My Favorite, Seni Kontemporer Karya Muhammad Riyanto Raih The Best Exhibition Amuya Painting Competition di Jakarta 

GRESIK,1minute.id – My Favorite, Seni Instalasi kontemporer karya Muhammad Riyanto dinobatkan sebagai karya terbaik (The Best) dalam “Exhibition Amuya Painting Competition” di Amuya Galery, Graha Kana Lt 3 Gn.Sahari Selatan, Kemayoran, Jakarta Pusat. Kurator dalam kompetisi mengusung tema Hidden GEM “Paradise of Food, Drink & Music” adalah Dimas Ajisaka yang juga manajer Amuya Gallery. 

Pameran yang dibuka oleh ketua OKOCE Indonesia Pusat Iim Rusyamsi ini berlangsung mulai 21 Juni sampai 3 Juli 2025. Seni Instalasi karya Riyanto yang berbentuk smartphone ini berukuran 75 x150 cm serta menggunakan bahan acrylic, mirror circle 25 mm dan 200 mm, PVC Board,  plastik, wood, stiker cutting, acrylic cutting, lamp LED, dan melamine plate sepintas sama dengan gawai yang ada di pasaran. 

Akan tetapi, seni instalasi telepon pintar itu memiliki filosofi yang sangat dalam. Seperti karya-karya Riyanto sebelumnya yang selalu menyisipkan ayat-ayat Alquran. Pun, di lukisan “My Favorite” yang berbentuk visual smartphone, 17.00, 7G dan Walkman ini. 

Apa arti filosofinya? Menurut Riyanto, Smartphone D.F.M alias Drink, Food, dan Music (Minuman, Makanan dan Musik) menjadi kebutuhan setiap manusia. Di era digital, setiap orang bisa dengan mudah pesan makanan, minuman dan mendengarkan musik. 

“Visual karya berupa handphone adalah bentuk dari mudahnya era digital dalam genggaman tinggal order langsung datang,” kata Riyanto pada Jumat malam, 27 Juni 2025.  Sedangkan, visual jam 17.00 adalah dari 17 rakaat Salat Fardu dan  jaringan 7G adalah surat Alfatihah. Riyanto juga memvisualkan visual WiFi dan Bluetooth serta keadaan baterai di sebelah kanan atas. 

Berikutnya, visual berbentuk walkman, alat ukuran besar adalah arti dari Ya Sami’ yaitu Maha Mendengar. “Kita diberikan dua telinga untuk mendengar yang di ridhoi Allah dan visual bola mata yang berputar adalah arti dari Ya Basyiir yaitu Maha Melihat, untuk melihat apa yang diciptakan Allah yang tentunya dalam ridhoNya, dan menjauhi yang dilarangNya,” jelas pelukis kaligrafi alumnus Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Al-islamiyah asuhan KH. Muhammad Bashori Mansyur, Tambak Osowilangun, Surabaya ini.

Begitu juga dengan musik yang di pilih sambil menikmati makanan dan minuman akan meningkatkan rasa syukur kepada pencipta Allah SWT( As-Syakuur). “Semuanya pasti tidak melupakan kewajiban kita Atas perintah-Nya yang harus kita utamakan,” ujarnya. 

Kesimpulan karya, terangnya, ada di kaca bulat dengan tulisan DFM (Drink , Food , Music) hendaknya sebelum makan, minum dan mendengarkan musik diawali dengan bacaan Basmalah (visual dengan 7 kaca bulat adalah 7 ayat surat alfatihah) dan minum dahulu sebelum makan.

Air yang bersih dibagian atas karya adalah cerminan, seberapa pentingnya air untuk menetralisir dan membantu pencernaan kita. di bawah macam-macam makanan, minuman dan stasiun radio ada gambar peta pulau-pulau di Indonesia. 

Filosofi memutar pada bagian bola mata adalah dari visual kehidupan kita yang selalu berputar siang dan malam,lapar dan kenyang,gelap dan terang,sehat dan sakit,hidup dan mati.Penikmat seni bisa langsung dengan memutar untuk berinteraksi dengan karya ini.

Siapa H. Muhammad Riyanto? Riyanto tergabung dalam pelukis Gasrug Gresik dan lulusan Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Al-slamiyah asuhan KH. Muhammad Bashori Mansyur, Tambak Osowilangun, Surabaya. Ia belajar kaligrafi di KH.M Faiz Abdur Razaq Khattat International dari Bangil.

Sejumlah lukisan Riyanto telah dikoleksi sejumlah tokoh di Indonesia. Diantaranya, lukisan berjudul Ikan Bandeng menjadi koleksi Presiden Joko Widodo. Ada juga yang dikoleksi mantan ketua PBNU KH. Said Aqil Siradj, KH.Afifudin Dimyati, putra KH.Dimyati Romli sekaligus pengasuh Ponpes Hidayatul Quran Peterongan Jombang dan KH. Muammar ZA, qori International dari Indonesia. Riyanto mengaku belajar kaligrafi dari Ustadz Faiz Abdur Rozzaq di Bangil, Pasuruan tersebut. (yad)

My Favorite, Seni Kontemporer Karya Muhammad Riyanto Raih The Best Exhibition Amuya Painting Competition di Jakarta  Selengkapnya

Dukung Pelestarian Seni, Gedung Wakil Rakyat Gresik Disulap Bagaikan Galeri Karya Pelukis Gresik

GRESIK,1minute.id – Sebanyak 50 karya lukis dari sepuluh pelukis asal Gresik dipamerkan di gedung DPRD Gresik mulai Rabu, 14 Mei 2025. Art Exhibition yang dibuka oleh Ketua DPRD Muhammad Syahrul Munir itu di gelar hingga Jumat, 16 Mei 2025.

Gedung wakil rakyat di Jalan KH Wachid Hasyim, Gresik itu terasa beda. Gedung ikonik, peninggalan Kolonial Belanda itu bagai galeri lukis. Puluhan lukisan karya pelukis yang tergabung dalam Sanggar Lentera dibawa komando Kris Adji A.W., itu di pajang mulai teras hingga lorong menuju rapat paripurna. 

Sejak di buka pukul 09.00 pagi hingga pukul 9 malam, seakan tidak pernah sepi pengunjung. Penikmat seni lukis bisa menikmati berbagaj aliran lukisan. Mulai Surialisme, abstraksi, kontemporer hingga realisme. Ukuran dan bentuk karya pun beraneka ragam. 

Muhammad Riyanto, misalnya, memamerkan dua karya kaligrafinya yang berjudul Dzikir dan ayat Kursy (kolaborasi Asmaul Husna dengan ayat kursy). “Lukisan dengan piring yang bisa berputar nanti di koleksi oleh Ketua DPRD Gresik. Saya buat dadakan karena dipasang di ruang Ketua dewan,” kata Riyanto.

Sejumlah lukisan Riyanto telah dikoleksi sejumlah tokoh di Indonesia. Di antaranya, lukisan berjudul Ikan Bandeng menjadi koleksi Presiden Joko Widodo. Ada juga yang dikoleksi oleh mantan Ketua PBNU KH. Said Aqil Siradj ; KH. Afifudin Dimyati, putra KH. Dimyati Romli sekaligus Pengasuh Ponpes Hidayatul Quran Peterongan Jombang dan KH.Muammar ZA, qori International dari Indonesia. Riyanto mengaku belajar kaligrafi dari Ustad Faiz Abdur Rozzaq di Bangil, Pasuruan tersebut.

NALURI : Ahmad Fery dengan salah satu karya berjudul Naluri yang dipamerkan di gedung DPRD Gresik . Pemeran dibuka oleh ketua DPRD Gresik Syahrul Munir berlangsung mulai 14 Mei hingga 16 Mei 2025 ( Foto : Chusnul Cahyadi/1minute.id)

Lalu, pelukis Ahmad Fery mempersembahkan dua karya abstraks yakni 5 Waktu dan Naluri. Naluri, lukisan berukuran 120 x 155 centimeter ini dipajang di teras depan bersebelahan dengan Dzikir. “Naluri tidak hanya dimiliki manusia. Hewan pun memiliki Naluri,” kata Feri ketika ditemui pada Rabu malam, 14 Mei 2025. Ia menceritakan, ada induk burung  memberikan makan anaknya. Sementara ada anak burung kelaparan karena ditinggal induknya, burung lainnya tergerak untuk memberikan makan anak burung. “Begitu lah kehidupan. Coba sampeyan lihat agak jauh. Akan terlihat burungnya,” katanya. 

Yayak, pelukis kelahiran Pekauman, Gresik melukis Damarkurung, yang dipopulerkan oleh maestro Mbah Masmundari. Akan tetapi, cerita yang disampaikan tentang kekinian. Orang sedang bersepeda skutik, bermain drone dan robotik. Akan tetapi, wajah orang lukisan damarkurung karya Yayak ini berwarna gelap. “Persepektif saya saja. Karena saya menganggap bayangan,” katanya. 

Ketua DPRD Gresik, M Syahrul Munir, menyampaikan bahwa pameran ini merupakan bentuk dukungan DPRD terhadap pelestarian seni dan budaya daerah.

“Ini cara kami memberikan ruang kepada para seniman untuk berekspresi. Apalagi, gedung DPRD ini juga termasuk bangunan cagar budaya, sehingga sangat tepat dijadikan tempat kegiatan yang bersentuhan dengan kebudayaan,” ujar Syahrul.

Dia menambahkan, seni dan budaya merupakan aspek penting dalam pembangunan daerah. Menurutnya, Gresik memiliki banyak seniman potensial yang karyanya sudah dikenal hingga kancah internasional.

Politisi muda PKB ini juga meminta dinas terkait serta Komisi yang membidangi untuk ikut serta aktif dalam pelestarian kebudayaan di Kota Pudak. “Ada lukisan karya seniman Gresik yang sudah keliling 50 negara. Ini menunjukkan potensi besar yang perlu terus kita dukung dan fasilitasi,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana M Syarifuddin, menyampaikan apresiasi kepada legislatif khususnya Ketua DPRD, yang telah memberikan ruang dan dukungan terhadap kegiatan seni ini.

“Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah memfasilitasi kegiatan ini. Pameran ini bukan hanya ajang menampilkan karya, tapi juga menghidupkan kembali semangat berkesenian di Gresik,” ujarnya.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, akan digelar sarasehan bertema “Lentera Bersinar Lagi: Arus Balik Kebudayaan Gresik sebagai Kota Perdagangan dan Peradaban” pada hari terakhir pameran. (yad)

Dukung Pelestarian Seni, Gedung Wakil Rakyat Gresik Disulap Bagaikan Galeri Karya Pelukis Gresik Selengkapnya

Pelukis Kaligrafi asal Gresik M. Riyanto, Pameran Kaligrafi 2in1, Indonesia dan Malaysia selama Ramadan

GRESIK,1minute.id – Kesibukan pelukis kaligrafi Muhammad Riyanto semakin bejibun di bulan suci Ramadan 1446 hijriah. Sebab, pelukis kaligrafi tinggal di Gresik sedang berpameran dua di negara, Yakni Indonesia dan Malaysia. 

Di Indonesia, Riyanto menggelar pameran di Museum Nasional Sepuluh Nopember Tugu Pahlawan Surabaya. Sedangkan, di Malaysia event Segaris Gallery Kuala Lumpur Malaysia. 

“Di Malaysia ini kali kedua. Tahun lalu di event Pameran Nasional Malaysia Hotel Artfair by Sheraton Kuala Lumpur, City Center,” kata Riyanto kepada 1minute.id melalui pesan WhatsApp pada Selasa, 25 Maret 2025.

Pameran Segaris Gallery Kuala Lumpur Malaysia mengusung tema “IMAN” ini diikuti beberapa pelukis senior Malaysia, antara lain,  lbrahim Mohd Don ; Mohd Noor Mahmud ; Rashid Nor dan Zaharuddin Sarbini. Kemudian, Amsyar Ramli ; Alias Yusof ; Azaikmal Rasyid; Amirul Aiman ; Dato Moch Yusof Ahmad ; Hirzaq Harris ; Arman Rizaudin pematung kaligrafi Burhanuddin Bakri dan pelukis Indonesia Agus Baqul Purnomo.

“Pameran berlangsung sampai akhir Ramadan. Pemeran tahun lalu, Kaligrafi Asmaul Husna karyanya dikoleksi kolektor negeri Jiran,” ucap pelukis kaligrafi alumni pondok pesantren itu. Tahun ini, Riyanto menampilkan beberapa karya, diantaranya, QS.Ar-Rahman dan QS.Ibrahim ayat 7 dengan goresan kaidah Farisi.

Sementara itu, d Museum Nasional Sepuluh Nopember Tugu Pahlawan Surabaya, Jawa Timur yang menyambut Nuzulul Quran yang diprakarsai UKHISI Ukhuwah Kaligrafi Indonesia dan Dinas Kebudayaan Pemuda dan Olah Raga (Disbudporapar) Surabaya, Riyanto menampilkan 2 karya uniknya Asmaul Husna dan Nuur Muhammad. Karya itu sempat viral di media sosial tahun lalu di event MTQ Nasional pada Pameran bersama 50 negara di Samarinda.

Karya unik Asmaul Husna menjadi target pengamat  dan penikmat seni untuk berinteraksi langsung dengan Riyanto.  

“Karya ini memang beda dengan karya kaligrafi lain, kalau yang lain tidak boleh (don’t touch) dipegang, karya ini justru dipersilahkan karena langsung bisa memutar dan meneliti keunikan karya ini (please touch),” kata santri KH.M.Faiz Abd Razzaq. KH. Syamsul Huda, KH.Musbahul Munir legend Kaligrafi Indonesia ini.

Agus M.T, staf ahli Disbudporapar Kota Surabaya mengatakan karya Riyanto ini bukan hanya sekedar karya seni tapi mempunyai manfaat secara experien yang interaktif untuk masyarakat. “Bagaimana mengenal Asmaul Husna dengan cara bermain kotak kotak segitiga 3 sisi, masing- masing berisi 33 (tasbih, tahmid, takbir) bila dijumlahkan menjadi 99 Asmaul Husna (Nama-nama Indah sebutan Allah) yang tiap sisinya berkaidah berbeda, Tsulust, Diwani, Koufi. Dengan tinggi karya 0,17 m visual dari 17 rakaat sholat. “Bagusnya lagi bisa diputar 360 derajat untuk bisa membacanya,” kata Riyanto menirukan ucapan Agus M.T., yang juga kurator itu. (yad) 

Pelukis Kaligrafi asal Gresik M. Riyanto, Pameran Kaligrafi 2in1, Indonesia dan Malaysia selama Ramadan Selengkapnya

Wabup Gresik dan Ketua DPRD Gresik Nikmati Lezatnya Takjil Sanggring Kolak Ayam

500 Tahun Sanggring Kolak Ayam, Kuliner Langka, Dimasak Setahun Sekali di Maleman 23 Ramadan 

GRESIK,1minute.id – Ribuan jemaah menyemut di halaman. masjid Jamik Sunan Dalem di Desa Gumeno,  Kecamatan Manyar,  Kabupaten Gresik pada Sabtu, 22 Maret 2025. Mereka yang datang untuk ngalap berkah malam 23 Ramadan 1446 hijriah. Menu tradisi adalah Sanggring Kolak Ayam yang tahun ini memasuki genap 500 tahun alias 5 Abad. Sebanyak 3.500 bungkus sanggring Kolak Ayam yang disediakan oleh panitia untuk takjik buka puasa. 

Tampak hadir di Semarak 5 Abad Sanggring Kolak Ayam ini, antara lain,  Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif,  Ketua DPRD gresik M. Syahrur Munir,  Sekretaris Daerah atau Sekda Gresik Achmad Washil Miftachul Rachman. Kemudian, Asisten III Setda Gresik Misbahul Munir, serta Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparekrafbudpora) Gresik Saifuddin Ghozal. Mereka tampak menikmati menu langka yakni Sanggring Kolak Ayam, yang dimasak setahun sekali dengan koki semuanya adalah kaum Adam itu. 

Perayaan Semarak 5 Abad Sanggring Kolak Ayam semakin meriah dan khidmat karena dengan kegiatan pengajian akbar dengan qorik internasional, Sayyid Zulfikar Asy Syaibani, dengan KH Anwar Zahid dari Bojonegoro. Pada 2019, Sanggring Kolak Ayam telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda atau WBTB. Wabup Gresik Asluchul Alif menegaskan bahwa Sanggring Kolak Ayam merupakan tradis yang harus terus dilestarikan. Selain sebagai kuliner warisan leluhur, hidangan ini juga diyakini memiliki khasiat sebagai obat.

“Sanggring berarti raja yang sedang sakit. Dahulu, kolak ayam ini dibuat sebagai obat bagi Sunan Dalem saat menyebarkan syiar Islam di Desa Gumeno. Semoga dengan keberkahan beliau, kita semua senantiasa diberi kesehatan dan dijauhkan dari segala penyakit,” ujar dr. Alif-sapaan akrab-Asluchul Alif saat menghadiri acara Semarak 5 Abad Sanggring di Desa Gumeno pada Sabtu, 22 Maret 2025.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik, lanjutnya, berkomitmen untuk terus melestarikan Sanggring Kolak Ayam Gumeno yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Pemkab akan berupaya mengembangkan dan memperkenalkan tradisi ini kepada masyarakat luas. “Tahun depan, kami akan memberikan dukungan penuh, baik dari segi anggaran maupun fasilitasi lainnya, agar tradisi ini semakin berkembang dan dikenal lebih luas,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Sanggring Kolak Ayam, Didik Wahyudi, mengungkapkan bahwa tahun ini panitia menyiapkan lebih dari 3.500 porsi kolak ayam yang akan dibagikan secara gratis kepada masyarakat. Jumlah ini menjadi yang terbanyak sepanjang sejarah perayaan Sanggring. “Untuk memasaknya, kami menggunakan bahan dalam jumlah besar, termasuk 279 ekor ayam kampung, 740 kg gula merah, 600 butir kelapa, 250 kg bawang daun, 60 kg jinten bubuk, dan 1.400 liter air,” jelas Didik.

Lebih lanjut, Didik menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar ajang kuliner, tetapi juga bentuk pelestarian budaya dan syiar Islam. Peringatan 500 tahun Kolak Ayam diharapkan menjadi momentum bersejarah yang penuh keberkahan, kebersamaan, dan nilai spiritual. “Tradisi ini terus dijalankan setiap malam ke-23 Ramadan sebagai wujud rasa syukur dan doa untuk kesehatan serta keberkahan. Karena memiliki nilai sejarah dan spiritual yang kuat, kami ingin terus melestarikannya agar tidak hilang ditelan zaman,” tambahnya.

Menurut kisahnya, tradisi ini bermula ketika Sunan Dalem bernama lengkap Syekh Maulana Zaenal Abidin, berdakwah di Desa Gumeno pada 1540 Masehi. Putra pertama dari Sunan Giri (Sunan Maulana Ainul Yaqin) ini mendirikan sebuah masjid di desa tersebut. Tak lama usai membangun masjid, Sunan Dalem jatuh sakit.

Kabar sakitnya Sang Wali ini cukup membuat para santri dan penduduk terkejut sehingga mereka menandai peristiwa ini dengan sebutan Sanggring, berasal dari kata ‘Sang’ (raja, pemimpin) dan ‘Gering’ (sakit). Sakitnya Sang Wali selama beberapa waktu membuat para santri dan penduduk bingung mencari obat penyembuhnya. Hingga pada 22 Ramadan 946 Hijriah, sebuah mimpi menghampiri Sunan Dalem. 

Dalam mimpi itu beliau mendapatkan petunjuk tentang obat penyakitnya, yakni harus memakan sebuah makanan dengan ayam jago berusia muda sebagai salah satu syarat utama bahan masakan. Sunan Dalem lantas mengutus para lelaki untuk mempersiapkan bumbu-bumbu masakannya, yakni daun bawang merah, gula jawa, jintan, dan santan. Sementara itu para santri mencarikan ayam jago muda.

Gelaran masak besar kolak ayam ini kemudian menjadi tradisi bagi warga Desa Gumeno sampai sekarang. Tradisi Kolak Ayam selalu dilaksanakan di Masjid Jami’ Sunan Dalem Desa Gumeno yang dimulai pukul 16.00 WIB. Berkat tradisi ini pula warga Desa Gumeno dan warga dari kampung lainnya menjadi semakin erat silaturahminya. (chusnul cahyadi/*)

Wabup Gresik dan Ketua DPRD Gresik Nikmati Lezatnya Takjil Sanggring Kolak Ayam Selengkapnya

Pertama di Gresik, Yayasan Gang Sebelah Gelar Teater Di Rooftop Rumah Heritage Kemasan, Background Langit, Asap Cerobong Pabrik

GRESIK,1minute.id – Yayasan Gang Sebelah menggelar pertunjukkan teater di atas Rooftop pada Senin malam, 16 Maret 2025. Rooftop yang dijadikan panggung itu rumah dua lantai yang telah berusia 120 tahun milik Sualoka.Hub yang berada di kampung Kemasan.

Pertunjukkan teater diatas rooftop ini kali pertama di Gresik. Ada sensasi yang berbeda bagi para pemain dan penggemar teater di Kota Industri-sebutan lain-Kabupaten Gresik ini. Apalagi, background pementasan atmosfer langit di Gresik Kota Lama yang penuh cerobong industri yang menjulang dan mengeluarkan asap warna putih. 

Di tengah pertunjukkan yang dimainkan oleh kelompok teater Kendati Chaos, yang disutradarai oleh Choiruz Zaman, menampilkan naskah berjudul “Aku Ingin Menyebut Laut dengan Huruf Kapital di Depannya”, sebuah naskah karya dari Shohifur Ridho’i itu hujan turun. 

Pementasan berhenti sesaat lalu dilanjutkan lagi dengan pemain dan penonton memakai jas hujan yang disediakan oleh penyelenggara. Pementasan teater diatas rooptof ini rangkaian dari program pameran “The Jumping City” yang diselenggarahkan oleh Yayasan Gang Sebelah. 

Pertunjukan ini merupakan Sebuah eksplorasi tentang ingatan, laut, dan kehidupan yang terus bergulir di tengah kegelisahan. Membicarakan laut yang tinggal ingatan—laut yang lungkrah, tak lagi asin, hanya pahit.

Pertunjukan ini juga menghadirkan pendekatan yang unik dalam penempatan penonton duduk di kursi—layaknya kafe atau warung kopi—yang berada di tengah, sementara para aktor-aktornya bergerak dan beraksi mengelilingi mereka. 

Seperti Damar kurung, cerita yang membingkai cahaya. Dengan konsep ini, pertunjukan seperti membongkar batas antara pemain dan penonton, menciptakan pengalaman yang lebih dekat dan intim. Setiap ekspresi wajah, gerakan tubuh, hingga perubahan nada suara para aktor dapat dirasakan lebih intens oleh penonton, seolah-olah mereka bukan hanya menyaksikan, tetapi juga menjadi bagian dari cerita yang sedang berlangsung. 

“Teater ini merupakan refleksi dari realitas di Gresik serta aktivitas yang kita jalani sehari-hari,” kata Sutradara Choiruz Zaman dalam sesi bincang santai usai pementasan. 

Pertunjukan ini pun mendapat respon baik dari penonton. “Dari pertunjukan ini saya merasakan adanya luapan emosi seperti amarah dan kekecewaan, serta menangkap gambaran hiruk-pikuk kehidupan di Gresik yang tergambarkan dalam pementasan. Hal ini dianggap sebagai bentuk kritik tersirat terhadap kondisi lingkungan, khususnya terkait alam dan laut di kota ini,” ujar Harry Koko Priutama, salah satu penonton.

Para aktor pun mengungkapkan pendapat mereka tentang apa yang mereka rasakan saat berperan, ada yang merasa bahwa sangat relate dangan apa yang ia rasakan di Gresik ini dan ada yang merasa bahwa pertunjukan ini mencerminkan kondisi Gresik yang penuh dengan polusi dan suhu yang panas, sehingga mereka merasa sangat terhubung dengan cerita yang disampaikan.

Melalui pertunjukan ini, Yayasan Gang Sebelah tidak hanya mendistribusikan hiburan semata, tetapi juga sebuah tawaran ruang yang membuka kemungkinan baru dalam seni pertunjukan di Indonesia. Teater di atas rooftop bukan hanya tentang lokasi yang tidak biasa, tetapi juga tentang bagaimana ruang dapat mempengaruhi pengalaman, makna, dan resonansi sebuah cerita. (yad)

Pertama di Gresik, Yayasan Gang Sebelah Gelar Teater Di Rooftop Rumah Heritage Kemasan, Background Langit, Asap Cerobong Pabrik Selengkapnya

The Jumping City, Pameran Lukisan Damar Kurung sambut Ramadan di Galeri Loteng Kemasan

GRESIK,1minute.id – Dua seniman muda asal Gresik yakni Anhar dan Suef menggelar pameran bertajuk “The Jumping City” di di Galeri Loteng Kemasan Jalan Nyai Ageng Arem-Arem Gg. II No. 20, Kampung Kemasan Gresik.

Pameran seniman lintas generasi ini memilih medium lukisan Damar Kurung. The Jumping City yang dikuratori oleh Hidayatun Nikmah ini diselengarakan oleh Yayasan Gang Sebelah. Pameran ini dimulai 22 Februari sampai 22 Maret 2025.  

Bagi warga Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik, mendengar kata Damar Kurung tidak lepas dari sosok almarhumah Mbah Masmundari. Selain sosok sang maestro  itu, damar kurung kala itu identik menjelang datangnya bulan suci, Ramadan. 

Damar Kurung biasanya dipasang menjelang bulan Ramadan sebagai lentera yang menjadi penanda menuju ke jalan-jalan pemakaman. Lentera khas Gresik ini yang nantinya menjadi ”penerang” jalan bagi orang-orang yang mulai melakukan ritus padusan atau ziarah ke makam sanak keluarga sebagai pembuka babak Ramadan. 

Secara kultural damar kurung juga dipasang di depan rumah, maupun tempat penting lain, misalnya di jalan kampung yang dilalui warga. Di sekujur permukaan lentera itu cerita-cerita masyarakat Gresik seperti tradisi Pasar Bandeng, Perayaan Idul Fitri, suasana warung kopi hingga keramaian Alun-alun dinarasikan melalui lukisan. Damar Kurung menjadi semacam kanvas tradisional berisi ingatan-ingatan warga untuk dituturkan.

Menurut Hidayatun Nikmah, Damar Kurung bukan hanya sebagai lentera dengan lukisan dekoratif semata, tetapi merupakan media untuk menggambarkan dinamika kehidupan kota dan manusia yang berjumpalitan di dalamnya. “Setiap gambar pada Damar Kurung yang dibuat oleh Anhar dan Suef mengandung cerita dan pesan yang mengajak pengunjung untuk melihat Kota Gresik dari berbagai sudut pandang yang berbeda,” ujar Hidayatun Nikmah.

Terdapat delapan program pameran The Jumping City yang bisa diakses publik, seperti Ziarah Damar Kurung, Merangakai Damar Kurung, Workshop, Artist Talk, Screening Film, Curator Talk, Teater, dan Lomba Mewarnai. Tajuk The Jumping City dipilih karena karya-karya Anhar dan Suef banyak menyoal kehidupan kota yang dinamis—yang progresif sekaligus regresif dalam satuan waktu yang sama dalam perkembangan kota,” ujar Hidayatun Nikmah selaku Kurator.

”Harapan kami tidak muluk-muluk, semoga karya kami layak untuk dinikmati sekaligus memperkenalkan kepada masyarakat bahwa di Gresik masih ada seniman yang terus menjaga dan mengembangkan Damar Kurung sebagai bagian dari warisan budaya,” ujar Suef.

Sedangkan, Anhar juga menyatakan tentang harapannya agar masyarakat Gresik terus melestarikan lentera berbentuk kubus tersebut. ”Semoga para pengunjung pameran ini, bisa mendapatkan sesuatu dari karya yang kami sampaikan. Sekaligus sebagai ajakan untuk melestarikan budaya, dalam hal ini seni Damar Kurung.”

Sebagaimana tradisi padusan, pameran The Jumping City sengaja diselengarakan untuk menyambut bulan suci Ramadan. Pameran dibuka setiap hari, mulai pukul 16.00 – 22.00 WIB dan berlangsung selama satu bulan. (yad)

The Jumping City, Pameran Lukisan Damar Kurung sambut Ramadan di Galeri Loteng Kemasan Selengkapnya

Pemeran Lukisan Kaligrafi Menggapai Ramadhan Diperpanjang, Yanto Bedor : Melukis sambil Berdakwah

SURABAYA,1minute.id – Ekspektasi warga Metropolis, Surabaya dalam mengapresia Kaligrafi Art Exibition bertajuk “Menggapai Ramadhan” patut diacungi jempol. Ratusan warga dan pecinta kaligrafi datang silih berganti ke basement Alun-alun Kota Surabaya.

Melihat antusiasme warga membuat Panitia Kaligrafi Art Exibition “Menggapai Ramadhan” memperpanjang pameran lukisan kaligrafi terbesar di awal 2025 ini memperpanjang gelaran pameran  yang diikuti 70 pelukis se-Indonesia dengan ratusan karya hingga bulan suci Ramadan. 

Menurut Syam Arif, Ketua Panitia Panitia Kaligrafi Art Exibition “Menggapai Ramadhan”, pameran yang dibuka oleh Staf Ahli Walikota Surabaya Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan Tomi Ardiyanto mulai 15-22 Februari 2025. “Karena animo warga sangat baik, pameran kami perpanjang sampai Ramadan (2 Maret 2025, Red),” kata Syam Arif melalui WhatsApp pada Sabtu, 22 Februari 2025. Di pameran ini, Syam Arif memamerkan beberapa karyanya. Di antara kaligrafi Surat Al A’raf ukuran 90×90 cm dan Ayat Kursi 150×100 cm. 

Syam Arif menjlentrehkan event Kaligrafi Art Exibition “Inspirasi Ramadhan” diikuti sebanyak 70 pelukis kaligrafi di nusantara. Selain Syam Arif, ada juga H.Muhammad Riyanto, pelukis Kaligrafi yang ditinggal di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik. Riyanto memamerka karya berjudul “God is the Only Source of Knowledges” yang artinya Tuhanlah satu-satunya sumber ilmu.

“Niki doa, ayat, hadist dan Alquran. Ada kode 99 G pun mboten 5G male,” kata Riyanto dalam melalui pesan WhatApps pada wartawan 1minute.id pada Kamis, 20 Februari 2025. 

Pelukis kaligrafi lainnya antara lain  KH.Misbahul Munir, Ketua Majelis Dewan Hakim MKQ Nasional Malang ; KH.Imron Fathoni, Dewan Hakim MKQ Jawa Timur, KH.Robert Nasrullah, Dewan Hakim MKQ Nasional Yogyakarta ; Syam Arif Surabaya ; Suharno, Tangerang dan Abdul Syukur, Jakarta. 

Juga ada Ustad Badruzzaman, Jakarta ; Lukmanul Hakim, Jombang ; Camilhady Lamongan ; Anwar Sanusi, Pasuruan ; Armin Misbah, Sulawesi ; Ustad Miftahul Khoir, Bali ; M.Assyri, Kudus ; Supriyanto alias Yanto Dedor, Riau serta pelukis kaligrafi Nasional lainnya.

MENGGAPAI RAMADHAN : Supriyanto, biasa disapa, Yanto Bendor, Riau salah satu pelukis kaligrafi yang berpatisipasi di pameran lukis kaligrafi Menggapai Ramadhan di Basement Alun-alun Kota Surabaya. ( Foto : Dok Yanto Bedor untuk 1minute.id)

Pelukis Supriyanto alias Yanto Bedor, Medan, misalnya. Ia mulai menekuni seni lukis ketika tinggal di Simpassari Art Gallery Medan. Kecintaan Yanto Bedor dalam seni lukis kemudian merauntau ke Jakarta untuk menambah wawasan seni rupanya. “Saya sempat menjadi pelukis jalanan di Monas, Gambir,” katanya pada Sabtu, 22 Februari. 

Ibukota Indonesia, Yanto Bedor bertemu pelukis yang bernama Dirot Kadirah. “Kami berdua berangkat ke Bali sebagai episentrum seni lukis nusantara,” ujarnya. Di Kota Dewata itu, Yanto Bedor tinggal di Jaka Galeri yang bersebelahan dengan Galeri RUDANA di Jalan Peliatan, Ubud,  Bali untuk menggali ilmu pada maestro lukis Sudarso yang seangkatan dengan maestro lukis Afandi dan Sujoyono. 

“Kini, saya bergabung dengan Ikatan Pelukis Indonesia di Sumatra, Riau,” jelas Yanto Bedor. Di pameran kaligrafi Menggapai Ramadhan ini, Yanto Bedor bertemu dengan banyak seniman kaligrafi nasional yang beraliran kontemporer, realis dan idealis. “Saya sendiri biasa melukis dengzn aliran realis natural dengan mengikuti lameran kaligrafi walaupun belum bisa meninggalkan realis naturalisnya yang masih ikut terbawa dalam lukisan kaligrafinya. Kini di rasa semakin sejuk dalam menyampaikan inspirasi alam pikirnya dengan menambahkan kaligrafi,” tutur Yanto Bedor.

Ia mengakui dengan melukis kaligrafi bisa sebagai pengingat untuk diri dan sesama berkesenian sambil berdakwah. Apalagi pada momen yang tepat di hari menjelang Ramadan. Bulan yang  sangat di tunggu-tunggu oleh masyarakat muslim sedunia sebagai bulan yang mulia. “Dengan hadirnya pameran kaligrafi Menggapai Ramadhan berharap kemuliaan kita sebagai makhluk Allah yang sangat dimuliakan tentunya,” pungkasnya. (yad)

Pemeran Lukisan Kaligrafi Menggapai Ramadhan Diperpanjang, Yanto Bedor : Melukis sambil Berdakwah Selengkapnya

Mbah Mat Kauli, Maestro Macapat itu Meninggal Diusia 94 Tahun, Budayawan Gresik Berduka

GRESIK,1minute.id – Budayawan di Kota Santri berduka. Mbah Mat Kauli, maestro macapat wafat di usia 94 tahun. Jenazah Mbah Mat Kauli di makamkan di pemakaman umum di dekat rumah di Jalan Awikoen Jaya, Kelurahan Gending, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik pada Jumat, Wage, 21 Februari 2025. 

Kabar wafatnya maestro Macapat yang memiliki 10 anak, dengan 31 cucu dan 35 cicit itu beredar melalui pesan WhatsApp Grup atau WAG. Di antaranya, dari Komunitas Gresik Heritage. Bunyi kabar duka itu : Inalillahi wa Inalilahi Rojiun, Warta Lelayu. “Sampun tinimbalan sowan ngarsanipun Gusti Ingkang Mahaasih inggih ….”

WARTA LELAYU : Mbah Mat Kauli, maestro Macapat asal Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik meninhgal dunia pada Jumat Wage, 21 Februari 2025 ( Foto : WAG Gresik Heritage / 1minute.id)

Sebagai Ketua Umum Gresik Heritage, Kami merasa kehilangan sosok panutan, seorang Guru yang telah banyak mengajarkan arti Kebudayaan, ketulusan, dan Perjuangan tanpa Pamrih. Mbah, perjalananmu telah usai, tetapi Inspirasimu akan terus menyala, menghidupkan semangat kami dalam menjaga sejarah dan Kebudayaan Gresik,” kata Ketua Gresik Heritage Sumarga Adhi Satria kepada 1minute.id pada Sabtu, 22 Februari 2025.

Menurut Sumarga, Mbah Mat Kauli bukan sekadar Budayawan. Beliau adalah pilar nafas sejarah dan ruh Kebudayaan Gresik. Setiap Tutur, gerak, dan karyanya adalah cerminan kecintaan mendalam terhadap warisan leluhur yang beliau jaga dengan penuh dedikasi. “Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadahmu, mengampuni segala khilaf, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Selamat jalan, Mbah Mat Kauli, warisanmu akan terus kami jaga,” imbuh Sumarga yang juga Kepala SMP Darul Islam atau Daris Gresik.

Pada 21 Agustus 2024 wartawan 1minute.id sempat silaturahmi ke rumah Mbah Mat Kauli di Jalan Awikoen Jaya no 31 Gemantar, Kelurahan Gending, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik. Saat itu, mbah Mat Kauli harus berbaring di tempat tidur di rumahnya yang sederhana. Sebab, kaki maestro macapat  itu tidak bisa lagi menahan berat tubuhnya.

“Sejak Idul Fitri lalu, bapak sakit,” kata Sumiyati, 70 tahun, anak sulung dari 10 bersaudara pasangan suami-istri, Mat Kauli dengan Suparti pada Rabu, 21 Agustus 2024 lalu. 

Wartawan 1minute.id secara bersamaan dengan dua siswa dan seorang guru pembimbing dari UPT SMP Negeri 4 Gresik mengunjungi rumah mbah Mat Mauli. Kedatangan siswa dan seorang pembimbing untuk melakukan pendalaman penelitian tentang macapat, kebudayaan khas di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik itu. 

Pendalaman penelitian setelah mereka lolos nasional ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia atau OPSI yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi atau Kemendubud Ristek 2024. Selama hampir 2 jam berbincang santai dengan maestro Macapat Mbah Mat Kauli di kamar tidurnya yang berukuran 3×4 meter persegi itu.

Di dalam kamar itu terdapat dua buah lemari. Satu lemari pakaian bagian rak atas digunakan sebagai tempat Mbah Mat Kauli menyimpan buku-bukunya. Buku macapat itu ada yang masih menggunakan aksara Jawa kuno atau hanacaraka, dan aksara Jawa latin. Buku aksara Jawa kuno dengan cover warna hitam dan kertas sudah berwarna kuning. 

Sedangkan, buku aksara Jawa latin hasil terjemahan itu ditulis tangan oleh Mbah Mat Kauli. Selama 14 bulan Mbah Mat Kauli menyalin. Buku-buku tertata rapi. 

“Tidak komplit, ada yang dipinjam anak-anak mahasiswa yang melakukan penelitian dan belum dikembalikan,” sela Sumiyati. 

Meski kaki tidak bisa menahan berat tubuhnya, daya ingatan Mbah Mat Kauli masih luar biasa. Di usia 93 tahun kebanyakan orang mengalami pikun, akan tetapi ingatan Mbah Mat Kauli yang mulai nembang macapat di usia 18 tahun itu masih sangat tajam. Selama 75 tahun mbah Mat Kauli nembang Macapat. 

Hanya pendengarannya mulai berkurang. Melihat ada tamu, Mbah Mat Kauli terlihat senang. Seakan menjadi “obat” bagi mbah Mat Kauli. “Matur suwun, sik diperhatikan,” katanya. Mbah Mat Kauli pun mengizinkan tamunya untuk merekam dan memotretnya.

Ia pun menceritakan tentang masa muda, hingga dinobatkan sebagai seorang maestro Macapat oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Ristek Republik Indonesia. Ia juga bercerita menjadi aktor film yang dibuat oleh Yayasan Gang Sebelah, yang berdiri sejak 2017.

Pada usia 22 tahun mbah Mat Kauli menikah dengan Supartin yang saat itu masih berusia 12 tahun. Dari pernikahan itu, Mbah Mat Kauli dikarunia 10 anak. Tiga di antara 10 anak meninggal dunia. Supartin adalah cinta pertama dan terakhir Mbah Mat Kauli. 

Kondisi kesehatan Mbah Mat Kauli yang lahir 1 Mei 1931 menurun sejak istrinya, Supartin wafat pada 16 Agustus 2021. “Sejak ibu meninggal itu, kondisi kesehatan bapak terus menurun,” cerita Sumiyati.

Sekitar 3 bulan terakhir ini, Mbah Mat Kauli tidak bisa berjalan. Bahkan, kakinya sudah tidak bisa menahan berat tubuhnya. Mbah Mat Kauli hanya bisa berbaring di tempat tidur. Akan tetapi, Mbah Mat Kauli sangat bersemangat ketika membang macapat. “Bagi bapak nembang macapat bagai obat yang mujarab. Bapak selalu bersemangat kalau ada yang minta nembang,” ujar Sumiyati. (yad)

Mbah Mat Kauli, Maestro Macapat itu Meninggal Diusia 94 Tahun, Budayawan Gresik Berduka Selengkapnya

Museum temporer Sunan Giri di Festival Bandar Grissee Pamerkan Replika Keris Kalamunyeng dan Surban

GRESIK1minute.id – Festival Bandar Grissee kali ketiga kembali digelar Disparekrafbudpora Gresik. Digelar selama 3 hari, mulai Jumat, 20 Desember hingga 22 Desember 2024. Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah yang membuka festival dan Pemeran Museum Sunan Giri dipusatkan Kantor Pos Indonesia -dulu dikenal-Kantor Pos Pelabuhan alias Bandar itu pada Jumat malam, 20 Desember 2024.

Di museum replika Sunan Giri ini ada sejumlah barang yang dipamerkan. Antara lain, surban dan keris kalamunyeng. Berdasarkan data Disparekrafbudpora, Surban tersebut diperkirakan digunakan Sunan Giri ketika berdakwah atau menyebarkan agama Islam di Jawa. Surban dengan teknis hias sulaman tangan menggunakan bahan kain dari Persia dilengkapi dengan benang emas atau prada dengan motif bunga dan daun.

Sedangkan, Keris Kalamunyeng adalah sejenis senjata yang dulunya perwujudan sebuah Kalam yang digunakan Sunan Giri ketika membaca Alquran. Keris Kalamunyeng asli di simpan dan dirawat pengurus makam Sunan Giri. Sedangkan, 

replika bisa dilihat di museum Sunan Giri terbuat dari besi tempa perunggu yang memiliki panjang 36 sentimeter, pangkal mata keris dihiasi sulur daunan berlapis emas.

Dua benda pusaka yakni keris dan surban  pernah ditunjukkan juru kunci Makam Sunan Giri ketika Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani, dan Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah melakukan ziarah ke makam Sunan Giri dalam rangkaian Peringatan Hari Jadi Kota Gresik yang diikuti wartawan 1minute.id dan bisa dinikmati di buku berjudul : Grissee Kota Bandar karya Chusnul Cahyadi. 

Replika keris dan surban tetap menjadi daya tarik bagi pengunjung museum temporer di Festival Bandar Gresik pada Jumat malam, 20 Desember 2024. “Monggo masyarakat Gresik berbondong-bondong ke sini (kantor pos Indonesia,Red). Bila tidak sempat bisa berkunjung di museum Sunan Giri di Kompleks Makam Sunan Giri,” kata Wabup Aminatun Habibah didampingi Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Pemuda dan Olah Raga atau Disparekrafbudpora Gresik Syaifuddin Ghozali pada Jumat malam, 20 Desember 2024. (yad)

Museum temporer Sunan Giri di Festival Bandar Grissee Pamerkan Replika Keris Kalamunyeng dan Surban Selengkapnya

Festival Bandar Grissee Bakal Jadi Agenda Kharisma Event Nusantara

GRESIK1minute.id – Festival Bandar Grissee kembali digelar Disparekrafbudpora Gresik. Festival tahun ketiga ini dibuka oleh Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah. 

Festival selama 3 hari ini, mulai Jumat, 20 Desember hingga Minggu, 22 Desember 2024 ini bisa menjadi alternatif bagi masyarakat di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik mengisi liburan Natal dan Tahun Baru atau Nataru. Selain penampilan kesenian, seperti tari dan musik. Di festival yang dipusatkan di kawasan heritage, bangunan kolonial di Jalan Basuki Rahmat, Gresik, Jawa Timur ini menikmati sejumlah peninggalan Sunan Giri yang dipamerkan di museum temporer, Kantor Pos Indonesia. 

Ada replika keris kalamunyeng dan surban Sunan Giri yang Wali Sanga juga Kepala Pemerintahan di Bukit Giri dengan gelar Prabu Satmata itu. “Monggo masyarakat Gresik berbondong-bondong ke sini (kantor pos Indonesia,Red). Bila tidak sempat bisa berkunjung di museum Sunan Giri di Kompleks Makam Sunan Giri,” kata Wabup Aminatun Habibah didampingi Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Pemuda dan Olah Raga atau Disparekrafbudpora Gresik Syaifuddin Ghozali pada Jumat malam, 20 Desember 2024.

Sementara itu, di Gardu Suling Bandar Grissee, tidak kalah meriah. Hari pertama diisi dengan tari Damarkurung, serta peragaan busana tematik, tentang busana etnik Muslim Jawa, Arab, dan Tionghoa. Ratusan pasang mata meniknati hiburan gratis tersebut sambil nyeruput kopi. 

Peragaan busana tematik, batik tenun maupun tari yang mengangkat tema Damarkurung tidak di sebuah panggung cat walk. Tapi, peragaan di jalan raya alias fashion on the Street Bandar Grissee. 

Kepala Disparekrafbudpora Gresik Syaifuddin Ghozali mengatakan, Festival Bandar Grissee ini memasuki tahun ketiga. “Tahun pertama Festival Bandar Grissee dibuka Menteri Pariwisata Sandiaga Uno,” terang Ghozali. 

Ia berharap tahun depan, Festival Bandar Grissee bisa masuk agenda Kharisma event Nusantara. “Saat ini, festival Bandar Gresik sudah tiga tahun digelar secara berturut-turut. Tahun depan semoga bisa masuk Kharisma event Nusantara,” tegas Ghozali yang berlatar pendidikan dokter gigi itu.

Festival Bandar Gresik, layak masuk Kharisma Event Nusantara. Ia mencontohkan, di event East Java Tourism Award atau EJTA 2024, Festival Bandar Grissee meraih juara satu kategori pariwisata yang dikelola kelompok masyarakat sadar wisata atau Pokdarwis Bandar Grissee. 

Lalu, kedua rangkaian Festival Bandar Grissee ini, adalah pemeran museum Sunan Giri. Mengapa Pameran Museum Sunan Giri ditampilkan dalam Festival Bandar Grissee adalah bentuk kolaborasi. Ghozali menyebut di EJTA 2024, Museum Sunan Giri telah menyabet juara pertama Destinasi Wisata yang dikelola oleh Pemerintah. (yad)

Festival Bandar Grissee Bakal Jadi Agenda Kharisma Event Nusantara Selengkapnya