IKA-PMII Gresik Gelar Vaksinasi 2 Ribu Dosis untuk Mahasiswa


GRESIK,1minute.id – Vaksinasi merambah kampus. Ribuan mahasiswa di Universitas Qomarudin, Bungah mengikuti vaksinasi yang digagas oleh Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Gresik pada Senin, 23 Agustus 2021.

Serbuan vaksin di kampus di Desa/Kecamatan Bungah, Gresik bagian percepatan pembentukan herd immunity di Kota Santri ini. Vaksinasi sebanyak 2 ribu mahasiswa akan berakhir Rabu, 25 Agustus 2021 nanti. 

Ketua PC IKA PMII Gresik Aminatun Habibah menjelaskan, percepatan vaksinasi terus dilakukan supaya segera membentuk herd immunity sesuai target pemerintah 70 persen paling lambat akhir tahun ini. Sampai saat ini target tersebut belum tercapai. Data Dinkes Gresik menyebutkan warga yang telah melakukan vaksinasi dosis satu dan dua baru mencapai 40-an persen. IKA-PMII turut serta berkolaborasi dengan pemerintah melakukan vaksinasi.

“Semoga usaha kita dalam membentuk herd immunity segera tercapai. Sehingga masyarakat gresik bisa terhindar dari pandemi Covid-19,” kata Aminatun Habibah yang juga Wakil Bupati Gresik itu. Bu Min-sapaan-Wabup Aminatun Habibah mengapresiasi antusiasme mahasiswa untuk vaksinasi. Selain warga Gresik, ada juga yang berasal dari Lamongan dan Surabaya. “Alhamdulillah, gresik sudah masuk zona oranye. Percepatan vaksinasi terus dilakukan. Semoga kasus Covid-19 terus menurun hingga menjadi zona kuning,”harap Bu  Min. 

Meski sudah dilakukan vaksin, protokol kesehatan (prokes) harus tetap dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Juga, jangan sampai menciptakan kerumunan. “Kami juga berikan sembako, obat-obatan dan hand sanitizer kepada warga yang terdampak pandemi Covid-19,” imbuhnya. (yad)

IKA-PMII Gresik Gelar Vaksinasi 2 Ribu Dosis untuk Mahasiswa Selengkapnya

Doakan Leluhur dan Orang Tua, Umat Tridharma Lakukan Sembayang Arwah di Kelenteng Kim Hin Kiong

GRESIK,1minute.id – Umat Tionghoa menggelar Sembayang Cioko atau King Ho Ping atau Sembayang rebutan pada Minggu, 22 Agustus 2021. Sembayang rebutan atau dikenal Sembayang Arwah ini diikuti puluhan umat di TITD Kim Hin Kiong di Jalan Setiabudi, Gresik.

Ritual tahun ini dipimpin oleh Ketua TITD Kim Hin Kiong Gresik Budi Prasetyo Tejo. Ritual pun khusyuk.  Menurut Budi Prasetyo Tejo, sembayang Cioko atau King Ho Ping atau Sembayang rebutan oleh warga Tiongkok dikenal dengan Sembayang Arwah. “Kita sembayangi arwah-arwah yang tidak disembayangi oleh keluarganya lagi atau kepaten obor,”kata Budi ditemui 1minute.id pada Minggu, 22 Agustus 2021.

Sembayang arwah ini, dalam tradisi orang Tionghoa menyembayangi leluhur di rumah masing masing sebelum tanggal 15 puncaknya jam 12 siang. “Setelah itu, kalau keluarga tidak menyembayangi kebanyakan mereka ke kelenteng. Jadi kelenteng ini menyembahyangi arwah-arwah yang tidak disembayangi oleh keluarganya atau kepaten obor,”terangnya. 

Sembayang arwah ini, imbuhnya, tujuannya sebagai manusia, anak atau keturunan harus berbakti kepada orang tua. “Jadi ini menunjukkan bakti kita kepada orang tua atau leluhur,”tegasnya. Di Kelenteng berdiri pada 1 Agustus 1153 masehi atau 868 tahun silam itu, tradisi Sembayang Arwah dilakukan setiap bulan 7 tanggal 15 imlek (tahun ini bertepatan Minggu, 22 Agustus 2021.

 

REBUTAN: Warga sekitar Kelenteng mengambil sesaji usai umat TITD Kim Hin Kiong menggelar Sembayang Arwah atau Sembayang rebutan pada Minggu, 22 Agustus 2021 (Foto: chusnul cahyadi/1minute.id)

“Setiap tahun kami adakah karena Kelenteng ada yang lebih luas menyembayangi arwah-arwah yang tidak disembayangi lagi oleh keluarganya,”katanya. Dalam pengamatan 1minute.id, dalam ritual Sembayang Arwah ini, mereka membawa macam sesaji. Sesaji itu ditata rapi di depan kelenteng. Ada daging, buah-buahan, hingga makanan ringan.

“Sesaji itu untuk bakti kepada leluhur atau orang tua. Kita dibagikan kepada masyarakat. Karena lokasinya tidak memungkinkan untuk rebutan,”ujarnya. Sembayang Arwah di masa pandemi Covid-19 ini berbeda. Sebab, umat Tridharma ini tidak hanya membagikan makanan siap saja. Namun, juga membagikan beras kepada masyarakat sekitar yang terdampak wabah yang paling mematikan di era modern ini.

Sebanyak 750 kilogram beras dibagikan oleh pengurus kelenteng. Beras dalam bentuk paket 5 kilogram itu diserahkan oleh Ketua TITD Kim Hin Kiong Budi Prasetyo Tejo kepada Kepala Desa Pulopancikan dan perwakilan dari Lembaga Amin Zakat ,Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LazisNU). “Ada 150 paket beras masing-masing seberat 5 kilogram yang kami bagikan kepada masyarakat yang terdampak coronavirus disease,”ungkap Budi. (yad)

Doakan Leluhur dan Orang Tua, Umat Tridharma Lakukan Sembayang Arwah di Kelenteng Kim Hin Kiong Selengkapnya

Kampung Kreasi , Masuk 100 Besar ADWI 2021, Anugerah Tertinggi Desa Wisata Dihelat Menparekraf

GRESIK,1minute.id – Kampung Kreasi di Jalan Kramatlangon, Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan Gresik masuk nominasi 100 Desa Wisata dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021 digelar Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf). 

Ajang anugerah wisata paling bergengsi ini diikuti ratusan destinasi di Indonesia.”Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021 dalam mewujudkan desa wisata yang berkelas dunia, berdaya saing, dan berkelanjutan untuk Indonesia Bangkit,”kata Menparenkraf Sandiaga Salahudin Uno dalam sambutan secara virtual pada Jumat, 20 Agustus 2021.

Kabupaten Gresik mempunyai satu wakil berprestasi  masuk dalam jajaran 100 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia yakni Kelurahan Sidokumpul “Kampung Kreasi”

“Untuk desa wisata yang belum lolos 100 Besar Desa Wisata, ADWI 2021 tetap terus tingkatkan inovasi, adaptasi, dan perluas kolaborasi dalam mengembangkan desa wisata,”lanjut Menparekraf Sandiaga Uno. 

Kemenparekraf akan menjadikan data serta informasi yang ada di Jejaring Desa Wisata (Jadesta) sebagai sebagai wadah dan arah dalam penyusunan rencana serta pengembangan seluruh desa wisata yang ada di Indonesia. Jadesta adalah wadah komunitas bagi Desa Wisata di seluruh Indonesia. 

“Bersama-sama kita wujudkan desa wisata sebagai simbol kebangkitan ekonomi nasional. Menjadikan desa wisata yang berkelas dunia, berdaya saing, dan berkelanjutan untuk Indonesia Bangkit!”tegas Sandiaga Uno. ADWI 2021 ini diikuti ratusan destinasi wisata di Indonesia agenda rutin tahunan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf). 

BANK SAMPAH: Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani berdialog dengan warga yang mengolah sampah menjadi tempat duduk bernilai ekonomis di Kampung Kreatif di Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan Gresik pada 2 Juni 2021 (foto: chusnul cahyadi/1minute.id)

Seperti apa Destinasi Kampung Kreasi di Jalan Kramatlangon, Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan Gresik itu. Berdasarkan data yang diunggah dalam jadesta.com Kampung Kreasi merupakan Desa Wisata Edukasi Daur Ulang dan Urban farming yang terletak di Jl. Kramat Langon RW 07 Kelurahan Sidokumpul Kabupaten Gresik. 

Kampung ini mengembangkan konsep kreatifitas pembelajaran mendaur ulang sampah lapak menjadi kerajinan yang bernilai dan pertanian lahan sempit ditengah kota, dan keindahan bangunan warna warni yang dipadukan dengan Damar Kurung disepanjang kawasan wisata.

Di wisata ini juga menghadirkan suasana hijau yang menyejukkan mata dan instagramable untuk berfoto ria dengan spot yang tersedia serta atraksi sapi perah. Setelah berjalan-jalan, pengunjung bisa menikmati hidangan kopi khas Gresik di sebuah Kedai Kopi Sampah milik Karang Taruna yang menerapkan metode transaksi pembayaran menggunakan sampah atau yang khas dengan istilah Ngopi Bayar Pakai Sampah.

SEGAR: Sayur Kol yang ditanam di media hidroponik di di Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan Gresik pada 2 Juni 2021 (foto: chusnul cahyadi/1minute.id)

Sebagai Wisata Edukasi, desa telah mampu memproduksi 110 produk per bulan, 1. 000 produk kerajinan per tahun, pemanfaatan urban farming hidroponik DFT, NFT, Ducth Bucket dan vertikultur sepanjang 300 m, 45 titik biopori resapan dan komposter. Serta pengelolaan 4,7 ton sampah pertahun dari Bank Sampah.

Wisata ini telah resmi ditetapkan sebagai Desa wisata oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud)  Gresik pada 2020. Kampung ini mengedepankan Community Based Tourism dan kemitraan bersama stakeholder terkait, baik dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) meliputi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman, Dinas Lingkungan Hidup, dan Perusahaan dari PT. Pertamina Lubricants Unit Gresik serta komunitas Asosiasi Bank Sampah dan Pokdarwis Kabupaten Gresik.

Bentuk kegiatan yang dilakukan telah memperoleh penghargaan dari berbagai instansi yaitu,

  1. 2019 Juara Kampung Terinovatif Se-Kabupaten Gresik oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik.
  2. 2019 Juara 3 Urban Farming Se-Kabupaten Gresik oleh Dinas Pertanian Kabupaten Gresik 
  3. 2020 Juara 3 Local Hero Award Kategori Hijau Pertamina 
  4. 202 Juara Favorit Local Hero Award Kategori Hijau Pertamina 
  5. 2021 Penghargaan atas Kontribusi dan Pengurangan Sampah di Kabupaten Gresik oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik 
  6. 2021 Juara 1 Pemuda Pelopor Kategori Sumber daya Alam dan Wisata oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Gresik 
  7. 2021 Terbaik Ke-3 Anugerah Wisata Gresik Kategori Wisata Buatan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gresik.

Wisata yang dikembangkan turut berkontribusi dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGS) dalam (4) Pendidikan, (8) Pekerjaan yang layak dan Pertumbuhan Ekonomi, (11) Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan, (12) Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, dan (13) Penanganan Perubahan Iklim. (yad)

Kampung Kreasi , Masuk 100 Besar ADWI 2021, Anugerah Tertinggi Desa Wisata Dihelat Menparekraf Selengkapnya

Surat Kecil untuk Gus Yani, Buku Karya Siswa Berisi Harapan dan Doa Siswa Sekolah Dasar Dimasa Pandemi

 

GRESIK,1minute.id – Budaya literasi masih terjaga di SD Iradah Full Day Education di tengah masa pandemi Covid-19 yang belum berujung saat ini. Sebanyak seratus siswa di sekolah berlokasi di Kompleks Perumahan Graha Bunder Asri (GBA) di Kecamatan Kebomas, Gresik itu  berkirim surat kepada Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani. 

Seratus surat itu sebuah buku yang berjudul “Surat Kecil Untuk Gus Yani”. Isinya sebuah harapan dan doa siswa kepada Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani. Penasaran seperti apa isi buku “Surat Kecil untuk Gus Yani ” itu. Simak ya…, karya Nasywa Khailila Nauthaputri, kelas IV SD Irada.

PENULIS CILIK: Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah bersama Nasywa Khailila Nauthaputri, sisw kelas IV SD Irada, salah satu penulis buku Surat Kecil untuk Gus Yani (Foto : Humas Pemkab Gresik for 1minute.id)


“... Pak Bupati yang terhormat. Media sosial selalu mengabarkan bahwa kasus Covid ini semakin meningkat dari waktu ke waktu. Itu sebab, kegiatan belajar di sekolah dan momen bertemu guru juga teman-teman kembali tertunda. Seragam yang memulai kekecilan tanpa pernah terpakai lagi. Bahkan tahun ini saya naik kelas tampa masuk kelas. Dampak pandemi memang luar biasa. Pak Bupati yang baik, rasanya baru kemarin Bunda saya bilang, “jangan main HP terus, nak.  Ayo berangkat sekolah”. Dulu anak-anak tidak boleh main HP, tapi disuruh belajar dan pergi sekolah. Akan tetapi sekarang berbanding terbalik. Anak-anak tidak boleh pergi sekolah, tetapi belajar dirumah menggunakan HP. Bertemu teman atau  guru juga melalui HP.Bahkan, saya diajak silaturrahmi dengan nenek di Jakarta juga dengan HP. Dampak pandemi menang luar biasa ya, Pak! Tapi ini semua adalah hikmah Allah SWT dalam bentuk yang berbeda. Kita semua merasakan dampaknya, tidak terkecuali. Pak Bupati yang baik, semoga bapak selalu dalam lindungan dan bimbingan Allah SWT, dan semoga bapak bisa menjadi pemimpin yang amanah dan selalu di hati rakyat. Dan, sebagai pelajar, tugas saya adalah belajar sungguh-sungguh, baik belajar dunia dan akhirat. Dan, hikmah yang saya dapat dari pandemi adalah hidup ini bukan soal panjang dan pendeknya usia, tapi seberapa besar kita dapat membantu dan bermanfaat bagi orang lain. Semoga pandemi segera berakhir dan semoga kota Gresik menjadi lebih baik. Tetap semangat bapak Bupati dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab. Membantu mereka yang membutuhkan, teruslah menjadi orang baik dan dikagumi masyarakat. Semoga Bapak sehat selalu. Amin ya robbal alami…”

Sementara itu,  penyerahan Buku ini disampaikan melalui Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah yang didampingi Plt Kepala Dinas Pendidikan Gresik Hariyanto.

Mereka diundang dalam rangka rangkaian Peringatan HUT Ke-76 Kemerdekaan  Republik Indonesia yang berlangsung di lingkungan sekolah tersebut pada Kamis, 19 Agustus 2021. 

Didampingi oleh Kepala Sekolah SD Iradah Shobirin, salah satu siswanya bernama Nasywa Khalilah Nauthaputri. Ia siswa kelas IV yang merupakan salah satu penulis surat kecil untuk Gus Yani  menyerahkan buku tersebut kepada Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah itu. 

“Insya Allah nanti akan kami sampaikan kepada Bapak Bupati. Salam Bapak Bupati untuk semua masyarakat sekolah SD Iradah dan mohon maaf Bapak Bupati tidak bisa hadir kali ini karena ada undangan Presiden di Madiun,”kata Bu Min-sapaan-Aminatun Habibah itu.

Bu Min Wabup smengapresiasi upaya para guru SD Iradah yang dapat mendidik dan memotivasi anak didiknya sehingga bisa membuat karya literasi. “Saya berharap prestasi ini bisa menular kepada sekolah yang lain sehingga nantinya seluruh sekolah yang ada di Gresik ini bisa berprestasi juga,”kata Bu Min. 

“Kepada Kepala Sekolah dan para guru yang masih tampak sangat muda-muda dan enerjik ini saya sampaikan banyak terima kasih. Saya bangga kepada anda sebagai pendidik yang kreatif bisa mengantarkan anak didik menuju masa depan,”imbuhnya.

Selain Launching buku, SD Iradah Gresik juga memberikan santunan yatim piatu yang dikumpulkan dari para orang tua murid dan guru. Panitia berhasil mengumpulan dana sebesar Rp 91,56 juta.

Menurut Kepala SD Iradah Shobirin, kegiatan santuanan yatim piatu ini rutin dilangsungkan setiap tahun baru Islam, Muharram. Tahun ini, ada 225 yatim piatu yang bisa kami santuni termasuk kepada yatim piatu anak didik SD Iradah Sendiri. “Selama berlangsunya pandemi ini saja, ada 5 anak yatim dan piatu baru yang orang tuanya meninggal dunia terpapar Covid-19,”kata Shobirin. Pemkab Gresik melalui Dinas Pendidikan Gresik telah mengalokasikan anggaran untuk beasiswa bagi anak yatim piatu akibat Covid-19. (yad)

Surat Kecil untuk Gus Yani, Buku Karya Siswa Berisi Harapan dan Doa Siswa Sekolah Dasar Dimasa Pandemi Selengkapnya

Budaya Baru Belanja Kuliner Online , Volume Sampah Rumah Tangga Meningkat Dua Kali Lipat


GRESIK,1minute.id – Pemerintah memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hingga 23 Agustus 2021. Perpanjangan kali ketiga dengan pelbagai syarat utu bertujuan untuk mencegah persebaran coronavirus disease 2019 (Covid-19).

Pembatasan kegiatan masyarakat mendongkrak melonjaknya animo masyarakat untuk berbelanja online. Ini kabar menggembirakan. Pasalnya, animo masyarakat itu bisa membangkitkan ekonomi. Khususnya untuk usaha kecil menengah dan mikro (UMKM) di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik. Diantaranya bisnis kuliner. Kebijakan take a way atawa bungkus. 

Disisi lain, meningkatnya budaya baru di era pandemi Covid-19 berdampak pada meningkatnya volume sampah rumah di Gresik. Bagaimana antisipasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik?

Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik Mokh Najikh dikonfirmasi tidak mengelak adanya peningkatanvolume sampah rumahtangga sejak PPKM. Ia menyebutkan kebijakan restoran, rumah makan maupun warung hanya melayani pembelian secara take away meningkatkan volume sampah rumah tangga. Sampah rumah tangga meningkatkan dua kali lipat. Sebelum, PPKM volume sampah rumah tangga berkisar 170-an meter kubik (m³) per hari. 

“Sejak PPKM sampah rumah tangga mencapai 300 meter kubik perhari,”ujar mantan Sekretaris Dewan (Sekwan) DPRD Gresik ini pada Senin, 16 Agustus 2021. Ratusan meter kubik sampah itu yang ditampung di tempat pembuangan akhir (TPA) Ngipik di Kelurahan Ngipik, Kecamatan Gresik. Peningkatan volume sampah rumah tangga, imbuh Najikh, telah diantisipasi dengan menempatkan backhoe atau alat berat untuk membantu menempatkan sampah ke lahan yang tersedia. 

“(TPA Ngipik) masih cukup,”tegas Plt Sekretaris Daerah (Sekda) Gresik periode 2010 itu. Najik telah mengecek langsung TPA Ngipik untuk memastikan lahan tetap mencukupi untuk menampung sampah rumah warga Kota Santri yang berjumlah 1,3 juta jiwa itu. (yad)

Budaya Baru Belanja Kuliner Online , Volume Sampah Rumah Tangga Meningkat Dua Kali Lipat Selengkapnya

Eksotis Tanjung Gaang, Bukit Karang Mamer diatas Laut,Tempat Terindah Sunset di Pulau Putri


GRESIK,1minute.id – Tanjung Gaang. Destinasi wisata yang belum tersentuh modernisasi. “Perawan”. Lokasinya di Dusun Somor-somor, Desa Kumalasa, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik.  Destinasi ini menyajikan pemandangan alam yang eksotis.  Sunset  begitu menawan. Air bening. Biato laut bisa diintip dari atas perahu terlihat begitu elok. Cocok untuk snorkeling.

Tidak ada galeri yang dipilih atau galeri itu dihapus.

Sayangnya wartawan 1minute.id ketika berkunjung ke Tanjung Gaang pada Kamis, 29 Juli 2021 tidak membawa perlengkapan menyelam. Karena belum terjamah modernisasi butuh perjuangan untuk bisa mencapai Bukit Karang diatas laut itu. “Tapi, perjalanan itu berbalas lunas. Karena keindahan alamnya menawan,”kata Kiki, pemandu.

Berangkat dari penginapan di dekat Dermaga Pelabuhan Sangkapura bersama sahabat Faiz naik motor. Jalan berkelok menembus kawasan hutan kayu melintasi jalan perkampungan penduduk yang ramah. Rombongan lainnya, dari Bagian Humas dan Protokol Pemkab Gresik  naik mobil. Perjalanan darat ini butuh waktu selama 40 menit. 

Selanjutnya rombongan menyewa Jhukong (perahu “bersayap” khas Bawean) selama 45 menit. Perjalanan melelahkan itu terbayar dengan keindahan alam Tanjung Gaang. Selama perjalanan bisa menikmati hamparan batu karang yang begitu indah. Batu karang diatas laut itu ada yang menyerupai binatang purba, Dinosaurus.  
Melongok ke bawah, bisa melihat biota laut, terumbu karang, serta ikan aneka jenis berwarna-warni membuat mata seakan tidak enggan berkedip. “Kalau kesini enaknya sore. Bisa melihat sunset,”kata Kiki, pemandu wisata asal Bawean. 

Tanjung Gaang juga menjadi tempat terbaik di Pulau Bawean untuk melihat Sunset atau pemandangan saat matahari terbenam. Untuk melihat Sunset, diharuskan untuk mendaki menuju atas tebing. Tebing dengan bagian ujung tidak rata.Berjalan merangkak dengan hati-hati adalah cara aman melewati jalanan karang untuk menuju ke Tanjung Gaang agar tidak terjatuh di batu karang yang tajam.Uniknya lagi, batu karang yang kita injak ada berjenis marmer. 

Waktu terbaik untuk melihat Sunset di Tanjung Gaang sebelum Mahrib. Waktu itu sekitar pukul 17.15.  (chusnul cahyadi/1minute.id)

Eksotis Tanjung Gaang, Bukit Karang Mamer diatas Laut,Tempat Terindah Sunset di Pulau Putri Selengkapnya

Semangat Kemerdekaan, Emak-emak Dapur Mbok Inggih Melakukan Penghormatan Bendera Merah-Putih


GRESIK,1minute.id – Semarak hari Kemerdekaan semakin terasa di Kota Santri. Diantaranya, di Destinasi Selo Tirta Giri (Setigi). Sejumlah emak-emak melakukan upacara penghormatan bendera Merah-Putihyang tengah berkibar di tebing wisata alam di Desa Sekapuk, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik itu.

Penghormatan kepada Bendera Merah-Putih itudipelopori oleh Ketua PKK Desa Sekapuk Ujungpangkah Gresik Rif’atul Mubarokah. Peserta yang adalah ibu-ibu dari Dapur Mbok Inggih, yang selama ini membuka lapak di area wisata alam itu.

“Kegiatan penghormatan terhadap Merah Putih di wisata Setigi ini sebagai tanda kebangkitan semangat ibu-ibu Dapur Mbok Inggih PKK Desa Sekapuk agar tidak pantang menyerah turut berjuang memulihkan ekonomi di tengah situasi pandemi seperti sekarang ini,” tegas Rif’atul Mubarokah kepada wartawan pada Sabtu, 14 Agustus 2021.

Lebih lanjut Rif’atul mengatakan, di moment HUT RI ini, dirinya mengajak ibu-ibu Dapur Mbok Inggih PKK Desa Sekapuk agar tetap semangat memulihkan ekonomi dengan memproduksi berbagai cemilan khas leluhur untuk dijual di wisata alam Setigi. 

Rif’atul juga mengajak seluruh masyarakat menjadi bagian dari pejuang penunjang ekonomi kemandirian desa dengan berkunjung ke Setigi. “Jangan lewatkan kuliner dengan menu khas, dan  jajanan Dapur Mbok Inggih dibeli sebagai oleh-olehnya,”kata istri Kades Sekapuk Abdul Halim. (yad)

Semangat Kemerdekaan, Emak-emak Dapur Mbok Inggih Melakukan Penghormatan Bendera Merah-Putih Selengkapnya

Penyidik Polair Polres Gresik Limpahkan Tersangka Nakhoda juga Pemilik Perahu Penemu Guci Diduga Zaman Dinasti Ming ke Kejaksaan

GRESIK,1minute.id – Ifan Suparno ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Satuan Polisi Air (Polair) Polres Gresik. Nakhoda kapal yang menemukan guci diduga pada zaman Dinasti Ming itu. Namun, penetapan nakhoda yang juga pemilik perahu asal Blimbing, Lamongan sebagai tersangka tunggal itu bukan karena menemukan guci kuno bernilai sejarah itu.

“Ia kami tetapkan sebagai tersangka karena menggunakan perahu cantrang,”ujar Kasat Polair Polres Gresik AKP Poerlaksono melalui Kepala Unit Gakkum Aiptu Hajar Widagdo dikonfirmasi 1minute.id melalui selulernya pada Kamis, 12 Agustus 2021.

Ia menambahkan berkas penyidikan tersangka Ifan Suparno telah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Gresik. “Sudah tahap dua,”tegas Hajar.  Tahap dua adalah pelimpahan tersangka dan barang bukti setelah Jaksa peneliti menetapkan berkas penyidikan lengkap atau P.21. 

“Sedangkan anak buah perahu kami jadikan saksi. Karena mereka hanya di upah oleh nakhoda dan pemilik kapal,”katanya. Dengan pelimpahan tahap dua ini, sejarah baru dalam penegakan hukum untuk penggunaan alat penangkap ikan menggunakan jaring cantrang di Gresik. 

Terpisah, Ketua Advokasi Kerukunan Nelayan Bawean (KNB) Baharudin mengapresiasi Polair Polres Gresik yang telah menetapkan penggunaan cantrang ke meja hijau, Pengadilan Negeri Gresik. “Pembelajaran nelayan cantramg memahami kearifan lokal. Empati kepada nelayan lokal,”tegas Baharudin.

Seperti diberitakan Pegiat lingkungan di Pulau Bawean dihebohkan temuan guci diduga dari Dinasti Ming. Guci dengan ornamen gambar ular Naga ditemukan diperairan Barat Pulau Bawean. Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Sakti Wahyu Trenggono melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 18 Tahun 2021 melarang penggunaan cantrang untuk menangkap ikan.

Ketua Bidang Pengembangan Sumberdaya Laut dari Perkumpulan Peduli Konservasi Bawean Abd.Saddam Mujib menyatakan, guci namanya martaban jar atau storage jar diduga berasal dari Tiongkok. “Kebanyakan dari masa Dinasti Qing dan Ming. Tapi banyak juga yang kayak gini produksi Asia Tenggara seperti Thailand dan Vietnam,”kata Saddam dikonfirmasi melalui selulernya pada Rabu,12 Agustus 2021.

Penemu Guci itu adalah seorang nelayan cantrang. Nelayan itu menggunakan alat penangkap ikan pukat harimau-nama lain-cantrang atawa trawl. 

Nia Naelul Hasanah Ridwan angkat bicara terkait penemuan guci diduga zaman Dinasti Ming di Perairan Bawean. Peneliti Arkeologi Maritim KKP, dan Kepala Loka Riset Sumber Daya dan Kerentana Pesisir, Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan itu menyatakan penemuan tinggalan arkeologis berupa guci-guci gerabah (Earthenware Storage Jar) atau yang disebut juga sebagai “Martaban” dari bawah air Pulau Bawean oleh nelayan Pulau Bawean pada Juni 2021 merupakan bukti fisik arkeologis yang memperkuat narasi tentang peran penting Pulau Bawean di Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur dalam sejarah maritim Nusantara.

Guci-guci gerabah atau tembikar yang berglasir kuning kecoklatan, mempunyai pegangan (loop handles) di bagian bahu, dan mempunyai motif dekorasi berupa naga tersebut kemungkinan berasal dari masa Dinasti Ming (1368-1644 M) yang berkuasa setelah masa keruntuhan Dinasti Yuan (1271-1368). 

Guci gerabah dengan bentuk dan model seperti yang ditemukan di perairan Pulau Bawean ini umum diproduksi di sejumlah Kiln di wilayah Southern China seperti Guangdong dan masih dapat ditemukan hingga masa Dinasti Qing (1644–1912 M).

Guci Martaban umum digunakan dalam transportasi barang dalam perdagangan dengan China, negara-negara di Asia Tenggara seperti Thailand, Vietnam, Burma, Kamboja dan kerajaan-kerajaan yang berada di Nusantara. (yad)

Penyidik Polair Polres Gresik Limpahkan Tersangka Nakhoda juga Pemilik Perahu Penemu Guci Diduga Zaman Dinasti Ming ke Kejaksaan Selengkapnya

Temuan Guci Diduga Zaman Dinasti Ming Perkuat Narasi Bawean dalam Sejarah Maritim Nusantara

“Temuan Guci Gerabah dari Bawah Air Pulau Bawean sebagai Bukti Penting untuk Memperkuat Narasi Bawean dalam Sejarah Maritim Nusantara”

Nia Naelul Hasanah Ridwan, S.S., M.Soc.Sc

GRESIK,1minute.id – Nia Naelul Hasanah Ridwan angkat bicara terkait penemuan guci diduga zaman Dinasti Ming di Perairan Bawean. Peneliti Arkeologi Maritim KKP, dan Kepala Loka Riset Sumber Daya dan Kerentana Pesisir, Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan itu menyatakan penemuan tinggalan arkeologis berupa guci-guci gerabah (Earthenware Storage Jar) atau yang disebut juga sebagai “Martaban” dari bawah air Pulau Bawean oleh nelayan Pulau Bawean pada Juni 2021 merupakan bukti fisik arkeologis yang memperkuat narasi tentang peran penting Pulau Bawean di Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur dalam sejarah maritim Nusantara.

Guci-guci gerabah atau tembikar yang berglasir kuning kecoklatan, mempunyai pegangan (loop handles) di bagian bahu, dan mempunyai motif dekorasi berupa naga tersebut kemungkinan berasal dari masa Dinasti Ming (1368-1644 M) yang berkuasa setelah masa keruntuhan Dinasti Yuan (1271-1368). Guci gerabah dengan bentuk dan model seperti yang ditemukan di perairan Pulau Bawean ini umum diproduksi di sejumlah Kiln di wilayah Southern China seperti Guangdong dan masih dapat ditemukan hingga masa Dinasti Qing (1644–1912 M).

Guci Martaban umum digunakan dalam transportasi barang dalam perdagangan dengan China, negara-negara di Asia Tenggara seperti Thailand, Vietnam, Burma, Kamboja dan kerajaan-kerajaan yang berada di Nusantara.

Guci-guci tersebut dapat menjadi barang komoditas untuk diperdagangkan, sebagai sebagai wahana untuk menyimpan barang komoditas lain seperti biji-bijian, teh, piring dan mangkok porselen, dan juga sebagai alat untuk menyimpan bahan makanan bahan makanan seperti saus, tepung, dan juga air. 

Guci tembikar banyak ditemukan di situs-situs kapal karam di Indonesia yang berada di Jalur Rempah dan Sutra Laut (Maritime Silk and Spice Route) yang menghubungkan Dunia Timur dengan Dunia Barat dan membentang dari Asia Timur (China, Jepang) hingga ke Asia Barat, Afrika dan Eropa dengan melewati Asia Tenggara dan Asia Selatan. 

PETA perairan Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur

Perairan Nusantara beserta pulau-pulaunya termasuk Pulau Bawean memegang peranan sangat penting dalam sejarah pelayaran dan perdagangan internasional sejak dulu kala karena Indonesia berada di jalur utama dan juga persimpangan Maritime Silk and Spice Route sehingga banyak kapal-kapal asing dari berbagai negara yang datang dan melewati perairan Nusantara. 

Pelayaran dan perdagangan dunia juga melibatkan masyarakat di pulau-pulau di wilayah Nusantara baik masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil maupun penduduk di pedalaman sebagai penghasil komoditas seperti rempah dari Indonesia Timur berupa pala dan cengkeh dari Ternate, Tidore, Banda, lada dari Banten dan Lampung, barang tambang seperti emas dan perak dari Sumatera, dan komoditas hasil bumi lainnya.

Banyak pulau-pulau di Indonesia juga menjadi tempat singgah kapal-kapal yang berlayar untuk melakukan tukar menukar atau jual beli, mengisi persediaan air, atau menunggu angin yang cocok untuk berlayar kembali.

Penemuan guci dari China dari bawah air Pulau Bawean dari masa sekitar Dinasti Ming atau Qing tersebut dan banyaknya tinggalan arkeologis lain di pulau Bawean seperti keramik dari masa Dinasti Yuan, keramik Asia Tenggara dan Eropa, koin-koin dari China maupun masa VOC dan pemerintahan kolonial Belanda, meriam-meriam kuno, adanya pelabuhan kuno Bawean dan sarana pendukungnya seperti di Desa Sawahmulya dan Sangkapura, adanya nisan-nisan kuno, arca Budha dari perunggu, stupika, penemuan situs kapal karam di Gosong Gili dan di dekat Pulau Nusa ini, serta adanya sejumlah toponomi (nama unsur geografis) seperti Pulau Cina dan Tanjung Cina menunjukkan bahwa Pulau Bawean mempunyai perjalanan sejarah cukup panjang dan latar historis yang sangat menarik yang berhubungan dengan berbagai bangsa asing sejak zaman dahulu. 

MARTABAN: Guci diduga zaman Dinasti Ming yang terjaring oleh nelayan yang menggunakan alat penangkap ikan cantrang di perairan Bawean (foto: tangkapan layar konservasi Bawean for 1minute.id)

Pulau Bawean juga dihuni oleh masyarakat dari berbagai tempat di Nusantara seperti Jawa, Madura, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain, memperlihatkan juga bahwa sejak dahulu kala Bawean telah dikunjungi dan berinteraksi dengan berbagai orang dari berbagai pulau di Nusantara sendiri maupun dari negara lain.

Posisi geografis Bawean juga sangat strategis sebagai titik yang menghubungkan wilayah barat Indonesia dari Selat Malaka, Laut China Selatan, ke Selat Sunda, dan Laut Jawa dengan bagian tengah Indonesia kemudian menuju ke arah atas ke Selat Makassar yang mengarah ke Filipina, China, Jepang dan ke arah timur yaitu ke wilayah-wilayah penghasil rempah eksotis di Nusantara. 

Dalam sejarah Pulau Bawean, disebutkan bahwa sejumlah pelaut dari Kerajaan Majapahit menemukan Pulau Bawean sekitar tahun 1350 yang merupakan masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk di Majaphit. Para pelaut Majaphit tersebut terdampar di Bawean saat terjebak badai di Laut Jawa. 

Hal tersebut membuktikan bahwa Pulau Bawean sangat penting bagi kapal-kapal yang berlayar di Laut Jawa yang membutuhkan tempat perlindungan di saat kondisi cuaca di laut berbahaya untuk pelayaran. Akan tetapi, kondisi perairan Bawean di beberapa lokasi juga cukup berbahaya karena banyak terdapat beting karang dengan kedalaman yang dangkal yang dapat membahayakan kapal yang berlayar sehingga tidak heran apabila ditemukan bangkai kapal karam di Gosong Gili dan area sekitar Pulau Nusa.

Latar historis menyebutkan bahwa Pulau Bawean pernah dikunjungi oleh armada yang membawa rombongan puteri Kerajaan Champa di Kamboja yang diyakini sebagai ibu dari Sunan Ampel. Puteri tersebut kemudian meninggal di Pulau Bawean dan saat ini makamnya terletak di Tanjung Putri, Desa Kumalasa. 

Sejarah terdamparnya pelaut dari Majapahit, cerita mengenai puteri dari Champa, dan adanya temuan keramik dari masa Dinasti Yuan yang berkuasa di tahun 1271-1368 serta temuan guci bawah air dari masa Dinasti Ming menunjukkan bahwa Bawean pernah menjadi titik yang penting yang terkait dengan berbagai kerajaan besar di Asia Tenggara yaitu Champa dan Majapahit, dan juga kekaisaran China dari Yuan Mongol dan Dinasti Ming.

Guci-guci tembikar dari bawah air Bawean yang merupakan Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) dan keberadaan situs kapal karam di Bawean perlu dilindungi, dilestarikan dan dapat dikembangkan sesuai dengan amanat dari Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Perlindungan Cagar Budaya, Undang-Undang Kelautan Nomor 32 tahun 2014, dan UU Nomor 1 tahun 2014 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. 

Situs bawah air temat ditemukannya guci-guci tembikar perlu dikaji secara ilmiah untuk diketahui secara pasti kondisinya saat ini baik kondisi situs, kondisi BMKT, dan kondisi ekosistem serta kondisi fisik lingkungannya. Apabila kondisi situs masih baik dengan temuan BMKT di dalamnya, maka situs dapat dimanfaatkan secara lestari dan berkelanjutan dengan menjadikannya sebagai lokasi wisata selam minat khusus yaitu shipwreck diving yang tentu saja harus sejalan dengan upaya pelindungan dan pelestariannya. 

Keterlibatan masyarakat dan pemerintah daerah secara aktif di Bawean, Kabupaten Gresik, maupun Pemprov Jawa Timur sangat diperlukan dalam upaya pelindungan, pelestarian dan pengembangannya ke depan. 

Sosialisasi kepada masyarakat nelayan dan masyarakat Bawean umumnya perlu dilakukan agar masyarakat mengetahui bahwa artefak dari bawah air perlu dilindungi dan tidak boleh dijarah karena dapat berimplikasi terhadap masalah hukum sesuai dengan legislasi nasional Indonesia. 

Pemerintah daerah juga diharapkan untuk segera memberikan perhatian terhadap temuan bawah air ini dengan menggandeng pemerintah pusat dikarenakan peninggalan dari laut di Bawean sangat penting sebagai bukti dan saksi sejarah pentingnya Pulau Bawean di Jalur Rempah dan Sutera Maritim yang sangat signifikan untuk memperkuat sejarah maritim Nusantara. 

Penulis : 

Peneliti Arkeologi Maritim KKP, dan Kepala Loka Riset Sumber Daya dan Kerentana Pesisir, Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Temuan Guci Diduga Zaman Dinasti Ming Perkuat Narasi Bawean dalam Sejarah Maritim Nusantara Selengkapnya

Guci Kuno Diduga Era Dinasti Ming Terjaring Nelayan Cantrang, Hebohkan Pegiat Lingkungan Bawean


GRESIK,1minute.id – Pegiat lingkungan di Pulau Bawean dihebohkan temuan guci diduga dari Dinasti Ming. Guci dengan ornamen gambar ular Naga ditemukan di perairan Barat Pulau Bawean. Penemu Guci itu adalah seorang nelayan cantrang. Nelayan itu menggunakan alat penangkap ikan pukat harimau-nama lain-cantrang atawa trawl.

Siapa nelayan itu belum diungkap identitasnya. Pasalnya, nelayan itu kini sedang dalam proses penyidikan di Polair Polres Gresik. Proses hukum karena nelayan tersebut menggunakan alat penangkap ikan yang telah dilarang oleh pemerintah karena dianggap bisa merusak ekosistem laut. Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Sakti Wahyu Trenggono melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 18 Tahun 2021 melarang penggunaan cantrang untuk menangkap ikan.

Ketua Bidang Pengembanagan Sumberdaya Laut dari Perkumpulan Peduli Konservasi Bawean Abd.Saddam Mujib menyatakan, guci namanya martaban jar atau storage jar diduga berasal dari Tiongkok. “Kebanyakan dari masa Dinasti Qing dan Ming. Tapi banyak juga yang kayak gini produksi Asia Tenggara seperti Thailand dan Vietnam,”kata Saddam dikonfirmasi melalui selulernya pada Rabu,11 Agustus 2021.

Ia mengatakan tempat penemuan martaban jar itu dari dulu menjadi alur pelayaran yang ramaidilalui kapal-kapal dari China, Timur Tengah. Juga, dari kerajaan Majapahit sama Sriwijaya biasa lalu lalang dengan membawa muatan berupa komoditas dagang seperti keramik dan tembikar sama produk rempah kita atau tekstil India. “Guci atau martaban jar itu sekarang disimpan di rumah seorang warga Bawean,”katanya.

GUCI KUNO : Guci kuno atau Martaban Jar itu terjaring alat penangkap ikan menggunakan cantrang diperkirakan Pulau Bawean. Penggunaan cantrang dilarang karena merusak ekosistem laut. (foto : pegiat Konservasi Bawean for 1minute.id)

Saddam menambahkan penemuan Guci kono tersebut sebagai indikasi bahwa perairan laut Bawean kaya akan harta karun bawah laut. “Apalagi penemuannya di perairan barat pulau Bawean dimana di daerah tersebut ada BMKT,”kata Saddam. 

Untuk diketahui Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam  (BMKT) adalah benda berharga yang memiliki nilai sejarah, budaya, ilmu pengetahuan, dan ekonomi yang tenggelam di wilayah perairan Indonesia, zona ekonomi eksklusif Indonesia dan landas kontinen Indonesia, paling singkat berumur 50 tahun.

Saddam melanjutkan perairan laut Jawa merupakan daerah lalu lalangnya kapal kapal China, Portugis, dan lain pada sekitar abad ke-17 sampai pertengahan abad ke-19. “Penemuan guci tersebut bisa menjadi daya tarik wisatawan nantinya dan sebaiknya dibuatkan semacam museum barang antik yang ditemukan di perairan Bawean,”harap Saddam.

Kabarnya,penemuan guci kuno itu telah dilaporkan ke Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, Mojokerto. Namun, perpanjangan masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 Jawa-Bali hingga 16 Agustus 2021 sehingga belum melakukan penelitian terkait penemuan guci kuno itu.  “Iya kami sudah melaporkan temuan guci kuno ke BP3 Trowulan,”kata Muhammad, Ketua Perkumpulan Konservasi Bawean. (yad)

Guci Kuno Diduga Era Dinasti Ming Terjaring Nelayan Cantrang, Hebohkan Pegiat Lingkungan Bawean Selengkapnya