Nuur Muhammad, Karya Riyanto, Pelukis Kaligrafi asal Gresik Sabet Best Performance Ajang Pameran Internasional 

GRESIK,1minute.id – Ajang Musabaqah Tilawatil Quran Nasional atau MTQN ke-30 di Samarinda, Kalimantan Timur semakin gegap gempita. Selain diikuti ribuan kafilah se-Indonesia yang sedang berjuang mengharumkan provinsi yang diwakilinya. 

Di arena MTQN itu,  juga diadakan eksebisi pameran kaligrafi kontemporer.  Pameran yang berlangsung mulai 8-15 September 2024 itu bertajuk “The Prophet Muhammad International Islam Calligraphy Art Exhibition”. Pameran kaligrafi kontempore terbesar itu diikuti 135 pelukis dari 35 negara.  

Pulukis kaligrafi Indonesia diantaranya diwakili oleh Muhammad Riyanto.  Ia pelukis asal Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik, Jawa Timur. “Saya salah satunya wakil dari Jawa Timur,” kata Riyanto kepada 1minute.id pada Sabtu, 14 September 2024.

Riyanto memamerkan lukisan berjudul Nuur Muhammad di atas kanvas ukuran 120×120 cm. Medianya campuran yakni Polypropylene, glass, PVC board, pipa, pines, resin, acrylic on canvas.

“Judul karya Nuur Muhammad dalam berkonsep karya nama diberikan oleh KH.Chotib Hambari adalah putra KH.Muhammad Bashori Mansyur  pengasuh Ponpes Roudlotit Tholibin  keponakan Gus Mus (Musthofa Bisri),” terang pelukis kaligrafi yang santri ini. 

Lukisan Riyanto terlihat elok. Panitia menempatkan karya Riyanto di tempat paling strategis. Sehingga menyita perhatian semua orang yang berkunjung di arena pameran kaligrafi internasional. Penikmat karya adalah para kafilah, dan masyarakat Samarinda, Kalimantan Timur atau sekitar 2-3 jam dari Ibukota Nusantara alias IKN. 

“Dalam pameran panitia memilih satu yang terbaik. Karya Saya yang menjadi the best performance,” ujarnya. Riyanto menceritan, untuk membuat kaligrafi kontemporer “Nuur Muhammad” ini membutuhkan waktu 2 mingguan. “Seminggu cari ide, seminggu melukisnya,” katanya.  

Proses kreatif itu tergolong cukup lama. Selain ide, bahan-bahan yang masuk ke media kanvas berukuran 120×120 centimeter.  “Mixed media.  Polypropylene, glass, PVC board, pipa, pines, resin, acrylic on canvas),” kata bapak tiga anak itu. 

Filosofi apa yang tersirat dalam di lukisan berjudul “Nuur Muhammad” itu.  Nuur Muhammad atau Cahaya Muhammad S.A.W, yang lahir pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah atau 570 Mesehi di Makkah. “Cahaya Muhammad semoga selalu memberikan syafaatnya kelak,” ujar Riyanto. 

Pada tulisan Muhammad ada pipa dengan pines adalah 24 nabi dan Muhammad sebagai Rosul akhir zaman. Lalu kotak persegi empat adalah sifat-sifat rasul. Kemudian bulatan-bulatan kecil adalah visual umat beliau, Nabi Muhammad yang tersebar di seluruh dunia sampai sekarang.

Selanjutnya, lima kaca bulat cembung adalah visual dari lima waktu salat sebagai inti mi’rojul akan perintah-Nya. “Bisa juga digunakan untuk bercermin koreksi diri. Sudahkan kita Salat tepat waktu. Bisa juga divisualkan sebagai rukun Islam,” terang Riyanto. “Tulisan kaidah farisi sebelah kiri adalah sebutan Nabiyullah. Bentuk utama hati adalah wujud kecintaan kita ya habiby ya Rosulullah SAW,” ujarnya.

Riyanto, salah pelukis di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik yang fonomenal. Di dalam lukisan yang bercerita tentang kehidupan tersebut, Riyanto selalu menyisipkan ayat-ayat Alquran di dalamnya. 

“Bagi saya sebenarnya setiap seniman punya cara penyampaiannya sendiri-sendiri. Dan menyampaikan secara visual itu paling mudah. Hal itu nantinya juga bisa membuat orang-orang bertanya,”ujar Riyanto dalam suatu kesempatan. 

Sejumlah lukisan Riyanto telah dikoleksi sejumlah tokoh di Indonesia. Diantaranya, lukisan berjudul Ikan Bandeng menjadi koleksi Presiden Joko Widodo. Ada juga yang dikoleksi mantan ketua PBNU KH. Said Aqil Siradj, KH.Afofudin Dimyati putra KH.Dimyati Romli sekaligus pengasuh Ponpes Hidayatul Quran Peterongan Jombnag dan KH.Muammar ZA, qori International dari Indonesia.
Riyanto mengaku belajar kaligrafi dari Ustadz Faiz Abdur Rozzaq di Bangil, Pasuruan tersebut. (yad)

Nuur Muhammad, Karya Riyanto, Pelukis Kaligrafi asal Gresik Sabet Best Performance Ajang Pameran Internasional  Selengkapnya

Isabell Roses, 13 Tahun, Siswa Sanggar Daun Gelar Pameran Lukis Tunggal Di Alun-alun Surabaya 

GRESIK,1minute.id – Isabell Roses baru berumur 13 tahun. Bagi anak seusia Isabell yang generasi z alias Gen-Z itu, mayoritas lebih menyukai main gedget. Tapi, bocah kelahiran 31 Juli 2011 ini berbeda. Isabell lebih memilih untuk corat-coret alias melukis di atas kanvas.

Lukisan Isabell yang memiliki teknik realis bukan gedung yang menjulang ke angkasa yang banyak tersebar di Kota Metropolis, Surabaya. Isabell memilih melukis budaya lawas nusantara. Orang memasak menggunakan kompor kayu, kerapan sapi,  main egrang dan lainnya. Selain kerapan sapi, kebudayaan lawas nusantara itu nyaris punah. 

Penasaran akan goresan tangan Isabell Rose, penikmat lukis bisa menyaksikan langsung di Galeri Merah Putih, kompleks Balai Pemuda Alun-alun Surabaya mulai Ahad besok, 8 September 2024. Gratis! 

“Pemeran akan buka mula Minggu sore pukul 4,” ujar Arik S. Wartono, kurator juga pendiri Sanggar Daun, tempat Isabell Roses belajar melukis kepada 1minute.id pada Sabtu, 7 September 2024.

Sebanyak 18 lukisan karya Isabell Roses yang dipajang hingga 13 September 2024 nanti.  Puluhan karya lukisan menggunakan media cat air dan akrilik di atas kanvas ukuran terbesar 142 x 92 cm, dam terkecil berukuran 34×33 cm. Sebagian besar dikerjakan dalam teknik realis dan lukisan naif khas anak-anak. Dengan tema permainan anak zaman dulu, tradisi lokal Indonesia khususnya masyarakat Jawa dan Madura, serta dogeng rakyat.

“Karya-karya yang dipamerkan dikerjakan mulai tahun 2020 hingga yang terbaru tahun 2024,” terang Arik S. Wartono. Pameran ini, sekaligus menandai perayaan 20 tahun Sanggar DAUN periode 2004 – 2024. (yad) 

Isabell Roses, 13 Tahun, Siswa Sanggar Daun Gelar Pameran Lukis Tunggal Di Alun-alun Surabaya  Selengkapnya

Gang Sebelah Rilis Film Dokumenter Penutur Terakhir, Mbah Mat Kauli, Maestro Macapat Gagrak Gresik 

GRESIK,1minute.id – Yayasan Gang Sebelah merilis film dokumenter tentang Maestro Macapat Gagrak, Mbah Mat Kauli pada Sabtu malam, 24 Agustus 2024. Film dokumenter hasil riset selama 6 bulan yang dilakukan oleh anggota yayasan yang berdiri sejak 2017 itu diputar di Kampung Kemasan, Kelurahan Pekelingan, Kecamatan/Kabupaten Gresik.

Kampung Kemasan adalah salah satu perkampungan heritage yang ada di Gresik Kota Lama atau GKL Sedangkan, Yayasan Gang Sebelah yaitu yayasan berfokus pada kerja riset, arsip dan pengembangan kebudayaan menaungi berbagai komunitas. Antara lain, Gresik Movie (komunitas film) ; Sanggar Intra (Komunitas Teater) ; Onomastika (Komunitas Musikalisasi.Puisi) ; Ruang Sastra (Komunitas Sastra).dan Rubamerah (Perpustakaan).

Anggota komunitas ini mayoritas kaum milenial dan generasi Z atau Gen-Z. Film dokumenter iu berjudul “Penutur Terakhir” Mbah Mat Kauli, Maestro Macapat Gagrak Gresik” disaksikan ratusan pasang mata. Puluhan seniman, budayawan dan pencinta kebudayaan di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik memenuhi pemutaran perdana film dokumenter yang berdurasi 33 menit itu. 

Terlihat hadir antara lain, Uman Iswahyudi, anak nomor 5 dari 10 saudara pasangan Mat Kauli dengan Supartin (almarhumah). Uman Iswahyudi terlihat berkaca-kaca menonton film yang menceritakan keseharian ayahandanya, Mat Kauli ketika masih sehat hingga kesehatan berkurang itu. 

Ketika masih sehat, sang Maestro Macapat Gagrak yang betah melek itu masih sering nembang meski menggunakan kursi roda. Memakai blankon dan baju batik. Tampak gagah. “Saya sangat terharu. Sangat tersanjung adanya film dokumenter yang dibuat oleh Gang Sebelah ini,” kata Uman Iswahyudi dengan suara lirih.

Kondisi kesehatan Mbah Mat Kauli semakin menurun setelah Supartin, belahan hati yang juga cinta pertama dan terakhir ini wafat di usia 70 tahun pada 16 Agustus 2021 lalu. Mbah Mat Kauli merasa kehilangan belahan jiwa. “Waktu masih sehat, Saya hampir setiap Jumat nyekar ke makam istri. Sekarang saya tidak bisa,” tutur mbah Mat Kauli dalam film dokumenter itu. 

Mbah Mat Kauli lahir pada 1 Mei 1931. Saat meminang Supartin, ia masih berusia 22 tahun. Saat itu, Supartin yang lahir pada 10 Mei 1942, masih berusia 12 tahun. Diceritakan dalam film dokumenter itu, Supartin jatuh cinta kepada Mat Kauli karena suara merdu. “Saat itu, ibu belum pernah bertemu dengan bapak. Jatuh cinta karena mendengar suara bapak saja,” cerita anak-anak Mbah Mat Kauli di film itu.

Pernikahan Mbah Mat Kauli dengan Suparti dikarunia 10 anak, 31 cucu dan 35 cicit. Di film dokumenter itu juga anak dan cucunya menceritakan kecintaan Mbah Mat Kauli dengan Supartin seperti cerita film layar lebar Habibie dan Ainun. B.J. Habibie adalah Presiden kelima Indonesia. Sedangkan, Hasri Ainun Besari adalah ibu negara. 

APRESIASI: Camat Gresik Jalesvie Triyatmoko didampingi Pembina Yayasan Gang Sebelah Dewi Musdalifah dan Ketua Tim pembuatan film dokumenter Qonita menyerahkan apresiasi diterima oleh
Uman Iswahyudi, anak Mbah Mat Kauli dalam acara perilisan Film dokumenter Penutur Terakhir di Kampung Kemasan, Kelurahan Pekelingan, Kecamatan/Kabupaten Gresik pada Sabtu malam, 24 Agustus 2024 ( FOTO: chusnul cahyadi/1minute.id)

Selama pernikahan mereka hidup rukun meski ekonomi keluarga tergolong pas-pasan. Untuk menafkahi keluarga, Mbah Mat Kauli bekerja di galangan kapal, PT PAL Surabaya. Mbah Mat Kauli berangkat dan pulang kerja dengan ngontel. Rumah Mbah Mat Kauli di Jalan Awikoen Jaya, Kampung Gemantar, Kelurahan Gending, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik dan tempat kerjanya di kawasan Tanjung Perak, Surabaya.yang jaraknya sekitar 12- 15 kilometeran. Waktu itu infrastruktur jalan raya tidak sebagus sekarang.

Pagi sampai sore hari kerja di pabrik. Malam hari, nembang macapat hingga dini hari. Mat Kauli mulai macapat di usia 18 tahun hingga sekarang atau 75 tahun. Kecintaan kepada seni dan budaya itu, Mbah Mat Kauli akhirnya mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi atau Kemendikbud Ristek sebagai seorang Maestro. 

Ketika menerima penghargaan itu, Supartin telah tiada. Mbah Mat Kauli merasa sangat sedih karena belahan jiwa tidak bisa menikmati jerih payah Mat Kauli mendapatkan uang tali asih hingga seumur hidupnya. Sejak tiga bulan terakhir atau tepatnya saat Idul Fitri kesehatan semakin menurun. Bahkan, kaki tidak lagi kuat menahan berat tubuhnya. Mbah Mat Kauli kini hanya bisa berbaring di tempat tidur di kamar rumah yang sederhana. 

Perilisan film dokumenter tentang Mbah Mat Kauli berjudul “Penutur Terakhir”, Maestro Macapat Gagrak, Gresik ini tidak bisa hadir. Mbah Mat Kauli diwakili anak nomor 5 bernama Uman Iswahyudi, yang pensiunan Aparatur Sipil Negara di Pemerintah Kabupaten atau Pemkab Gresik.

Ketua tim riset Film Dokumenter Penutur Terakhir, Qonita Tri mengatakan, Mbah Mat Kauli adalah pelestari Macapat Gagrak Gresik ini. “Mumpung Mbah Mat Kauli masih sehat , kita buatkan film dokumenter dengan harapan anak-anak muda bisa belajar melalui film dokumenter dan audiobooknya,” kata Qonita yang didampingi Ketua Yayasan Gang Sebelah Hidayutul Nikmah dan Bendahara perilisan film dokumenter Dewi Nastitiya Anindya usai acara kepada wartawan pada Sabtu malam, 24 Agustus 2024.

Pembuatan film dokumenter ini, kata Qonita, difasilirasi oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi atau Kemendikbud Ristek. Selama 6 bulan tim mendokumentasikan keseharian Mbah Mat Kauli, melakukan wawancara dan kerap melakukan kunjungan ke rumah mbah Mat Mauli.  “Isi dalam film ini, lebih banyak tentang Bagaimana kemaestroannya mbah Mat Kauli, kehidupan sehari-hari, mulai baca macapat sejak usia berapa hingga di usia 93 tahun ini,” katanya. “Selama 75 tahun melestarikan macapat, apa saja yang telah di terima oleh Mbah Mat Kauli,” tambahnya. 

Pesan yang ingin disampaikan dalam film dokumenter ini? Ia menyebut Macapat yang dibacakan oleh Mbah Mat Kauli berasal dari cerita serat, ada dari Babad Sindujoyo, yang menceritakan tentang fase kehidupan mulai dari kandungan sampai menuju kematian.

“Jadi ada pesan kehidupan sehari-hari bagaimana laku bagi manusia itu sendiri,” terang perempuan berhijab itu.

Rencana kedepan? Tujuan membuat film dokumenter ini selain untuk mendokumentasi juga menyebarkan ilmunya. “Kami pingin menyebarkan filmnya, audiobook ke sekolah, memutar film ke kampung dan desa-desa untuk memperkenalkan macapat kepada yang lebih luas lagi,” tegasnya. 

Selain pemutaran film,  perilisan film dokumenter dilakukan talkshow serta pemberian apresiasi Yayasan Gang Sebelah kepada Mbah Mat Kauli yang diterima oleh Uman Iswahyudi, anak kelima Mbah Mat Kauli. Acara kelar sekitar pukul 22.30 WIB. (yad)

Gang Sebelah Rilis Film Dokumenter Penutur Terakhir, Mbah Mat Kauli, Maestro Macapat Gagrak Gresik  Selengkapnya

75 Tahun Nembang, Lestarikan Budaya, Kemendikbud Ristek Berikan “Gelar” Mbah Mat Kauli Maestro Macapat 

GRESIK,1minute.id – Kesehatan mbah Mat Kauli terus menurun. Bahkan kaki maestro macapat berusia 93 tahun itu tidak bisa lagi menahan berat tubuhnya. Kakek yang memiliki 10 anak, dengan 31 cucu dan 35 cicit itu pun harus berbaring di tempat tidur di rumahnya yang sederhana di Jalan Awikoen Jaya no 31 Gemantar, Kelurahan Gending, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik. 

“Sejak Idul Fitri lalu, bapak sakit,” kata Sumiyati, 70 tahun, anak sulung dari 10 bersaudara pasangan suami istri, Mat Kauli dengan Suparti pada Rabu, 21 Agustus 2024.

Wartawan 1minute.id  secara bersamaan dengan dua siswa bernama Aqila Callysta Putri dan Senna Niswara, serta Surya Yetni, guru pembimbing dari UPT SMP Negeri 4 Gresik mengunjungi rumah mbah Mat Mauli. Kedatangan kedua siswa dan seorang pembimbing untuk melakukan pendalaman penelitian tentang macapat, kebudayaan khas di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik itu. 

Pendalaman penelitian dengan judul : Eksistensi Mocopat Ala Gresik sebagai Local Culture Education ini, setelah mereka lolos nasional ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia atau OPSI yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan,  Riset dan Teknologi atau Kemendubud Ristek 2024. Selama hampir 2 jam berbincang santai dengan  maestro Macapat Mbah Mat Kauli di kamar tidurnya yang berukuran 3×4 meter persegi itu.

Di dalam kamar itu terdapat dua buah lemari. Satu lemari pakaian bagian rak atas digunakan sebagai tempat Mbah Mat Kauli menyimpan buku-bukunya. Buku macapat itu ada yang masih menggunakan aksara Jawa kuno atau hanacaraka, dan aksara Jawa latin. Buku aksara Jawa kuno dengan cover warna hitam dan kertas sudah berwarna kuning. 

SEMANGAT: Maestro Macapat Mbah Mat Kauli yang tetap semangat ketika nembang sambil tidur di kamar tidur di rumahnya Jalan Awikoen Jaya, Gemmtar, Kelurahan Gending, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik pada Rabu, 21 Agustus 2024 ( Foto : Chusnul Cahyadi/1minute.id)

Sedangkan, buku aksara Jawa latin hasil terjemahan itu ditulis tangan oleh Mbah Mat Kauli. Selama 14 bulan Mbah Mat Kauli menyalin. Buku-buku tertata rapi. 

“Tidak komplit, ada yang dipinjam anak-anak mahasiswa yang melakukan penelitian dan belum dikembalikan,” sela Sumiyati. 

Meski kaki tidak bisa menahan berat tubuhnya,  daya ingatan Mbah Mat Kauli masih luar biasa. Di usia 93 tahun kebanyakan orang mengalami pikun, akan tetapi ingatan Mbah Mat Kauli yang mulai nembang macapat di usia 18 tahun itu masih sangat tajam. Selama 75 tahun mbah Mat Kauli nembang Macapat. 

Hanya pendengarannya mulai berkurang. Melihat ada tamu, Mbah Mat Kauli terlihat senang. Seakan menjadi “obat” bagi mbah Mat Kauli. “Matur suwun, sik diperhatikan,” katanya. Mbah Mat Kauli pun mengizinkan tamunya untuk merekam dan memotretnya.

Ia pun menceritakan tentang masa muda, hingga dinobatkan sebagai seorang maestro Macapat oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Ristek Republik Indonesia. Ia juga bercerita menjadi aktor film yang dibuat oleh Yayasan Gang Sebelah, yang berdiri sejak 2017. 

Yayasan yang berfokus pada kerja riset, arsip dan pengembangan kebudayaan menaungi berbagai komunitas. Yakni, Gresik Movie (Komunitas Film), Sanggar Intra (Komunitas Teater), Onomastika (Kelompok Musikalisasi Puisi), Ruang Sastra (Komunitas Sastra), serta Rubamerah (perpustakaan). 

“Pingin teko, tapi kondisi kesehatan seperti ini,” ujarnya. Pada usia 22 tahun mbah Mat Kauli menikah dengan Supartin yang saat itu masih berusia 12 tahun. Dari pernikahan itu, Mbah Mat Kauli dikarunia 10 anak. Tiga di antara 10 anak meninggal dunia. Supartin adalah cinta pertama dan terakhir Mbah Mat Kauli. 

Kondisi kesehatan Mbah Mat Kauli yang lahir 1 Mei 1931 menurun sejak istrinya, Supartin wafat pada 16 Agustus 2021. “Sejak ibu meninggal itu, kondisi kesehatan bapak terus menurun,” cerita Sumiyati.

Sekitar 3 bulan terakhir ini, Mbah Mat Kauli tidak bisa berjalan. Bahkan, kakinya sudah tidak bisa menahan berat tubuhnya. Mbah Mat Kauli hanya bisa berbaring di tempat tidur. Akan tetapi, Mbah Mat Kauli sangat  bersemangat ketika membang macapat. “Bagi bapak nembang macapat bagai obat yang mujarab. Bapak selalu bersemangat kalau ada yang minta nembang,” ujar Sumiyati. (yad)

75 Tahun Nembang, Lestarikan Budaya, Kemendikbud Ristek Berikan “Gelar” Mbah Mat Kauli Maestro Macapat  Selengkapnya

Pakde Noed, Budayawan Gresik Berpulang

GRESIK,1minute.id – Kabar duka menyelimuti para seniman, budayawan dan pegiat kebudayaan di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik. Haji Oemar Zainuddin, budayawan Gresik meninggal dunia badal Subuh. Kamis tadi pagi, 22 Agustus 2024.

Penulis buku ” Kota Gresik 1896-1916 : Sejarah Sosial. Budaya, dan Ekonomi” meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah atau RSUD Ibnu Sina Gresik. Pakdhe Noed-sapaan Oemar Zainuddin- meninggal di usia 84 tahun. Budayawan getol  penggagas pelestari bangunan tua atau heritage itu meninggalkan seorang istri dan empat anak. 

Seorang bercerita, pascaoperasi hernia kesehatan pakdhe Noed terus menurun. Seminggu terakhir, lelaki yang tinggal di kampung Kemasan, Kelurahan Pekelingan, Kecamatan/Kabupaten Gresik itu menjalani perawatan intensif di RS Muhammadiyah Gresik kemudian dirujuk ke RSUD Ibnu Sina Gresik Gresik. Sejumlah tokoh budayawan dan pemerhati kebudayaan khas Gresik sempat membezuknya.

Pengurus DPD Masyarakat Adat Nusantara atau Matra Gresik M. Fatih Hamdie- yang biasa disapa-Andy Buchory. Dalam postingan media sosial, meminta doa untuk kesembuhan pakdhe Noed.

Pada Rabu, 21 Agustus 2024, peengurus komunitas Gresik Heritage yang diketuai oleh Sumarga Adhi Satria dan tokoh masyarakat Ir Nizam Zuhri giliran membezuk. Pakdhe Noed terlihat semringah. Karena bisa bertemu dengan para seniman dan budayawan Gresik itu. Namun, tuhan memiliki rencana lain. Pada Kamis, 22 Agustus 2024 badal Subuh budayawan itu meninggal dunia. 

Ketua Komunitas Gresik Heritage Sumarga Adhi Satria mengaku sangat kehilangan. “Kami keluarga beser Gresik Heritage sangat kehilangan beliau,” ujar Sumarga ketika dikonfirmasi 1minute.id pada Kamis, 22 Agustus 2024.

“Beliau adalah pemangku Ketua Bidang Kebudayaan dan Tradisi di Gresik Heritage. Semoga husnul khotimah,” kata pria yang juga Kepala SMP Darus Islam atau Daris Gresik ini. Ia mengaku masih teringang pesan Pakdhe Noet sebelum meninggal dunia. Pakdhe Noed kata Sumarga saat itu berpesan “Gresik Heritage iki komunitas terakhir ku, tolong di gedek no karo dikembangkan. Ojo sampek bubar. Eson seneng seru ambek komunitas iki.

“Kami sangat tersentuh dan terpanggil untuk mewujudkan impian beliau,” ujar Sumarga dengan suara lirih.

Keturunan ketiga keluarga H. Oemar, pengusaha penyamakan kulit di era 1890-an itu pernah menjadi anggota Dewan Pendidikan Gresik, Kepala Lembaga Seni Musik Gresik, pegawai Badan Logistik atau Bulog dan Guru di SMA Negeri 1 Gresik ini kerap menjadi dewan juri dalam ajang pemilihan Duta Wisata Gresik, Cak dan Yuk Gresik. Rencana almarhum dimakankan di pemakaman Islam, Tlogo Pojok Gresik  badal Asar nanti. (yad)

Pakde Noed, Budayawan Gresik Berpulang Selengkapnya

Bupati Fandi Akhmad Yani Bacakan Puisi Pada Mu Nur”, Ratusan Pasang Mata Seakan Terhipnotis

GRESIK,1minute.id – ….//Maafkan aku yang belum bisa menjadi perangkatmu//Yang pandai menyeru nama nama kegemaranmu// Kau saja rajin memanggilku berulang-ulang// Mengingatku untuk bersiap pulang//Semoga kau sudi merawat rindu ini dalam diriku// Dan selamatkan aku dari rasa rindu// Yang tak bermuara padamu//.

Itu beberapa bait puisi berjudul “Pada Mu Nur” karya Panji Sakti yang dibacakan oleh Bupati Gresik Fandi Akhmad di Gedung Nasional Indonesia pada Kamis malam, 15 Agustus 2024. Dengan diiringi gitar, Gus Yani-sapaan akrab-Bupati Fandi Akhmad Yani yang memakai sarung, dan kopyah itu terlihat menghayati tatkala membacakan puisi itu saat menghadiri Festival Musikalisasi Puisi Gresik 2024. 

Kegiatan berkesenian merayakan HUT ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia itu dihelat oleh Dewan Kebudayaan Gresik atau Gresik berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga alias Disparekrabudpora Gresik. 

Gus Yani menyampaikan pesan pentingnya budaya membaca dan menulis bagi generasi muda. “Membaca adalah fondasi utama dalam menciptakan karya tulis yang berkualitas. Saya berharap, semangat membaca dan menulis ini dapat menjadi bagian dari keseharian anak-anak kita,” ujar Gus Yani.

Sementara itu, Penyair Panji Sakti mengaku, baru kali ini lagu “Pada Mu Nur” berkolaborasi dengan orang lain dan langsung berduet dengan Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani. 

“Terima kasih sudah membacakan puisi ini. Puisi ini bikinnya tadi siang mendadak. Gresik ini bikin ide-ide saya tokcer, apa mungkin karena makanannya yang enak ya,” ujar Panji Sakti saat menyampaikan rasa kagumnya terhadap kota ini, terutama pada kulinernya.

Festival Musikalisasi Puisi Gresik 2024 bukan hanya sekadar ajang kompetisi, melainkan juga momen untuk merayakan kreativitas dan semangat literasi serta keindahan karya sastra di tengah masyarakat Gresik. Kompetisi musikalisasi puisi tersebut diikuti oleh 30 kelompok pelajar tingkat SMP dan SMA se-Kabupaten Gresik. 

Mereka berlomba memperebutkan Piala Bupati Gresik. Setelah melalui proses seleksi ketat di tiga wilayah utara, tengah, dan selatan, maka sembilan finalis terbaik tampil di babak final pada 13-14 Agustus 2024. Juara pertama kategori SMP berhasil direbut oleh UPT SMP Negeri 26 Gresik ; kategori SMA diraih SMA Muhammadiyah 1 Gresik. (yad)

Bupati Fandi Akhmad Yani Bacakan Puisi Pada Mu Nur”, Ratusan Pasang Mata Seakan Terhipnotis Selengkapnya

DPW Kukuhkan Pengurus DPD Matra Gresik, Adat dan Budaya Gresik Keren

GRESIK,1minute.id – Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Masyarakat Adat Nusantara atau DPD Matra Gresik dikukuhkan di Pendapa Bupati Gresik pada Ahad, 11 Agustus 2024.

Yang mrngukuhkan kepengurusan dibawah kepemimpinan M. Fatih Hamdie- yang biasa disapa-Andy Buchory ini adalah Ketua DPW MATRA Jawa Timur Kanjeng Pangeran Panji Sri Putro Jowo atau KPP Cristian Sabilal Pussung Ciptonegoro. DPD Matra Gresik adalah kepengurusan ke-12 terbentuk di Jawa Timur. 

Matra sendiri merupakan organisasi adat dan budaya tingkat regional, dimana para anggotanya terdiri dari kerajaan, kesultanan, lembaga adat, akademisi, budayawan, seniman masyarakat umum, dan sebagainya. 

Pengukuhan pengurus DPD MATRA Gresik dihadiri puluhan “darah biru” atau keturunan  raja atau sultan dari berbagai daerah di Jawa, Madura hingga Bali. Pemkab Gresik diwakili oleh Sekretaris Daerah atau Sekda Gresik Achmad Washil Miftachul Rachman.

Achmad Washil Miftachul Rachman menuturkan, Gresik memiliki sejarah panjang yang patut dilestarikan. Di era kerajaan Hayam Wuruk, di salah satu prasasti yang tertulis di Gresik Utara adalah pusat ekonomi gerabah dan palawija. “Gresik juga pusat persebaran agama Islam dimulai prasasti Siti Fatimah binti Maimun, Sunan Maulana Malik kemudian Sunan Giri,” kata Washil dalam sambutannya. 

Lalu ada Kanjeng Raden Tumenggung Poesponegoro, Bupati Gresik dan di utara terdapat Kanjeng Sepuh. Pemerintah Kabupaten atau Pemkab Gresik, kata Washil, memiliki spirit untuk mempertahankan peninggalan lama. Termasuk kawasan di Bandar Grissee yang berada di Gresik Kota Lama. “Spirit kita melestarikan kota lama,” ujarnya. 

Untuk mengetahui sejarah Gresik, imbuhnya, pihaknya telah mendapatkan salinan menuskrip dari museum yang ada Belanda, Museum Volkenkunde di Kota Leiden, Belanda. “Kita akan terjemahkan tentang posisi Gresik,” katanya. Ia pun berharap Matra bisa berkolaborasi dengan Pemkab Gresik. “Program (Matra) bisa menjadi yang terdepan di Jawa Timur,” harap Washil.

Sementara itu, Ketua DPW Matra Jatim KPP Cristian Sabilal Pussung Ciptonegoro menyatakan, pihaknya mendorong kepada pengurus Matra Gresik untuk mengedepankan kolaborasi dengan semua pihak. Terutama kepada Pemkab Gresik. 

Mengapa? Karena Gresik memiliki budaya dan adat yang keren. Ia mencontohkan para wali, Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri dalam menyebarkan agama Islam yang berbaur dengan adat dan kebudayaan setempat. 

“Saya harapkan pengurus DPD Matra Gresik mengenalkan kebudayaan dan keadatan kepada anak muda,” katanya.  Cristian Sabilal Pussung Ciptonegoro mengaku dirinya sedang risau. Sebab, nasionalisme generasi(Gen) Z terus menurun karena mereka lebih mempelajari dan meniru gaya orang asing. 

“Nasionalisme generasi Z terus menurun yang semula hanya 5 persen sekarang turun menjadi 2,5 persen artinya mereka kurang bernasionalisme dengan bangsanya sendiri karena mereka mempelajari dan bergaya seperti orang asing,” tegasnya. 

Ia pun berharap untuk Gen-Z di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik ini harus bangga dengan adat dan kebudayaan. “Untuk Gresik ini, pemuda dan pemudinya harue bangga dan mencintai berperilaku dan budaya yang tidak melanggar agama kita sebagai orang muslim,” pesan Kanjeng Pangeran Panji Cristian Sabilal Pussung Ciptonegoro. (yad)

DPW Kukuhkan Pengurus DPD Matra Gresik, Adat dan Budaya Gresik Keren Selengkapnya

Museum Kanjeng Sepuh Sidayu Resmi Dibuka, Ini Harapan Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani 

GRESIK,1minute.id – “Dari Sejarah kita bisa belajar kejayaan masa lampau. Dari sejarah pula kita bisa melihat sebab kehancuran Bangsa-Bangsa yang.besar“. Gus Yani, 2 Agustus 2024.

Kanjeng Sepuh bisa menjadi inspirasi masyarakat sekarang untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi yang lain”. Aminatun Habibah.

Terimakasih kami sebagai keturunan Kanjeng Sepuh sangat berharap semua peninggalan beliau akan membawa manfaat bagi masyarakat Sidayu & Gresik”. Agni Tripratiwi, dari Generasi ke4 Kanjeng Sepuh.

Semoga dengan disiapkan museum Eyang Buyut Badroen, RAA Soeroadiningrat dapat diteladani Jiwa Kepemimpinan bagi masyarakat Sedayu pd umumnya khususnya cucu, cicitnya beliau” Raha Willy Soedjono, Cicit Eyang Buyut Bradoen.

Masyarakat di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik memiliki banyak alternatif belajar sejarah lokal. Selain museum Sunan Giri. Kini, masyarakat bisa belajar sejarah tentang keteladanan Kanjeng Sepuh. 

Menurut Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani atau Gus Yani, pembukaan museum Kanjeng Sepuh ini bukan hanya sekadar proyek pembangunan infrastruktur. Tetapi merupakan wujud nyata dari komitmen kita bersama untuk menjaga dan merawat identitas serta kebudayaan lokal.

“Nantinya, museum ini dapat menanamkan pengertian kepada generasi muda. Bahwa museum adalah tempat inspirasi dari masa lalu untuk masa depan,” ujar Gus Yani saat meresmikan Museum Kanjeng Sepuh yang berada di Desa Mriyunan, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik pada Jumat, 2 Agustus 2024.

Gus Yani didampingi Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah mengharapkan museum Kanjeng Sepuh Sidayu menjadi salah satu jujugan wisata edukasi masyarakat. Kita tidak boleh melupakan sejarah, karya maupun tulisan para pendahulu kita. 

“Dari sejarah kita bisa belajar tentang kejayaan masa lampau. Dari sejarah pula kita bisa melihat sebab kehancuran bangsa bangsa yang besar,” ungkapnya. 

Harapan orang nomor satu di Kota Santri itu, musem Kanjeng Sepuh menjadi jujugan wisatawan bukan tanpa alasan. Pasalnya, dalam waktu dekat ini, Kawasan Sidayu akan dilalui moda transportasi massal yakni Trans Jatim. Koridor baru yang digagas oleh Pemerintah Provinsi atau Pemprov Jawa Timur yang akan beroperasi melintasi wilayah Pantura Gresik Sidayu. 

Dengan transportasi yang murah dan aman mudah-mudahan bisa menarik wisata untuk berkunjung ke museum Kanjeng Sepuh. “Artinya destinasi wisata ini akan terintegrasi dengan museum Art Digital yang ada di Kecamatan Balongpanggang,” kata Gus Yani. 

Selain itu, Gus Yani juga mengajak satuan pendidikan untuk bisa memanfaatkan museum sejarah Kanjeng Sepuh Sidayu maupun museum Art Digital yang berada di kompleks  masjid KH Robbach Ma’sum yang ada di Kecamatan Balongpanggang.

“Partisipasi sekolah yang ada di Kabupaten Gresik bisa memanfaatkan dengan mengajak anak didiknya untuk berkunjung ke museum Kanjeng Sepuh dan museum Art Digital yang ada di Balongpanggang,” ucapnya. 

Dirinya juga mengajak seluruh masyarakat untuk turut serta menjaga dan merawat museum tersebut dengan baik. Serta memanfaatkan sebagai pusat kegiatan budaya dan edukasi. “Semoga museum ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi kita semua dan menjadi kebanggaan sekaligus identitas Kabupaten Gresik,” pungkasnya. 

Pada kesempatan itu, Bupati Fandi Akhmad Yani bersama Wabup Aminatun Habibah melihat satu persatu benda pusaka peninggalan Kanjeng Sepuh Sidayu. 

Nama asli Kanjeng Sepuh adalah Raden Adipati Soeryodiningrat. Kanjeng Sepuh adalah salah satu bupati di Kabupaten Sedayu. Kanjeng Sepuh tersohor lantaran beliau adalah seorang ulama. Disamping itu beliau juga memiliki leadership yang tinggi. Ketulusannya untuk selalu memihak pada yang lemah, dan selalu dekat dengan rakyat kecil itulah yang membuat Kanjeng Sepuh sangat dicintai rakyatnya. (yad)

Museum Kanjeng Sepuh Sidayu Resmi Dibuka, Ini Harapan Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani  Selengkapnya

Ini Tradisi Malam Likuran Ramadan di Gresik 

GRESIK,1minute.id – Bulan suci Ramadan telah memasuki sepuluh hari ketiga atau malam likuran. Malam selikur ( malam 21 Ramadan), lorekur (22 Ramadan), telulikur (23 Ramadan)  sampai sangolikur (29 Ramadan). Di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik di malam likuran Ramadan banyak event budaya yang paling di tunggu-tunggu oleh masyarakat Gresik dan se-Jawa Timur. Bahkan, di Indonesia.

Penasaran apa saja event malam likuran Ramadan itu? Kita mulai dari malam 23 Ramadan ada tradisi Kolak Ayam, Sanggring di Desa Gumeno, Kecamatan Manyar; malam 25 Ramadan, tradisi ngalap berkah ke makam Waliyullah, Sunan Giri di Bukit Giri, Kecamatan Kebomas dan malam 27 Ramadan adalah Pasar Bandeng dan Kontes Bandeng Kawak di sepanjang Jalan H. Samanhudi sampai Jalan KH Wachid Hasyim, Kecamatan Gresik. Seperti apa tradisi itu ?

KOLAK AYAM : Daging ayam yang telah siap untuk disantap berbuka puasa bersama di Masjid Jamik Sunan Dalem di Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik dalam tradisi Sanggring Kolak Ayam digelar setiap 23 Ramadan ( Foto Dokumen: Chusnul Cahyadi/1minute.id)

1. SANGGRING KOLAK AYAM 

Juru Masak Semua Lelaki, Dinyakini Bisa Menjadi Obat Segera Penyakit

BILA Anda belum pernah merasakan Kolak Ayam datang dan buka bersama di Masjid Jamik Sunan Dalem di Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik pada malam 23 Ramadan atau Selasa besok, 2 April 2024. Tahun ini, panitia tradisi turun temurun itu memasuki ke-499 tahun, mulai 946 hijriah sampai 1445 hijriah itu memotong lebih dari 250 ekor ayam. 

Ratusan ekor ayam kampung pilihan yang di masak oleh “koki-koki” hebat dan semuanya berjenis kelamin laki-laki nantinya distribusi kepada masyarakat desa setempat juga sebagaian untuk berbuka puasa bersama bagi warga luar desa. “Sanggring Kolak Ayam tahun ini akan lebih meriah karena menyongsong 5 abad,” ujar Ketua Panitia Semarak Menyongsong 5 Abad Sanggring Gumeno, Didik Wahyudi melalui pesat Whatsapp pada Senin, 1 April 2024 malam.

Sejumlah kegiatan telah dilakukan, antara lain, Festival Banjari Semarak Sanggring ke-499 tahun. Dan, Semarak Menyongsong 5 Abad Sanggring Gumeno “Bersama Kita Lestarikan” Sanggring Kolak Ayam ke-499 tahun. Sanggring Kolak Ayam Gumeno ini, pada 2019 tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia ini. 

Sanggring Kolak Ayam? Sanggring adalah masakan berkuah yang berbahan utama daging ayam yang dimasak dengan cara khusus. Cara khusus yakni kolak dengan campuran rempah-rempah disuguhkan untuk menu berbuka puasa. Semua jamaah. Dan, masyarakat setempat. Bagi masyarakat setempat menyakini mengonsumsi kolak ayam yang dimasak oleh juru masak semuannya laki-laki bisa mengobati segala jenis penyakit. Uniknya lagi, wadah kolak ini bukan baskom. Tapi, masyarakat desa setempat membawa wadah ember. Untuk kuah dan ramuan rempah atau Sanggring.

EMBER WADAH KUAH : Daging ayam dimasukkan dalam wadah ember kemudian ditambahu kuah yang juru masak semuannya lelaki pada tradisi Sanggring Kolak Ayam di Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik ( Foto dokumen: Chusnul Cahyadi/1minute.id)

Mengutip dari buku “Grissee Kota Bandar” Kolak ayam atau Sanggring, tradisi ratusan tahun ini telah tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2019. Kolak ayam Desa Gumeno rasanya gurih legit dengan isian ayam kampung di dalamnya. Makanan inilah yang menjadi ikon tradisi ini. Awalnya, kolak ayam berfungsi sebagai obat. 

Menurut kisahnya, tradisi ini bermula ketika Sunan Dalem bernama lengkap Syekh Maulana Zaenal Abidin, berdakwah di Desa Gumeno pada 1540 Masehi. Putra pertama dari Sunan Giri (Sunan Maulana Ainul Yaqin) ini mendirikan sebuah masjid di desa tersebut. Tak lama usai membangun masjid, Sunan Dalem jatuh sakit.

Kabar sakitnya Sang Wali ini cukup membuat para santri dan penduduk terkejut sehingga mereka menandai peristiwa ini dengan sebutan Sanggring, berasal dari kata ‘Sang’ (raja, pemimpin) dan ‘Gering’ (sakit). Sakitnya Sang Wali selama beberapa waktu membuat para santri dan penduduk bingung mencari obat penyembuhnya. Hingga pada 22 Ramadan 946 Hijriah, sebuah mimpi menghampiri Sunan Dalem. 

Dalam mimpi itu beliau mendapatkan petunjuk tentang obat penyakitnya, yakni harus memakan sebuah makanan dengan ayam jago berusia muda sebagai salah satu syarat utama bahan masakan. Sunan Dalem lantas mengutus para lelaki untuk mempersiapkan bumbu-bumbu masakannya, yakni daun bawang merah, gula jawa, jintan, dan santan. Sementara itu para santri mencarikan ayam jago muda.

Gelaran masak besar kolak ayam ini kemudian menjadi tradisi bagi warga Desa Gumeno sampai sekarang. Tradisi Kolak Ayam selalu dilaksanakan di Masjid Jami’ Sunan Dalem Desa Gumeno yang dimulai pukul 16.00 WIB. Berkat tradisi ini pula warga Desa Gumeno dan warga dari kampung lainnya menjadi semakin erat silaturahminya. (yad/bersambung)

Ini Tradisi Malam Likuran Ramadan di Gresik  Selengkapnya

Hujan, Perayaan Imlek di Gresik Khidmat

GRESIK,1minute.id – Perayaan Tahun Baru Imlek 2575 Kongzili atau 2024 di Gresik berlangsung khidmat. Puluhan warga Tionghoa merayakan pergantian tahun dengan melakukan sembayang di Klenteng Kim Hin Kiong Gresik pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari, 9-10 Februari 2024 . Tidak ada pesta kembang api, kesenian Barongsai dan  Wayang Potehi dalam menyambut pergantian tahun menuju Sio Naga Kayu tersebut. 

Hujan deras yang mengguyur Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik ini dianggap sebagai berkah bagi umat Tridharma. Mereka berdoa untuk keselamatan Bangsa yang bakal menggelar hajatan 5 tahunan, Pemilihan Umum, 14 Februari 2024. Keharmonisan dalam rumah tangga maupun masyarakat termasuk negara. “Karena menjelang Pemilu, kami menggelar Imlek secara sederhana. Hanya sembayang dan berdoa bersama,” kata seorang pengurus Tempat Ibadat Tri Dharma (TITD) Kim Hin Kiong pada Sabtu, 10 Februari 2024.

Dalam pantauan wartawan 1minute.id pada Sabtu pagi ini, kelenteng berada di Jalan Setia Budi, Desa Pulupancikan, Kecamatan/Kabupaten Gresik masih terlihat ada beberapa orang yang sedang melakukan sembayang. Mereka melakukan ritual berdoa sendiri-sendiri. “Tadi malam, Saya tidak bisa ikut sembayang bersama. Rumah saya bocor,” ujar seorang warga usai sembayang di kelenteng yang berdiri sejak 1 Agustus 1153 masehi atau 871 tahun itu. 

Meski sembayang sendiri, mereka terlihat khusyuk. “Selain berdoa untuk kedamaian. Kami juga berdoa untuk keluarga dan pribadi agar diberikan seger waras (sehat),” ujarnya.

Menurut Chen, salah satu warga Tionghoa, Dalam merayakan Tahun Baru Imlek ada tradisi turun temurun yang masih dipertahankannya. Diantaranya, tidak boleh bersih-bersih rumah hingga mandi keramas. Bersih-bersih rumah, katanya, dilakukan sebelum Imlek. “Kalau hari ini (Tahun Baru Imlek) kami tidak boleh bersih-bersih rumah bahkan keramas pun tidak dianjurkan tidak dilakukan,” katanya.  Ada keyakinan, membersihkan sampah di rumah pada Imlek adalah menolak rezeki. “Karena ini sudah turun temurun sehingga saya mempercayai,” katanya. 

Kelenteng Kim Hin Kiong ini berada di Kampung Arab yang dekat dengan Pelabuhan Gresik. Ada ratusan rupang para dewa yang mereka hormati. Rupang dewa yang paling dihormati diantaranya, Mak Co Thian Sang Sing Bo atau Dewi dan Dewi Kwan in. Rupang Dewa Mak Co Thian Sang Sing Bo diletakkan di bagian tengah altar. Mak Co Thian Sang Sing Bo  adalah Dewi Laut. (yad)

Hujan, Perayaan Imlek di Gresik Khidmat Selengkapnya