Air Telaga untuk MCK, Air Isi Ulang Buat Minum dan Nyuci Baju Warna Putih Gunakan Air Sumur. Warga Gresik Atasi Krisis Air Bersih

GRESIK, 1minute.id – Krisis air bersih mulai dirasakan masyarakat Gresik. Untuk mencukupi mandi, cuci dan kakus (MCK) masyarakat melakukan berbagai cara. Bagi masyarakat ekonomi menengah atas memilih beli air tangki. Sebaliknya, ekonomi kurang mampu memilih ngangsu di telaga desa.

Sumardi, diantaranya. Lelaki 60 tahun itu harus bolak-balik dari rumah ke telaga desa untuk mengambil air. Menggunakan sepeda angin, kakek dua cuci meletakkan dua jerigen di samping kiri dan kanannya. 
“Itu rumah saya terlihat dari sini,”kata lelaki yang tinggal di Dusun Terangbangi, Desa Kandangan, Kecamatan Cerme ditemui 1minute.id, Kamis 9 Oktober 2020.

AIR untuk MCK : Sumardi, 60, warga Dusun Terongbangi, Desa Kandangan, Kecamatan Cerme mengambil aie di telaga dusun, Jumat 9 Oktober 2020 ( foto : chusnul cahyadi /1minute.id )

Sumardi ambil air telaga berwarna kehijauan itu, sehari dua kali. Pagi dan sore hari. “Buat mandi saja,”kata pensiunan pekerja pabrik perlengkapan otomotif itu. Bagi Sumardi dan sebagian masyarakat Dusun Terongbangi aktivitas mengambil air bersih itu rutinitas tahunan di musim kemarau.

“Kalo beli air tangki dari sumur ukuran 5 ribu liter Rp 130-an ribu. Yo, sangat berat,”kata Sumardi yang juga buruh tani ini.
Air telaga dusun ini hanya bisa digunakan MCK. Tapi, Sumardi membahkan, untuk mencuci pakaian putih tidak menggunakan air telaga itu. “Klambi putih iso mangkak (warna memudar kekuningan),”katanya.

Bagaimana dengan minum? Dia mengaku menggunakan air isi ulang. Ada tiga jenis digunakan Sumardi dan sebagian masyarakat Dusun Terongbangi itu. Tiga jenis air adalah air minum menggunakan air isi ulang ; MCK menggunakan air telaga. Kemudian mencuci pakaian putih menggunakan air sumur.

Krisis Air Bersih : Warga Desa Kandangan, Kecamatan Cerme, Gresik mengambil air di telaga desa, Jumat 9 Oktober 2020 ( foto : chusnul cahyadi /1minute.id )

Dalam pengamatan 1minute.id, Desa Kandangan ini memiliki dua telaga. Setiap pagi dan sore hari, dua telaga terletak di pinggir jalan kabupaten menghubungkan Cerme dengan Benjeng itu hilir mudik masyarakat untuk mengambil air telaga. Ada menggunakan geledekan berisi delapan jerigebln ; menggunakan sepeda motor dan ngonthel. 

Camat Cerme Suyono dikonfirmasi mengaku belum menerima laporan dari desa-desa terkait krisis air bersih yang dialami warganya. “Sampai saat ini (Kamis malam), belum ada desa yang melaporkan krisis air bersih.

Seperti diberitakan 1minute.id sebelumnya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gresik memprediksi 71 desa tersebar di 13 kecamatan di Gresik mengalami krisis air bersih. Krisis air bersih terjadi karena musim kemarau panjang. (*)

Air Telaga untuk MCK, Air Isi Ulang Buat Minum dan Nyuci Baju Warna Putih Gunakan Air Sumur. Warga Gresik Atasi Krisis Air Bersih Selengkapnya

Tidak Ada Biaya Perawatan, DLH Tetap Operasional Kontainer Sampah Bolong-Bolong

GRESIK,1minute.id – Sampah kota masih menjadi problem bagi Pemkab Gresik. Apalagi, sarana dan prasaran untuk mengangkut sampah rumah tangga menuju tempat pembuangan sampah akhir (TPA) sangat minim.

Akibatnya, kontainer bolong-bolong tetap harus dioperasikan untuk mengangkut sampah rumah tangga yang mencapai 150 meter kubik hingga 200 meter kubik per hari.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik Mokh Najikh mengatakan, masa pandemi korona volume sampah rumah tangga di kota berpenduduk 1,3 juta tidak mengalami kenaikkan signifikan. “Volume masih fluktuatif antara 150 hingga 200 meter kubik per harinya,”kata Najikh kepada 1minute.id, Rabu 30 September 2020.

Untuk mengangkut ratusan kubik sampah itu, DLH mengerahkan 35 unit armada untuk mengangkut sampah. Sedangkan, jumlah kontainer sampah ditempatkan berjumlah 125 unit kontainer.  “Petugas DLH untuk mengangkut sampah di wilayah Driyorejo berangkat pukul 01.00,”ujar mantan Sekretaris Dewan (Sekwan) Gresik itu. “Biasanya dua rit (pergi dan pulang),” imbuhnya.

BERLUBANG : Kontainer sampah ketika melintas di Jalan Sumatera, Kompleks Perumahan Gresik Kota Baru ( foto : chusnul cahyadi / 1minute.id )

Akan tetapi, bila pengangkutan terlambat karena terjebak kemacetan atau lainnya, hanya sekali rit. Selama ini, tidak ada kendala pengangkutan sampah dari tempat penampungan sementara (TPS) menuju TPA. “Meski sarana dan prasarana terbatas,”katanya. DLH mengerahkan semua potensi, termasuk mengoperasikan kontainer bolong-bolong untuk mengangkut sampah. “Karena memang tidak ada anggaran untuk perbaikan,”ujar mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Gresik itu.

Pengoperasian kontainer penuh “ventilisi” itu tetap dilakukan karena jumlan kontainer terbatas. Najikh jumlah kontainer sampah baru 125 unit termasuk hasil pengadaan dua tahun belakangan ini. Tahun lalu, ada pengadaan kontainer 16 unit. Sedangkan, tahun ini hany empat unit. “Secara idealnya, membutuhkan tambahan 40-unit kontainer baru,”kata Najikh.

BEROPERASI : Minimnya biaya perawatan DLH Gresik tetap mengoperasikan kontainer berlubang mengakut sampah rumah tangga di Gresik ( chusnul cahyadi / 1minute.id )

Pandemi korona membuat rencana pengadaan 40-an unit kontainer yang telah mendapatkan lampu hijau harus minggir terlebih dahulu. Padahal usia kontainer sampah 2-3 tahun sudah korotif. “Air lindi sampah sangat korotif,”tegasnya. Ditambah tidak ada biaya perawatan sehingga kontainer penuh “jendela” pun harus dioperasikan.

Wartawan 1minute.id dua kali menjumpai kontainer sampah lalang di perkotaan Gresik. Tepatnya, saat melintas di Jalan DR Wahidin Sudirohusodo, lalu Jalan Sumatera, Kompleks Perumahan Gresik Kota Baru.
Kontainer penuh sampah. Ketika melintasi jalan bergelombang atau polisi tidur sampah tumpah di jalan raya. Truk kontainer sampah terus melaju, sampah tertinggal di jalan raya. 

Najikh mengatakan, untuk menyiasati tidak adanya biaya perawatan itu, DLH Gresik menjalani kerjasama dengan sekolah menengah kejuruan yang memiliki jurusan las. “Kami gandeng siswa SMK untuk proses perbaikan kontainer,”ujarnya. (*)

Tidak Ada Biaya Perawatan, DLH Tetap Operasional Kontainer Sampah Bolong-Bolong Selengkapnya

Ribuan Jiwa Tersebar di 13 Kecamatan di GresikTerancam Krisis Air Bersih

GRESIK, 1minute.id – Kemarau panjang mulai terdampak terhadap masyarakat Kota Santri. Berdasarkan perkiraan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Gresik sekitar 71 desa tersebar di 13 kecamatan mulai kesulitan air bersih. 

Menurut Kepala BPBD Gresik Tarso Sagito, saat ini baru empat desa di Kecamatan Bungah telah bersurat untuk meminta bantuan droping air bersih. “Kami masih belum memutuskan jadwal droping air bersih,”kata Tarso dikonfirmasi 1minute.id, Selasa, 29 September 2020.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPDB Gresik Mimi Erna menambahkan, selain empat desa di Kecamatan Bungah itu. Sejumlah desa lainnya di kecamatan Kedamean, Balongpanggang dan Benjeng telah meminta bantuan droping air. “Tapi, permintaan bantuan air bersih itu masih melalui WhatsApp. Surat resmi belum kami terima,”kata Erna.

Warga Dusun Terongbangi, Desa Kandangan, Kecamatan Cerme ketika mengambil air di telaga dusun, 27 September 2018. ( foto dokumen chusnul cahyadi/1minute.id )

Berdasarkan perkiraan badan meteorologi, geofisika dan klimatologi (BMKG) Surabaya musim kemarau diperikan masih terjadi antara Oktober hingga November 2020. Kemarau panjang ini membuat ribuan jiwa masyarakat di Kota Santri terancam krisis air bersih. 

BPBD Gresik memperkirakan, musim kemarau panjang berimbas terjadinya krisis air bersih ini akan berdampak pada ribuan jiwa warga Gresik. Perkiraan BPBD ada 13 dari 18 Kecamatan di Gresik yang bakal mengalami kesulitan air bersih. 

Puluhan kecamatan itu diantaranya di Kecamatan Balongpanggang, Benjeng dan Cerme. Kemudian, Duduksampeyan, Kedamean, dan Menganti. Selanjutnya,  Sidayu, Bungah, Manyar dan Panceng.
“Kami belum bergerak untuk melakukan droping air. Biasanya, kalau sudah lima (kecamatan) baru bergerak (droping air),”tegas Erna. (*)

Ribuan Jiwa Tersebar di 13 Kecamatan di GresikTerancam Krisis Air Bersih Selengkapnya

Selama 547 Tahun, Telaga Pegat Dibangun Sunan Giri. Musim Kemarau Air Tidak Pernah Surut

MUSIM kemarau diperkirakan masih akan berakhir antara Oktober hingga November 2020. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gresik mencatat ada empat desa mulai terdampak kemarau, Selasa 29 September 2020. Bagaimana kondisi Telaga Pegat yang dibangun Sunan Giri pada 1473 Masehi atau 547 tahun silam. 

SEGAR : Sejak Dibangun Sunan Giri 547 tahun silam. Air telaga ini musim kemarau tidak pernah surut ( foto : chusnul cahyadi / 1minute.id )

TELAGA Pegat (berarti pisah atau cerai) dikenal warga Kota Giri sebagai cagar budaya yang dibuat Sunan Giri. Berdasarkan prasasti di tembok telaga ini pembuatannya dilangsungkan pada 1473 Masehi.
Tempat penampungan air tersebut dibuat Kanjeng Sunan Giri lantaran enggan memisahkan dua gunung. Yakni, Gunung Patireman dan Gunung Mbah Agung (Bagong).

Tetenger : Pembangunan Telaga Pegat di pintu masuk tempat pemandian. ( foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

Kini telaga di Jalan Raya Sunan Giri, Kecamatan Kebomas, itu masih difungsikan untuk mandi dan mencuci pakaian. Menurut legenda, bila beruntung, Anda bisa mengintip bidadari Giri yang sedang mandi. Hehehe. Apalagi, tempat mandinya berupa bilik tanpa atap penutup.

Tidak ada literatur ilmiah bagaimana cara Maulana Ainul Yaqin atau Sunan Giri membuat Telaga Pegat. Sebab, saat itu belum ada alat berat. Yang unik, selama lebih dari lima abad air telaga dengan pagar tembok setinggi 2 meter dan membentuk huruf L tersebut tidak pernah kering. Meski musim panas.

Sejumlah sumber menyebutkan, Sunan Giri membuat Telaga Pegat untuk kebutuhan para santri yang mondok di Giri Kedaton. Jumlahnya ribuan. Asal mereka pun bukan hanya dari dalam negeri, tetapi sampai mancanegara. (bersambung/chusnul cahyadi /1minute.id)

Selama 547 Tahun, Telaga Pegat Dibangun Sunan Giri. Musim Kemarau Air Tidak Pernah Surut Selengkapnya

SIG Hijaukan Green Belt Semen Tuban dengan Tanam Anggur, Lengkeng dan Jeruk

TUBAN,1minute.id – Green belt PT Semen Tuban terlihat seperti kebun tanaman buah. Seperti, lengkeng, anggur dan jeruk. Buah-buahan itu tumbuh subur di area seluas satu hektare berlokasi di Desa Tlogowaru, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban.

Budidaya tanaman produktif itu digagas PT Semen Indonesia Tbk (SIG) bekerjasama dengan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) Kementerian Pertanian dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Kabupaten Tuban.

Budidaya tanaman ini melibatkan 50 petani green belt (sabuk hijau) setempat.
Kawan, salah satu petani green belt binaan SIG, mengaku senang bisa belajar menanam tiga jenis tanaman buah tersebut. Apalagi didampingi langsung tim dari Balitjestro yang datang ke Tuban tiap satu atau dua bulan sekali. 

“Perawatan tanaman buah ini memang agak rumit, tapi karena didampingi, ya lama-lama bisa juga,”kata Kawan sambil tersenyum. “Kami diajari mulai cara menanam, pemupukan, pendangiran, sampai panen nanti,”imbuhnya.

Peneliti Ahli Madya Balitjestro Kementerian Pertanian RI Anang Triwiratno mengatakan, SIG memiliki kekayaan alam luar biasa berupa tanah subur di lahan green belt dan kawasan tambang yang berpotensi untuk membudidayakan tanaman buah. 

SENYUM : Kawan, petani green belt binaan SIG.

Sejak 2019 kami bekerja sama dengan SIG dalam bentuk pendampingan teknologi inovatif, pengembangan tanaman berkelanjutan dengan memberikan 12 ribu bibit buah. Serta cara pembuatan demplot, pelatihan, pembinaan kelembagaan, dan asistensi pertanaman bagi petani green belt.

“Hingga saat ini tanaman yang di tanam oleh petani tumbuh dan berkembang dengan baik, bahkan ada yang diatas rata-rata,”kata Anang Triwiranto.

Anang Triwiratno berharap panen petani green belt berupa jeruk, anggur dan lengkeng dapat menjadi produk unggulan Kota Tuban. “Budidaya tanaman buah ini selain dapat meningkatkan produktifitas kawasan lahan tambang dan green belt juga dapat menambah penghasilan bagi para petani,”ujar Anang Triwiratno.

Sementara itu, General Manager of Mining & Raw Material SIG Musiran, mengatakan, setelah dilakukan penelitian, Tim Balitjestro menilai lahan green belt Pabrik Tuban cocok untuk ditanami jeruk, anggur dan lengkeng. 

Tiga jenis tanaman itu dipilih, tambah Musiran, karena masih jarang dibudidayakan di Tuban, terutama jeruk dan anggur. “Total yang telah ditanam di kawasan tambang sebanyak 10 ribu pohon yang tersebar di area green belt,”ujarnya.

“Sebagian lagi, ditanam di area demplot sebanyak 142 bibit anggur, yaitu jenis Jestro AG-86, Prabu Bestari, Jan Ethes SP1, dan Probolinggo Biru. Serta 60 bibit lengkeng jenis kateki, 127 bibit jeruk keprok Madura dan keprok tejakula,”jelas Musiran. (*)

SIG Hijaukan Green Belt Semen Tuban dengan Tanam Anggur, Lengkeng dan Jeruk Selengkapnya

Mancing, Gerah Kepanasan Nyebur Kali Lamong. Bocah 8 Tahun Terseret Arus, Ditemukan Tersangkut Jaring Nelayan

GRESIK,1minute.id – Ibnu ditemukan mengambang di aliran Kali Lamong di Desa Segoromadu, Kecamatan Kebomas, Gresik, Rabu, 23 September 2020.

Bocah 8 tahun itu ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Ibnu dilaporkan terseret arus dan tenggelam sekitar pukul 14.15. Ditemukan pukul 17.30 Ibnu ditemukan mengambang. Bocah asal Desa Segoromadu, itu meninggal dunia. 

Informasi yang dihimpun Rabu, 23 September 2020 sekitar pukul 14.10 Ibnu pergi memancing di aliran Kali Lamong di desanya Segoromadu, Kebomas. Bocah 8 tahun itu mancing bersama tiga teman sebayanya. Siang itu cuaca Gresik terasa panas.

Ibnu dan tiga temannya gerah. Mereka pun nyebur di aliran Kali Lamong itu. Di duga pusaran air Kali kuat. Ibnu yang pandai berenang itu kehabisan tenaga sebelum sampai pinggir Kali. Tubuh Ibnu terseret arus kemudian tenggelam.

MENJARING : Masyarakat Desa Segoromadu, Kecamatan Kebomas, Gresik melakukan pencarian anak tenggelam menggunakan jaring di aliran Kali Lamong, Rabu, 23 September 2020. (foto : istimewa)

Mengetahui Ibnu tidak muncul ke permukaan. ketiga teman Ibnu kemudian lari minta tolong kepada warga kampung. Kabar tenggelamnya Ibnu sampai ke telinga polisi kemudian diteruskan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gresik.

Sejumlah anggota BPBD dengan menggunakan perahu karet melakukan pencarian. Masyarakat setempat melakukan pencarian menggunakan jating nelayan. Setelah tiga jam melakukan penyisiran korban Ibnu ditemukan.

Menurut Kanitreskrim Polsek Kebomas Iptu Moh Sujai, korban ditemukan tersangkut jaring nelayan. “Masyarakat mencari korban dengan menggunakan jaring,”kata Sujai dikonfirnasi selulernya, Rabu malam. (*)

Mancing, Gerah Kepanasan Nyebur Kali Lamong. Bocah 8 Tahun Terseret Arus, Ditemukan Tersangkut Jaring Nelayan Selengkapnya

ForKot Menilai Kehadiran JIIPE, Belum Bisa Sejahterakan Masyarakat

GRESIK,1minute.id – Puluhan aktivis lembaga swadaya masyarakat, forum kota (ForKot) menggelar unjukrasa di depan gerbang masuk JIIPE, Senin, 21 September 2020. 

Tuntutan mereka tetap sama dengan aksi sebelumnya. Menolak kawasan Java Integreted Industrial and Port Estate (JIIPE) sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK). Mempekerjakan seratus persen tenaga kerja dari masyarakat lokal. Serta, menyelesaikan persoalan sengkarut tanah hingga penanganan limbah industri.

Puluhan massa tiba di depan gerbang masuk kawasan JIIPE sekitar pukul 11.30. Mereka long march sekitar 300 meter dari lokasi pabrik di Kecamatan Manyar, Gresik itu. Meski hanya beberapa menit, aksi long march puluhan aktivis ForKot itu membuat lalu lintas di jalur Deandles di Pantai Utara Gresik macet. 

Kemacetan sepanjang satu kilometer dari arah Manyar menuju Bungah. Dan, sebaliknya Bungah ke Manyar. Di depan gerbang JIIPE sejumlah aktivitas melakukan orasi bergantian dengan di jaga ketat aparat keamanan. Tidak terlihat perwakilan kawasan menemui para pengunjuk rasa. 

ORASI : Koordinator unjuk rasa Haris S Faqih ketika berorasi di depan gerbang masuk JIIPE, Manyar, Gresik, 21 September 2020 ( foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

Koordinator aksi Haris S. Faqih mengatakan, kehadiran JIIPE belum bisa menyejahterakan masyarakat sekitar. Bahkan, sebaliknya menyengsarakan. Persoalan pembebasan lahan belum kelar. Limbah industri juga ditengarai belum ditangani dengan baik.

“Sekarang JIIPE mengusulkan menjadi KEK yang hanya mengutungkan kapitalis,”tegas Haris dalam orasinya, Senin, 21 September 2020. ForKot, tambahnya, menolak rencana itu.  Sebab, pemberlakuan KEK itu menimbulkan efek negatif utamanya di masyarakat. “Konsep itu hanya menguntungkan asing dan kapitalis,”tegasnya.

Setelah puas berorasi massa membubarkan diri dengan long march menuju titik kumpul mereka sekitar 300 meter dari gerbang JIIPE.

BLOKADE : Massa ForKot ketika berorasi di bahu jalan Deandles, depan gerbang masuk JIIPE, Manyar, Gresik, Senin, 21 September 2020 ( foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

Sementara itu, Humas JIIPE Mifti Haris mengatakan, pihaknya sengaja tidak menemui massa karena sedang pandemi korono. “Mencegah kerumunan untuk menghindari munculnya klaster industri,”ujar Mifti di temui usai aksi massa di gerbang JIIPE.

Terkait keinginan manajamen kawasan mengusulkan sebagai KEK, Haris membenarkannya. Penetapan KEK itu, kata Haris, merupakan kewenangan pemerintah.

“Yang jelas banyak daerah ingin wilayahnya ditetapkan sebagai KEK,”ujarnya. JIIPE beroperasi sejak 2014. Berdiri diatas lahan seluas 1.700 hektare. Belum semua lahan yang dikuasi JIIPE itu mengantongi hak guna bangunan. (*)

ForKot Menilai Kehadiran JIIPE, Belum Bisa Sejahterakan Masyarakat Selengkapnya

Izin Penambangan Pasir Kewenangan Pusat. DLH Gresik Hanya Diundang Sosialisasi

GRESIK,1minute.id – Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik Mokh Najikh mengatakan penambangan pasir di perairan Bawean akan dilakukan di sekitar 20 mil laut perairan.  “Izin penambangannya kewenangan pusat,”kata Najikh dikonfirmasi selulernya, Jumat, 18 September 2020.

DLH Gresik, tambanya, di undang dalam sosialisasi rencana penambangan karena masuk daerah terdampak aktivitas tersebut. 
Terpisah, Kapolsek Sangkapura AKP Rahmat Triyanto mengatakan, penambangan pasir di Pulau Bawean itu belum dilakukan.

Masih sebatas rencana. “Belum ada aktivitas,”kata AKP Rahmat dihubungi selulernya, Jumat, 18 September 2020.
Rahmat mengatakan awalnya dalam sosialisasi  penambangan pasir akan dilakukan sekitar 6 mil laut dari bibir pantai perairan Pulau Bawean.

“Dalam sosialisasi itu, masyarakat dan muspika menolak rencana penambangan pasir di perairan Bawean,”kata Rahmat dikonfirmasi selulernya, Jumat, 18 September 2020. Karena aktivitas dikhawatirkan merusak lingkungan.

“Kondisi alam Bawean yang masih alami dikhawatirkan rusak. Masyarakat menolaknya,”imbuh Rahmat. Akan tetapi, tambahnya, bila pemerintah pusat memberikan izin penambangan pasir di perairan Pulau Bawean. Muspika tidak bisa berbuat banyak. “Karena penambangan pasir itu kewenangan pemerintah pusat,”ujarnya.  

MELAUT : Nelayan Pulau Bawean menyusuri perairan laut yang bersih. Kondisi air ini terancam keruh bila aktivitas penambangan pasir direstui. (foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

Informasi yang dihimpun 1minute.id , penambangan pasir di perairan Bawean itu untuk proyek salah satu perusahaan berlokasi di Jawa Timur. Pasir yang ditambang itu akan dibawa ke luar pulau untuk pengurukan lahan. Luas lahan yang bakal diuruk luasnya antara 3 ribu hingga 6 ribu hektare. 

Mengapa pasir dari perairan Pulau Bawean. Sebab, pasir di perairan Bawean ini memiliki kualitas  baik daripada pasir perairan lainnya di Jatim. Namun, rencana penambangan besar-besaran mulai mendapat reaksi penolakan masyarakat.

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Harun Thohir, Bawean, diantaranya. “Penambangan pasir menggunakan mesin dan termasuk kategori penambangan besar. Aktivitas akan berdampak buruk untuk masyarakat Bawean. Di Sangkapura maupun Tambak,”tegas Ketua PMII Komisariat Harun Thohir Moh Asep Maulidi melalui pesan WhatApps, Jumat, 18 September 2020. (*)

Izin Penambangan Pasir Kewenangan Pusat. DLH Gresik Hanya Diundang Sosialisasi Selengkapnya

Khawatir Alam Rusak, PMII Komisariat Harun Thohir Tolak Penambangan Pasir di Perairan Bawean

GRESIK,1minute.id – Rencana penambangan pasir laut di lepas pantai Pulau Bawean mendapatkan penolakan dari masyarakat. Pasalnya, aktivitas penambangan pasir untuk proyek itu mengancam ekosistem dan biota laut di Pulau Putri itu.

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Harun Thohir, Bawean, diantaranya menolak penambangan pasir itu. Dalam siaran yang diterima 1minute.id, Jumat 18 September 2020 Moh Asep Maulidin mengatakan, aktivitas penambang pasir laut akan mengancam ekosistem dan biota laut di perairan Pulau Bawean.

Pulau Bawean tidak hanya eksotis alamnya. Biota laut di pulau terluar Kota Gresik sangat menarik. Sehingga, Pemkab Gresik menjadikan Bawean, salah satu destinasi wisata. Bahkan, event Visit Indonesia Year, Bawean menjadi salah tempat persinggahan wisatawan mancanegara.

Perairan Pulau Bawean juga penyumbang lobster maupun ikan tongkol terbesar di Gresik. Kondisi geografis itu, tambah mahasiswa STIT Raden Santri Gresik itu, ratusan nelayan dari dua kecamatan Sangkapura dan Tambak, mengantungkan hidupnya mencari ikan dilautan. 

BENING : Kondisi air di perairan Palau Bawean yang bersih. ( foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

“Penambangan pasir laut secara besar-besaran akan membuat laut menjadi keruh. Hasil tangkapan nelayan kami prediksi akan anjlok hingga 90 persen,”kata Asep. Selain itu, tambahnya, dampak lain penambangan pasir akan meningkatkan abrasi air laut. “Gelombang semakin tinggi, rob menjadi ancaman masyarakat,”tegasnya.

Karena itulah, Asep, mendesak pemerintah kabupaten maupun provinsi Jatim tidak memberikan izin penambangan pasir di Pulau Bawean. “PMII secara tegas menolak rencana penambangan pasir di perairan Bawean,”tegas Asep. (*)

Khawatir Alam Rusak, PMII Komisariat Harun Thohir Tolak Penambangan Pasir di Perairan Bawean Selengkapnya

Warga Sukomulyo Tagih Janji Diutamakan Kerja, PT KAS Janjikan Lagi

GRESIK,1minute.id – Warga Desa Sukomulyo, Kecamatan Manyar, Gresik kembali turun jalan, Rabu 17 September 2020. Mereka menuntut manajemen PT Karunia Alam Segar (KAS) untuk merealisasikan kesepakatan dengan warga setempat yang dibuat tahun 2004.

Kesepakatan itu, diantaranya, manajemen pabrik penghasil mi itu lebih mengutamakan pekerja berasal dari Desa Sukomulyo. Rekrumen tenaga kerja langsung dilakukan perusahaan. 

Sekitar pukul 11.00, massa tiba di depan jalan pabrik. Mereka lalu berorasi bergantian. Sementara, orang tua, dan anak-anak membentangkan sejumlah poster. Isi poster itu diantaranya, “Jangan Lupakan Warga Ring-1 ; Jangan Kasi Baunya Saja. Beri Pekerjaan yang Layak untuk Warga Sukomulyo”.

Warga Desa Sukomulyo, Kecamatan Manyar membentangkan poster yang menuntut manajemen PT KAS untuk merealisasikan kesepakatan yang dibuat 2004 lalu. ( foto : chusnul cahyadi / 1minute.id )

“Bila tuntutan warga tidak dipenuhi, kami akan menginap di sini,”teriak Abdul Wahab, salah satu orator. Menjelang Dhuhur, sepuluh orang perwakilan warga diterima manajemen PT KAS. 

Dalam pertemuan itu, manajemen menjadikan akan memberikan jawaban terkait tuntutan warga Sukomulyo itu. Sekitar pukul 15.00, massa membubakan diri. Mereka urung nginap di halaman pabrik berlokasi di Jalan Raya Sukomulyo itu. (*)

Warga Sukomulyo Tagih Janji Diutamakan Kerja, PT KAS Janjikan Lagi Selengkapnya