Diselimuti Geomembran, Sementara Aman, Kawasan Bukit Putri Cempo yang Longsor

GRESIK,1minute.id –  Hujan mengguyur Kota Santri seminggu terakhir ini. Bagaimana kondisi kawasan Bukit Cempo yang longsor itu. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Gresik Gunawan Setiaji mengatakan, untuk sementara waktu kondisi relatif aman.

Sebab, tanah longsor di kawasan yang menjadi jalan alternatif dari Kelurahan Gending-Desa Ngargosari itu telah “diselimuti” geomembran. Sejenis terpal warna hitam. Geomembran ini memiliki karakteristik kedap terhadap cairan dan ringan.

“Untuk sementara semua tanah di bukit Putri Cempo sudah kami pasang geomembran,”kata Gunawan. Geomembran ini berfungsi melindungi kawasan yang longsor supaya terlindung air hujan. “Untuk bangunan penahan tanah longsor masih menunggu gambar. Nanti pekerjaan dimulai dari sisi utara,”kata Gunawan.

Untuk diketahui, DPUTR Gresik mengusulkan anggaran Rp 450 juta untuk pembelian geomembran ini. Ukurannya, panjang 60 meter, lebar 20 meter dan tinggi 10 meter.  “Geomembran, ini tahan panas dan air sehingga harganya cukup mahal,”katanya. 

Dengan menggerukupi tanah longsor itu, diharapkan, air hujan tidak bisa menerobos masuk ke dinding bukit dengan tanah kapur. “Sebab, kalau masih air masuk akan mengakibatkan longsor semakin parah,”kata Gunawan.

Pantauan 1minute.id longsor bukit kapur di Kawasan Putri Cempo sejak 2018. Puncak terjadi longsor hebat pada Februari 2021. Akses jalan alternatif dari Kelurahan Gending-Desa Ngargosari terputus. Sejumlah bangunan terancam longsor.

Antara lain, bagian dapur rumah juri kunci Makam Putri Cempo. Tugu gerbang masuk makam Sayyid Abdurrahman, Paman Sunan Giri dan sebagian bangunan Liminous Cafe rontok karena tanah longsor. (yad)

Diselimuti Geomembran, Sementara Aman, Kawasan Bukit Putri Cempo yang Longsor Selengkapnya

Pembangunan Sanitasi Aman dan Sehat Dikebut, Di Gresik baru Terbangun 15 Persen


GRESIK,1minute.id – Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani melakukan peletakan batu pertama pembangunan prasarana air limbah di Desa Ngargosari, Kecamatan Kebomas. Pembangunan sanitasi ini diinisiasi oleh Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Gresik. Tujuannya, menciptakan kawasan permukiman yang sehat dan aman dan tanpa pencemaran lingkungan.

“Semoga peletakan batu pertama sanitasi aman dan sehat diikuti di daerah yang lainnya. Sehingga, bisa tercipta lingkungan yang sehat,”kata Bupati Fandi Akhmad Yani. Sanitasi aman merupakan fasilitas sanitasi yang dimiliki rumah tangga yang terhubung dengan septictank dengan rutinitas penyedotan satu kali dalam kurun waktu 3-5 tahun dan dibuang ke instansi pengolahan tinja atau IPTL.

IPTL adalah Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja merupakan pengolahan air limbah yang dirancang hanya menerima dan mengolah lumpur tinja yang berasal dari sistem setempat (on site) yang diangkut melalui sarana pengangkut lumpur tinja.

Menurut Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman, upaya mendukung terwujudnya program pemerintah 100 – 0 – 100.  Program tersebut menuju pemenuhan target tiga sektor antara lain 100 persen akses layak air minum ; pengurangan  kawasan kumuh 0 persen dan  pemenuhan 100 persen akses  sanitasi layak.

MENGHADAP SALURAN : Konsep kawasan permukiman di Kelurahan Tlogopojok, Kecamatan Gresik yang menghadap saluran ini diyakini bisa meminalisir warga membuang limbah sembarangan. Saluran air dan kampung terlihat bersih pada Kamis, 17 Juni 2021 (foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

“Berdasarkan data UPT UPL DPUTR Gresik untuk pembangunan sanitasi aman dan sehat , tidak mencemari lingkungan baru 15 persen,”ujar Washil pada Kamis, 17 Juni 2021. Sedangkan, sanitasi akses telah terpenuhi semuanya. 

“Sanitasi akses sudah ada semuanya,”katanya. Akses sanitasi layak adalah fasilitas sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan yaitu fasilitas tersebut digunakan oleh rumah tangga sendiri atau bersama dengan rumah tangga lain tertentu, dilengkapi dengan kloset jenis leher angsa, serta tempat pembuangan akhir tinja berupa tangki septik atau Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

“Sanitasi akses d Gresik ini sesuai dengan MDGs,”tegas Washil.  Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (TPB/SDGs) adalah agenda 2030 yang merupakan kesepakatan pembangunan berkelanjutan berdasarkan hak asasi manusia dan kesetaraan. (yad)

Pembangunan Sanitasi Aman dan Sehat Dikebut, Di Gresik baru Terbangun 15 Persen Selengkapnya

Pemkab Gresik Bangun TPST Berkapasitas 100 Ton Perhari


GRESIK, 1minute.id – Persoalan sampah bakal segera terurai satu per satu. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik bakal membangun tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) di Desa Belahanrejo, Kecamatan Kedamean. Pembangunan TPST berkapasitas 100 ton per hari itu akan bermitra dengan salah satu perusahaan.

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan, persoalan sampah masih menjadi problem di Gresik selama ini. “Mudah-mudahan dengan teknologi yang ada pelan-pelan persoalan sampah bisa terselesaikan,”ujar Gus Yani usai acarapekerjaan pembangunan prasarana air limbah dan launching Rumah Susun Sederhana Sewa (rusunawa) Desa Kambingan, Kecamatan Cerme ; Grand Desain Pengolahan Sampah Terpadu  dan Aplikasi Gresik Kerja di Balai Desa Ngargosari, Kecamatan Kebomas pada Rabu, 16 Juni 2021.

Untuk tahap pertama pengelohan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ngipik di Kecamatan Gresik. Kondisi TPA sudah overload dan belum ada solusi. “Mudah-mudahan dengan teknologi yang dipaparkan tadi bisa segera terselesaikan,”ujar Gus Yani-sapaan-Bupati Fandi Akhmad Yani didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik Mokh Najikh.

BUKIT SAMPAH : Kondisi tempat pembuangan akhir Ngipik, Kelurahan Ngipik, Gresik (Foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

Sedangkan, TPST di Desa Belahanrejo, Kecamatan Kedamean akan mulai running pada awal tahun. “Pembangunan TPST ini bermitra dengan pihak ketiga,”tegasnya. Sebelumnya, Asisten II bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Gresik Ida Lailatussa’diyah mengatakan TPST Belahanrejo untuk melayani masyarakatan di empat kecamatan yakni Kedamean, Driyorejo, Menganti dan Wringinanom. Jumlah penduduk di empat kecamatan 400.837 jiwa dengan timbunan sampah sebanyak 120,25 ton per hari. 

“TPST ini memiliki kapasitas pengolahan 100 ton per hari,”kata Ida. Untuk diketahui, komposisi sampah di Gresik terdiri 43 persen sampah makanan ; 1 persen logam ; 17 persen plastik ; 10 persen kertas ; 11 persen B3 dan 18 persen residu.

Saat ini, tambahnya, jumlah TPS SR eksisting sebanyak 10 unit. TPS SR ini di kelola oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Desa yang tersebar di Wringinanom ;  Betoyo Guci, Manyar ; Menganti ; Kedamean ; Bungah ; Gresik dan Tambak, Kepulauan Bawean.

Potensi daur ulang sampah lapak 28 persen bisa dioptimalkan dengan pemilihan sampah sejak dari sumber lalu dikumpulkan pada pengepul, bank Sampah atau Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, and Recycle (TPS 3R) terdekat. (yad)

Pemkab Gresik Bangun TPST Berkapasitas 100 Ton Perhari Selengkapnya

Gandeng Perusahaan, Olah Sampah Menjadi Barang Bernilai Ekonomis

GRESIK,1minute.id – Sampah masih menjadi problem perkotaan di Kota Santri. Peran serta masyarakat, pegiat lingkungan dan perusahaan sangat penting untuk menjaga lingkungan di Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik. 

Antara lain yang dilakukan pegiat lingkungan tergabung di Bank Sampah Gemes Sekardadu Gresik dengan PT Surabaya Mekabox di salah satu hotel di Gresik. 

Nota kesepahaman kerjasama pemanfaatan sampah plastik dan kertas itu disaksikan oleh Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani dan Dirjen Pengelolaan Sampah Limbah dan B3 (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Rosa Vivien Ratmawati pada Kamis, 3 Juni 2021.

Rosa Vivien Ratmawati memuji Bank Sampah Gresik (Asbag). Asosiasi dipimpin Siti Fitriyah ini oleh Dirjen PSLB3 bisa jadi percontohan pengelolaan sampah di Indonesia.

“Keberadaan bank sampah ini merupakan bagian dari membangun sirkulasi ekonomi melalui tata kelola sampah untuk meningkatkan perekonomian rakyat. Saya berharap Kinerja Bank Sampah Gresik patut dijadikan rujukan bagi bank sampah yang lain,”katanya.

Rosa Vivien Ratnawati mengaku melihat  sendiri aktivitas yang dilakukan oleh Siti Fitriyah.  Ketua Asbag yang juga Pembina Bank Sampah Gemes Sekardadu ini sangat menikmati pekerjaannya. “Hal ini bisa dilihat di medsos yang diunggah mbak fitriyah selalu mengerjakan dengan senyum keikhlasan. Bank sampah ini produktifitasnya sangat menggembirakan,”puji Rosa.

BANK SAMPAH : Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani berdialog dengan warga kampung Kreasi di Jalan Kramatlangon, Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan Gresik pada Rabu , 2 Juni 2021 ( foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani yang didampingi oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Mokh Najikh menyatakan sangat mendukung proyek perubahan dari Dirjen PSLB3 KLHK dalam membangun sirkulasi ekonomi melalui tata kelola sampah untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Kami berharap program ini dapat menyelesaikan permasalahan sampah, meningkatkan pendapatan masyarakat. Pelibatan bank sampah dapat mendorong perwijudan sirkular ekonomi dan pengelolaan sampah di masyarakat,”kata Gus Yani-sapaan-Bupati Fandi Akhmad Yani.

Menurut Gus Yani, pengelolaan bank sampah dapat memenuhi kebutuhan bahan baku industro daur ulang plastik dan kertas dalam negeri sekaligus mengurangi impor limbah B3. “Terima kasih kepada Dirjen PSLB3 KLHK yang telah memfasilitasi kemitraan dan kerjasama ini. Saya berharap permasalahan pemenuhan bahan baku industri daur ulang dalam negeri dapat teratasi,”harap Gus Yani.

Sebelumnya, Gus Yani menyempatkan melihat langsung kampung Kreasi di Jalan Kramatlangon, Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan Gresik. Di kampung binaan DLH Gresik dan PT Pertamina Lubricant ini, masyarakat memanfaat sampah menjadi barang bernilai ekonomis.

Seperti, vas bunga, damarkurung hingga tempat duduk fashionable. Di kampung juga terdapat kafe cukup membayar dengan sampah plastik atau kertas. Namanya, Kosam (Kopi Sampah). Ngopi Bayar pakai sampah. Tahun lalu, Kosam mengumpulkan 1,34 ton sampah. (yad)

Gandeng Perusahaan, Olah Sampah Menjadi Barang Bernilai Ekonomis Selengkapnya

KEE Ujungpangkah Potensi Lahan Basah bertaraf Internasional

GRESIK, 1minute.id –  Tiga desa di Kecamatan Ujungpangkah ditetapkan sebagai kawasan ekosistem esensial (KEE). KEE itu ditetapkan melalui surat keputusan (SK) Gubernur Jatim No.188/233/KPTS/013/2020 tertanggal 13 Mei 2020 dengan luas 1554,27 hektare.

EKSPLORASI KEE UJUNGPANGKAH : Suaka burung MBS yang menjadi tempat suaka burung pada Rabu, 3 Juni 2021 (foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

Rimcianya, Desa Pangkah Kulon 347,03 ha ; Pangkah Wetan 763,99 ha dan Banyuurip 32,69 ha. Pada Rabu, 2 Juni 2021 wartawan 1minute.id  bersam jurnalis lainnya melakukan penyusuran kawasan suaka burung dengan naik perahu motor. Penyusuran muara menuju lokasi suaka burung itu ditempuh selama 45 menit. Berangkat sekitar pukul 15.00 dari Muara Bengawan Solo (MBS) Desa Pangkah Wetan.

KUNTUL PERAK : Burung bernama latin ardea Intermedia cukup mudah ditemui di KEE Ujungpangkah, Gresik, Jatim ketika melakukan ekspolarasi di kawasan satwa pada Rabu, 2 Juni 2021 ( foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

Sore itu, kondisi muara sedang pasang. Dalam perjalanan itu, beberapa burung. Antara lain, Kuntul Perak/intermediate Egret (ardea Intermedia) ;  Kuntul Kecil/Little Egret (Egretta Garzetta)  dan Kowak Malam.Kelabu /Black Crowned Night Heron (Nycticorax nycticorax).

Dara Laut Sayap Putih/hite-Winget Tern (childonias leucopterus) . Susur muara kawasan suaka burung untuk memperingati World Wetlands Day 2021 atau Hari Lahan Basah Sedunia yang diperingati setiap 2 Juni itu. Susur MBS ini  diadakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Dinas Lingkungan Hidup Gresik, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jatim dan Kawasan Ekosistem Esensial Mangrove Ujungpangkah. 

RIMBUN : KEE Ujungpangkah menjadi kawasan suaka burung antara lain burung migran dari Benua Australia pada Rabu, 2 Juni 2021 (foto : chusnul canhyadi/1minute.id)

Kepala Bidang Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur Wilayah II Gresik, Wiwied Widodo mengatakan, KEE Ujungpangkah ini berpotensi menjadi lahan basah internasional. “Ada 72 jenis burung laut. Sebanyak 52 diantaranya burung migran dari Australia,”kata Widodo.

TERBANG RENDAH : Dua ekor burung sedang mencari mangsa ikan di KEE Ujungpangkah, Gresik, Jatim pada Rabu, 2 Juni 2021. ( foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

Dalam eksplorasi KEE pada Rabu, 2 Juni 2021 kondisi MBS sedang pasang. “Sudah hampir seminggu ini air pasang. Biasanya burung sembunyi di balik rimbun mangrove,”kata Kades Pangkah Wetan Syaifullah Mahdi. (yad)

KEE Ujungpangkah Potensi Lahan Basah bertaraf Internasional Selengkapnya

Kosam, hanya Tukar Sampah 1 Kilogram bisa Seruput Kopi


GRESIK,1minute.id – Ngopi bayar pakai sampah (Kosam). Ini cara kelompok karang taruna Kramatlangon, Kelurahan Sidokumpul, Gresik mengajak masyarakat peduli sampah. Mengubah mindset masyarakat peduli sampah dari rumah tidak semudah membalik telapak tangan. Dimulai 2019. 

Gerakan kampanye lingkungan masif dengan berkalaborasi bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik dan PT Pertamina Lubricant, sebagai penyokong kegiatan melalui corporate social responsibility (CSR) berbuah manis.

Kampung di dekat rumah potong hewan (RPH) itu dulunya dikenal kumuh. Kini, menjadi elok. Bersih dan asri. Bahkan, menjadi kampung eduwisata di tengah perkotaan.

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani melaunching Kampung Eduwisata Daur Ulang dan Urban Farming pada Rabu, 2 Juni 2021. Dua event resmi di launching di kafe Kosam alias Ngopi bayar pakai sampah. Bupati Fandi Akhmad Yani mengapresiasi gerakan karang taruna setempat itu. Sebab, gerakan itu mengkalaborasi tiga unsur yakni masyarakat, pemerintah dan perusahaan yakni PT Pertamina Lubricant.

Tidak mudah untuk mengubah mindset masyarakat untuk mengelola sampah dari rumahnya. Mengelola sampah sistem 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle). Butuh waktu tiga tahun, mulai Agustus 2019. 

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani sempat keliling kampung sempit yang hanya bisa dilewati sepeda motor itu. Selama 20 menit, Gus Yani-panggilan-Bupati Fandi Akhmad Yani didampingi Ketua Pengadilan Negeri Gresik Wiwin Arodawanti, Ketua DPRD Gresik Much Abdul Qodir,  Pj Sekda Gresik Abimanyu, Waka Polres Gresik Eko Iskandar, Kepala DLH Gresik Mokh Najikh dan perwakilan dari Kodim 0817 Gresik berjalan kaki.

Mengamati semua sudut kampung terlihat asri. Karena setiap rumah terdapat tanaman hidroponik yang tumbuh subur. Media tanam mengunakan pipa PVC. Sedangkan, kampung berhias pernak-pernik. Semua terbuat dari sampah alias barang bekas.

Gus Yani beberapa kali menghentikan langkah kakinya untuk berdialog dengan warga yang ditemuinya. “Di kampung ini masyarakat memiliki penghasilan tambahan dengan mengubah dan daur ulang sampah plastik.Kampung ini bisa menjadi pilot project sehingga diadopsi di wilayah lain atau lingkungan OPD,”ujar Gus Yani.

Selain itu, tambahnya, para masyarakat juga memulai mengembangkan pertanian dan perikanan dengan memanfaatkan lahan sempit di wilayah perkotaan dengan pola pertanian hidroponik. 

“Kita tahu disini mulai dari olahan sampah plastik kain dijadikan nilai tambah. Sekarang merambah ke kampung edukasi pertanian, urban farming. Bahkan ada melon yang tumbuh di lahan sempit. Cerdas dan inovatif,”puji bupati berusia 35 tahun ini usai Rebuk Akur Ngopi Bayar Pakai Sampah.

Kepala DLH Gresik Mokh Najikh mengatakan, Kosam dirintis sejak 2019. Pada tahun lalu, imbuhnya, bisa mengumpulkan 1ton sampah, yakni plastik dan kertas. “Bila setiap desa atau kecamatan memiliki satu saja cukup lumayan mengurangi sampah di TPA Ngipik,”ujar Najikh.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis)  Kelurahan Sidokumpul Imam Wahyu menceritakan, dahulu kampungnya dikenal sebagai kawasan kumuh di tengah kota. Apalagi, pada tahun 80-an merupakan kawasan pemulung.

Namun lambat laun diterangkan Wahyu, dirinya bersama sekelompok pemuda memberikan edukasi pentingnya menjaga alam dan kebersihan lingkungan. “Kini seluruh masyarakat sudah sadar tentang edukasi persampahan dan urban farming,”kata Imam.

Masyarakat mulai mengelola sampah dari rumah. Sampah kemudian diolah menjadi kerajinan memiliki nilai ekonomis. Yakni, damarkurung, lampu kenangan, pot hidroponik , hingga kursi. “Warga kini melakukan 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle),”kata Imam.

Untuk Kosam, masyarakat cukup membawa sekilo sampah baik plastik atau kertas untuk ditukar secangkir kopi. Pada 2020, Kosam bisa mengumpulkan 1 ton sampah plastik dan kertas. Bagaimana sensasinya? Wartawan 1minute.id  menyempatkan nyerup kopi hitam di Kosam itu. Seduhan kopi hitam terasa nikmat. (yad)

Kosam, hanya Tukar Sampah 1 Kilogram bisa Seruput Kopi Selengkapnya

Inovasi, Kalaborasi Ubah Kampung jadi Asri dan Instagramable


GRESIK,1minute.id – Cerdas dan penuh inovasi. Pujian itu diungkapkan Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani ketika melaunching kampung Kreasi dan Ngopi Bayar Pakai Sampah di Kampung Sidokumpul, Kecamatan Gresik pada Rabu, 2 Juni 2021.

“Butuh waktu panjang bisa terwujud harmonisasi antara pemerintah, karang taruna dan perusahaan,”kata Bupati Fandi Akhmad Yani. Kampung Kreasi dan Ngopi Bayar pakai Sampah di Jalan Kramatlangon, Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan Gresik ini dirintis sejak 2019. Kampung yang sempit dan hanya bisa dilewati sepeda motor itu terlihat asri.

Setiap rumah terlihat hijau karena tanaman hidroponik. Tembok kampung warna-warni. Jenis tanaman beraneka macam. Antara lain, brokoli dan sawi. Tanaman terlihat segar. Sehingga menjadi kampung wisata yang instagramable.

ASRI : Suasana Kampung Kreasi di Jalan Kramatlangon, Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan Gresik pada Selasa, 2 Juni 2021 ( foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

Gus Yani -sapaan- Bupati Fandi Akhmad Yani berharap tanaman hidroponik semakin dikembangkan. Diantara menanam timun emas atau melon. Gus Yani meminta karang taruna Kampung Kreasi untuk mengembangkan inovasi ini dilingkungan organisasi perangkat daerah (OPD) sehingga hasil tanaman hidroponik bisa semakin banyak.

“Timun mas dan melon kita coba di OPD. 
Kalo pamen bersama bisa satu truk lebih.,”kata mantan Ketua DPRD Gresik itu. Bupati Gus Yani optimistis penghijauan metode hidropinik ini bisa berhasil. Sehingga bisa menjawab Kota Santri-sebutan lain-Kabupaten Gresik sebagai kota industri, banyak polusi bisa dijawab dengan prestasi penghijauan.

KAMPUNG KREASI : Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani berdialog dengan warga kampung di Jalan Kramatlangon, Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan Gresik pada Selasa, 2 Juni 2021 ( foto : chusnul cahyadi/1minute.id)

“Banyak industri, polusi kita jawab dengan prestasi. Kita punya inovasi, teknologi berkembang. Dilahan sempit tetap bisa kita menanam. Bukan kaleng-kaleng lagi,”tegas Bupati Gus Yani. 

“Saya berharap tidak hanya disini saja. Saya tidak malu untuk mencontoh inovasi baik,”tegas Gus Yani dalam sambutannya dihadiri Ketua DPRD Gresik Much Abdul Qodir, Ketua Pengadilan Negeri (PN) Gresik Wiwin Arodawanti, Pj Sekretaris Daerah (Sekda) Gresik Abimanyu Pontjoatmojo Iswinarno, Waka Polres Gresik Kompol Eko Iskandar dan perwakilan Kodim 0817 Gresik dan PT Pertamina Lubrican dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Mokh Najikh. (yad)

Inovasi, Kalaborasi Ubah Kampung jadi Asri dan Instagramable Selengkapnya

Duyung Terdampar lalu Mati di Pantai Mayangkara

GRESIK,1minute.id – Seekor Duyung atau dugong adalah sejenis mamalia laut yang merupakan salah satu anggota Sirenia atau sapi laut terdampar di Pantai Mayangkara Desa Kepuhteluk, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean.

Badan hewan mamalia yang bisa bertahan hidup dan mampu mencapai usia 22 sampai 25 tahun itu penuh luka dan mati. Luka seperti tertusuk benda tajam. Mulut dan mata sebelah kiri berdarah. Diduga muat dugong diburu oleh pemburu liar ketika berada di laut lepas. 

“Ini kejadian kali pertama kurun waktu 15-20 tahun. Sebelumnya ada duyung tersangkut jaring nelayan tapi masih hidup,”ujar Abrari, salah satu warga Pulau Bawean dihubungi 1minute.id pada Selasa, 18 Mei 2021.

Terpisah , Camat Tambak Agung membenarkan bahwa ada ikan dugong sepanjang dua meter   terdampar di Pantai Mayangkara. “Saat ditemukan keadaan sudah mati,”kata Agung pada Selasa, 18 Mei 2021.

Duyung atau Dugong ditemukan terdampar di Pantai Mayangkara pada Minggu malam, 16 Mei 2021. Penemuan hewan mamalia dengan panjang 2 meter menghebohkan warga di Pulau Putri itu. Pemerintah Desa Kepuhteluk, Kecamatan Tambak , anggota Polair Bawean dan pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang berada di Bawean sudah mengecek ke lokasi memastikan kondisi Duyung. 

“Sudah dikubur pada Senin (17/5) pukul 09.00 di sekitar pantai, kemarin juga ada dari mahasiswa Brawijaya mau lakukan penelitian tapi SOP dari pihak terkait langsung di kuburkan dikarenakan bukan bahan penelitian,”tegas Agung. 

Perlu diketahui bahwa dugong merupakan salah satu hewan mamalia laut yang langka dan dilindungi oleh Negara melalui Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan jenis Tumbuhan dan Satwa dan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 79 tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional Konservasi mamalia laut, dimana di dalamya termasuk dugong. (yad)

Duyung Terdampar lalu Mati di Pantai Mayangkara Selengkapnya

Peringati Hari Bumi, EH Ajak Masyarakat Diet Plastik

GRESIK,1minute.id – Sejumlah aktivis dari Earth and Human (EH) Gresik dan siswa MTs Maarif Sidumukti, Kecamatan Kebomas turun ke jalan pada Kamis. 22 April 2021. 

Mereka membagikan tumbler, sedotan stainless dan masker kain kepada para pengendara di Jalan Sumatera Kompleks Perumahan Gresik Kota Baru (GKB), Desa Randuagung, Kecamatan Kebomas, Gresik.

Aksi simpatik para aktivis itu untuk memperingati  Hari Bumi Sedunia yang diperingati setiap 22 April itu. Koordinator EH Gresik Syaiful Fauzi mengatakan, aksi ini bagian dari edukasi kepada masyarakat agar bijak berplastik. Diet plastik.

“Sosialisasi penggunaan produk yang ramah lingkungan,”ujar Syaiful Fauzi.
Penggunaan sedotan stainless, botol minum (tumblr) serta masker kain, tambahnya, belum banyak dilakukan masyarakat.

Dengan cara ini, imbuhnya, berusaha menggugah dan mengingatkan masyarakat untuk memakai produk ramah lingkungan. Apalagi, belakangan ini banyak restoran dan kafe berdiri di Gresik.

“Banyak restoran dan kafe yang lebih suka menggunakan kemasan sekali pakai dari pada gelas kaca yang bisa dipakai berulang ulang. Dan juga mengingatkan tentang penggunaan masker yang dapat dipakai berulang-ulang, biar tidak nyampah,”tegasnya.

Untuk diketahui Hari Bumi adalah acara tahunan yang dirayakan di seluruh dunia pada 22 April untuk menunjukkan dukungan bagi perlindungan lingkungan.

Peringatan pertamakali dicanangkan oleh Senator Amerika Serikat Gaylord Nelson pada 1970 seorang pengajar lingkungan hidup.
Menurut data yang diperoleh EH Gresik perolehsedotan plastik dan gelas plastik memerlukan waktu selama ratusan tahun untuk terurai.

Selain itu, setiap tahunnya satu juta burung laut mati karena menelan sampah plastik.Bahkan, diprediksi sekitar delapan juta ton sampah plastik. (yad)

Peringati Hari Bumi, EH Ajak Masyarakat Diet Plastik Selengkapnya

Berkebaya, Perempuan Pegiat Lingkungan tebar Kebaikan Selamatkan Lingkungan

GRESIK,1minute.id – Sejumlah perempuan berkebaya nyebur ke sebuah telaga.  Perempuan pegiat lingkungan kemudian menuangkan  beberapa botol cairan di telaga di kawasan Kebomas itu.

Diantara emak-emak yang getol berupaya menyelamatkan lingkungan itu adalah Siti Fitriah. Ia adalah ketua asosiasi bank sampah Gresik (Asbag). 

Menurut Siti Fitriah, cairan yang dituangkan ke telaga itu adalah cairan alami. Cair serbaguna hasil fermentasi dari sisa buah atau sayuran kemudian dicampur gula aren dan air menghasilkan O3.

“Untuk membuatnya cairan fermentasi itu minimal butuh waktu 90 hari,”kata Siti Fitria pada Kamis, 22 April 2021. Cairan alami fermentasi itu biasa di sebut ecoenzim. Ecoenzim ini memiliki banyak fungsi. Bisa untuk pembersih alami, sabun cair alami hingga bahan kosmetik kecantikan alami.

“Fungsinya itu luar biasa banyak sekali. Pembersih alami sabun cair,  pembersih udara alami, pembersih rumah tangga alami dan hand sanitizer,”terang Fitri.

Cairan ecoenzim itu ketika dituangkan dalam telaga yang tidak mengalir, maka akan ada perbaikan ekosistem atau perbaikan biota air disitu.

“Saya tuang ke danau kemarin itu ph-nya rendah kali 2,60 sampai 2,90 itu berarti pH yang seperti itu cocok untuk perawatan atau di manfaat medisnya untuk mengobati luka detox dan sebagainya mangkanya saya juga menyimpan kalau itu enzim sangat ramah lingkungan,” terangnya.

Mengapa ia dan kaum hawa lainnya membuatekoenzim, sebab 70 persen sampah yang terbuang di tempat pembuangan akhir (TPA) Ngipik, di Kelurahan Ngipik, Kabupaten Gresik adalah sampah organik.

“Dengan membuat ecoenzim ini kita bisa mengurangi beban di TPA. Dengan memproduksi ekoenzim berarti kita telah membantu mengelola banyak daripada sampah non-organik,”katanya.

Ecoenzim ditemukan doktor Rosukon Poompanvong. Pada 2003, doktor dari Thailand ini menerima penghargaan dari FAO (lembaga PBB yang mengurus soal pangan–red).  Ecoenzim ini memiliki manfaat yang berlipat ganda.

Dengan memanfaatkan sampah organik sebagai bahan bakunya, kemudian dicampur dengan gula aren dan air, proses fermentasinya menghasilkan gas O3 dan hasil akhirnya adalah cairan pembersih serta pupuk yang ramah lingkungan.

Sejak berhasil dalam penelitiannya, Dr. Rosukon dengan arif mempersembahkan penemuan ini bagi masyarakat luas, tanpa meminta royalti apa pun. Pengetahuan ini bersikap terbuka untuk siapa saja, demi kepentingan lingkungan.

Masyarakat Malaysia, Australia, Taiwan, hingga Amerika Serikat telah membuat ekoenzim dari sampah dapur mereka sejak beberapa tahun lalu. Di Indonesia, tren ini baru dimulai beberapa tahun belakangan. (yad)

Berkebaya, Perempuan Pegiat Lingkungan tebar Kebaikan Selamatkan Lingkungan Selengkapnya