan goresan tangan Isabell Rose, penikmat lukis bisa menyaksikan langsung di Galeri Merah Putih, kompleks Balai Pemuda Alun-alun Surabaya mulai Ahad besok, 8 September 2024. Gratis! 

“Pemeran akan buka mula Minggu sore pukul 4,” ujar Arik S. Wartono, kurator juga pendiri Sanggar Daun, tempat Isabell Roses belajar melukis kepada 1minute.id pada Sabtu, 7 September 2024.

Sebanyak 18 lukisan karya Isabell Roses yang dipajang hingga 13 September 2024 nanti.  Puluhan karya lukisan menggunakan media cat air dan akrilik di atas kanvas ukuran terbesar 142 x 92 cm, dam terkecil berukuran 34×33 cm. Sebagian besar dikerjakan dalam teknik realis dan lukisan naif khas anak-anak. Dengan tema permainan anak zaman dulu, tradisi lokal Indonesia khususnya masyarakat Jawa dan Madura, serta dogeng rakyat.

“Karya-karya yang dipamerkan dikerjakan mulai tahun 2020 hingga yang terbaru tahun 2024,” terang Arik S. Wartono. Pameran ini, sekaligus menandai perayaan 20 tahun Sanggar DAUN periode 2004 – 2024. (yad) 

Isabell Roses, 13 Tahun, Siswa Sanggar Daun Gelar Pameran Lukis Tunggal Di Alun-alun Surabaya  Selengkapnya

Gang Sebelah Rilis Film Dokumenter Penutur Terakhir, Mbah Mat Kauli, Maestro Macapat Gagrak Gresik 

GRESIK,1minute.id – Yayasan Gang Sebelah merilis film dokumenter tentang Maestro Macapat Gagrak, Mbah Mat Kauli pada Sabtu malam, 24 Agustus 2024. Film dokumenter hasil riset selama 6 bulan yang dilakukan oleh anggota yayasan yang berdiri sejak 2017 itu diputar di Kampung Kemasan, Kelurahan Pekelingan, Kecamatan/Kabupaten Gresik.

Kampung Kemasan adalah salah satu perkampungan heritage yang ada di Gresik Kota Lama atau GKL Sedangkan, Yayasan Gang Sebelah yaitu yayasan berfokus pada kerja riset, arsip dan pengembangan kebudayaan menaungi berbagai komunitas. Antara lain, Gresik Movie (komunitas film) ; Sanggar Intra (Komunitas Teater) ; Onomastika (Komunitas Musikalisasi.Puisi) ; Ruang Sastra (Komunitas Sastra).dan Rubamerah (Perpustakaan).

Anggota komunitas ini mayoritas kaum milenial dan generasi Z atau Gen-Z. Film dokumenter iu berjudul “Penutur Terakhir” Mbah Mat Kauli, Maestro Macapat Gagrak Gresik” disaksikan ratusan pasang mata. Puluhan seniman, budayawan dan pencinta kebudayaan di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik memenuhi pemutaran perdana film dokumenter yang berdurasi 33 menit itu. 

Terlihat hadir antara lain, Uman Iswahyudi, anak nomor 5 dari 10 saudara pasangan Mat Kauli dengan Supartin (almarhumah). Uman Iswahyudi terlihat berkaca-kaca menonton film yang menceritakan keseharian ayahandanya, Mat Kauli ketika masih sehat hingga kesehatan berkurang itu. 

Ketika masih sehat, sang Maestro Macapat Gagrak yang betah melek itu masih sering nembang meski menggunakan kursi roda. Memakai blankon dan baju batik. Tampak gagah. “Saya sangat terharu. Sangat tersanjung adanya film dokumenter yang dibuat oleh Gang Sebelah ini,” kata Uman Iswahyudi dengan suara lirih.

Kondisi kesehatan Mbah Mat Kauli semakin menurun setelah Supartin, belahan hati yang juga cinta pertama dan terakhir ini wafat di usia 70 tahun pada 16 Agustus 2021 lalu. Mbah Mat Kauli merasa kehilangan belahan jiwa. “Waktu masih sehat, Saya hampir setiap Jumat nyekar ke makam istri. Sekarang saya tidak bisa,” tutur mbah Mat Kauli dalam film dokumenter itu. 

Mbah Mat Kauli lahir pada 1 Mei 1931. Saat meminang Supartin, ia masih berusia 22 tahun. Saat itu, Supartin yang lahir pada 10 Mei 1942, masih berusia 12 tahun. Diceritakan dalam film dokumenter itu, Supartin jatuh cinta kepada Mat Kauli karena suara merdu. “Saat itu, ibu belum pernah bertemu dengan bapak. Jatuh cinta karena mendengar suara bapak saja,” cerita anak-anak Mbah Mat Kauli di film itu.

Pernikahan Mbah Mat Kauli dengan Suparti dikarunia 10 anak, 31 cucu dan 35 cicit. Di film dokumenter itu juga anak dan cucunya menceritakan kecintaan Mbah Mat Kauli dengan Supartin seperti cerita film layar lebar Habibie dan Ainun. B.J. Habibie adalah Presiden kelima Indonesia. Sedangkan, Hasri Ainun Besari adalah ibu negara. 

APRESIASI: Camat Gresik Jalesvie Triyatmoko didampingi Pembina Yayasan Gang Sebelah Dewi Musdalifah dan Ketua Tim pembuatan film dokumenter Qonita menyerahkan apresiasi diterima oleh
Uman Iswahyudi, anak Mbah Mat Kauli dalam acara perilisan Film dokumenter Penutur Terakhir di Kampung Kemasan, Kelurahan Pekelingan, Kecamatan/Kabupaten Gresik pada Sabtu malam, 24 Agustus 2024 ( FOTO: chusnul cahyadi/1minute.id)

Selama pernikahan mereka hidup rukun meski ekonomi keluarga tergolong pas-pasan. Untuk menafkahi keluarga, Mbah Mat Kauli bekerja di galangan kapal, PT PAL Surabaya. Mbah Mat Kauli berangkat dan pulang kerja dengan ngontel. Rumah Mbah Mat Kauli di Jalan Awikoen Jaya, Kampung Gemantar, Kelurahan Gending, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik dan tempat kerjanya di kawasan Tanjung Perak, Surabaya.yang jaraknya sekitar 12- 15 kilometeran. Waktu itu infrastruktur jalan raya tidak sebagus sekarang.

Pagi sampai sore hari kerja di pabrik. Malam hari, nembang macapat hingga dini hari. Mat Kauli mulai macapat di usia 18 tahun hingga sekarang atau 75 tahun. Kecintaan kepada seni dan budaya itu, Mbah Mat Kauli akhirnya mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi atau Kemendikbud Ristek sebagai seorang Maestro. 

Ketika menerima penghargaan itu, Supartin telah tiada. Mbah Mat Kauli merasa sangat sedih karena belahan jiwa tidak bisa menikmati jerih payah Mat Kauli mendapatkan uang tali asih hingga seumur hidupnya. Sejak tiga bulan terakhir atau tepatnya saat Idul Fitri kesehatan semakin menurun. Bahkan, kaki tidak lagi kuat menahan berat tubuhnya. Mbah Mat Kauli kini hanya bisa berbaring di tempat tidur di kamar rumah yang sederhana. 

Perilisan film dokumenter tentang Mbah Mat Kauli berjudul “Penutur Terakhir”, Maestro Macapat Gagrak, Gresik ini tidak bisa hadir. Mbah Mat Kauli diwakili anak nomor 5 bernama Uman Iswahyudi, yang pensiunan Aparatur Sipil Negara di Pemerintah Kabupaten atau Pemkab Gresik.

Ketua tim riset Film Dokumenter Penutur Terakhir, Qonita Tri mengatakan, Mbah Mat Kauli adalah pelestari Macapat Gagrak Gresik ini. “Mumpung Mbah Mat Kauli masih sehat , kita buatkan film dokumenter dengan harapan anak-anak muda bisa belajar melalui film dokumenter dan audiobooknya,” kata Qonita yang didampingi Ketua Yayasan Gang Sebelah Hidayutul Nikmah dan Bendahara perilisan film dokumenter Dewi Nastitiya Anindya usai acara kepada wartawan pada Sabtu malam, 24 Agustus 2024.

Pembuatan film dokumenter ini, kata Qonita, difasilirasi oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi atau Kemendikbud Ristek. Selama 6 bulan tim mendokumentasikan keseharian Mbah Mat Kauli, melakukan wawancara dan kerap melakukan kunjungan ke rumah mbah Mat Mauli.  “Isi dalam film ini, lebih banyak tentang Bagaimana kemaestroannya mbah Mat Kauli, kehidupan sehari-hari, mulai baca macapat sejak usia berapa hingga di usia 93 tahun ini,” katanya. “Selama 75 tahun melestarikan macapat, apa saja yang telah di terima oleh Mbah Mat Kauli,” tambahnya. 

Pesan yang ingin disampaikan dalam film dokumenter ini? Ia menyebut Macapat yang dibacakan oleh Mbah Mat Kauli berasal dari cerita serat, ada dari Babad Sindujoyo, yang menceritakan tentang fase kehidupan mulai dari kandungan sampai menuju kematian.

“Jadi ada pesan kehidupan sehari-hari bagaimana laku bagi manusia itu sendiri,” terang perempuan berhijab itu.

Rencana kedepan? Tujuan membuat film dokumenter ini selain untuk mendokumentasi juga menyebarkan ilmunya. “Kami pingin menyebarkan filmnya, audiobook ke sekolah, memutar film ke kampung dan desa-desa untuk memperkenalkan macapat kepada yang lebih luas lagi,” tegasnya. 

Selain pemutaran film,  perilisan film dokumenter dilakukan talkshow serta pemberian apresiasi Yayasan Gang Sebelah kepada Mbah Mat Kauli yang diterima oleh Uman Iswahyudi, anak kelima Mbah Mat Kauli. Acara kelar sekitar pukul 22.30 WIB. (yad)

Gang Sebelah Rilis Film Dokumenter Penutur Terakhir, Mbah Mat Kauli, Maestro Macapat Gagrak Gresik  Selengkapnya

75 Tahun Nembang, Lestarikan Budaya, Kemendikbud Ristek Berikan “Gelar” Mbah Mat Kauli Maestro Macapat 

GRESIK,1minute.id – Kesehatan mbah Mat Kauli terus menurun. Bahkan kaki maestro macapat berusia 93 tahun itu tidak bisa lagi menahan berat tubuhnya. Kakek yang memiliki 10 anak, dengan 31 cucu dan 35 cicit itu pun harus berbaring di tempat tidur di rumahnya yang sederhana di Jalan Awikoen Jaya no 31 Gemantar, Kelurahan Gending, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik. 

“Sejak Idul Fitri lalu, bapak sakit,” kata Sumiyati, 70 tahun, anak sulung dari 10 bersaudara pasangan suami istri, Mat Kauli dengan Suparti pada Rabu, 21 Agustus 2024.

Wartawan 1minute.id  secara bersamaan dengan dua siswa bernama Aqila Callysta Putri dan Senna Niswara, serta Surya Yetni, guru pembimbing dari UPT SMP Negeri 4 Gresik mengunjungi rumah mbah Mat Mauli. Kedatangan kedua siswa dan seorang pembimbing untuk melakukan pendalaman penelitian tentang macapat, kebudayaan khas di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik itu. 

Pendalaman penelitian dengan judul : Eksistensi Mocopat Ala Gresik sebagai Local Culture Education ini, setelah mereka lolos nasional ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia atau OPSI yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan,  Riset dan Teknologi atau Kemendubud Ristek 2024. Selama hampir 2 jam berbincang santai dengan  maestro Macapat Mbah Mat Kauli di kamar tidurnya yang berukuran 3×4 meter persegi itu.

Di dalam kamar itu terdapat dua buah lemari. Satu lemari pakaian bagian rak atas digunakan sebagai tempat Mbah Mat Kauli menyimpan buku-bukunya. Buku macapat itu ada yang masih menggunakan aksara Jawa kuno atau hanacaraka, dan aksara Jawa latin. Buku aksara Jawa kuno dengan cover warna hitam dan kertas sudah berwarna kuning. 

SEMANGAT: Maestro Macapat Mbah Mat Kauli yang tetap semangat ketika nembang sambil tidur di kamar tidur di rumahnya Jalan Awikoen Jaya, Gemmtar, Kelurahan Gending, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik pada Rabu, 21 Agustus 2024 ( Foto : Chusnul Cahyadi/1minute.id)

Sedangkan, buku aksara Jawa latin hasil terjemahan itu ditulis tangan oleh Mbah Mat Kauli. Selama 14 bulan Mbah Mat Kauli menyalin. Buku-buku tertata rapi. 

“Tidak komplit, ada yang dipinjam anak-anak mahasiswa yang melakukan penelitian dan belum dikembalikan,” sela Sumiyati. 

Meski kaki tidak bisa menahan berat tubuhnya,  daya ingatan Mbah Mat Kauli masih luar biasa. Di usia 93 tahun kebanyakan orang mengalami pikun, akan tetapi ingatan Mbah Mat Kauli yang mulai nembang macapat di usia 18 tahun itu masih sangat tajam. Selama 75 tahun mbah Mat Kauli nembang Macapat. 

Hanya pendengarannya mulai berkurang. Melihat ada tamu, Mbah Mat Kauli terlihat senang. Seakan menjadi “obat” bagi mbah Mat Kauli. “Matur suwun, sik diperhatikan,” katanya. Mbah Mat Kauli pun mengizinkan tamunya untuk merekam dan memotretnya.

Ia pun menceritakan tentang masa muda, hingga dinobatkan sebagai seorang maestro Macapat oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Ristek Republik Indonesia. Ia juga bercerita menjadi aktor film yang dibuat oleh Yayasan Gang Sebelah, yang berdiri sejak 2017. 

Yayasan yang berfokus pada kerja riset, arsip dan pengembangan kebudayaan menaungi berbagai komunitas. Yakni, Gresik Movie (Komunitas Film), Sanggar Intra (Komunitas Teater), Onomastika (Kelompok Musikalisasi Puisi), Ruang Sastra (Komunitas Sastra), serta Rubamerah (perpustakaan). 

“Pingin teko, tapi kondisi kesehatan seperti ini,” ujarnya. Pada usia 22 tahun mbah Mat Kauli menikah dengan Supartin yang saat itu masih berusia 12 tahun. Dari pernikahan itu, Mbah Mat Kauli dikarunia 10 anak. Tiga di antara 10 anak meninggal dunia. Supartin adalah cinta pertama dan terakhir Mbah Mat Kauli. 

Kondisi kesehatan Mbah Mat Kauli yang lahir 1 Mei 1931 menurun sejak istrinya, Supartin wafat pada 16 Agustus 2021. “Sejak ibu meninggal itu, kondisi kesehatan bapak terus menurun,” cerita Sumiyati.

Sekitar 3 bulan terakhir ini, Mbah Mat Kauli tidak bisa berjalan. Bahkan, kakinya sudah tidak bisa menahan berat tubuhnya. Mbah Mat Kauli hanya bisa berbaring di tempat tidur. Akan tetapi, Mbah Mat Kauli sangat  bersemangat ketika membang macapat. “Bagi bapak nembang macapat bagai obat yang mujarab. Bapak selalu bersemangat kalau ada yang minta nembang,” ujar Sumiyati. (yad)

75 Tahun Nembang, Lestarikan Budaya, Kemendikbud Ristek Berikan “Gelar” Mbah Mat Kauli Maestro Macapat  Selengkapnya

Pakde Noed, Budayawan Gresik Berpulang

GRESIK,1minute.id – Kabar duka menyelimuti para seniman, budayawan dan pegiat kebudayaan di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik. Haji Oemar Zainuddin, budayawan Gresik meninggal dunia badal Subuh. Kamis tadi pagi, 22 Agustus 2024.

Penulis buku ” Kota Gresik 1896-1916 : Sejarah Sosial. Budaya, dan Ekonomi” meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah atau RSUD Ibnu Sina Gresik. Pakdhe Noed-sapaan Oemar Zainuddin- meninggal di usia 84 tahun. Budayawan getol  penggagas pelestari bangunan tua atau heritage itu meninggalkan seorang istri dan empat anak. 

Seorang bercerita, pascaoperasi hernia kesehatan pakdhe Noed terus menurun. Seminggu terakhir, lelaki yang tinggal di kampung Kemasan, Kelurahan Pekelingan, Kecamatan/Kabupaten Gresik itu menjalani perawatan intensif di RS Muhammadiyah Gresik kemudian dirujuk ke RSUD Ibnu Sina Gresik Gresik. Sejumlah tokoh budayawan dan pemerhati kebudayaan khas Gresik sempat membezuknya.

Pengurus DPD Masyarakat Adat Nusantara atau Matra Gresik M. Fatih Hamdie- yang biasa disapa-Andy Buchory. Dalam postingan media sosial, meminta doa untuk kesembuhan pakdhe Noed.

Pada Rabu, 21 Agustus 2024, peengurus komunitas Gresik Heritage yang diketuai oleh Sumarga Adhi Satria dan tokoh masyarakat Ir Nizam Zuhri giliran membezuk. Pakdhe Noed terlihat semringah. Karena bisa bertemu dengan para seniman dan budayawan Gresik itu. Namun, tuhan memiliki rencana lain. Pada Kamis, 22 Agustus 2024 badal Subuh budayawan itu meninggal dunia. 

Ketua Komunitas Gresik Heritage Sumarga Adhi Satria mengaku sangat kehilangan. “Kami keluarga beser Gresik Heritage sangat kehilangan beliau,” ujar Sumarga ketika dikonfirmasi 1minute.id pada Kamis, 22 Agustus 2024.

“Beliau adalah pemangku Ketua Bidang Kebudayaan dan Tradisi di Gresik Heritage. Semoga husnul khotimah,” kata pria yang juga Kepala SMP Darus Islam atau Daris Gresik ini. Ia mengaku masih teringang pesan Pakdhe Noet sebelum meninggal dunia. Pakdhe Noed kata Sumarga saat itu berpesan “Gresik Heritage iki komunitas terakhir ku, tolong di gedek no karo dikembangkan. Ojo sampek bubar. Eson seneng seru ambek komunitas iki.

“Kami sangat tersentuh dan terpanggil untuk mewujudkan impian beliau,” ujar Sumarga dengan suara lirih.

Keturunan ketiga keluarga H. Oemar, pengusaha penyamakan kulit di era 1890-an itu pernah menjadi anggota Dewan Pendidikan Gresik, Kepala Lembaga Seni Musik Gresik, pegawai Badan Logistik atau Bulog dan Guru di SMA Negeri 1 Gresik ini kerap menjadi dewan juri dalam ajang pemilihan Duta Wisata Gresik, Cak dan Yuk Gresik. Rencana almarhum dimakankan di pemakaman Islam, Tlogo Pojok Gresik  badal Asar nanti. (yad)

Pakde Noed, Budayawan Gresik Berpulang Selengkapnya

Bupati Fandi Akhmad Yani Bacakan Puisi Pada Mu Nur”, Ratusan Pasang Mata Seakan Terhipnotis

GRESIK,1minute.id – ….//Maafkan aku yang belum bisa menjadi perangkatmu//Yang pandai menyeru nama nama kegemaranmu// Kau saja rajin memanggilku berulang-ulang// Mengingatku untuk bersiap pulang//Semoga kau sudi merawat rindu ini dalam diriku// Dan selamatkan aku dari rasa rindu// Yang tak bermuara padamu//.

Itu beberapa bait puisi berjudul “Pada Mu Nur” karya Panji Sakti yang dibacakan oleh Bupati Gresik Fandi Akhmad di Gedung Nasional Indonesia pada Kamis malam, 15 Agustus 2024. Dengan diiringi gitar, Gus Yani-sapaan akrab-Bupati Fandi Akhmad Yani yang memakai sarung, dan kopyah itu terlihat menghayati tatkala membacakan puisi itu saat menghadiri Festival Musikalisasi Puisi Gresik 2024. 

Kegiatan berkesenian merayakan HUT ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia itu dihelat oleh Dewan Kebudayaan Gresik atau Gresik berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga alias Disparekrabudpora Gresik. 

Gus Yani menyampaikan pesan pentingnya budaya membaca dan menulis bagi generasi muda. “Membaca adalah fondasi utama dalam menciptakan karya tulis yang berkualitas. Saya berharap, semangat membaca dan menulis ini dapat menjadi bagian dari keseharian anak-anak kita,” ujar Gus Yani.

Sementara itu, Penyair Panji Sakti mengaku, baru kali ini lagu “Pada Mu Nur” berkolaborasi dengan orang lain dan langsung berduet dengan Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani. 

“Terima kasih sudah membacakan puisi ini. Puisi ini bikinnya tadi siang mendadak. Gresik ini bikin ide-ide saya tokcer, apa mungkin karena makanannya yang enak ya,” ujar Panji Sakti saat menyampaikan rasa kagumnya terhadap kota ini, terutama pada kulinernya.

Festival Musikalisasi Puisi Gresik 2024 bukan hanya sekadar ajang kompetisi, melainkan juga momen untuk merayakan kreativitas dan semangat literasi serta keindahan karya sastra di tengah masyarakat Gresik. Kompetisi musikalisasi puisi tersebut diikuti oleh 30 kelompok pelajar tingkat SMP dan SMA se-Kabupaten Gresik. 

Mereka berlomba memperebutkan Piala Bupati Gresik. Setelah melalui proses seleksi ketat di tiga wilayah utara, tengah, dan selatan, maka sembilan finalis terbaik tampil di babak final pada 13-14 Agustus 2024. Juara pertama kategori SMP berhasil direbut oleh UPT SMP Negeri 26 Gresik ; kategori SMA diraih SMA Muhammadiyah 1 Gresik. (yad)

Bupati Fandi Akhmad Yani Bacakan Puisi Pada Mu Nur”, Ratusan Pasang Mata Seakan Terhipnotis Selengkapnya