Berasa di Eropa Abad XVIII

Berkunjung The Heritage Palace berasa di Eropa abad XVIII. Bangunan bekas pabrik gula, lalu gudang tembakau,  konon sempat lokasi uji nyali. Bagaimana kondisi kini ?

Search
Berasa di Eropa Abad XVIII Selengkapnya

Mancing, Gerah Kepanasan Nyebur Kali Lamong. Bocah 8 Tahun Terseret Arus, Ditemukan Tersangkut Jaring Nelayan

GRESIK,1minute.id – Ibnu ditemukan mengambang di aliran Kali Lamong di Desa Segoromadu, Kecamatan Kebomas, Gresik, Rabu, 23 September 2020.

Bocah 8 tahun itu ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Ibnu dilaporkan terseret arus dan tenggelam sekitar pukul 14.15. Ditemukan pukul 17.30 Ibnu ditemukan mengambang. Bocah asal Desa Segoromadu, itu meninggal dunia. 

Informasi yang dihimpun Rabu, 23 September 2020 sekitar pukul 14.10 Ibnu pergi memancing di aliran Kali Lamong di desanya Segoromadu, Kebomas. Bocah 8 tahun itu mancing bersama tiga teman sebayanya. Siang itu cuaca Gresik terasa panas.

Ibnu dan tiga temannya gerah. Mereka pun nyebur di aliran Kali Lamong itu. Di duga pusaran air Kali kuat. Ibnu yang pandai berenang itu kehabisan tenaga sebelum sampai pinggir Kali. Tubuh Ibnu terseret arus kemudian tenggelam.

MENJARING : Masyarakat Desa Segoromadu, Kecamatan Kebomas, Gresik melakukan pencarian anak tenggelam menggunakan jaring di aliran Kali Lamong, Rabu, 23 September 2020. (foto : istimewa)

Mengetahui Ibnu tidak muncul ke permukaan. ketiga teman Ibnu kemudian lari minta tolong kepada warga kampung. Kabar tenggelamnya Ibnu sampai ke telinga polisi kemudian diteruskan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gresik.

Sejumlah anggota BPBD dengan menggunakan perahu karet melakukan pencarian. Masyarakat setempat melakukan pencarian menggunakan jating nelayan. Setelah tiga jam melakukan penyisiran korban Ibnu ditemukan.

Menurut Kanitreskrim Polsek Kebomas Iptu Moh Sujai, korban ditemukan tersangkut jaring nelayan. “Masyarakat mencari korban dengan menggunakan jaring,”kata Sujai dikonfirnasi selulernya, Rabu malam. (*)

Mancing, Gerah Kepanasan Nyebur Kali Lamong. Bocah 8 Tahun Terseret Arus, Ditemukan Tersangkut Jaring Nelayan Selengkapnya

ForKot Menilai Kehadiran JIIPE, Belum Bisa Sejahterakan Masyarakat

GRESIK,1minute.id – Puluhan aktivis lembaga swadaya masyarakat, forum kota (ForKot) menggelar unjukrasa di depan gerbang masuk JIIPE, Senin, 21 September 2020. 

Tuntutan mereka tetap sama dengan aksi sebelumnya. Menolak kawasan Java Integreted Industrial and Port Estate (JIIPE) sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK). Mempekerjakan seratus persen tenaga kerja dari masyarakat lokal. Serta, menyelesaikan persoalan sengkarut tanah hingga penanganan limbah industri.

Puluhan massa tiba di depan gerbang masuk kawasan JIIPE sekitar pukul 11.30. Mereka long march sekitar 300 meter dari lokasi pabrik di Kecamatan Manyar, Gresik itu. Meski hanya beberapa menit, aksi long march puluhan aktivis ForKot itu membuat lalu lintas di jalur Deandles di Pantai Utara Gresik macet. 

Kemacetan sepanjang satu kilometer dari arah Manyar menuju Bungah. Dan, sebaliknya Bungah ke Manyar. Di depan gerbang JIIPE sejumlah aktivitas melakukan orasi bergantian dengan di jaga ketat aparat keamanan. Tidak terlihat perwakilan kawasan menemui para pengunjuk rasa. 

ORASI : Koordinator unjuk rasa Haris S Faqih ketika berorasi di depan gerbang masuk JIIPE, Manyar, Gresik, 21 September 2020 ( foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

Koordinator aksi Haris S. Faqih mengatakan, kehadiran JIIPE belum bisa menyejahterakan masyarakat sekitar. Bahkan, sebaliknya menyengsarakan. Persoalan pembebasan lahan belum kelar. Limbah industri juga ditengarai belum ditangani dengan baik.

“Sekarang JIIPE mengusulkan menjadi KEK yang hanya mengutungkan kapitalis,”tegas Haris dalam orasinya, Senin, 21 September 2020. ForKot, tambahnya, menolak rencana itu.  Sebab, pemberlakuan KEK itu menimbulkan efek negatif utamanya di masyarakat. “Konsep itu hanya menguntungkan asing dan kapitalis,”tegasnya.

Setelah puas berorasi massa membubarkan diri dengan long march menuju titik kumpul mereka sekitar 300 meter dari gerbang JIIPE.

BLOKADE : Massa ForKot ketika berorasi di bahu jalan Deandles, depan gerbang masuk JIIPE, Manyar, Gresik, Senin, 21 September 2020 ( foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

Sementara itu, Humas JIIPE Mifti Haris mengatakan, pihaknya sengaja tidak menemui massa karena sedang pandemi korono. “Mencegah kerumunan untuk menghindari munculnya klaster industri,”ujar Mifti di temui usai aksi massa di gerbang JIIPE.

Terkait keinginan manajamen kawasan mengusulkan sebagai KEK, Haris membenarkannya. Penetapan KEK itu, kata Haris, merupakan kewenangan pemerintah.

“Yang jelas banyak daerah ingin wilayahnya ditetapkan sebagai KEK,”ujarnya. JIIPE beroperasi sejak 2014. Berdiri diatas lahan seluas 1.700 hektare. Belum semua lahan yang dikuasi JIIPE itu mengantongi hak guna bangunan. (*)

ForKot Menilai Kehadiran JIIPE, Belum Bisa Sejahterakan Masyarakat Selengkapnya

Izin Penambangan Pasir Kewenangan Pusat. DLH Gresik Hanya Diundang Sosialisasi

GRESIK,1minute.id – Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik Mokh Najikh mengatakan penambangan pasir di perairan Bawean akan dilakukan di sekitar 20 mil laut perairan.  “Izin penambangannya kewenangan pusat,”kata Najikh dikonfirmasi selulernya, Jumat, 18 September 2020.

DLH Gresik, tambanya, di undang dalam sosialisasi rencana penambangan karena masuk daerah terdampak aktivitas tersebut. 
Terpisah, Kapolsek Sangkapura AKP Rahmat Triyanto mengatakan, penambangan pasir di Pulau Bawean itu belum dilakukan.

Masih sebatas rencana. “Belum ada aktivitas,”kata AKP Rahmat dihubungi selulernya, Jumat, 18 September 2020.
Rahmat mengatakan awalnya dalam sosialisasi  penambangan pasir akan dilakukan sekitar 6 mil laut dari bibir pantai perairan Pulau Bawean.

“Dalam sosialisasi itu, masyarakat dan muspika menolak rencana penambangan pasir di perairan Bawean,”kata Rahmat dikonfirmasi selulernya, Jumat, 18 September 2020. Karena aktivitas dikhawatirkan merusak lingkungan.

“Kondisi alam Bawean yang masih alami dikhawatirkan rusak. Masyarakat menolaknya,”imbuh Rahmat. Akan tetapi, tambahnya, bila pemerintah pusat memberikan izin penambangan pasir di perairan Pulau Bawean. Muspika tidak bisa berbuat banyak. “Karena penambangan pasir itu kewenangan pemerintah pusat,”ujarnya.  

MELAUT : Nelayan Pulau Bawean menyusuri perairan laut yang bersih. Kondisi air ini terancam keruh bila aktivitas penambangan pasir direstui. (foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

Informasi yang dihimpun 1minute.id , penambangan pasir di perairan Bawean itu untuk proyek salah satu perusahaan berlokasi di Jawa Timur. Pasir yang ditambang itu akan dibawa ke luar pulau untuk pengurukan lahan. Luas lahan yang bakal diuruk luasnya antara 3 ribu hingga 6 ribu hektare. 

Mengapa pasir dari perairan Pulau Bawean. Sebab, pasir di perairan Bawean ini memiliki kualitas  baik daripada pasir perairan lainnya di Jatim. Namun, rencana penambangan besar-besaran mulai mendapat reaksi penolakan masyarakat.

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Harun Thohir, Bawean, diantaranya. “Penambangan pasir menggunakan mesin dan termasuk kategori penambangan besar. Aktivitas akan berdampak buruk untuk masyarakat Bawean. Di Sangkapura maupun Tambak,”tegas Ketua PMII Komisariat Harun Thohir Moh Asep Maulidi melalui pesan WhatApps, Jumat, 18 September 2020. (*)

Izin Penambangan Pasir Kewenangan Pusat. DLH Gresik Hanya Diundang Sosialisasi Selengkapnya

Khawatir Alam Rusak, PMII Komisariat Harun Thohir Tolak Penambangan Pasir di Perairan Bawean

GRESIK,1minute.id – Rencana penambangan pasir laut di lepas pantai Pulau Bawean mendapatkan penolakan dari masyarakat. Pasalnya, aktivitas penambangan pasir untuk proyek itu mengancam ekosistem dan biota laut di Pulau Putri itu.

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Harun Thohir, Bawean, diantaranya menolak penambangan pasir itu. Dalam siaran yang diterima 1minute.id, Jumat 18 September 2020 Moh Asep Maulidin mengatakan, aktivitas penambang pasir laut akan mengancam ekosistem dan biota laut di perairan Pulau Bawean.

Pulau Bawean tidak hanya eksotis alamnya. Biota laut di pulau terluar Kota Gresik sangat menarik. Sehingga, Pemkab Gresik menjadikan Bawean, salah satu destinasi wisata. Bahkan, event Visit Indonesia Year, Bawean menjadi salah tempat persinggahan wisatawan mancanegara.

Perairan Pulau Bawean juga penyumbang lobster maupun ikan tongkol terbesar di Gresik. Kondisi geografis itu, tambah mahasiswa STIT Raden Santri Gresik itu, ratusan nelayan dari dua kecamatan Sangkapura dan Tambak, mengantungkan hidupnya mencari ikan dilautan. 

BENING : Kondisi air di perairan Palau Bawean yang bersih. ( foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

“Penambangan pasir laut secara besar-besaran akan membuat laut menjadi keruh. Hasil tangkapan nelayan kami prediksi akan anjlok hingga 90 persen,”kata Asep. Selain itu, tambahnya, dampak lain penambangan pasir akan meningkatkan abrasi air laut. “Gelombang semakin tinggi, rob menjadi ancaman masyarakat,”tegasnya.

Karena itulah, Asep, mendesak pemerintah kabupaten maupun provinsi Jatim tidak memberikan izin penambangan pasir di Pulau Bawean. “PMII secara tegas menolak rencana penambangan pasir di perairan Bawean,”tegas Asep. (*)

Khawatir Alam Rusak, PMII Komisariat Harun Thohir Tolak Penambangan Pasir di Perairan Bawean Selengkapnya

Warga Sukomulyo Tagih Janji Diutamakan Kerja, PT KAS Janjikan Lagi

GRESIK,1minute.id – Warga Desa Sukomulyo, Kecamatan Manyar, Gresik kembali turun jalan, Rabu 17 September 2020. Mereka menuntut manajemen PT Karunia Alam Segar (KAS) untuk merealisasikan kesepakatan dengan warga setempat yang dibuat tahun 2004.

Kesepakatan itu, diantaranya, manajemen pabrik penghasil mi itu lebih mengutamakan pekerja berasal dari Desa Sukomulyo. Rekrumen tenaga kerja langsung dilakukan perusahaan. 

Sekitar pukul 11.00, massa tiba di depan jalan pabrik. Mereka lalu berorasi bergantian. Sementara, orang tua, dan anak-anak membentangkan sejumlah poster. Isi poster itu diantaranya, “Jangan Lupakan Warga Ring-1 ; Jangan Kasi Baunya Saja. Beri Pekerjaan yang Layak untuk Warga Sukomulyo”.

Warga Desa Sukomulyo, Kecamatan Manyar membentangkan poster yang menuntut manajemen PT KAS untuk merealisasikan kesepakatan yang dibuat 2004 lalu. ( foto : chusnul cahyadi / 1minute.id )

“Bila tuntutan warga tidak dipenuhi, kami akan menginap di sini,”teriak Abdul Wahab, salah satu orator. Menjelang Dhuhur, sepuluh orang perwakilan warga diterima manajemen PT KAS. 

Dalam pertemuan itu, manajemen menjadikan akan memberikan jawaban terkait tuntutan warga Sukomulyo itu. Sekitar pukul 15.00, massa membubakan diri. Mereka urung nginap di halaman pabrik berlokasi di Jalan Raya Sukomulyo itu. (*)

Warga Sukomulyo Tagih Janji Diutamakan Kerja, PT KAS Janjikan Lagi Selengkapnya

Sego Menir, Kuliner Khas Gresik Bikin Lidah Bergoyang.

Penjual Sego Menir di kampung Bedilan Jalan Raden Santri, Gresik, Selasa 8 September 2020 ( foto : chusnul cahyadi / 1minute.id )

SINAR matahari begitu terik. Padahal baru pukul 09.00. Perut terasa keroncongan. Lapar. “Siang gini sarapan sego menir enak,”gumam Saya dalam hati. Saya meluncur makam Londo (Belanda). Sekitar 100 meter SMA NU 1 dan SMP NU 2 Gresik. Di Jalan Raden Santri, Gresik untuk sarapan sego menir.

Sego (bahasa Jawa berarti Nasi). Sedangkan, Menir sendiri adalah sejenis sayur. Kuah bening. Meski dicampur dengan menir, kuahnya tidak terlalu keruh. Justru terlihat bening seperti sayur bayam.

Bumbunya terdiri atas kunci, bawang merah dan putih dan gerusan menir. Bedanya kuah menir ini menggunakan rajangan Kangkung. Terkadang ditambahkan dengan labu.

Sego menir di Kelurahan Bedilan ini langganan saya. Warung kaki lima. Sebelum, pandemi korona sego menir Makam Londo ini cukup ramai. Apalagi, waktu istirahat sekolah. Tapi, Selasa 8 September 2020 lengang.

Saya langsung dilayaninya. Menggunakan wadah takir ( wadah daun pisang) penjual mengambil nasi yang punel lalu memberinya kuah menir. “Sambel terasi apa pencit (mangga muda),”tanya penjual.

“Iwak opo?”tanya bakul sego menir itu lagi. Perempuan asal Madura itu membuka tutup wadah dari godong yang warna hijau segar itu. Ada tiga wadah. Wadah lauk jerohan, Otak dan hati. Lalu daging untuk nasi krawu. Dan, satu lagi wadah berisi bali belut, tahu, tempe dan telur.

Ada juga aneka lauk yang di goreng ditempatkan bagian depan dekat dandang sayur menir. “Bali welut (belut), bali tempe dan bali tahu,”jawab Saya. Semua lauk dimasukkan ke wadah takir yang sudah isi sego , sayur menir dan sambal pencit. Sedangkan rempeyek kacang di beri wadah daun pisang.

Saya lalu santap di teras sebuah warung kopi di pinggir jalan kampung . Heeemmm. Rasa terasa nikmat. Ada pedas, dan masam sambal pencitnya. (*)

Sego Menir, Kuliner Khas Gresik Bikin Lidah Bergoyang. Selengkapnya

Jembatan Karangkiring Semakin Menawan

Sejumlah anak-anak riang berenang dari atas Jembatan Karangkiring, Desa Karangkaring, Kecamatan Kebomas yang semakin menawan, Minggu 30 Agustus 2020 (foto :chusnul cahyadi/1minute.id)

GRESIK, 1minute.id—Destinasi wisata alam kembali muncul di kota Pudak. Setelah sebelumnya, jembatan Balai Keling di Kelurahan Kroman, Gresik bersolek dan dilirik masyarakat. Kali ini, geladak atawa jembatan Karangkiring.

Jembatan berbentuk huruf L berada di Desa Karangkiring, Kebomas itu di make over sehingga lebih menarik.  Geladak sepanjang 250 meter ini di cat oleh karang taruna bekerjasama dengan komunitas Gresker, Gresik N Riders (GNR) serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Gresik selama dua hari yakni Sabtu dan Minggu. 

Sehingga geladak kayu yang semula kusam kini beraneka warna yang cukup enak di pandang mata. Wisatawan selain bisa menikmati spot pantai juga edukasi tentang mangrove yang tumbuh di kanan dan kiri geladak tersebut. Kepala Desa Karangkiring Dedik Hartono mengatakan,  pengecatan geladak Karangkiring ini diprakarsai oleh karang taruna.  ”Mereka menggandeng sejumlah komunitas. Semoga pengecatan ini menjadikan pantai Karangkiring ini semakin indah dan menjadi objek daya tarik wisata baru di Gresik,”kata Dedik .

JEMBATAN Kerangkiring, salah satu destinasi wisata di perkotaan Gresik ini berada di Desa Karangkiring, Kecamatan Kebomas, Minggu 30 Agustus 2020. (foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

Kepala Seksi (Kasi) Pengembangan Pariwisata dan Tata Kelola Destinas di Disbudpar Gresik M Fither Kuntaja mengapresiasi langkah karang taruna dan komunitas yang memiliki komitmen terhadap lingkungan.  ”Menunjukkan kesadaran pemuda Gresik atas keindahan lingkungan bisa berpotensi menjadi terciptanya sebuah obyek daya tarik wisata baru,”ujar Fither kemarin.

Fither mengatakan, geladak Karangkiring memiliki potensi menjadi objek daya tarik wisata (ODTW) baru di Gresik. Sebab, sepanjang jembatan Karangkiring telah ditanami pohon mangrove. Selain itu telah dilengkapai Kampung  Kuntul, Balai Selo Karang, dan Geladak Berwarna.  ”Ada juga pancalan ski lumpur. Wisatawan juga bisa jelajah eksplor sekitar Pulau Galang dengan naik perahu,”ungkapnya.

Pengecatan geladak Karangkiring, masyarakat Gresik perkotaan akan semakin banyak pilihan untuk berwisata di tengah perkotaan. Yakni, Geladak Balai Keling dengan spot laut dan nelayan. Wisatawan juga bisa berkeliling dengan menggunakan perahu nelayan. Ada juga, jembatan Mangrove Sukorejo, Kebomas. (*)

Jembatan Karangkiring Semakin Menawan Selengkapnya

Gelaran Wedding, Usung Budaya Bali dan Ratna Manggali

Usung busana Khas Bali dan Ratna Manggali, Jogjakarta pukau penonton Serba-serba Manten Expo (Foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

GRESIK,1minute.id—Gelaran Serba-serbi Manten Expo 2020 di salah satu mal di Gresik terasa beda. Event Wedding Tangguh kali pertama di masa coronavirus desease 2019 ini tidak hanya memerkan gaun maupun riasan pengantin modern maupun Jawa.  Ada juga, perias pengantin yang menampilkan busana bak di sebuah karnaval.

Penampilan beda itu menjadikan event pameran perlengkapan pernikahan berkahir Minggu 30 Agustus 2020 itu terasa lebih heboh. Busana ala karnival diberi label Busana Ratna Manggali. Busana itu karya desainer Edi Saptono atau dikenal Andreas Haikal.

Menurut desainer Edi Saptono, busana Ratna Manggali diluncurkan untuk memberikan kesan berbeda dalam pameran Serba-serbi Manten 2020.  ”Saya tidak menyangka antusiasme penonton cukup baik,”ujar Edi pada Sabtu malam. Alumnus SMK PGRI ini mengaku, sejak enam tahun terakhir getol untuk merancang busana karnaval.  ”Akan tetapi, sejak pandemi korona tidak ada event karnaval,”ujarnya. Lelaki asal Gresik itu kemudian berkalaborasi dengan salah satu pemilik perlengkapan pernikahan asal Gresik.  

”Ternyata, sambutan masyarakat luar biasa,”katanya. Edi mengaku dirinya, lebih suka mengekspolrasi busana khas Indonesia.  ”Saya awalnya, menyukai desain setelah melihat GFC (Jember Fashion Carnival) enam tahun lalu,”ungkapnya. Edi mengaku belajar secara otodidak.  ”Di sekolah (SMK PGRI,Red) juga tidak pernah diajarkan,”katanya sambil tersenyum. Dalam Serba-serba MantenExpo ini, Edi merancang dua busana yakni Busana Bali dan Ratna Manggali.

Ratna Manggali adalah putri dari Calon Arang. Sementara itu, Khoiriyah, owner Griya Wedding menambahkan ia memang suka berkolaborasi dengan berbagai pihak. Dengan proses belajar yang tekun, kini dia terbiasa merias model catwalk, pengantin, sampai membuat make-up karakter.  ”Alhamdulillah sukses. Kami menampilkan maksimal sehingga hasilnya banyak apresiasi. Semoga saat ini, era new normal kami pekerja seni kembali bisa berkarya kembali,”ujarnya.

Ria-sapaan-Khoiriyah mengatakan pada event ini  merias dua model dengan karakter berbeda. Satu memakai gaun khas Bali, satu lagi memakai kostum khas Jawa (Jogjakarta) dengan menambah hiasan candi di pakai model diatas kepala.  ”Mengangkat budaya Bali dan Jogjakarta, merupakan destinasi wisata dan berharap bisa bangkit,”katanya. (*)

Gelaran Wedding, Usung Budaya Bali dan Ratna Manggali Selengkapnya

Setigi itu Bikin Tangan Gatal untuk Cekrak-cekrik

Model memakai Gaun ala Drupadi, istri Pandawa dalam cerita Mahabarata ketika di destinasi Setigi pada Minggu 26 Juli 2020 ( foto : 1minute.id )

RELAKSASI mulai berdampak positif dalam dunia pariwisata. Wisata Selo Tirta Giri (Setigi), misalnya. Wisata alam memanfaatkan bekas bukit kapur itu ramai pengunjung , Minggu , 26 Juli 2020. Ratusan pengunjung memadati destinasi wisata berlokasi di Desa Sekapuk, Ujungpangkah itu.

Pengunjung wisata buatan yang memanfaatkan lahan bekas galian C seluas 2 hektare itu seakan terus mengalir. Datang dan pergi. Ditengah pandemi korona wisata ala mini menjadi jujugan masyarakat. Gresik, Surabaya, Lamongan dan sekitarnya.


Suasana wisata Setigi dengan jembatan peradaban yang ramai ( foto : 1minute.id)

Wisatawan tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk menikmati wisata yang dikelalo badan usaha milik desa (BUMDes) itu. Sebab, pengelola menarik harga tiket masuk Rp 15 ribu per pengunjung.  Di area wisata ini, ada beberapa spot yang bisa dinikmati pengunjung. Jembatan peradaban, misalnya. Jembatan  yang mengambarkan peralihan peradapan tradisional menuju era modern.

Panjang jembatan sekitar 200 meteran. Lebar 2 meteran. Dibagian ujung jemabtan bercat warna putih, terdapat tiga unit rumah adat Papua. Beratap serabut sapu warna hitam dan berdinding kayu. Instanable. Sedangkan, dibawah jembatan itu terdapat telaga dengan air warna hijau. Sejumlah anak-anak di dampingi orang tuanya sedang mengayuh berbentuk bebek dengan cara dikayuh itu.

”Baru sekali ini saya masuk sini. Spot fotonya sangat menarik,”ujar Surya Yetni, salah satu pengunjung Setigi. Minggu, 26 Juli 2020 destinasi itu juga dipenuhi sejumlah komunitas fotografi asal Gresik. Mereka sedang hunting bereng pemotretan model yang bertemakan Busana Drupadi. Perempuan tangguh, istri Pandawa  dalam cerita Mahabarata menggunakan gaun warna merah. Aktivitas para penggemar fotografi seakan menambah khazanah wisata Setigi.  ”Kami ingin menampilkan sosok Drupadi, karena dianggap perempuan tangguh,”ujar Ira, salah seorang make up artis (MUA) model berbusana Drupadi itu. (*)

Setigi itu Bikin Tangan Gatal untuk Cekrak-cekrik Selengkapnya