Siagakan 2.260 Personil Gabungan Amankan Pemilihan Bupati Gresik

GRESIK, 1minute.id – Tahapan pemilihan bupati (Pilbup) terus bergulir. Saat ini, dua pasangan calon (Paslon) sedang berkampanye untuk memikat hati calon pemilih. Sementara itu, Polres Gresik mematangkan kesiapan pengamanan coblosan 9 Desember 2020. 

Sebanyak 2.260 personel gabungan terdiri dari TNI, Polri dan Linmas. Nah, untuk mengetahui kesiapan Polres Gresik melakukan pengamanan pesta demokrasi itu, Waka Polda Jatin Brigjend Pol Slamet Hadi Supraptoyo melakukan kunjungan kerja ke Polres Gresik, Rabu 30 September 2020. 

Sekitar pukul 15.00, Brigjend Pol Slamet Hadi Supraptoyo tiba di Mapolres GresikJenderal bintang satu itu disambut langsung Kapolres Gresik AKBP Arief Fitrianto bersama pejabat utama (PJU) Polres Gresik. Mereka kemudian menuju Aula Parama Satwika 98. Selama 1,5 jam dilakukan di lantai dua gedung sentra pelayanan kepolisian terpadu (SPKT) Polres Gresik itu.

Waka Polda Jatim Brigjend Pol Slamet Hadi Supraptoyo mengatakan, kedatangannya untuk melihat kesiapan Polres Gresik dalam pelaksanaan pengamanan Pilbup Gresik. “Karena kesiapan ini wujud tanggung jawab kita dalam melayani masyarakat,”ujar Brigjend Slamet Heru.

Pilbup tahun ini, tambahnya, berbeda karena digelar pada masa pandemi korona dan negara dalam kondisi resesi ekonomi. “Karena situasi Covid saat ini sangat berpengaruh dalam setiap tahapan . Maka dalam masa kampanye tetap mengutamakan protokol kesehatan,”tegas Brigjend Slamet Hadi. Polri harus ikut berperan dalam penurunan kasus Covid-19. “Jangan sampai ikut meningkatkan kasus Covid – 19,”katanya. 

PROKES : Kapolres Gresik AKBP Arif Fitrianto menerima kunjungan rombong dari Polda Jatim di Mapolres Gresik ( Foto Humas Polres Gresik)

Kapolres Gresik AKBP Arief Fitrianto menambahkan, Polres Gresik mendapatkan hibah dana pengamanan Pilbup 2020 sebesar Rp 5 miliar. “Untuk pengamanan di kota diutamakan di Kantor KPU, Kantor Bawaslu dan rumah pasangan calon,”jelas alumnus Akpol 2001 itu.

Dalam waktu dekat, tambah Kapolres Arief, Polres akan laksanakan simulasi dan persiapan pengamanan dalam pelaksanaan Pilkada. “Untuk pengaman pilbup ini  akan terjunkan 2.260 personil gabungan Polri, TNI dan linmas,”ungkapnya. (*)

Siagakan 2.260 Personil Gabungan Amankan Pemilihan Bupati Gresik Selengkapnya

Baja Impor Ancaman Produk Lokal

SURABAYA,1minute.id – Membanjirnyabaja impor menjadi ancaman serius program tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Pemerintah diminta mewaspadainya. Penegasan itu disampaikan Ketua BPD Gapensi Jatim Agus Gendroyono dalam keterangan pers, Rabu 30 September 2020.

Menurut Agus Gendroyono, pengusaha jasa konstruksi menyambut gembira peraturan pemerintah (PP) nomor 22 tahun 2020. Khususnya rencana  pemerintah meningkatkan TKDN. Karena itu, perlu mewaspadai membanjirnya produk baja dari Cina di pasar Indonesia. “Salah satu roh dari PP itu adalah optimalisasi penggunaan produk dalam negeri. Semua material konstruksi nantinya harus teregistrasi dalam sistem berdasarkan spesifikasi yang dikehendaki owners,”tegas Agus Gendroyono.

Penggunaan produk dalam negeri adalah momentum yang tepat guna recovery lesunya ekonomi paskapandemi. “Ini dibutuhkan semangat nasionalisme bersama. Di saat banjirnya produk asing di Indonesia dengan harga lebih murah dari pada produksi dalam negeri,”katanya.

Agus Gendroyono menambahkan, manufaktur di China mendapat banyak stimulus dari pemerintahannya. Selain tentunya tenaga kerja murah. Kebijakan itu perlu dilakukan pemerintah kepada produk baja di dalam negeri. “Untuk itu harus kita cari formula untuk mereduksi ongkos produksi dalam negeri dengan tentu saja harus ada stimulus dari pemerintah atau dalam skema lainya,”ujar pengusaha asal Jawa Timur ini.

Ia mencontohkan, rendahnya harga jual baja impor dimungkinkan karena banyaknya subsidi pemerintah dari negara pengekspor. Antara lain pengalihan kode tarif barang yang berimbas kepada perbedaan bea masuk.  “Padahal industri baja lokal memiliki kemampuan memenuhi volume dan standar kualitas yang dibutuhkan,”tegas Agus Gendroyono. Sampai kapan kita harus kalah bersaing dengan Cina. 

Agus Gendroyono berpendapat turunnya PP nomor 22 tahun 2020 harus jadi motivator para vendor untuk memperbesar penggunaan produksi dalam negeri. Sebagai upaya pemenuhan syarat registrasi material jasa konstruksi yang segera diintegrasikan oleh kementerian PUPR.

Ketua BPD Gapensi Jatim Agus Gendroyono

Agus Gendroyono melihat, dukungan terhadap PP di atas semakin kuat. Karena bila industri baja dalam negeri mati, maka akan semakin tergantung pada impor. Pihak luar akan dengan mudah mempermainkan harga. 

“Di sisi lain tenaga kerja regional akan kehilangan mata pencarian, sementara para tenaga ahli dan perusahaan industri baja kita juga akan kehilangan kesempatan menunjukkan kompetensi mereka dalam persaingan di tingkat global,”ungkapnya. 

Selain itu Agus Gendroyono mengungkap sinyalemen tentang baja impor yang dikapalkan sudah mendapat stempel SNI. Seakan-akan produk dalam negeri. Tapi kenyataannya adalah barang dari luar. 

Karena itu, Ia mengingatkan agar siapapun jangan mencuri peluang dari kesulitan melakukan pengawasan. Tanpa kejujuran semua pihak, maka upaya pemerintah menerbitkan PP ini akan sia-sia.

“Kalau dibiarkan kondisi ini tanpa ikut campur pemerintah, maka situasi yang amat dilematis akan dihadapi kita semua. Di satu sisi ekonomi dalam negeri akan lumpuh, daya beli masyarakat akan mengecil, PHK akan semakin banyak dan kita akan jadi negara konsumtif,” beber dia. 

Dalam kesempatan itu, Agus Gendroyono yakin terbitnya PP nomor 22 tahun 2020 bukan hanya memudahkan badan usaha jasa konstruksi Indonesia untuk bangkit kembali setelah sekian lama terjebak dalam pandemi yang tidak menentu ini. Akan tetapi menyalakan kembali api produksi barang dan jasa di dalam negeri.(*)

Baja Impor Ancaman Produk Lokal Selengkapnya

Tidak Ada Biaya Perawatan, DLH Tetap Operasional Kontainer Sampah Bolong-Bolong

GRESIK,1minute.id – Sampah kota masih menjadi problem bagi Pemkab Gresik. Apalagi, sarana dan prasaran untuk mengangkut sampah rumah tangga menuju tempat pembuangan sampah akhir (TPA) sangat minim.

Akibatnya, kontainer bolong-bolong tetap harus dioperasikan untuk mengangkut sampah rumah tangga yang mencapai 150 meter kubik hingga 200 meter kubik per hari.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik Mokh Najikh mengatakan, masa pandemi korona volume sampah rumah tangga di kota berpenduduk 1,3 juta tidak mengalami kenaikkan signifikan. “Volume masih fluktuatif antara 150 hingga 200 meter kubik per harinya,”kata Najikh kepada 1minute.id, Rabu 30 September 2020.

Untuk mengangkut ratusan kubik sampah itu, DLH mengerahkan 35 unit armada untuk mengangkut sampah. Sedangkan, jumlah kontainer sampah ditempatkan berjumlah 125 unit kontainer.  “Petugas DLH untuk mengangkut sampah di wilayah Driyorejo berangkat pukul 01.00,”ujar mantan Sekretaris Dewan (Sekwan) Gresik itu. “Biasanya dua rit (pergi dan pulang),” imbuhnya.

BERLUBANG : Kontainer sampah ketika melintas di Jalan Sumatera, Kompleks Perumahan Gresik Kota Baru ( foto : chusnul cahyadi / 1minute.id )

Akan tetapi, bila pengangkutan terlambat karena terjebak kemacetan atau lainnya, hanya sekali rit. Selama ini, tidak ada kendala pengangkutan sampah dari tempat penampungan sementara (TPS) menuju TPA. “Meski sarana dan prasarana terbatas,”katanya. DLH mengerahkan semua potensi, termasuk mengoperasikan kontainer bolong-bolong untuk mengangkut sampah. “Karena memang tidak ada anggaran untuk perbaikan,”ujar mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Gresik itu.

Pengoperasian kontainer penuh “ventilisi” itu tetap dilakukan karena jumlan kontainer terbatas. Najikh jumlah kontainer sampah baru 125 unit termasuk hasil pengadaan dua tahun belakangan ini. Tahun lalu, ada pengadaan kontainer 16 unit. Sedangkan, tahun ini hany empat unit. “Secara idealnya, membutuhkan tambahan 40-unit kontainer baru,”kata Najikh.

BEROPERASI : Minimnya biaya perawatan DLH Gresik tetap mengoperasikan kontainer berlubang mengakut sampah rumah tangga di Gresik ( chusnul cahyadi / 1minute.id )

Pandemi korona membuat rencana pengadaan 40-an unit kontainer yang telah mendapatkan lampu hijau harus minggir terlebih dahulu. Padahal usia kontainer sampah 2-3 tahun sudah korotif. “Air lindi sampah sangat korotif,”tegasnya. Ditambah tidak ada biaya perawatan sehingga kontainer penuh “jendela” pun harus dioperasikan.

Wartawan 1minute.id dua kali menjumpai kontainer sampah lalang di perkotaan Gresik. Tepatnya, saat melintas di Jalan DR Wahidin Sudirohusodo, lalu Jalan Sumatera, Kompleks Perumahan Gresik Kota Baru.
Kontainer penuh sampah. Ketika melintasi jalan bergelombang atau polisi tidur sampah tumpah di jalan raya. Truk kontainer sampah terus melaju, sampah tertinggal di jalan raya. 

Najikh mengatakan, untuk menyiasati tidak adanya biaya perawatan itu, DLH Gresik menjalani kerjasama dengan sekolah menengah kejuruan yang memiliki jurusan las. “Kami gandeng siswa SMK untuk proses perbaikan kontainer,”ujarnya. (*)

Tidak Ada Biaya Perawatan, DLH Tetap Operasional Kontainer Sampah Bolong-Bolong Selengkapnya

Dikerjakan Ribuan Santri, Istimewanya, Sunan Giri Sediakan Satu Kendil untuk Makan. Musim Rendeng Air Tidak Pernah Meluber. (Bagian Kedua)

Ribuan santri tersebut kemudian dikerahkan untuk membuat telaga yang kini menjadi salah satu situs cagar budaya di Kota Giri. Menurut cerita masyarakat sekitar Giri, pembuatan telaga itu tidak lebih dari sebulan. Ukuran telaga ¾ lapangan sepak bola dengan kedalaman sekitar 2 meter.

Megaproyek itu benar-benar disebut padat karya karena mengerahkan ribuan santri. Mungkin, orang awam menganggap pembuatan Telaga Pegat sangat ribet lantaran harus mempersiapkan konsumsi untuk yang membangun. Namun, bagi Joko Samudro, sebutan lain Sunan Giri, tidak ada yang sulit.

BERENDAM : SUHU udara yang mencapai 36 derajat celcius, Selasa, 29 September 2020 membuat lelaki ini kegerahan. sehingga berendam di telaga Pegat untuk menyegarkan badan. ( foto : chusnul cahyadi / 1minute.id )

Sunan Giri hanya membutuhkan satu kendil (wadah dari tanah liat) untuk makan para santri yang terlibat dalam pembangunan Telaga Pegat. ’’Nasi satu kendil itu seakan tidak pernah habis diambil orang berapa pun,’’ ungkap Moh. Zuhri Siroj, 70, warga Desa Sidomukti, Kecamatan Kebomas. Ajaib.

Dalam sebuah prasasti di tembok pagar Telaga Pegat, terdapat tulisan yang menyebutkan bahwa telaga itu dibangun kali pertama oleh Sunan Giri pada 1473 Masehi. Pasca kemerdekaan RI, telaga tersebut direnovasi beberapa kali. Pertama, pada 17 Agustus 1955. Kedua, pada 1977. Setelah 1977, perbaikan tidak bisa terhitung. Sebab, tidak ada data yang mencatat renovasi Telaga Pegat.

POHON PISANG : Situs cagar budaya Telaga Pegat di bangun Sunan Giri, Maulana Ainul Yaqin cukup subur ( foto : chusnul cahyadi /1minute.id )

Berdasar pengamatan 1minute.id, warna air Telaga Pegat saat ini kehijau-hijauan. Terdapat tamanan kangkung di beberapa bagian. Telaga tersebut tidak memperlihatkan nilai histori yang tinggi. Namun, adat alias sopan santun harus dijaga setiap orang yang hendak mandi. Di antaranya, tidak boleh berkata-kata kotor atau berbuat tidak sopan lainnya. Menurut warga sekitar, kalau dilanggar, banyak kejadian di luar nalar yang akan menimpa si pelanggar. ’’Kalau mau coba, silakan. Tapi, risiko harus ditanggung sendiri lho,’’ kata Moh. Zuhri Siroj. 

Bila melihat historinya, sudah selayaknya pemerintah atau masyarakat Kota Giri menjaga kelestariannya. Misalnya, tidak melakukan vandalisme dengan mencoret-coret pagar tembok serta menjaga keasrian telaga legendaris tersebut. Dengan begitu, telaga itu akan menjadi daya tarik wisatawan. Sebab, selama ini para peziarah di makam Sunan Giri di Bukit Giri seakan melewatkan situs Telaga Pegat. (chusnul cahyadi/habis)

Dikerjakan Ribuan Santri, Istimewanya, Sunan Giri Sediakan Satu Kendil untuk Makan. Musim Rendeng Air Tidak Pernah Meluber. (Bagian Kedua) Selengkapnya

Rela Berdiri hingga Gendong Anak untuk Memberikan Dukungan Moral Takmir Korban Penganiayaan

GRESIK,1minute.id – Ruang sidang Candra Pengadilan Negeri Gresik sesak pengunjung, Selasa 29 September 2020. Bahkan, mereka rela berdiri dan menggendong anak di dekat pintu masuk untuk menyaksikan lanjutan sidang perkara dugaan penganiayaan dengan korban takmir masjid Imron, 49 tahun.

Sidang virtual dengan terdakwa Maftukin, 39, memasuki agenda keterangan saksi. Ada lima saksi yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Gresik AA Ngurah Wirajaya. Yakni, Arifan, Imron (korban), Matasir, Istiqomah (istri korban) dan Samsul. Semuanya warga Desa Serah, Kecamatan Panceng.

Saksi korban Imron dihadapan majelis hakim diketuai Rina Indra Janti mengungkapkan terdakwa Maftukin sebagai pengadaan barang pembangunan masjid. Pada waktu itu sekitar jam 19.00 terdakwa datang ke rumah. Kemudian korban Imron diajak terdakwa Maftukin ke waduk Desa Sawo, Kecamatan Dukun. 

“Tanpa basa basi, terdakwa mengeluarkan kata-kata kotor. Kemudian mengambil paving. Lalu baju saya di tarik dan di pukul di bagian punggung sebelah kiri menggunakan tangan menggenggam,”terang Imron. 

“Tidak hanya itu, kedua kaki ditendang. Kemaluan saya di pegang. Bahkan terdakwa sempat mengancam untuk mau menusuk perut,”imbuhnya. Akibat perbuatan dilakukan terdakwa itu, saksi korban Imron sakit. ” Saya mengalami sakit satu minggu tidak bisa bekerja,” katanya. 

RELA BERDIRI : Antusiasme masyarakat untuk memberikan dukungan moral kepada takmir korban penganiayaan rele berdiri dan menggendong anak untuk saksikan sidang di PN Gresik, Selasa 29 September 2020 ( foto : chusnul cahyadi /1minute.id)

Seperti diberitakan, terdakwa Maftukin diseret oleh Jaksa AA Ngurah Wirajaya ke Pengadilan Negeri (PN) Gresik atas ulahnya melakukan penganiayaan pada korban Imron yang juga menjadi takmir Masjid Desa Serah Kecamatan Panceng. 

Terdakwa yang diketahui sebagai pengusaha material nekat aniaya korban karena dikatakan pasir yang dikirim ke masjid untuk pembangunan kualitasnya jelek. Akibat perbuatan terdakwa, korban Imron mengalami bengkak pada punggung sebelah kiri, sesuai Visum et Repertum Nomor: 08/VER/X/2019 tertanggal 14 Oktober 2019.

Perbuatan tersebut dilakukan pada hari Minggu, 13 Oktober 2019 sekitar pukul 21.00 bertempat di sekitar waduk Desa Sawo, Kecamatan Dukun. (*)

Rela Berdiri hingga Gendong Anak untuk Memberikan Dukungan Moral Takmir Korban Penganiayaan Selengkapnya

Nelayan Gresik Utara Mengeluh Tak Pernah Diperhatikan Pemerintah

GRESIK,1minute.id  – Pasangan calon nomor urut dua, Fandi Akhmad Yani – Aminatun Habibah (NIAT) road show ke Kecamatan Ujungpangkah, Selasa, 29 September 2020. Calon Bupati – Wakil Bupati di usung enam partai itu mendatangi nelayan di Desa Ngembo, Kecamatan Ujungpangkah, diantaranya.

Kedatangan Gus Yani -sapaan- Fandi Akhmad Yani dan Ning Min-panggilan-Aminatun Habibah dalam kampanye dialogis hari ke empat itu disambut antusias relawan, masyarakat dan nelayan setempat. Mereka menaruh harapan NIATbisa terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati Gresik pada 9 Desember 2020.

Dalam kampanye dialogis itu, Gus Yani dan Ning Min, mendapatkan banyak keluhan dari nelayan Ngembo. Mereka mengaku selama ini tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah. Diantaranya, bantuan peralatan. “Selama ini kami beli peralatan sendiri. Selama lima tahun tidak pernah ada bantuan apapun dari pemerintah,” ujar Samsuri, nelayan kerang hijau, warga Dusun Cabean, Desa Ngemboh, Kecamatan Ujungpangkah  rilis tim media center NIAT yang di terima redaksi 1minute.id, Selasa 29 September 2020.

DIALOGIS : Calon Bupati Fandi Akhmad Yani didampingi Cawabup Aminatun Habibah bertemu nelayan Desa Ngembo, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik, Selasa 29 September 2020 ( foto : tim media center NIAT for 1minute.id )

Samsuri mengaku, keluhan nelayan seperti harga tidak stabil itu sudah disampaikan ke dinas terkait. “Tapi tidak ada respon apapun dari pemerintah. Kami hanya ingin pemerintah bisa menstabilkan harga,”harapnya. Senada juga disampaikan Hilal.  Selama bertahun-tahun sebagai nelayan tidak pernah tersentuh bantuan apapun. “Jangankan bantuan pesisirnya habis dibiarkan,”ungkapnya. Gus Yani dan Ning Min terlihat serius mendengarkan aspirasi nelayan Ngembo itu.

Sementara Gus Yani mengaku akan merealisasikan harapan masyarakat jika dirinya terpilih menjadi Bupati Gresik. Khususnya para nelayan di Gresik utara. 
Menurut mantan Ketua DPRD Gresik itu, APBD  Gresik sangat besar untuk mensejahterakan masyarakat dari berbagai sektor. 

“Kalau APBD tidak cukup, kami akan carikan CSR untuk pemberdayaan nelayan. Perusahaan akan lebih senang jika CSR bermanfaat langsung kepada masyarakat dibanding digunakan membangun patung,”kata Gus Yani disambut tepuk tangan masyarakat. (*)

Nelayan Gresik Utara Mengeluh Tak Pernah Diperhatikan Pemerintah Selengkapnya

Tersambar Pengendara Motor, Onthelis Nurul Askin, Kades Metatu Meninggal Dunia

GRESIK, 1minute.id – Masyarakat Desa Metatu, Kecamatan Benjeng, Gresik berduka, Selasa, 29 September 2020. Nurul Askin, kepala desa setempat meninggal dunia. Lelaki 56 tahun itu tertabrak pengendara motor ketika melintas di Jalan Raya Desa Metatu sekitar pukul 06.00.

Informasi yang dihimpun sekitar pukul 06.00 Nurul Askin ngowes sendirian. Berangkat dari rumahnya. Kondisi Jalan Raya Desa Metatu pagi itu masih sepi. Kepala Desa (Kades) Metatu itu ngowes santai. Kebiasaan ngowes pagi hari itu dilakukan kepala desa dua periode itu sejak masa pandemi korona.

Nurul Askin kemudian berencana menyeberang jalan. Dia pun melambatkan kayuh pedal sambil menengok ke kanan dan kiri. Lelaki bertubuh langsing itu kemudian menyeberangi jalan tersebut.

Anggota Satlantas Polres Gresik melakukan olah tempat kejadian perkara kecelakaan lalu lintas melibatkan Kades Metatu, Kecamatan Benjeng, Gresik Nurul Askin di Jalan Raya Metatu, Selasa, 29 September 2020 ( foto : Satlantas Polres Gresik )

Tiba-tiba dari  Balongpanggang menuju Benjeng, ada pengendara motor Yamaha Vixion. Pengendara motor  nomor polisi (nopol)  W 6335 GZ itu Slamet Riyadi. Pemuda 18 tahun memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Pemuda 18 tahun asal Desa Ngasin, Kecamatan Balongpanggang, Gresik itu seperti  sedang buru-buru. 

Nurul Askin mencoba mengayu sepeda anginnya lebih kencang untuk menghindari serudukan motor sport itu. Namun, upaya Nurul Askin sia-sia. Sepeda onthel tertabrak pengendara motor Vixion itu. Kades Nurul Askin terpental dan mengalami luka di bagian kepala hingga tidak sadarkan diri.

Kanit Laka Satlantas Polres Gresik Ipda Yossi Eka Prasetya mengatakan, hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) dan keterangan saksi-saksi kecelakaan melibatkan pengendara sepeda motor dengan onthelis itu akibat human error.

“Pengendara kendaraan sepeda motor Yamaha Vixion tidak memperhatikan arah depan dengan jelas dan tidak mengutamakan keselamatan kendaraan sepeda onthel yang dikayuh korban Nurul Askin,”kata Yossi, Selasa, 29 September 2020. Korban meninggal dalam perjalanan menuju RSUD Ibnu Sina Gresik. (*)

Tersambar Pengendara Motor, Onthelis Nurul Askin, Kades Metatu Meninggal Dunia Selengkapnya

Ribuan Jiwa Tersebar di 13 Kecamatan di GresikTerancam Krisis Air Bersih

GRESIK, 1minute.id – Kemarau panjang mulai terdampak terhadap masyarakat Kota Santri. Berdasarkan perkiraan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Gresik sekitar 71 desa tersebar di 13 kecamatan mulai kesulitan air bersih. 

Menurut Kepala BPBD Gresik Tarso Sagito, saat ini baru empat desa di Kecamatan Bungah telah bersurat untuk meminta bantuan droping air bersih. “Kami masih belum memutuskan jadwal droping air bersih,”kata Tarso dikonfirmasi 1minute.id, Selasa, 29 September 2020.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPDB Gresik Mimi Erna menambahkan, selain empat desa di Kecamatan Bungah itu. Sejumlah desa lainnya di kecamatan Kedamean, Balongpanggang dan Benjeng telah meminta bantuan droping air. “Tapi, permintaan bantuan air bersih itu masih melalui WhatsApp. Surat resmi belum kami terima,”kata Erna.

Warga Dusun Terongbangi, Desa Kandangan, Kecamatan Cerme ketika mengambil air di telaga dusun, 27 September 2018. ( foto dokumen chusnul cahyadi/1minute.id )

Berdasarkan perkiraan badan meteorologi, geofisika dan klimatologi (BMKG) Surabaya musim kemarau diperikan masih terjadi antara Oktober hingga November 2020. Kemarau panjang ini membuat ribuan jiwa masyarakat di Kota Santri terancam krisis air bersih. 

BPBD Gresik memperkirakan, musim kemarau panjang berimbas terjadinya krisis air bersih ini akan berdampak pada ribuan jiwa warga Gresik. Perkiraan BPBD ada 13 dari 18 Kecamatan di Gresik yang bakal mengalami kesulitan air bersih. 

Puluhan kecamatan itu diantaranya di Kecamatan Balongpanggang, Benjeng dan Cerme. Kemudian, Duduksampeyan, Kedamean, dan Menganti. Selanjutnya,  Sidayu, Bungah, Manyar dan Panceng.
“Kami belum bergerak untuk melakukan droping air. Biasanya, kalau sudah lima (kecamatan) baru bergerak (droping air),”tegas Erna. (*)

Ribuan Jiwa Tersebar di 13 Kecamatan di GresikTerancam Krisis Air Bersih Selengkapnya

Selama 547 Tahun, Telaga Pegat Dibangun Sunan Giri. Musim Kemarau Air Tidak Pernah Surut

MUSIM kemarau diperkirakan masih akan berakhir antara Oktober hingga November 2020. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gresik mencatat ada empat desa mulai terdampak kemarau, Selasa 29 September 2020. Bagaimana kondisi Telaga Pegat yang dibangun Sunan Giri pada 1473 Masehi atau 547 tahun silam. 

SEGAR : Sejak Dibangun Sunan Giri 547 tahun silam. Air telaga ini musim kemarau tidak pernah surut ( foto : chusnul cahyadi / 1minute.id )

TELAGA Pegat (berarti pisah atau cerai) dikenal warga Kota Giri sebagai cagar budaya yang dibuat Sunan Giri. Berdasarkan prasasti di tembok telaga ini pembuatannya dilangsungkan pada 1473 Masehi.
Tempat penampungan air tersebut dibuat Kanjeng Sunan Giri lantaran enggan memisahkan dua gunung. Yakni, Gunung Patireman dan Gunung Mbah Agung (Bagong).

Tetenger : Pembangunan Telaga Pegat di pintu masuk tempat pemandian. ( foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

Kini telaga di Jalan Raya Sunan Giri, Kecamatan Kebomas, itu masih difungsikan untuk mandi dan mencuci pakaian. Menurut legenda, bila beruntung, Anda bisa mengintip bidadari Giri yang sedang mandi. Hehehe. Apalagi, tempat mandinya berupa bilik tanpa atap penutup.

Tidak ada literatur ilmiah bagaimana cara Maulana Ainul Yaqin atau Sunan Giri membuat Telaga Pegat. Sebab, saat itu belum ada alat berat. Yang unik, selama lebih dari lima abad air telaga dengan pagar tembok setinggi 2 meter dan membentuk huruf L tersebut tidak pernah kering. Meski musim panas.

Sejumlah sumber menyebutkan, Sunan Giri membuat Telaga Pegat untuk kebutuhan para santri yang mondok di Giri Kedaton. Jumlahnya ribuan. Asal mereka pun bukan hanya dari dalam negeri, tetapi sampai mancanegara. (bersambung/chusnul cahyadi /1minute.id)

Selama 547 Tahun, Telaga Pegat Dibangun Sunan Giri. Musim Kemarau Air Tidak Pernah Surut Selengkapnya

Melihat Situs Telaga Pegat. Tempat Penampungan Air Dibangun Sunan Giri pada 1473 Masehi

Search
Melihat Situs Telaga Pegat. Tempat Penampungan Air Dibangun Sunan Giri pada 1473 Masehi Selengkapnya