Pupuk Indonesia dan Petrokimia Gresik Bangun Pabrik Soda Ash 600 Ribu Ton di Gresik, Serap CO₂

GRESIK, 1minute.id – PT Petrokimia Gresik (Persero), perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero) dan PT Rekayasa Industri (Rekind) memperkuat sinergi mendorong industri hijau dan kemandirian industri kimia nasional melalui pembangunan Pabrik Soda Ash dan Amonium Klorida berkapasitas total 600.000 ton per tahun di Gresik, Jawa Timur.

Proyek ini menjadi bagian dari upaya pemanfaatan karbon dioksida (CO₂) sebagai bahan baku industri bernilai tambah. Langkah strategis tersebut ditandai dengan penandatanganan kontrak Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) antara Petrokimia Gresik dan Rekind di Jakarta pada Jumat, 30 Oktober 2026.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menyampaikan, pembangunan pabrik ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan pangan, mendorong hilirisasi, dan mewujudkan kemandirian industri nasional. 

Proyek ini sekaligus mendukung dua mandat utama Pupuk Indonesia Grup, yakni memperkuat ketahanan pangan melalui diversifikasi sumber nitrogen untuk produksi pupuk NPK serta mewujudkan kedaulatan industri melalui pengembangan bahan baku kimia dalam negeri.

“Ini proyek yang menuju transisi hijau. Ada carbon capture-nya, sekaligus melakukan diversifikasi sumber nitrogen untuk kebutuhan produksi pupuk NPK kita,” ujar Rahmad.

Pabrik dirancang berkapasitas soda ash 300.000 ton per tahun dan amonium klorida 300.000 ton per tahun. Kehadirannya diharapkan memperkuat pasokan bahan baku industri dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan impor.

Soda ash merupakan bahan kimia dasar yang banyak digunakan dalam industri kaca, deterjen, kertas, tekstil, dan pengolahan air. Sementara amonium klorida dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber nitrogen dalam produksi pupuk NPK serta berbagai kebutuhan industri lainnya.

Direktur Utama Petrokimia Gresik Daconi Khotob menyampaikan, penandatanganan kontrak EPCC menjadi tonggak penting setelah melalui serangkaian proses persiapan.

“Bagi Petrokimia Gresik, ini sangat penting. Bukan hanya aspek bisnis, tetapi juga aspek lingkungan karena ada penyerapan CO₂ yang cukup signifikan,” ujar Daconi.

Dalam proses produksinya, pabrik akan memanfaatkan CO₂ dari fasilitas eksisting Petrokimia Gresik sebagai salah satu bahan baku pembuatan soda ash. Integrasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah pemanfaatan CO₂ sekaligus mendukung upaya perusahaan dalam mengurangi emisi karbon.

“Keberhasilan proyek ini bukan hanya tentang membangun fasilitas produksi baru, tetapi juga memastikan setiap tahapan berjalan sesuai dengan perencanaan. Karena itu, sinergi seluruh pihak menjadi sangat penting agar proyek dapat diselesaikan tepat waktu, sesuai anggaran, dan memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan,” tegas Daconi.

Dari sisi pelaksanaan, Direktur Utama Rekind Triyani Utaminingsih menyampaikan, sebagai kontraktor EPCC, Rekind akan melaksanakan pekerjaan mulai dari rekayasa teknik, pengadaan, konstruksi, hingga commissioning dengan dukungan mitra teknologi.

Proyek yang menerapkan teknologi HOU tersebut ditargetkan selesai dalam 34 bulan.

“Kami berkomitmen untuk memastikan pelaksanaan proyek berjalan secara optimal dengan mengedepankan aspek kualitas, keselamatan, ketepatan waktu, dan keandalan hasil pembangunan,” ujar Triyani.

Melalui sinergi ini, pembangunan Pabrik Soda Ash dan Amonium Klorida diharapkan menjadi langkah nyata memperkuat kemandirian industri kimia nasional sekaligus mendorong transformasi menuju industri yang lebih ramah lingkungan. (yad)

Editor: Chusnul Cahyadi 

Pupuk Indonesia dan Petrokimia Gresik Bangun Pabrik Soda Ash 600 Ribu Ton di Gresik, Serap CO₂ Selengkapnya

Satu Dekade Berdiri, Batik Bangsawan Legowo Go Internasional Berkat Petrokimia Gresik

GRESIK,1minute.id – Dari sebuah gang sempit di Desa Legowo, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, Batik Bangsawan kini menembus pasar global hingga Thailand dan New York.

Capaian itu tak lepas dari pendampingan berkelanjutan  PT Petrokimia Gresik, perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia. 

Memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh setiap 2 Oktober, Petrokimia Gresik mengisahkan perjalanan satu dekade Batik Bangsawan yang dirintis sejak 2016.

Usaha milik Midhiatul Fitriyah ini berawal dari nol. Bersama almarhum suaminya, perempuan yang akrab disapa Fitri itu merintis usaha di tengah keterbatasan modal, pengetahuan produksi, hingga pemasaran.

“Saya ini didampingi dari nol. Dulu saya hanya berdagang. Alhamdulillah sekarang bisa seperti ini,” ujar Fitri.

Kini hasilnya terlihat. Batik Bangsawan mampu mencatat omzet sekitar Rp70 juta per bulan dan membuka lapangan kerja bagi sembilan orang di lingkungan sekitarnya.

Sekretaris Perusahaan Petrokimia Gresik, Nuril Huda, menegaskan pendampingan tersebut bertujuan membangun fondasi usaha yang kuat.

“Yang ingin kami dorong adalah bagaimana UMKM terus meningkatkan kapasitas dan kualitas produknya, kemudian tumbuh menjadi usaha yang semakin kuat dan memberikan multiplier effect bagi masyarakat. Batik Bangsawan menjadi gambaran bagaimana pendampingan berkelanjutan dapat membuka lebih banyak peluang,” ujar Nuril.

Salah satu tonggak penting adalah diraihnya sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI) pada 2025 dengan dukungan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Petrokimia Gresik.

Penguatan kualitas itu membuka pintu ke panggung yang lebih luas. Pada Trade Expo Indonesia (TEI) 2025, Batik Bangsawan bersama Gula Aren Temon difasilitasi Petrokimia Gresik untuk bertemu calon pembeli mancanegara.

Langkah itu berlanjut di INACRAFT 2026. Bersama OG Jewelry dan Deweluxe, Batik Bangsawan menjadi bagian dari 20 UMKM binaan Pupuk Indonesia Group yang tampil. Booth UMKM binaan Pupuk Indonesia bahkan dikunjungi Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka saat pembukaan.

Dampaknya, pemasaran yang semula hanya di Gresik kini merambah pasar nasional dan internasional, termasuk melalui platform digital. Batik Bangsawan juga meraih penghargaan Platinum pada Bina Mitra UMKM Award 2025.

“Di forum pameran itu kami tidak hanya bisa promosi, tetapi juga belajar. Kami jadi tahu bagaimana memperkenalkan produk dan mendapatkan pengalaman baru,” tutur Fitri.

Dukungan nyata juga dirasakan dari kepercayaan Petrokimia Gresik yang menggunakan produk Batik Bangsawan untuk kebutuhan suvenir perusahaan.

“Saya sangat berterima kasih kepada Petrokimia Gresik. Tidak hanya diberikan pelatihan, kami juga dibantu dalam penjualan. Berkat pendampingan dan bimbingannya, UMKM batik saya sampai saat ini masih eksis dan terus diminati,” katanya.

Nuril menambahkan, pengembangan UMKM batik memiliki dampak ganda.

“Ketika UMKM batik tumbuh, ada lapangan pekerjaan yang tercipta, ekonomi masyarakat yang ikut bergerak, sekaligus warisan budaya yang terus hidup dan semakin dikenal. Inilah dampak yang ingin terus kami dorong,” tandas Nuril.

Fitri pun berharap usahanya terus berkembang. “Dulu saya mulai dari kecil sekali. Sekarang Alhamdulillah bisa memberikan pekerjaan untuk orang lain. Saya berharap Batik Bangsawan bisa terus berkembang, semakin dikenal, dan membawa nama Gresik lebih jauh,” pungkasnya.

Pendampingan Petrokimia Gresik dilakukan secara komprehensif, mulai dari akses permodalan, peningkatan kapasitas melalui pelatihan, dukungan standardisasi produk, hingga fasilitasi promosi dan pemasaran. (yad)

Editor  : Chusnul Cahyadi 

Satu Dekade Berdiri, Batik Bangsawan Legowo Go Internasional Berkat Petrokimia Gresik Selengkapnya

Dari Limbah Jadi Nilai Ekonomi, Petrokimia Gresik Dorong Ketahanan Pangan Lewat Program GEMBALA

GRESIK,1minute.id – PT Petrokimia Gresik (Persero), perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero), mengembangkan program Gerakan Masyarakat Budidaya Ayam dan Ikan Lele Asri (GEMBALA) Lestari Bumi bagi masyarakat di delapan kelurahan/desa sekitar perusahaan. 

Implementasi program ditandai dengan penyerahan bantuan untuk mendukung ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi masyarakat melalui penerapan ekonomi sirkular secara simbolis di Kelurahan Kroman, Kabupaten Gresik, beberapa waktu lalu.

Masing-masing desa mendapatkan 12 ekor ayam petelur dan berpeluang ditingkatkan menjadi 24 ekor berdasarkan hasil penilaian. Produksi telur diperkirakan mencapai 220–290 butir per ekor per tahun. Potensi tambahan pendapatan sekitar Rp 489 ribu hingga Rp 1 juta per bulan.

Sekretaris Perusahaan Petrokimia Gresik, Nuril Huda, mengatakan seluruh bantuan GEMBALA telah didistribusikan kepada delapan desa penerima dengan total nilai dukungan sekitar Rp102 juta.

“Program GEMBALA kami rancang bukan sekadar memberikan sarana budidaya, tetapi membangun ekosistem yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Melalui pendekatan ekonomi sirkular, sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan kembali untuk menghasilkan pangan sekaligus membuka potensi pendapatan,” ujar Nuril.

Dukungan tersebut meliputi kandang ayam petelur, kandang maggot, kolam ikan dan hidroponik, biopori, planter bag untuk budidaya cabai dan tomat, serta dukungan operasional Rp2,5 juta per desa. Para pengelola juga mendapat pelatihan, mentoring, dan pendampingan.

Konsep ekonomi sirkular diterapkan melalui pengolahan sekitar 50 kilogram limbah organik per bulan dengan bantuan Petro Gladiator, serta pengembangan sekitar 500 gram maggot yang dimanfaatkan dalam ekosistem budidaya ayam, lele, dan tanaman.

“Pemberdayaan dapat dimulai dari skala sederhana. Yang terpenting adalah masyarakat memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengelola serta mengembangkan kegiatan tersebut secara mandiri,” jelas Nuril.

Ke depan, sejumlah lokasi GEMBALA direncanakan berkembang menjadi sarana edukasi bagi anak TK dan SD untuk mengenalkan praktik budidaya, pengelolaan lingkungan, serta konsep ekonomi sirkular sejak dini. 

Pengembangan fungsi edukasi itu juga berpotensi memberikan nilai tambah melalui kegiatan kunjungan atau study tour.

“GEMBALA kami harapkan dapat menjadi contoh bahwa pemberdayaan masyarakat bisa berjalan beriringan dengan prinsip ekonomi sirkular. Dari limbah kita olah, dari lahan yang tersedia kita hasilkan pangan, dan dari proses tersebut kita ciptakan peluang ekonomi,” pungkas Nuril.  (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Dari Limbah Jadi Nilai Ekonomi, Petrokimia Gresik Dorong Ketahanan Pangan Lewat Program GEMBALA Selengkapnya

Komitmen Rp1,77 Miliar hingga 2030, 17 Mahasiswa Gresik Terima Beasiswa BESTRO Petrokimia Gresik

GRESIK,1minute.id – PT Petrokimia Gresik (Persero), perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero), kembali memperkuat akses pendidikan bagi masyarakat Kabupaten Gresik melalui program Beasiswa Petrokimia Gresik (BESTRO) jenjang S1/D4. 

Tahun ini, sebanyak 17 mahasiswa berprestasi terpilih sebagai penerima BESTRO setelah melalui proses seleksi yang semakin komprehensif.

Penandatanganan surat perjanjian BESTRO S1/D4 tahun penerimaan 2026 dilaksanakan di Gedung Diklat Petrokimia Gresik pada Jumat, 25 September 2026. Kegiatan dihadiri para penerima beasiswa beserta orang tua.

Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, menyampaikan pendidikan merupakan fondasi penting dalam membangun kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sekaligus mempersiapkan generasi unggul masa depan. Melalui BESTRO, Petrokimia Gresik tidak hanya memberikan dukungan biaya pendidikan, tetapi juga mendorong pengembangan generasi muda yang kompeten, berkarakter dan memiliki daya juang.

“BESTRO merupakan bagian dari komitmen Petrokimia Gresik untuk memperluas kesempatan generasi muda Gresik dalam mengenyam pendidikan tinggi. Kesempatan ini diharapkan dapat melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, ketangguhan, kemampuan beradaptasi, serta kepedulian untuk berkontribusi bagi masyarakat,” ujar Daconi.

Melalui program BESTRO, Petrokimia Gresik memberikan dukungan berupa Uang Kuliah Tunggal (UKT), uang saku bulanan, serta program pengembangan soft skill. Untuk penerimaan tahun 2026, total komitmen bantuan BESTRO hingga para penerima menyelesaikan pendidikan pada 2030 mencapai Rp1,77 miliar atau Rp1.774.350.000.

Daconi menambahkan, tantangan generasi muda semakin kompleks sehingga pendidikan perlu diiringi dengan penguatan karakter dan kompetensi. Karena itu, seleksi BESTRO 2026 dilakukan secara lebih komprehensif melalui penyempurnaan persyaratan administrasi dan sistem pembobotan, serta pelibatan institusi kredibel dan independen dalam asesmen psikologi.

“Beasiswa ini diharapkan benar-benar menjadi jembatan bagi generasi muda Gresik untuk meraih masa depan yang lebih baik. Manfaatnya diharapkan tidak berhenti pada penerima beasiswa, tetapi juga dapat dirasakan oleh keluarga, masyarakat, bahkan bangsa,” jelasnya.

Hingga 2026, total penerima BESTRO S1/D4 telah mencapai 214 mahasiswa yang tersebar di berbagai perguruan tinggi negeri. Dari jumlah tersebut, sebanyak 152 penerima telah menyelesaikan pendidikan, meraih gelar sarjana, dan mulai meniti karier maupun berkarya di tengah masyarakat.

Menurut Daconi, keberlanjutan BESTRO menjadi bagian dari investasi jangka panjang Petrokimia Gresik dalam meningkatkan kualitas SDM masyarakat sekitar perusahaan.

“Para penerima BESTRO diharapkan dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk terus meningkatkan prestasi, menjaga integritas, dan mengembangkan kemampuan agar nantinya mampu memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya.

Salah satu penerima BESTRO S1 tahun 2026, Syela Priscilla Krisdiansih, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan. Ia mengaku antusias karena program tersebut tidak hanya memberikan dukungan biaya pendidikan, tetapi juga membekali penerima dengan program pengembangan soft skill.

“Beasiswa ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus berkembang dan membuktikan diri melalui berbagai prestasi, baik di bidang akademik maupun nonakademik. Kami berharap Petrokimia Gresik semakin maju sehingga semakin banyak generasi muda yang mendapatkan manfaat dari BESTRO pada tahun-tahun mendatang,” ujar Syela. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Komitmen Rp1,77 Miliar hingga 2030, 17 Mahasiswa Gresik Terima Beasiswa BESTRO Petrokimia Gresik Selengkapnya

Bos Petrokimia Gresik Jadi Satu-satunya Dirut Indonesia di Forum PBB New York

GRESIK, 1minute.id – PT Petrokimia Gresik (Persero), perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero), membawa pengalaman transformasi industri dan pertanian berkelanjutan Indonesia ke panggung global di New York, Amerika Serikat.

Kehadiran Petrokimia Gresik merupakan kelanjutan dari inovasi keberlanjutan perusahaan, salah satunya GladiAgro: Next-Gen Soil Revival, solusi pemulihan kesehatan tanah yang meraih penghargaan tertinggi dalam SDGs Innovation Accelerator for Young Professionals 2026.

Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, pada Minggu (20/9) waktu New York atau Senin (21/9) waktu Indonesia, menghadiri 2026 UN Private Sector Forum di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Forum undangan khusus ini mempertemukan sekitar 150 pemimpin senior dunia usaha, pemerintah, dan PBB untuk membahas percepatan transisi energi yang bersih, adil, dan aman.

Dalam forum tersebut, Daconi menjadi satu-satunya direktur utama dari Indonesia yang berkesempatan hadir.

Forum diselenggarakan oleh UN Global Compact yang dipimpin Sanda Ojiambo, Assistant Secretary-General PBB sekaligus CEO dan Executive Director UN Global Compact, dan dihadiri Sekretaris Jenderal PBB António Guterres. Agenda forum membahas tantangan transisi energi global, mulai dari investasi, infrastruktur, kebijakan, hingga kolaborasi pemerintah dan dunia usaha.

Dorong Talenta Global untuk Green Jobs

Pada Senin (21/9) waktu New York atau Selasa (22/9) WIB, Daconi kembali menjadi pembicara dalam forum Global Talent for Sustainable Development di KJRI New York. Forum ini mempertemukan diaspora Indonesia, mahasiswa, pemimpin bisnis, dan praktisi keberlanjutan.

Dalam kesempatan itu, Daconi menekankan bahwa transformasi hijau adalah transformasi tenaga kerja.

“Transformasi menuju ekonomi hijau pada dasarnya juga merupakan transformasi tenaga kerja. Investasi pada teknologi harus berjalan bersama dengan investasi pada manusia. Teknologi hijau hanya akan memberikan manfaat apabila didukung talenta yang mampu merancang, mengoperasikan, dan mengembangkannya,” ujar Daconi.

Ia mendorong talenta Indonesia di New York untuk membawa pengetahuan, pengalaman, dan jejaring global untuk berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.

“Kami berharap talenta-talenta terbaik Indonesia yang saat ini belajar maupun berkarya di luar negeri dapat membawa kembali pengetahuan dan pengalamannya. Transformasi ke depan membutuhkan SDM yang memiliki kompetensi, perspektif global, dan kemampuan menjawab perubahan industri,” tambahnya.

Transformasi Tidak Berhenti di Gerbang Pabrik

Menurut Daconi, Petrokimia Gresik memiliki posisi unik karena berada di dua sisi transformasi sekaligus. Di hulu, sebagai industri pupuk dan kimia yang terus meningkatkan efisiensi dan menurunkan intensitas karbon. Di hilir, produk dan inovasinya bersentuhan langsung dengan produktivitas petani dan keberlanjutan pertanian.

Salah satunya melalui GladiAgro yang dikembangkan untuk menjawab tantangan menurunnya kesehatan tanah. Berdasarkan pengujian Petrokimia Gresik terhadap 40.282 sampel tanah di 27 provinsi sejak 2016, sebanyak 91,9 persen menunjukkan kandungan karbon organik yang rendah.

Dalam implementasinya, GladiAgro memanfaatkan Petro Gladiator sebagai dekomposer berbasis mikroba unggul untuk mempercepat dekomposisi limbah pertanian menjadi nutrisi organik. Nutrisi tersebut selanjutnya dikembalikan ke lahan untuk meningkatkan bahan organik, memperbaiki struktur tanah, dan mendukung pemulihan kesehatan tanah.

“Transformasi hijau kami tidak berhenti di gerbang pabrik, tetapi berlanjut sampai ke lahan pertanian. Di industri, kami harus membuat proses produksi semakin efisien dan rendah karbon. Di sektor pertanian, kami juga harus membantu petani menjaga kesehatan tanah, menggunakan input secara lebih tepat, dan meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan,” pungkasnya. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Bos Petrokimia Gresik Jadi Satu-satunya Dirut Indonesia di Forum PBB New York Selengkapnya

Sulap Limbah Jadi Berkah, Petrokimia Gresik Kantongi Paten Inovasi Silika

GRESIK,1minute.id – PT Petrokimia Gresik berhasil mengubah produk samping menjadi solusi bernilai guna. Perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding Pupuk Indonesia ini mengembangkan silika sisa produksi sebagai bahan penyaring belerang cair di pabrik asam sulfat.

Inovasi tersebut telah mengantongi Sertifikat Paten Sederhana dari Kementerian Hukum RI. Sertifikat diserahkan Menteri Hukum, Supratman Andi Agtas, kepada SVP Operasi III Petrokimia Gresik, Bambang Ariwibowo, dalam acara What’s Up Campus Calls Out (WCCO) di Airlangga Convention Center Surabaya.

Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, mengatakan selama ini penyaringan belerang cair menggunakan diatomaceous earth dari pihak ketiga.

“Melalui inovasi ini, kami tidak hanya menemukan solusi atas produk samping silika, tetapi juga menghadirkan alternatif bahan penyaring yang mendukung efisiensi produksi,” ujar Daconi pada Senin, 21 September 2026. 

Silika sendiri merupakan produk samping dari produksi aluminium fluorida (AlF3). Tiap bulan, unit tersebut menghasilkan sekitar 990 ton silika padat yang membutuhkan pengelolaan dan tempat penyimpanan khusus.

Asam sulfat merupakan bahan baku pupuk yang dalam prosesnya butuh penyaringan belerang cair agar mutunya terjaga. Silika hasil riset Petrokimia Gresik kini mampu menggantikan fungsi tersebut.

Dari sisi ekonomi, inovasi ini diproyeksikan menghemat biaya hingga Rp259,6 juta per tahun dari pengurangan pembelian diatomaceous earth.

“Melalui inovasi ini, kami ingin membangun cara pandang bahwa produk samping tidak selalu menjadi beban. Dengan riset yang tepat, material itu bisa menjadi solusi yang mendukung efisiensi dan keberlanjutan,” jelas Daconi.

Perolehan paten ini menjadi pengakuan atas inovasi Petrokimia Gresik dan membuka peluang pemanfaatan silika untuk industri lain dengan karakteristik serupa. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Sulap Limbah Jadi Berkah, Petrokimia Gresik Kantongi Paten Inovasi Silika Selengkapnya

Tambah Pasokan dari Smelter Manyar, Petrokimia Gresik dan Freeport Jaga Keberlanjutan Pupuk Nasional

GRESIK, 1minute.id – PT Petrokimia Gresik (Persero), perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero), bersama MIND ID dan PT Freeport Indonesia (PTFI) memperkuat sinergi penyediaan bahan baku pupuk untuk menjaga keberlanjutan produksi dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Penguatan sinergi tersebut dilakukan melalui rencana peningkatan pasokan asam sulfat dari Smelter Manyar PTFI dibahas dalam pertemuan ketiga perusahaan di Kantor MIND ID, Jakarta pada Rabu, 9 September 2026.

Direktur Utama Petrokimia Gresik Daconi Khotob menyampaikan, Petrokimia Gresik saat ini telah memiliki kerja sama dengan PTFI terkait penyediaan dan penyerapan asam sulfat dari PTFI Smelting untuk periode 2026–2028. Seiring telah beroperasinya Smelter Manyar PTFI, kedua perusahaan terus mematangkan rencana peningkatan kerja sama melalui tambahan pasokan bahan baku tersebut.

“Asam sulfat merupakan salah satu bahan baku utama Petrokimia Gresik selain gas alam. Karena itu, kepastian dan keandalan pasokannya sangat penting untuk menjaga keberlanjutan produksi pupuk. Tambahan pasokan dari dalam negeri akan semakin memperkuat keandalan produksi pupuk nasional, terutama untuk memenuhi penugasan pemerintah dalam penyediaan Pupuk,” ujar Daconi.

Asam sulfat digunakan dalam rantai produksi sejumlah produk pupuk Petrokimia Gresik, antara lain NPK, SP-36, dan ZA. Karena itu, kepastian pasokan bahan baku tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keandalan operasional dan kontinuitas produksi pupuk untuk mendukung produktivitas pertanian serta ketahanan pangan nasional.

Berdasarkan hasil pembahasan dalam pertemuan tersebut, Petrokimia Gresik dan PTFI akan menindaklanjuti dan mengupayakan tambahan pasokan asam sulfat dari Smelter Manyar secara bertahap. Selain tambahan pasokan dari Smelter Manyar, Petrokimia Gresik dan PTFI juga membahas keberlanjutan pasokan asam sulfat dari PTFI Smelting.

Penguatan sumber pasokan dari dalam negeri tersebut diharapkan semakin meningkatkan ketahanan rantai pasok bahan baku Petrokimia Gresik. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari mitigasi risiko disrupsi rantai pasok global, termasuk yang dapat dipengaruhi oleh dinamika dan ketegangan geopolitik, sehingga kontinuitas produksi pupuk untuk mendukung ketahanan pangan nasional dapat tetap terjaga.

Daconi menambahkan, kolaborasi Petrokimia Gresik, MIND ID, dan PTFI juga mencerminkan sinergi antarsektor industri dalam memperkuat ekosistem hilirisasi nasional. Produk hasil hilirisasi mineral PTFI dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bagi industri pupuk yang memiliki peran strategis dalam mendukung produktivitas pertanian dan ketahanan pangan Indonesia.

Upaya peningkatan sinergi tersebut turut mendapat dukungan MIND ID yang akan memfasilitasi koordinasi tindak lanjut kerja sama PTFI dan Petrokimia Gresik. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong sinergi antar-BUMN, optimalisasi pemanfaatan produk hasil hilirisasi mineral, serta keberlanjutan industri pupuk nasional.

“Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana hilirisasi mineral di dalam negeri dapat memberikan manfaat bagi sektor strategis lainnya. Bagi Petrokimia Gresik, sinergi ini memperkuat keandalan pasokan bahan baku sekaligus meningkatkan ketahanan rantai pasok di tengah dinamika global. Pada akhirnya, kolaborasi ini diharapkan semakin memperkuat industri nasional, mendukung produktivitas pertanian, dan menjaga ketahanan pangan Indonesia,” pungkas Daconi. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Tambah Pasokan dari Smelter Manyar, Petrokimia Gresik dan Freeport Jaga Keberlanjutan Pupuk Nasional Selengkapnya

Petrokimia Gresik Dongkrak Produktivitas Bawang Merah Nganjuk 12 Persen Lewat Pestani 

GRESIK,1minute.id – PT Petrokimia Gresik (Persero), perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero), memperkuat dukungannya terhadap pengembangan bawang merah unggulan Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, melalui program “Pestani Bawang Merah Nyawiji”. 

Program yang melibatkan 120 petani dari enam kecamatan di Nganjuk dilaksanakan pada Senin, 7 September 2026. Demonstration plot (demplot) yang menjadi bagian dari program, produktivitas bawang merah mencapai 20 ton per hektare, meningkat hingga 12 persen dibandingkan panen sebelumnya sebesar 18 ton per hektare.

Direktur Keuangan dan Umum Petrokimia Gresik Adityo Wibowo mengatakan, bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura strategis yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan dekat dengan kebutuhan masyarakat. Karena itu, peningkatan produktivitas dan kualitas komoditas ini menjadi penting, tidak hanya untuk meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga dalam menjaga ketersediaan pangan.

“Petrokimia Gresik ingin hadir lebih dekat dengan petani. Kami tidak ingin berhenti pada penyediaan pupuk, tetapi juga terus mendorong edukasi pemupukan berimbang, layanan uji tanah, pendampingan budidaya, pemanfaatan teknologi pertanian, serta penguatan ekosistem pertanian dari hulu hingga hilir. Semangat tersebut salah satunya kami wujudkan melalui Program Pestani,” ujar Adityo yang akrab disapa Adit ini.

Jawa Timur memiliki peran strategis dalam produksi bawang merah nasional. Pada 2024, produksi bawang merah di Jawa Timur mencapai 476.666 ton dari luas panen sekitar 53.681 hektare. Sementara itu, produksi bawang merah nasional mencapai 2.085.721 ton dengan luas panen 188.561 hektare. Data tersebut menunjukkan posisi penting Jawa Timur dalam menopang produksi bawang merah nasional.

Di dalam ekosistem tersebut, Kabupaten Nganjuk menjadi salah satu sentra utama bawang merah. Potensi ini semakin kuat dengan keberadaan varietas lokal unggulan Tajuk atau Tanaman Asli Nganjuk yang dikenal memiliki kualitas umbi unggul, warna menarik, ukuran seragam, serta daya simpan yang baik. Dalam sambutannya, Adit menyampaikan bahwa Nganjuk menempati posisi kedua nasional dari sisi produksi bawang merah, sementara varietas Tajuk menempati posisi nomor satu nasional sebagai benih bawang merah.

“Pestani bukan sekadar kompetisi. Pestani kami hadirkan sebagai ruang bagi para petani untuk belajar, berbagi pengalaman, membangun kolaborasi, sekaligus menunjukkan praktik budidaya terbaik pada komoditas unggulan daerah. Hari ini, semangat tersebut kita bawa melalui Pestani Bawang Merah Nyawiji di Kabupaten Nganjuk dengan mengangkat varietas lokal unggulan, yakni Tajuk,” kata Adit.

Pestani Bawang Merah Nyawiji diikuti 120 petani dari enam kecamatan, yaitu Wilangan, Bagor, Rejoso, Nganjuk, Sukomoro, dan Gondang. Rangkaian program berlangsung sejak Maret hingga September 2026 melalui kompetisi budidaya bawang merah secara langsung di lapangan.

Melalui kompetisi tersebut, petani didorong untuk menerapkan praktik budidaya secara lebih optimal sekaligus menghasilkan bawang merah dengan kualitas yang semakin baik. Penilaian kompetisi mencakup keseragaman umbi, berat hasil panen, serta dokumentasi budidaya. Parameter tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong petani untuk memperhatikan kualitas hasil secara lebih terukur, tidak hanya mengejar kuantitas produksi.

Hasil penerapan budidaya tersebut salah satunya ditunjukkan melalui demplot Pestani Bawang Merah Nyawiji. Produktivitas bawang merah pada demplot mencapai 20 ton per hektare, meningkat 11-12 persen dibandingkan panen sebelumnya sebesar 18 ton per hektare.

“Capaian ini menunjukkan bahwa penerapan budidaya yang tepat, pemenuhan nutrisi tanaman secara optimal, serta pendampingan yang konsisten memiliki potensi memberikan hasil yang lebih baik bagi petani. Praktik-praktik terbaik seperti inilah yang ingin terus kami kembangkan dan sebarkan melalui Pestani,” ujar Adit.

Dalam budidayanya, para peserta Pestani mengaplikasikan sejumlah produk Petrokimia Gresik, yaitu Phonska Lite, K Plus, Phonska Cair, Phonska Oca Plus, ZA Plus, SP-36 Petro, Petro Biofertil, dan Petroganik Premium sebagai sumber nutrisi tanaman bawang merah.

Adapun nama “Nyawiji” memiliki makna menyatukan langkah. Bagi Petrokimia Gresik, semangat tersebut sejalan dengan pendekatan Pestani yang mengedepankan kolaborasi, pendampingan, serta pembelajaran langsung di lahan. Praktik-praktik budidaya terbaik yang dihasilkan dari program ini diharapkan dapat menjadi pembelajaran sekaligus dikembangkan lebih luas oleh petani lainnya.

“Kata Nyawiji memiliki makna yang sangat kuat. Untuk memajukan pertanian, kita harus menyatukan langkah antara petani, pemerintah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan. Karena itu, Pestani Bawang Merah Nyawiji kami harapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi peserta, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan bersama untuk memperkuat bawang merah Nganjuk,” tutur Adit.

Rangkaian Pestani Bawang Merah Nyawiji juga diisi dengan sarasehan bersama petani dan pemangku kepentingan, panen bersama, serta pemberian penghargaan kepada petani berprestasi. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat interaksi dan kolaborasi sekaligus memberikan apresiasi terhadap kerja keras, semangat, dan dedikasi petani selama mengikuti program.

Di tempat yang sama, petani asal Kecamatan Gondang, Suheri menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang diberikan Petrokimia Gresik kepada petani bawang merah di Kabupaten Nganjuk. Ia berharap peningkatan produktivitas yang dihasilkan dari program tersebut dapat memberikan dampak terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.

“Kami dalam kegiatan ini mendapatkan informasi terkait pupuk-pupuk nonsubsidi yang terbukti mendorong peningkatan produktivitas bawang merah. Alhamdulillah tanaman hasilnya berkualitas,” ujar Suheri.

Sementara itu, Pestani tidak hanya dikembangkan pada komoditas bawang merah. Program ini telah diterapkan pada sejumlah komoditas unggulan di berbagai wilayah Jawa Timur. Selain Pestani Bawang Merah Nyawiji di Nganjuk, terdapat Pestani Rawit yang mencakup Malang, Probolinggo, Mojokerto, Kediri, dan Blitar; Pestani Melon Pantura di Tuban, Ngawi, Bojonegoro, Gresik, dan Lamongan; serta Pestani Semangka Tapal Kuda di Lumajang, Jember, dan Banyuwangi.

Sebaran tersebut menjadi bagian dari pendekatan Petrokimia Gresik dalam menjalankan pemberdayaan petani yang disesuaikan dengan potensi komoditas unggulan di masing-masing wilayah.

“Petrokimia Gresik berkomitmen untuk terus tumbuh dan berkembang bersama petani. Kami percaya, ketika petani semakin produktif dan sejahtera, maka pertanian akan semakin kuat. Dan ketika pertanian semakin kuat, ketahanan pangan Jawa Timur dan Indonesia akan semakin kokoh,” pungkas Adit. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Petrokimia Gresik Dongkrak Produktivitas Bawang Merah Nganjuk 12 Persen Lewat Pestani  Selengkapnya

School Lab Farming : Jurus Petrokimia Gresik Bikin Gen Z Jatuh Cinta Sama Pertanian 

GRESIK,1minute.id – PT Petrokimia Gresik (Persero), perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero), membuktikan bahwa pertanian modern dapat menjadi magnet bagi Generasi Z. Melalui program School Lab Farming yang melibatkan 261 siswa di tiga SMK pertanian Jawa Timur, para siswa menerapkan pertanian presisi sekaligus mengelola lahan sekolah sebagai ruang belajar, produksi, dan pengembangan bisnis pertanian.

Hasilnya, produktivitas sejumlah komoditas meningkat signifikan. Di SMK Negeri 1 Kademangan, Blitar, sebanyak 800 kilogram bawang merah kering berhasil dipanen dari lahan seluas 1.000 meter persegi. Hasil tersebut meningkat lebih dari lima kali lipat dibandingkan musim tanam sebelumnya yang hanya menghasilkan sekitar 150 kilogram dari lahan yang sama.

Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob menyampaikan bahwa regenerasi petani menjadi tantangan bersama dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian nasional. Melalui School Lab Farming, Petrokimia Gresik ingin menghadirkan pengalaman bertani yang lebih dekat dengan karakter generasi muda, yaitu berbasis teknologi, data, produktivitas, dan peluang usaha.

“Melalui School Lab Farming, kami ingin menunjukkan kepada generasi muda bahwa pertanian saat ini sudah berkembang jauh. Dengan dukungan teknologi smart farming dan pengelolaan lahan sekolah sebagai teaching factory yang produktif, siswa tidak hanya belajar bercocok tanam, tetapi juga memahami bagaimana pertanian dapat dikelola secara modern dan memiliki prospek usaha yang menjanjikan,” ujar Daconi di Gresik, Jawa Timur.

Selain bawang merah, ratusan melon juga berhasil dibudidayakan di dalam greenhouse SMK Negeri 1 Kademangan dengan tingkat kemanisan mencapai 15 °Brix. Hasil serupa diperoleh di SMK Negeri 8 Jember dan SMK Muhammadiyah 5 Gresik. Kedua sekolah tersebut membudidayakan varietas melon berbeda dengan bobot antara 1,2 hingga 2 kilogram dan tingkat kemanisan minimal 15 °Brix.

Menurut Daconi, capaian tersebut menunjukkan bahwa pertanian dapat semakin menarik bagi Generasi Z ketika dikelola dengan teknologi dan metode budidaya yang tepat. Siswa dapat melihat secara langsung hubungan antara penggunaan teknologi, proses produksi, kualitas hasil panen, hingga nilai ekonomi yang diperoleh.

“Ketika siswa melihat sendiri bahwa lahan yang mereka kelola mampu menghasilkan produk berkualitas dan memiliki nilai jual, mereka mendapatkan perspektif baru tentang pertanian. Bukan hanya sebagai aktivitas budidaya, tetapi sebagai bidang usaha yang membutuhkan teknologi, kemampuan analisis, dan pengelolaan bisnis,” tandasnya.

Dalam penerapan pertanian presisi, siswa dibiasakan bekerja berdasarkan data. Mereka mencatat perkembangan tanaman, kondisi media tanam, kebutuhan dan dosis pemupukan, hingga hasil produksi melalui matriks yang terstandar. Dari proses tersebut, siswa belajar menganalisis kondisi tanaman sekaligus mengambil keputusan budidaya berdasarkan data.

Selain bawang merah dan melon, ketiga sekolah juga mengembangkan komoditas pendukung seperti buncis dan kembang kol sebagai bagian dari rotasi tanam. Diversifikasi komoditas tersebut sekaligus memperluas pengalaman siswa dalam mengelola berbagai jenis usaha pertanian.

School Lab Farming merupakan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Petrokimia Gresik yang dijalankan dengan kerangka Creating Shared Value (CSV). Program ini tidak hanya memberikan dukungan sarana pertanian, tetapi juga mendorong optimalisasi aset sekolah sehingga dapat dimanfaatkan sebagai ruang praktik sekaligus unit produksi.

Program tersebut merupakan tindak lanjut dari kompetisi HARVESTION 2025 yang sebelumnya mempertemukan 33 SMK pertanian dari 15 kabupaten/kota di Jawa Timur. Dari kegiatan tersebut, Petrokimia Gresik melihat bahwa minat generasi muda terhadap sektor pertanian sebenarnya cukup besar, tetapi belum seluruhnya berkembang menjadi ketertarikan untuk menekuni budidaya maupun menjadikan pertanian sebagai pilihan profesi dan usaha.

Di sisi lain, sejumlah sekolah masih menghadapi keterbatasan sarana praktik dan akses terhadap teknologi pertanian modern, serta adanya kesenjangan antara pembelajaran di kelas dengan kebutuhan dunia industri. Padahal, banyak sekolah memiliki lahan yang cukup luas dan produktif untuk dikembangkan sebagai laboratorium praktik sekaligus unit produksi.

“School Lab Farming membuat proses belajar tidak berhenti pada demonstrasi di lahan. Siswa menjadi pelaku utama dalam seluruh siklus pertanian, mulai dari perencanaan budidaya, pengelolaan tanaman, pencatatan data, panen, hingga memahami nilai ekonomi dari produk yang mereka hasilkan,” ujar Daconi.

Kepala SMK Negeri 1 Kademangan Hadi Sucipto mengapresiasi program School Lab Farming karena memberikan pengalaman baru bagi siswa dalam mengenal pertanian berbasis teknologi. Menurutnya, pendekatan pertanian modern dapat meningkatkan ketertarikan generasi muda karena siswa tidak hanya mempelajari teknik budidaya, tetapi juga memahami teknologi dan peluang usaha di sektor pertanian.

“Kami sangat mengapresiasi program ini karena siswa mendapatkan kesempatan untuk belajar dan mempraktikkan langsung pertanian modern. Harapannya, pengalaman ini dapat menumbuhkan semakin banyak generasi muda yang tertarik mengembangkan sektor pertanian sekaligus turut mendukung terwujudnya pertanian berkelanjutan dan ketahanan pangan nasional,” tutupnya. (yad)

Editor  : Chusnul Cahyadi 

School Lab Farming : Jurus Petrokimia Gresik Bikin Gen Z Jatuh Cinta Sama Pertanian  Selengkapnya

Berhasil Integrasikan Smart Farming dan Smart Marketing, Direktur Keuangan dan Umum Petrokimia Gresik Dinobatkan sebagai Best CMO 2026

GRESIK,1minute.id – PT Petrokimia Gresik (Persero), perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero), kembali meraih apresiasi atas inovasi strategi bisnisnya. Direktur Keuangan & Umum Petrokimia Gresik Adityo Wibowo, meraih penghargaan “Best Chief Marketing Officer 2026 in Delivering Customer Centric Growth through Innovative Marketing Strategies” karena dinilai berhasil mendorong pertumbuhan melalui strategi pemasaran inovatif dan berorientasi pada pelanggan. 

Penghargaan diterima langsung oleh Adit, sapaan, Adityo Wibowo dalam ajang Indonesia Best CMO Awards 2026 di Jakarta pada Senin malam, 31 Agustus 2026.

Menurut Aditya Wibowo, capaian tersebut tidak terlepas dari kontribusi seluruh Insan Petrokimia Gresik dalam mengintegrasikan smart farming dan smart marketing sebagai strategi yang saling terhubung untuk memberikan nilai tambah bagi petani sekaligus mendorong pertumbuhan bisnis perusahaan.

“Smart farming bukan hanya tentang penggunaan teknologi di lahan. Lebih dari itu, kami membangun ekosistem pertanian yang mampu memberikan nilai bagi petani sekaligus membuka peluang pertumbuhan bagi perusahaan,” ujar Adit.

Melalui smart farming, Petrokimia Gresik mendampingi petani meningkatkan produktivitas dan menerapkan praktik budidaya yang lebih modern, presisi, dan efisien. Interaksi serta kebutuhan petani yang diperoleh melalui pendampingan tersebut selanjutnya menjadi bagian penting dalam pengembangan smart marketing, sehingga perusahaan dapat menghadirkan produk dan solusi yang semakin relevan bagi pelanggan.

Adit menjelaskan, hubungan dengan pelanggan saat ini tidak lagi cukup dibangun melalui pendekatan penjualan konvensional. Perusahaan perlu memahami kebutuhan pelanggan secara lebih mendalam, kemudian menerjemahkannya menjadi solusi yang tepat, mudah diakses, serta memberikan dampak nyata.

“Pendekatan ini sekaligus memperluas jangkauan pasar Petrokimia Gresik. Perusahaan telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia serta mulai mengembangkan pasar baru, termasuk segmen pelaku urban farming,” ujarnya.

Salah satu implementasi strategi tersebut adalah PETROSPRING: Smart Precision Farming Service, layanan pertanian presisi yang mengintegrasikan pendampingan agronomis dengan pemanfaatan teknologi drone. Program ini membantu petani menerapkan pemupukan secara lebih cepat, tepat, dan efisien. Sepanjang periode 2024 hingga 2026, PETROSPRING telah mencakup lahan seluas 5.683 hektare, melayani 458 pelanggan, serta melibatkan 29 mitra korporasi.

Petrokimia Gresik juga mengembangkan Pestani, platform community-based marketing yang mengintegrasikan product trial, farmer engagement, dan commercial activation dalam satu model aktivasi yang terukur. Melalui pendekatan mini demplot, petani memperoleh pengalaman langsung menggunakan produk, membuktikan hasilnya di lapangan, membangun interaksi dalam komunitas, sekaligus membuka peluang pembelian lanjutan.

Hingga saat ini, Pestani telah melibatkan 982 petani dari 19 daerah di Pulau Jawa untuk lima komoditas, yaitu melon, semangka, cabai rawit, kentang, dan bawang merah. Program ini juga telah membentuk 25 komunitas petani baru dengan peningkatan produktivitas hingga 18 persen.

Menurut Adit, capaian tersebut menunjukkan bahwa strategi pemasaran harus berjalan beriringan dengan penciptaan nilai bagi pelanggan. Karena itu, Petrokimia Gresik akan terus memperkuat pendekatan berbasis data, teknologi, serta kebutuhan pasar untuk menciptakan hubungan pelanggan yang berkelanjutan.

“Ke depan, kami akan terus memperkuat integrasi smart farming dan smart marketing. Tujuannya bukan hanya meningkatkan pertumbuhan bisnis, tetapi juga memastikan solusi yang kami hadirkan benar-benar memberikan manfaat bagi petani,” tandasnya.

Indonesia Best CMO Awards 2026 merupakan ajang apresiasi bagi para pemimpin pemasaran yang dinilai mampu mendorong pertumbuhan bisnis melalui inovasi dan transformasi digital. Penghargaan ini sekaligus memperkuat komitmen Petrokimia Gresik untuk terus mengintegrasikan inovasi pertanian dan strategi pemasaran berbasis pelanggan sebagai bagian dari transformasi bisnis perusahaan serta kontribusi bagi kemajuan agroindustri nasional. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Berhasil Integrasikan Smart Farming dan Smart Marketing, Direktur Keuangan dan Umum Petrokimia Gresik Dinobatkan sebagai Best CMO 2026 Selengkapnya