Kasdam V Brawijaya Tutup TNI Manunggal Membangun Desa Ke-119 di Gresik 

GRESIK,1minute.id – Kasdam V Brawijaya Brigjend TNI Endro Satoto menutup kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-119. Upacara penutupan dilaksanakan di Halaman Kantor Bupati Gresik pada Rabu, 20 Maret 2024. TMMD dipusatkan di Desa Sembung, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik. 

Kegiatan TMM digelar selama sebulan mulai 20 Februari 2024 sampai 20 Maret 2024 dengan mengangkat tema “Darma Bakti TMMD Mewujudkan Percepatan Pembangunan di Wilayah”.

Kasdam V Brawijaya Endro Satoto saat membacakan sambutan Panglima Kodam V Brawijaya menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada pemerintah daerah, seluruh prajurit dan elemen masyarakat.

Dikatakan, TMMD kali ini memprioritaskan  pembangunan daerah. Di antaranya desa tertinggal, terisolasi atau terpencil, daerah kumuh perkotaan, serta daerah terdampak bencana alam.

“Pelihara semangat kebersamaan antara TNI dan rakyat. Yang kedua rawat hasil program TMMD ini agar manfaatnya bisa dirasakan dan dinikmati bersama dalam waktu yang lama. Dan yang ketiga lakukan evaluasi secara menyeluruh untuk dijadikan bahan perbaikan pada pelaksanaan TMMD berikutnya,” jelas Pangdam dalam amanatnya.

TMMD ke-119 Kabupaten Gresik memiliki beberapa sasaran pembangunan, diantaranya, drainase, jalan desa, renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), pelengsengan pada saluran sungai dan penyuluhan, pembangunan non-fisik, pertanian serta baksos.

Usai upacara dilaksanakan  santunan anak yatim yang diserahkan berturut-turut oleh Seketaris Daerah (Sekda) Gresik Achmad Washil Miftachul Rachman, Kasdam V Brawijaya, dan Ketua Persit Kodam V (yad)

Kasdam V Brawijaya Tutup TNI Manunggal Membangun Desa Ke-119 di Gresik  Selengkapnya

Berkah Ramadan, 295 ASN Naik Pangkat, Suprapto : Tingkatkan Etos Kerja dan Pelayanan 

GRESIK,1minute.id – Ratusan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik menerima Surat Keputusan (SK) kenaikan pangkat periode 1 April 2024. Berkah bulan Suci Ramadan. Mereka pun semringah karena gaji dan tunjangan terkerek naik.

Data Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Gresik total ASN yang menerima SK kenaikan pangkat sebanyak 295 pegawai. Rinciannya 116 pegawai negeri sipil Struktural dan 179 PNS Fungsional terdifi dengan 30 pegawai  golongan II ; 185 pegawao golongan III dan 80 pegawai golongan IV.

Kenaikkan pangkat ini bertujuan untuk memberikan dorongan dan semangat kerja bagi PNS dalam melaksanakan aktivitas serta memberikan kesempatan mengembangkan karir yang lebih baik.

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani melalui, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setkab Gresik Suprapto, menyampaikan kenaikan pangkat bagi PNS bukan hak PNS, akan tetapi merupakan penghargaan yang diberikan pemerintah atas kinerja pegawai.

“Pangkat atau jabatan yang dimiliki saat ini merupakan penghargaan atas prestasi kerja yang telah dilakukan. Terdapat banyak tolok ukur parameter kinerja PNS yang menjadi pertimbangan dalam kenaikan pangkat, seperti kinerja PNS yang meliputi hasil kerja dan tingkat kedisiplinan,” paparnya saat memberikan sambutan dalam acara penyerahan SK kenaikan pangkat PNS di Ruang Mandala Bhakti Praja lsntai IV Kantor Bupati Gresik pada Rahu, 20 Maret 2024.

Ia berpesan agar kenaikan pangkat tersebut diiringi dengan peningkatan pelayanan masyarakat, etos kerja, dan kedisiplinan PNS Kabupaten Gresik dalam bekerja. “Jadikanlah kenaikan pangkat yang telah diterima sebagai pemacu semangat dalam bekerja, saya berharap agar dapat lebih meningkatkan kualitas pelayanan yang telah dilakukan selama ini,” kata mantan Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Gresik itu. (yad)

Berkah Ramadan, 295 ASN Naik Pangkat, Suprapto : Tingkatkan Etos Kerja dan Pelayanan  Selengkapnya

Wamenaker Ajak Pekerja Smelter PTFI Sukseskan Hilirisasi

GRESIK,1minute.id – Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor meninjau proses pembangunan Smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Gresik, Jawa Timur pada Senin, 18 Meret 2024. Wamenaker didampingi Wakil Presiden Direktur PTFI Jenpino Ngabdi berdialog dengan perwakilan karyawan Smelter PTFI. Ia mengatakan smelter PTFI ini adalah bagian penting dari hilirisasi yang dicanangkan pemerintah. 

“Saat ini kita harus membangun hilirisasi. Dahulu kita hanya mengirimkan barang mentah, saat ini kita bisa mengolahnya di dalam negeri dan memberikan nilai tambah buat bangsa kita sendiri,” katanya. Wamenaker juga mengajak para pekerja bekerja dengan optimal sehingga turut berperan mendukung suksesnya program hilirisasi. “Harapannya smelter PTFI bisa berproduksi dengan baik dan bisa menjadi contoh baik bagi smelter perusahaan lain. Mewujudkan sistem perusahaan yang baik dan sistem menajerial perusahaan yang baik,” katanya. 

Afriansyah menitip pesan kepada pekerja agar selalu menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan aman, sehingga dapat menurunkan angka kecelakaan kerja sesuai dengan prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). 

Wakil Presiden Direktur PTFI Jenpino Ngabdi mengatakan pembangunan smelter PTFI saat ini sudah sesuai dengan target. Pihaknya optimis Smelter PTFI akan selesai tepat waktu hingga kapasitas produksi penuh pada Desember 2024.  Smelter tembaga dengan Design Single Line terbesar di dunia ini memurnikan konsentrat tembaga dengan 

kapasitas produksi 1,7 juta ton dan menghasilkan katoda tembaga hingga 600.000 ton per tahun. Jenpino menambahkan keberadaan Smelter PTFI juga berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Timur melalui penyerapan tenaga kerja. (yad)

Wamenaker Ajak Pekerja Smelter PTFI Sukseskan Hilirisasi Selengkapnya

Masjid Pertama, Pusat Dakwah Sunan Giri Pada 1487 Masehi

Ngelutus di “Grissee Kota Bandar” (4)

GRESIK,1minute.id – Masjid Giri Kedaton terlihat megah. Meliihat bangunan masjid kali pertama yang dibangun oleh Sunan Giri dari atas Bukit Putri Cempo begitu terlihat sangat indah. Ada ratusan undakan sebelum mencapai puncak atau halaman masjid yang berada di Desa Sidomukti, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik itu. 

Bangunan yang didirikan pada 1487 Masehi atau 537 tahun lalu itu menjadi bukti awal dimulainya dakwah Sunan Giri. Bangunan masjid itu tertinggi di Gresik. Konon, tidak boleh ada bangunan gedung di kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik yang lebih tinggi dari masjid Giri Kedaton yang menyimpan setumpuk sejarah itu.

Masjid yang berada di Bukit Giri itu dikenal dengan nama situs Giri Kedaton. Kompleks masjid serta pesantren pertama di Gresik yang berjarak 200 meter ke arah timur dari Jalan Raya Giri.

Bangunan yang didirikan pada 1487 Masehi itu menjadi bukti awal dimulainya dakwah Sunan Giri. Sebelum berdakwah, Sunan Giri banyak belajar ilmu agama di Ampel Denta (Sunan Ampel, Surabaya) bersama Makdum Ibrahim (Sunan Bonang). Tepatnya pada 1455 Masehi, saat usia beliau menginjak 12 tahun. Setelah mondok selama tujuh tahun, Sunan Giri di wisuda dengan gelar Ainul Yaqin.

Menurut buku Sejarah Sunan Giri yang ditulis Yayasan Makam Sunan Giri, setelah di wisuda, Sunan Giri sejatinya ingin berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Namun, Sunan Ampel menyarankan Sunan Giri agar mampir ke Samudra Pasai untuk menimba  ilmu agama lebih dalam. Sunan Giri diminta berguru ke Syekh Maulana Ishaq yang tidak lain adalah ayah Sunan Giri.

Setelah berguru, Sunan Giri diminta kembali ke tanah Jawa oleh Syekh Maulana Ishaq. Sebab, saat itu di tanah Jawa terjadi masa transisi dari Kerajaan Hindu-Buddha ke Islam. Oleh Syekh Maulana Ishaq, Sunan Giri diberi bekal segenggam tanah. Sang ayah meminta Sunan Giri kembali ke Gresik dan mencari tanah yang serupa dengan tanah tersebut. Mulai bentuk, warna, hingga baunya.

SITUS SUNAN GIRI : Di halaman Masjid Giri Kedaton ini, konon Sunan Giri dinobatkan sebagai Kepala Pemerintahan di Bukit Giri dengan gelar Prabu Satmata ( Foto : Chusnul Cahyadi/1minute.id)

Sebelum menemukan jenis tanah yang diminta sang ayah, Sunan Giri sempat iktikaf (bertapa) di Gunung Bathang (sekarang wilayah Gulomantung, Kebomas, Gresik) pada 1482 Masehi. Hingga kini, napak tilas Sunan Giri masih bisa dilihat Bekas wajah dan kaki Sunan Giri membekas di sebuah batu yang sekarang diabadikan di Masjid Gulomantung.

Hingga akhirnya, Sunan Giri berhasil menemukan jenis tanah yang serupa dengan yang diminta Syekh Maulana Ishaq. Lokasinya di Bukit Giri, Desa Sidomukti, Kecamatan Kebomas. Pada 1487, Sunan Giri mendirikan masjid pertamanya yang dikenal dengan Giri Kedaton. Pusat persebaran agama Islam sekaligus pemerintahan Gresik pada masa itu.

Pada 1487, Gresik masih menjadi bagian dari kekuasaan Majapahit. Meski di Majapahit saat itu terjadi kekosongan kekuasaan gara-gara perang saudara, kepercayaan Hindu- Buddha masih sangat kental. Sunan Giri pernah mengisi kekosongan kekuasaan itu selama 40 hari. Sebelum akhirnya didapuk sebagai penguasa di kerajaan Giri Kedaton oleh Raden Patah pada 12 Rabiul Awal 894 Hijriah atau 9 Maret 1487. Sunan Giri diberi gelar Prabu Satmata. Dalam berdakwah, Sunan Giri punya cara tersendiri. Ada dua metode dakwah itu. Yaitu, melalui pendidikan di pesantren dan “blusukan” ke acara tradisi warga setempat.

Sunan Giri kerap mengikuti acara tradisi umat Hindu-Buddha. Misalnya, tradisi tumpengan. Warga menggunakan nasi yang dibentuk kerucut itu sebagai sesajen untuk roh para dewa. Oleh Sunan Giri, tradisi tersebut tidak lantas dihilangkan. Tradisi berdoa menggunakan tumpeng tetap dilestarikan. Bedanya, tumpeng dimakan oleh orang yang berdoa. “Masyarakat diberi pemahaman bahwa makanan itu untuk manusia. Bukan untuk roh yang bersifat gaib”.

Dengan cara yang santun, Sunan Giri berhasil masuk ke tradisi umat Hindu-Buddha. Secara perlahan, ajaran Sunan Giri mulai diterima masyarakat sekitar Satu per satu warga Gresik yang awal nya menganut Hindu-Buddha berpindah ke ajaran Islam. “Banyak menggunakan akulturasi budaya sebagai media dakwah

Sunan Giri termasuk wali yang berilmu tinggi. Bentuk makam nya dibangun berbeda dengan makam sunan yang lain. Salah satu di antaranya, terlihat pada tingkatan atap dan undak undakan sebe lum masuk makam. “Selalu ada tiga undakan. Itu melambangkan tingginya ilmu Sunan Giri. Mulai syariat, hakikat, hingga makrifat yang paling tinggi”. (yad/bersambung)

Masjid Pertama, Pusat Dakwah Sunan Giri Pada 1487 Masehi Selengkapnya

Patroli Sahur On The Road Polres Gresik, Gagalkan Aksi Balap Liar di Jalan Kartini

GRESIK,1minute.id – Polres Gresik menggelar patroli sahur dan tadarus di jalan pada Minggu dini hari, 17 Maret 2024. Kegiatan ini dipimpin oleh Kasat Samapta Polres Gresik Iptu Heri Nugroho menggagalkan balap liar di Jalan Raden Ajeng Kartini, Gresik. Polisi juga menyita 26 unit sepeda motor yang telah di modifikasi untuk balap liar itu.

Kapolres Gresik AKBP Adhitya Panji Anom mengatakan bahwa patroli sahur akan terus dilakukan selama bulan Ramadan. Ia menghimbau kepada masyarakat untuk tetap menjaga keamanan dan ketertiban selama bulan Ramadan.

“Kami menghimbau kepada masyarakat untuk tetap menjaga keamanan dan ketertiban selama bulan Ramadan. Hindari kegiatan yang dapat mengganggu keamanan dan kenyamanan masyarakat,” kata AKBP Adhitya Panji Anom

Selain patroli sahur, Polres Gresik juga menggelar tadarus di jalan. Kegiatan ini diikuti oleh personel Polres Gresik dan masyarakat umum. Tadarus di jalan ini bertujuan untuk meningkatkan syiar Islam dan mempererat tali silaturahmi antara Polri dan masyarakat.

Patroli sahur on the road bertujuan untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat selama bulan Ramadhan. Patroli ini juga bertujuan untuk memberikan imbauan kepada masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan bulan Ramadhan ini untuk meningkatkan ibadah dan menjaga kondusifitas lingkungan. “Pengendara kami lakukan pembinaan. Sedangkan sepeda motor kami amankan”. (yad)

Patroli Sahur On The Road Polres Gresik, Gagalkan Aksi Balap Liar di Jalan Kartini Selengkapnya

Tetenger Gerbang Makam Sayyid Abdurrahman, Paman Sunan Giri Sebelum Hilang

Ngelutus di “Grissee Kota Bandar” (3)

GRESIK,1minute.id – Gapura Makam Sayyid Abdurrahman sudah hilang. Hilang “tertelan” tanah longsor pada Maret 2020 lalu. Gapura yang menjadi tetenger menuju makam paman Sunan Giri, Waliyullah di Bukit Putri Cempo hanya tinggal kenangan. 

Beruntung Saya sempat ngelutus ke tempat yang kerap menjadi jujugan warga untuk “berwisata” hati itu. Begini bentuk gapura yang sebelum hilang karena tanah longsor yang sempat diabadikan oleh wartawan 1minute.id

Kondisi makam Sayyid Abdurrahman juga  memprihatinkan. Imbas tanah longsor di kawasan Bukit Putri Cempo itu, makam paman Sunan Giri di Bukit Petukangan, Desa Gending, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik mulai retak-retak.

Sejumlah orang mengkhawatirkan situs sejarah itu rusak. Menurut Akhmad Saifudin, juru kunci makam Syekh Sayyid Abdurrahman, sejak 2020  tanah makam terus longsor. Bahkan pada musim hujan pada 2022 terjadi penurunan tanah 10 sentimeter setiap hari.

TANGGA RUSAK : Selain gapura makam Sayyid Abdurrahman, paman Sunan Giri yang hilang karena longsor pada Maret 2020 lalu. Juga tangga menuju makam rusak karena tanah longsor. Foto atas Gapura diambil pada 13 Juli 2019 atau setahun sebelum longsor dan tangga makam diambil pada 5 September 2019. (Foto : Chusnul Cahyadi/1minute.id)

Untuk menyelamatkan situs religi Syaifuddin kemudian menyusun batu bata masuk menuju makam itu. Upaya Syaifuddin untuk sementara waktu bisa menyelamatkan pesarean Sayyid Abdurrahman itu. Letak makam Syekh Sayyid Abdurrahman dekat dengan makam Putri Cempo. Makam itu kali terakhir direnovasi pada 1991. Renovasi dilakukan karena ada bagian makam yang tertimpa tower telekomunikasi.

“Ada yang menyebut Sayyid Abdurrahman ini sebagai paman Sunan Giri. Beliau ini keturunan Sunan Ampel,” jelas Saifudin. Bukit Putri Cempo kini banyak mengalami perubahan. Area yang dulu sakral itu, kini menjadi pusat kongko para milenial menikmati  suasana malam Kota Industri dengan cerobong-cerobong pabrik yang terus mengeluarkan asap itu. (yad/bersambung)

Tetenger Gerbang Makam Sayyid Abdurrahman, Paman Sunan Giri Sebelum Hilang Selengkapnya

Sunan Giri Pindahkan Bukit dan Makam Dewi Sekardadu, Ibundanya dari Banyuwangi ke Gresik 

Ngelutus di “Grissee Kota Bandar” (2)

GRESIK,1minute.id – MAKAMDewi Sekardadulengang. Siapa Raden Ajeng Dewi Sekardadu? Dewi Sekardadu adalah ibunda Sunan Giri. Waliyullah. Masyarakat Gresik menyakini makam Dewi Sekardadu dulu berada di Blambangan, Banyuwangi.

Konon, mengingat jarak Gresik-Banyuwangi yang cukup jauh. Sunan Giri memiliki gelar Prabu Satmata atau Kepala Pemerintahan di Bukit Kedaton itu kemudian bermunajat kepada Allah agar makam Dewi Sekardadu beserta bukitnya dipindahkan ke kota dimana beliau mengajarkan Islam kali pertama.

Tempat itu dinamakan Gunung Anyar. Salah satu dusun di Desa Ngargosari, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik. Makam Dewi Sekardadu berada dalam satu cungkup yang megah. Khusus untuk makam Dewi Sekardadu ditutup dengan kain kelambu.

SILSILAH : Prasasti tentang silsilah Raden Ajeng Dewi Sekardadu yang di pesarean Dewi Sekardadu di Dusun Gunung Anyar, Desa Ngargosari, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik (Foto : Chusnul Cahyadi/1minute.id)

Di dalam cungkup itu juga terdapat dua makam lainnya. Makam pertama adalah Panembahan Mas Gunung Anyar dan satunya tidak disebutkan namanya. Berdasarkan silsilah diketahui Panembahan Mas Gunung Anyar merupakan keturunan keempat dari Sunan Giri. Bangunnya semi permanen. Tembok dan gebyok kayu ukiran yang sangat terawat baik. 

Di sekitar halaman pesarean Dewi Sekardadu ditumbuhi pepohonan yang rindang sehingga membuat suasana terasa teduh. Ada fasilitas penunjang lainnya yakni musalah, toilet serta joglo untuk para peziarah beristirahat. (yad/bersambung)

Sunan Giri Pindahkan Bukit dan Makam Dewi Sekardadu, Ibundanya dari Banyuwangi ke Gresik  Selengkapnya

Sungai Bengawan Solo di Gresik Meluap, Puluhan Rumah di Desa Madu Mulyorejo Terendam

GRESIK,1minute.id – Sungai Bengawan Solo di Kabupaten Gresik meluap pada Selasa, 12 Maret 2024. Puluhan rumah di Desa Madu Mulyorejo, Kecamatan Dukun terendam air. Ketinggalan air 20 hingga 30 centimeter. Warga terdampak banjir kali pertama dalam periode 10 tahun terakhir ini masih bertahan di rumah masing-masing. 

Tingginya curah hujan dan durasi waktu lama membuat Sungai Bengawan Solo yang meliintas di Kabupaten Gresik meluap. Luapan air sungai terpanjang di Pulau Jawa itu merendam puluhan rumah di Desa Madu Mulyorejo. Air bah sungai itu meluap dan menggenangi permukiman penduduk itu pada Selasa pagi. 

Luapan air Sungai Bengawan Solo di Desa Madu Mulyorejo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik ini kali pertama pascapembangunan Bendung Gerak Sembayat (BGS) yang berada di Desa Sidomukti, Kecamatan Bungah itu. Desa Madu Mulyorejo berada sebelum BGS.

Banjir yang disebabkan Sungai Bengawan Solo meluap ini menjadi perhatian serius Serda Azis, Babinsa (Bintara Pembina Desa) Koramil 0817/16 Dukun itu. Serda Azis terus memantau perkembangan debit air yang menggenangi rumah warga tersebut. “Saat ini ada 18 KK (Kepala Keluarga) yang terdampak banjir Sungai Bengawan Solo,” kata Serda Azis.

Untuk antisipasi kebutuhan alat evaluasi telah disiapkan, jika ada yang membutuhkan akan siap melakukan evakuasi. Hingga petang ini terus dilakukan pemantauan dan belum ada warga yang dievakuasi. Sebagai langkah awal, akan dipantau terus perkembangannya, dan apabila dibutuhkan, kami siap melakukan evakuasi warga dipindahkan ke tempat yang lebih aman,” tandas Babinsa Serda Aziz. (yad)

Sungai Bengawan Solo di Gresik Meluap, Puluhan Rumah di Desa Madu Mulyorejo Terendam Selengkapnya

Nyai Ageng Tumengkang Sari, Cucu Sunan Giri Ahli Kebidanan dan Obat

Ngelutus di “Grissee Kota Bandar” (Bagian : 1)

Marhaban yaa Ramadan. Bulan suci Ramadan 1445 hijriah/2024 masehi tahun ini,  1minute.id  menyajikan hal berbeda. Cerita hasil “ngelutus” di Gresik. Hasil dari mlaku-mlaku jurnalistik itu berwujud buku berjudul “Grissee Kota Bandar”. Buku yang isinya tentang Gresik. Tentang religi, budaya, sampai destinasi wisata di daratan dan kepulauan yakni Pulau Bawean.

Di sejumlah sekolah, buku Grissee Kota Bandar ini, menjadi pendamping buku ajar kurikulum muatan lokal (mulok) tentang Gresik yang memiliki banyak sebutan ini. Sebutan itu, antara lain, Kota Bandar (Pelabuhan,Red) ; Kota Santri ; Kota Wali ; Kota Industri, Kota Pudak dan lainnya. Buku hasil ngelutus Chusnul Cahyadi, yang sudah memasuki cetakan kedua pada 2023 lalu. Tentu saja, sajian mengisi Ramadan ini ada yang baru. Kita mulai dari Nyai Ageng Tumengkang Sari.

PESAREAN Nyai Ageng Tumengkang Sari lengang. Hanya satu, dua peziarah keluar masuk pesarean dalam kompleks Makam Islam Sumur Songo itu. Seakan bergantian. Keluar dan masuk. Kondisi makam rapi dan bersih cukup luas. Di dalam cungkup hanya ada dua makam yakni, makam Nyai Ageng Tumengkang Sari dan makam Buyut Susilowati, dayang atau pendamping.

Peziarah cukup leluasa ketika berdoa di makam Nyai Ageng Tumengkang Sari ini. Sedangkan di luar cungkup atau halaman luar  terdapat sejumlah makam, antara lain ; Mbah Brojol (pengelola bahan baku jamu) ; Mbah Singo (Pengawal) dan Mbah Tarip-tidak disebutkan-jabatannya. Siapa Nyai Ageng Tumengkan Sari. 

Berdasarkan cerita singkat yang ditempelkan di area makam disebutkan Nyai Ageng Tumengkang Sari adalah cucu Sunan Giri, Waliyullah yang makamnya di Bukit Giri, Kecamatan Kebomas,  Kabupaten Gresik.  Nyai Ageng Tumengkang Sari adalah putri Sunan Weruju ini lahir di Giri, Gresik. Sunan Weruju adalah putra Sunan Girl dari perkawinan beliau dengan Dewi Murthosiah binti Sunan Ampel sebagai putri keraton di Giri Kedaton dan Cucu seorang penguasa Kerajaan Giri Kedaton.

Beliau belajar banyak ilmu Agama dari lingkungannya, kemudian di masa gadisnya, beliau babat alas membuka pemukiman baru dan kemudian menjadi penguasa di wilayah yang kemudian bernama Sumur Songo (Sekarang bagian dari Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan Gresik), sampai akhir hayatnya beliau tidak pernah menikah. Haul Nyai Ageng Tumengkang Sari diperingati setiap 12 Shofar.

Menurut cerita Nyai Ageng Tumengkang Sari memiliki keahlian dalam bidang kebidanan dan pengobatan (Jamu). Namanya harum dan dikenal oleh masyarakat Gresik sampai sekarang karena sering “membantu” perempuan yang hendak melahirkan. 

Makam Nyai Ageng Tumengkang Sari yang memiliki nama lain yakni Mbah Buyut Sumur Songo atau Nyal Ageng Pamengkang Sari atau Nyal Ageng Pemangku Sumur Songo ini sering dikunjungi orang-orang yang Ingin proses kelahiran putranya lancar dengan membawa minyak kelapa atau air Sumur Songo yang masih ada disekitar makam dan memohon doa kepada Allah dan berkirim doa (wasilah) di makam beliau.

Nama wilayah/dusun Sumur Songo tidak lepas dari kiprah beliau dan usaha beliau dalam menolong persalinan serta pengobatan, banyak versi tentang Sumur Songo yang melegenda dan tersebar di masyarakat, sedangkan sumur yang tersisa kini hanya tinggal tiga buah, satu diantaranya masih berfungsi dan berada di sekitar 50 meter sebelah tenggara makam Nyal Ageng Tumengkang Sari, satu di kompleks SMP Negeri 4 dan satu komplek Perumahan Sidorukun Indah sebelah utara masjid Al Amin, Perumahan Sidorukun Indah Gresik sedang sisanya belum terlacak keberadaannya. Peninggalan yang masih ada di situs makan adalah Pipisan dari batu dan Lumpang dari batu.

Nama sebutan lain dari Tumengkang Sari adalah, Pamengkang berasal dari kata mekangkang, posisi kaki yang berjauhan satu sama lain, posisi ini menunjukan keadaan seorang ibu yang akan melahirkan, Pamengkang menurut Puspodiningrat artinya adalah mengungkap atau mengeluarkan (melahirkan), maka tidak menutup kemungkinan akibat perubahan ucap yang salah terjadi dialog dari kata Pamengkang menjadi Tumengkang, karena Istilah Pamengkang lebih tepat sebagai gelar/nama anumerta beliau yang ahli di bidang persalinan dan pengobatan dibanding istilah Tumengkang.

Makam Nyai Ageng Tumengkang Sari ini berada di Kompleks Makam Islam Sumur Songo di Desa Sidokumpul, Kecamatan Gresik. Sumur Songo dalam bahasa Jawa ; Siti Lebet Sedoso Kirang Setunggal. Ada cerita versi terkai Nyai Ageng Tumengkang Sari dan Sumur Songo ini. Cerita yang berkembang adalah Nyai Ageng Tumengkang Sari, cucu Sunan Giri adalah gadis yang cantik. Ahli kebidanan atau kedokteran dan obat. 

Suatu hari, ada seorang pangeran dari kerajaan yang menguasai Nusantara, Majapahit, terpincut kepadanya. Pangeran itu ingin melamarnya. Lazimnya, seorang gadis di lamar seorang pangeran yang ganteng nan gagah dan kaya akan berbunga-bunga. Bahagia. Seandainya kejadian itu sekarang ini, sudah ramai di medsos. Viral dan trending topik. Berhari-hari pula.

Pangeran datang dan melamarnya. Akan tetapi, Nyai Ageng Tumengkang Sari tidak bahagia. Gadis yang cucunya Sunan Giri itu malah galau. ”Nyai Tumengkang Sari tidak mau menikah karena beda keyakinan,” tutur salah satu warga di temui  di makam Sumur Songo pada Senin, 11 Maret 2024. Menurut lelaki 66 tahun itu,  Nyai Tumengkang Sari dikenal memiliki pendirian yang kuat dan jiwa sosialnya juga tinggi. “Katanya Nyai Ageng Tumengkang Sari, sangat cantik,” ujarnya. 

Keyakinan merupakan prinsip. Nyai Ageng Tumengkang Sari adalah salah seorang cucu Sunan Giri dari Sunan Wruju. Dia sangat disegani. Sang pangeran rela melakukan apa pun demi memperistri pujaan hati. Karena bingung, Nyai Tumengkang Sari sempat pergi dari Giri. Dia bersembunyi di sebuah desa terpencil. ”Tidak bisa menerima, tapi tak bisa menolak. Sebab, bisa terjadi pertumpahan darah,” lanjutnya.

Meski dalam hatinya, Nyai Tumengkang Sari sejatinya ingin menolak. Namun, dia tidak ingin peperangan pecah. Akhirnya, dia menemukan satu cara. ”Nyai Tumengkang mengajukan satu syarat,” ucapnya. Menurut cerita, Nyai Tumengkang Sari meminta sang pangeran membuat sepuluh sumur. Seluruhnya harus jadi dalam semalam. Mirip kisah Roro Jonggrang yang minta dibuatkan seribu candi oleh Bandung Bondowoso.  

Mendengar syarat tersebut, sang pangeran tidak gentar. Dia yakin sanggup. Kalau hanya membangun sumur dalam semalam, itu bukan apa-apa. Sebab, pangeran tersebut memang dikenal sakti luar biasa. ”Dia pun mengerahkan semua kekuatan untuk membangun sepuluh sumur. Pangeran yakin sepuluh sumur itu benar-benar jadi hanya dalam semalam. Esoknya, sang pangeran mengajak Nyai Ageng Tumengkang melihat sumur yang diminta. Namun, perempuan cantik tersebut punya akal yang cerdik. Sambil duduk di salah satu sumur, Nyai Ageng Tumengkang Sari meminta sang pangeran menghitung jumlah sumur. Nyai Ageng Tumengkang Sari cemas. Takut pangeran tahu. Namun, dia terus berdoa kepada Allah SWT.

Meminta agar pernikahannya dengan sang pangeran tidak sampai terwujud. Doa itu terkabul. Setelah menghitung jumlah sumur, sang pangeran kaget dan bingung. Satu di antara sepuluh sumur tersebut tiba-tiba menghilang. Pangeran itu menghitungnya berulangkali. Jumlah sumur yang dibangun seolah benar-benar hilang satu. Nyai Ageng Tumengkang Sari terus memanjatkan doa. Seolah tidak bisa dipercaya, Pangeran tidak sadar kalau ada salah satu sumur yang diduduki Nyai Tumengkang Sari.

Karena gagal memenuhi permintaan Nyai Ageng Tumengkang Sari, pernikahan pun batal. Pangeran pulang ke Majapahit dengan hati hampa. Kisah itulah yang kemudian melahirkan nama Dusun Sumur Songo yang kini terkenal di Gresik. Wallahu a’lam. (*/bersambung)

Nyai Ageng Tumengkang Sari, Cucu Sunan Giri Ahli Kebidanan dan Obat Selengkapnya

Nyekar ke Sumur Songo, Peziarah Langsung Tabur Bunga, Lalu Berdoa 

Padusan, Tradisi Nyekar Menjelang Ramadan di Gresik (2)

GRESIK,1minute.id – Padusan di Pemakaman Islam Sumur Songo berbeda dengan makam Islam Tlogopojok. Di makam berlokasi di Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan/Kabupaten Gresik ini tertata lebih ciamik. Lebih bersih karena dikelola oleh Pengurus Pemakaman Islam Sumur Songo. 

Peziarah cukup membawa kembang, kemudian berdoa. Tidak perlu repot membersihkan rumput atau tanaman yang tumbuh. Sebab, pengurus makam telah membersihkan secara rutin. Patut mendapatkan apresiasi. Saat padusan, seperti saat ini, memang banyak dijumpai anak-anak yang menawarkan jasa bersih-bersih makam. Akan tetapi, mereka hanya membawa sapu lidi untuk menyapu atau membersihkan dari daun-daun yang rontok. 

Penataan nizan atau kijingan juga lebih rapi. Sebab, pengurus telah membuat peraturan yang harus dipatuhi oleh keluarga atau kerabat mereka bila jenazah hendak di makamkan di Sumur Songo , yang dalam bahasa Jawa adalah Siti Lebet Sedoso Kirang Setunggal itu.

SUMUR SONGO : Siti Lebet Sedoso Kirang Setunggal dan pengumuman terkait standar ukuran bangunan nizan di tempelkan di kaca kantor pengurus makam Sumur Songo pada Senin, 11 Maret 2024 ( Foto : Chusnul Cahyadi/1minute.id)

Siti artinya tanah ; Lebet (Masuk/kedalam) ; Sedoso adalah sepuluh ; kirang atau kurang ; dan setunggal (satu). Dalam peraturan itu disebutkan : sesuai keputusan pengurus makam Sumur Songo tanggal 9 November 2015, maka standar ukuran bangunan (kijingan/nisan) telah ditetapkan panjang 180 centimeter dan lebar 80 centimeter. “Dilarang membangun melebihi standar,” bunyi dalam pengumuman yang di tempelkan di tembok dalam makam Sumur Sungo itu.

Selain menentukan standar ukuran nizan, pengurus juga memiliki kewenangan mengatur jarak antarmakam. Ketupusan itu diteken oleh Hudi Suyato pada 9 November 2015. 

Dalam pengamatan 1minute.id penataan makam Sumur Songo terlihat rapi. Akses jalan peziarah selebar 1,5 meter dengan konstruksi paving. Sehingga, para peziarah bisa lebih nyaman. Sudah selayaknya bisa di tiru di makam Islam Tlogopojok. 

Selain padusan, tradisi menjelang bulan suci Ramadan, pada hari-hari tertentu, malam Jumat, misalnya banyak dikunjungi para peziarah. Mereka yang berziarah ini ngalap berkah ke pesarean Nyai Ageng Tumengkang Sari yang berada di sisi utara dalam kompleks Makam Sumur Songo itu. Siapa Nyai Ageng Tumengkan Sari? Selamat menunaikan ibadah puasa, Ramadan. (yad/habis)

Nyekar ke Sumur Songo, Peziarah Langsung Tabur Bunga, Lalu Berdoa  Selengkapnya